Anda di halaman 1dari 39

BAGIAN ILMU PENYAKIT DALAM REFERAT

FAKULTAS KEDOKTERAN Februari 2020


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

HIPONATREMIA

Oleh:
M. Chairil Riskyta Akbar

Pembimbing:
Prof. Dr. dr. H. Bachtiar Murtala, Sp. Rad (K)

(Dibawakan dalam rangka tugas kepaniteraan klinik bagian Interna)

BAGIAN ILMU PENYAKIT DALAM


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2020

1
LEMBAR PENGESAHAN

Yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan bahwa:

Nama : Muhammad Chairil Riskyta Akbar


NIM : 10542062915
Judul Refarat : Fraktur Vertebra Servikalis

Telah menyelesaikan tugas dalam rangka kepaniteraan klinik pada bagian


Radiologi Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Makassar.

Makassar, Januari 2020


Pembimbing

Prof. Dr. dr. H. Bachtiar Murtala, Sp. Rad

2
DAFTAR ISI

HALAMAN PENGESAHAN………………………………...………….. 2
DAFTAR ISI……………………………………………………………… 3
BAB I PENDAHULUAN………………………………………………… 4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
1. Anfisiologi………………………………………………………... 5
2. Definisi…………………………………………………………….16
3. Epidemiologi………………………………………………………17
4. Etiologi dan factor resiko…………………………………………18
5. Patofisiologi…………………………………………….…………19
6. Klasifikasi…………………………………………………………19
7. Diagnostik…………………………………………………………34
8. Penatalaksanaan…………………………………..………….........35
9. Komplikasi………………………………………………………..36

BAB III SIMPULAN…………..……………………………………………37

Daftar Pustaka………….………………………….………………………..38

3
BAB I
PENDAHULUAN

Fraktur serviks adalah istilah yang merujuk pada fraktur atau patah pada
leher. Ini merupakan kondisi ortopedis yang muncul ketika vertebra pada bagian
serviks tulang belakang patah atau bergeser karena trauma parah seperti
kecelakaan motor atau cedera olahraga berdampak tinggi. Kondisi ini sering
terjadi karena serviks adalah bagian kolom tulang belakang yang paling banyak
bergerak dan rentan terhadap cedera.1
Serviks tulang belakang tediri dari tujuh segmen tulang vertebra yang
dihubungkan oleh sendi facet. Dua bagian paling atas disebut segmen C1 dan C2,
keduanya bertanggung jawab untuk pergerakan tengkorak kepala. Segmen C1
adalah penopang utama tengkorak kepala dan memungkinkannya bergerak
memutar. Sedangkan segmen C2 memungkinan kepala serta leher berputar dan
juga bergerak maju dan mundur. Namun, sekitar 50% fraktur serviks terjadi pada
segmen C6 dan C7, dan hanya 25% yang terjadi pada segmen C2. Kebanyakan
fraktur serviks bertaraf ringan hingga sedang. Akan tetapi, jika segmen C1 dan C2
yang patah atau bergeser, maka dianggap serius dengan potensi fatal yang tinggi.
Cedera tulang belakang adalah cedera yang mengenai servikalis, vertebralis dan
lumbalis akibat trauma, jatuh dari ketinggian, kecelakaan lalu lintas, kecelakaan
olah raga dan lain sebagainya.1
Fraktur serviks atau leher menjadi kecurigaan saat seseorang terlibat
kecelakaan atau trauma. Untuk memastikannya, prosedur diagnosis seperti
pemeriksaan klinis dan radiologi perlu dilakukan.1
Pemeriksaan neurologis akan dilakukan untuk melakukan penilaian
cedera yang terjadi pada tulang belakang. Pemeriksaan X-ray dilakukan untuk
mengetahui tingkat keparahan dan lokasi fraktur. CTscan dilakukan untuk
mengetahui kerusakan yang tidak terlihat dengan X-ray. MRI juga dilakukan
untuk memberikan gambar dengan resolusi tinggi dari jaringan lunak dan
memastikan apakah ada cedera pada tulang belakang. 1

4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Anatomi dan Fisiologi Vertebra Servikalis


Tulang belakang leher terdiri dari 7 vertebra. Pertama 2, C1 dan C2,
sangat khusus dan diberi nama yang unik: atlas dan sumbu, masing-masing.
C3-C7 adalah tulang lebih klasik, memiliki tubuh, pedikel, lamina, proses
spinosus, dan sendi facet.2
C1 dan C2 membentuk seperangkat unik artikulasi yang memberikan
mobilitas besar bagi kranium. C1 berfungsi sebagai cincin dimana sisa
kranium dapat terletak di atasnya dan mengartikulasikan dalam sendi poros
(pivot joint) dengan dens atau proses odontoid dari C2. Sekitar 50% dari
perpanjangan fleksi leher terjadi antara oksiput dan C1, 50% dari rotasi leher
terjadi antara C1 dan C2. 2
Tulang belakang leher/ servikal jauh lebih mobile dari pada daerah
toraks atau lumbar tulang belakang. Berbeda dengan bagian lain dari tulang
belakang, tulang belakang leher memiliki foramina melintang di setiap tulang
belakang untuk arteri vertebralis yang memasok darah ke otak. 2
Tulang belakang leher terdiri dari 7 vertebra pertama, disebut sebagai
C1-7. Ini berfungsi untuk memberikan mobilitas dan stabilitas ke kepala saat
menyambung ke tulang belakang dada yang relatif bergerak. Tulang belakang
leher dapat dibagi menjadi 2 bagian: atas dan bawah. 2

Gambar 1 Anatomi Tulang Belakang Servikal Gambar 2 Gambaran Radiologi Lateral Tulang
Belakang Servikal

5
1. Bagian Atas
Tulang belakang leher bagian atas terdiri dari atlas (C1) dan axis
(C2). Kedua vertebra ini Sangat berbeda dari sisa tulang belakang leher
(lihat gambar di bawah). Atlas berartikulasi superior dengan tengkuk
(yang atlanto-oksipital sendi) dan inferior dengan sumbu (sendi
atlantoaxial). Sendi atlantoaxial bertanggung jawab atas 50% dari semua
rotasi serviks, sendi atlanto-oksipital bertanggung jawab atas 50% dari
fleksi dan ekstensi. 2

a. Atlas (C1)
Atlas adalah berbentuk cincin dan tidak memiliki tubuh, tidak
seperti sisa tulang belakang. Sisa-sisa Fused dari tubuh atlas telah
menjadi bagian dari C2, di mana mereka disebut proses odontoid, atau
dens. Proses odontoid diadakan di dekat ketat pada aspek posterior dari
lengkung anterior dari atlas oleh ligamentum transversal, yang
menstabilkan sendi atlantoaxial. Ligamen apikal, Alar, dan melintang,
dengan memungkinkan rotasi tulang belakang, memberikan stabilisasi
lebih lanjut dan mencegah perpindahan posterior dari dens dalam
kaitannya dengan atlas tersebut. 2
Atlas ini terdiri dari sebuah lengkungan anterior tebal,
lengkungan posterior tipis, 2 massa lateral menonjol, dan 2 proses
transversus. Foramen melintang, melalui mana arteri vertebralis
melewati, tertutup oleh proses transversus. 2
Pada setiap massa lateral adalah sebuah aspek superior dan
inferior (zygapophyseal) sendi. Aspek artikular superior berbentuk
ginjal, cekung, dan wajah ke atas dan ke dalam. Aspek ini unggul
mengartikulasikan dengan kondilus oksipital, yang menghadapi ke
bawah dan ke luar. Aspek relatif datar artikular rendah menghadapi ke
bawah dan ke dalam untuk mengartikulasikan dengan aspek superior
dari sumbu. 2

6
Gambar 3 Gambaran C1 dan C2 yang unik
b. Axis (C2)
Axis memiliki tubuh vertebra yang besar, yang berisi proses
odontoid (sarang). Prosesus odontoid berartikulasi dengan lengkung
anterior dari atlas melalui permukaan artikular anterior dan diadakan di
tempat oleh ligamentum transversal. Axis terdiri dari tubuh vertebral,
pedikel berat, lamina, dan proses transversus, yang berfungsi sebagai
titik perlekatab untuk otot. Sumbu berartikulasi dengan atlas melalui
aspek unggul artikular, yang cembung dan wajah ke atas dan keluar. 2

c. Embriologi
C2 memiliki pengembangan embryologic kompleks. Hal ini
berasal dari 4 pusat osifikasi: 1 untuk tubuh, 1 untuk proses odontoid,
dan 2 untuk lengkungan saraf. Proses odontoid sekering dengan bulan
kehamilan ketujuh. 2
Saat lahir, ruang disk vestigial tulang rawan yang disebut
synchondrosis neurocentral memisahkan proses odontoid dari tubuh
C2. Synchondrosis ini terlihat di hampir semua anak berusia 3 tahun
dan tidak ada pada mereka yang berusia 6 tahun. Bagian apikal sarang
mengeras pada usia 3-5 tahun dan sekering dengan sisa struktur sekitar
usia 12 tahun. Synchondrosis ini tidak harus bingung dengan fraktur.

7
Bagian dari oksiput, atlas, dan sumbu yang berasal dari proatlas. The
hypocentrum dari sclerotome keempat membentuk tuberkulum anterior
clivus. Centrum dari sclerotome proatlas menjadi tutup apikal sarang-
sarang dan ligamen apikal. 2
Komponen lengkung saraf dari proatlas dibagi menjadi
komponen rostral dan ventral. Komponen rostral membentuk bagian
anterior dari foramen magnum dan kondilus oksipital, komponen
caudal membentuk bagian superior dari lengkungan posterior atlas dan
massa atlantal lateral. The Alar dan ligamen cruciatum terbentuk dari
bagian lateral dari proatlas. 2

d. Pembuluh darah
Ada jaringan arteri yang luas anastomotic sekitar dens, makan
oleh arteri dipasangkan ascending anterior dan posterior yang timbul
dari arteri vertebralis sekitar level C3 dan arcade arteri karotid dari
dasar tengkorak. Arteri ascending anterior dan posterior mencapai
dasar sarang melalui ligamen aksesori dan menjalankan cephalad di
pinggiran untuk mencapai ujung proses. Arcade anastomotic juga
menerima cabang dari arteri faring ascending yang bergabung arcade
setelah melewati kondilus oksipital. 2

e. Ligamen
Persimpangan craniocervical dan sendi atlantoaxial dijamin
oleh ligamen eksternal dan internal. Ligamen eksternal terdiri dari
atlanto-oksipital, anterior atlanto-oksipital, dan ligamen longitudinal
anterior. Ligamen internal memiliki 5 komponen, sebagai berikut:
1) Ligamentum transversal memegang proses odontoid di tempat
terhadap atlas posterior, yang mencegah subluksasi anterior C1
pada C2
2) Ligamen aksesori timbul posterior dan dalam hubungannya dengan
ligamentum transversal dan masukkan ke dalam aspek lateral sendi

8
atlantoaxial, ligamentum apikal terletak anterior ke bibir foramen
magnum dan memasukkan ke puncak dari proses odontoid
3) Ligamen Alar dipasangkan mengamankan puncak odontoid ke
foramen magnum anterior
4) Membran tectorial merupakan kelanjutan dari ligamentum
longitudinal posterior ke margin anterior dari foramen magnum
5) 3 cm × 5 mm aksesori ligamen atlantoaxial tidak hanya
menghubungkan atlas untuk sumbu tetapi juga terus cephalad ke
tulang oksipital, fungsional, menjadi maksimal tegang dengan 5-8°
rotasi kepala, lemah dengan ekstensi serviks, dan maksimal tegang
dengan ° 5-10 fleksi serviks, tampaknya untuk berpartisipasi dalam
stabilitas craniocervical, perbaikan masa depan dalam pencitraan
resonansi magnetik (MRI) dapat menyebabkan apresiasi yang lebih
baik dari struktur dan integritas ligamen ini2

2. Bagian Bawah
Lima vertebrae yang membentuk tulang belakang leher yang lebih
rendah, C3-C7, yang mirip satu sama lain, tetapi sangat berbeda dari C1
dan C2. Masing-masing memiliki tubuh vertebral yang cekung di
permukaan superior dan cembung pada permukaan rendah. Pada
permukaan superior dari tubuh dibangkitkan proses atau kait yang disebut
proses uncinate, yang masing-masing artikulasi dengan daerah tertekan
pada aspek lateral inferior tubuh vertebral superior, yang disebut
echancrure atau landasan. 2
Sendi uncovertebral yang paling terlihat dekat pedikel dan
biasanya disebut sebagai sendi Luschka . Mereka diyakini hasil dari
perubahan degeneratif di anulus, yang menyebabkan fissuring dalam
anulus dan penciptaan dari sendi. Sendi ini dapat mengembangkan taji
osteophytic, yang dapat mempersempit foramina intervertebralis.
Proses spinosus C3-C6 biasanya bifid, sedangkan proses spinosus C7
biasanya nonbifid dan agak bulat di ujungnya. 2

9
Gambar 4 Anatomi Normal Tulang Belakang Servikal Bawah
a. Kolum Anterior dan Posterior
Tulang belakang leher subaxial secara mudah dapat dibagi
menjadi kolom anterior dan posterior. Kolom anterior terdiri dari tubuh
vertebral khas serviks terjepit di antara disk mendukung. Permukaan
anterior diperkuat oleh ligamentum longitudinal anterior dan tubuh
posterior oleh ligamentum longitudinal posterior, yang keduanya
berjalan dari sumbu ke sakrum.
Artikulasi meliputi artikulasi tubuh vertebral disk, sendi
uncovertebral, dan zygapophyseal (facet) sendi. Disk tebal anterior,
memberikan kontribusi untuk lordosis serviks normal, dan sendi
uncovertebral dalam aspek posterior dari tubuh menentukan tingkat
eksposur lateral bedah yang paling. Sendi facet yang berorientasi pada
sudut 45 º terhadap bidang aksial, memungkinkan gerakan geser,
kapsul sendi adalah posterior terlemah. Mendukung ligamentum

10
flavum, posterior, dan ligamen interspinous juga memperkuat kolom
posterior. 2

b. Persarafan
Dalam neuroanatomy dari tulang belakang leher, kabel
diperbesar, dengan ekstensi lateral materi abu-abu yang terdiri dari sel-
sel tanduk anterior. Dimensi lateralis mencakup 13-14 mm, dan sejauh
anterior-posterior ukuran 7 mm. Sebuah mm 1 tambahan diperlukan
untuk cairan cerebrospinal (CSF) anterior dan posterior, serta 1 mm
untuk dura. Sebanyak 11 mm diperlukan bagi sumsum tulang belakang
serviks. Keluar di setiap tingkat vertebral adalah saraf tulang belakang,
yang merupakan hasil dari persatuan akar saraf anterior dan posterior.
Foramina adalah terbesar di C2-C3 dan semakin berkurang
dalam ukuran ke C6-C7. Saraf tulang belakang dan tulang belakang
ganglion menempati 25-33% dari ruang foraminal. Foramen saraf
berbatasan anteromedially oleh sendi uncovertebral, posterolateral oleh
facet sendi, superior oleh pedikel dari vertebra di atas, dan inferior
oleh pedikel dari vertebra yang lebih rendah. Medial, foramina yang
dibentuk oleh tepi akhir piring dan cakram intervertebralis.
Interkoneksi yang hadir antara sistem saraf simpatik dan saraf tulang
belakang yang tepat. Saraf tulang belakang keluar atas Sejalan
bernomor tubuh vertebral mereka dari C2-C7. Karena penomoran dari
saraf tulang belakang serviks dimulai di atas atlas, 8 saraf tulang
belakang serviks ada, dengan yang pertama keluar antara tengkuk dan
atlas (C1) dan kedelapan keluar antara C7 dan T1. 2

c. Pembuluh darah
Anatomi pembuluh darah terdiri dari arteri spinalis anterior
yang lebih besar terletak di sulkus sentral kabel dan dipasangkan arteri
tulang belakang posterior terletak pada dorsum kabelnya. Hal ini
berlaku umum bahwa dua pertiga anterior kabel yang disediakan oleh

11
arteri spinalis anterior dan bahwa sepertiga posterior disuplai oleh
arteri posterior. 2

d. Facet sendi
Sendi facet dalam tulang belakang leher adalah sendi sinovial
diarthrodial dengan kapsul fibrosa. Kapsul sendi yang lebih longgar di
tulang belakang leher yang lebih rendah daripada di daerah lain tulang
belakang untuk memungkinkan gerakan meluncur aspek. Sendi
cenderung pada sudut 45 ° dari bidang horizontal dan 85 ° dari bidang
sagital. Keselarasan ini membantu mencegah terjemahan anterior
berlebihan dan penting dalam menahan beban. 2

e. Persarafan
Kapsul fibrosa yang diinervasi oleh mechanoreceptors (tipe I,
II, dan III), dan ujung saraf bebas telah ditemukan di areolar longgar
subsynovial dan jaringan kapsuler padat.Bahkan, ada
mechanoreceptors lebih di tulang belakang leher dibandingkan tulang
belakang lumbar ini masukan saraf dari segi mungkin penting untuk
sensasi proprioception dan rasa sakit dan dapat memodulasi refleks
otot pelindung yang penting untuk mencegah ketidakstabilan sendi dan
degenerasi.
Sendi facet dalam tulang belakang leher yang diinervasi oleh
kedua rami anterior dan posterior. Sendi atlanto-oksipital dan
atlantoaxial dipersarafi oleh rami anterior saraf pertama dan kedua
tulang belakang serviks. Sendi facet C2-C3 diinervasi oleh 2 cabang
ramus posterior innervate saraf tulang belakang serviks ketiga, cabang
berkomunikasi dan cabang medial dikenal sebagai saraf oksipital
ketiga.
Aspek serviks tersisa, C3-C4 ke C7-T1, yang dipasok oleh
cabang posterior medial rami yang muncul 1 cephalad tingkat dan
caudad pada sendi [11, 12]. Oleh karena itu, masing-masing gabungan

12
dari C3-C4 ke C7-T1 adalah diinervasi oleh cabang medial atas dan di
bawah. Cabang-cabang medial mengirimkan cabang artikular pada
sendi facet saat mereka membungkus di sekitar pinggang pilar
artikular. 2

f. Intervertebralis disk
Diskus intervertebralis yang terletak di antara badan vertebra
C2-C7. Disk intervertebralis yang terletak di antara setiap tubuh
vertebral caudad dengan sumbu. Disk ini terdiri dari 4 bagian: nucleus
pulposus di tengah, fibrosis anulus sekitarnya inti, dan akhir piring 2
yang melekat pada badan vertebra yang berdekatan. Mereka melayani
sebagai dissipators kekuatan, transmisi tekan beban seluruh rentang
gerak. Disk lebih tebal anterior dan karena itu berkontribusi lordosis
serviks normal.
Disk intervertebralis terlibat dalam gerakan tulang belakang
leher, stabilitas, dan berat-bearing. Serat melingkar yang terdiri dari
lembar kolagen (lamellae) yang berorientasi pada sudut 65-70 ° dari
vertikal dan alternatif arah dengan setiap lembar berturut-turut.
Akibatnya, mereka rentan terhadap cedera oleh pasukan rotasi karena
hanya satu setengah dari lamellae berorientasi untuk menahan gaya
yang diterapkan di arah ini.
Yang ketiga yang tengah dan luar anulus yang diinervasi oleh
nociceptors. Fosfolipase A2 telah ditemukan dalam disk dan dapat
menjadi mediator inflamasi. 2

g. Ligamen
Meskipun tulang belakang leher terdiri dari 7 vertebra serviks
diselingi oleh disk intervertebralis, jaringan ligamen yang kompleks
menjaga elemen-elemen tulang individu yang berperilaku seolah-olah
mereka satu kesatuan.

13
Sebagaimana dicatat, tulang belakang leher dapat dilihat
sebagai yang terdiri dari kolom anterior dan posterior. Hal ini juga
dapat berguna untuk berpikir dalam kolom (tengah) ketiga, sebagai
berikut:
1) Kolom anterior terdiri dari ligamentum longitudinal anterior dan
dua pertiga anterior dari badan vertebra, anulus fibrosus, dan disk
intervertebralis
2) Kolom tengah terdiri dari ligamentum longitudinal posterior dan
sepertiga posterior dari badan vertebra, anulus fibrosus, dan disk
intervertebralis
3) Kolom posterior terdiri dari lengkungan posterior, termasuk
pedikel, proses transversus, aspek mengartikulasikan, lamina, dan
proses spinosus
Ligamen longitudinal penting untuk menjaga integritas dari
kolom tulang belakang. Sedangkan ligamen longitudinal anterior dan
posterior mempertahankan integritas struktural dari kolom anterior dan
menengah, keselarasan kolom posterior distabilkan oleh kompleks
ligamen, termasuk ligamen nuchal dan kapsuler, dan ligamentum
flavum.
Jika 1 dari 3 kolom terganggu sebagai akibat dari trauma,
stabilitas disediakan oleh 2 lainnya, dan cedera tulang biasanya
dicegah. Dengan gangguan 2 kolom, cedera tulang belakang lebih
mungkin karena tulang belakang kemudian dapat bergerak sebagai unit
terpisah.
Beberapa ligamen tulang belakang leher yang memberikan
stabilitas dan umpan balik proprioseptif yang layak disebut dan secara
singkat dijelaskan di sini
Ligamentum transversal, bagian utama dari ligamentum
cruciatum, muncul dari tuberkel pada atlas dan membentang di seluruh
cincin anterior sementara memegang proses odontoid (sarang)
terhadap lengkungan anterior. Sebuah rongga sinovial terletak antara

14
sarang dan proses transversus. Ligamentum ini memungkinkan rotasi
atlas pada sarang-sarang dan bertanggung jawab untuk menstabilkan
tulang belakang leher selama bending fleksi, ekstensi, dan lateral.
Ligamentum transversal ligamentum yang paling penting untuk
mencegah terjemahan anterior normal.
Ligamen Alar dijalankan dari aspek lateral dari sarang ke
kondilus medial ipsilateral oksipital dan atlas ipsilateral. Mereka
mencegah gerakan lateral dan rotasi yang berlebihan sementara
memungkinkan fleksi dan ekstensi. Jika ligamen Alar rusak, seperti di
whiplash, kompleks sendi menjadi hypermobile, yang dapat
menyebabkan kinking dari arteri vertebralis dan stimulasi nociceptors
dan mechanoreceptors. Hal ini mungkin berhubungan dengan keluhan
khas pasien dengan cedera whiplash (misalnya, sakit kepala, sakit
leher, dan pusing).
Ligamentum longitudinal anterior (ALL) dan ligamentum
longitudinal posterior (PLL) adalah stabilisator utama sendi
intervertebralis. Kedua ligamen yang ditemukan di seluruh seluruh
panjang tulang belakang, namun ALL melekat lebih erat dengan disk
daripada PLL tidak, dan tidak berkembang dengan baik di tulang
belakang leher. ALL menjadi membran atlanto-oksipital anterior di
tingkat atlas, sedangkan gabungan PLL dengan membran tectorial.
Keduanya melanjutkan ke oksiput. The PLL mencegah fleksi yang
berlebihan dan gangguan.
Ligamentum supraspinous, ligamen interspinous, dan
ligamentum flavum menjaga stabilitas antara lengkungan vertebral.
Ligamentum supraspinous berjalan di sepanjang ujung proses
spinosus, ligamen interspinous dijalankan antara proses spinosus
berdekatan, dan ligamentum flavum berjalan dari permukaan anterior
dari vertebra cephalad ke permukaan posterior vertebra caudad.
Ligamentum interspinous dan (terutama) ligamentum flavum
kontrol untuk fleksi yang berlebihan .Ligamentum juga

15
menghubungkan ke dan memperkuat kapsul sendi facet pada aspek
ventral.. Ligamentum nuchae adalah kelanjutan cephalad dari
ligamentum supraspinous dan memiliki peran penting dalam
menstabilkan tulang belakang leher. 2

B. Definisi Fraktur Servikalis


Fraktur adalah putusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai
dengan jenis dan luasnya. Fraktur terjadi ketika tulang diberikan stress lebih
besar dari kemampuannya untuk menahan. Fraktur dapat terjadi karena
pukulan langsung, kekuatan yang berlawanan, gerakan pemuntiran tiba-tiba,
dan bahkan kontraksi otot yang berlebihan. Pada keadaan tulang yang patah,
struktur sekitarnya juga akan terpengaruh berupa edema jaringan lunak,
perdarahan ke dalam tulang dan sendi, dislokasi sendi, ruptur tendon,
kerusakan saraf dan pembuluh darah.3
Tulang vertebra servikalis merupakan bagian dari tulang belakang
yang terdiri atas tujuh bagian (CV1-CV7). Tulang vertebra servikalis
merupakan tulang pendek yang berbentuk silindris kecil sebagai badan
vertebra yang terletak di depan sumsum tulang belakang dan bekerja sama
dengan otot, sendi, ligamen dan tendon untuk memberikan dukungan, struktur
serta stabilisasi dari leher. Tulang ini merupakan bagian yang paling kecil dari
tulang belakang, kecuali ruas tulang pertama dan kedua. Mempunyai ciri-ciri
yaitu, korpus yang kecil dan persegi panjang, lebih panjang kesamping
dibandingkan kebelakang. Lengkungnya besar mengakibatkan prosesus
spinosus diujungnya memecah menjadi dua atau bifida. Prosesus
tranversusnya berlubang-lubang karena terdapat banyak foramina sebagai
jalur lewat arteri vertebralis 2
Fraktur leher, juga disebut fraktur servikalis, adalah patah pada satu
atau lebih dari tujuh tulang serviks. Tulang serviks merupakan tulang yang
membentuk tulang belakang di leher. Vertebra servikalis di leher diberi label
C1-C7. Tulang tersebut melindungi sumsum tulang belakang, menopang leher
dan memungkinkan gerakan. Penting untuk mengenali kemungkinan fraktur

16
leher.4

C. Epidemiologi Vertebra Servikalis


Cedera servikal merupakan cedera tulang belakang yang paling sering
menimbulkan kecacatan dan kematian, dari beberapa penelitian terdapat
korelasi antara tingkat cedera servikal dengan morbiditas dan mortalitas, yaitu
semakin tinggi tingkat cedera servikal semakin tinggi pula morbiditas dan
mortalitasnya. 5
Sekitar 10% pasien dengan penurunan kesadaran yang dikirim ke
Instalasi Gawat Darurat akibat kecelakaan lalu lintas selalu menderita cedera
servikal, baik cedera pada tulang servikal, jaringan penunjang, maupun cedera
pada cervical spine. Kecelakaan lalu lintas dan terjatuh adalah penyebab
sebagian besar fraktur tulang servikal. Trauma pada servikal subaksis (C3–7)
lebih umum terjadi dibanding servikal C1 dan C2. Trauma servikal sering
terjadi pada pasien dengan riwayat kecelakaan kendaraan bermotor dengan
kecepatan tinggi, trauma pada wajah dan kepala, terdapat defisit neurologis,
nyeri pada leher, dan trauma multiple.5
Terdapat 17 pasien cedera servikal yang dirawat dengan manajemen
konservatif di bagian Bedah Saraf. Semua pasien tersebut pulang ke rumah
dalam kondisi hidup dan evaluasi 6 bulan pascacedera servikal masih dalam
kondisi hidup. Observasi kohor prospektif untuk menentukan rata-rata nilai
FIM pasien cedera servikal yang dirawat dengan manajemen konservatif
adalah 4+1,63 yang artinya rata-rata pasien cedera servikal memerlukan
bantuan minimal atau lebih sama dengan 75% tanpa ketergantungan.
Karakteristik penelitian berdasarkan umur menampilkan bahwa pasien cedera
servikal terbanyak adalah pada umur 31-40 tahun yaitu 35,29%, sedangkan
sisanya tersebar pada beberapa kelompok umur lainnya. Cedera servikal sering
terjadi pada laki-laki dibandingkan perempuan yaitu 82,35%. 6

17
D. Etiologi dan Faktor Resiko Fraktur
1. Fraktur akibat trauma
Sebagian fraktur disebabkan oleh kekuatan yang tiba-tiba berlebihan
yang dapat berupa pemukulan, penghancuran, perubahan pemuntiran atau
penarikan. Bila tekanan kekuatan langsung tulang dapat patah pada
tempat yang terkena dan jaringan lunak juga pasti akan ikut rusak.
Pemukulan biasanya menyebabkan fraktur lunak juga pasti akan ikut
rusak. Pemukulan biasanya menyebabkan fraktur melintang dan
kerusakan pada kulit diatasnya. Penghancuran kemungkinan akan
menyebabkan fraktur komunitif disertai kerusakan jaringan lunak
yang luas.3
2. Fraktur akibat kelelahan atau tekanan
Retak dapat terjadi pada tulang seperti halnya pada logam dan
bendalain akibat tekanan berulang-ulang.3
3. Fraktur patologik karena kelemahan pada tulang
Dalam hal ini kerusakan tulang terjadi akibat proses penyakit
sehingga tulang menjadi lemah dan mudah patah hanya dengan adanya
sedikit tekanan.3

Gambar 5. Faktor Resiko Fraktur7

18
E. Patofisiologi Fraktur

Gambar 6. Patofisiologi Fraktur8

F. Klasifikasi Fraktur Cervikalis


1. Klasifikasi berdasarkan mekanisme trauma
a) Trauma hiperfleksi
1) Bilateral interfacetal dislocation
Terjadi robekan pada ligamen longitudinal anterior dan
kumpulanligament di posterior tulang leher. Lesi tidak stabil.

19
Tampak diskolasianterior korpus vertebrae. Dislokasi total sendi
apofiseal.9

Gambar 7 Foto polos Bilateral interfacetal dislocation

Gambar 8 CT-Scan Bilateral interfacetal dislocation

20
Gambar 9 MRI Bilateral interfacetal dislocation

2) Flexion tear drop fracture dislocation


Tenaga fleksi murni ditambah komponen kompresi
menyebabkanrobekan pada ligamen longitudinal anterior dan
kumpulan ligamen posterior disertai fraktur avulse pada bagian
antero-inferior korpusvertebra. Lesi tidak stabil. Tampak tulang
servikal dalam fleksi :
- Fragmen tulang berbentuk segitiga pada bagian antero-
inferior korpus vertebrae
- Pembengkakan jaringan lunak pravertebral. 9

21
Gambar 10 Foto polos Flexion tear drop fracture dislocation dan CT-Scan Flexion
tear drop fracture dislocation

Gambar 11 MRI Flexion tear drop fracture dislocation proyeksi sagital

22
3) Wedge Fracture
Vertebrae terjepit sehingga terbentuk baji. Ligament
longitudinal anterior dan kumpulan ligament posterior utuh
sehingga lesi ini bersifat stabil. 9

Gambar 12 Foto polos Wedge Fracture

Gambar 13 CT-ScanWedge Fracture

23
4) Clay Shovelers Fracture
Fleksi tulang leher dimana terdapat kontraksi ligament
posterior tulang leher mengakibatkan terjadinya fraktur oblik pada
prosesus spinosus : biasanya pada CVI-CVII atau Thl. 9

Gambar 14 Foto polos Clay Shovelers Fracture

FIGURE 11.43 CT and MRI of theclay shoveler's fracture. A 22year-old man


injured his neck in a divingaccident. (A) Lateral radiograph, (B) sagittal CT
reformatted image, and (C) sagittal proton-weighted MR image demonstrate
slightly caudally displaced fracture of the spinous process of C7 (arrows).

Gambar 15 (A) Foto polos Clay Shovelers Fracture


(B) CT-Scan Clay Shovelers Fracture
(C) MRI Clay Shovelers Fracture

24
5) Odontoid Fracture
Patah tulang odontoid atau yg biasa disebut peg atau ordens
fracture. Di mana proses patah tulang odontoid terjadi di C2.

Gambar 15 Klasifikasi dari fraktur Odontoid

Gambar 16 Fracture of the odontoid process. A 62-year-old man sustained a


flexion injury of the cervicalspine in an automobile accident. Open-mouth
anteroposterior (A) and lateral (B) radiographs demonstrate a fracture line at the
base of the odontoid process, but the details of this injury cannot be well
appreciated. Thinsection trispiral tomographic sections in the anteroposterior (C)
and lateral (D) projections confirm the fracture at the base of the dens. This is a
type II (unstable) fracture.

25
b) Trauma Hiperekstensi
1) Hangmans fracture
Terjadi fraktur arkus bilateral dan dislokasi anterior C2 terhadap
C39

Gambar 17 Hangman's fracture. This injury may present as nondisplaced


fractures through the arches of C2, as seen here schematically on the
lateral (A) and axial (B) views, or as displaced fractures with anterior
angulation (C) and (D) associated with disruption of ligaments, the
intervertebral disk, or articular facets

Gambar 18 Classification of hangman's fractures.

26
Gambar 19 Foto polos Hangmans fracture

2) Extension teardrop fracture


Seperti fleksi fraktur teardrop, ekstensi fraktur teardrop
juga bermanifestasi dengan fragmen di luar anteroinferior tulang.
Fraktur ini terjadi ketika ligamentum longitudinal anterior
menarik fragmen tulang menjauh dari aspek inferior vertebra
karena hiperekstensi tiba-tiba. Fragmen adalah avulsi yang
sebenarnya, berbeda dengan fraktur fleksi teardrop di mana
fragmen diproduksi oleh kompresi. Jenis fraktur umumnya
terjadi pada kecelakaan menyelam dan cenderung terjadi pada
tingkat serviks yang lebih rendah. Hal ini juga dapat dikaitkan
dengan sindrom central cord karena belokan dari flava ligament
ke kanal tulang belakang selama fase hiperekstensi cedera.
Cedera ini stabil di fleksi tapi sangat tidak stabil dalam ekstensi .

27
Gambar 20 Foto polos Extension teardrop fracture

Gambar 21 CT-Scan Extension teardrop fracture

28
Gambar 22 MRI Extension teardrop fracture

c) Axial Injury
Terjadinya fraktur ini akibat diteruskannya tekanan trauma
melalui kepala, kondilus okspitalis, ketulang leher. 9
1) Bursting fracture dari atlas (jeffersons fracture)

Gambar 23 Jefferson fracture. The classic Jefferson fracture, seen here


schematically on the anteroposterior (A) and axial (B) views, exhibits a
characteristic symmetric overhang of the lateral masses of C1 over those of C2.
Lateral displacement of the articular pillars results in disruption of the transverse
ligaments. (C) On occasion, only unilateral lateral displacement of an articular
pillar may be present

29
Gambar 23 Jefferson fracture. A 19-year-old man sustained a neck injury while
being mugged. (A) Openmouth anteroposterior radiograph of the cervical spine
shows lateral displacement of the lateral masses of the atlas (arrows), suggesting a
ring fracture of C1. (B) Lateral radiograph demonstrates fracture lines of the
posterior and anterior arch of C1 (arrows). (C) CT section demonstrates two
fracture lines of the posterior archand a fracture of the anterior arch (arrows). (D)
CT coronal reformation confirms lateral displacement of the lateral masses
(arrows). (A) Foto polos Jefferson fracture proyeksi AP (B) Foto polos Jefferson
fracture proyeksi lateral (C) CT-Scan Jefferson fracture proyeksi AP (D) CT-Scan
Jefferson fracture proyeksi coronal

Gambar 23 Jefferson fracture. A 56-year-old man was hit on the top of the head
during the industrial accident. (A) Later radiograph of the cervical spine shows a
fracture of C1 (arrow). (B) Axial CT section and (C) 3D CT reconstructed image
confirm unilateral fracture of the left anterior and posterior arches of C1 (arrow).
(A) Foto polos Jefferson fracture proyeksi lateral (B) CT-Scan Jefferson fracture
proyeksi axial

30
2) Bursting fracture vertebra servikal tengah dan bawah

Gambar 24 Foto polos Bursting fracture vertebra servikal C5-6 proyeksi lateral

Gambar 25 CT-Scan Bursting fracture vertebra servikal C5-6 proyeksi sagital

31
Gambar 26 CT-ScanBursting fracture vertebra servikal C5-6 proyeksi axial

2. Klasifikasi berdasarkan derajat kestabilan


a) Stabil
Stabilitas dalam hal trauma tulang servical dimaksudkan untuk
mempertahankan tetap utuhnya komponen ligament skeletal saat
terjadinya pergeseran satu segmen tulang leher terhdap lainnya.
Cedera dianggap stabil jika bagian yang terkena tekanan hanya
bagian medulla spinalis anterior, komponen vertebral tidak bergeser
dengan pergerakan normal, ligament posterior tidak rusak sehingga
medulla spinalis tidak terganggu, fraktur kompresi dan burst fraktur
adalah contoh cedera stabil. 9
b) Tidak stabil
Cedera tidak stabil artinya cedera yang dapat bergeser dengan
gerakan normal karena ligament posteriornya rusak atau robek.
Menentukan stabil atau tidaknya fraktur membutuhkan
pemeriksan radiograf. Pemeriksaan radiograf minimal ada 4 posisi
yaitu :

32
1) Anteroposterior
2) Lateral
3) Oblik kanan
4) Oblik kiri
Dalam menilai stabilitas vertebra ada tiga unsur yang harus
dipertimbangkan yaitu kompleks posterior (kolumna posterior),
kompleks media dan kompleks anterior (kolumna anterior).
Pembagian bagian kolumna vertebralis adalah sebagai
berikut :
- Kolumna anterior yang terbentuk dari ligament
longitudinal dan duapertiga bagian anterior dari corpus
vertebra, diskus dan annulus vertebralis.
- Kolumna media yang terbentuk dari satupertiga bagian
posterior dari corpus vertebralis, diskus dan annulus
vertebralis.
- Kolumna posterior yang terbentuk dari pedikulus, sendi-
sendi permukaan, arkus tulang posterior, ligament
interspinosa dan supraspinosa. 9

Tabel 1 Classification of Injuries to the Cervical Spine by Mechanism of Injury and Stability
CONDITION STABILITY
Occipitocervical dislocation Unstable
Subluxation Stable
Dislocation in facet joints (locked facets)
Unilateral Stable
Bilateral Unstable
Odontoid fractures
Type I Stable
Type II Unstable
Type III Stable
Wedge (compression) fracture Stable
Clay shoveler's fracture Stable
Teardrop fracture Unstable
Burst fracture Stable or unstable
Extension Injuries
Occipitocervical dislocation Unstable

33
Fracture of posterior arch of C1 Stable
Hangman's fracture Unstable
Extension teardrop fracture Stable
Hyperextension fracture-dislocation Unstable
Compression Injuries
Occipital condyle fracture (types I, II) Stable
Jefferson fracture Unstable
Burst fracture Stable or unstable
Laminar fracture Stable
Compression fracture Stable
Shearing Injuries
Lateral vertebral compression Stable
Lateral dislocation Unstable
Transverse process fracture Stable
Lateral mass fracture Stable
Rotation Injuries
Occipital condyle fracture (type III) Unstable
Rotary subluxation C1-2 Stable
Fracture-dislocation Unstable
Facet and pillar fractures Stable or unstable
Transverse process fracture Stable
Distraction Injuries
Occipitocervical dislocation Unstable
Hangman's fracture Unstable
Atlantoaxial subluxation Stable or unstable9

G. Pemeriksaan Diagnostik Fraktur Servikalis


1. Foto polos
Menentukan lokasi dan jenis cedera tulang (fraktur, disloksi) untuk
kesejajaran, reduksi setelah dilakukan traksi atau operasi.
2. CT scan
Menentukan tempat luka/jejas, mengevaluasi gangguan struktural.
3. MRI
Mengidentifikasi adanya kerusakan saraf spinal, edema dan kompresi.
4. Mielografi
Untuk memperlihatkan kolumna spinalis (kanal vertebral) jika faktor
patologisnya tidak jelas atau di curigai adanya oklusi pada ruang
subarakhnoid medulla spinalis.10

34
H. Penatalaksanaan Trauma Servikal
1. Mempertahankan ABC (Airway, Breathing, Circulation)
2. Mengatur posisi kepala dan leher untuk mendukung airway : headtilt, chin
lift, jaw thrust. Jangan memutar atau menarik leher ke belakang
(hiperekstensi), mempertimbangkan pemasangan intubasi nasofaring.
3. Stabilisasi tulang servikal dengan manual support, gunakan servikal collar,
imobilisasi lateral kepala, meletakkan papan di bawah tulang belakang.
4. Stabililisasi tulang servikal sampai ada hasil pemeriksaan rontgen (C1 - C7)
dengan menggunakan collar (mencegah hiperekstensi, fleksi dan rotasi),
member lipatan selimut di bawah pelvis kemudian mengikatnya.
5. Menyediakan oksigen tambahan.
6. Memonitor tanda-tanda vital meliputi RR, AGD (PaCO2), dan pulse
oksimetri.
7. Menyediakan ventilasi mekanik jika diperlukan.
8. Memonitor tingkat kesadaran dan output urin untuk menentukan pengaruh
dari hipotensi dan bradikardi.
9. Meningkatkan aliran balik vena ke jantung.
10. Berikan antiemboli
11. Tinggikan ekstremitas bawah
12. Gunakan baju antisyok.
13. Meningkatkan tekanan darah
14. Monitor volume infus.
15. Berikan terapi farmakologi ( vasokontriksi)
16. Berikan atropine sebagai indikasi untuk meningkatkan denyut nadi jika
terjadi gejala bradikardi.
17. Mengatur suhu ruangan untuk menurunkan keparahan.
18. Memepersiapkan pasien untuk reposisi spina.
19. Memberikan obat-obatan untuk menjaga, melindungi dan memulihkan
spinal cord : steroid dengan dosis tinggi diberikan dalam periode lebih dari
24 jam, dimulai dari 8 jam setelah kejadian.

35
a) Memantau status neurologi pasien untuk mengetahui tingkat kesadaran
pasien.
b) Memasang NGT untuk mencegah distensi lambung dan kemungkinan
aspirasi jika ada indikasi.
c) Memasang kateter urin untuk pengosongan kandung kemih.
d) Mengubah posisi pasien untuk menghindari terjadinya dekubitus.
e) Mengupayakan pemenuhan kebutuhan pasien yang teridentifikasi
secara konsisten untuk menumbuhkan kepercayaan pasien pada tenaga
kesehatan.
f) Melibatkan orang terdekat untuk mendukung proses penyembuhan.10

I. Kompilkasi Fraktur Servikal


1. Syok neurogenic
Syok neurogenik merupakan hasil dari kerusakan jalur simpatik
yang desending pada medulla spinalis. Kondisi ini mengakibatkan
kehilangan tonus vasomotor dan kehilangan persarafan simpatis pada
jantung sehingga menyebabkan vasodilatasi pembuluh darah visceral
serta ekstremitas bawah maka terjadi penumpukan darah dan
konsekuensinya terjadi hipotensi.
2. Syok spinal
Syok spinal adalah keadaan flasid dan hilangnya refleks, terlihat
setelah terjadinya cedera medulla spinalis. Pada syok spinal mungkin
akan tampak seperti lesi komplit walaupun tidak seluruh bagian rusak.
3. Hipoventilasi
Hal ini disebabkan karena paralisis otot interkostal yang
merupakan hasil dari cedera yang mengenai medulla spinalis bagian di
daerah servikal bawah atau torakal atas.
4. Hiperfleksia autonomic
Dikarakteristikkan oleh sakit kepala berdenyut, keringat banyak,
kongesti nasal, bradikardi dan hipertensi.10

36
BAB III

SIMPULAN

Fraktur servikal adalah rusaknya dan terputusnya kontinuitas tulang


servikal. Fraktur dapat diakibatkan oleh beberapa hal yaitu:Fraktur akibat
peristiwa trauma, fraktur akibat peristiwa kelelahan atau tekanan, Fraktur
patologik karena kelemahan pada tulang. Cedera terjadi akibat hiperfleksi,
hiperekstensi, kompresi atau rotasi tulang belakang. Gambaran klinis tergantung
dari letak dan besarnya kerusakan yang terjadi.
Klasifikasi trauma servikal berdasarkan mekanismenya yaitu : hiperfleksi,
fleksi-rotasi, hiperekstensi, ekstensi-rotasi, kompresi vertical. Klasifikasi
berdasarkan derajat kestabilan yaitu ; Stabil dan tidak stabil. Jenis cedera servikal
C1 dan C2 adalah dislokatio atlantaoksipital, fraktur atlas, subluksasi rotasi C1,
fraktur aksis, fraktur odontoid dan fraktur elemen posterior C2.
Setelah primary survey, pemeriksaan neurologis dan pemeriksaan
external,tahap berikutnya adalah evaluasi radiographic tercakup didalamnya, plain
fotofluoroscopy, polytomography CT-Scan tanpa atau dengan myelography dan
MRI.

37
DAFTAR PUSTAKA

1. Departemen Bedah Saraf FKUI-RSCM.Sinopsis Ilmu Bedah Saraf :


Trauma Spinal. Sagung Seto.Jakarta : 2011. Hal 31-42
2. Rahim, AH. 2012. Vertebra. Jakarta: CV Sagung Seto.
3. Brunner & Suddarth, (2013). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah
Edisi 8 volume 2. Jakarta EGC
4. https://uvahealth.com/services/ortho-trauma/neck-fracture diakses pada
tanggal 15 Januari 2019 pukul 20.30 WITA
5. Ban DX, Ning GZ, Feng SQ, Wang Y, Zhou XH, Liu Y, Chen JT. Regen
Med. 2011 Nov;6(6):707-20.
6. MZ, Arifin dan Jefri H. Nilai Functional Independence Measure Penderita
Cederaservikal Dengan Perawatan Konservatif. KEMAS 8 (1) (2012) 10-
16
7. https://www.researchgate.net/figure/Flow-chart-showing-the-
pathogenesis-of-osteoporotic-fractures_fig6_320708368 diakses pada
tanggal 15 Januari 2019 pukul 20.30 WITA
8. https://www.researchgate.net/figure/Proposed-pathophysiology-of-stress-
fractures_fig1_6879501 tanggal 15 Januari 2019 pukul 20.30 WITA
9. Moira Davinport. Fracture cervical spine. Last updated 30-04-2010.
http://www.82340-overview.htm. diakses pada tanggal 15 Januari 2019
pukul 20.30 WITA
10. Satyanegara. Ilmu Bedah Saraf edisi IV. Cedera Spinal. PT Gramedia
Pustaka Utama. Jakarta : 2010. Hal 393 - 403

38
39