Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

PPH Pasal 4 Ayat (2) (PAJAK FINAL)

Disusun oleh :

QOSIM (1501020773)
PUTRI ALFIANTI (1501020772)
FEFTY NURUL AINI S. (1601030022)

PROGRAM STUDI AKUNTANSI


SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI MUHAMMADIYAH
KH. AHMAD DAHLAN LAMONGAN
2017
MAKALAH
PPH Pasal 4 Ayat (2) (PAJAK FINAL)

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Akuntansi Perpajakan


Dosen Pengampu : Rina Sulistyowati, SE., MP

Disusun oleh :

QOSIM (1501020773)
PUTRI ALFIANTI (1501020772)
FEFTY NURUL AINI S. (1601030022)

PROGRAM STUDI AKUNTANSI


SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI MUHAMMADIYAH
KH. AHMAD DAHLAN LAMONGAN
2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Allah S.W.T., karena atas rahmat dan nikmat
yang telah dilimpahkan kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang
berjudul “PPh Pasal 4 Ayat (2) (PPH Final)” tanpa suatu halangan apapun.

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Akuntansi Perpajakan.
Makalah ini dibuat agar mahasiswa lebih memahami tentang Pajak Penghasilan Pasal 4 ayat
(2) atau lebih dikenal PPh Final.

Ucapan terima kasih kami ucapkan kepada Ibu Rina Sulistyowati, SE., MP selaku
dosen pengampu yang telah memberikan kesempatan kepada kami untuk membuat makalah
ini dan juga semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu per satu yang telah membantu
dalam penyelesaian makalah ini.

Kami menyadari bahwa pembuatan makalah ini masih banyak kekurangan. Oleh
karena itu kami selaku penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun
demi kesempurnaan makalah ini. Akhir kata semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita
semua. Aamiin...

Lamongan, Oktober 2017

Penulis
DAFTAR ISI

Halaman Judul ..........................................................................................................


Kata Pengantar ..........................................................................................................
Daftar Isi ...................................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................
A Latar Belakang ..................................................................................
B Rumusan Masalah .............................................................................
C Tujuan dan Manfaat ..........................................................................
BAB II PEMBAHASAN .......................................................................................
A Pajak Penghasilan Pasal 4 ayat (2) ....................................................
B Pajak Penghasilan Pasal 4 ayat (2) Mengenai Jasa Kontruksi ...........
C Perbedaan Pajak Penghasilan Pasal 4 ayat (2) dengan Pajak Penghasilan
Pasal 23 .............................................................................................
BAB III PENUTUP ................................................................................................
A Kesimpulan .......................................................................................
DAFTAR PUSTAKA ...............................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Di Indonesia maupun di berbagai negara lainnya, pasti memiliki kebijakan
setiap warga yang berpenghasilan untuk melakukan pembayaran pajak kepada negara.
Hal ini dikarenakan pajak merupakan salah satu sumber pemasukan untuk kas negara
yang akan digunakan untuk membiayai pembangunan suatu negara. Pajak ini sendiri
bersifat memaksa terhadap seluruh warga negara atau wajib pajak untuk menaaitinya.
Di Indonesia terdapat berbagai macam jenis pajak, salah satunya Pajak Penghasilan
(PPh), yang merupakan pajak terhutang atas dasar penghasilan yang didapatkan, antara
lain penghasilan dari pendapatan berupa gaji, penghasilan dari laba usaha, penghasilan
yang berupa hadiah, dan penghasilan yang berupa pendapatan bunga. PPh yang
terhutang dalam jangka waktu 1 tahun haruslah dilunasi oleh wajib pajak sesuai dengan
peraturan perpajakan penghasilan yang ada. Sesuai dengan ketentuan dalan Undang-
undang PPh, PPh terdiri atas PPh pasal 4 ayat (2), PPh pasal 25, PPh pasal 21, PPh pasal
22, dll.
Pada makalah akan membahas mengenai PPh pasal 4 ayat (2) UU yang
merupakan pajak penghasilan yang mengatur penghasilan dari transaksi pengalihan
harta berupa tanah dan atau bangunan, usaha jasa konstruksi, usaha real estate, dan
persewaan tanah dan atau bangunan dikenai pajak bersifat final yang diatur dengan
peraturan pemerintah. Namun fokus utama akan dibahas mengenai PPh pasal 4 ayat (2)
mengenai jasa kontruksi, karena sering kali sering terdapat perbedaan persepsi antara
pengenaan pajak pasal 4 ayat (2) dengan pajak pasal 23. Adapun peraturan pemerintah
yang mengatur tentang jasa konstruksi tersebut adalah Peraturan Pemerintah nomor 51
tahun 2008.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, dapat dirumuskan beberapa masalah, yaitu
:
1. Apa yang terkandung dalam peraturan tentang pajak penghasilan pasal 4 ayat (2)
mengenai jasa kontruksi?
2. Apa perbedaan pajak penghasilan pasal 4 ayat (2) dengan pasal 23 ?

C. Tujuan dan Manfaat


1. Untuk mengetahui apa saja mengenai pajak penghasilan pasal 4 ayat (2) mengenai
jasa kontruksi
2. Untuk mengetahui perbedaan antara pajak penghasilan pasal 4 ayat (2) dengan
pajak penghasilan pasal 23
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pajak Penghasilan Pasal 4 ayat (2)


Pajak penghasilan pasal 4 ayat (2) menurut undang-undang pajak penghasilan
menyebutkan, bahwa : “Atas penghasilan berupa bunga deposito, dan tabungan
lainya,penghasilan dari transaksi saham dan sekuritas lainya di bursa efek, penghasilan
dari pengalihan harta berupa tanah dan atau bangunan serta penghasilan tertentu lainya,
pengenaan pajaknya diatur dengan peraturan pemerintah”. PPh Pasal 4 ayat (2)
merupakan jenis pajak yang bersifat final, yang berarti PPh yang telah dipotong tidak
bisa untuk dikreditkan lagi sebagai pengurang PPh Pasal 29 di akhir tahun. Oleh karena
itu penghasilan yang sudah dikenai PPh Pasal 4 ayat (2) akan dilaporkan secara
tersendiri dalam sebuah lampiran dan akan dikoreksi dari pelaporan penghasilan neto
fiskal dalam SPT Tahunan PPh wajib pajak.
Nilai pajak PPh Pasal 4 ayat (2) tidak dapat dibukukan sebagai uang muka
untuk pembayaran pajak, karena pajak ini bersifat final. Oleh karena itu PPh Pasal 4
ayat (2) dicatat sebagai beban bagi pihak yang dipotong dan dicatat sebagai utang bagi
pihak yang memotong apabila prosedur yang harus dilakukan adalah dipotong dan
memotong. Jenis penghasilan yang dikenai PPh Pasal 4 ayat (2) beserta dasar
hukumnya, antara lain:

Uraian Tarif Dasar Hukum

Penghasilan dari sewa 10% x jumlah bruto nilai PP No 5/2002, KEP


tanah dan/atau bangunan persewaan 227/PJ/2002

Penghasilan dari 5% x jumlah bruto nilai PP 48/1994, PP 71/2008


pengalihan hak atas tanah pengalihan atau 1% x
dan/atau bangunan jumlah bruto nilai
pengalihan (RS/RSS)

Penghasilan dari jasa sesuai PP 51/2008 PP 51/2008 jo PP


kontruksi 40/2009
Penghasilan dari 0,1% x jumlah bruto nilai PP 41/1994 jo PP
penjualan saham yang transaksi dan tambahan 14/1997
dilakukan di bursa efek 0,5% x nilai saham untuk
saham pendiri
Penghasilan berupa 15% x jumlah bruto PP 16/2009
bunga/diskonto obligasi bunga/diskonto untuk
WPDN dan 20% untuk
WPLN
Penghasilan dari bunga 20% x diskonto SPN PP 27/2008
Surat Perbendaharaan
Negara (SPN)
Penghasilan Deviden 10% x jumlah bruto PP 19/2009
yang diterima oleh Wajib deviden
Pajak Orang Pribadi
Dalam Negeri
Bunga simpanan koperasi 0% x bunga simpanan PP 15/2009
yang dibayarkan kepada sampai dengan
anggota koperasi orang Rp240.000,- dan 10% x
pribadi bunga simpanan di atas
Rp 240.000,-
Pendapatan berupa bunga 20% x jumlah bruto PP 131/2000
deposito dan tabungan bunga
serta sertifikat bank
indonesia (SBI)
Penghasilan berupa 25% x jumlah bruto nilai PP 132/2000
hadiah undian hadiah
Penghasilan dari 0,1% x jumlah bruto nilai PP 4/1995
penjualan saham milik transaksi
modal ventura
Penghasilan usaha Wajib 1% x peredaran usaha PP 46/2013
Pajak yang memiliki setiap bulan setiap tempat
peredaran bruto tertentu kegiatan usaha

B. Pajak Penghasilan Pasal 4 ayat (2) Mengenai Jasa Kontruksi


Jasa kontruksi merupakan layanan yang menyediakan jasa berupa konsultasi
yang dimulai dari perencanaan pekerjaan kontruksi, pelaksaan pekerjaan kontruksi serta
konsultasi pengawasan para pekerja kontruksi. Dimana hasil dari penyediaan jasa ini
akan dikenakan pajak berupa pajak penghasilan Pasal 4 ayat (2) yang bersifat final
berdasarkan dengan Peraturan Pemerintah No 51 tahun 2008. Ada pula hal lain yang
tercantum dalam PP No.51 tahun 2008 adalah sebagai berikut :
a. Pekerjaan kontruksi adalah keseluruhan atau sebagian rangkaian perencanaan
dan/atau pelaksanaan beserta pengawasan yang termasuk didalamnya antara lain
pekerjaan arsitektur, sipil, mekanikal, elektrikal, dan tata lingkungan masing-
masing beserta kelengkapannya untuk mewujudkan suatu bangunan atau bentuk
fisik lain.
b. Perencanaan konstruksi adalah pemberian jasa yang dilakukan oleh orang pribadi
atau badan yang memiliki keahlian dan professional dibidang perencanaan jasa
konstruksi yang mampu mewujudkan pekerjaan dalam bentuk dokumen
perencanaan bangunan fisik lain.
c. Pelaksanaan konstruksi adalah pemberian jasa oleh orang pribadi atau badan yang
dinyatakan ahli yang profesional dibidang pelaksanaan jasa konstruksi yang
mampu menyelenggarakan kegiatan untuk mewujudkan suatu hasil perencanaan
menjadi bentuk bangunan bentuk fisik lain, termasuk didalamnya pekerjaan
konstruksi terintegrasi penggabungan fungsi layanan dalam model penggabungan
perencanaan, pengadaan, dan pembangunan (engineering, proturement and
contruction) serta model penggabungan perencanaan dan pembangunan (design and
build).
d. Pengawasan konstruksi adalah pemberian jasa oleh orang pribadi atau badan yang
dinyatakan ahli yang profesional dibidang pengawasan konstrusi,yang mampu
melaksanakan pekerjaan pengawasan jasa konstrusi sejak awal pelaksanaan
pekerjaan konstrusi sampai selesai dan diserahterimakan.

Tarif pengenaan pajak atas jasa kontruksi, sebagai berikut :


Jenis Jasa Penyelenggara Grade Keterangan Peruntukan Tarif
kegiatan kompetensi

Pelaksanaan Grade 1 0 – 100 juta Perorangan /


Kualifikasi kecil 2%
Konstruksi Badan usaha
100 juta - 300 juta Perorangan /
Grade 2
Badan usaha

300 juta – 600 Perorangan /


Grade 3
juta Badan usaha

600 juta – 1M Perorangan /


Grade 4
Badan usaha

Kualifikasi 1 M – 10 M
Grade 5 Badan usaha 3%
menengah

Grade 6 1M – 25 M Badan usaha


Kualifikasi
1 M – tidak Badan usaha 3%
besar Grade 7 dibatasi
(termasuk asing)

Tidak punya
4%
kualifikasi

Mempunyai
Perencanaa 4%
kualifikasi
n dan
Pengawasan Tidak
Konstruksi mempunyai 6%
kualifikasi

Dasar Pengenaan Pajak (DPP) atas jasa konstruksi tertera dalam peraturan
PMK Nomor 187/ PMK.03/ 2008, dimana dinyatakan untuk dasar perhitungan besaran
pajak menggunakan jumlah pembayaran dan jumlah penerimaan pembayaran.
Menggunakan dasar besaran jumlah pembayaran, apabila PPh Final jasa konstruksi
dikenakan melalui pemotongan PPh oleh pengguna jasa (pemilik proyek). Sedangkan
menggunakan dasar besaran jumlah penerimaan pembayaran, apabila PPh Final jasa
konstruksi dikenakan melalui pembayaran sendiri oleh kontraktor / pemiliki proyek
yang bersangkutan. PPh Final jasa konstruksi ini dilakukan pada saat pembayaran dan
dilakukan paling lambat pada tanggal 10 bulan berikutnya setelah bulan terhutangnya
PPh Final jasa konstruksi dan harus dilaporkan paling lambat tanggal 20 bulan
berikutnya setelah bulan terhutangnya PPh final.
C. Perbedaan Pajak Penghasilan Pasal 4 ayat (2) dengan Pajak Penghasilan Pasal 23
Dalam Undang-Undang Pajak Penghasilan (UU PPh) yang terbaru, yaitu UU
Nomor 36 Tahun 2008, jasa konstruksi disebutkan dalam dua pasal yang berbeda.
Pertama, jasa konstruksi disebutkan dalam Pasal 4 ayat (2) huruf d dan yang berikutnya
disebutkan dalam Pasal 23 ayat (1) huruf c angka 2 UU PPh. Bedanya PPh Pasal 4 ayat
(2) sudah bersifat final, sedangkan Pasal 23 tidak final. Apabila di dilihat dari sudut
pandang subjek pajaknya antara Pajak Penghasilan Pasal 4 ayat (2) dan Pasal 23 tampak
berbeda. Didalam Pajak Pasal 4 ayat (2) ditujukan untuk usaha jasa konstruksi,
sendangkan Pajak Pasal 23 di tunjukan untuk jasa konstruksi.
Dengan memperhatikan makna dari kata usaha jasa konstruksi yang
digunakan dalam Pasal 4 ayat (2) UU PPh, maka subjek pajak yang dimaksud dalam
Pasal 4 ayat (2) UU PPh adalah subjek yang bidang usahanya secara formal adalah jasa
konstruksi. Artinya, hanya pengusaha yang sudah memperoleh sertifikasi dan juga
kualifikasi di bidang jasa konstruksi saja yang tercakup dalam Pasal 4 ayat (2).
Sedangkan dalam pasal 23 ayat (2) Undang-Undang Pajak Penghasilan diatur bahwa
ketentuan lebih lanjut mengenai jenis jasa lain sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
huruf c angka 2 diatur dengan atau berdasarkan peraturan Menteri Keuangan. Peraturan
Menteri Keuangan yang mengatur jenis jasa lain ini adalah Peraturan Menteri Keuangan
nomor 244/PMK.03/2008. Apabila kita perhatikan lebih jauh pasal 1 peraturan menteri
keuangan, setidaknya terdapat dua jenis jasa konstruksi yang dikelompokkan sebagai
jenis jasa lainnya yaitu:
1. Jasa instalasi/pemasangan mesin, peralatan, listrik, telepon, air, gas, AC, dan/atau
TV kabel, selain yang dilakukan oleh Wajib Pajak yang ruang lingkupnya di bidang
konstruksi dan mempunyai izin dan/atau sertifikasi sebagai pengusaha konstruksi
2. Jasa perawatan/perbaikan/pemeliharaan mesin, peralatan, listrik, telepon, air, gas,
AC, TV kabel, alat transportasi/kendaraan dan/atau bangunan, selain yang
dilakukan oleh Wajib Pajak yang ruang lingkupnya di bidang konstruksi dan
mempunyai izin dan/atau sertifikasi sebagai pengusaha konstruksi.
Jika kita menggunakan dasar Peraturan Pemerintah nomor 51 tahun 2008
sebagai dasar pengenaan pajak maka dua jenis jasa diatas dapat kita kelompokkan
kedalam jasa pelaksanaan konstruksi yang dilakukan oleh penyedia jasa yang tidak
memiliki kualifikasi usaha sehingga akan dikenakan PPh final dengan tarif 4%, namun
karena dalam peraturan Menteri Keuangan dua jenis jasa tersebut dikelompokkan ke
dalam jenis jasa lain maka perlakuannya bukan merupakan objek PPh final tetapi
merupakan objek pemotongan PPh Pasal 23.

Deskripsi :
1. Organisasi XYZ menyewa sebuah ruko dari Tuan AA untuk dijadikan kantor
dengan nilai sewa sebesar Rp 60.000.000, maka :
PPh Pasal 4 ayat 2 yang dipotong oleh XYZ adalah: 10% x Rp 60.000.000 = Rp
6.000.000
2. PT ABC dalam rangka mempromosikan produk barunya menyelenggarakan undian
dengan hadiah berupa uang tunai senilai Rp 100.000.000, maka:
PPh Pasal 4 ayat 2 yang dipotong oleh PT ABC adalah: 25% x Rp 100.000.000 =
Rp 25.000.000
3. CV. Polan merupakan pelaksana usaha konstruksi yang memiliki kualifikasi usaha
kecil, menerima penghasilan atas jasa kosntruksi yang diserahkannya ke Dinas
Pendidikan kota A sebesar Rp500.000.000,-. Besarnya PPh Pasal 4 ayat (2) yang
harus dipotong Dinas Pendidikan Kota A atas penghasilan yang diterima CV Polan
yaitu :
2% x Rp500.000.000,- = Rp10.000.000,-
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Pajak penghasilan pasal 4 ayat (2) menurut undang-undang pajak penghasilan
menyebutkan, bahwa : “Atas penghasilan berupa bunga deposito, dan tabungan
lainya,penghasilan dari transaksi saham dan sekuritas lainya di bursa efek, penghasilan
dari pengalihan harta berupa tanah dan atau bangunan serta penghasilan tertentu lainya,
pengenaan pajaknya diatur dengan peraturan pemerintah”.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2012. Pajak Penghasilan. http://www.pajak.go.id/content/seri-pph-pajak-


penghasilan-pasal-4-ayat-2 (diakses tanggal 28 Agustus 2016)
Bahrun, M.. 2014. Pajak Jasa Konstruksi.
http://www.bppk.kemenkeu.go.id/publikasi/artikel/167-artikel-pajak/19556-jasa-
konstruksi,-antara-pasal-4-2-dan-pasal-23-uu-pph (diakses tanggal 29 Agustus
2016)
Fajriani. 2015. Makalah Perpajakan.
http://fajriarifwibawa.blogspot.sg/2015/04/makalah-perpajakan-pajak-penghasilan.html
(diakses tanggal 28 Agustus 2016)
Muhammad. 2011. Pajak Jasa Kosntruksi.
https://armuhammad.wordpress.com/2011/10/15/ragam-withholding-tax-untuk-
%E2%80%98jasa-konstruksi%E2%80%99/ (diakses tanggal 29 Agustus 2016)
Nasikhudin. 2015. PPh Pasal 4 ayat 2.
https://nasikhudinisme.com/2015/01/04/akuntansi-pph-pasal-4-ayat-2/(diakses tanggal 29
Agustus 2016)
Ray. 2015. PPh Jasa Konstruksi. http://pphppn.blogspot.sg/2015/03/pph-final-
jasa-konstruksi.html (diakses tanggal 28 Agustus 2016)

Anda mungkin juga menyukai