Anda di halaman 1dari 30

Presentasi Kasus

Stroke Non

Hemoragik
Peny
Kurnia C
Anamnesis :

Tn. D 52 th, kelemahan anggota gerak kanan sejak 3 hari


SMRS. Pasien mengalami keluhan tersebut saat bangun
tidur. Nyeri kepala (-),muntah (-),penurunan kesadaran (-).

RPD :
§ Pasien tidak pernah keluhan seperti ini sebelumnya.
§ Riw. HT (+) tidak kontrol rutin, Riw. DM (-)
Primary survey
A : Bebas
B : Spontan, frekuensi nafas 18x/menit, reguler
C : Akral hangat, CRT < 2”
D : GCS 15

Secondary Survey
KU : Baik
TD : 200/100 mmHg
Nadi : 84 x/menit, regular, kuat angkat
Respirasi : 18 x/menit
Suhu : 36,5 °C
SpO2 : 98% (udara bebas)
Kepala
Dahi : Kerutan dahi (+/+) simetris Pemeriksaan
Mata : Pupil isokor, konjungtiva pucat -/-, sklera ikterik -/- Fisik
Mulut : Asimetris
Lidah : Lateralisasi ke kanan
 
Thoraks
Paru : Suara dasar vesikuler +/+, rhonki -/-, wheezing -/-
Jantung : S1 S2 regular, gallop (-), murmur (-)
 
Abdomen
BU (+) normal, supel, nyeri tekan (-) timpani (+)
 
Genitalia : Tidak dilakukan pemeriksaan

Ekstremitas :
Akral hangat, CRT < 2”, edema (-)
Refleks Babinski -/-
Refleks Fisiologis N / N
Kekuatan motorik
Rawat inap
Infus PZ 14 tpm
Assesmen :
Inj. Piracetam 3 x 3 gram
- Stroke Non Inj. Citicolin 3 x 1 gram
Hemoragik Inj. Mecobalamin 3 x
500mg
- Hipertensi Obat Oral :
Emergensi PLAN Clopidogrel 1 x 75mg
Amlodipin 10 mg 0-0-1
.

Simvastatin 20 mg 0-0-1
Allopurinol 100 mg 1-0-0
Diit ML KVRG 1900kal
Bedrest, head up 30o
Cek Lab :

.
DL, GDS, Serum elektrolit,
Faal Ginjal, Profil lipid
Stroke
Non
Hemora
gik
Definisi menurut WHO
• Gangguan fungsional otak yang terjadi
secara mendadak dengan tanda dan
gejala klinik, baik fokal maupun global
yang berlangsung > 24 jam atau dapat
menimbulkan kematian yang disebabkan
oleh gangguan peredaran darah otak.
Patologi :
• Aterosklerosis dan trombosis, robeknya
dinding pembuluh, atau peradangan
• Syok atau hiperviskositas darah
• Adanya bekuan atau embolus infeksi
• Ruptur vaskular di dalam jaringan otak atau
ruang subaraknoid
Infark total sirkulasi anterior (karotis):
 Hemiplegia Infark parsial sirkulasi anterior:
(kerusakan pada
bagian atas traktus Hemiplegia Infark Lakunar
kortikospinal),
dan
hemianopia, Penyakit
 Hemianopia hanya defisit intrinsik
(kerusakan pada kortikal saja. (lipohialinosis)
radiasio optikus), pada arteri
kecil profunda
Defisit kortikal, menyebabkan
misalnya sindrom yang
Afasia(hemisfer karakteristik.
dominan), hilangnya
fungsi visuospasial
(hemisfer
nondominan).
Infark sirkulasi posterior
(vertebrobasiler):
-Tanda-tanda lesi Infark medulla
batang otak, spinalis
-Hemianopia
homonim.
Algoritma Stroke
Gajah Mada

Penegakk
an
Diagnosis
Skor Sirriraj

Penegakk
an
Diagnosis

Pada pasien ini Skore siriraj =


(2,5 x 0 ) + (2 x 0 ) + (2 x 0) +
(100 x 10%) - (3 x 0) – 12
= 0 + 0 + 0 + 10 – 0 – 12
= -2
SSS >1 = Stroke hemoragik
SSS < -1 = Stroke non hemoragik
Pemeriksaan tambahan yang
Pemeriksaan saat di IGD : disesuaikan dengan indikasi
(AHA/ ASA, Class I, Level of evidence B) meliputi :

• • Duplex/ Doppler ultrasound


Elektrokardiogram
ekstrakranial dan
• CT scan atau MRI non kontras transkranial
• Saturasi oksigen
• Pemeriksaan Lab : • MRA atau CTA
DL, GDS, fungsi ginjal (Ur/Cre), • MR difusi dan perfusi
PT/APTT, INR, Profil lipid • Ekokardiografi
• Pemeriksaan atas indikasi
• Foto rontgen dada
seperti : enzim jantung
(troponin / CKMB), serum • Pungsi lumbal jika dicurigai
elektrolit, analisis hepatik. adanya perdarahan
subaraknoid dan CT scan
tidak ditemukan adanya
perdarahan
• Analisis gas darah
• EEG jika dicurigai adanya
kejang
• Skrining toksikologi (alkohol,
PENATALAKSANAA
N STROKE SECARA
UMUM
1. Pengobatan terhadap hipertensi
pada stroke akut
2. Pemberian obat yang dapat
menyebabkan hipertensi tidak
direkomendasikan diberikan
pada kebanyakan pasien stroke
iskemik (AHA/ASA, Level of
evidence A).
3. Pengobatan terhadap hipoglikemia
atau hiperglikemia
4. Strategi untuk memperbaiki aliran
darah dengan meningkatkan
tekanan perfusi tidak
direkomendasikan (grade A).
5. Pemberian terapi trombolisis pada
stroke akut  
6. Pemberian antikoagulan
 
6a. Antikoagulasi yang urgent
tidak direkomendasikan sebagai
pengobatan stroke iskemik akut
(AHA/ASA, Class III, Level of
evidence A).
 
6b. Antikoagulasi urgent tidak
direkomendasikan pada stroke
akut sedang sampai berat karena
meningkatnya risiko komplikasi
perdarahan intracranial (AHA/ASA,
Class III, Level of evidence A).
6c. Inisiasi pemberian terapi antikoagulan
dalam jangka waktu 24 jam bersamaan
dengan pemberian intravena rtPA tidak
direkomendasikan (AHA/ASA, Class III,
Level of evidence B). 

6d. Secara umum, pemberian heparin atau


heparinoid setelah stroke iskemik akut
tidak bermanfaat.
Aspirin sebagai adjunctive
therapy dalam 24 jam
7. Pemberian setelah pemberian obat
trombolitik tidak
Antiplatelet direkomendasikan Pemberian klopidrogel
Pemberian Aspirin (AHA/ASA, Class III, Level
saja, atau kombinasi
dengan dosis awal 325 of evidence A).
mg dlam 24-48 jam
dengan aspirin, pada
setelah onset  stroke iskemik akut, tidak
“Dianjurkan” untuk dianjurkan (AHA/ASA,
setiap stroke iskemik Class III, Level of
akut (AHA/ASA, Class I,
Level of evidence A). evidence C), kecuali
Jika direncanakan
pada pasien dengan
pemberian trombolitik,
indikasi spesifik,
aspirin jangan diberikan
misalnya angina pectoris
(AHA/ASA, Class III,
tidak stabil, non-Q-wave
Level of evidence A)
Aspirin tidak boleh digunakan
MI, atau recent stenting,
sebagai pengganti tindakan pengobatan harus
intervensi akut pada stroke, diberikan sampai 9 bulan
seperti pemberian rtPA setelah kejadian
intravena (AHA/ASA, Class III, Pemberian
Level of evidence B). (AHA/ASA, Class I,
antiplatelets IV yang
menghambat reseptor
Level of evidence A)
glikoprotein IIb/IIIa
tidak dianjurkan
(AHA/ASA, Class III,
Level of evidence B).
8. Pemberian Neuroprotektor
Pemakaian obat-obatan neuroprotektor
belum menunjukkan hasil yang efekif,
sehingga sampai saat ini belum
dianjurkan (AHA/ASA, Class III, Level of
evidence A). Namun, citicolin sampai
saat ini masih memberikan manfaat
pada stroke akut.
TERAPI SPESIFIK STROKE AKUT
Fibrinolitik rTPA  reperfusi dari
lisisnya trombus dan perbaikan
sel serebral, golden hour < 60
menit
 
• Usia > 18 tahun
• Diagnosis klinis stroke
Kriteri dengan defisit
a neurologis yang jelas
Inklus • Awitan dapat ditentukan
secara jelas (<3 jam,
i AHA guideline 2007
atau <4,5 jam, ESO
2009)
• Tidak ada bukti
Hiperten
si
Emerge
nsi
Hipertensi
Emergensi

TDS > 180 atau TDD >120mmHg disertai adanya kerusakan organ target

Perdarahan intracranial Eklamsia

Oedem paru akut


Trombotik CVA
Perdarahan Subarachnoid Aorta diseksi akut

Hipertensi Ensefalopati AMI


Insufisiensi Ginjal Akut
Patofisiologi Hipertensi menyebabkan
Stroke
Patofisiologi Hipertensi menyebabkan
Stroke
Penatalaksanaan Hipertensi pada Stroke

TD harus diturunkan (TDS <185 &TDD < 110) bila akan diberikan trombolitik IV (rTPA) Penurunan tekanan
darah pada stroke
akut sebagai
Pada stroke iskemik akut, TD diturunkan 15% (sistolik maupun diastolic) dalam 24 jam
pertama setelah awitan bila TDS>220 mmHg atau TDD>120 mmHg tindakan rutin tidak
dianjurkan karena
akan memperburuk
Apabila TDS >180 mmHg atau MAP >130 mmHg disertai dengan gejala dan tandafungsi neurologis.
peningkatan TIK  Beri Antihipertensi IV, dengan target  MAP 110 mmHg atau TD 160/90
mmHg.
Sebagian besar TD
akan turun dalam 24
Pada kasus ICH akut (AHA/ASA, Class IIb, Level of evidence C), apabila TDS >200 mmHg
atau Mean Arterial Preassure (MAP) >150 mmHg,  beri antihipertensi IV jam setelah onset.
erima Kasih