Anda di halaman 1dari 26

PENGGUNAAN METODE DISKUSI KELOMPOK TERHADAP HASIL

BELAJAR DAN MOTIVASI BELAJAR SISWA PADA MATERI


BILANGAN DIKELAS VII A SMP S KRISTEN ENDE
TAHUN AJARAN 2020/2021

SEMINAR PROPOSAL

Ditulis Untuk Memenuhi Sebagai Persyaratan


Dalam Melaksanakan Penelitian seminar proposal
Program Studi Pendidikan matematika

OLEH
KORNELIUS LODO
NIM: 2016230543

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS FLORES
ENDE
2020
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa
atas berkat, tuntunan dan kasihNya, penulis dapat menyelesaikan proposal yang
berjudul “Penggunaan Metode Diskusi Kelompok pada Pembelajaran Matematika
Materi Bilangan di Kelas VII SMP S Kristen Ende Tahun Ajaran 2019/2020”
sebagai syarat untuk memperoleh gelar sarjana pendidikan (S.Pd) di Universitas
Flores.
Penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu penulis lewat doa, cinta, perhatian, dukungan semangat sehingga
proposal ini dapat diselesaikan dengan baik.

Ende, Januari 2020

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Keberhasilan program pendidikan melalui proses pembelajaran di
sekolah sebagai lembaga pendidikan formal dipengaruhi oleh beberapa faktor,
antara lain: siswa, kurikulum, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana,
faktor lingkungan, serta metode pembelajaran. Apabila faktor-faktor tersebut
dapat mendukung proses pembelajaran dengan baik, maka kegiatan
pembelajaran akan berjalan lancar, yang akan berdampak pada
pencapaian hasil belajar yang maksimal dan peningkatan mutu pendidikan.
Faktor-faktor tersebut berlaku juga dalam keberhasilan program
pendidikan untuk mata pelajaran matematika.
Sekolah merupakan pendidikan yang berlangsung secara formal
artinya terkait oleh peraturan-peraturan tertentu yang harus diketahui dan
dilaksanakan. Di sekolah, anak tidak lagi diajarkan oleh orang tua, akan tetapi
gurulah sebagai pengganti orang tua. Hamalik (2001: 48), proses belajar
mengajar adalah suatu kegiatan yang didalamnya terjadi proses siswa belajar
dan guru mengajar dalam konteks interaktif. Interaktif yang dimaksud ialah
interaktif edukatif antara guru dan siswa, sehingga terdapat perubahan pada
tingkat pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan.
Keberhasilan dalam belajar siswa juga sangat dipengaruhi oleh cara atau
metode mengajar yang terapkan oleh guru. Ketika metode mengajar
yang diterapkan sesuai dengan kondisi kelas, maka secara tidak langsung
siswa juga mudah memahami materi yang disampaikan oleh guru.
Sebaliknya ketika metode mengajar yang diterapkan oleh guru tidak sesuai
kondisi kelas maka siswa sulit memahami materi yang disampaikan oleh guru.
Salah satu metode belajar yang bisa digunakan dalam pembelajaran di kelas
yaitu metode diskusi kelompok. Metode diskusi kelompok dapat membuat
siswa semakin aktif dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Karena pada
kenyataannya, pembelajaran matematika cenderung dilakukan dalam
bentuk pembelajaran konvensional yang dominan menggunakan metode
ceramah oleh guru. Pembelajaran dengan metode ceramah bukanlah
metode yang tidak baik digunakan untuk pembelajaran matematika. Namun,
metode tersebut memiliki sejumlah kelemahan yang disebabkan oleh siswa
yang enggan menyimak dan mencatat serta dominansi peran guru dalam
kegiatan pembelajaran.
Akibatnya, kesempatan bagi siswa untuk berpartisipasi dalam kegiatan
pembelajaran secara optimal masih kurang dan pemahaman siswa
terhadap mata pelajaran matematika hanya bergantung pada hafalan.
Matematika merupakan salah satu ilmu dasar, baik aspek terapan
maupun aspek penalarannya mempunyai peranan sangat penting dalam
penguasaan ilmu dan teknologi. Mengingat pentingnya matematika tersebut,
maka guru mempunyai peran yang sangat penting untuk mendorong dan
memotivasi siswa agar lebih menyukai matematika. Seorang guru yang
memiliki kompotensi kurang baik maka dapat mengakibatkan siswa kurang
menyukai pelajaran tertentu, sehingga dapat menyebabkan hasil belajar yang
menurun, hal ini berdasarkan pengalaman beberapa anak yang kurang
menyukai pelajaran matematika di sekolah.
Keberhasilan suatu proses pembelajaran dapat dilihat dari hasil belajar
siswa. Banyak faktor yang mempengaruhi hasil belajar matematika
siswa. Faktor-faktor tersebut dapat berasal dari dalam diri siswa, dari
lingkungan, dan dari proses pembelajaran matematika itu sendiri. Salah satu
faktor yang dapat mempengaruhi hasil belajar siswa adalah motivasi belajar
matematika. Pengertian motivasi menurut Donald (dalam Sardiman, 2007:
73), adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan
munculnya “feeling” dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya
tujuan. Siswa yang mempunyai motivasi belajar baik akan berusaha
untuk berasil dalam belajar, dan sebaliknya siswa yang mempunyai motivasi
belajar yang kurang baik akan merasa enggan untuk berusaha agar
berhasil dalam belajar. Motivasi timbul bila siswa sendiri timbul ikut
menentukan kegiatan-kegiatan dalam batas kesanggupannya.
Seorang guru matematika juga harus mempunyai kemampuan untuk
menjadi motivator siswanya dalam belajar matematika. Ketika seorang guru
mampu menjadi motivator yang baik agar siswanya mempunyai kemauan
untuk belajar. Cara yang digunakan guru untuk memotivasi siswa agar mau
belajar matematika. Ketika siswa termotivasi dalam belajar matematika, maka
secara tidak langsung siswa tersebut semakin menyukai matematika dan bisa
menyebabkan hasil belajar siswa yang baik juga.
Cara yang digunakan oleh guru untuk memotivasi siswa agar mereka mau
mempelajari matematika tampaknya tergantung pada karateristik guru
yang diantaranya adalah hubungan antara guru dengan siswa di kelas,
kepercayaan diri guru dalam menggunakan stimuli yang berasal dari
kehidupan nyata dalam pengajaran tersebut, aksebilitas yang dimiliki
guru terhadap materi yang dipilih sesuai kebutuhan siswa, penggunaan
konteks-konteks yang berkaitan langsung dengan kehidupan sehari-hari,
dan kesadaran guru yang bersangkutan terhadap konsep atau prinsip
matematika yang perlu diperoleh siswa.
Pada semester tujuh bulan September – desember 2019, peneliti
melaksanakan Program Pengalaman Lapangan (PPL) di SMP S Kristen
Ende. Peneliti menemukan siswa kurang aktif dalam pembelajaran di kelas.
Siswa kelihatan pasif saat pembelajaran berlangsung, dan guru
kebanyakan mengajar dengan ceramah di depan kelas. Hal ini menyebabkan
siswa merasa bosan untuk belajar matematika. Selain itu, interaksi antara
siswa dengan guru dan teman sekelas dalam kegiatan pembelajaran juga
kurang baik. Siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar jarang
bertanya kepada guru atau temannya yang sudah memahami materi yang
diberikan oleh guru. Situasi ini berakibat pada ketidaktahuan siswa akan
kesulitan yang mereka hadapi, serta enggannya siswa berpartisipasi untuk
mengerjakan soal di depan kelas. Hanya beberapa siswa yang aktif saat
kegiatan belajar mengajar berlangsung.
Berdasarkan hasil observasi, siswa kelas VII SMP S Kristen Ende
cenderung tidak memiliki motivasi belajar matematika dan menunjukkan
siakp negatif terhadap pelajaran matematika. Hal ini terlihat dari beberapa hal
seperti saat diberikan latihan soal siswa tidak mengerjakan, menyontek
pekerjaan teman, berbincang-bincang dengan teman sebangku, dan
bersikap acuh tak acuh. Siswa juga tidak antusias menanyakan materi
yang belum dipahami, baik terhadap guru maupun teman. Ketika guru
meminta siswa yang membuat keributan mengerjakan soal di papan tulis,
maka siswa tersebut akan mengambil pekerjaan siswa lain untuk
menyontek. Terdapat sebagian kecil siswa yang serius dalam mengikuti
pembelajaran di kelas.
Metode diskusi patut dicoba sebagai ganti metode ceramah karena
metode diskusi merupakan metode yang tepat untuk menciptakan suasana
kelas yang aktif. Suryabrata (dalam Dahar, 1998:187), menyatakan
bahwa dibandingkan dengan metode ceramah, dalam hal retensi, proses
berpikir tingkat tinggi, pengembangan sikap dan pemertahanaan motivasi,
lebih baik dengan metode diskusi. Hal ini disebabkan metode diskusi
kelompok memberikan kesempatan anak untuk lebih aktif dan
memungkinkan adanya umpan balik yang bersifat langsung. Pembelajaran
yang mengunakan metode diskusi kelompok merupakan pembelajaran yang
mendorong siswa untuk mengembangkan kemampuan berfikir kritis, logis,
dan sistematis ke taraf yang lebih tinggi dalam belajar Depdiknas (dalam
Wahida dkk. 2015: 134). Metode diskusi juga sudah pernah diterapkan oleh
peneliti pada siswa kelas VII SMP S Kristen Ende pada materi bilangan.
Setelah diterapkannya metode diskusi, hasil belajar siswa dan pemahaman
siswa kelas VII SMP S Kristen Ende mengalami peningkatan dari presentase
kelulusan yang sebelumnya 16,67% menggunakan metode ceramah menjadi
66,67% menggunakan metode diskusi kelompok. Melihat keberhasilan
penerapan metode diskusi kelompok tersebut, maka peneliti hendak
mengadakan penelitian dengan metode yang sama untuk melihat
bagaimana metode diskusi kelompok tersebut berpengaruh terhadap
peningkatan hasil belajar dan motivasi belajar siswa kelas VII SMP S Kristen
Ende tahun ajaran 2020/2021 pada pelajaran matematika, khususnya materi
bilangan.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang sebelumnya, maka rumusan masalah yang
ditemukan penulis pada penelitian ini untuk dijadikan bahan kajian lebih
lanjut adalah:
1. Bagaimana hasil belajar siswa kelas VII SMP S Kristen Ende dalam
pembelajaran bilangan dengan menggunakan metode diskusi kelompok?
2. Bagaimana motivasi belajar siswa kelas VII SMP S Kristen Ende dalam
pembelajaran bilangan dengan menggunakan metode diskusi kelompok?

C. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui hasil belajar siswa kelas VII SMP S Kristen Ende
dalam Pembelajaran bilangan dengan menggunakan metode diskusi
kelompok.
2. Untuk mengetahui motivasi belajar siswa kelas VII SMP S Kristen Ende
dalam pembelajaran bilangan dengan menggunakan metode diskusi
kelompok.

D. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, permasalahan yang
ditemukan penulis selama melakukan penelitian pada siswa kelas VII
SMP S Kristen Ende adalah:
1. Beberapa siswa kurang antusias dan tidak aktif dalam mengikuti
proses belajar di kelas.
2. Beberapa siswa tidak mengerjakan soal latihanan secara mandiri.
3. Beberapa siswa berbincang-bincang dengan teman sebangku.
4. Beberapa siswa acuh tak acuh mengikuti pembelajaran matematika di
kelas.
5. Beberapa siswa mengantuk saat mengikuti proses pembelajaran di kelas.
6. Ada beberapa siswa tertentu yang sering membuat keributan di kelas.
7. Kurangnya kemampuan siswa untuk bertanya pada guru maupun
teman sehingga siswa kurang memahami apa yang dipelajari.
8. Kurangnya kepercayaan diri siswa untuk menyelesaikan soal-soal
matematika
9. Kurangnya interaksi siswa dengan siswa dan siswa dengan guru
untuk mengatasi kesulitan yang ditemui ketika mengerjakan soal-soal
matematika.

E. Pembatasan Masalah
Karena keterbatasan waktu diperlukan pembatasan masalah yang meliputi:
1. Penelitian ini hanya dikenakan pada Siswa kelas VII SMP S Kristen
Ende Tahun ajaran 2020/2021
2. Penelitian ini dilaksanakan pada semester ganjil bulan september tahun
pelajaran 2020/2021
3. Materi yang disampaikan adalah bilangan

F. Penjelasan Istilah
Untuk menghindari kesalahpahaman terhadap penelitian ini, maka
diperlukan definisi untuk beberapa istilah berikut:
1. Hasil Belajar
Hasil belajar adalah suatu perubahan tingkah laku yang
intensional, positif-aktif, dan efektif-fungsional sebagai hasil dari proses
pembelajaran yang meliputi tiga aspek yakni aspek kognitif (meliputi
pengetahuan atau kemampuan intelektual), aspek afektif (sikap dan
tindakan), dan aspek Psikomotorik (keterampilan siswa).
2. Motivasi
Motivasi yang signifikan bagi siswa adalah motivasi instrinsik
karena murni dan akan bertahan lama. Dorongan dari dalam diri untuk
mencapai prestasi serta memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk
masa depan, memberikan pengaruh yang relatif kuat dan bisa bertahan
lama. Namun motivasi ekstrinsik juga penting, terutama bagi siswa
yang belum tahu untuk apa mereka belajar sesuatu.
3. Metode Diskusi
Diskusi adalah dua atau lebih orang yang saling berinteraksi satu
sama lain, saling tergantung dan mereka mempunyai tujuan yang
sama yaitu menyelesaikan masalah yang mereka hadapi, tiap-tiap
anggota diharapkan menyampaikan pendapatnya untuk penyelesaian
masalah dan mereka sendiri akan mengambil keputusan sebagai solusi
atau pemecahan masalah yang mereka hadapi.
4. Bilangan
Bilangan dalam matematika menyatakan bilangan yang biasa
dituliskan dalam bentuk himpunan bilangan asli (N = {1, 2, 3,
4,..}), himpunan bilangan cacah ({0, 1, 2, 3, 4,…}), himpunan bilangan
bulat ( Z = {…,-3, -2, -1, 0, 1, 2, 3,…}), himpunan bilangan rasional
𝑝
( Q = {𝑞 , dengan p dan q Є Z, dan q ≠ 0 dan himpunan bilangan

irasional dinyatakan dalam bentuk bilangan desimal yang tidak


berulang.
Dengan demikian dalam penelitian ini, penggunaan metode
diskusi dilakukan untuk meningkatkan dan membangun pemahaman
siswa pada pembelajaran pokok bilangan real terhadap hasil belajar dan
motivasi belajar matematika kelas VII SMP S Kristen Ende Oleh karena
itu siswa dituntut untuk memahami atau mengerti apa yang diajarkan dan
mengetahui apa yang sedang diajarkan oleh guru.

G. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan memiliki manfaat baik manfaat teoritis
maupun manfaat praktis.
1. Manfaat Teoritis
a. Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan bagi
pengembangan ilmu dan pengetahuan terutama untuk mengetahui
pengaruh motivasi belajar, dan aktivitas belajar terhadap hasil belajar
siswa.
b. Menjadi bahan masukan untuk kepentingan pengembangan ilmu bagi
pihak-pihak yang berkepentingan, guna melakukan penelitian lebih
lanjut terhadap objek sejenis atau aspek lainnya yang belum tercakup
dalam penelitian ini.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi peneliti, penelitian ini merupakan kesempatan untuk
mengaplikasikan teori yang telah diperoleh selama perkuliahan ke
dunia praktis. Selain itu, hasil dari penelitian ini dapat menjadi bahan
atau dasar penelitian lanjutan mengenai pengaruh motivasi belajar,
dan aktivitas belajar terhadap hasil belajar siswa, untuk kemudian
dapat meningkatkan kompetensi dan kesiapan dalam pelaksanaan
tugas sebagai pengajar dan pendidik.
b. Bagi guru, hasil penelitian diharapkan dapat menjadi
pertimbangan dalam mendesain proses pembelajaran agar
memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar.
c. Bagi sekolah, hasil penelitian ini diharapkan dapat dipakai
sebagai bahan masukan dalam rangka memperbaiki dan meningkatkan
kinerja guru dan kualitas proses belajar mengajar.
BAB II
LANDASAN TEORI

A. Hakikat Matematika
Matematika diawali dengan menggunakan beberapa definisi tentang
matematika. Endang S. (1999: 1-5), beberapa ahli merumuskan tentang
definisi matematika sebagai berikut:
a. James (Endang S. 1999: 2), dalam kamus matematikanya menyatakan
bahwa matematika adalah ilmu tentang logika mengenai bentuk
susunan, besaran, dan konsep-konsep yang saling berhubungan satu
sama lainnya, dengan jumlah yang banyaknya terbagi ke dalam tiga
bidang, yaitu: Aljabar, Analisis dan Geometri.
b. Johnson dan Rising mengatakan bahwa matematika adalah pola pikir, pola
mengorganisasikan pembuktian yang logis, matematika dalam bahasanya
menggunakan istilah yang didefinisikan dengan cermat, jelas, dan akurat,
lebih berupa bahasa simbol mengenai ide daripada mengenai bunyi. Jadi
menurut Johnson dan Rising, matematika adalah ilmu deduktif. (Endang S.
1999: 3)
c. Rey mengatakan matematika adalah tentang pola dan hubungan suatu
jalan atau pola pikir, suatu seni, suatu bahasa, dan suatu alat. (Endang S.
1999: 4)
d. Lina mengatakan bahwa matematika itu bukanlah pengetahuan menyendiri
yang dapat sempurna karena dirinya sendiri, tetapi adanya matematika itu
terutama untuk membantu manusia dalam memahami dan menguasai
permasalahan sosial ekonomi dan alam. (Endang S. 1999: 5)

Dari beberapa definisi di atas, maka dapat diterangkan bahwa


matematika itu merupakan ilmu deduktif yang tidak menerima
generalisasi yang didasarkan pada pengamatan atau observasi (induktif) tetapi
generalisasi itu harus didasarkan pada pembuktian secara deduktif.
Matematika disebut juga sebagai bahasa internasional, karena di setiap
saat, di setiap sekolah dan setiap negara, orang yang tahu matematika tentunya
akan mengerti apa itu kalkulus, aljabar, geometri, aritmatika, dan sebagainya.
Bahasa matematika berlaku untuk siapa saja, kapan saja, dan dimana saja
pasti akan mempunyai pengertian yang sama. Jadi bahasa matematika
merupakan bahasa yang universal dan berlaku secara umum yang sudah
disepakati secara internasional bagi mereka yang mempelajarinya.
Dengan demikian hakekat matematika adalah ilmu tentang pola pikir,
ilmu tentang logika, seni, suatu bahasa, suatu alat, ilmu deduktif dan
juga matematika merupakan bahasa internasional.

B. Teori Belajar
Menurut Winkel (2009:59), belajar adalah suatu aktivitas mental atau
psikis yang berlangsung dalam interaksi dengan lingkungan, yang
menghasilkan sejumlah perubahan dalam pemahaman-pemahaman,
ketrampilan, nilai dan sikap. Perubahan itu bersifat secara relatif konstan dan
berbekas. Jerame Bruner dalam Teori belajar mengatakan bahwa belajar
matematika akan lebih berhasil, jika Proses pengajaran matematika diarahkan
pada konsep-konsep dan struktur-struktur yang termuat dalam pokok bahasan
yang diajarkan, disamping hubungan yang terkait antara konsep-konsep dan
struktur-struktur. Selain itu Bruner mengatakan bahwa proses belajar mengajar
matematika melalui tiga tahapan (Endang S, 1999: 7).
a. Tahap enaktif, dalam tahap ini siswa secara langsung terlibat dalam
memanipulasi objek.
b. Tahap ekonik, dalam tahap ini kegiatan yang dilakukan siswa
berhubungan dengan mental, yaitu berapa gambaran dari obyek-obyek
yang dimanipulasi.
c. Tahap simbolik, dalam tahap ini siswa memanipulasi simbol-simbol atau
lambang-lambang tertentu. Dalam tahap ini siswa sudah mampu
menggunakan notasi tanpa ketergantungan obyek.
C. Prestasi Belajar
Menurut Sudjana (2006: 22), prestasi belajar adalah kemampuan-
kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya.
Makmun (2004: 54), mengungkapkan bahwa prestasi belajar adalah
kecakapan nyata yang dapat didemonstrasikan dan diujikan karena merupakan
hasil belajar dengan cara, bahan, dan hal tertentu yang telah dijalani.
Sementara itu, Winkel (1996:482), mengungkapkan bahwa prestasi
belajar merupakan bukti dari kemampuan-kemampuan belajar siswa yang
mereka peroleh karena usaha belajarnya.

D. Bilangan
1. Bilangan
Bilangan adalah alat bantu untuk menghitung dalam kehidupan
sehari-hari. Oleh karena itu pengetahuan tentang bilangan harus diketahui
oleh setiap orang. Bilangan yang paling sederhana diantara semua
bilangan adalah bilangan asli.
Macam-macam bilangan antara lain sebagai berikut.
a) Bilangan kompleks yaitu tingkatan bilangan yang paling tinggi.
Terdiri dari dua bilangan yaitu bilangan real (nyata) dan
bilangan imajiner (khayal).
b) Bilangan imajiner yaitu bilangan yang diperoleh dari akar bilangan
negatif. Misalnya, √−3 ditulis 3i, atau √−5 ditulis 5i dengan i =√−1
𝑎
c) Bilangan rasional yaitu bilangan yang dapat ditulis dalam bentuk 𝑏

dengan a dan b bilangan bulat serta b ≠ 0


d) Bilangan irasional adalah bilangan yang dapat dinyatakan sebagai
hasil bagi dari dua bilangan bulat.
e) Bilangan bulat terdiri dari bilangan bulat positif, nol, bilangan bulat
negatif.
f) Bilangan prima yaitu bilangan yang hanya mempunyai tepat dua
faktor yaitu 1 dan bilangan itu sendiri.
Bilangan asli, bilangan cacah, bilangan bulat, bilangan prima,
dan bilangan komposit, diuraikan sebagai berikut.
a) Himpunan bilangan asli (N ) = {1, 2, 3,…}
b) Himpunan bilangan cacah = {0, 1, 2,…}
c) Himpunan bilangan bulat (Z) = {…,-3, -2, -1, 0, 1, 2, 3,…}
d) Himpunan bilangan prima = {2, 3, 5, 7, 11,…}
e) Himpunan bilangan komposit = {4, 6, 8, 9,…}

2. Operasi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat Operasi


penjumlahan dan pengurangan pada Bilangan bulat Sifat-sifat pada
operasi penjumlahan bilangan bulat menurut Kasmina, dkk(2008: 4),
sebagai berikut:
Untuk a, b, c ∈ R
a) Komutatif : a + b = b + a
b) Asosiatif : ( a + b ) + c = a + (b + c)

3. Operasi Perkalian dan Pembagian pada Bilangan bulat Sifat-sifat pada


operasi perkalian bilangan bulat sebagai berikut :
a) Komutatif : a . b = b . a
b) Asosiatif : ( a . b ) . c = a . (b . c)
c) Distributif perkalian terhadap penjumlahan
a x (b + c) = a x b + a x c
perkalian terhadap penjumlahan
a x ( b – c) = a x b – a x c

4. Konversi Bilangan
Konversi didefinisikan sebagai suatu proses sistem bilangan dengan
basis tertentu akan dijadikan bilangan dengan basis yang lain.
Konversi pada bilangan, misalnya pecahan, berarti mengubah pecahan
tersebut dalam bentuk persen, desimal, atau bentuk lain
5. Perbandingan
Kita dapat membuat perbandingan dari dua besaran yang sejenis,
misalnya: panjang dan lebar dari suatu bangun. Hasil bagi dari
kedua bilangan tersebut merupakan bilangan sederhana, yaitu berbentuk a
/b atau a + b dengan a dan b merupakan bilangan asli. Ada dua jenis
perbandingan, yaitu perbandingan senilai dan perbandingan berbalik nilai.
6. Skala
Dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam bidang teknik maupun
bangunan atau konstruksi, skala selalu digunakan untuk mendesain
gambar dengan maksud untuk memudahkan dalam membaca ataupun
merekayasa rencana gambar sebelum gambar tersebut dibuat benda atau
bangun aslinya. Skala ialah bentuk perbandingan senilai dari ukuran suatu
besaran nyata.
Jika kita membaca suatu peta, maka disana akan tertulis skala peta
tersebut. Misalnya tertulis 1 : 200.000, artinya 1 cm pada peta
tersebut sama dengan 200.000 cm pada jarak sebenarnya. Untuk
menuliskan skala dari dua besaran yang tidak sejenis maka satuan
dari dua besaran tersebut tetap dituliskan, misal dalam ilmu gaya atau
dalam ilmu fisika maka besaran gaya diasosiasikan dengan ukuran
sentimeter. Sebagai contoh, 1 cm mewakili 100 Newton maka ditulis 1 cm
: 100 N.

E. Pembelajaran Matematika
1. Pengertian Pembelajaran Matematika
Mata pelajaran Matematika perlu diberikan kepada semua peserta
didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali mereka dengan
kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif serta
kemampuan bekerja sama. Dalam membelajarkan matematika kepada
siswa, apabila guru masih menggunakan paradigma pembelajaran
lama yang berarti guru lebih mendominasi komunikasi dalam
pembelajaran maka pembelajaran cenderung monoton sehingga
mengakibatkan peserta didik (siswa) merasa jenuh dan tersiksa. Oleh
karena itu dalam membelajarkan matematika kepada siswa, guru
hendaknya lebih memilih variasi pendekatan, strategi, metode yang
sesuai dengan situasi sehingga tujuan pembelajaran yang direncanakan
tercapai. (Daryanto, 2011:240)
2. Prinsip Belajar Matematika
Dalam proses pembelajaran matematika diperlukan prinsip-prinsip.
Adapun prinsip-prinsip dalam belajar matematika ada empat prinsip
penting (Hudojo, 1980: 21)
a) Prinsip dinamika didalam bentuk yang sederhana, yang berarti
berjalan dari pengalaman ke penetapan klasisifikasi.
b) Prinsip Konstruktivitas
Dalam struktur permainan, yang berarti konstruksi harus
mengambil bagian sebelum analisa dapat berfungsi secara efektif.
Mengkonstruksi setiap ide matematika atas konsep yang menghendaki
sifat-sifat tertentu adalah konstruksi. Atribut-atribut timbul dari
pembentukan konsep dan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan
mengenai artribut-artribut ini setelah keteraturannya dikembangkan.
Ini merupakan aktifitas analitik yang esensial.
c) Prinsip Variabelitas
Prinsip variabelitas persepsi yang berarti bahwa untuk mencapai suatu
abstraksi yang efektif dari struktur matematika, haruslah
diakomodasikan sebanyak mungkin situasi-situasi yang berbeda untuk
struktur dan konsep yang sama.
d) Prinsip Variabelitas Matematis
Prinsip Variabelitas matematis yang berarti bahwa setiap konsep
matematika menyertakan variabel-variabel yang esensial yang
perlu dibuat bermacam-macam bila generalisasi daripada konsep
matematika.
Pembelajaran merujuk pada proses memberi suasana terjadinya
perubahan perilaku individu yang terkait tujuan. Proses pembelajaran
harus melahirkan proses belajar melalui berbagai aktivitas yang
sengaja dirancang untuk mencapai tujuan tertentu. Proses belajar
itu dapat dipahami secara konseptual dengan menggunakan
pendekatan behaviorisme (tingkah laku) dan kognitif (penalaran
pengetahuan).

F. Hasil Belajar Matematika


Dalam bukunya Purwanto (2009: 38-46), beberapa ahli
merumuskan tentang definisi hasil belajar sebagai berikut:
1) Menurut Gagne, hasil belajar adalah terbentuknya konsep, yaitu kategori
yang kita berikan pada stimulus yang ada di lingkungan, yang
menyediakan skema yang terorganisasi untuk mengasimilasi stimulus-
stimulus baru dan menentukan hubungan didalam dan diantara kategori-
kategori (Dahar, 1998: 95)
2) Menurut Soedijarto mendefinisikan hasil belajar sebagai tingkat
penguasaan yang dicapai oleh mahasiswa dalam mengikuti proses belajar
mengajar sesuai dengan tujuan pendidikan yang ditetapkan
(Soedijarto, 1993:49).
3) Hasil belajar adalah perubahan yang mengakibatkan manusia berubah
dalam sikap dan tingkah lakunya (Winkel, 1996: 51).
Hasil belajar siswa pada hakikatnya adalah perubahan tingkah laku.
Tingkah laku sebagai hasil belajar dalam pengertian yang luas
mencakup bidang kognitif, afektif dan psikomotoris. Hasil belajar
adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima
pengalaman belajarnya. Pada umumnya hasil belajar dinilai melalui tes,
baik tes uraian maupun tes objektif. Pelaksanaan penilaian bisa secara
lisan, tulisan, dan tindakan atau perbuatan. Selain itu hasil belajar yang
dicapai siswa dapat dilihat melalui proses belajar-mengajar yang
optimal cenderung menunjukan hasil yang berciri sebagai berikut :
a. Kepuasan dan kebanggaan yang dapat menumbuhkan motivasi
belajar intrinsik pada diri siswa. Siswa tidak akan mengeluh dengan
prestasi yang rendah, dan ia akan berjuang lebih keras untuk
memperbaikinya.
Sebaliknya, hasil belajar yang baik akan mendorong pula untuk
meningkatkan, setidaknya mempertahankan apa yang telah
dicapainya.
b. Menambah keyakinan akan kemampuan dirinya. Artinya, ia tahu
kemampuan dirinya dan percaya bahwa ia punya potensi yang tidak
kalah dari orang lain apabila ia berusaha sebagaimana harusnya. Ia
juga yakin tidak ada sesuatu yang tak dapat dicapai apabila ia berusaha
sesuai dengan kesanggupannya.
c. Hasil belajar yang dicapainya bermakna bagi dirinya seperti
ingatannya dalam jangka waktu lama, membentuk perilakunya,
bermanfaat untuk mempelajari aspek lain, dapat digunakan sebagai
alat untuk memperoleh informasi dan pengetahuan lainnya, kemauan
dan kemampuan untuk belajar sendiri, dan mengembangkan
kreatifitasnya.
d. Hasil belajar diperoleh siswa secara menyeluruh (komprehensif),
yakni mencakup ranah kognitif, pengetahuan, atau wawasan; ranah
afektif atau sikap dan apresiasi; serta ranah psikomotoris,
keterampilan, atau perilaku.
e. Kemampuan siswa untuk mengontrol atau menilai dan mengendalikan
dirinya terutama dalam menilai hasil yang dicapainya maupun menilai
dan mengendalikan proses dan usaha belajarnya.

G. Motivasi Belajar
1. Pengertian Motivasi
Menurut Syah (2003: 151), pengertian dasar motivasi adalah
keadaan internal organisme yang mendorongnya untuk berbuat
sesuatu. Sedangkan menurut Uno (2008: 3), istilah motivasi berasal dari
kata motif yang artinya kekuatan yang terdapat dalam diri individu,
yang menyebabkan individu bertindak atau berbuat. Motivasi merupakan
suatu kebutuhan manusia, seperti yang diungkapkan oleh Robins (2001:
166) bahwa motivasi merupakan ketersediaan untuk mengeluarkan
tingkat upaya yang tinggi untuk tujuan-tujuan organisasi yang
dikondisikan oleh kemampuan upaya itu dalam memenuhi beberapa
kebutuhan individual Kebutuhan akan rasa aman meliputi pengertian
bebas dari rasa takut, misalnya takut akan lingkungan yang tidak aman,
terancam secara sosial, takut kehilangan sesuatu, dsb
2. Jenis Motivasi
Menurut Syah (2003: 151), dalam perkembangannya, motivasi
dibedakan menjadi dua, yaitu:
a) Motivasi intrinsik
Motivasi intrinsik adalah keadaan yang berasal dari dalam diri
siswa sendiri, yang mendorongnya melakukan tindakan belajar.
Termasuk didalamnya perasaan siswa menyenangi materi dan
kebutuhannya terhadap materi tersebut. Motivasi ini memberi
pengaruh yang relatif lebih kuat dan bertahan lama.
b) Motivasi ekstrinsik
Motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsi
karena adanya rangsangan dari luar. Pujian dan hadiah, peraturan,
teladan merupakan contoh motivasi ekstrinsik yang dapat menolong
siswa belajar (Sardiman A.M ,2005: 90)
Dapat disimpulkan bahwa motivasi yang signifikan bagi siswa
adalah motivasi instrinsik karena murni dan akan bertahan lama.
Dorongan dari dalam diri untuk mencapai prestasi serta memiliki
pengetahuan dan keterampilan untuk masa depan, memberikan
pengaruh yang relatif kuat dan bisa bertahan lama. Namun motivasi
ekstrinsik juga penting, terutama bagi siswa yang belum tahu untuk
apa mereka belajar sesuatu.
3. Fungsi Motivasi
Motivasi berkaitan dengan tujuan. Dengan demikian motivasi
mempengaruhi adanya kegiatan.
Sehubungan dengan hal ini, ada tiga fungsi motivasi menurut Hamalik
(2001:161), yaitu:
1) Mendorong timbulnya suatu perbuatan;
2) Mengarahkan perbuatan pada pencapaian tujuan yang diinginkan;
3) Penggerak besar kecilnya suatu motivasi akan menentukan cepat
atau lambatnya suatu pekerjaan.
Sardiman (2005: 85), menambahkan fungsi motivasi lainnya
yaitu menyeleksi perbuatan yaitu menentukan perbuatan-perbuatan apa
yang harus dikerjakan untuk mencapai tujuan dan menyisahkan perbuatan-
perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut.
Dapat disimpulkan bahwa motivasi mendorong seseorang untuk
melakukan suatu usaha. Dalam belajar, adanya motivasi yang baik
akan menunjukan hasil yang baik. Adanya usaha tekun yang didasari
adanya motivasi, akan menghasilkan prestasi yang baik.

H. Metode Diskusi Kelompok


1. Diskusi Kelompok
Menurut Trianto (2009: 123), metode diskusi merupakan bentuk
belajar mengajar dimana terjadi interaksi utama antara guru dengan siswa
dan siswa dengan siswa. Proses belajar mengajar, diskusi mempunyai arti
suatu situasi dimana guru dengan siswa atau siswa dengan siswa
saling bertukar pendapat secara lisan, saling berbagi gagasan,
pendapat, dan.
Siswa dituntut untuk selalu aktif berpartisipasi. Siswa dilatih berpikir
kritis, siap mengemukakan pendapat dengan tepat, berpikir secara obyektif
dan menghargai pendapat orang lain ( Ruseffendi, 1988: 303).
2. Kebaikan metode diskusi kelompok
Ada beberapa kebaikan dalam metode diskusi kelompok, yaitu:
a. Memaksa siswa untuk berbicara dengan bahasa baik, belajar
mengemukakan pendapat dengan tepat dalam waktu relatif singkat,
dan belajar menanggapi pendapat orang lain dengan benar.
b. Berlatih memecahkan permasalahan.
c. Lebih efektif dalam mengubah sikap siswa dibandingkan dengan cara
ceramah, siswa menjadi lebih aktif, lebih mengerti, kreatif,
berpikir kritis dan objektif. (Ruseffendi 1988: 305).
3. Kelemahan metode diskusi kelompok
Ada beberapa kelemahan dalam metode diskusi kelompok, yaitu:
a. Kalau di dalam kelompok itu kemampuan anggotanya heterogen, maka
siswa yang pandai akan mendominasi dalam diskusi sedang siswa
yang kurang pandai menjadi pasif sebagai pendengar saja.
b. Kalau anggota kelompok itu tidak ada yang pandai, maka tidak akan
menghasilkan sesuatu sehingga dengan demikian proses belajar
menjadi tidak efektif.
c. Waktu yang diperlukan banyak. (Hudojo 2001: 113)
Dari berbagai uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa diskusi
adalah dua atau lebih orang yang saling berinteraksi satu sama lain,
saling tergantung dan mereka mempunyai tujuan yang sama yaitu
menyelesaikan masalah yang mereka hadapi, tiap-tiap anggota
diharapkan menyampaikan pendapatnya untuk penyelesaian masalah
dan mereka sendiri akan mengambil keputusan sebagai solusi atau
pemecahan masalah yang mereka hadapi.

I. Kerangka Berpikir
Penelitian ini berjudul “PENGGUNAAN METODE DISKUSI
KELOMPOK TERHADAP HASIL BELAJAR DAN MOTIVASI BELAJAR
SISWA PADA PEMBELAJARAN MATEMATIKA MATERI BILANGAN
DI KELAS VII SMP S KRISTEN ENDE. Dalam penelitian ini, fokus dari
penelitian adalah penerapan metode diskusi kelompok pada pokok bahasan
bilangan Penelitian ini bertujuan untuk melihat keefektifan metode
diskusi kelompok terhadap hasil belajar dan motivasi belajar siswa kelas
VII A SMP S Kristen Ende.
Penelitian ini memiliki beberapa tujuan, yakni: (1) Apakah penggunaan
metode diskusi kelompok efektif pada pembelajaran bilangan ditinjau dari
hasil belajar; (2) Apakah penggunaan metode diskusi kelompok dapat
meningkatkan motivasi belajar siswa pada pembelajaran pokok bahasan
bilangan. Penelitian ini menerapkan beberapa teori yakni: (1) Teori
belajar. Teori ini digunakan untuk mengetahui suatu proses yang
ditandai dengan adanya perubahan hasil proses belajar pada diri
seseorang; (2) Pembelajaran. Pembelajaran bertujuan untuk membangun
pemahaman siswa pada pokok bahasan bilangan real; (3) Prestasi belajar
bertujuan untuk mengukur kemampuan-kemampuan belajar setelah ia
menerima pengalaman belajarnya; (4) Hasil belajar. Teori ini digunakan untuk
mengukur perubahan tingkah laku yang melalui tiga aspek yakni aspek
kognitif, aspek efektif dan aspek psikomotorik; (5) Motivasi belajar. Teori
ini bertujuan untuk mendorong siswa melakukan suatu usaha positif dalam
belajar.
Pelaksanaan pembelajaran menggunakan metode diskusi
memberikan penekanan kepada siswa untuk dapat belajar satu sama lain,
bertukar pendapat, dan pengalaman-pengalaman terhadap suatu permasalahan.
Ketika masing-masing siswa dalam kelompok memiliki pendapat yang
berbeda-beda, dapat diselesaikan dengan diskusi sehingga memperoleh
solusi untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.
BAB III
METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini, peneliti menggunakan jenis penelitian eksperimen.
Karena data yang diperoleh dari kuisioner motivasi siswa dan hasil tes belajar
siswa.

B. Tempat dan Waktu Penelitian


1. Tempat Penelitian : SMP S Kristen Ende
2. Waktu Penelitian : Semester ganjil tahun ajaran 2020/2021

C. Bentuk Data
Pada penelitian ini terdapat dua macam data yang akan diperoleh oleh
peneliti yaitu data motivasi belajar siswa dan data hasil belajar siswa.
1. Data Hasil Belajar Siswa
Instrumen yang digunakan dalam pengambilan data hasil belajar
siswa berupa tes tertulis hasil belajar. Tes ini digunakan untuk mengetahui
hasil belajar siswa setelah mengikuti pembelajaran dengan menggunakan
diskusi kelompok. Data hasil belajar siswa inilah yang digunakan untuk
mengetahui pengaruh metode diskusi kelompok terhadap hasil belajar
siswa pada pembelajaran matematika sub pokok bahasan bilangan.
2. Data Motivasi Belajar Siswa
Data motivasi belajar siswa dalam pembelajaran dengan metode
diskusi kelompok diperoleh dari hasil kuisioner yang dibagikan
kepada siswa setelah mengikuti pembelajaran menggunakan metode
diskusi kelompok. Data ini bertujuan untuk mengetahui motivasi
belajar siswa terhadap pembelajaran matematika pada pokok bahasan
bilangan yang menggunakan metode diskusi kelompok.
D. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah:
1. Tes Hasil Belajar Siswa
Dalam penelitian ini data hasil belajar siswa diperoleh dari hasil tes
yang telah disiapkan. Tes akan dilakukan untuk mengetahui hasil belajar
siswa terhadap sub pokok bahasan bilangan selama mengikuti
pembelajaran yang diberikan dengan menggunakan metode diskusi
kelompok.

E. Instrumen Penelitian
Dalam penelitian ini ada dua instrumen yang digunakan yaitu instrumen
untuk melakukan kegiatan pembelajaran dan instrumen pengumpulan
data. Instrumen untuk melakukan kegiatan pembelajaran meliputi desain
pembelajaran. Instrumen untuk mengumpulkan data berupa angket dan
tes yang diadakan pada akhir pokok bahasan bilangan real selama
pembelajaran menggunakan metode diskusi kelompok.
1. Instrumen Pembelajaran
a. Desain Pembelajaran
Desain pembelajaran terdiri dari rancangan kegiatan belajar
mengajar memuat pokok pembelajaran yang telah dirancang.
Dalam penelitian ini, pembelajaran pada topik bilangan adalah
untuk mengetahui motivasi belajar siswa terhadap hasil belajar
setelah menggunakan metode diskusi kelompok.
Dalam pembelajaran ini, peneliti menyiapkan RPP yang
telah dirancang dengan kegiatan pembelajarannya meliputi metode
diskusi yang memuat komponen-komponen sebagai berikut: bidang
studi, tema, sub pokok bahasan, kompetensi dasar, indikator, dan
pembuatan rencana pembelajaran.
b. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Instrumen pembelajaran dalam penelitian ini berupa Rancangan
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). RPP adalah rencana yang
menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk
mencapai suatukompetensi dasar yang ditetapkan dalam standar isi
dan dijabarkan dalam silabus. Lingkup RPP paling luas mencakup satu
kompetensi dasar yang terdiri atas satu atau beberapa indikator untuk
satu kali pertemuan atau lebih.
2. Instrumen Pengumpulan Data
a. Hasil Belajar Siswa
Instrumen pengumpulan data untuk tes hasil belajar siswa pada
penelitian ini diberikan setelah pembelajaran pokok bahasan bilangan.
Tes ini bertujuan untuk mengetahui hasil belajar siswa setelah
mengikuti kegiatan pembelajaran bilangan dengan menggunakan
metode diskusi kelompok. Soal tes ini mencakup semua materi pada
operasi bilangan.
Hasil belajar siswa pada penelitian ini diperoleh dari hasil
tes yang telah disiapkan. Soal tes hasil belajar siswa terdiri dari soal
uraian yang dikerjakan dalam waktu 2 x 40 menit. Bentuk tes yang
digunakan pada pembelajaran ini adalah soal essay (uraian).

F. Teknik Analisis Data


Data hasil penelitian akan dianalisis dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Analisis Hasil Belajar Siswa
Nilai tes belajar siswa ditentukan berdasarkan pedoman penelitian
yang dibuat oleh peneliti. Langkah-langkah yang dilakukan dalam analisis
hasil belajar siswa, yaitu:
a. Pemberian Skor
Skor diberikan untuk setiap soal tes sesuai dengan jawaban siswa
yang berlandaskan pada bobot jawaban dalam kisi-kisi yang telah
disusun.
b. Penilaian
Nilai yang diberikan pada tes hasil belajar siswa yaitu pada
rentang 0 – 100.
DAFTAR PUSTAKA

Abin Syamsuddin. 2004. Psikologi Kependidikan. Bnadung: PT Remaja


Rosdakarya.
Asep Jihad & Abdul haris. 2013. Evaluasi Pembelajaran. Yogyakarta: Multi
Pressindo
Daryanto.2012. Media Pembelajran. Bandung: PT. sarana Tutorial nurani.
Endang, MM., S. 1999. Pengajaran matematika. Yogyakarta: Universitas PGRI
Yogyakarta
Flynn.1989. Metode Diskusi Kelompok.Bandung : Citra aditya Bakti
Nana, Sudjana. 2003. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Pt
Remaja Rosdakarya.
Nana, Sudjana. 2006. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT
Remaja Rosdakarya.
Purwanto. 2009. Evaluasi Hasil Belajar. Yogyakarta: Pustaka pelajar
Ratna W Dahar. 1998. Teori-Teori Belajar. Jakarta: Depdikbud.
Salvin, Robert E. 2011. .
Siagian, Sondang P. 2004. Teori Motivasi dan Aplikasinya.
Jakarta: Rineka Cipta.