Anda di halaman 1dari 14

BAGIAN ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN LAPORAN KASUS

FAKULTAS KEDOKTERAN MEI 2019


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

DERMATITIS NUMULARIS

Disusun Oleh :

Rasdiana FB. Matong, S.Ked.

(10542 0624 15)

Pembimbing :

dr. Helena Kendengan, Sp. KK

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2019
LEMBAR PENGESAHAN

Yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan bahwa:

Nama : Rasdiana FB. Matong, S.Ked.

NIM : 10542 0624 15


Judul Laporan kasus : Dermatitis Numularis

Telah menyelesaikan tugas dalam rangka kepaniteraan klinik pada bagian


Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas kedokteran Universitas
Muhammadiyah Makassar.

Makassar, Mei 2019

Pembimbing

dr. Helena Kendengan, Sp. KK

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Allah SWT karena segala limpahan rahmat dan
hidayah-Nya serta segala kemudahan yang diberikan dalam setiap kesulitan hamba-
Nya sehingga penulis bisa menyelesaikan Laporan Kasus dengan judul Dermatitis
Numularis. Tugas ini ditulis sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan
Kepaniteraan Klinik di Bagian Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin.

Berbagai hambatan dialami dalam penyusunan tugas Laporan Kasus ini,


namun berkat bantuan saran, kritikan, dan motivasi dari pembimbing serta teman-
teman sehingga tugas ini dapat terselesaikan.

Penulis sampaikan terima kasih banyak kepada, dr. Helena Kendengan,


Sp. KK, selaku pembimbing yang telah banyak meluangkan waktu dengan tekun
dan sabar dalam membimbing, memberikan arahan dan koreksi selama proses
penyusunan tugas ini hingga selesai.

Penulis menyadari bahwa Laporan Kasus ini masih jauh dari yang
diharapkan oleh karena itu dengan kerendahan hati penulis akan senang menerima
kritik dan saran demi perbaikan dan kesempurnaan tugas ini. Semoga Laporan
Kasus ini dapat bermanfaat bagi pembaca umumnya dan penulis secara khusus.

Makassar, Mei 2019

Penulis

ii
DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN i

KATA PENGANTAR ii

DAFTAR ISI iii

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................... 1

BAB II LAPORAN KASUS ........................................................................... 3

A. RESUME .................................................................................................. 3

B. STATUS DERMATOLOGIS DAN VENEROLOGIS ............................ 3

C. DIAGNOSIS BANDING .......................................................................... 4

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG .............................................................. 4

E. DIAGNOSIS ............................................................................................. 4

F. TERAPI ....................................................................................................... 5

G. PROGNOSIS ............................................................................................ 5

BAB III PEMBAHASAN .............................................................................. 6

BAB IV KESIMPULAN ................................................................................

BAB V KAJIAN ISLAM ................................................................................

DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I

PENDAHULUAN

Dermatitis adalah peradangan kulit (epidermis dan dermis) sebagai respons


terhadap pengaruh faktor eksogen dan atau faktor endogen, menyebabkan kelainan
klinis berupa efloresensi polimorfik (eritema, edema papul, vesikel, skuama,
likenifikasi) dan keluhan gatal. Tanda polimorfik tidak selalu terjadi bersamaan,
bahkan mungkin hanya satu jenis misalnya hanya berupa papula (oligomorfik).
Dermatitis cenderung residif dan menjadi kronis.1

Pada umumya pasien dermatitis mengeluh gatal. Kelainan kulit bergantung


pada stadium penyakit, dapat sirkumskrip, dapat pula difus, dengan peneyebaran
setempat, generalisata dan universalis.1

Pada stadium akut kelainan kulit dengan gambaran klinis berupa eritema,
edema, vesikel atau bua, erosi dan eksudasi, sehingga tampak membasah
(medidans). pada stadium subakut, eritema dan edema berkurang, eksudat
mengering menjadi krusta. Sedangkan pada stadium kronis lesi tampak kering,
berbentuk skuama, hiperpigmentasi, papul dan likenifikasi, meski mungkin juga
masih terdapat erosi atau ekskoriasi karena garukan. Stadium tersebut tidak selalu
berurutan, bisa saja suatu dermatitis sejak awal memberi gambaran klinis berupa
kelainan kulit stadium kronis. Demikian pula jenis efloresensi tidak selalu harus
polimorfik, mungkin hanya oligomorfik.1

Hingga kini belum ada kesepakatan internasional mengenai tatanama dan


klasifikasi dermatitis, tidak hanya karena penyebabnya multi faktor, tetapi juga
karena seseorang dapat mengalami lebih dari satu jenis dermatitis pada waktu yang
bersamaan.1

Ada yang memberi nama berdasarkan etiologi (contoh: dermatitis kontak,


radiodermatitis, dermatitis medikamentosa), morfologi (contoh: dermatiits
madidans, dermatitis eksfoliativa), bentuk (contoh: dermatitis numularis), lokalisasi

1
(contoh: dermatitis tangan, dermatitis intertriginosa), dan ada pula yang
berdasarkan stadium penyakit (contoh: dermatitis akut, dermatitis kronik).1

Dermatitis numularis adalah peradangan kulit yang bersifat kronis, ditandai


dengan lesi berbentuk mata uang (koin) atau agak lonjong. Dermatitis numularis
pertama kali dijelaskan pada pertengahan 1800-an oleh Marie Guillaume Alphonse
Devergie dan biasanya hadir pada pasien yang lebih muda hingga setengah baya
yang melaporkan lesi berbentuk koin di atas permukaan ekstensor ekstremitas
atas.1,2

2
BAB II

LAPORAN KASUS

A. RESUME
Seorang laki-laki berusia 66 tahun datang ke poliklinik kulit dan kelamin
RSUD Syekh Yusuf Gowa Sulawesi Selatan. Pasien merupakan pasien kontrol
yang pernah datang dengan keluhan gatal pada kepala dan bagian leher,
sebelumnya pasien didiagnosis dermatitis seboroik dan xerosis kutis dan telah
mendapatkan terapi. Pasien kini mengeluhkan adanya gatal di bagian
punggung tangan sebelah kanan sejak dua minggu yang lalu dengan lesi
berbentuk uang logam (koin). Sebelumnya pasien tidak pernah mengalami
keluhan tersebut. Riwayat penyakin keluarga dengan keluhan yang sama tidak
ada dan pasien juga mengaku tidak memiliki riwayat alergi.

B. STATUS DERMATOLOGIS DAN VENEROLOGIS


1. Status Dermatologis
 Lokasi : Dorsum manus dextra
 Distribusi : Lokal
 Ruam : Skuama (+), Eritema (+), Likenifikasi (+), Plak (+)

3
Gambar 1: Skuama, Eritema, Likenifikasi, Plak pada dorsum manus

C. DIAGNOSIS BANDING
1. Dermatitis Numularis
2. Dermatitis kontak alergi
3. Neurodermatitis sirkumskripta
4. Dermatomikosis

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG

E. DIAGNOSIS

Diagnosis ditegakkan dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Dalam


kasus ini, diagnosis kerja pasien ini adalah Dermatitis Numularis.

4
F. TERAPI
 Amoksisilin 500gr 3x1
 Histapan 2x1
 Desoximetason + gentamicin
 Desoximetason + moisderm
 Edukasi: Gunakan sabun yang ringan seperti sabun bayi, jangan
menggaruk lesi, selalu menjaga kelembaban kulit dan datang
kembali untuk kontrol jika obat sudah habis.

G. PROGNOSIS

Quo ad Vitam : Dubia ad bonam


Quo ad Sanam : Dubia ad bonam
Quo ad Fuctionam : Dubia ad bonam
Quo ad Kosmeticam : Dubia ad bonam

5
BAB III

PEMBAHASAN

Dermatitis numularis (eksim numular, eksim diskoid) adalah peradangan


kulit yang bersifat kronis, ditandai dengan lesi berbentuk mata uang (koin) atau
agak lonjong, berbatas tegas, dengan efloresensi berupa papulovesikel yang
biasanya mudah pecah sehingga membasah (oozing). Dermatitis numularis adalah
kelainan eksim yang cukup umum yang tidak diketahui penyebabnya dengan
tampakan area memerah, bersisik, bundar di lengan dan kaki.1,4
Pasien seorang laki-laki berusia 66 tahun hal ini sesuai dengan kepustakaan
mengenai epidemiologi Dermatitis numularis pada orang dewasa terjadi lebih
sering pada pria daripada pada wanita. Usia puncak onset pada kedua jenis kelamin
adalah antara 55 dan 65 tahun; pada wanita, puncak lain diamati pada 15 hingga 25
tahun. Dermatitis numularis jarang terjadi pada anak-anak, jarang muncul sebelum
usia satu tahun, dan frekuensinya cenderung meningkat dengan bertambahnya
usia.3
Sebelumnya pasien didiagnosis dermatitis seboroik dan xerosis kutis dan
telah mendapatkan terapi hal ini sesuai dengan kepustakaan mengenai
etiopatogenesis dermatitis numularis yaitu, pada pasien berusia lanjut dengan
dermatitis numularis didapatkan kelembaban kulit yang menurun. Meskipun
xerosis telah dilaporkan terjadi pada beberapa pasien, kulit kering tidak terjadi pada
semua pasien. Patogenesis dermatitis numularis belum diketahui. Berbagai faktor
diduga turut berperan dalam kelainan ini.1,5
Pasien kini mengeluhkan adanya gatal di bagian punggung tangan
sebelah kanan sejak dua minggu yang lalu dengan lesi berbentuk uang logam (koin)
hal ini sesuai dengan kepustakaan bahwa dermatitis numularis merupakan suatu
peradangan dengan lesi menetap dengan keluhan gatal, ditandai dengan lesi
berbentuk uang logam, sirkular atau lesi oval berbatas tegas, umumnya di daerah
tangan dan kaki. Lokasi penting untuk diagnosis dan paling umum melibatkan

6
punggung tangan, permukaan ekstensor lengan bawah, lengan atas, kaki, paha, dan
kaki.1,2,6
Dari pemeriksaan fisik pada kasus ini didapatkan Skuama (+), Eritema
(+), Likenifikasi (+), Plak (+) Hal ini sesuai dengan kepustakaan bahwa dari
pemeriksaan fisik akan didapatkan lesi berupa plak dengan skuama dan likenifikasi
dalam 1-2 minggu ketika lesi sudah memasuki fase kronik. Lesi awal berupa papul
disertai vesikel yang biasanya mudah pecah.1
Pemeriksaan penunjang dibutuhkan guna menyingkirkan diagnosis
banding. Pemeriksaan yang dianjurkan adalah pemeriksaan histopatologi dan tes
tempel. Perubahan histopatologi yang ditemukan bergantung pada fase lesi saat
biopsi dilakukan. Pada lesi akut ditemukan spongiosis, vesikel, intraepidermal,
serta sebukan sel radang limfosit dan makrofag di sekitar pembuluh darah. Pada lesi
sub akut, terdapat parakeratosis, scale-crust, hiperplasi epidermal, dan spongiosis
epidermis. Selain itu ditemukan pula sel infiltrat campuran di dermis. Pada lesi
kronik didapatkan hiperkeratosis dan akantosis. Gambaran ini menyerupai liken
simpleks kronik. Tes tempel dapat berguna pada kasus kronik yang rekalsitran
terhadap terapi. Tes ini berguna untuk menyingkirkan kemungkinan adanya
dermatitis kontak. Pada suatu laporan di India, dari 50 pasien dermatitis numularis,
didapatkan hasil tes tempel yang positif pada setengah jumlah pasien yang diteliti.
Hasil tes tempel yang didapatkan positif terhadap colophony, nitrofurazon,
neomisin sulfat, dan nikel sulfat. Kada imunoglobulin E dalam darah dilaporkan
normal.1
Diagnosis dermatitis numularis ditegakkan berdasarkan gambaran klinis.
Sebagai diagnosis banding antara lain ialah dermatitis kontak alergi,
neurodermatitis sirkumskripta, dan dermatomikosis.
Tatalaksana yang diberikan pada dermatitis numularis adalah kortikosteroid
topikal potensi menengah hingga kuat dengan vehikulum krim atau salap. Untuk
lesi kronik vehikulum salap lebih efektif dan terkadang perlu dilakukan oklusi.
Selain itu dapat puladiberikan preparat ter (Liquor carbonis detergents 5-10%) atau
kalsineurin inhibitor, misalnya takrolimus atau pimekrolimus. Bila lesi masih
eksudatif, sebaiknya dikompres dahulu, misalnya dengan solusia permanganas

7
kalikus. Jika ditemukan infeksi bakteri, dapat diberikan antibiotik. Kortikosteroid
sistemik hanya diberikan pada kasus yang berat dan refrakter terhadap pengobatan.
Terapi ini hanya diberikan pada jangka waktu yang pendek. Pruritus dapat diobati
dengan antihistamin oral. Untuk lesi yang luas, dapat diterapi dengan penyinaran
broat atau narrow band ultraviolet B.1 Pada kasus ini diberikan terapi topikal
Desoximetason + gentamicin, desoximetason + mosderm sebagai kortikosteroid.
Pasien juga diberikan histapan 2x1 sebagai antihistamin. Dan pasien juga
diberikan amoksisilin 500gr 3x1 sebagai antibiotik oral.

Edukasi yang dapat diberikan pada pasien yaitu faktor-faktor yang perlu
dilakukan untuk mencegah terjadi dermatitis numularis antara lain: gunakan sabun
yang ringan seperti sabun bayi, jangan menggaruk lesi, selalu menjaga kelembaban
kulit dan datang kembali untuk kontrol jika obat sudah habis.1
Prognosis kelainan ini biasanya menetap selama berbulan-bulan, bersifat
kronik, dan timbul kembali pada tempat yang sama. Dari suatu penelitian, sejumlah
penderita yang diikuti berbagai interval sampai dua tahun didapati bahwa 22%
sembuh, 25% pernah sembuh untuk beberapa minggu sampai tahun, 53% tidak
pernah bebas dari lesi kecuali masih dalampengobatan.1

8
BAB IV

KESIMPULAN

Telah dilaporkan kasus dengan diagnosis Dermatitis Numularis pada pasien


Tn. A 66 tahun. Diagnosis berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Diagnosis
ditegakkan berdasarkan anamnesis pasien mengeluh rasa gatal pada punggung
tangannya yang suah dialami sejak dua minggu terakhir dan pada pemeriksaan fisik
ditemukan lesi berbentuk mata uang (koin). Sebelumnya pasien tidak pernah
mengalami keluhan tersebut . Pasien pernah menderita xerosis kutis.
Pengobatan yang diberikan adalah terapi topikal Desoximetason +
gentamicin, desoximetason + mosderm sebagai kortikosteroid. Pasien juga
diberikan histapan 2x1 sebagai antihistamin. Dan pasien juga diberikan amoksisilin
500gr 3x1 sebagai antibiotik oral. Pasien diedukasi untuk menggunakan sabun yang
ringan seperti sabun bayi, jangan menggaruk lesi, selalu menjaga kelembaban kulit
dan datang kembali untuk kontrol jika obat sudah habis. Prognosis pasien ini secara
vitam, sanam, fungsionam dan secara kosmetikam adalah dubia ad bonam.

9
DAFTAR PUSTAKA

1. Adhi Djuanda, dkk. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi 7 Cetakan 5.
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2018.
2. Halberg M. Nummular Eczema. The Journal of Emergency Medicine. 2012.
Vol. 43, No. 5, pp. e327–e328
3. Freedberg IM, Eisen AZ at all (editors). Fitzpatrick’s Dermatology in general
medicine. 6th ed. The McGaw-Hill Medical Companies United State of
America, 2003; Chapter 123.
4. Marks R. Roxburgh’s Common Skin Disease 17th Ed.. London: Arnold, page
117
5. Roberts H, Orchard D. Methotrexate is a safe and effective treatment for
paediatric discoid (nummular) eczema: A case series of 25 children.
Australasian Journal of Dermatology. 2010. 51, 128–130
6. Stella C. Dermatitis Numularis. Cermin Dunia Kedokteran 265/ vol. 45 no. 6.
Indonesia. 2018. 435-437

10