Anda di halaman 1dari 15

Bab 2: Gambaran Umum Wilayah

2.1 Geografis, Administratif, dan Kondisi Fisik


Secara geografis Kabupaten Sarolangun berada pada posisi astronomi 1020 03’ 39” sampai 1030 13’ 17”
BT dan 010 53’ 39” LS sampai 020 46’ 24” LS (Meridian Greenwich), dengan posisi geostrategis terletak di wilayah
Barat Provinsi Jambi, ditengah Pulau Sumatera dan dilalui oleh jalan lintas tengah Sumatera/Trans Sumatera, serta
berdekatan dengan negara tetangga seperti Singapura, Malaysia dan Thailand sebagai tujuan ekspor produk
pertanian dan industri pengolahan.
Secara yuridis formal, Kabupaten Sarolangun dibentuk melalui Undang-Undang Nomor 54 Tahun 1999
tentang Pembentukan Kabupaten Sarolangun, Kabupaten Tebo, Kabupaten Muaro Jambi dan Kabupaten Tanjung
Jabung Timur. Selanjutnya diperkuat dengan keputusan DPRD Provinsi Jambi Nomor 2/DPRD/99 tanggal 9 Juli
1999 tentang pemekaran Kabupaten di Provinsi Jambi. Kedudukan secara administratif berbatasan dengan :
 Sebelah utara berbatasan dengan Kab. Tebo dan Kab. Batanghari
 Sebelah timur berbatasan dengan Kab. Batanghari dan Prov. Sumatera Selatan
 Sebelah selatan berbatasan dengan Prov. Sumatera Selatan
 Sebelah barat berbatasan dengan Kab. Merangin
Luas Wilayah Kabupaten Sarolangun 6.174 km² dengan batas-batas wilayah Administrasi Kabupaten
Sarolangun Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Batang Hari, Sebelah Timur berbatasan dengan
Kabupaten Batang Hari dan Kabupaten Musi Banyuasin. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Musi
Rawas, sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Merangin.
Sampai dengan tahun 2010, Kabupaten Sarolangun terdiri dari 10 Kecamatan 9 Kelurahan dan 134 Desa.
Rincian masing-masing kecamatan sebagai berikut : Kecamatan Batang Asai terdiri dari 22 Desa definitif dan tidak
ada kelurahan serta semua desa berstatus desa pedesaan. Kecamatan Limun terdiri dari 15 Desa definitif, tidak ada
kelurahan dan semua desa merupakan desa pedesaan. Kecamatan Cermin Nan Gedang terdiri dari 9 Desa definitif,
tidak ada kelurahan dan semua desa merupakan desa pedesaan. Kecamatan Pelawan terdiri dari 14 Desa definitif,
tidak ada kelurahan dan semua desa merupakan desa pedesaan. Kecamatan Singkut terdiri dari 8 Desa definitif,
dan 1 kelurahan. Salah satu desa (desa Bukit Tigo) berstatus desa perkotaan sedangkan yang lainnya merupakan
desa pedesaan. Kecamatan Sarolangun terdiri dari 10 desa definitif dan 6 kelurahan yaitu kelurahan Dusun
Sarolangun, kelurahan Pasar Sarolangun, kelurahan Sukasari, Kelurahan Aur Gading, Kelurahan Gunung Kembang
dan kelurahan Sarolangun Kembang. Dari 15 desa/kelurahan tersebut, 2 desa/kelurahan berstatus desa/kelurahan
perkotaan (Kelurahan Pasar Sarolangun dan kelurahan Sukasari), sisanya adalah desa/kelurahan pedesaan.
Kecamatan Batin VIII terdiri dari 14 desa definitif dan 1 kelurahan dan seluruh desa merupakan desa pedesaan.
Kecamatan Pauh terdiri dari 13 Desa definitif, 1 kelurahan yaitu kelurahan Pauh dan seluruh desa merupakan desa
pedesaan. Kecamatan Air Hitam terdiri dari 9 Desa definitif, dan seluruh desa merupakan desa pedesaan
Kecamatan Mandiangin terdiri dari 20 Desa definitif semua desa merupakan desa pedesaan. Kedepan direncanakan
akan memekarkan 2 kecamatan yaitu Kecamatan Batang Asai dan Kecamatan Mandiangin mengingat luas wilayah
dan jumlah penduduk serta memberikan pelayanan umum kepada masyarakat agar lebih cepat, dekat dan
maksimal.

2.1.1. Kondisi Topografis


Kabupaten Sarolangun terletak pada ketinggian 20 sampai dengan 1.950 m dari permukaan laut (dpl).
Jumlah dataran rendah Kabupaten Sarolangun seluas 5.248 Km² atau (85%) dan dataran tinggi : 926 Km² (15%),
didominasi oleh bentuk wilayah berombak (23,49%), datar (23,32%), kemudian diikuti oleh bentuk wilayah
bergelombang yang mencapai 18,29% dari luas kabupaten. Bentuk wilayah berbukit mencapai 11,90%, berbukit
kecil sekitar 6,62% dan cekung sekitar 5% sisanya 11,38% merupakan daerah dengan bentuk wilayah bergunung.
Hal ini mengindikasikan bahwa sekitar 88,51% wilayah Kabupaten Sarolangun potensial untuk pertanian.
Bentuk wilayah berombak dengan lereng 3–8% merupakan bentuk wilayah dominan daerah penelitian
dengan luas 145.039 Ha atau 23,49% dari luas kabupaten. Di wilayah Kecamatan Air Hitam dijumpai di sekitar
Desa Bukit Suban, Desa Pematang Kabau, Lubuk Jering, Jernih dan Desa Lubuk Kepayang. Di wilayah Kecamatan
Mandiangin dapat dijumpai di Desa Kertopati, Mandiangin Tuo, Gurun Tuo, Gurun Tuo Simpang, Mandiangin,
Taman Dewa dan Petiduran Baru. Di wilayah Kecamatan Pauh dapat dijumpai di Desa Semaran, Lubuk Napal,
Lamban Sigatal sampai Desa Sepintun. Di wilayah Kecamatan Bathin VIII dijumpai di Desa Teluk kecimbung, Batu
Penyabung dan Pulau Buayo. Di Kecamatan Pelawan terdapat di Desa Rantau Tenang, Desa Pelawan, Desa Batu
Putih. Di Kecamatan Singkut dapat dijumpai di Desa Bukit Tigo, Sungai Benteng, Sungai Gedang, Perdamaian dan
Sungai Merah. Di wilayah Kecamatan Limun terdapat di Desa Tanjung Raden, Desa Monti, Tanjung Raden sampai
Desa Temenggung Dusun Mengkadai. Di Kecamatan Cermin Nang Gedang dapat dijumpai di Desa Lubuk Resam,
Teluk Tigo. Di Kecamatan Batang Asai dijumpai di Desa Kasiro, Desa Bukit Kalimau Ulu dan Desa Muara Cuban.
Bentuk wilayah bergelombang, lereng 8–15% menyebar sekitar 18,29% atau 112.917 Ha. Di Kecamatan
Air Hitam dijumpai di kaki Bt. Subanpunaibanyak (164 m) dan di sekitar Pegunungan Dua Belas. Di Kecamatan
Mandiangin dijumpai di sekitar Desa Bukit Peranginan, Petiduran Baru, Guruh Baru, Butang Baru dan Pemusiran. Di
Kecamatan Pauh dijumpai di sekitar Desa Karang Mendapo. Di wilayah Kecamatan Pelawan dan Singkut dijumpai
di Desa Pasar Singkut, Sungai Merah. Di Kecamatan Limun dijumpai di sekitar Dusun Kampung Pondok. Di
Kecamatan Batang Asai dijumpai di sekitar Desa Sungai Bemban.
Bentuk wilayah berbukit kecil, lereng 15–25% menyebar sekitar 40.847 Ha dijumpai di sekitar Bt.
Subanpunaibanyak (164 m) dan Pegunungan Dua Belas wilayah Kecamatan Air Hitam. Sekitar Desa Jati Baru di
Kecamatan Mandiangin, Dusun Mengkua, Dusun Rantau Alai, Desa Ranggo, Dusun Muara Mensao, B. Rebah dan
B. Kutur di Kecamatan Limun. Di wilayah Kecamatan Pelawan dan Kecamatan Singkut dijumpai di Desa Pasar
Singkut, Sungai Merah. Di Kecamatan Batang Asai dijumpai di sekitar Dusun Batu Kudo, Desa Pulau Salak Baru,
Kasiro Ilir dan Sungai Baung.
Bentuk wilayah berbukit, lereng 25–40% menyebar sekitar 73.487 Ha atau 11,90%. Bentuk wilayah ini
paling luas dijumpai di Kecamatan Limun. Berdasarkan hasil analisis hampir 50% dari Kecamatan Limun
mempunyai bentuk wilayah berbukit, mulai dari Dusun Bukit Melintang, Desa Napal Melintang, Desa Lubuk
Bedorong, Bt. Tinjaulimun (667 m) sampai Dusun Kampung Manggis dan Dusun Simpang Melako. Di Kecamatan
Batang Asai bentuk wilayah berbukit dijumpai di Desa Batu Empang, Simpang Narso, Tambak Ratu, Dusun Renah
Pisang Kemali dan Dusun Rantau Panjang. Di Kecamatan Air Hitam bentuk wilayah berbukit merupakan
Pegunungan Dua Belas, yaitu G. Panggang (328 m) dan Bt. Kuaran (328 m).
Lebih dari 50% bentuk wilayah Kecamatan Batang Asai adalah bergunung, lereng > 40%. Bentuk wilayah
ini dijumpai di sekitar Bt. Huluseluro (964 m), Bt. Bujang (1.957 m), Bt. Gedang, Bt. Legaitinggi (1.015 m) dan Bt.
Raya (626 m).

2.1.2. Geohidrologi
a. Air Permukaan
Secara geohidrologi, Kabupaten Sarolangun merupakan daerah dataran rendah sampai tinggi dengan tata
guna lahan berupa : sawah, tegalan dan kebun campuran sehingga tingkat infiltrasinya tinggi dengan muka air tanah
pada umumnya terdapat di kedalaman hingga belasan meter di bawah permukaan laut.
Kondisi hidrologi di Kabupaten Sarolangun ditandai dengan terdapatnya beberapa Daerah Aliran Sungai
(DAS), Dalam pengelolaan sungai dikenal Satuan Wilayah Sungai (SWS) dan Daerah Aliran Sungai (DAS). Secara
umum, baik SWS maupun DAS yang ada di Kabupaten Sarolangun relatif luas. Sungai-sungai yang terdapat di
Kabupaten Sarolangun memiliki lebar yang kecil-besar (lebar kurang dari 50-100 m) dan panjang (mengikuti DAS
Batanghari). Selain itu di Kabupaten Sarolangun terdapat 5(Lima) wilayah DAS yaitu DAS Batang Tembesi, DAS
Merangin, DAS Batang Asai dan DAS Limun. Kempat DAS tersebut dapat disajikan pada table 2.2.
Di Kabupaten Sarolangun mengalir 4 sungai besar, yaitu B. Merangin, B. Tembesi, B. Asai dan B. Limun.
Uraian masing-masing sungai tersebut adalah sebagai berikut :
a. Batang Merangin berhulu di D. Tujuh melewati Sungai Manau, Kota Bangko (Ibukota Kab. Merangin)
menuju Kabupaten Sarolangun. Di Kabupaten Sarolangun, Batang Merangin ini bermuara di Sungai
Pelakar dan di Desa Batu Kucing (wilayah Kecamatan Pauh), yang selanjutnya B. Merangin bermuara
ke B. Tembesi.
b. Batang Tembesi berhulu di G. Masurai (2.935 m) yang merupakan deretan Pegunungan Bukit
Barisan. Dari G. Masurai melewati jangkat dan Muara Siau terus ke Perkotaan Sarolangun. Di
Kabupaten Sarolangun ke. B. Tembesi bermuara S. Sekamus, S. Kolang, S. Penarun, S. Selembau
dan B. Limun. Setelah melewati wilayah Kabupaten Sarolangun B. Tembesi terus ke utara menuju
Kabupaten Batanghari.
c. Batang Asai berhulu di G. Gedang (2.447 m), wilayah Kecamatan Batang Asai. Sungai ini melewati
dua wilayah kecamatan, yaitu Kecamatan Batang dan Kecamatan Limun. Sebelum bermuara ke S.
Limun di Ma. Limun, Sungai B. Asai bermuara ke beberapa sungai, diantaranya S. Tangkui, S.
Kinantan, S. Merandang, S. Melinau, S. Penetai, S. Pebaik, S. Perambil dan S. Belakang.
d. Batang Limun bermuara ke Muara B. Limun di sekitar Perkotaan Sarolangun dan selanjutnya ke B.
Tembesi. Sungai B. Limun ini bermuara S. B. Limun, S. Kutur, S. Mensao, S. Mengkadai, Bt. Rebah,
S. Singkut dan S. Jelapang. Untuk mendukung usaha pertanian di Kecamatan Limun, telah dibangun
dam kutur yang mengairi daerah persawahan di sekitar Kecamatan Limun namun belum
termanfaatkan secara optimal.
Tabel 2.1: Daerah Aliran Sungai (DAS) di Wilayah Kabupaten/Kota
Nama DAS Luas (Ha) Debit (M3/dtk)
DAS Batang Asai 172.106,75 508,26
DAS Batang Limun 70.489,78 385,15
DAS Batang Tembesi 342.859,14 768,48
DAS Batang Merangin 31.944,33 617,25
Sumber: Dinas PU dan Pera Kabupaten Sarolangun 2011
Tabel 2.2: Nama, luas wilayah per-Kecamatan dan jumlah kelurahan
Jumlah Kelurahan Luas Wilayah
Nama Kecamatan
/Desa
(Ha) (%) thd total
Kecamatan Batang Asai 22 8.580 13,90
Kecamatan Pauh 14 17.700 28,67
Kecamatan Sarolangun 16 3.190 5,17
Kecamatan Bathin VIII 15 4.980 8,07
Kecamatan Mandiangin 20 6.360 10,30
Kecamatan Air Hitam 9 4.710 7,63
Kecamatan Limun 15 7.990 12,94
Kecamatan Cermin Nan Gedang 9 3.200 5,18
Kecamatan Pelawan 14 3.300 5,34
Kecamatan Singkut 9 1.730 2,80
Sumber: Sarolangun Dalam Angka 2010

b. Air Tanah
Kondisi air tanah pada umumnya memiliki sistem akuifer berdasarkan letak kedalaman dan satuan
litologinya, sebagai berikut:
1. Akuifer Permukaan
Litologi bersifat lepas-lepas yang merupakan hasil pelapukan dan batuan asal dengan kedalaman
maksimum 20 meter
2. Akuifer Dasar
Litologi merupakan batuan dasar pada kedalaman di bawah 20 meter. Produktifitas akuifernya mampu
menghasilkan debit 5 lt/dt dengan aliran tanah melalui ruang antar butir dan setempat melalui rekahan
dengan parameter transmissivity sebesar + 600 meter/hari dan ketebalan akuifernya dapat mencapai
ketebalan + 12 meter.
Pada umumnya air tanah di daerah dataran mempunyai kedalaman antara 0,5 – 3 meter; sedangkan di
daerah perbukitan kedalamannya >15 m.

c. Klimatologi
Berdasarkan informasi data yang diperoleh dari Stasiun Klimatologi Pasir Putih dengan periode
pengamatan selama 5 tahun (2006-2010) diketahui bahwa kondisi iklim di wilayah Kabupaten Sarolangun sama
dengan kondisi iklim di wilayah kabupaten lainnya yang ada di Provinsi Jambi, yaitu beriklim tropis dengan
temperatur udara berkisar antara 23 — 32,0 derajat Celcius, kelembaban udara 78% — 91,1 %, dan lama
penyinaran matahari 27,7 % - 38,4 %.
d. Curah Hujan
Berdasarkan data curah hujan Kab. Sarolangun selama 5 tahun (2006 — 2010) menunjukkan bahwa curah
hujan tahunan berjumlah 21.146 mm dengan rata-rata pertahun 4.229 mm dan rata-rata curah hujan, curah hujan
setiap bulannya sebesar 260 mm dan jumlah hari hujan tertinggi sebesar 17 hari pada tahun 2007
Schmidt dan Ferguson (1951), sebagai aplikasinya dari klasifikasinya tahun 1933 menyebutkan bahwa
daerah di Stasiun Klimatologi Sarolangun termasuk tipe iklim Afa (kopen) dan zona agroklimat B2 (Oldeman, Darwis
dan Las, 1979).
2.2 Demografi
Berdasarkan data BPS Kabupaten Sarolangun Tahun 2010 jumlah penduduk Kabupaten Sarolangun
sebanyak 246.245 jiwa (125.796 laki-laki dan 120.449 perempuan), dengan tingkat pertumbuhan penduduk sebesar
2,48 % per tahun.
Rata-rata kepadatan penduduk Kabupaten Sarolangun sebanyak 35 jiwa/km2, untuk Kecamatan Batang
Asai 19 jiwa/km2, Kecamatan Limun 15 jiwa/km2, Kecamatan Cermin Nan Gedang 24 jiwa/km2, Kecamatan Pelawan
82 jiwa/km2, Kecamatan Singkut 200 jiwa/km2, Kecamatan Sarolangun 107 jiwa/km2, Kecamatan Batin VIII 37
jiwa/km2, Kecamatan Pauh 11 jiwa/km2. Kecamatan Air Hitam 44 jiwa/km2 dan Kecamatan Mandiangin 44 jiwa/km2.
Kecamatan paling padat adalah Kecamatan Singkut dan jarang penduduknya adalah Kecamatan Pauh.
Sejalan dengan kebijakan yang akan diambil pemerintah dalam membangun daerah juga memperhatikan
jumlah penduduk, sebaran dan laju pertumbuhannya, untuk itu perlu dilakukan proyeksi jumlah penduduk untuk 5
tahun kedepan, dimulai dari tahun 2011 sampai dengan 2016. Dimana sebagai tahun dasar digunakan tahun 2008,
proyeksi dilakukan untuk setiap kecamatan, dengan menggunakan angka laju pertumbuhan penduduk setiap
kecamatan, dan untuk proyeksi penduduk Kabupaten Sarolangun didapat dari jumlah total setiap kecamatan.
Proyeksi dilakukan dengan menggunakan metoda bunga berganda, dari proyeksi yang dilakukan, terlihat pada
tahun 2016, penduduk di Kabupaten Sarolangun akan berjumlah 262.931 jiwa.
Batas-batas wilayah Administrasi Kabupaten Sarolangun Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten
Batang Hari, Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Batang Hari dan Kabupaten Musi Banyuasin. Sebelah
Selatan berbatasan dengan Kabupaten Musi Rawas Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Merangin.

Tabel 2.3: Jumlah dan kepadatan penduduk saat ini dan proyeksinya untuk 5 tahun
Tingkat
Jumlah Penduduk Jumlah KK
Pertumbuhan
Kecamatan
Tahun Tahun Tahun
2010 2012 2014 2016 2010 2012 2014 2016 2012 2014 2016
Batang Asai 16.036 16.495 16.966 17.452 3841 4341 4841 5341 2.48 2.48 2.48
Pauh 20.566 21.603 22.692 23.836 4784 5284 5784 6284 2.48 2.48 2.48
Sarolangun 46.098 48.422 50.864 53.428 10596 11096 11596 12096 2.48 2.48 2.48
Bathin VIII 18.031 18.940 19.895 20.898 4347 4847 5347 5847 2.48 2.48 2.48
Mandiangin 31.234 32.809 34.463 36.267 7919 8419 8919 9419 2.48 2.48 2.48
Air Hitam 23.757 24.955 26.213 27.535 5825 6325 6825 7325 2.48 2.48 2.48
Limun 15.343 16.117 16.929 17.783 3553 4053 4553 5053 2.48 2.48 2.48
Cermin Nan
10.858 11.405 11.981 12.585 2552 3052 3552 4052 2.48 2.48 2.48
Gedang
Pelawan 28.138 29.557 31.047 32.612 6730 7230 7530 8230 2.48 2.48 2.48
Singkut 36.184 38.008 39.925 41.938 9138 9638 10138 10638 2.48 2.48 2.48

Sumber : Badan Pusat Statistik Sarolangun Tahun 2010.


2.3 Keuangan dan Perekonomian Daerah
Tabel 2.4: Ringkasan realisasi APBD 5 tahun terakhir (kali sejuta)
No Anggaran 2008 2009 2010 2011 2012
(a) (b) (c) (d) (e) (f) (g)
A Pendapatan
1 Pendapatan Asli Daerah (PAD) 18.221,5 20.810,4 25.000,8 26.896,50
2 Dana Perimbangan (Transfer) 444.391 450.214,1 432.355,3 635.027,40
3 Lain-lain Pendapatan yang Sah 2.500 2.500 21.001,4 -
Jumlah Pendapatan 465.112,7 473.524,5 478.430,4 661.924
B Belanja
1 Belanja Tidak Langsung 339.242 372.116,3 273.825,1 296.809,77
2 Belanja Langsung 165.025,8 183.823,9 232.051,9 338.217,60
Jumlah Belanja 591.636,3 555.940,2 505.877 635.027,37
Surplus/Defisit Anggaran 126.523,6 82.415,7 27.446,6 26.896,63
Ket: n = tahun penyusunan buku putih
Sumber : Bappeda Kabupaten Sarolangun Tahun 2012

Tabel 2.5: Ringkasan anggaran sanitasi dan belanja modal sanitasi per penduduk 5 tahun terakhir (kali sejuta)
No Subsektor/SKPD 2008 2009 2010 2011 2012
(a) (b) (c) (d) (e) (f) (g)
A Air Limbah
1 PU - -
2 KLH 40 - 300
3 Distaksiman - -
B Persampahan
1 PU - -
2 KLH - - 39,9
3 Distaksiman 94,5 - 26
C Drainase
1 PU 2.119 94,884 13.757 3.657,61
2 KLH - -
3 Distaksiman 180 - 40 57
Aspek PHBS (pelatihan, sosialisasi,
356,8 - 738,487 503,388
D komunikasi, pendampingan)
E Total Belanja Modal Sanitasi (A s/d D) 2.790,3 94,884 14.861,49 4.257,9
F Total Belanja Modal Sanitasi dari APBD
2.790,3 94,884 14.861,49 4.257,9
murni (bukan pendamping)
G Total Belanja APBD 591.636,3 555.940,2 505.877
H Proporsi Belanja Modal Sanitasi terhadap
0,5 % 0,0001% 3%
Belanja Total (9:10x100%)
I Jumlah penduduk
J Belanja Modal Sanitasi per penduduk (E:I)
Ket: belanja modal (investasi baru dan pemeliharaan)
Sumber: Bappeda Kab. Sarolangun Tahun 2011
Tabel 2.6: Data mengenai ruang fiskal Kabupaten/Kota 5 tahun terakhir
Indeks Kemampuan Fiskal/ Ruang Fiskal Daerah
Tahun
(I%)
2008 4,08
2009 4,41
2010 4,04
2011
2012
Sumber: Bappeda Kab. Sarolangun Tahun 2011

Tabel 2.7: Data perekonomian umum daerah 5 tahun terakhir (dalam juta)
No Deskripsi 2008 2009 2010 2011 2012
(a) (b) (c) (d) (e) (f) (g)

1 PDRB harga konstan (struktur 502.958 548.125 587.269


perekonomian) (Rp.)
2 Pendapatan Perkapita
12.481,13 14.704,96 15.250,85
Kabupaten/Kota (Rp.)
3 Upah Minimum Regional
Kabupaten/Kota (Rp.)
4 Inflasi (%) 8,46 2,77 8,89
5 Pertumbuhan Ekonomi (%) 7,86 7,99 8,18
Sumber: Bappeda Kab. Sarolangun Tahun 2011

2.4 Tata Ruang Wilayah


Pola ruang adalah distribusi peruntukan ruang dalam suatu wilayah yang meliputi peruntukan ruang untuk
fungsi lindung dan peruntukan ruang untuk fungsi budidaya. Pola ruang wilayah kabupaten merupakan gambaran
pemanfaatan ruang wilayah kabupaten, baik untuk pemanfaatan yang berfungsi lindung maupun budidaya. Pola
ruang wilayah kabupaten merupakan penjabaran lebih rinci dari Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional dan
Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi.
Berikut adalah penjelasan tentang Rencana Pola Ruang Wilayah Kabupaten Sarolangun berdasarkan
analisis yang sesuai dengan pedoman penyusunan RTRW Kabupaten. Pola pemanfaatan ruang yang akan
dikembangkann di Kabupaten Sarolangun dirumuskan berdasarkan pertimbangan :
1. Arahan pola pemanfaatan ruang berdasarkan rencana tata ruang wilayah Provinsi Jambi
2. Analisis daya dukung pengembangan wilayah, terutama daya dukung lahan untuk berbagai kegiatan budidaya
dan sumberdaya air.
3. Pengelolaan Kawasan Lindung berdasarkan Kepres Nomor 32 Tahun 1990
4. Penetapan status hutan berdasarkan SK Menteri Kehutanan.
5. Penggunaan lahan eksisting.
6. Konsep struktur tata ruang yang akan diterapkan.

Rencana pola ruang wilayah kabupaten, meliputi:


A. Rencana pola ruang kawasan lindung yang mencakup:
1) Kawasan hutan lindung;
2) Kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya, meliputi:
a) Kawasan bergambut; dan
b) Kawasan resapan air;
3) Kawasan perlindungan setempat, meliputi:
a) Sempadan sungai;
b) Kawasan sekitar danau atau waduk;
c) Kawasan sekitar mata air; dan
d) Kawasan lindung spiritual dan kearifan lokal lainnya.
4) Kawasan suaka alam, pelestarian alam, dan cagar budaya, meliputi:
a) Taman nasional;
b) Kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan.
5) Kawasan rawan bencana alam, meliputi:
a) Kawasan rawan tanah longsor; dan
b) Kawasan rawan gelombang pasang dan kawasan rawan banjir.
6) Kawasan lindung geologi, meliputi:
a) Kawasan cagar alam geologi; dan
b) Kawasan rawan bencana alam geologi dan kawasan yang memberikan perlindungan terhadap air
tanah.
7) Kawasan lindung lainnya, meliputi:
a) Cagar biosfer;
b) Ramsar;
c) Taman buru; dan
d) Kawasan perlindungan plasma-nutfah.
B. Rencana pola ruang kawasan budi daya meliputi :
1) Kawasan peruntukan hutan produksi, yang dirinci meliputi kawasan:
a) Peruntukan hutan produksi terbatas;
b) Peruntukan hutan produksi tetap.
2) Kawasan hutan rakyat;
3) Kawasan peruntukan pertanian, yang dirinci meliputi kawasan:
a) Peruntukan pertanian lahan basah;
b) Peruntukan pertanian lahan kering; dan
c) Peruntukan hortikultura.
4) Kawasan peruntukan perkebunan, yang dirinci berdasarkan jenis komoditas perkebunan yang ada di
wilayah kabupaten;
5) Kawasan peruntukan perikanan, yang dirinci meliputi kawasan:
a) Peruntukan perikanan tangkap;
b) Peruntukan budi daya perikanan; dan
c) Peruntukan kawasan pengolahan ikan.
6) Kawasan peruntukan pertambangan, yang dirinci meliputi kawasan:
a) Peruntukan mineral dan batubara;
b) Peruntukan minyak dan gas bumi;
c) Peruntukan panas bumi; dan
d) Peruntukan air tanah di kawasan pertambangan.
7) Kawasan peruntukan industri, yang dirinci meliputi kawasan:
a) Peruntukan industri besar;
b) Peruntukan industri sedang; dan
c) Peruntukan industri rumah tangga.
8) Kawasan peruntukan pariwisata, yang dirinci meliputi kawasan:
a) Peruntukan pariwisata budaya;
b) Peruntukan pariwisata alam; dan
c) Peruntukan pariwisata buatan.
9) Kawasan peruntukan permukiman, yang dirinci meliputi kawasan:
a) Peruntukan permukiman perkotaan; dan
b) Peruntukan permukiman perdesaan.
10) Kawasan peruntukan lainnya.
2.5 Sosial dan Budaya
Kondisi kinerja pembangunan bidang pendidikan selama 5 (lima) tahun terakhir mengalami perubahan
fluktuatif, angka partisipasi sekolah pendidikan dasar pada tahun 2008 sebesar 108,68 % menjadi 106,05 % pada
tahun 2010, pendidikan menengah pertama meningkat dari tahun 2008 sebesar 76,76 % menjadi 90,30 % pada
tahun 2010, pendidikan menengah atas meningkat dari tahun 2008 sebesar 43,12 % menjadi 53,76 % pada tahun
2010, rasio guru terhadap jumlah murid TK pada tahun 2010 sebesar 1:8, rasio guru terhadap jumlah murid SD/MI
pada tahun 2010 sebesar 1:14, rasio guru terhadap jumlah murid tingkat SMP/MTs pada tahun 2010 sebesar 1:7,
rasio guru terhadap jumlah murid tingkat SLTA pada tahun 2010 sebesar 1:9.
Sedangkan rasio ketersediaan sekolah terhadap penduduk usia sekolah Tingkat TK sebesar 144 pada
tahun 2006 menjadi 109 pada tahun 2010, Tingkat SD/MI sebesar 139 pada tahun 2006 menjadi 137 pada tahun
2010, Tingkat SMP/MTs sebesar 166 pada tahun 2006 menjadi 148 pada tahun 2010 dan Tingkat SMA/SMK/MA
sebesar 329 pada tahun 2006 menjadi 249 pada tahun 2010

Tabel 2.8: Fasilitas pendidikan yang tersedia di Kabupaten/Kota


Jumlah Sarana Pendidikan
Kecamatan
Umum Agama
SD SLTP SMA SMK MI MTs MA
Batang Asai 33 8 1 1 - 1 1
Pauh 17 6 1 3 1 2 2
Sarolangun 25 6 3 3 3 2 2
Bathin VIII 21 6 4 0 1 3 2
Mandiangin 31 10 2 5 1 5 3
Air Hitam 14 5 1 2 4 5 2
Limun 26 9 2 0 0 2 0
Cermin Nan Gedang 16 3 0 1 0 2 1
Pelawan 21 5 2 3 3 6 2
Singkut 15 6 3 3 2 7 6
Sumber Data Dinas Pendidikan Nasional tahun 2011
Penurunan jumlah penduduk miskin disebabkan optimal dan tepat sasaran dari pelaksanaan program
penanggulangan kemiskinan di Kabupaten Sarolangun antara lain bedah rumah, bantuan bibit karet dan sawit, dan
bantuan ternak yang di peruntukkan bagi KK Pra Sejahtera yang langsung memberi dampak/ menyentuh
masyarakat miskin. Ketepatan tersebut didukung oleh adanya identifikasi dan verifikasi berdasarkan indikator dan
kriteria kemiskinan yang disusun sesuai dengan kondisi lokalitas daerah yang semakin mendekati kenyataan.
Kedepan diperlukan upaya untuk melakukan unifikasi data kemiskinan agar proses percepatan penanggulangan
kemiskinan dapat dilakukan dengan tepat. Optimalisasi peran masyarakat dan pihak swasta untuk turut serta dalam
menyalurkan program Corpotate Social Responsibility (CSR) perlu didorong terus menerus.

Tabel 2.9: Jumlah Keluarga miskin (KK) per Kecamatan


Kecamatan Jumlah keluarga miskin (KK)
Batang Asai 1.004
Pauh 706
Sarolangun 571
Bathin VIII 661
Mandiangin 1.574
Air Hitam 1.081
Limun 419
Cermin Nan Gedang 373
Pelawan 795
Singkut 918
Jumlah 8.102
Sumber: Bappeda Kab. Sarolangun Tahun 2010
Tabel 2.10: Jumlah rumah per kecamatan
Kecamatan Jumlah Rumah
Batang Asai 3.144
Pauh 3.546
Sarolangun 11.654
Bathin VIII 2.986
Mandiangin 6.443
Air Hitam 1.845
Limun 5.210
Cermin Nan Gedang 1.524
Pelawan 2.845
Singkut 2.513
Sumber : Dinas Kesehatan Kab. Sarolangun Tahun 2011
2.6 Kelembagaan Pemerintah Daerah
Gambar 2.1: Struktur organisasi pemerintah daerah Kabupaten Sarolangun