Anda di halaman 1dari 10

Jurnal Ilmiah Plano Krisna Vol. 14 No.

2, Desember 2019 ISSN : 2302 - 9307

Analisis Penanganan Permukiman Kumuh (Studi Kasus Di Kelurahan


Kampung Melayu Kecamatan Jatinegara Jakarta Timur)

Dr. Ir. Budiyono S, M.Si1


Asep Suryana2

ABSTRAK

Pesatnya perkembangan perkotaan dengan segala aktifitasnya menjadi salah satu daya tarik
bagi penduduk desa untuk bermigrasi masuk kedalam perkotaan salah satunya adalah kota
Jakarta. Seiring dengan pertumbuhan yang disebabkan oleh faktor alamiah maupun adanya
migrasi penduduk menyebabkan kepadatan penduduk yang tinggi. Secara bersamaan
permintaan akan lahan permukiman juga semakin meningkat, sementara luas lahan perkotaan
secara administratif tetap, akibatnya harga lahan akan semakin meningkat. Kemampuan
ekonomi yang rendah bagi penduduk yang migrasi berdampak terjadinya pemadatan
bangunan permukiman pada suatu wilayah tertentu yang berakibat menurunnya kualitas
permukiman sehingga membentuk permukiman kumuh. Kelurahan Kampung Melayu sebagai
loaksi studi tentu tidak terlepas dari permasalahan ini. Oleh karena itu, dilakukan identifikasi
permukiman kumuh dengan tujuh indikator yaitu: Kondisi Bangunan, Kondisi Jalan
Lingkungan, Kondisi Drainase Lingkungan, Kondisi Penyediaan Air Minum, Kondisi
Pengelolaan Limbah, Kondisi Pengelolaan Persampahan dan Proteksi Kebakaran serta
Kondisi Kerawanan Bencana Banjir, kemudian diklasifikasikan berdasarkan tingkat
kekumuhan yakni, bukan permukiman kumuh, permukiman kumuh ringan, permukiman
kumuh sedang dan permukiman kumuh berat. Dari hasil penentuan lokasi permukiman
kumuh di Kelurahan Kampung Melayu tepatnya RW 08 sebagai sample wilayah, kemudian
dilakukan analisis terhadap setiap kualitas permukiman penyebab kekumuhan dengan
menggunakan indikator-indikator. Metode skoring digunakan dalam penelitian ini untuk
mengidentifikasi permukiman kumuh. Hasil penelitian ini menunjukan di RW 08 Kelurahan
Kampung Melayu menghasilkan dua klasifikasi tingkat kekumuhan, 13 RT termasuk dalam
kawasan kumuh sedang dengan luas total wilayah permukiman 5,05 Ha dan 3 RT termasuk
dalam kumuh berat dengan luas total wlayah 0,95 Ha. Hasil analisis indikator, terdapat empat
indikator menjadi penyebab kekumuhan terbanyak yaitu: Kondisi Bangunan, Drainase
Lingkungan, Pengelolaan Persampahan dan Proteksi Kebakaran. Hail ini dikarenakan masih
belum terpenuhinya standar yang berlaku dan penurunan tingkat kualitas sarana dan
prasarana yang menunjang indkator tersebut. Hasil dari penenlitian ini adalah peta klasifikasi
permukiman kumuh di RW 08 Kelurahan Kampung Melayu.

Kata Kunci: Analisis Penanganan, Permukiman Kumuh

1. Pendahuluan bermigrasi masuk ke dalam perkotaan


Pesatnya perkembangan perkotaan salah satunya adalah kota Jakarta, tentu hal
dengan segala aktifitasnya menjadi salah ini akan berakibat terkonsentrasinya
satu daya tarik bagi penduduk di daerah penduduk di perkotaan. Seiring dengan
pedesaan untuk berbondong-bondong pertumbuhan penduduk yang disebabkan
oleh faktor alamiah maupun adanya
_________________________ migrasi penduduk ke daerah perkotaan.
1 Dosen tetap Prodi Teknik PWK Unkris Permintaan akan lahan untuk permukiman
2 Mahasiswa Prodi Teknik PWK Unkris

54
Jurnal Ilmiah Plano Krisna Vol. 14 No. 2, Desember 2019 ISSN : 2302 - 9307

juga semakin meningkat, sementara luas Sedangkan luas RW 08 adalah 5,98 Ha dan
lahan perkotaan secara administratif tetap, jumlah penduduk 4.125 jiwa.
akibatnya harga lahan akan semakin Dengan luas wilayah kelurahan
meningkat. Bagi penduduk yang migrasi sebesar 47, 83 km2 dan memiliki jumlah
dengan kemampuan ekonomi rendah, penduduk 30,845 jiwa tahun 2018 dengan
memiliki rumah di daerah perkotaan jumlah kepala keluarga 10,017, terdiri atas
menjadi suatu hal yang mustahil. Dampak 9 RW atau 106 RT.
selanjutnya adalah terjadinya pemadatan Batas Administratif Kelurahan Kampung
bangunan permukiman pada suatu wilayah Melayu, yaitu:
tertentu yang berakibat menurunnya a. Sebelah utara: Rel Kereta Api
kualitas permukiman. Dengan demikian di Kelurahan Kebon Manggis.
daerah perkotaan akan timbul daerah- b. Sebelah timur: Jl. Jatinegara
daerah permukiman yang kurang layak Barat, dan Jl. Matraman Raya,
huni dan sangat padat, hal ini akan Kelurahan Bali Mester.
berakibat pada kondisi lingkungan c. Sebelah selatan: Jl. Kampung
permukiman yang buruk, yang selanjutnya Melayu Kecil, Kelurahan Bidara
disebut sebagai daerah kumuh (Hadi Cina.
Sabari, 2017). d. Sebelah barat: Jl. Sungai
Kelurahan Kampung Melayu Ciliwung, Kelurahan Bukit Duri
mempunyai luas wilayah sebesar 47,83 Ha
dengan jumlah penduduk 30.845 jiwa.
Berdasarkan luas wilayah dan jumlah
penduduk tersebut, maka tingkat
kepadatan penduduk Kelurahan Kampung
Melayu rata – rata adalah 644 jiwa/ha
(Kelurahan Kampung Melayu, 2018),
maka dapat disimpulkan bahwa penduduk
Kelurahan Kampung Melayu sangat padat.
Pada penelitian ini dilakukan
identifikasi dan klasifikasi tingkat
Gambar 1. Administras Kelurahan Kampung
kekumuhan dengan menganalisis
Melayu
parameter-parameter yang penyebab
permukiman kumuh di Kelurahan
Kampung Melayu sebagai sampel adalah
RW 08. Dalam menentukan identifikasi
permukiman kumuh dilakukan dengan
menentukan prioritas kriteria-kriteria yang
berpengaruh terhadap kekumuhan
menggunakan tujuh parameter pemukiman
kumuh yaitu Direktorat Pengembangan
Permukiman Pemukiman, 2016.

II. METODOLOGI PENELITIAN


Gambar 2. Administrasi RW 08 Kelurahan
A. Lokasi Penelitian Kampung Melayu
Lokasi penelitian di Rukun Warga 08
Kelurahan Kampung Melayu merupakan B. Metodologi Penelitian
salah satu Rukun Warga yang berada 1. Data & Peralatan
Kelurahan Kampung Mlayu Kecamatan Data yang digunakan dalam
Jatinegara Kotamadya Jakarta Timur. penelitian tugas akhir ini yaitu:
a. Data Primer

55
Jurnal Ilmiah Plano Krisna Vol. 14 No. 2, Desember 2019 ISSN : 2302 - 9307

- Kuisioner responden Tidak


b. Data Sekunder Terpeliharanya
- Peta Batas Administrasi Sarana Dan
- Peta Rencana Detail Tata Kondisi Prasarana
Ruang 6 Pengelolaan Sistem
Persampahan Pengelolaan
- Batas RT dan RW Kelurahan
Persampahan
Kampung Melayu Tidak Sesuai
c. Survey dan Observasi Standar Teknis
Peralatan yang digunakan Ketidaktersediaan
penelitian tugas akhir ini antara Prasarana
lain: Kondisi Proteksi
- Laptop untuk pengolahan 7 Proteksi Kebakaran
dalam data, analisa data hasil Kebakaran Ketidaktersediaan
pengolahan, dan penulisan Sarana Proteksi
laporan. Kebakaran
- Perangkat lunak pengolah
Data dan Kata Sumber: Direktorat Pengembangan Kawasan
Permukiman,Kementerian Pekerjaan
- Perangkat lunak pengolah Umum dan Perumahan Rakyat, 2016
Data Spasial.
2. Identifikasi dan Tipologi
Tabel 1. Kriteria-kriteria Kumuh Permukiman Kumuh
Dilakukan pembobotan pada kriteria-
No. Indikator Sub Indikator kriteria berdasarkan skala penilaian
yang mempengaruhi permukiman
Ketidakteraturan
Bangunan permukiman kumuh. Kemudian
dengan menggunakan metode skoring
Kepadatan dilakukan analisis hingga
Kondisi Bangunan
1 menghasilkan klasifikasi tingkat
Bangunan Ketidaksesuaian permukiman kumuh tiap RT. Tipologi
Dengan permukiman kumuh akan memberikan
Persyaratan
kategori permukiman tersebut, dimana
Teknis
Cakupan
terdiri dari permukiman kumuh di atas
Kondisi Jalan Pelayanan air, di tepi air, di dataran rendah, di
2 perbukitan atau di daerah rawan
Lingkungan Kondisi
Permukaan bencana. Berikut ini merupakan
Ketersediaan kriteria-kriteria pada setiap parameter
Akses Air Minum kekumuhan yang dapat dilihat pada
Kondisi Tabel 1.
3 Penyediaan Air Tidak
Minum Terpenuhinya
Kebutuhan Air Dari adanya sub krietria setiap
Minum parameter pada Tabel 1, langkah
Kondisi Cakupan selanjutnya adalah sebagai berikut:
4 Drainase Pelayanan a. Pemberian skor setiap sub kriteria,
Lingkungan Kondisi Drainase berdasarkan parameter penilaian:
Cakupan - Kualitas Parameter 0% - 25% :
Kondisi Pelayanan Skor 0
5 Pengelolaan Kondisi - Kualitas Parameter 26% - 50% :
Air Limbah Pengelolaan Air Skor 1
Limbah - Kualitas Parameter 51% - 75% :
Skor 3

56
Jurnal Ilmiah Plano Krisna Vol. 14 No. 2, Desember 2019 ISSN : 2302 - 9307

- Kualitas Parameter 76% - 100% : permukiman kumuh berdasarkan hasil


Skor 5 survei dan orientasi lapangan yang dapat
b. Perhitungan total penilaian setiap dilihat pada Tabel 2.
parameter didekati dengan
menggunakan rumus sebagai
berikut:

Si = Σ𝐵𝑖/ΣP
Tabel 2. Klasifikasi Tingkat Kekumuhan
Keterangan: RW RT
TOTAL LUAS TINGKAT
Si = Total Skor pada Setiap NILAI (HA) KLASIFIKASI
Indikator 8 1 22,25 0,56 Kumuh Sedang
Bi = Skor Sub Kriteria
P = Jumlah Sub Kriteria 8 2 22,25 0,41 Kumuh Sedang

c. Klasifikasi Permukiman Kumuh 8 3 26,25 0,53 Kumuh Sedang


Berikut merupakan rentang nilai
tingkat klasifikasi yang didapatkan 8 4 26,25 0,54 Kumuh Sedang
untuk setiap kelas yakni:
 Bukan Permukiman Kumuh : 0 8 5 23,75 0,22 Kumuh Sedang
– 8,75
8 6 27 0,45 Kumuh Berat
 Permukiman Kumuh Ringan :
8,76 – 17,50 8 7 19,75 0,26 Kumuh Sedang
 Permukiman Kumuh Sedang :
17,51 – 26,25 8 8 19,75 0,36 Kumuh Sedang
 Permukiman Kumuh Berat :
26,26 – 35 8 9 22,25 0,29 Kumuh Sedang

3. Analisis Indikator Penyebab 8 10 26,25 0,29 Kumuh Sedang
Permukiman Kumuh
8 11 24,25 0,38 Kumuh Sedang
Berikut ini merupakan nilai klasifikasi
untuk setiap tingkat kualitas parameter 8 12 24,25 0,42 Kumuh Sedang
permukiman kumuh yakni:
a) Kelas 1 (Baik) : 0 – 0,5
8 13 26,25 0,27 Kumuh Sedang
b) Kelas 2 (Sedang) : 0,51 – 2
c) Kelas 3 (Buruk) : 2,01 – 4 8 14 26,75 0,20 Kumuh Berat

d) Kelas 4 (Sangat Buruk) : 4,01 – 5 8 15 27 0,48 Kumuh Berat


e)
8 16 26,26 0,29 Kumuh Sedang
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
Sumber: Hasil Analisis, 2019
A. Klasifikasi dan Tipologi Permukiman
Dari hasil penjumlahan total skor
Kumuh
setiap indikator yang kemudian dibagi
Dari hasil pengolahan menggunakan
berdasarkan empat klasifikasi yakni: bukan
metode pembobotan setiap kriteria,
kawasan kumuh, kawasan kumuh ringan,
kemudian dijumlahkan untuk mendapatkan
kawasan kumuh sedang dan kawasan
tingkat kekumuhan yang kemudian dibagi
kumuh berat. Kemudian diperoleh hasil
berdasarkan empat klasifikasi. Berikut ini
klasifikasi tingkat dari 16 RT di Rukun
hasil tingkat kekumuhan beserta tipologi

57
Jurnal Ilmiah Plano Krisna Vol. 14 No. 2, Desember 2019 ISSN : 2302 - 9307

Warga 08 Kelurahan Kampung Melayu hasil survei dan observasi lapangan beserta
teridentifikasi kawasan kumuh sedang kesesuaian dengan rencana tata ruang pada
dengan luas total wilayah permukiman Ha wilayah Kelurahan Kampung Melayu.
dan 14 lokasi sisanya terindikasi bukan
kawasan kumuh dengan luas total
permukiman Ha, dengan kondisi tipologi
kawasan kumuh, yaitu:
a. Kumuh di tepi air: RT 03, RT 04, Tabel 3 Identifikasi Legalitas Lahan
RT 05, RT 06, RT 10, RT 13, RT
14 dan RT 15. Kesesuaian
b. Kumuh di daerah rawan banjir: RT Legalitas dengan
RW RT
03, RT, 04, RT 05, RT 06, RT 10, Lahan Tata
RT 11, RT 12, RT 13, RT 14 dan Ruang
RT 15. 8 1 Legal Sesuai
c. Kumuh di dataran rendah: RT 01 –
16. 8 2 Legal Sesuai
Legal
Sesuai dan
dan
8 3 Tidak
Tidak
Sesuai
Legal
Legal
Sesuai dan
dan
8 4 Tidak
Tidak
Sesuai
Legal
Legal
Sesuai dan
dan
8 5 Tidak
Tidak
Gambar 3. Peta Klasifikasi Tingkat Kekumuhan Sesuai
Legal
Legal
Sesuai dan
dan
B. Analisis Sebaran Kawasan Kumuh 8 6 Tidak
Tidak
Dari hasil klasifikasi tingkat Sesuai
Legal
kekumuhan setiap RT yang kemudian
dilakukan analisis untuk mengetahui 8 7 Legal Sesuai
sebaran kawasan kumuh secara spasial.
Pola sebaran kawasan kumuh di lokasi 8 8 Legal Sesuai
penelitian menunjukan pola tersebar atau
menyebar ke seluruh wilayah RW 08 dan 8 9 Legal Sesuai
memanjang mengikuti aliran sungai Ci Legal
Liwung serta dijadikan permukiman dan Sesuai dan
dan
setelah diidentifikasi yakni permukiman 8 10 Tidak
Tidak
kumuh. Dilihat dari hasil pemetaan kawasan Sesuai
Legal
kumuh dengan tingkat kekumuhan setiap
lokasi, kawasan kumuh sedang berada pada 8 11 Legal Sesuai
dataran rendah dan kawasan kumuh berat
berada memanjang mengikuti aliran sungai Ci 8 12 Legal Sesuai
Liwung.
C. Hasil Identifikasi Legalitas Lahan Legal Sesuai dan
Berikut ini merupakan hasil 8 13 dan Tidak
identifikasi legalitas lahan berdasarkan Tidak Sesuai

58
Jurnal Ilmiah Plano Krisna Vol. 14 No. 2, Desember 2019 ISSN : 2302 - 9307

Kesesuaian
Legalitas dengan
RW RT
Lahan Tata
Ruang
Legal Tabel 4. Indikator Penyebab Kekumuhan di
RW 08 Kampung Melayu
Legal
Sesuai dan
dan Indikator Konsep &
8 14 Tidak
Tidak RW RT Penyebab Strategi
Sesuai
Legal Kekumuhan Penanganan
Legal
Sesuai dan
dan Drainase
8 15 Tidak
Tidak Lingkungan,
Sesuai
Legal Pengelolaan
8 16 Legal Sesuai 8 1 Peremajaan
Persampahan
Sumber: Hasil Analisis, 2019 & Proteksi
Kebakaran

Drainase
Lingkungan,
Pengelolaan
8 2 Peremajaan
Persampahan
& Proteksi
Kebakaran

Kondisi
Bangunan,
Drainase
Permukiman
Gambar 4. Peta Legalitas Lahan RW 08 Lingkungan,
8 3 kembali &
Pengelolaan
D. Konsep dan Strategi Penanganan Peremajaan
Persampahan
Permukiman Kumuh & Proteksi
Kebakaran
Berdasarkan hasil klasifikasi tingkat
kekumuhan dan identifikasi legalitas
Kondisi
lahan pada setiap lokasi,
Bangunan,
menghasilkan konsep dan strategi
Drainase
penanganan untuk setiap kawasan Permukiman
Lingkungan,
permukiman kumuh. Berikut ini 8 4 kembali &
Pengelolaan
merupakan hasil penyusunan konsep Peremajaan
Persampahan
dan strategi penanganan terhadap
& Proteksi
permukiman kumuh beserta
Kebakaran
permasalahan penyebab kekumuhan,
yang dapat dilihat dari hasil skoring
indikator pada setiap Rukun Tetangga
pada RW 08 Kelurahan Kampung
Melayu dapat dilihat pada tabel di
bawah ini.

59
Jurnal Ilmiah Plano Krisna Vol. 14 No. 2, Desember 2019 ISSN : 2302 - 9307

Indikator Konsep & Indikator Konsep &


RW RT Penyebab Strategi RW RT Penyebab Strategi
Kekumuhan Penanganan Kekumuhan Penanganan

Kondisi Kondisi
Bangunan, Bangunan,
Permukiman
Pengelolaan Drainase
8 5 kembali & Permukiman
Persampahan Lingkungan,
Peremajaan 8 10 kembali &
& Proteksi Pengelolaan
Kebakaran Peremajaan
Persampahan
& Proteksi
Kondisi Kebakaran
Bangunan,
Drainase Drainase
Permukiman
Lingkungan, Lingkungan,
8 6 kembali &
Pengelolaan Pengelolaan
Peremajaan 8 11 Peremajaan
Persampahan Persampahan
& Proteksi & Proteksi
Kebakaran Kebakaran
Drainase
Kondisi
Lingkungan,
Bangunan,
Pengelolaan
Pengelolaan 8 12 Peremajaan
8 7 Peremajaan Persampahan
Persampahan
& Proteksi
& Proteksi
Kebakaran
Kebakaran
Kondisi
Kondisi Bangunan,
Bangunan, Drainase
Pengelolaan Permukiman
8 8 Peremajaan Lingkungan,
Persampahan 8 13 kembali &
Pengelolaan
& Proteksi Peremajaan
Persampahan
Kebakaran & Proteksi
Kebakaran
Drainase
Lingkungan,
Kondisi
Pengelolaan
8 9 Peremajaan Bangunan,
Persampahan
Drainase
& Proteksi Permukiman
Lingkungan,
Kebakaran 8 14 kembali &
Pengelolaan
Peremajaan
Persampahan
& Proteksi
Kebakaran

60
Jurnal Ilmiah Plano Krisna Vol. 14 No. 2, Desember 2019 ISSN : 2302 - 9307

drainase. Sedangkan untuk


Indikator Konsep & pengelolaan air limbah perlu adanya
RW RT Penyebab Strategi himbauan untuk melakukan
Kekumuhan Penanganan pembersihan air limbah dengan
penyedotan rutin air limbah.
Kondisi b. Penanganan secara Peremajaan dan
Bangunan, Permukiman Kembali: 8 RT ( RT
Drainase 03, RT 04, RT 05, RT 06, RT 10, RT
Permukiman
Lingkungan, 13, RT 14 & RT 15) proses
8 15 kembali &
Pengelolaan peremajaan sama seperti uraian
Peremajaan
Persampahan sebelumnya dan sebagian wilayah
& Proteksi sebaiknya dilakukan relokasi
Kebakaran (permukiman kembali), hal ini
dikarenakan status lahan tidak legal
Drainase dan ketidaksesuaian dengan RDTR
Lingkungan, yang dalam arahan pengembangan
Pengelolaan adalah Pengadaan Jalan untuk daerah
8 16 Peremajaan
Persampahan sempadan sungai atau normalisasi
& Proteksi sungai Ci Liwung.
Kebakaran c. Terkait dengan proteksi kebakaran
Sumber: Hasil Analisis, 2019 semua RT masih bergantung pada
usaha gotong royong warga apabila
Dari hasil identifikasi permukiman terjadi kebakaran dengan
kumuh, klasifikasi tingkat kekumuhan dan memanfaatkan air di Sungai Ci
identifikasi legalitas lahan pada lokasi Liwung dan menggunakan selang
penelitian, diperoleh hasil konsep dan untuk mengantisipasi kebakaran,
strategi penanganan untuk setiap kawasan tentu hal ini tidak sesuai ketentuan,
permukiman yang secara rinci yaitu: minimal perlu disediakannya hidran
lingkungan pada setiap RT karena
a. Penanganan secara Peremajaan: 8 akses kendaraan pemadam
RT (RT 01, RT 02, RT 09, RT 11, kebakaran terkendala akibat dari
RT 12 & RT 16) harus dilakukan jalan lingkungan yang tidak bisa
perbaikan kondisi bangunan dengan diakses kendaraan roda empat.
melakukan peningkatan mutu d. Wilayah permukiman kumuh yang
kualitas bangunan kondisi semi menjadi prioritas adalah RT 06, RT
permanen menjadi bangunan 14 & RT 15 dari hasil identifikasi
permanen, perbaikan fisik saluran dan klasifikasi kekumuhan
drainase agar tidak tersumbat kecuali menunjukan wilayah ini termasuk
RT05, RT 07 dan RT 08 karena dalam Kumuh Berat. Selain akibat
saluran drainase sudah dilakukan dari indikator kondisi bangunan yang
perbaikan fisik atau dibetonisasi dan berada di bantaran Sungai Ci
pelebaran. Sistem pengelolaan Liwung, kondisi drainase
sampah pada setiap RT kondisinya lingkungan, pengelolaan limbah,
sangat buruk, perlu disedikan tempat pengelolaan persampahan, proteksi
sampah pribadi atau umum dan kebakaran dan ditambah rawan
gerobak sampah untuk mengakut bencana banjir setiap musim
sampah setiap hari dengan penghujan atau banjir kiriman dari
diberdayakan petugas PPSU agar hulu.
para warga tidak lagi membuang
sampah ke sungai atau ke saluran

61
Jurnal Ilmiah Plano Krisna Vol. 14 No. 2, Desember 2019 ISSN : 2302 - 9307

memanjang mengikuti aliran sungai


Ci Liwung.
c. Dari hasil penentapan lokasi
kawasan kumuh, maka konsep dan
strategi penanganan yang
dihasilkan adalah sebagai berikut:
- Penanganan Pemugaran: 8 RT
dengan luas permukiman 3,07
Ha.
- Penanganan Pemugaran dan
Permukiman Kembali: 8 RT
Gambar 4. Peta Konsep dam Strategi Penanganan dengan luas permukiman 2,91
Permukiman Kumuh RW 08 Ha.
B. Saran
IV. KESIMPULAN DAN SARAN Untuk tindak lanjut dari langkah
penanganan permukiman kumuh, maka hal
A. Kesimpulan yang perlu dilakukan pada kawasan studi
Berdasarkan hasil identifikasi adalah:
permukiman kumuh dan uraian di atas
pada lokasi studi, maka di dapatkan a. Kawasan Kelurahan Kampung
kesimpulan sebagai berikut: Melayu dalam hal ini RW 08
sebagai sample penelitian termasuk
a. Dari hasil identifikasi pada lokasi dalam kategori kawasan yang
studi menghasilkan dua tingkat memiliki tingkat kekumuhan
kekumuhan di RW 08 Kelurahan sedang dan berat. Perlu dilakukan
Kampung Melayu yaitu, 13 RT penataan kawasan Kelurahan
termasuk dalam kawasan kumuh Kampung Melayu menjadi
sedang dengan luas total wilayah permukiman yang layak huni
permukiman 5,05 Ha disebabkan sehingga kualitas kawasan dan
oleh kondisi kualitas drainase yang kualitas hidup warga yang tinggal
tidak mampu menampung aliran air di dalamnya meningkat.
atau tersumbat, buruknya b. Dalam penanganan Jangka waktu
pengelolaan persampahan yakni pendek & sedang diperlukan
warga membuang sampah di sungai peningkatan atau perbaikan kualitas
Ci Liwung dan proteksi kebakaran tiap indikator yang belum
yang tidak sesuai ketentuan dan 3 memenuhi standar kelayakan.
RT termasuk dalam kumuh berat Contoh program perbaikan
dengan luas total wiayah 0,95 Ha, kampung melalui penataan
disebabkan oleh kondisi bangunan, lingkungan dan peningkatan
kondisi drainase lingkungan, kualitas serta penyediaan prasarana
pengelolaan persampahan, proteksi dasar.
kebakaran dan rawan bencana c. Dalam penanganan jangka waktu
banjir. panjang perlu diadakan
b. Untuk pola sebaran kawasan Permukiman kembali dengan
kumuh secara spasial di lokasi pembangunan Rumah Susun atau
permukiman RW 08 Kelurahan rumah susun sewa (Vertikal)
Kampung Melayu menunjukan seperti yang sudah terjadi pada
pola tersebar atau menyebar ke Kampung Pulo dalam program
seluruh wilayah RW 08 dan normalisasi sungai Ci Liwung
dengan merelokasi rumah warga

62
Jurnal Ilmiah Plano Krisna Vol. 14 No. 2, Desember 2019 ISSN : 2302 - 9307

yang berada di bantaran sungai ke


Rumah Susun sewa Jatinegara.
d. Pemerintah harus melakukan
sosialisasi dampak buruk dan
berkepanjangan dari permukiman
kumuh dan meminta agar warga
bekerja sama dalam proses
penanganan permukiman kumuh
ini.
DAFTAR PUSTAKA

Hadi, Sabari. 2017. “Slum” Kajian


Permukiman Kumuh dalam
Perspektif Spasial.
Yogyakarta: Media Perkasa

Laporan Tahunan Pelaksanaan Kegiatan


Kelurahan Kampung Melayu 2018

Prayitno, Budi. 2016. Skema inovatif


Penanganan Permukiman
Kumuh. Yogyakarta: UGM
Press

Peraturan Gubernur Provinsi Daerah


Khusus Ibukota Jakarta No. 90
Tahun 2018 Tentang
Peningkatan Kualitas
Permukiman Dalam Rangka
Penataan Kawasan
Permukiman Terpadu

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum


Perumahan Rakyat
No.02/PRT/M/2016 Tentang
Peningkatan Kualitas Terhadap
Perumahan Kumuh dan
Permukiman kumuh

Rencana Detail Tata Ruang Kecamatan


Jatinegara 2014

Undang Undang Republik Indonesia No.


01 Tahun 2011 Tentang
Perumahan dan Permukiman

63