Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PENDAHULUAN

DIABETES MELITUS

IDA SILVANA DEWI 1814201110030

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN A


FAKULTAS KEPERAWATAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BANJARMASIN
2019/2020
DIABETES MELITUS
A. Pengertian Penyakit
Diabetes mellitus adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang yang
disebabkan oleh adanya peningkatan kadar gula (glukosa) darah akibat kekurangan
insulin baik absolut maupun relatif (Tjokronegoro, 2002)
Diabetes mellitus adalah penyakit metabolik yang kebanyakan herediter, dengan tanda-
tanda hiperglikemia dan glukosuria, disertai dengan atau tidak adanya gejala klinik akut
maupun kronik, sebagai akibat dari kurangnya insulin efektif di dalam tubuh. Gangguan
primer terletak pada metabolisme karbohidrat yang biasanya disertai juga gangguan
metabolisme lemak dan protein (Askandar, 2000)
B. Anatomi Fisiologi
Pankreas merupakan sekumpulan kelenjar yang panjangnya kira-kira 15 cm,
lebar 5 cm, mulai dari duodenum hingga limpa, dan beratnya rata-rata 60-90 gram.
Terbentang pada vertebrata lumbalis 1 dan 2 di belakang lambung. Pankreas merupakan
kelenjar endokrin terbesar yang terdapat di dalam tubuh baik hewan maupun manusia.
Bagian depan (kepala) kelenjar pankreas terletak pada lekukan yang dibentuk oleh
duodenum dan bagian pilorus dari lambung. Bagian badan yang merupakan bagian
utama dari organ ini merentang ke arah limpa dengan bagian ekornya menyentuh atau
terletak pada alat ini. Dari segi perkembangan embriologis, kelenjar pankreas terbentuk
dari epitel yang berasal dari lapisan epitel yang membentuk usus. Pankreas terdiri dari
dua jaringan utama, yaitu asini sekresi getah pencernaan ke dalam duodenum dan pulau
Langerhans yang tidak mengeluarkan sekretnya keluar, tetapi menyekresikan insulin
dan glucagon langsung ke darah.
Pulau-pulau Langerhans yang menjadi sistem endokrinologis dari pankreas
tersebar di seluruh pankreas dengan berat hanya 1-3% dari berat total pankreas. Pulau
Langerhans berbentuk ovoid dengan besar masing-masing pulau berbeda. Besar pulau
Langerhans yang terkecil 50µ, yang terbesar 300µ, sedangkan terbanyak adalah yang
besarnya 100-225µ. Jumlah semua pulau Langerhans diperkirakan antara 1-2 juta.
Pulau Langerhans manusia mengandung tiga jenis sel utama, yaitu (1) sel-sel A (alpha)
dengan jumlah sekitar 20-40%, yang memproduksi glikagon yang menjadi faktor
hiperglikemik, yakni suatu hormone yang mempunyai “anti insulin like activity”; (2)
sel-sel B (beta), dengan jumlah sekitar 60-80%, yang membuat insulin; (3) sel-sel D
(delta), yang jumlahnya sekita 5-15%, serta membuat somatostatin. Masing-masing sel
tersebut dapat dibedakan berdasarkan struktur dan sifat pewarnaan. Di bawah
mikroskop, pulau-pulau Langerhans ini tampak berwarna pucat dan banyak megandung
pembuluh darah kapiler. Pada penderita DM, sel beta ada tetapi berbeda dengan sel beta
yang normal yakni sel beta tidak menunjukkan reaksi pewarnaan untuk insulin sehinga
dianggap tidak berfungsi.
Insulin merupakan protein kecil dengan berat molekul 5808 untuk insulin
manusia. Molekul insulin terdiri atas dua rantai polipeptida yang tidak sama, yaitu
rantai A dan B. kedua rantai ini dihubungkan oleh dua jembatan (perangkai), yang
terdiri atas disulfida. Rantai A terdiri atas 21 asam amino dan rantai B terdiri atas 30
asam amino. Insulin dapat larut pada pH 4-7 dengan titik isoelektrik pada 5,3. Sebelum
insulin dapat berfungsi, ia harus berikatan dengan protein reseptor yang besar di dalam
membran sel. Insulin disintesis sel beta pankreas dari proinsulin dan disimpan dalam
butiran berselaput yang berasal dari kompleks Golgi. Pengaturan sekresi insulin
dipengaruhi efek umpan balik kadar glukosa darah pada pankreas. Bila kadar glukosa
darah meningkat di atas 100mg/100ml darah, sekresi insulin meningkat cepat. Bila
kadar glukosa normal atau rendah, produksi insulin akan menurun. Selain kadar glukosa
darah, faktor lain seperti asam amino, asam lemak dan hormone gastrointestinal
merangsang sekresi insulin dalam derajat berbeda-beda. Fungsi metabolisme utama
insulin untuk meingkatkan kecepatan transpor glukosa melalui membran sel ke jaringan
terutama sel-sel otot, fibroblas dan sel lemak.
C. Etiologi
Umumnya diabetes mellitus disebabkan oleh rusaknya sebagian kecil atau
sebagian besar dari sel-sel beta dari pulau-pulau Langerhans pada pankreas yang
berfungsi menghasilkan insulin, yang akibatnya terjadi kekurangan insulin.
Di samping itu, diabetes mellitus juga dapat terjadi karena gangguan terhadap
fungsi insulin dalam memasukkan glukosa ke dalam sel. Gangguan itu dapat terjadi
karena kegemukan atau sebab lain yang belum diketahui. DM mempunyai etiologi yang
heterogen, yakni berbagai lesi dapat menyebabkan insufisiensi insulin, tetapi
determinan genetik biasanya memegang peranan penting pada mayoritas DM. Faktor
lain yang dianggap sebagai kemungkinan etiologi DM yaitu sebagai berikut :
1. Kelainan sel beta pankreas, berkisar dari hilangnya sel beta sampai kegagalan sel
beta melepas insulin.
2. Faktor-faktor lingkungan yang mengubah fungsi sel beta, antara lain agen yang
dapat menimbulkan infeksi, diet pemasukan karbohidrat dan gula yang diproses
secara berlebihan, serta obesitas dan kehamilan.
3. Gangguan sistem imunitas. Sistem ini dapat dilakukan oleh autoimunitas yang
disertai pembentukan sel-sel antibodi antipankreatik dan mengakibatkan kerusakan
sel-sel penyekresi insulin, kemudian peningkatan kepekaan sel beta oleh virus.
4. Kelainan insulin. Pada klien obesitas, terjadi gangguan kepekaan jaringan terhadap
insulin akibat kurangnya reseptor insulin yang terdapat pada membran sel yang
responsif terhadap insulin.
Tingkat kadar glukosa darah, menentukan apakah seseorang menderita DM atau
tidak.

Tabel Kriteria DM

Bukan DM Puasa Vena <100 2 jam PP -


Kapiler <80
Gangguan toleransi Puasa Vena 100-140 2 jam PP Vena 100-140
glukosa Kapiler 80- Kapiler 80-
120 120
DM Puasa Vena >140 2 jam PP Vena >200
Kapiler >120 Kapiler >200

Jenis diabetes mellitus berdasarkan sifatnya adalah sebagai berikut :

1. Diabetes mellitus bergantung insulin.


2. Diabetes mellitus tidak bergantung insulin, terdiri atas penderita gemuk dan
kurus.
3. Diabetes mellitus terkait malnutrisi.

D. Tanda dan Gejala


Tiga gejala klasik yang diaami penderita diabetes yaitu banyak minum, banyak kencing,
berat badan turun. Pada awalnya, kadang-kadang berat badan penderita diabetes naik
yang disebabkan kadar gula tinggi dalam tubuh. Oleh karenanya, perlu waspada apabila
keinginan minum terlalu berlebihan dan meras ingin makan terus. Berat badan yang
pada awalnya terus melejit naik lalu tiba-tiba turun terus tanpa diet. Gejala lain adalah
gangguan saraf tepi berupa kesemutan terutama di malam hari, gangguan penglihatan,
gatal di daerah kemaluan atau lipatan kulit, bisul atau luka yang lama sembuh,
gangguan ereksi pada pria, serta keputihan pada perempuan. Pada tahap awal gejala
umumnya ringan sehingga tidak dirasakan, baru diketahui setelah adanya pemeriksaan
laboratorium. Padatahap lanjut gejala yang muncul sebagai berikut :
1. Rasa haus
2. Banyak kencing
3. Berat badan turun
4. Rasa lapar
5. Badan lemas
6. Rasa gatal
7. Kesemutan
8. Mata kabur
9. Kulit kering
10. Gairah seks lemah
E. Patofisiologis
Sebagian besar gambaran patologik dari DM dapat dihubungkan dengan salah satu efek
utama akibat kurangnya insulin, sebagai berikut :
1. Berkurangnya pemakaian glukosa oleh sel-sel tubuh yang mengakibatkan naiknya
konsentrasi glukosa darah setinggi 300-1200mg/dl
2. Peningkatan mobilisasi lemak dari daerah penyimpanan lemak yang menyebabkan
terjadinya metabolisme lemak yang abnormal disertai dengan endapan kolesterol
dinding pembuluh darah.
3. Berkurangnya protein dalam jaringan tubuh

Klien yang mengalami defisiensi insulin tidka dapat mempertahankan kadar glukosa
plasma puasa yang normal atau toleransi sesudah makan. Pada hiperglikemia yang
parah yang melebihi ambang ginjal normal (konsentrasi glukosa darah sebesar 160-
180/100ml), akan timbul glikusoria karena tubulus-tubulus renalos tidak dapat
menyerap kembali semua glukosa. Glukosuria ini akan mengakibatkan diuresis osmotik
yang menyebabkan poliuri disertai kehilangan sodium, klorida, potassium, dan fosfat.
Adanya poliursi menyebabkan dehidrasi dan timbul polidipsi. Akibat glukosa yang
keluar bersama urine maka klien akan mengalami keseimbangan protein negatif dan
berat badan menurun serta cenderung terjadi polifagi. Akibat yang lain adalah asthenia
atau kekurangan energi sehingga klien menjadi cepat lelah dan mengantuk yang
disebabkan oleh berkudangnya atau hilangnya protein tubuh dan juga berkurangnya
penggunaan karbohidrat untuk energi.

Hiperglikemia yang lama akan menyebabkan aterosklerosis, penebalan membran


basalis, dan perubahan pada saraf perifer. Ini akan memudahkan terjadinya gangren.

F. Pathway
Defisiensi
insulin

Berkurangnya penggunaan Peningkatan


glukosa oleh sel-sel tubuh glukagon

Hiperglikemia Glukoneogenesis

Glycosuria
Protein Lemak
Kekurangan
Osmotik diuresis
vol. cairan BUN Ketogenesis

Dehidrasi
Nitrogen urine Ketonemia

Hemokonsentrasi
Asidosis pH

Hemokonsentrasi
- Koma Mual-muntah
- Kematian
Trombosis
Resti
Asterosklerosis gangguan
nutrisi
kurang dari
Makrovaskuler Mikrovaskuler kebutuhan

Makrovaskuler Mikrovaskuler

Jantung Serebral Ekstremitas Retina Ginjal

Miokard Stroke Gangren Retinotpati Nefropati


Infark diabetik
Gangguan Gagal
integritas kulit ginjal
Gangguan
penglihatan

Resiko
cedera

G. Penatalaksanaan
a. Medis
Tujuan utama terapi DM adalah mencoba menormalkan aktivitas insulin dan kadar
glukosa darah dalam upaya mengurangi terjadinya komplikasi vaskuler serta
neuropatik. Tujuan terapeutik pada setiap tipe DM adalah mencapai kadar glukosa
darah normal tanpa terjadi hipoglikemia dan gangguan serius pada pola aktivitas pasien.
Ada lima komponen dalam penatalaksanaan DM, yaitu :

1. Diet
Syarat diet DM hendaknya dapat :
1. Memperbaiki kesehatan umum penderita
2. Mengarahkan pada berat badan normal
3. Menekan dan menunda timbulnya penyakit angiopati diabetik
4. Memberikan modifikasi diit sesuai dengan keadaan penderita
5. Menarik dan mudah diberikan
Prinsip diet DM, adalah :
1. Jumlah sesuai kebutuhan
2. Jadwal diet ketat
3. Jenis : boleh dimakan / tidak
Dalam melaksanakan diet diabetes sehari-hari hendaklah diikuti pedoman 3 J yaitu:

1. Jumlah kalori yang diberikan harus habis, jangan dikurangi atau ditambah
2. Jadwal diit harus sesuai dengan intervalnya
3. Jenis makanan yang manis harus dihindari

Penentuan jumlah kalori Diet Diabetes Mellitus harus disesuaikan oleh status gizi
penderita, penentuan gizi dilaksanakan dengan menghitung Percentage of Relative Body
Weight (BBR = berat badan normal) dengan rumus :
BB (kg)
BBR = X 100%
TB(cm)-100

1. Kurus (underweight) BBR < 90 %


2. Normal (ideal) BBR 90% - 110%
3. Gemuk (overweight) BBR > 110%
4. Obesitas apabila BBR > 120%
a) Obesitas ringan BBR 120 % - 130%
b) Obesitas sedang BBR 130% - 140%
c) Obesitas berat BBR 140% - 200%
d) Morbid BBR >200 %

Sebagai pedoman jumlah kalori yang diperlukan sehari-hari untuk penderita DM yang
bekerja biasa adalah :

1. Kurus (underweight) BB X 40-60 kalori sehari


2. Normal (ideal) BB X 30 kalori sehari
3. Gemuk (overweight) BB X 20 kalori sehari
4. Obesitas apabila BB X 10-15 kalori sehari

2. Latihan

Beberapa kegunaan latihan teratur setiap hari bagi penderita DM, adalah :

1) Meningkatkan kepekaan insulin, apabila dikerjakan setiap 1 1/2 jam sesudah


makan, berarti pula mengurangi insulin resisten pada penderita dengan
kegemukan atau menambah jumlah reseptor insulin dan meningkatkan
sensivitas insulin dengan reseptornya.
2) Mencegah kegemukan bila ditambah latihan pagi dan sore
3) Memperbaiki aliran perifer dan menambah suplai oksigen Meningkatkan kadar
kolesterol – high density lipoprotein
4) Kadar glukosa otot dan hati menjadi berkurang, maka latihan akan dirangsang
pembentukan glikogen baru.
5) Menurunkan kolesterol (total) dan trigliserida dalam darah karena pembakaran
asam lemak menjadi lebih baik.
3. Obat
1) Tablet OAD (Oral Antidiabetes)/ Obat Hipoglikemik Oral (OHO)
a) Mekanisme kerja sulfanilurea
Obat ini bekerja dengan cara menstimulasi pelepasan insulin yang
tersimpan, menurunkan ambang sekresi insulin dam meningkatkan sekresi
insulin sebagai akibat rangsangan glukosa. Obat golongan ini biasanya
diberikan pada penderita dengan berat badan normal dan masih bisa dipakai
pada pasien yang berat badannya sedikit lebih.

b) Mekanisme kerja Biguanida


Biguanida tidak mempunyai efek pankreatik, tetapi mempunyai efek lain
yang dapat meningkatkan efektivitas insulin, yaitu :

2) Biguanida pada tingkat prereseptor → ekstra pankreatik


- Menghambat absorpsi karbohidrat
- Menghambat glukoneogenesis di hati
- Meningkatkan afinitas pada reseptor insulin

3) Biguanida pada tingkat reseptor : meningkatkan jumlah reseptor insulin


4) Biguanida pada tingkat pascareseptor: mempunyai efek intraselluler
5) Insulin
- Indikasi penggunaan insulin
 DM tipe I
 DM tipe II yang pada saat tertentu tidak dapat dirawat dengan OAD
 DM kehamilan
 DM dan gangguan faal hati yang berat
 DM dan gangguan infeksi akut (selulitis, gangren)
 DM dan TBC paru akut
 DM dan koma lain pada DM
 DM operasi
 DM patah tulang
 DM dan underweight
 DM dan penyakit Graves
- Beberapa cara pemberian insulin
 Suntikan insulin subkutan
Insulin regular mencapai puncak kerjanya pada 1 – 4 jam, sesudah
suntikan subcutan, kecepatan absorpsi di tempat suntikan tergantung
pada beberapa faktor antara lain :

4. Cangkok pankreas
Pendekatan terbaru untuk cangkok adalah segmental dari donor hidup saudara
kembar identik.
b. Keperawatan
1. Penyuluhan
Penyuluhan merupakan salah satu bentuk penyuluhan kesehatan kepada penderita
DM, melalui bermacam-macam cara atau media misalnya: leaflet, poster, TV,
kaset video, diskusi kelompok, dan sebagainya.
2. Mengajarkan cara merawat luka pada penderita DM.
H. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
a. Pengumpulan data yang akurat yang sistematis akan membantu dalam dalam
menentukan status kesehatan.
1) Anamnesis mengenai identitas penderita yang meliputi nama, umur, jenis
kelamin, agama, pendidikan, pekerjaan, alamat, status perkawinan, suku
bangsa, nomor register, tanggal masuk rumah sakit dan diagnosa medis.
2) Keluhan utama. Adanya kesemutan pada kaki/tungkai bawah, rasa raba
yang menurun, adanya luka yang tidak sembuh-sembuh dan berbau, adanya
nyeri pada luka.
3) Riwayat kesehatan sekarang. Berisi tentang kapan terjadinya luka, penyebab
terjadinya luka serta upaya yang telah dilakukan oleh penderita untuk
mengatasinya.
4) Riwayat kesehatan dahulu. Adanya riwayat penyakit DM atau penyakit-
penyakit lain yang ada kaitannya dengan defisiensi insulin misalnya
penyakit pankreas. Adanya riwayat penyakit jantung, obesitas,
aterosklerosis, serta tindakan medis yang pernah didapat atau obat-obatan
yang biasa digunakan oleh penderita.
5) Riwayat kesehatan keluarga. Dari genogram keluarga biasanya terdapat
salah satu anggota keluarga yang juga menderita DM atau penyakit
keturunan yang dapat menyebabkan terjadinya defisiensi insulin seperti
hipertensi dan jantung.
6) Riwayat psikososial. Meliputi informasi mengenai perilaku, perasaan dan
emosi yang dialami penderita sehubungan dengan penyakitnya serta
tanggapan keluarga terhadap penyakit penderita.
7) Pemeriksaan fisik
a) Status kesehatan umum, meliputi keadaan penderita, kesadaran, suara
bicara, tinggi badan, berat badan dan TTV.
b) Kepala dan leher. Meliputi bentuk kepala, keadaan rambut, pembesaran
pada leher, telinga kadang-kadang berdenging, gangguan pendengaran,
lidah sering terasa tebal, ludah menjadi lebih kental, gigi mudah goyah,
gusi mudah bengkak dan berdarah, penglihatan kabur/ganda, diplopia,
serta lensa mata keruh.
c) Sistem integumen. Turgor kulit menurun, adanya luka atau warna
kehitaman bekas luka, kelembapan dan suhu kulit di daerah sekitar ulkus
dan gangren, kemerahan padakulit sekitar luka, struktur rambut dan
kuku.
d) Sistem pernapasan, berupa sesak napas, batuk, sputum, nyeri dada. Pada
penderita DM mudah terjadi infeksi.
e) Sistem kardiovaskular. Perfusi jaringan menurun, nadi perifer lemah
atau berkurang, takikardi/bradikardi, hipertensi/hipotensi, aritmia,
kardiomegalis.
f) Sistem gastrointestinal. Terdapat polifagi, polidipsi, mual, muntah,
diare, konstipasi, dehidrasi, perubahan berat badan, peningkatan lingkar
abdomen, obesitas.
g) Sistem urinari. Poliuri, retensio urine, inkontinensia urine, serta rasa
panas atau sakit saat berkemih.
h) Sistem muskuloskeletal. Penyebaran lemak, penyebaran masa otot,
perubahan tinggi badan, cepat lelah, lemah dan nyeri, adanya gangren di
ekstremitas.
i) Sistem neurologis. Terjadi penurunan sensoris, paresthesia, anastesia,
letargi, mengantuk, refleks lambat, kacau mentalm disorientasi.
8) Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan :
a) Pemeriksaan darah : GDS >200mg/dl, gula darah puasa >120mg/dl dan
dua jam postprandial >200mg/dl
b) Urine : adanya glukosa di urine dengan cara Benedict (reduksi), hasil
dapat dilihat dengan perubahan warna urine : hijau (+), kuning (++),
merah (+++), dan merah bata (++++).
c) Kultur pus, mengetahui jenis kuman pada luka dan memberikan
antibiotic sesuai jenis kuman.
b. Analisis data, yaitu pengelompokkan data ke dalam 2 jenis yaitu objektif dan
subjektif.
1) Data subjektif
a) Poliuria (sering kencing)
b) Polidpsi (sering minum)
c) Polifagi (sering makan)
d) Berat badan menurun, lemas, lekas lelah, tenaga kurang
e) Mata kabur
2) Data objektif
a) Kulit kering
b) Glukosa darah sewaktu >200mg/dl
c) Glukosa darah puasa >140mg/dl

Data yang sudah dikelompokkan dianalisis sehingga dapat diambil kesimpulan


tentang masalah keperawatan dan kemungkinan penyebab, yang dapat
dirumuskan dalam bentuk diagnosis keperawatan meliputi actual, potensial dan
kemungkinan.

2. Diagnosis Keperawatan
a. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
asupan diet kurang
Tujuan dan kriteria hasil :
Dalam waktu 31-45 menit dilakukan manajemen nutrisi.
Status nutrisi: asupan makanan dan cairan pasien teratasi dengan kriteria hasil :
1) Asupan makanan oral dari tidak adekuat menjadi adekuat
Intervensi keperawatan dan rasional :

a) Identifikasi (adanya) alergi atau intoleransi makanan yang dimiliki pasien


b) Atur diet yang diperlukan (yaitu: menyediakan makanan protein tinggi;
menyarankan menggunakan bumbu dan rempah-rempah sebagai alternatif
untuk garam, menyediakan pengganti gula; menambah atau mengurangi
kalori, menambah atau mengurangi vitamin, mineral, atau suplemen)
c) Beri obat-obatan sebelum makan (misalnya., penghilang rasa sakit,
antiemetik), jika dibutuhkan
b. Resiko cedera berhubungan dengan gangguan penglihatan
Tujuan dan kriteria hasil :
Dalam waktu 31-45 menit dilakukan manajemen lingkungan : keselamatan.
Dengan kriteria hasil :
1) Penglihatan terganggu dapat dibantu dari skala berat menjadi sedang
Intervensi keperawatan dan rasional :
a) Identifikasi kebutuhan keamanan pasien berdasarkan fungsi fisik dan
kognitif serta riwayat perilaku di masa lalu
b) Identifikasi hal-hal yang membahayakan dilingkungan (misalnya, bahaya
fisik, kimia, dan biologi)
c) Singkirkan bahan berbahaya dari lingkungan jika diperlukan
d) Modifikasi lingkungan untuk meminimalkan bahan berbahaya dan berisiko
e) Sediakan alat adaptasi (misalnya, kursi untk pijakan dan pegangan tangan)
c. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan osmotik diuresis
Tujuan dan kriteria hasil :
Dalam waktu 16-30 menit dilakukan monitor cairan. Dengan kriteria hasil :
1) Keseimbangan intake dan output dalam 24 jam.

Intervensi keperawatan dan rasional :

a) Tentukan jumlah dan jenis intake/asupan cairan serta kebiasaan eliminasi


b) Tentukan faktor-faktor resiko yang mungkin menyebabkan
ketidakseimbangan cairan (misalnya, kehilangan albumin, luka bakar,
malnutrisi, sepsis, sindrom nefrotik, hipertermia, terapi diuretik, patologi
ginjal, gagal jantung, diafrosis, disfungsi hati, olahraga berat, paparan panas,
infeksi, paska operasi, poliuria, muntah dan diare)
c) Periksa turgor kulit
d. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan perubahan status metabolik
(neropati perifer)
Intervensi dan rasional :
a) Kaji luka, yaitu adanya epitelisasi, perubahan warna, edema dan discharge,
serta frekuensi ganti balut. Rasional : mengurangi terjadinya infeksi.
b) Kaji tanda vital. Rasional : mendeteksi perubahan status kesehatan klien.
c) Kaji adanya nyeri. Rasional : mengidentifikasi derajat toleransi klien
terhadap nyeri.
d) Lakukan perawatan luka. Rasional : perawatan luka secara rutin dapat
mengurangi terjadinya infeksi.
e) Kolaborasi pemberian insulin. Rasional : pemberian insulin dengan tepat
dapat mengurangi terjadi hipoglikemi atau hiperglikemi.
f) Kolaborasi pemberian antibiotik sesuai indikasi. Rasional : membunuh
bakteri yang masuk.
DAFTAR PUSTAKA
Bulechek, Gloria M., dkk. 2016. Nursing Interventions Classification (NIC). United
Kingdom: Elsevier.
Herdman, T. Heater dan Shigemi Kamitsuru. 2018. NANDA-I Diagnosis Keperawatan
Definisi dan Klasifikasi 2018-2020 (NANDA International Nursing Diagnoses:
Definicions and Classification 2018-2020. Jakarta: Buku Kedokteran EGC.
Moorhead, Sue, dkk. 2016. Nursing Outcomes Classification (NOC). United Kingdom:
Elsevier.
Mubarak, Wahit Iqbal, Nurul Chayatin, dan Joko Susanto. (2015). Standar Asuhan
Keperawatan dan Prosedur Tetap dalam Praktik Keperawatan Konsep dan
Aplikasi dalam Praktik Klinik. Jakarta Selatan: Salemba Medika.
Banjarmasin, …………………………2020

Preseptor Akademik, Preseptor Klinik,

(Nor Afni Oktavia, Ns., M.Kep) (Vera Elpiani, S.Kep., Ns)