Anda di halaman 1dari 3

Ringkasan Materi Kuliah (RMK)

Investasi Saham

Oleh :

Ni Luh Made Dian Purnami Putri (1807531005)

Gede Surya Wibawa (1807531021)

Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Universitas Udayana

2019
Pengertian Investasi Saham

Menurut Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No.13, investasi adalah suatu aktiva
yang digunakan oleh perusahaan untuk pertumbuhan kekayaan (accretion of wealth) melalui
distribusi hasil investasi (seperti bunga, royalti, dividen, dan uang sewa), apresiasi nilai investasi,
atau untuk manfaat lain bagi perusahaan yang berinvestasi, seperti manfaat yang diperoleh
melalui hubungan perdagangan. Oleh karena itu, investasi saham merupakan salah satu sarana
untuk menumbuhkan kekayaan melalui penerimaan hasil investasi (dividen), dan melalui
apresiasi nilai investasi (capital gain) atau manfaat lain yang diperoleh akibat kepemilikan
saham perusahaan lain tersebut.
Terdapat dua metode untuk mencatat kegiatan investasi saham, yaitu metode Cost dan
metode Ekuitas (equity). Sedangkan, pelaporan di neraca akhir periode, terdapat tiga metode
pencatatan yaitu metode nilai wajar (fair-value), metode ekuitas, dan konsolidasi. Penerapan
metode akuntansi investasi saham, baik untuk pencatatan maupun pelaporannya, sangat
tergantung pada tingkat pengaruh signifikan (significant influence) dan penguasaan (voting
control) oleh investor (pihak yang membeli saham) terhadap investee (perusahaan yang
sahamnya dimiliki oleh Investor).

PENGGOLONGAN INVESTASI SAHAM


Standar akuntansi di sebagian besar negara di dunia ini menggariskan bahwa penggunaan metode
akuntansi untuk investasi saham tergantung pada tingkat kepemilikan dan ada tidaknya pengaruh
signifikan yang dimiliki oleh investor terhadap investee. Demikian pula halnya Indonesia. Melalui Dewan
Standar Akuntansi Keuangan(DSAK), Ikatan Akuntan Indonesia, telah membuat standar pencatatan dan
pelaporan untuk investasi saham melalui beberapa Pernyataan Standar, antara lain PSAK No. 7, 13, 15,
22, dan 50.

Gambar 1.1.
Hubungan antara metode untuk mencatat investasi, tingkat kepemilikan, dan pengaruh investor terhadap
investee.
Dari Gambar 1.1. dapat dilihat adanya dua faktor untuk membedakan jenis investasi. Dua faktor tersebut,
yakni Pengaruh signifikan dan control membagi jenis investasi menjadi tiga: kurang dari 20%, antara
20%-50%, dan lebih dari 50%.
Cut-off tingkat kepemilikan sebesar 20% sebenarnya didasarkan pada suatu asumsi. Asumsi tersebut
adalah bahwa jika seorang investor memiliki antara 20% dan 50% saham investee maka normalnya
investor akan mempunyai pengaruh secara signifikan terhadap investee.
Kriteria untuk dapat disebut sebagai pengaruh yang signifikan membutuhkan judgment. Judgment
semacam ini akan menyulitkan praktek akuntansi karena sering bersifat subyektif. Oleh karena itu,
standar yang berlaku menggariskan bahwa jika investor memiliki saham investee kurang dari 20% maka
ia harus menggunakan metode Cost, kecuali ada bukti bahwa meski kepemilikannya kurang dari 20%
namun ia mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap investee.

PENCATATAN DAN PELAPORAN INVESTASI SAHAM KURANG


DARI 20% - METODE COST
1. Ilustrasi Pencatatan Investasi Saham dengan Kepemilikan Kurang dari 20%
Jika sebuah perusahaan memiliki investasi saham kurang dari 20% dan atau tidak memiliki pengaruh
yang signifikan maka perusahaan tersebut tidak punya pilihan lain selain menggunakan metode Cost
untuk mencatat investasi sahamnya. Pada prinsipnya, metode Cost mencatat investasi saham sebesar
nilai historis (historical cost) nya. Pendapatan investasi diperoleh dari penerimaan dividen dari investee.
Selain tambahan investasi melalui akuisisi atau pengurangan melalui penjualan investasi, tidak ada
kejadian yang akan mengubah saldo investasi pada suatu periode.
Contoh 1.1.
Untuk mengilustrasikan metode Cost, diumpamakan PT.A membeli 10% saham PT.B dengan harga
perolehan Rp80.000,00 pada awal tahun 2015. Selama tahun berjalan, PT.B melaporkan laba
Rp40.000,00 dan membayar dividen kas sebanyak Rp12.000,00. PT A akan membuat jurnal sebagai
berikut.
1. lnvestasi Saham B Rp80.000,00
Kas Rp80.000,00
(Jurnal untuk mencatat pembelian saham B)
2. Kas Rp 1.200,00
Pendapatan dividen Rp 1.200,00
(Jurnal untuk mencatat penerimaan dividen dari B sebesar 10% x Rp12.000,00)

Perhatikan bahwa PT A mencatat income dari investasi tersebut hanya dari bagian yang didistribusikan
(Rp12.000,00). Bagian yang tidak dibagikan (Rp40.000,00 - Rp12.000,00) tidak dicatat. Sedangkan saldo
akun investasi tidak mengalami perubahan dari harga perolehannya.
Sebagaimana pada ilustrasi pencatatan investasi pada Contoh 1.1., saldo investasi tidak akan
mengalami perubahan kecuali ada penambahan atau pengurangan investasi. Namun demikian untuk
kepentingan pelaporan maka investasi saham yang kurang dari 20% menggunakan metode Cost, perlu
diklasifikasikan kembali. Baik FASB, IASC, maupun IAI membagi investasi saham ke dalam dua jenis,
yakni Trading (Perdagangan) dan Available for Sale (Tersedia untuk Dijual).
Sebuah investasi saham digolongkan sebagai sekuritas Trading apabila investasi saham tersebut dimiliki
untuk jangka pendek yang kemudian dijual lagi untuk mendapatkan capital gain. Sementara itu, apabila
investasi tersebut tidak dapat digolongkan sebagai sekuritas Trading maka akan digolongkan sebagai
sekuritas Available for Sale.