Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Manajemen sebagai sebuah proses perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian dan


pengendalian sumber daya untuk mencapai sasaran secara efektif dan efisien. Efektif berarti bahwa
tujuan dapat dicapai sesuai dengan perencanaan, sementara efisien berarti bahwa tugas yang ada
dilakukan secara benar, terorganisir, dan sesuai dengan jadwal. Diantara beberapa fungsi
manajemen adalah pengendalian. Pengendalian berusaha untuk mengevaluasi apakah tujuan dapat
dicapai, dan apabila tidak dicapai maka kita harus mencari factor penyebabnya, dengan demikian
dapat dilakukan tindakan perbaikan. Dengan adanya pengendalian juga dapat memungkinkan
manajer untuk mendeteksi penyimpangan dari perencanaan tersebut tepat pada waktunya dalam
melakukan tindakan perbaikan sebelum penyimpangan menjadi lebih buruk.

Pengorganisasian dengan menggunakan prosedur pengendalian dapat membantu suatu


perusahaan untuk mencapai sasarannya dan menggunakan sumber daya yang ada secara efisien.
Pengendalian yang efektif juga dapat diterapkan agar perusahaan tetap dapat bertahan di dalam
pasar global yang sifatnya musiman dan tidak menentu. Pengendalian juga memastikan aktivitas
yang sebenarnya sesuai atau tidak dengan aktivitas yang direncanakan.

Dari masalah di atas kita perlu belajar mengenai bentuk pengendalian – pengendalian yang efektif
agar kita tidak terjebak di zaman sekarang yang sudah memasuki era globalisasi pasar global.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka permasalahan utama dalam paper ini
adalah sebagai berikut.

1) Bagaimana pengertian pengendalian ?

2) Bagaimana langkah – langkah dalam proses pengendalian ?

3) Bagaimana karakteristik – karakteristik pengendalian yang efektif ?

4) Bagaimana alat bantu pengendalian manajerial ?

5) Bagaimana teknik dan metode yang digunakan dalam pengendalian ?


1
1.3 Tujuan Penulisan

Sejalan dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan utama paper ini adalah sebagai
berikut.

1) Untuk mengetahui pengertian pengendalian.

2) Untuk mengetahui langkah – langkah dalam proses pengendalian.

3) Untuk mengetahui karakteristik – karakteristik pengendalian yang efektif.

4) Untuk mengetahui alat bantu pengendalian manajerial.

5) Untuk mengetahui teknik dan metode yang digunakan dalam pengendalian.

1.4 Manfaat Penulisan

Adapun manfaat yang diharapkan dari penulisan paper ini adalah sebagai berikut.

1) Sebagai bahan referensi dalam ilmu pendidikan khususnya dalam pembelajaran


manajemen sehingga dapat memperkaya dan menambah wawasan pembaca.

2) Dapat memberikan informasi kepada generasi muda tentang perlunya pengendalian dalam
suatu organisasi.

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Pengendalian Menurut Para Ahli

Adapun pengertian pengendalian menurut para ahli, antara lain :

1. Earl P. Strong
Pengertian pengendalian adalah proses pengaturan berbagai factor dalam suatu perusahaan,
agar pelaksanaannya sesuai dengan ketetapan ketetapan dalam rencana.
2. Harold Koonz
Pengertian Pengendalian adalah pengukuran dan perbaikan terhdaap pelaksanaan kerja
bawahan, agar rencana rencana yang telah di buat untuk mencpai tujuan perusahhaan.
3. R Terry
Pengertian Pengendalian dapat di definisikan sebagai proses penentuan, apa yang harus di
capai yaitu standar, apa yang sedang di lakukan yaitu pelaksanaan, menilai pelaksanaan
dan apabila perlu melakukan perbaikan perbaikan, sehingga pelaksanaan sesuai dengan
rencana yaitu selaras dengan standar.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa pengendalian adalah suatu alat dari alat lainnya sebagai
implementasi strategi yang berfungsi sebagai motivasi anggota organisasi untuk mencapai tujuan
organisasi.
Tujuan Pengendalian, yaitu :
a) Supaya proses pelaksanaan di lakukan sesuai dengan ketentuan ketentuan dari rencana
b) Melakukan tindak perbaikan (corrective), jika terdapat penyimpangan penyimpaangan
c) Supaya tujuan yang di hasilkan sesuai dengan rencana

Fungsi pengendalian bukan hanya untuk mencari kesalahan-kesalahan, tetapi berusaha untuk
menghindari terjadinya kesalahan kesalahan serta memperbaikinya jika terdapat kesalahan
kesalahan.

2.2 Langkah – Langkah dalam Proses Pengendalian

Proses pengendalian biasanya terdiri paling sedikit lima tahap (langkah), yaitu penetapan
standar pelaksanaan (perencanaan), penentuan pengukuran pelaksanaan kegiatan, pengukuran

3
pelaksanaan kegiatan nyata, pembandingan pelaksanaan kegiatan dengan standar dan
penganalisaan penyimpangan-penyimpangan, dan pengambilan tindakan koreksi bila perlu.
Tahap-tahap ini akan diperinci bertahap, antara lain :

1. Penetapan Standar Pelaksanaan


Tahap pertama dalam pengendalian adalah penetapan standar pe-
laksanaan. Standar mengandung arti sebagai suatu satuan pengukuran yang dapat
digunakan sebagai "patokan" untuk penilaian hasil-hasil. Tujuan, sasaran, kuota
dan target pelaksanaan dapat digunakan sebagai standar. Bentuk standar yang lebih khusus
antara lain target penjualan, anggaran, bagian pasar (market-share), marjin keuntungan,
keselamatan kerja, dan sasaran produksi.
Tiga bentuk standar yang umum adalah :
a. Standar-standar phisik, mungkin meliputi kuantitas barang atau jasa, jumlah
langganan, atau kualitas produk.
b. Standar-standar moneter, yang ditunjukkan dalam rupiah dan mencakup biaya
tenaga kerja, biaya penjualan, laba kotor, pendapatan penjualan, dan sejenisnya.
c. Standar-standar waktu, meliputi kecepatan produksi atau batas waktu suatu
pekerjaan harus diselesaikan.
Setiap tipe standar tersebut dapat dinyatakan dalam bentuk-bentuk hasil yang dapat
dihitung. Ini memungkinkan manajer untuk mengkomunikasikan pelaksanaan kerja yang
diharapkan kepada para bawahan secara lebih jelas dan tahapan-tahapan lain dalam
proses perencanaan dapat ditangani dengan lebih efektif. Standar harus ditetapkan secara
akurat dan diterima mereka yang bersangkutan.

Contoh dari penetapan standar misalnya, suatu perusahaan ingin barang


produksinya terjual sebanyak 10.000 unit selama sebulan. Dengan ditentukannya standar
yang ditetapkan, maka perusahaan dapat melakukan langkah berikutnya agar tercapai
standar yang diinginkan.

2. Penentuan Pengukuran Pelaksanaan Kegiatan


Penetapan standar adalah sia-sia bila tidak disertai berbagai cara untuk mengukur
pelaksanaan kegiatan nyata. Oleh karena itu, tahap kedua dalam pengendalian adalah
menentukan pengukuran pelaksanaan kegiatan secara tepat. Beberapa pertanyaan

4
yang penting berikut ini dapat digunakan : Berapa kali (how often) pelaksanaan seharus-
nya diukur - setiap jam, harian, mingguan, bulanan ? Dalam bentuk apa (what
form) pengukuran akan dilakukan- laporan tertulis, inspeksi visual, melalui telephone
? Siapa (who) yang akan terlibat - manajer, staf departemen ? Pengukuran ini sebaiknya
mudah dilaksanakan dan tidalc mahal, serta dapat diterangkan kepada para karyawan.
Contoh dari penentuan pengukuran pelaksanaan pengukuran adalah perusahaan ingin
menjual barang produksinya sebanyak 10.000 unit dalam waktu sebulan dan semua pihak
membantu penjualan produksi barang tersebut.
3. Tahap 3: Pengukuran Pelaksanaan Kegiatan
Setelah frekuensi pengukuran dan sistem monitoring ditentukan, pengukuran pelaksanaan
dilakukan sebagai proses yang berulang-ulang dan terus-menerus. Ada berbagai cara untuk
melakukan pengukuran pelaksanaan, yaitu : 1) pengamatan (observasi), 2) laporan-
laporan, baik lisan dan tertulis, 3)metoda-metoda otomatis dan 4) inspeksi, pengujian
(test), atau dengan pengambilan sampel. Banyak perusahaan sekarang memperggunakan
pemeriksa intern (internal auditor) sebagai pelaksana pengukuran. Contoh penerapan
pengukuran pelaksanaan kegiatan adalah setelah dilakukan penjualan ternyata jumlah
barang produksi yang terjual selama sebulan adalah 7.000 unit, dimana terdapat 14
perusahaan dan 3400 pelanggan yang membelinya.
4. Pembandingan Pelaksanaan dengan Standar dan Analisa Penyimpangan
Tahap kritis dari proses pengendalian adalah pembandingan pelaksanaan nyata dengan
pelaksanaan yang direncanakan atau standar yang telah ditetapkan. Walaupun tahap ini
paling mudah dilakukan, tetapi kompleksitas dapat terjadi pada saat menginterpretasikan
adanya penyimpangan (deviasi). Contoh penerapan dari tahap ke 4 adalah misalnya
perusahaan menargetkan penjualan barang produksinya sebesar 10.000 unit selama
sebulan. Tetapi pada kenyataannya barang yang terjual hanya mencapai 7.000 unit selama
sebulan
5. Pengambilan Tindakan Koreksi Bila Diperlukan
Bila hasil analisa menunjukkan perlunya tindakan koreksi, tindakan ini harus diambil.
Tindakan koreksi dapat diambil dalam berbagai bentuk. Standar mungkin diubah,
pelaksanaan diperbaiki, atau keduanya dilakukan bersamaan, tindakan koreksi mungkin
berupa :

5
a. Mengubah.standar mula-muia (barangkali terlalu tinggi atau terlalu rendah).
b. Mengubah,pengukuran pelaksanaan (inspeksi terlalu sering frekuensinya atau
kurang atau bahkan mengganti sistem pengukuran itu sendiri).
c. Mengubah cara dalam menganalisa dan menginterpretasikan penyimpangan-
penyimpangan.

Contoh tahap kelima adalah perusahaan menetapkan standar penjualannya sebesar


10.000 unit. Tetapi pada kenyataannya barang yang terjual hanya mencapai 7.000 unit
selama sebulan. Karena target penjualan tidak tercapai maka perlu adanya perbaikan atau
koreksi. Misalnya menurunkan standar penetapan penjualan menjadi 8000 unit selama
sebulan, dan meningkatkan kualitas produksi barang dan memperluas daerah penjualan.

2.3 Karakteristik – Karakteristik Pengendalian yang Efektif

Untuk menjadi efektif, sistem pengendalian harus memenuhi kriteria tertentu. Kriteria-
kriteria utama adalah bahwa sistem seharusnya 1) mengawasi kegiatan-kegiatan yang benar, 2)
tepat waktu, 3) dengan biaya yang efektif, 4) tepat-akurat, dan 5) dapat
diterima oleh yang bersangkutan. Semakin dipenuhinya kriteria-kriteria tersebut semakin efektif
sistem pengendalian. Karakteristik-karakteristik pengendalian yang efektif dapat lebih diperinci
sebagai berikut :

a. Akurat . Informasi tentang pelaksanaan kegiatan harus akurat. Data yang tidak akurat dari
sistem pengendalian dapat menyebabkan organisasi mengambil tindakan koreksi yang
keliru atau bahkan menciptakan masalah yang sebenarnya tidak ada.
b. Tepat-Waktu. Informasi harus dikumpulkan, disampaikan dan dievaluasi secepatnya bila
kegiatan perbaikan harus dilakukan segera.
c. Obyektif dan menyeluruh. Informasi harus mudah dipahami dan bersifat obyektif serta
lengkap.
d. Terpusat pada titik-titik pengendalian strategik. Sistem pengawas_ anharus memusatkan
perhatian pada bidang-bidang di mana penyimpangan-penyimpangan dari
standar paling sering terjadi atauyang akan mengakibatkan kerusakan paling fatal.
e. Realistik secara ekonomis. Biaya pelaksanaan sistem pengendalianharus lebih rendah,
atau paling tidak sama, dengan kegunaanyang diperoleh dari sistem tersebut.

6
f. Realistik secara organisasional. Sistem pengendalian harus cocok atau harmonis dengan
kenyataan-kenyataan organisasi.
g. Terkoordinasi dengan aliran kerja organisasi. Informasi pengendalian harus terkoordinasi
dengan aliran kerja organisasi, karena (1) setiap tahap dari proses pekerjaan dapat
mempengaruhi sukses atau kegagalan keseluruhan operasi, dan (2) informasipengendalian
harus sampai pada seluruh personalia yang memerlukannya.
h. Fleksibel. Pengendalian harus mempunyai fleksibilitas untuk memberikan tanggapan atau
reaksi terhadap ancaman ataupun kesempatan dari lingkungan.
i. Bersifat sebagai petunjuk dan operasional. Sistem pengendalian efektif harus
menunjukkan, baik deteksi atau deviasi dari standar, tindakan koreksi apa yang seharusnya
diambil.
j. Diterima para anggota organisasi. Sistem pengendalian harus mampu mengarahkan
pelaksanaan kerja para anggota organisasidengan mendorong perasaan otonomi, tanggung
jawab dan berprestasi.

2.4 Alat Bantu Pengendalian Manajerial

Ada banyak teknik yang dapat membantu manajer agar pelaksanaan pengendalian menjadi
lebih efektif. Dua teknik yang paling terkenal adalah manajemen dengan pengecualian
(management by exception ) dan sistem informasi manajemen (management information systems)

1) Management By Exception ( MBE )


Management By Exception atau prinsip pengecualian, memungkinkan manajer
untuk mengarahkan perhatiannya pada bidang-bidang pengendalian yang paling kritis dan
mempersilahkan para karyawan atau tingkatan manajemen rendah untuk menangani
variasi-variasi rutin. Hal ini dapat dipraktekkan oleh manajer-manajer penjualan, produksi,
keuangan, personalia, pembelian, pengendalian mutu, dan bidang-bidang fungsional
lainnya. Bahkan manajer-manajer lini pertama dapat mempergunakan prinsip ini dalam
pengendalian harian mereka.

Pengendalian yang ditujukan pada terjadinya kekecualian ini murah, tetapi


penyimpangan baru dapat diketahui setelah kegiatan terlaksana. Biasanya pengendalian ini
dipergunakan untuk operasi-operasi organisasi yang bersifat otomatis dan rutin.

7
Contoh dari MBE adalah sebagai berikut:

Seorang manajer menetukan bahwa jumlah produksi Susu Bantal Real Good dalam
sehari harus ada 50.000 bungkus sampai 75.000 bungkus. Karena suatu waktu dimana saat
kapasitas tenaga kerja lebih banyak bekerja (lembur) maka jumlah produksi Susu Bantal
Real Good meningkat drastis menjadi 94.000 bungkus hari itu. Maka saatnya MBE beraksi.
Manajer memikirkan dan mengambil keputusan yang harus dilakukan oleh kelebihan
produksi.

Keputusan yang dapat diambil antara lain:

1. Menyimpan sisa produksi susu bantal di gudang untuk persediaan stock.

2. Menjual kepada agen atau eceran terdekat dengan harga yang terjangkau.

3. Mempromosikan untuk penjualan sebagai hadiah atau sampel.

Dalam mengambil keputusan manajer harus diperhitungkan :

1. Manajer tidak membuang waktu memantau aktivitas yang berlangsung secara normal

2. Keputusan dapat lebih terfokus pada hal hal yang lebih memerlukan perhatian.

3. Perhatian dipusatkan pada peluang-peluang maupun hal hal yang berjalan

2) Management - Information System ( MIS )


Sistem informasi manajemen atau management information system memainkan peranan
penting dalam pelaksanaan fungsi-fungsi manajemen perencanaan dan pengendalian
dengan efektif. MIS dapat didefinisikan sebagai suatu metoda formal pengadaan dan
penyediaan bagi manajemen, informasi yang diperlukan dengan akurat dan tepat waktu
untuk membantu proses pembuatan keputusan dan memungkinkan fungsi fungsi
perencanaan, pengendalian dan operasional organisasi dilaksanakan secara efektif. MIS
adalah sistem pengadaan, pemrosesan, penyimpanan dan penyebaran informasi yang
direncanakan agar keputusan-keputusan manajemen yang efektif dapat dibuat. Sistem
menyediakan informasi waktu yang lalu, sekarang dan yang akan datang serta kejadian-
kejadian di dalam dan di luar organisasi.
MIS dirancang melalui beberapa tahap utama, yaitu :

8
a. tahap survei pendahuluan dan perumusan masalah,
b. tahap disain konsepsual,
c. tahap disain terperinci, dan
d. tahap implementasi akhir.
Agar perancangan MIS berjalan efektif, manajemen perlu memperhatikan 5(lima)
pedoman berikut ini :
a. Mengikut sertakan pemakai (unsur) ke dalam tim perancang.
b. Mempertimbangkan secara hati-hati biaya sistem.
c. Memperlakukan informasi yang relevan dan terseleksi lebih dari pada
pertimbangan kuantitas belaka.
d. Pengujian pendahuluan sebelum diterapkan
e. Menyediakan latihan dan dokumentasi tertulis yang mencukupi bagi
paraoperator dan pemakai sistem.

Konsep MIS berhubungan sangat erat dengan teknologi komputer, yang mencakup
kapasitas komputer, program dan bahasa program, terminal jarak jauh, diskette, dan lain-
lainnya. Organisasi mungkin mempunyai MIS tanpa komputer, tetapi sistem akan kehi-
langan sebagian "keampuhannya" tanpa bantuan komputer. Jadi, pada dasarnya MIS
membantu manajemen melalui penyediaan personalia yang tepat dengan jumlah yang tepat
dari informasi yangtepat pula pada waktu yang tepat.

Contoh penerapan MIS: Sistem Informasi Manajemen Rumah sakit adalah sebuah sistem
komputerisasi yang memproses dan mengintegrasikan seluruh alur proses bisnis layanan
kesehatan dalam bentuk jaringan koordinasi, pelaporan dan prosedur administrasi untuk
memperoleh informasi secara tepat dan tepat. sistem informasi rumah sakit umumnya
mencakup masalah klinikas (media), pasien dan informasi-informasi yang berkaitan dengan
kegiatan rumah sakit itu sendiri

2.5 Teknik dan Metode yang Digunakan dalam Pengendalian

Metode-metode pengendalian bisa dikelompokkan ke dalam dua bagian ; pengendalian


non-kuantitatif dan pengendalian kuantitatif.

9
A. Pengendalian Non-kuantitatif
Pengendalian non-kuantitatif tidak melibatkan angka-angka dan dapat digunakan untuk
mengawasi prestasi organisasi secara keseluruhan. Teknik-teknik yang sering digunakan
adalah:
I. Pengamatan (pengendalian dengan observasi). Pengamatan ditujukan
untuk mengendalikan kegiatan atau produk yang dapat diobservasi. Misalnya suatu
perusahaan sedang memproduksi barang, maka staff pengawas akan melakukan
pengamatan mulai proses pembuatan dan hingga barang tersebut siap dijual.
Melalui kegiatan pengamatan tersebut, staff pengawas tersebut akan tahu, apakah
proses yang diamati susuai prosedur atau tidak.
II. Inspeksi teratur dan langsung. Inspeksi teratur dilakukan secara periodic
dengan mengamati kegiatan atau produk yang dapat diobservasi. Contohnya staff
pengawasan melakukan inspeksi terhadap barang yang diproduksi apakah sesuai
dengan standar yang ditetapkan. Mulai dari ukuran, berat , dll. Dari inspeksi yang
dilakukan, perusahaan menjadi lebih tahu secara detail tentang barang yang
diproduksi.
III. Laporan lisan dan tertulis. Laporan lisan dan tertulis dapat menyajikan informasi
yang dibutuhkan dengan cepat disertai dengan feed-back dari bawahan dengan
relatif lebih cepat. Misalnya pegawai melaporkan kualitas barang yang dihasilkan
kepada atasannya secara lisan dan tertulis. Dari hasil laporan tersebut, atasannya
dapat memberikan perintah selanjutnya tentang bagaimana dan apa yang
semestinya dilakukan oleh pegawai tersebut.
IV. Evaluasi pelaksanaan. Evaluasi merupakan suatu penilaian akhir dari suatu
kegiatan dan tindakan apa yang selanjutnya diambil. Misalnya dalam sebulan
perusahaan memperoleh keuntungan penjualan yang cukup banyak. Maka evaluasi
yang dilakukan adalah bagaimana cara mempertahankan hal tersebut serta cara
meningkatkannya.
V. Diskusi antara manajer dengan bawahan tentang pelaksanaan suatu kegiatan. Cara
ini dapat menjadi alat pengendalian karena masalah yang mungkin ada dapat
didiagnosis dan dipecahkan bersama. Misalnya seorang pegawai mengalami

10
masalah di bidang pemasaran. Agar solusinya terpecahkan, maka diskusi dengan
atasan atau manajer akan menjadi solusi yang baik.
B. Pengendalian Kuantitatif
Pengendalian kuantitatif melibatkan angka-angka untuk menilai suatu prestasi.
Beberapa teknik yang dapat dipakai dalam pengendalian kuantitatif adalah:
I. Anggaran
Anggaran dalam organisasi ialah rencana keuangan yang menguraikan bagaimana
dana pada periode waktu tertentu akan dibelanjakan maupun bagaimana dana
tersebut akan diperoleh. Anggaran juga merupakan laporan resmi mengenai
sumber-sumber keuangan yang telah disediakan untuk membiayai pelaksanaan
aktivitas tertentu dalam kurun waktu yang ditetapkan. Disamping sebagai rencana
keuangan, anggaran juga merupakan alat pengendalian.
Anggaran adalah bagian fundamental dari banyak program pengendalian
organisasi. Pengendalian anggaran atau Budgetary Control itu sendiri merupakan
suatu sistem sasaran yang telah ditetapkan dalam suatu anggaran untuk mengawasi
kegiatan-kegiatan manajerial, dengan membandingkan pelaksanaan nyata dan
pelaksanaan yang direncanakan.
Contoh penerapan anggaran dalam pengendalian kuantitatif adalah pemilik modal
memberikan anggaran sebesar Rp 10.000.000 kepada perusahaan untuk
menjalankan bisnisnya selama 2 bulan. Melalui anggaran tersebut, pemilik modal
dapat melihat apakah modal yang awalnya sudah ditetapkan bersama pleh pemilik
modal dan perusahaan dapat digunakan dengan baik oleh perusahaan. Setelah
perusahaan menjalankan bisnisnya dan perusahaan mengatakan bahwa ternyata
modal yang diberikan kurang, maka dapat dikatakan bahwa di dalam perusahaan
tersebut terjadinya korupsi.
II. Audit
Metode pengawasan efektif lainnya adalah dengan menggunakan pemeriksaan
akuntan (auditing), yaitu suatu proses sistematik untuk memperoleh bukti secara
obyektif tentang pernyataan-pernyataan berbagai kejadian antara pernyataan-
pernyataan tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan, dan penyampaian hasil-
hasilnya kepada para pemakai yang berkepentingan. Contohnya adalah audit

11
memeriksa laporan laba rugi suatu perusahaan untuk mengetahui apakah benar
perusahaan mengalami keuntungan atau malah mengalami kerugian.
Alat pengawasan ini dapat dibagi menjadi dua kategori :
a) Internal Audit
Tujuan : membantu semua anggota manajemen dalam melaksanakan
tanggung jawab mereka dengan cara mengajukan analisis, penilaian,
rekomendasi dan komentar mengenai kegiatan mereka.
b) Ekternal Audit
Tujuan : menetukan apakah laporan keuangan tersebut menyajikan secara
wajar keadaan keuangan dan hasil perusahaan, pemeriksaan dilakasanakan
oleh pihak yang bebas dari pengaruh manajemen.
C. Analisis break-even
Analisa “break-even” adalah peralatan yang berguna untuk menjelaskan hubungan biaya,
volume, dan laba. Analisa ini menggunakan konsep yang sama seperti dalam peyiapan
anggaran variabel. Analisa break-even menganalisa dan menggabarkan hubungan biaya
dan penghasilan untuk menentukan pada volume berapa (penjualan atau produksi) agar
biaya total sama dengan penghasilan total sehingga perusahaan tidak mengalami laba atau
rugi. Contohnya adalah perusahaan ingin mengetahui bagaimana hubungan antara
banyaknya penjualan dan keuntungan yang didapat.memlalui analisa break even,perusahan
dapat mengetahui hubungan tersebut.
D. Analisis rasio
Rasio adalah hubungan antara dua angka yang dihitung dengan membagi satu angka
dengan angka lainnya. Analisa rasio adalah proses menghasilkan informasi yang
meringkas posisi financial dari organisasi dengan menghitung rasio yang didasarkan pada
berbagai ukuran finansial yang muncul pada neraca dan neraca rugi-laba organisasi.
Bagan dari Teknik yang berhubungan dengan waktu pelaksanaan kegiatan, seperti :
i. Bagan Ganti
Bagan yang mempunyai keluaran disatu sumbu dan satuan waktu disumbu yang
lain serta menunjukan kegiatan yang direncanakan dan kegiatan yang telah
diselesaikan dalam hubungan antar setiap kegiatan dan dalam hubunganya dengan
waktu. Contohnya adalah perushaan membuat bagan tentang proyek yang

12
dikerjakan. Dari bagan manajer dapat melihat apakah suatu proyek sedang
dikerjakan, telah selesai, atau belum dikerjakan.
ii. Program Evaluation and Reviw Technique (PERT)
Dirancang untuk melakukan scheduling dan pengendalian proyek – proyek yang
bersifat kompleks dan yang memerlukan kegiatan – kegiatan tertentu yang harus
dijalankan dalam urutan tertentu dan dibatasi oleh waktu.

13
BAB III

PENUTUP

3.1 Simpulan

Berdasarkan pemaparan paper tentang penagihan pajak dapat diambil beberapa


kesimpulan. Kesimpulan tersebut dipaparkan sebagai berikut :
1. Pengendalian adalah suatu alat dari alat lainnya sebagai implementasi strategi yang
berfungsi sebagai motivasi anggota organisasi untuk mencapai tujuan organisasi.
2. Proses pengendalian biasanya terdiri paling sedikit lima tahap (langkah), yaitu penetapan
standar pelaksanaan (perencanaan), penentuan pengukuran pelaksanaan
kegiatan, pengukuran pelaksanaan kegiatan nyata, pembandingan pelaksanaan kegiatan
dengan standar dan penganalisaan penyimpangan-penyimpangan, dan pengambilan
tindakan koreksi bila perlu.
3. Kriteria-kriteria utama pengendalian yang efektif adalah bahwa sistem
seharusnya mengawasi kegiatan-kegiatan yang benar, tepat waktu, dengan biaya yang
efektif, tepat-akurat, dan dapat diterima oleh yang bersangkutan.
4. Ada banyak teknik yang dapat membantu manajer agar pelaksanaan pengendalian menjadi
lebih efektif. Dua teknik yang paling terkenal adalah manajemen dengan pengecualian
(management by exception ) dan sistem informasi manajemen (management
information systems)
5. Metode - metode pengendalian bisa dikelompokkan ke dalam dua bagian, yaitu
pengendalian non-kuantitatif dan pengendalian kuantitatif. Pengendalian non-kuantitatif
tidak melibatkan angka-angka dan dapat digunakan untuk mengawasi prestasi organisasi
secara keseluruhan. Pengendalian kuantitatif melibatkan angka-angka untuk menilai suatu
prestasi.

14
3.2 Saran

Dalam melakukan pengendalian, diperlukan kemampuan – kemampuan yang ahli dalam


manajemen agar pengendalian yang dilakukan dapat dilakukan dengan baik. Perusahaan –
perusahaan yang besar sangat membutuhkan adanya suatu pengendalian dalam perusahaan untuk
mengendalikan perusahaan dengan baik agar dapat mencapai tujuan perusahaan.

15
DAFTAR PUSTAKA

http://file.upi.edu/Direktori/FPEB/PRODI.AKUNTANSI/195407061987031KARLI_SO
EDIJATNO/Akmen/Chapter_9/SISTEM_PENGENDALIAN_MANAJEMEN_YANG_DAH_DI
EDIT.pdf. Diakses pada tanggal 21 Maret, pukul 18.00 WITA.

https://jurnalmanajemen.com/pengertian-pengendalian/. Diakses pada tanggal 22 Maret,


pukul 19.00 WITA.

https://www.pelajaran.id/2017/28/pengertian-unsur-proses-dan-faktor-yang-
mempengaruhi-sistem-pengendalian-manajemen.html. Diakses pada tanggal 22 Maret, pukul
20.00 WITA.

16