Anda di halaman 1dari 22

SKENARIO 1.

Parti Kurus Sekali

Parti, anak perempuan yang berusia 8 bulan dibawa oleh ibunya ke


Puskesmas karena berat badan sulit naik. Ibu menunjukkan buku KMS dan hasil
penimbangan di Posyandu didapatkan BB saat usia 6 bulan 5,5 kg, dan usia 7 bulan
5,8 kg. Anak lahir dari ibu G4P3A1, 35 tahun, hamil cukup bulan, riwayat sakit dan
perdarahan selama hamil disangkal. Lahir secara spontan, ditolong bidan, berat
lahir 3000 gram, PB 49 cm. Anak mendapatkan ASI hanya sampai usia 2 bulan,
kemudian diberikan selang seling ASI dan susu formula karena ibu bekerja. Anak
mulai diberikan bubur saat usia 5 bulan. Anak sering sakit batuk pilek dan diare.
Dokter kemudiaan menanyakan riwayat perkembangan. Saat ini anak sudah dapat
duduk sendiri,bisa merangkak tetapi tidak bisa lama, selalu terjatuh, Sudah dapat
meraih mainan yang berada di dalam jangkauan, namun bila mainan jatuh atau
berada di luar jangkauan anak tidak berusaha mencari atau mengambilnya. Anak
sudah mendapatkan imunisasi Hepatitis B dan polio saat lahir, BCG usia 1 bulan,
DPT-HiB-Hepatitis B dan polio usia 2,4, dan 5 bulan. Dari pemeriksaan fisik
didapatkan kesadaran komposmentis, BB 5,8 kg, PB 65 cm, LK 44 cm, tanda vital
Nadi: 120 x/menit, isi dan tegangan cukup, RR: 28x/menit, suhu: 37 0C.
Pemeriksaan lain dalam batas normal. Dokter kemudian melakukan tatalaksana dan
konseling yang sesuai pada bayi tersebut

STEP 1

1. imunisasi : upaya untuk meningkatkan kekebalan tubuh agar terhindar dari


penyakit.1
2. buku KMS : kartu yang memuat kurva pertumbuhan normal anak
berdasarkan indeks antropometri berat badan menurut umur.1
3. Imunisasi BCG : vaksin hidup yang terbuat dari Mycobacterium bovis yang
dibiak berulang selama 1-3 tahun sehingga didapatkan hasil yang tidak
virulen tetapi masih mempunyai imunogenitas.2
STEP 2

1. Bagaimana interprestasi hasil dari scenario ?


2. Mengapa berat badan Parti sulit naik ?
3. Apa hubungan pemberian mpasi, susu formula dengan keadaan yang
dialami Parti dan apa manfaat ASI ?
4. Kenapa Parti selalu terjatuh saat merangkak ?
5. Mengapa anak harus diberi imunisasi ?
6. Apa kemungkinan diangnosis pada scenario ?

STEP 3

1. Interpretasi Hasil Pemeriksaan4

 Kesadaran : compos mentis

 BB/U : gizi kurang

 TB/U : normal

 Lingkar kepala : 44 cm (normal)

Nilai rujukan : 35-49 cm

 Nadi : 120x/menit (normal)

 RR : 28x/menit (normal)

 Suhu : 37 derajat celcius (normal)4

2. Mengapa berat badan parti sulit naik?

Terdapat perbedaan antara pemberian asi eksklusif dengan susu


formula. Sumber kalori utama dalam asi adalah lemak. Lemak dalam asi
eksklusif mudah dicerna dan diserap oleh bayi karena asi eksklusif
mengandung enzim lipase yang mencerna lemak trigliserida menjadi
digliserida, sehingga sedikit sekali lemak yang tidak diserap oleh sistem
pencernaan bayi.

Sedangkan susu formula tidak mengandung ezim karena enzim akan


rusak bila dipanaskan. Itu sebabnya bayi akan sulit menyerap lemak susu
formula. Akibatnya berat badan sulit naik dan menyebabkan diare.3
3. Apa hubungan pemberian MP ASI dan susu formula dengan keluhan yang
dialami Parti serta apa manfaat dari pemberian ASI?

Hubungan pemberian MP ASI dan susu formula

Makanan pendamping asi diberikan pada periode penyapihan yaitu


mulai usia 6 bulan hingga 2 tahun. Hal ini karena nutrisi dari asi sudah tidak
mencukupi lagi kebutuhan energi anak. Sangat dibutuhkan pengetahuan
orang tua yang baik mengenai makanan pendampin ASI karena jika jumlah,
komposisi, dan waktunya tidak tepat dapat menyebabkan anak malnutrisi
yang berakibat pada gangguan pertumbuhan dan perkembangan.

Tanda bayi siap diberi makanan padat :

a) Kepala sudah tegak


b) Duduk dengan bantuan
c) Refleks menjulurkan lidah berkurang
d) Tertarik melihat orang makan
e) Membuka mulut jika disodori makanan

Sedangkan pemberian susu formula juga dapat memiliki beberapa


kekurangan, yaitu:

a) Pengenceran yang salah


Pengenceran yang salah dapat terjadi, terlalu encer atau
terlalu pekat. Aturan pengenceran yang tertera pada tabel sering
tidak dimengerti oleh orang tua, pengasuh ataupun orang terdekat
bayi. Akibatnya sering terjadi hiper/hyponatremia, obesitas,
hipertensi dan enterocolitis necrotikans. Sedangkan larutan yang
hyperosmolar sering mengakibatkan malnutrisi dan gangguan
pertumbuhan.6
b) Kontaminasi mikroorganisme
Pembuatan susu di rumah tidak menjamin sterilitas sehingga
rentan terkontaminasi mikroorganisme pathogen.
c) Menyebabkan alergi
Prevalensi kejadian akibat alergi susu buata 0,5-1%, tetapi tidak banyak
petugas kesehatan yang menyadarinya. Pada beberapa kasus menunjukkan
gejala yang berat sehingga perlu mendapatkan perhatian.

d) Menyebabkan diare kronis


Kerusakan mukosa usus yang terjadi pada diare akut
menyebabkan terjadinya diare kronis apabila kejadiannya sering dan
terus-menerus, akibatnya akan meningkatkan morbiditas diare yang
disebabkan oleh kuman dan juga monilisasi yang meningkat sebagai
akibat dari pengadaan air dan sterilisasi yang kurang baik.
e) Penggunaan susu buatan dengan indikasi yang salah
Beredar susu buatan yang digunakan untuk penyakit tertentu
atau kondisi tertentu. Sering terjadi kekeliruan dalam penggunaan
susu buatan tersebut karena ketidaktahuan indikasi penggunaannya.
Dalam beberapa kasusu dapat terjadi infantile malnutrision kurang
kalori protein (KKP) pada bayi dan sering disebabkan oleh
penyapihan yang terlalu dini sehingga mengganggu perkembangan
otak/ sel otak dan menyebabkan penurunan kasus buatan mental,
intelektual dan juga fisik dimasa mendatang.
f) Mengurangi ikatan social
Hubungan batin, kasih saying ibu lebih dihayati yang
mendapat ASI. Manfaat dan dampak positif dapat dirasakan bila
anak sudah besar yaitu akan berperilaku lebih baik ke orang tuanya.6

Manfaat pemberian ASI

a) ASI sebagai nutrisi.


b) Makanan "terlengkap" untuk bayi, terdiri dari proporsi yang
seimbang dan cukup mengandung zat gizi yang diperlukan untuk 6
bulan pertama.
c) Mengandung antibodi (terutama kolostrum) yang melindungi
terhadap penyakit terutarna diare dan gangguan pernapasan.
d) Menunjang perkembangan motorik sehingga bayi yang diberi ASI
ekslusif akan lebih cepat bisa jalan.
e) Meningkatkan jalinan kasih sayang.
f) Selalu siap tersedia, dan dalam suhu yang sesuai.
g) Mudah dicerna dan zat gizi mudah diserap.
h) Melindungi terhadap alergi karenatidak mengandung zat yang dapat
menimbulkan alergi.
i) Mengandung cairan yang cukup untuk kebutuhan bayi dalam 6 bulan
pertama (87% ASI adalah air).
j) Mengandung asam lemak yang diperlukan untuk pertumbuhan otak
sehingga bayi ASI eksklusif potensial lebih pandai.
k) Menunjang perkembangan kepribadian, kecerdasan emosional,
kematangan spiritual, dan hubungan sosial yang baik.6

Oleh karena itu bisa jadi bahwa pemberian MP ASI yang terlalu dini
dan juga efek samping pemberian susu formula yang terlalu dini menjadi
penyebab apa yang dialami oleh Parti.

4. Kenapa parti sudah dapat merangkak tetapi selalu jatuh?

Tahapan tumbuh kembang anak ideal pada usia 6-8 bulan yaitu:

a) Bayi 6 bulan
Bayi di usia ini bisa berbalik dari posisi terlentang menjadi posisi
tengkurap, atau sebaliknya. Bila didudukkan dapat duduk sendiri tanpa
perlu dibantu. Ia suka menjatuhkan mainan yang diberikan, dan
meminta untuk diambilkan kembali.Bayi senang bermain dengan
kakak-kakaknya dan senang jika diberdirikan, serta sudah mulai banyak
mengeluarkan suara.
b) Bayi 7 bulan
Bayi usia ini dapat mengangkat badannya dengan tangan,
menggeser badannya ke belakang, atau mundur dan ke depan, atau maju.
Ia akan membawa mainan yang disukainya terus menerus dan marah
5
jika mainannya diambil. Ia mencoba untuk berdiri, suka membuat suara
dengan mengetuk atau mengocok benda yang ada dalam
genggamannya. Selain itu, ia suka menarik-narik rambut dan telinganya,
serta bermain dengan kakinya.
c) Bayi 8 bulan
Bayi yang sudah berumur delapan bulan sudah dapat merangkak,
duduk tanpa disangga, mengangkat badan dengan bantuan boks atau
kursi hingga dalam posisi berdiri. Ia juga mampu memegang botol dan
minum sendiri, mendorong benda yang tidak ia sukai, mengambil
benda-benda kecil, dan berteriak memanggil orang lain.
Sesuai dengan penjabaran diatas mengenai perkembangan anak,
maka kemungkinan gangguan tumbuh kembang yang dia alami
diakibatkan asupan nutrisi yang tidak adekuat, pemberian ASI yang
tidak eksklusif sampai usia 6 bulan serta pemberian MP ASI yang terlalu
dini maupun pemilihan jenis MP ASI yang kurang tepat. 5
5. mengapa anak harus diberi imunisasi ?

Imunisasi adalah suatu upaya untuk menimbulkan/meningkatkan


kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit, sehingga apabila
suatu saat terpajan dengan penyakit tersebut tidak akan sakit atau hanya
mengalami sakit ringan. Macam – macam imunisasi terdiri dari 4:

a) BCG
- Imunisasi BCG diberikan pada umur sebelum 2 bulan. Pada
dasarnya, untuk mencapai cakupan yang lebih luas, pedoman
Depkes perihal imunisasi BCG pada umur antara 0-12 bulan,
tetap disetujui.
- Dosis untuk bayi < 1 tahun adalah 0,05 ml dan anak 0,10 ml,
diberikan intrakutan di daerah insersio M. deltoideus kanan.
- BCG ulangan tidak dianjurkan oleh karena manfaatnya
diragukan mengingat (1) efektivitas perlindungan hanya 40%,
(2) 70% kasus TBC berat (meningitis) ternyata mempunyai parut
BCG, dan (3) kasus dewasa dengan BTA (bakteri tahan asam)
positif di Indonesia cukup tinggi (25-36%) walaupun mereka
telah mendapat BCG pada masa kanak-kanak.
- BCG tidak diberikan pada pasien imunokompromais (leukemia,
dalam pengobatan steroid jangka panjang, infeksi HIV, dan lain
lain).
- Apabila BCG diberikan pada umur >3bulan, sebaiknya
dilakukan uji tuberkulin terlebih dahulu. 4
b) Hepatitis B
- Imunisasi hepatitis B diberikan sedini mungkin setelah lahir,
mengingat paling tidak 3,9% ibu hamil merupakan pengidap
hepatitis dengan risiko transmisi maternal kurang lebih sebesar
45%.
- Pemberian imunisasi hepatitis B harus berdasarkan status
HBsAg ibu pada saat melahirkan. Jadwal pemberian
berdasarkan status HBsAg ibu adalah sebagai berikut:
- Bayi lahir dari ibu dengan status HbsAg yang tidak diketahui.
Diberikan vaksin rekombinan (HB Vax-II 5 µg atau Engerix B
10 µg) atau vaksin plasma derived 10 mg, secara intramuskular,
dalam waktu 12 jam setelah lahir. Dosis kedua diberikan umur
1-2 bulan dan dosis ketiga umur 6 bulan. Apabila pada
pemeriksaan selanjutnya diketahui ibu HbsAg-nya positif,
segera berikan 0,5 ml HBIG (sebelum 1 minggu).
- Bayi lahir dari ibu HBsAg positif. Dalam waktu 12 jam setelah
lahir, secara bersamaan, diberikan 0,5 ml HBIG dan vaksin
rekombinan (HB Vax-II 5 mg atau Engerix B 10 mg),
intramuskular di sisi tubuh yang berlainan. Dosis kedua
diberikan 1-2 bulan sesudahnya dan dosis ketiga diberikan pada
usia 6 bulan.
- Bayi lahir dari ibu dengan HBsAg negatif. Diberikan vaksin
rekombinan (HB Vax-II dengan dosis minimal 2,5 µg (0,25 ml)
atau Engerix B 10 µg (0,5ml), vaksin plasma derived dengan
dosis 10 µg (0,5 ml) secara intramuskular, pada saat lahir sampai
usia 2 bulan. Dosis kedua diberikan 1-2 bulan kemudian dan
dosis ketiga diberikan 6 bulan setelah imunisasi pertama.
- Ulangan imunisasi hepatitis B (HepB4) dapat dipertimbangkan
pada umur 10-12 tahun. • Idealnya dilakukan pemeriksaan anti
BHs (paling cepat) 1 bulan pasca imunisasi hepatitis B ketiga.
- Apabila sampai dengan usia 5 tahun anak belum pernah
memperoleh imunisasi hepatitis B, maka diberikan secepatnya
(catch-up vaccination).
c) DPT
- Imunisasi DPT dasar diberikan 3 kali sejak umur 2 bulan dengan
interval 4-6 minggu, DPT 1 diberikan pada umur 2-4 bulan, DPT
2 pada umur 3-5 bulan dan DPT 3 pada umur 4-6 bulan. Ulangan
selanjutnya (DPT 4) diberikan satu tahun setelah DPT 3 yaitu
pada umur 18-24 bulan dan DPT 5 pada saat masuk sekolah
umur 5-7 tahun.
- Dosis DPT/ DT adalah 0,5 ml, intramuskular, baik untuk
imunisasi dasar maupun ulangan.4
d) Tetanus
- Upaya Departemen Kesehatan melaksanakan Program Eliminasi
Tetanus Neonatorum (ETN) melalui imunisasi DPT, DT, atau
TT dilaksanakan berdasarkan perkiraan lama waktu
perlindungan sebagai berikut:
- Imunisasi DPT pada bayi 3 kali (3 dosis) akan memberikan
imunitas 1-3 tahun. Dari 3 dosis toksoid tetanus pada bayi
tersebut setara dengan 2 dosis toksoid pada anak yang lebih
besar atau dewasa.
- Ulangan DPT pada umur 18-24 bulan (DPT 4) akan
memperpanjang imunitas 5 tahun yaitu sampai dengan umur 6-
7 tahun, pada umur dewasa dihitung setara 3 dosis toksoid.
- Dosis toksoid tetanus kelima (DPT/ DT 5) bila diberikan pada
usia masuk sekolah, akan memperpanjang imunitas 10 tahun lagi
yaitu pada sampai umur 17-18 tahun; pada umur dewasa
dihitung setara 4 dosis toksoid.
- Dosis toksoid tetanus tambahan yang diberikan pada tahun
berikutnya di sekolah (DT 6 atau dT) akan memperpanjang
imunitas 20 tahun lagi; pada umur dewasa dihitung setara 5 dosis
toksoid.
- Jadi Program Imunisasi merekomendasikan TT 5x untuk
memberikan perlindungan seumur hidup dan pada wanita usia
subur (WUS) untuk memberikan perlindungan terhadap bayi
yang dilahirkan dari tetanus neonatorum.
- Dosis TT 0,5 ml diberikan secara intramuskular.
e) Polio
- Untuk imunisasi dasar (polio 2, 3, 4), vaksin diberikan 2 tetes
per-oral, dengan interval tidak kurang dari 4 minggu. Mengingat
Indonesia merupakan daerah endemik polio, sesuai pedoman
PPI untuk men-dapatkan cakupan imunisasi yang lebih tinggi,
diperlukan tambahan imunisasi polio yang diberikan segera
setelah lahir (pada kunjungan I).
- Perlu mendapat perhatian pada pemberian polio 1 saat bayi
masih berada di rumah bersalin/ rumah sakit, dianjurkan vaksin
polio diberikan pada saat bayi akan dipulangkan agar tidak
mencemari bayi lain mengingat virus polio hidup dapat
diekskresi melalui tinja.
- Imunisasi polio ulangan diberikan satu tahun sejak imunisasi
polio 4, selanjutnya saat masuk sekolah (5-6 tahun).
f) Campak
- Vaksin campak dianjurkan diberikan dalam satu dosis 0,5 ml
secara sub-kutan dalam, pada umur 9 bulan.
g) MMR
- Vaksin MMR diberikan pada umur 15-18 bulan dengan dosis
satu kali 0,5 ml, secara subkutan.
- Vaksin MMR yang beredar di pasaran ialah MMRII [MSD] ®
dan Trimovax [Pasteur Merieux] ®
- MMR diberikan minimal 1 bulan sebelum atau setelah
penyuntikan imunisasi lain.
- Apabila seorang anak telah mendapat imunisasi MMR pada
umur 12-18 bulan, imunisasi campak 2 pada umur 5-6 tahun
tidak perlu diberikan.
- Ulangan diberikan pada umur 10-12 tahun atau 12-18 tahun.4
h) Hib (H.influenzae tipe b)
- Vaksin conjungate H.influenzae tipe b ialah Act HIB [Pasteur
Merieux] ® diberikan pada umur 2, 4, dan 6 bulan. Bila
dipergunakan vaksin PRP-outer membrane protein complex
(PRP-OMPC) yaitu Pedvax Hib, [MSD] ® diberikan pada umur
2 dan 4 bulan, dosis ketiga (6 bulan) tidak diperlukan.
- Ulangan vaksin Hib diberikan pada umur 18 bulan.
- Apabila anak datang pada umur 1-5 tahun, Hib hanya diberikan
1 kali.
- Satu dosis vaksin Hib berisi 0,5 ml, diberikan secara
intramuskular.
i) Demam tifoid
- Di Indonesia tersedia 2 jenis vaksin yaitu vaksin suntikan
(polisakarida) dan oral. Vaksin capsular Vi polysaccharide yaitu
Typhim Vi [Pasteur Merieux] ® diberikan pada umur > 2 tahun,
ulangan dilakukan setiap 3 tahun.
- Tifoid oral Ty21a yaitu Vivotif [Berna] ® diberikan pada umur
> 6 tahun, dikemas dalam 3 dosis dengan interval selang sehari
(hari 1,3, dan 5). Imunisasi ulangan dilakukan setiap 3-5 tahun.
6. Apa kemungkinan diagnosis pada scenario ?

Disini Parti kemungkinan mengalami gangguan pertumbuhan dan


perkembangan yang dikarenakan tidak terpenuhinya gizi seimbang.
Gangguan pertumbuhan merupakan suatu keadaan apabila pertumbuhan
anak secara bermakna lebih rendah atau pendek dibandingkan anak
seusianya yang berdasarkan indeks tinggi badan menurut umur (TB/U)
berada dibawah – 2 SD kurva pertumbuhan WHO 2005 (Kemenkes RI,
2010). Banyak faktor yang mempengaruhi gangguan pertumbuhan. Dari
seluruh siklus kehidupan, masa kehamilan merupakan periode yang sangat
menentukan kualitas SDM di masa depan, karena tumbuh kembang anak
sangat ditentukan oleh kondisinya saat masa janin dalam kandungan. Akan
tetapi perlu diingat bahwa keadaan kesehatan dan status gizi ibu hamil
ditentukan juga jauh sebelumnya, yaitu pada saat remaja atau usia sekolah.
Demikian seterusnya status gizi remaja atau usia sekolah ditentukan juga
pada kondisi kesehatan dan gizi saat lahir dan balita.4

STEP 7

1. Anamnesis dan faktor resiko gangguan pertumbuhan dan perkembangan


anak
A. Anmnesis

keluhan utama dari orangtua berupa kekhawatiran terhadap tumbuh


kembang anak dapat mengarah kepada kecurigaan adanya gangguan
tumbuh kembang,8 misalnya anaknya lebih pendek dari teman sebayanya,
kepala kelihatan besar, umur 6 bulan belum bisa tengkurap, umur 8 bulan
belum bias duduk, umur 15 bulan belum bisa berdiri, 2 tahun belum bisa
bicara melaporkan bahwa kecurigaan orangtua terhadap perkembangan
anaknya (dengan membandingkan terhadap anak-anak lain) mempunyai
korelasi yang cukup tinggi dengan gangguan perkembangan tertentu
(walaupun mereka berpendidikan rendah dan belum berpengalaman
mengasuh anak 4
Coplan dkk melaporkan bahwa penilaian orangtua pada
perkembangan bicara anaknya mempunyai korelasi yang kuat dengan hasil
kemampuan kognitif mereka. Namun orang tua tidak selalu benar, karena
20-25% orang tua tidak mengetahui bahwa anaknya terganggu
perkembangannya, dan banyak orang tua yang khawatir pada
perkembangan anaknya padahal tidak terganggu.6Oleh karena itu kita harus
melakukan pemeriksaan fisis dan skrining perkembangan untuk
membuktikan apakah kecurigaan orang tua itu benar. Selanjutnya
anamnesis dapat diarahkan untuk mencari faktor-faktor risiko atau etiologi
gangguan tumbuh kembang yang disebabkan oleh faktor intrinsik pada
balita dan atau faktor lingkungan.. pendidikan, kesehatan ibu selama hamil
dan persalinan (kadar Hb, status gizi, penyakit, pengobatan), jumlah anak
dan jarak kehamilan, pengetahuan, sikap dan ketrampilan ibu dalam
mencukupi kebutuhan biopsikososial (‘asuh’, ‘asih’, ‘asah’) untuk tumbuh
kembang balitanya, penyakit keturunan, penyakit menular, riwayat
pernikahan (terpaksa, tidak direstui, single parent, perceraian dan lain-lain),
merokok, alkoholism, narkoba, pekerjaan/penghasilan, dan lainlain.4

B. Faktor resiko

Faktor risiko pada balita (intrinsik, genetikheredokonstitusional)


Faktor risiko yang harus ditanyakan antara lain retardasi pertumbuhan intra
uterin, berat lahir rendah, prematuritas, infeksi intra uterin, gawat janin,
asfiksia, perdarahan intrakranial, kejang neonatal, hiperbilirubinemia,
hipoglikemia, infeksi, kelainan kongenital, temperamen, dan lain-lain.

a) Faktor resiko di linkungan mikro

Faktor resiko pada ibu antara lain umur ,tinggi badan, anak
dan jarak kehamilan pengetahuan sikap ketrampilan ibu dalam
mencukupi kebutuhan biopsikososial (‘asuh’, ‘asih’, ‘asah’) untuk
tumbuh
kembang balitanya, penyakit keturunan, penyakit
menular, riwayat pernikahan (terpaksa, tidak direstui,
single parent, perceraian dan lain-lain), merokok,
alkoholism, narkoba, pekerjaan/penghasilan, dan lainlain.

b) faktor resiko di lingkungan meso

Tetangga (tingkat ekonomi, sikap dan perilaku tetangga),


teman bermain, sarana bermain, polusi, pelayanan kesehatan
(kualitas pelayanan Posyandu), pendidikan (pendidikan usia dini,
program bina keluarga dan balita dan lain-lain), sanitasi lingkungan,
adat-budaya dan lain-lain dapat mempengaruhi pemenuhan
kebutuhan bio-psikososial untuk tumbuh kembang balita.

c) Faktor resiko lingkungan makro

Program-program untuk meningkatkan pengetahuan, sikap


dan ketrampilan keluarga dalam mencukupi kebutuhan
biopsikososial untuk tumbuh kembang anaknya belum menjangkau
semua keluarga (terutama keluarga berpenghasilan rendah),
walaupun secara konseptual pemerintah, organisasi profesi,
perguruan tinggi (iptek), LSM, WHO, Unicef dan lain-lain sejak
lama peduli pada masalah ini.10-12 Demikian juga upaya deteksi
dini belum mendapat prioritas penting di dalam program rutin dan
belum didukung sarana intervensi, serta belum mampu menjangkau
semua balita berisiko tinggi.4

2. Pemeriksaan Status Generalis Pada Bayi

a) Meminta ijin pada pasien terlebih dahulu terutama pada orang tua pasien
b) Mencuci tangan
c) Keadaan Umum5

- Kesan Pertama  Kesakitan, Lemah, Sesak Nafas, Pucat


- Kesadaran  kompos mentis, Apatis, Somnolen, Koma
- Status Gizi  Gizi kurang, Gizi lebih, Gizi baik
d) Tanda Vital

- Nadi  Frekuensi Nadi/menit, Isi, Tegangan, Irama


- Pernapasan  Frekuensi Napas/menit : Normal, Kusmaul (cepat
dan dalam : gagal ginjal, sepsis dll), Cheyne Stokes, Biot ( tidak
terartur : infeksi otak berat)
- Suhu  dilakukan di aksila. Normalnya 36,5° - 37,5°
- Tekanan Darah 

Tekanan Darah Sistolik Diastolik


Neonatus 80 45
6-12 bulan 90 60
1-5 tahun 95 65
5-10 tahun 100 60
10-15 tahun 115 60

e) Status Gizi  Dihitung dengan memasukkan pada kurva KMS dengan


standar deviasi maupun persentil ( BB, TB)
f) Kulit
 Turgor kulit
Mencubit kulit secara ringan  membiarkannya kembali
- Jelek  bekas cubitan kembali lama, dehedrasi berat
- Baik  cubit cepat kembali
 Kelembaban Kulit
- Berlebih  berkeringat, demam, hipoglikemi
- Kering  pada dehidrasi
 Sianosis, Hiperemis, Ulkus, Ptekie, Eretema, vesikula, pustula dll
 Pada bagain popok bayi dilihat adakan kemerahan ( diaper rash)5

g) Kepala dan Leher


 Lingkar Kepala  mikrosefal, makrosefal
 Rambut  Gizi Buruk  warna rambut merah jagung, kering mudah
dicabut
 Ubun Ubun Besar (UUB)
- Normal UUB : datar
- UUB Cekung : Dehidrasi
- UUB Cembung : Encephalitas, Meningoencephalitis
 Wajah
- Asimetris
- Dismorfik
- Edema Palpebra
- Edema wajah ( moon face)  penggunaan steroid jangka panjang
 Telinga  Bentuk, Letak daun telinga, Sekret
 Mata  Mata cowong, Konjungtiva anemis, Corpus alienum,
Pandangan mata
 Hidung  Napas Cuping Hidung, Epistaksis
 Mulut  Trismus, Sianosis, Lidah besar
 Tenggorokan  Perhatikan pada daerah tonsil, palatum, faringapakah
terdapat hiperemis, massa
h) Pemeriksaan Dada
 Thorax  simetris/asimetris, retraksi tulang dada
 Paru  diperiksa seperti biasa ( Inspeksi, Palpasi, Perkusi dan
Auskultasi)
 Jantung  diperiksa seperti biasa ( Inspeksi, Palpasi, Perkusi dan
Auskultasi)
 Abdomen  ( Inspeksi, Auskultasi, Perkusi dan Palpasi)
i) Organ Genital  Massa, Hiperemis, Sekret, Sianosis
j) Ekstremitas  Akral hangat, akral dingin, Oedem, Ulkus, Jari tabuh,
Flat nail, Spoon Nail, deformitas, fraktur.5

3. Cara Pengisian dan Interpretasi Hasil KMS


Langkah-langkah pengisian Kartu Menuju Sehat (KMS):

a) Memilih KMS sesuai jenis kelamin.


b) Mengisi identitas anak dan orang tua pada halaman depan.
c) Mengisi bulan lahir dan bulan penimbangan anak3
- Bulan lahir anak pada kolom umur 0 bulan
- Tulis semua kolom bulan penimbangan berikutnya secara
berurutan.
- Apabila anak tidak diketahui tanggal lahirnya, tanyakan
perkiraan umur anak tersebut.
- Tulis bulan saat penimbangan pada kolom sesuai umurnya.
d) Meletakkan titik berat badan dan membuat garis pertumbuhan
- Letakkan (plotting) titik berat badan hasil penimbangan
- Hubungkan (plot) titik berat badan hasil penimbangan.
e) Mencatat satiap kejadian yang dialami anak, seperti adanya demam,
tidak mau makan, anak mengalami diare, dll.3
f) Menentukan status pertumbuhan anak dengan cara menilau garis
pertumbuhan dan menghitung kenaikan berat badan dibandingkan
kenaikan berat badan minimum (KBM).
NAIK (N) TIDAK NAIK (T)
Grafik berat badan mengikuti Grafik berat badan
garis pertumbuhan atau kenaikan mendatar/menurun memotong garis
berat badan sama dengan KBM pertumbuhan dibawahnya atau
atau lebih kenaikan berat badan < KBM

g) Mengisi catatan pemberian imunisasi pada bayi. Tanggal imunisasi diisi


oleh petugas kesehatan setiap kali setelah imunisasi diberikan.
h) Mengisi catatan pemberian kapsul vitamin A (tanggal diisi oleh petugas)
i) Isi kolom pemberian ASI eksklusif, beri tanda (√) jika diberi ASI tanpa
makanan dan minuman lain dan beri tanda (-) jika diberikan makanan
lain selain ASI (diisi pada bulan berikutnya).
Interpretasi

Petunjuk arah yang harus dicapai oleh grafik berat badan anak3

- Arah A : pertumbuhan anak baik.


- Arah B : pertumbuhan kurang baik, memerlukan perhatian
khusus
- Arah C : memerlukan tindakan segera
- Arah D : ibu harus diberikan pujian atas keberhasilannya
menaikkan kembali berat badan anaknya searah kurva normal.

4. Penilaian status pertumbuhan dan perkembangan pada kasus

Keadaan pertumbuhan anak di nilai dalam aspek :

a) Corak / pola pertumbuhan

Corak kormmal
Corak yang tidak normal contohnya :

- Kelainan kepala mikro/makro sefal


- Kelainan anggota gerak kelumpuhan akibat polio
- Akibat penyakit metabolik, endokrin, kelainan bawaan, seperti
kreatin,akondopllasia, dsb
b) Proses pertumbuhan6

Lebih dinilai pada pemeriksaan antropometri (secara


berkala) suatu penyimpanan dari arah kurva normal merupakan
indikator untuk kelainan akibat penyakit/ hormonal/ gizi kurang.

c) Hasil pertumbuhan pada suatu waktu

Dilihat pada persentil keberapa untuk suatu ukuran


antropometrik : disimpulkan anak tersebut normal atau tidak

d) Keadaan status gizi


Penilaian tidak cukup dari pemeriksaan antropometri.
Melainkan diperlukan anamnesis, pf dan pemeriksaan penunjang
lainnya6.
Penilaian tumbuh kembang :

a) Menurut WHO

caranya menggunakan Z-score


interpretasi kurva: 0 (normal)
+1 possible risk overwight
+2 overwight
+3 obes

b) Monkes ( komenkes 1995/ KEMENKES/ SK/ X11/ 2010 ) tabel


klarifikasi status gizi balita berdasarkan kemnkes 1995/
MENJES/SK/ X11/2010

Bb/ u : gizi lebih >2Sd


Gizi baik -2SD- 2SD
Gizi kurang -3SD - < -2SD
Gizi buruk <-3SD

5. Edukasi dan peran dokter keluarga

upaya untuk meningkatkan kualitas tumbuh kembang anak ada


beberapa hal yang harus diperhatikan oleh dokter maupun orang tua,
diantaranya:3

a) gizi anak, pemberian ASI ekslusif tetap dilakukan dan pemberian


MPASI setelah 6 bulan.
b) kesehatan anak, dapat dimonitoring dengan buku KMS.
c) tetap berikan imunisasi.
d) perumahan yang layak
e) sanitasi lingkungan yang baik.
f) suasana damai dan kasih saying dalam keluarga.3
6. Pandangan islam
Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan untuk menetapkan
hukum penggunaan vaksin MR ini: Pertama, hukum asal segala suatu adalah
boleh:

‫اء ِفي ا َ أْل َ أ‬


‫صل‬ ِ ‫التَّحأ ِر ِيم َعلَى الدَّ ِليل َيدل َحتَّى اأ ِإل َبا َحة اأْل َ أش َي‬

“Hukum asal dari segala suatu adalah boleh sampai ada dalil yang
menunjukkan keharamannya.” (Muhammad Shidqi Burnu, Mausu’ah al-
Qawaid al-Fiqhiyyah, juz 2, halaman 115).7
Berdasarkan kaidah di atas, maka hukum asal vaksin ataupun
Imunisasi adalah boleh, sampai ada bukti kuat dan data valid bahwa vaksin
dimaksud mengandung unsur haram atau najis. Kedua, seandainya–sekali
lagi, seandainya–terbukti ada unsur haram atau najis dalam pembuatan
vaksin MR, maka ada dua kemungkinan, yaitu: (1) proses pembuatan vaksin
bersinggungan dengan unsur haram atau najis (biasanya berupa enzim babi),
atau (2) unsur haram dan najis dimaksud dijadikan sebagai bahan pembuat
vaksin. Jika unsur haram atau najis hanya bersinggungan dengan vaksin
tersebut, maka vaksin tidak menjadi najis atau haram, sebab pengertian
benda najis adalah:7

‫ت الَّ ِذ أ‬
‫ي ه َو‬ ‫سة فِ أي ِه َحلَّ أ‬
َ ‫نَ َجا‬

“Benda najis adalah benda yang terkena (tercampur) najis.” (Ahmad bin
Husein, Matn Ghayah wa al-Taqrib, halaman 4) Dengan demikian,
penggunaan vaksin yang proses pembuatannya bersinggungan dengan
benda yang najis atau haram, hukumnya boleh. Sebab vaksin tersebut
dihukumi suci karena hanya sebatas bersinggungan dengan benda najis, dan
tidak tercampur langsung. Akan tetapi, jika benda haram dan najis dijadikan
sebagai bahan pembuat vaksin maka ada proses yang disebut “istihalah”.
Istihalah adalah berubahnya sesuatu menjadi bentuk lain, dengan berubah
dzat dan sifatnya, seperti khamr yang berubah menjadi cuka. Di sini, bahan
vaksin yang berupa benda najis atau haram berubah secara kimiawi menjadi
vaksin.7
Para ulama sepakat bahwa khamr jika berubah dengan sendirinya (tanpa ada
campur tangan manusia) menjadi cuka maka hukumnya suci dan halal
dikonsumsi. (Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid, hal 11). Mereka berbeda
pendapat jika perubahan tersebut terjadi karena campur tangan manusia, di
mana ulama mazhab Hanafi dan Maliki menghukuminya suci, sedangkan
ulama mazhab Syafi’i dan Hanbali menghukuminya najis.
Para ulama juga berbeda pendapat jika benda najis selain khamr
berubah dzat dan sifatnya karena usaha manusia. Ulama mazhab Hanafi dan
Maliki menghukuminya suci, seperti babi dan bangkai yang jatuh di tempat
produksi garam, kemudian menjadi garam, maka hukumnya suci dan halal
dikonsumsi (Lihat: Al-Bahr al-Ra’iq Juz I halaman 239, Al-Syarh al-Kabir,
halaman 50). Sementara ulama mazhab Hanbali dan imam Abu Yusuf
menghukuminya najis. (Lihat Fathul Qadir, juz I halaman 139). Adapun
dalam mazhab Syafi’i, para ulama memberikan rincian; jika benda tersebut
najis dzatnya maka tidak dapat menjadi suci, sedangkan jika benda itu
menjadi najis karena sesuatu yang lain (mutanajjis), maka bisa menjadi suci,
seperti kulit bangkai yang menjadi suci karena disamak. Imam Nawawi
berkata:
‫ش أيء َي أ‬
‫طهر َو َل‬ َ َ‫ت ِمن‬
ِ ‫سا‬ ِ ‫َان ِإ َّل ِب أ‬
َ ‫ال أستِ َحالَ ِة النَّ َجا‬ َ : ‫أ َ َحده َما‬: ‫د ِب َغ ِإذَا أال َم أيت َ ِة ِج ألد‬، ‫والثَّانِ أي‬:
ِ ‫ش أيئ‬ َ ‫ال َخ أمر‬

“Dan benda najis tidak dapat menjadi suci dengan berubah bentuk
(istihalah) kecuali dua hal, pertama: kulit bangkai jika disamak, dan khamr.”
(Yahya bin Syaraf An Nawawi, Al-Muhadzdzab, Juz I, halaman 48).
Berdasarkan konsep istihalah di atas, dapat disimpulkan bahwa vaksin
seandainya berasal dari bahan yang najis atau haram, maka menurut ulama
mazhab Hanafi dan Maliki, hukumnya suci dan boleh digunakan, sebab
bahan najis atau haram itu berubah secara kimiawi menjadi bentuk lain,
yaitu vaksin.
Sikap Anti-Vaksin dan Hukum Kandungan Najis dalam Obat
Sedangkan menurut mazhab Syafi’i, dan Hanbali, hukum vaksin MR tetap
najis dan tidak boleh digunakan, sebab perubahan yang terjadi bukan karena
sendirinya melainkan karena campur tangan manusia, kecuali ada kondisi
darurat dan hajat yang memaksa seseorang untuk menggunakan vaksin
dimaksud, sebagaimana kaidah fiqih:

‫ورات‬
َ ‫ت تبِيح الضَّر‬ َ ‫أال َمحأ ظ‬
ِ ‫ورا‬

"Keadaan darurat membolehkan atau menghalalkan sesuatu yang haram."

‫ورةِ َم أن ِزلَةَ تَ أن ِزل أال َحا َجة‬ ‫صة أ َ أو كَان أ‬


َ ‫َت َعا َّمة الضَّر‬ َّ ‫خَا‬

"Hajat (kebutuhan) dapat menempati posisi darurat, baik berupa hajat umum
maupun hajat khusus."

‫صلَ َح ِة ِم أن أ َ أك َمل َوالس َََّل َم ِة أال َعا ِف َي ِة َم أ‬


‫صلَ َحةَ ِإ َّن‬ ‫ب َم أ‬ َ ‫النَّ َجا‬
ِ ‫س ِة اجأ ِتنَا‬

“Sesungguhnya kemaslahatan sehat dan selamat itu lebih sempurna


dibanding kemaslahatan menjauhi najis. (Lihat: Izzuddin Ibnu Abdis Salam,
Qawaidul Ahkam fi Mashalihil Anam, halaman 142)
Beberapa saran: Pertama, orang Islam yang telah terlanjur
melakukan imunisasi atau orang Islam yang yakin akan kehalalan vaksin
tersebut, boleh mengambil pendapat ulama yang menghukuminya halal.
Kedua, orang Islam yang ragu-ragu akan kehalalan vaksin, sebaiknya
menunggu fatwa MUI tentang halal atau tidaknya vaksin tersebut. Ketiga,
mengingat penting dan mendesaknya pemberian label halal atau haram pada
vaksin ini, maka pihak-pihak terkait, meliputi Kementerian Kesehatan,
LPPOM MUI, dan produsen, secepat mungkin melakukan kajian
mendalam, lalu mengeluarkan statemen tentang kehalalan atau keharaman
vaksin dimaksud.7
DAFTAR PUSTAKA

1. Ranuh, dkk. Buku Imunisasi Indonesia. Jakarta : Satgas Imunisasi IDAI;


2008.
2. Menteri Kesehatan RI. Penggunaan Kartu Menuju Sehat (KMS) Bagi
Balita. Peraturan Menkes RI Nomor 155/Menkes/Per/I/2010. Direktorat
Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat; 2010.

3. Soetjiningsih. Upaya Peningkatan Kualitas Tumbuh Kembang Anak.


Dalam: Gde Ranuh, editor. Tumbuh Kembang Anak. EGC; 1998.
4. Sari Pediatri.Jadwal Imunisasi Rekomendasi IDAI Vol. 2, No. 1, Juni 2000:
43 - 47
5. Almaitser, S. 2004. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama
6. Ranuh, IG.N. 2005. Masalah Kesehatan Anak. Tumbuh Kembang Anak
dan Remaja, Jakarta: IDAI
7. Al- Quran dan Hadist