Anda di halaman 1dari 4

2.

Gejala Klinis

1. Anemia Aplastik karena mudah demam


Granulopoetik  Leukopenia
 Eritroid  Anemia  sindrom anemia: pucat, lemah, anoreksia, palpitasi, sesak

 Trombopoetik  Trombositopenia  mudah perdarahan : gum bleeding, epistaksis,


petechie, purpura
 Tidak dijumpai ikterus, organomegali

2. Anemia hemolitik
 Sering pada wanita muda, demam, Terjadi pd semua umur, Gejala yg menonjol: anemia,
demam, icterus dan splenomegaly, demam, icterus dan splenomegaly, gejala hilang timbul

3. PTI (Purpura Trombositopenik Imun)


4. Leukemia akut
Di Indonesia yang terbanyak adalah leukemia myeloid kronik (LMK) atau chronic myeloid
leukemia (CML) (usia 40-60tahun)

• Gejala hiperkatabolik: BB menurun, lemah, anoreksia, keringat malam


• Splenomegali, sering massif
• Hepatomegali, jarang dan ringan
• Gejala gout, ggn penglihatan dan priapismus
• Anemia pd fase awal, sering ringan
• Sering asimptomatik, ditemukan secara kebetulan saat check up

Berikut berbagai gejala leukemia yang dapat dikenali berdasarkan jenisnya:

1. Gejala Leukemia Limfositik Akut (Acute Lymphocytic Leukemia, ALL)


Jenis leukemia yang paling sering menyerang anak-anak di bawah 15 tahun, dengan puncak
insidens kelompok umur 3-4 tahun. Tingkat kelangsungan hidup (survival rate) 5 tahun
penderitanya sebesar 68,2%. Gejala umum yang dapat dikenali meliputi kelelahan, pusing,
sesak napas, demam, nyeri tulang/sendi, mudah memar dan infeksi serius yang sulit
disembuhkan.

Jika sel-sel leukemia ini menumpuk di hati dan limpa, maka akan nampak pembengkakan di
perut dan penderitanya akan merasa mudah sekali kenyang meski hanya makan sedikit.
Pembesaran kelenjar getah bening dapat terjadi bila saja sel-sel kanker menyebar ke kelenjar
getah bening.

Beberapa gejala lainnya seperti sakit kepala, kelelahan, kejang, muntah, mati rasa pada
wajah, penglihatan kabur dan masalah keseimbangan menunjukkan bahwa sel leukemia telah
menyebar ke otak atau sumsum tulang belakang. Baca juga: 7 Gejala Utama Leukemia pada
Anak

Subtipe leukemia limfositik akut juga dapat memengaruhi timus, organ kecil yang terletak
tepat di dalam rongga dada atas. Dengan gejala berupa batuk-batuk dan kesulitan bernapas.
Terkadang dapat menjalar hingga ke vena cava superior yang ditandai dengan adanya
pembengkakan di wajah, leher, lengan juga dada disertai oleh perubahan kesadaran.

2. Gejala Leukemia Mielogen Akut (Acute Myelogenous Leukemia, AML)

Jenis leukemia yang paling umum dan dapat terjadi baik pada anak-anak maupun orang
dewasa. Tingkat kelangsungan hidup (survival rate) 5 tahun penderitanya sebesar 26,9%.
Gejala utama leukemia mielogen akut ditandai dengan adanya sitopenia (anemia, leukopenia
dan trombositopenia) akibat akumulasi blast (sel-sel muda) di sumsum tulang yang pada
gilirannya dapat berujung pada sindrom kegagalan sumsum tulang.

Anemia ditandai dengan adanya gejala mudah lelah, pusing dan sesak napas.
Trombositopenia ditandai dengan perdarahan dalam bentuk purpura atau petekie
(memar/lebam) ataupun berupa epistaksis alias mimisan serta perdarahan gusi dan retina.
Sedangkan leukopenia menyebabkan penderitanya begitu rentan terhadap infeksi dan paling
sering terjadi ditenggorokan, paru-paru, kulit dan daerah perirektal.

Leukemia jenis ini paling sering menyebabkan leukostasis, yakni keadaan emergensi yang
mengakibatkan tersumbatnya pembuluh darah. Gejalanya bervariasi, tergantung lokasi
sumbatannya. Namun yang paling umum dijumpai, yakni gangguan kesadaran, bicara tidak
jelas, sesak napas, nyeri dada, kelemahan di satu sisi tubuh, penglihatan kabur dan priapismus
atau ereksi penis berkepanjangan meski tanpa rangsangan.

3. Gejala Leukemia Limfositik Kronis (Chronic Lymphocytic Leukemia, CLL)

Jenis leukemia yang paling sering menyerang dewasa lebih tua, yakni di atas 55
tahun. Tingkat kelangsungan hidup (survival rate) 5 tahun penderitanya sebesar 83,2%.
Karena bersifat kronis, gejalanya pun berkembang secara bertahap. Hingga tak jarang
membuat sebagian besar dari penderitanya luput dari kondisi serius yang dialaminya.
Pembesaran kelenjar getah bening tanpa rasa sakit menjadi gejala yang paling umum
dijumpai. Penderitanya pun seiring waktu kerap merasakan kelelahan, sering berkeringat di
malam hari, kehilangan nafsu makan atau mudah kenyang akibat membesarnya limpa.

Perdarahan mukokutan seperti memar hebat atau epistaksis dan infeksi berulang seperti
pneumonia, herpes simpleks labialis dan herpes zoster dapat menjadi pertanda bahwa
leukemia yang dialami telah mencapai stadium lanjut.

4. Gejala Leukemia Mielogen Kronis (Chronic Myelogenous Leukemia, CML)

Jenis leukemia yang lebih banyak terjadi pada orang dewasa usia pertengahan. Tingkat
kelangsungan hidup (survival rate) 5 tahun penderitanya sebesar 66,9%. Tanda atau gejala
leukemia mielogen kronis terbagi dalam 3 fase, yakni fase kronis, fase akselerasi dan fase
blastik.

Fase kronis merupakan tahap paling awal dan paling mudah diobati. Tanda paling umum
pada fase ini adalah dengan ditemukannya peningkatan jumlah sel darah putih yang abnormal
pada tes darah atau membesarnya limpa pada pemeriksaan fisik abdomen.

Gejalanya tidak spesifik namun terkait erat dengan keadaan hipermetabolik, seperti
kelelahan, penurunan berat badan, demam ringan, keringat berlebih, hilangnya energi dan
penurunan toleransi latihan yang dapat berlangsung cukup lama setelah onset penyakit.

Pada fase akselerasi, jumlah sel darah yang tak berfungsi semakin meningkat. Gejalanya
termasuk kelelahan yang sangat, memar-memar pada kulit, demam, sering berkeringat di
malam hari, penurunan berat badan yang cukup drastis, napas pendek (dyspnea) dan
pembengkakan disertai rasa sakit di sisi kiri perut.

Gejala lain yang mungkin dapat terjadi pada fase akselerasi diantaranya seperti stroke,
perubahan pada penglihatan dan pendengaran, merasa linglung dan priapismus atau ereksi
berkepanjangan.

Pada fase blastik, sel-sel leukemia semakin bertambah banyak dimana gejala-gejala pada fase
sebelumnya juga menjadi bertambah parah. Disertai pula dengan infeksi berulang,
perdarahan, timbulnya benjolan atau tumor pada bagian tubuh, pembengkakan kelenjar getah
bening dan nyeri tulang.

Segera periksakan diri ke dokter spesialis hematologi dan onkologi bila saja mengalami satu
atau beberapa gejala yang tak biasa. Pengobatan akan sangat tergantung pada jenis dan
stadium leukemia itu sendiri. Semakin cepat diketahui dan diobati, semakin tinggi pula
peluang untuk dapat terbebas dari risiko yang lebih buruk.

5. Mielofibrosis
Age > 50 years old
Severe Anemia  transfusion
Severe thrombocytopenia  bleeding
Spleenomegaly >>  early satiate

Masing-masing sel darah memiliki fungsi spesifik sehingga kekurangan salah satu dari
ketiganya menyebabkan gejala tersendiri:

 Akibat kekurangan sel darah merah – menyebabkan penurunan transport oksigen pada
aliran darah sehingga memicu anemia, rasa lemas, kesulitan bernapas, lelah dan pusing.
Penderita juga mungkin merasakan nyeri pada tulang.
 Akibat kekurangan sel darah putih – penurunan imunitas adalah hal utama yang mungkin
dialami sehingga tubuh lebih rentan terserang penyakit.
 Akibat kekurangan trombosit – kurangnya trombosit menyebabkan darah sulit membeku
sehingga tubuh akan lebih sulit mengalami penyembuhan luka terbuka.

Karena sumsum tulang mengalami masalah organ penghasil darah tambahan seperti liver,
limfa, dan paru-paru serta kelenjar getah bening mengalami kerja lebih untuk menghasilkan
darah. Kondisi ini tentu saja akan berbahaya bagi tubuh karena dapat menyebabkan
pembesaran organ terutama organ limfa. Jika hal ini terjadi, akan menyebabkan rasa nyeri
dari bagian dalam terutama pada bagian perut.

Meskipun banyak gejala yang dapat dialami penderita, hal tersebut dapat tersamarkan seperti
tidak ada gangguan yang dialami penderita myelofibrosis. Diagnosis sering ditemukan saat
dilakukan pemeriksaan darah rutin. Namun, penderita myelofibrosis sangat mungkin
mengalami anemia dan rasa lelah atau lemas yang tidak diketahui penyebabnya. Gejala
lainnya juga dapat berupa demam, penurunan berat badan, rasa gatal, dan berkeringat sangat
banyak saat malam hari.

Apa penyebab myelofibrosis?

Kelainan genetik adalah hal utama yang memicu gangguan inflamasi dan pertumbuhan
jaringan parut abnormal pada sumsum tulang. Terdapat tiga mutasi gen yang dapat
menyebabkan kondisi ini diantaranya JAK2, CALR dan MI. Ketiga kode genetik ini dapat
berubah atau mengalami mutasi seiring dengan pertambahan usia. Oleh karena itu, hal ini
tidak diturunkan dari orangtua dan penderita tidak akan menurunkan kondisi tersebut kepada
anaknya.

Siapa saja yang berisiko terkena myelofibrosis?

Pada dasarnya semua orang baik dapat mengalami hal ini, kelainan dapat dimulai dan terjadi
pada usia berapa saja, namun sering ditemukan pada usia lanjut. Myelofibrosis dapat terjadi
untuk pertama kalinya (primer) karena mutasi genetik atau dipicu dari kondisi kanker darah
lainnya seperti leukemia akan meningkatkan risiko seseorang mengalami gangguan ini.
Paparan bahan radioaktif yang kuat dan racun kimia seperi benzene dan toluene juga dapat
menyebabkan mutasi genetik penyebab myelofibrosis.

6. DD

7. Diagnosis