Anda di halaman 1dari 13

ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY.

G DENGAN POST SECTIO


CAESARIA DI RUANG ANNISA 216

Disusun Oleh :

Qodrika Lestari 16.156.01.11.066

Program Studi S1 Ilmu Keperawatan

STIKES MEDISTRA INDONESIA

2020

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan atas kehadirat Allah SWT, karena dengan rahmat dan
karunia-Nya penulis masih diberi kesempatan untuk menyelesaikan laporan ini. Semoga
shalawat serta salam selalu dilimpahkan kepada junjungan Nabi besar Muhammad SAW
beserta sahabat dan keluarganya, serta pengikutnya hingga akhir zaman. Amin.

Alhamdulillah penulis telah berhasil menyelesaikan tugas PKK2 Keperawatan


Maternitas tentang “Sectio Caesaria”. Laporan ini dibuat untuk memenuhi tugas Praktik
Keperawatan Klinik di STIKes Medistra Indonesia.

Semoga makalah ini memberi wawasan yang lebih luas kepada pembaca. Walaupun
makalah ini memiliki kelebihan dan kekurangan, namun penulis menyadari bahwa makalah ini
masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat diperlukan.
Semoga makalah ini bermanfaat bagi yang membutuhkan dan mendapat ridho Allah. Amin.

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ...............................................................................................................ii


DAFTAR ISI.............................................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN ......................................................................................................... 1
A. Latar belakang ................................................................................................................. 1
BAB II LAPORAN PENDAHULUAN..................................................................................... 2
A. Definisi ............................................................................................................................ 2
B. Etiologi ............................................................................................................................ 2
C. Manifestasi Klinis ........................................................................................................... 3
D. Patofisiologi .................................................................................................................... 3
E. Pemeriksaan Penunjang .................................................................................................. 4
F. Penatalaksanaan Medis ................................................................................................... 6
BAB IV PENUTUP .................................................................................................................. 8
A. Kesimpulan ..................................................................................................................... 8
B. Saran ............................................................................................................................... 8
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................ 9

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Setiap wanita menginginkan persalinannya berjalan lancar dan dapat


melahirkan bayi yang sempurna. Seperti yang telah dketahui, ada dua cara persalinan
yaitu persalinan pervaginam yang lebih dkenal dengan persalinan normal atau alami
dan persalinan dengan oerasi caesar dapat juga disebut dengan bedah sesarea atau sectio
caesarea.(Partilah 2014)

Menurut SDKI tahun 2012 Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia 359 per
100.000 kelahiran hidup, pada tahun 2015 baru mencapa 161 per 100.000 kelahiran
hidup, sementara target MDG’s Indonesia adalah 102 per 100.000 kelahiran hidup.
Survei Nasional pada tahun 2009, 921.000 persalinan dengan operasi caesar dari
4.039.000 persalinan atau sekitar 22,8% dari seluruh persalinan.

1
BAB II
LAPORAN PENDAHULUAN

A. Definisi
Sectio Caesarea adalah suatu pembedahan guna melahirkan anak lewat insisi pada
dinding abdomen dan uterus (Oxorn & William, 2010).

Menurut Amru Sofian (2012) Sectio Caesarea adalah suatu cara melahirkan janin
dengan membuat sayatan pada dinding uterus melalui dinding depan perut (Amin &
Hardhi, 2013).

Sectio Caesarea didefinisikan sebagai lahirnya janin melalui insisi pada dinding
abdomen (laparatomi) dan dinding uterus (histerektomi) (Rasjidi, 2009).

Dari beberapa pengertian tentang Sectio Caesarea diatas dapat diambil kesimpulan
bahwa Sectio Caesarea adalah suatu tindakan pembedahan yang tujuannya untuk
mengeluarkan janin dengan cara melakukan sayatan pada dinding abdomen dan dinding
uterus.

B. Etiologi
Menurut Amin & Hardi (2013) etiologi Sectio Caesarea ada dua yaitu sebagai

berikut:

a. Etiologi yang berasal dari ibu

Yaitu pada primigravida dengan kelainan letak, primi para tua disertai

kelainan letak ada, disporporsi sefalo pelvik (disproporsi janin/ panggul), ada

sejarah kehamilan dan persalinan yang buruk, terdapat kesempitan panggul,

placenta previa terutama pada primigravida, solutsio placenta tingkat I - II,

komplikasi kehamilan yaitu preeklampsi-eklampsia, atas permitaan,

kehamilan yang disertai penyakit (jantung, DM), gangguan perjalanan

persalinan (kista ovarium, mioma uteri dan sebagainya).

2
b. Etiologi yang berasal dari janin

Fetal distress/ gawat janin, mal presentasi dan mal posisi kedudukan

janin, prolapsus tali pusat dengan pembukaan kecil, kegagalan persalinan

vakum atau forseps ekstraksi.

C. Indikasi dan Kontra Indikasi


Menurut Rasjidi (2009) indikasi dan kontra indikasi dari Sectio Caesarea sebagai
berikut:
1. Indikasi Sectio Caesarea
a) Indikasi mutlak
Indikasi Ibu
a. Panggul sempit absolut
b. Kegagalan melahirkan secara normal karena kurang adekuatnya
stimulasi
c. Tumor-tumor jalan lahir yang menyebabkan obstruksi
d. Stenosis serviks atau vagina
e. Placenta previa
f. Disproporsi sefalopelvik
g. Ruptur uteri membakat
Indikasi janin
a. Kelainan letak
b. Gawat janin
c. Prolapsus placenta
d. Perkembangan bayi yang terhambat
e. Mencegah hipoksia janin, misalnya karena
preeklampsia.
2. Indikasi relatif

a) Riwayat Sectio Caesarea sebelumnya


b) Presentasi bokong
c) Distosia

3
d) Fetal distress
e) Preeklampsia berat, penyakit kardiovaskuler dan diabetes
f) Ibu dengan HIV positif sebelum inpartu

3. Indikasi Sosial
a) Wanita yang takut melahirkan berdasarkan pengalaman sebelumnya.
b) Wanita yang ingin Sectio Caesarea elektif karena takut bayinya mengalami
cedera atau asfiksia selama persalinan atau mengurangi resiko kerusakan dasar
panggul.
c) Wanita yang takut terjadinya perubahan pada tubuhnya atau sexuality image
setelah melahirkan.

c. Kontra indikasi
Kontraindikasi dari Sectio Caesarea adalah:
1) Janin mati
2) Syok
3) Anemia berat
4) Kelainan kongenital berat

D. Patofisiologi
SC merupakan tindakan untuk melahirkan bayi dengan berat di atas 500 gr
dengan sayatan pada dinding uterus yang masih utuh. Indikasi dilakukan tindakan ini
yaitu distorsi kepala panggul, disfungsi uterus, distorsia jaringan lunak, placenta previa
dll, untuk ibu. Sedangkan untuk janin adalah gawat janin. Janin besar dan letak lintang
setelah dilakukan SC ibu akan mengalami adaptasi post partum baik dari aspek kognitif
berupa kurang pengetahuan. Akibat kurang informasi dan dari aspek fisiologis yaitu
produk oxsitosin yang tidak adekuat akan mengakibatkan ASI yang keluar hanya
sedikit, luka dari insisi akan menjadi post de entris bagi kuman. Oleh karena itu perlu
diberikan antibiotik dan perawatan luka dengan prinsip steril. Nyeri adalah salah utama
karena insisi yang mengakibatkan gangguan rasa nyaman.
Sebelum dilakukan operasi pasien perlu dilakukan anestesi bisa bersifat
regional dan umum. Namun anestesi umum lebih banyak pengaruhnya terhadap janin

4
maupun ibu anestesi janin sehingga kadang-kadang bayi lahir dalam keadaan upnoe
yang tidak dapat diatasi dengan mudah. Akibatnya janin bisa mati, sedangkan
pengaruhnya anestesi bagi ibu sendiri yaitu terhadap tonus uteri berupa atonia uteri
sehingga darah banyak yang keluar. Untuk pengaruh terhadap nafas yaitu jalan nafas
yang tidak efektif akibat sekret yan berlebihan karena kerja otot nafas silia yang
menutup. Anestesi ini juga mempengaruhi saluran pencernaan dengan menurunkan
mobilitas usus.
Seperti yang telah diketahui setelah makanan masuk lambung akan terjadi
proses penghancuran dengan bantuan peristaltik usus. Kemudian diserap untuk
metabolisme sehingga tubuh memperoleh energi. Akibat dari mortilitas yang menurun
maka peristaltik juga menurun. Makanan yang ada di lambung akan menumpuk dan
karena reflek untuk batuk juga menurun. Maka pasien sangat beresiko terhadap aspirasi
sehingga perlu dipasang pipa endotracheal. Selain itu motilitas yang menurun juga
berakibat pada perubahan pola eliminasi yaitu konstipasi. (Saifuddin, Mansjoer &
Prawirohardjo, 2002)

E. Pemeriksaan Penunjang
Berikut adalah beberapa pemeriksaan penunjang untuk pasien section caesaria.

 Elektroensefalogram ( EEG ), Untuk membantu menetapkan jenis dan fokus


dari kejang.
 Pemindaian CT, Untuk mendeteksi perbedaan kerapatan jaringan.
 Magneti resonance imaging (MRI), Menghasilkan bayangan dengan
menggunakan lapangan magnetik dan gelombang radio, berguna untuk
memperlihatkan daerah – daerah otak yang itdak jelas terliht bila
menggunakan pemindaian CT.
 Pemindaian positron emission tomography ( PET ), Untuk mengevaluasi
kejang yang membandel dan membantu menetapkan lokasi lesi, perubahan
metabolik atau alirann darah dalam otak.
 Uji laboratorium, Fungsi lumbal: menganalisis cairan serebrovaskuler, Hitung
darah lengkap: mengevaluasi trombosit dan hematocrit, Panel elektrolit,
Skrining toksik dari serum dan urin, AGD, Kadar kalsium darah, Kadar
natrium darah, Kadar magnesium darah

5
F. Komplikasi
Menurut Wikjosastro (2007) komplikasi Sectio Caesarea sebagai berikut:
a. Komplikasi pada ibu
1) Infeksi puerperal
Komplikasi ini bisa bersifat ringan, seperti kenaikan suhu selama
beberapa hari dalam masa nifas; atau bersifat berat, seperti peritonitis,
sepsis dan sebagainya. Infeksi postoperatif terjadi apabila sebelum
pembedahan sudah ada gejala – gejala yang merupakan presdisposisi
terhadap kelainan itu (partus lama khususnya setelah ketuban pecah,
tindakan vaginal sebelumnya).
2) Perdarahan
Perdarahan banyak bisa timbul pada waktu pembedahan jika
cabang – cabang arteri uterina ikut terbuka, atau karena atonia uteri.
3) Komplikasi – komplikasi lain seperti luka kandung kencing, embolisme
paru – paru, dan sebagainya sangat jarang terjadi.
4) Suatu komplikasi yang baru kemudian tampak ialah kurang kuatnya
parut pada dinding uterus, sehingga pada kehamilan berikutnya bisa
terjadi ruptura uteri. Kemungkinan peristiwa ini lebih banyak ditemukan
sesudah sectio caesarea klasik.
b. Komplikasi pada bayi
Nasib anak yang dilahirkan dengan Sectio Caesarea banyak tergantung
dari keadaan yang menjadi alasan untuk melakukan Sectio Caesarea.

G. Penatalaksanaan
1. Bedah Caesar Klasik/ Corporal.

a. Buatlah insisi membujur secara tajam dengan pisau pada garis tengah korpus
uteri diatas segmen bawah rahim. Perlebar insisi dengan gunting sampai
sepanjang kurang lebih 12 cm saat menggunting lindungi janin dengan dua jari
operator.
b. Setelah cavum uteri terbuka kulit ketuban dipecah. Janin dilahirkan dengan
meluncurkan kepala janin keluar melalui irisan tersebut.
c. Setelah janin lahir sepenuhnya tali pusat diklem ( dua tempat) dan dipotong
diantara kedua klem tersebut.

6
d. Plasenta dilahirkan secara manual kemudian segera disuntikkan uterotonika
kedalam miometrium dan intravena.
e. Luka insisi dinding uterus dijahit kembali dengan cara :
1. Lapisan I
Miometrium tepat diatas endometrium dijahit secara silang dengan
menggunakan benang chromic catgut no.1 dan 2
2. Lapisan II
3. lapisan miometrium diatasnya dijahit secara kasur horizontal (lambert)
dengan benang yang sama.
4. Lapisan III
5. Dilakukan reperitonealisasi dengan cara peritoneum dijahit secara jelujur
menggunakan benang plain catgut no.1 dan 2
f. Eksplorasi kedua adneksa dan bersihkan rongga perut dari sisa-sisa darah dan
air ketuban
g. Dinding abdomen dijahit lapis demi lapis.

2. Bedah Caesar Transperitoneal Profunda

a. Plika vesikouterina diatas segmen bawah rahim dilepaskan secara melintang,


kemudian secar tumpul disisihkan kearah bawah dan samping.
b. Buat insisi secara tajam dengan pisau pada segmen bawah rahim kurang lebih
1 cm dibawah irisan plika vesikouterina. Irisan kemudian diperlebar dengan
gunting sampai kurang lebih sepanjang 12 cm saat menggunting lindungi janin
dengan dua jari operator.
c. Setelah cavum uteri terbuka kulit ketuban dipecah dan janin dilahirkan dengan
cara meluncurkan kepala janin melalui irisan tersebut.
d. Badan janin dilahirkan dengan mengaitkan kedua ketiaknya.
e. Setelah janin dilahirkan seluruhnya tali pusat diklem ( dua tempat) dan
dipotong diantara kedua klem tersebut.
f. Plasenta dilahirkan secara manual kemudian segera disuntikkan uterotonika
kedalam miometrium dan intravena.
g. Luka insisi dinding uterus dijahit kembali dengan cara :
1. Lapisan I
Miometrium tepat diatas endometrium dijahit secara silang dengan
menggunakan benang chromic catgut no.1 dan 2
2. Lapisan II
Lapisan miometrium diatasnya dijahit secara kasur horizontal (lambert)
dengan benang yang sama.
3. Lapisan III
Peritoneum plika vesikouterina dijahit secara jelujur menggunakan
benang plain catgut no.1 dan 2
h. Eksplorasi kedua adneksa dan bersihkan rongga perut dari sisa-sisa darah dan
air ketuban
i. Dinding abdomen dijahit lapis demi lapis.

7
3. Bedah Caesar Ekstraperitoneal

a. Dinding perut diiris hanya sampai pada peritoneum. Peritoneum kemudia


digeser kekranial agar terbebas dari dinding cranial vesika urinaria.
b. Segmen bawah rahim diris melintang seperti pada bedah Caesar
transperitoneal profunda demikian juga cara menutupnya.

4. Histerektomi Caersarian ( Caesarian Hysterectomy)

a. Irisan uterus dilakukan seperti pada bedah Caesar klasik/corporal demikian


juga cara melahirkan janinnya.
b. Perdarahan yang terdapat pada irisan uterus dihentikan dengan menggunakan
klem secukupnya.
c. Kedua adneksa dan ligamentum rotunda dilepaskan dari uterus.
d. Kedua cabang arteria uterina yang menuju ke korpus uteri di klem (2) pada
tepi segmen bawah rahim. Satu klem juga ditempatkan diatas kedua klem
tersebut.
e. Uterus kemudian diangkat diatas kedua klem yang pertama. Perdarahan pada
tunggul serviks uteri diatasi.
f. Jahit cabang arteria uterine yang diklem dengan menggunakan benang sutera
no. 2.
g. Tunggul serviks uteri ditutup dengan jahitan ( menggunakan chromic catgut
( no.1 atau 2 ) dengan sebelumnya diberi cairan antiseptic.
h. Kedua adneksa dan ligamentum rotundum dijahitkan pada tunggul serviks
uteri.
i. Dilakukan reperitonealisasi sertya eksplorasi daerah panggul dan visera
abdominis.
j. Dinding abdomen dijahit lapis demi lapis

8
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Sectio Caesarea adalah suatu pembedahan guna melahirkan anak lewat insisi
pada dinding abdomen dan uterus (Oxorn & William, 2010).Menurut Amru
Sofian (2012) Sectio Caesarea adalah suatu cara melahirkan janin dengan
membuat sayatan pada dinding uterus melalui dinding depan perut (Amin &
Hardhi, 2013). Sectio Caesarea didefinisikan sebagai lahirnya janin melalui
insisi pada dinding abdomen (laparatomi) dan dinding uterus (histerektomi)
(Rasjidi, 2009).

9
DAFTAR PUSTAKA

Carpenito. 2001. Rencana Asuhan & Dokumentasi Keperawatan, Diagnosa keperawatan dan
masalah kolaboratif. Jakarta: EGC
Johnson, M., et all. 2000. Nursing Outcomes Classification (NOC) Second Edition. New
Jersey: Upper Saddle River
Mansjoer, A. 2002. Asuhan Keperawatn Maternitas. Jakarta : Salemba Medika
Manuaba, Ida Bagus Gede. 2002. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga
Berencana, Jakarta : EGC
Mc Closkey, C.J., et all. 1996. Nursing Interventions Classification (NIC) Second Edition. New
Jersey: Upper Saddle River
Muchtar. 2005. Obstetri patologi, Cetakan I. Jakarta : EGC
Caraspot. 2010. Proses Keperawatan NANDA, NOC &NIC. Yogyakarta : mocaMedia
Santosa, Budi. 2007. Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA 2005-2006. Jakarta: Prima
Medika
Saifuddin, AB. 2002. Buku panduan praktis pelayanan kesehatan maternal dan neonatal.
Jakarta : penerbit yayasan bina pustaka sarwono prawirohardjo
Sarwono Prawiroharjo. 2009. Ilmu Kebidanan, Edisi 4 Cetakan II. Jakarta : Yayasan Bina
Pustaka

10