Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Menurut Rochmat Soemitro dalam buku Pengantar Singkat Hukum Pajak (Eresco,
Bandung, 1992) pajak adalah gejala masyarakat, artinya pajak hanya ada di dalam
masyarakat. Masyarakat adalah kumpulan manusia yang pada suatu waktu berkumpul untuk
tujuan tertentu. Negara adalah masyarakat yang mempunyai tujuan tertentu. Kelangsungan
hidup negara juga berarti kelangsungan hidup masyarakat dan kepentingan masyarakat.
Untuk kelangsungan hidup masing-masing diperlukan biaya. Biaya hidup individu, menjadi
beban dari individu yang bersangkutan dan berasal dari penghasilannya sendiri. Biaya hidup
negara adalah untuk kelangsungan alat-alat negara, administrasi negara, lembaga negara, dan
seterusnya, dan harus dibiayai dari penghasilan negara.
Pada mulanya pajak belum merupakan suatu pungutan, tetapi hanya merupakan
pemberian sukarela oleh rakyat kepada raja dalam memelihara kepentingan negara, seperti
menjaga keamanan negara, menyediakan jalan umum, membayar gaji pegawai dan lain-lain.
Bagi penduduk yang tidak melakukan penyetoran maka ia diwajibkan melakukan pekerjaan-
pekerjaan untuk kepentingan umum untuk beberapa hari lamanya dalam satu tahun.
Penghasilan negara adalah berasal dari rakyatnya melalui pungutan pajak, dan atau dari
hasil kekayaan alam yang ada dalam negara itu (natural resources). Dua sumber itu
merupakan sumber terpenting yang memberikan penghasilan kepada negara. Penghasilan itu
untuk membiayai kepentingan umum yang akhirnya juga mencakup kepentingan pribadi
individu seperti kesehatan masyarakat, pendidikan, kesejahteraan dan sebagainya. Jadi,
dimana ada kepentingan masyarakat, disana timbul pungutan pajak sehingga pajak adalah
senyawa dengan kepentingan umum.
Pungutan pajak mengurangi penghasilan atau kekayaan individu tetapi sebaliknya
merupakan penghasilan masyarakat yang kemudian di kembalikan lagi kepada masyarakat,
melaui pengeluaran-pengeluaran rutin dan pengeluaran pembangunan yang akhirnya kembali
lagi kepada seluruh masyarakat yang bermanfaat bagi rakyat, baik yang membayar maupun
tidak.

Pajak mempunyai peran yang sangat penting bagi kehidupan bernegara, khususnya
didalam pembangunan karena pajak merupakan sumber penghasilan negara untuk membiayai

1
semua pengeluaran, termasuk pengeluaran pembangunan. Sistem pemungutan pajak di
indonesia adalah Self Assessment System yang berarti wajib pajak diberikan kepercayaan
untuk memperhitungkan, menyetorkan, dan melaporkan sendiri atas pajak yang terhutang
terhadap negara. Disamping cara Self Assessment System terdapat cara lain yaitu sistem
pemotongan (withholding system). Withholding System merupakan cara yang paling mudah
yang dilakukan pemerintah untuk memungut pajak, yaitu dengan cara mewajibkan wajib
pajak untuk melakukan pungutan dan pemungutan pajaknya oleh pihak lain. Dengan cara ini
maka pemerintah tidak perlu mengeluarkan biaya yang besar untuk memungut pajak.
Dalam pemungutan pajak subjek dan objek pajak harus jelas. Oleh karena itu harus
dikelola dengan baik dan benar sehingga data wajib pajak sesuai. Selain itu, tarif pajak harus
ditentukan berdasarkan ketentuan yang berlaku saat itu. Dengan demikian para wajib pajak
dapat rutin dan patuh membayar pajak. Subjek pajak adalah orang, badan atau kesatuan
lainnya yang telah memenuhi syarat-syarat subjektif, yaitu bertempat tinggal atau
berkedudukan di Indonesia. Subjek pajak baru menjadi wajib pajak bila telah memenuhi
syarat-syarat obyektif. Objek pajak adalah apa yang dikenakan pajak. Mengingat penting dan
strategisnya objek pajak karena menyangkut apa yang dikenakan atau tidak dikenakannya
pajak atas objek dimaksud, sehingga dalam UU perpajakan kita selalu dengan tegas
dinyatakan apa yang menjadi objek setiap jenis pajak.

2
1.2. Rumusan Masalah
1.2.1 Apa pengertian subjek dan objek pajak?
1.2.2 Bagaimana cara pengelolaan subjek dan objek pajak yang baik dan benar ?

1.3. Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1.3.1 Mengetahui apa saja yang menjadi subjek dan objek pajak.
1.3.2 Mengetahui cara pengelolaan subjek dan objek pajak yang baik dan benar.

1.4. Manfaat
1.4.1 Dapat mengetahui masalah perpajakan di Indonesia, terutama tentang apa saja
yang menjadi subjek dan objek pajak, bagaimana cara pengelolaan subjek dan
objek pajak yang baik dan benar, serta mengetahui bagaimana penentuan tarif
pajak di Indonesia.
1.4.2 Dapat menjadi bahan pengetahuan bagi mahasiswa tentang perpajakan.

3
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Subjek Dan Objek Pajak


1. Subjek Pajak
Secara garis besar subjek pajak adalah pihak-pihak (orang maupun badan)
yang akan dikenakan pajak, sedangkan objek pajak adalah segala sesuatu yang akan
dikenakan pajak. Wajib pajak adalah subjek pajak yang telah memenuhi syarat-
syarat objektif sehingga kepadanya diwajibkan pajak. Dengan perkataan lain. Setiap
wajib pajak adalah subjek pajak.
Subjek pajak adalah orang, badan atau kesatuan lainnya yang telah memenuhi
syarat-syarat subjektif, yaitu bertempat tinggal atau berkedudukan di Indonesia.
Subjek pajak baru menjadi wajib pajak bila telah memenuhi syarat-syarat obyektif.
Subjek pajak tidak identik dengan subjek hukum, oleh karena itu untuk
menjadi subjek pajak tidak perlu menjadi subjek hukum. Sehingga firma,
perkumpulan, warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan dapat menjadi
subjek pajak. Demikian juga orang gila, anak yang masih di bawah umur dapat
menjadi subjek atau wajib pajak, tetapi untuk mereka perlu ditunjuk orang atau wali
yang dapat dipertanggungjawabkan untuk memenuhi kewajiban-kewajibannya.
2. Objek Pajak
Sebuah transaksi (biasanya sumber penghasilan) yang digolongkan dalam
transaksi yang dikenakan pajak menurut peraturan ataupun perundang-undangan
tentang perpajakan. Namun jika pendapatan atau penghasilan yang diterima itu
merupakan sebuah hibah atau sumbangan hal itu bukan menjadi objek pajak. Sebagai
contoh pendapatan yang diterima sebuah yayasan dari sumbangan dermawan ataupun
donatur.
Pendapatan yang diterima yayasan tersebut bukanlah merupakan suatu objek
yang dikenai pajak. Begitu pun pendapatan yayasan tersebut yang berasal dari hibah,
juga tidak akan disebut sebagai objek pajak.Selanjutnya orang atau individu yang
mempunyai objek pajak, akan disebut dengan subjek pajak. Dan jika teman-
teman bertindak sebagai subjek pajak, teman-teman harus membayar pajak pada saat
objek pajak tersebut menunjukkan adanya pajak yang terhutang. Jika pada objek pajak

4
yang teman-teman miliki tidak ditunjukkan adanya pajak yang terhutang, teman-
teman tidak perlu membayar pajaknya. Dengan kata lain subjek pajak wajib
membayar pajak pada saat dirinya mempunyai objek pajak dan objek pajak itu
menunjukkan pajak yang terhutang.
Contoh objek pajak dapat dibagi dalam beberapa hal. Berikut beberapa di antaranya :
1. Keadaan
Yang dimaksud keadaan di sini adalah kekayaan seseorang pada sebuah waktu
tertentu. Contohnya ketika seseorang memiliki kendaraan bermotor, pada saat
itulah dia memiliki objek pajak yang harus dibayar setiap tahunnya. Contoh yang
lain misalnya pada saat seseorang memiliki sebidang tanah atau rumah.
Nah selama tanah dan rumah itu masih menjadi miliknya, keadaan tersebut akan
menjadikan orang itu memiliki objek pajak yang berupa tanah atau rumah tersebut.
Tentunya dia harus juga membayar pajaknya setiap tahunnya.

2.Kegiatan
Beberapa kegiatan juga dapat menjadi objek pajak jika dalam kegiatan tersebut
terjadi sebuah transaksi atau kesepakatan yang berkaitan dengan pajak. Misalnya
pada saat seseorang membangun rumah atau gedung akan dikenakan pajak bumi
dan bangunan. Contoh yang lain misalnya pada saat menggelar pertunjukan atau
keramaian. Kegiatan pertunjukan dan keramaian itu juga akan dikenai pajak
sehingga dikatakan sebagai objek pajak. Selain itu pada saat memperoleh
pendapatan atau penghasilan juga akan dikenakan pajak. Pada saat kegiatan
bepergian ke luar negeri pun juga akan dikenakan pajak.

3.Kejadian
Yang dimaksud kejadian di sini misalnya pada saat teman-teman mendapatkan
hadiah dari sebuah undian atau kuis. Kejadian itu akan dikenakan pajak. Selain itu
pada saat teman-teman memperoleh keuntungan secara mendadak pula akan
dikenai pajak juga. Intinya kejadian memperoleh keuntungan yang terjadi tidak
terduga.

5
2.2.Subjek dan Objek Pajak dari Setiap Jenis Pajak

Subjek dan Objek Pajak Penghasilan

Mengutip Undang-Undang Nomor 17 tahun 2000 tentang Pajak Penghasilan (PPh), subjek
pajak PPh terdiri dari tiga yaitu orang pribadi, badan dan warisan. Subjek pajak tersebut juga
digolongkan menjadi dua yaitu subjek pajak dalam negeri dan subjek pajak luar negeri.

Subjek pajak dalam negeri

Berikut ini yang dimaksud dengan subjek pajak dalam negeri:

1. Orang pribadi yang bertempat tinggal di Indonesia.


2. Orang pribadi yang berada di Indonesia lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12
bulan, atau orang pribadi yang dalam suatu tahun pajak berada di Indonesia dan
mempunyai niat untuk bertempat tinggal di Indonesia.
3. Badan yang didirikan atau bertempat kedudukan di Indonesia.
4. Warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan, menggantikan yang berhak.

Subjek pajak luar negeri

Berikut ini yang dimaksud dengan subjek pajak luar negeri:

1. Orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia atau berada di Indonesia
tidak lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan, yang menjalankan usaha atau
melakukan kegiatan melalui bentuk usaha tetap di Indonesia
2. Badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia, yang
menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui bentuk usaha tetap di Indonesia
3. Orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia atau berada di Indonesia
tidak lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan, yang dapat menerima atau
memperoleh penghasilan dari Indonesia bukan dari menjalankan usaha atau
melakukan kegiatan melalui bentuk usaha tetap di Indonesia
4. Badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat di Indonesia, yang memperoleh
penghasilan dari Indonesia bukan dari menjalankan usaha atau melakukan kegiatan
melalui bentuk usaha tetap di Indonesia.

Sedangkan objek PPh merupakan setiap penghasilan yang diterima atau diperoleh wajib
pajak. Penghasilan tersebut diperoleh wajib pajak dari dalam maupun luar negeri, seperti:

 Penggantian atau imbalan berkenaan dengan pekerjaan atau jasa yang diterima atau
diperoleh termasuk gaji, upah, tunjangan, honorarium, komisi, bonus, gratifikasi, uang
pensiun atau imbalan dalam bentuk lainnya kecuali ditentukan lain dalam Undang-
undang Pajak Penghasilan.
 Hadiah dari undian atau pekerjaan atau kegiatan dan penghargaan.
 Laba usaha.
 Keuntungan karena penjualan atau karena pengalihan harta seperti keuntungan karena
pengalihan harta kepada perseroan, persekutuan, dan badan lainnya sebagai pengganti
saham atau penyertaan modal.

6
 Keuntungan yang diperoleh perseroan, persekutuan, dan badan lainnya karena
pengalihan harta kepada pemegang saham, sekutu atau anggota.
 Keuntungan karena likuidasi, penggabungan, peleburan, pemekaran, pemecahan atau
pengambilalihan usaha.
 Keuntungan karena pengalihan harta berupa hibah, bantuan atau sumbangan, kecuali
yang diberikan kepada keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat, dan
badan keagamaan atau badan pendidikan atau badan sosial atau pengusaha kecil
termasuk koperasi yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan, sepanjang tidak ada
hubungan dengan usaha, pekerjaan, kepemilikan atau penguasaan antara pihak-pihak
yang bersangkutan.
 Penerimaan kembali pembayaran pajak yang telah dibebankan sebagai biaya.
 Bunga termasuk premium, diskonto, dan imbalan karena jaminan pengembalian
utang.
 Dividen dengan nama dan dalam bentuk apapun, termasuk dividen dari perusahaan
asuransi kepada pemegang polis dan pembagian sisa hasil usaha koperasi.
 Royalti.
 Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta.
 Penerimaan atau perolehan pembayaran berkala.
 Keuntungan karena pembebasan utang, kecuali sampai dengan jumlah tertentu yang
ditetapkan dengan peraturan pemerintah.
 Keuntungan karena selisih kurs mata uang asing.
 Selisih lebih karena penilaian kembali aktiva.
 Premi asuransi.
 Iuran yang diterima atau diperoleh perkumpulan dari anggotanya yang terdiri dari WP
yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas.
 Tambahan kekayaan neto yang berasal dari penghasilan yang belum dikenakan pajak.
 Penghasilan dari usaha berbasis syariah.
 Surplus Bank Indonesia.
 Imbalan bunga sebagaimana dimaksud dalam UU yang mengatur mengenai KUP.
 Objek Pajak yang dikenakan PPh final atas penghasilan berupa bunga deposito dan
tabungan-tabungan lainnya.
 Penghasilan dari transaksi saham dan sekuritas lainnya di bursa efek.
 Penghasilan dari pengalihan harta berupa tanah dan atau bangunan.

Sedangkan yang tidak termasuk dalam Objek Pajak PPh adalah:

1. Bantuan atau sumbangan dan harta hibah.


2. Harta termasuk setoran tunai yang diterima oleh badan sebagai pengganti saham atau
sebagai pengganti penyetaraan modal.
3. Penggantian atau imbalan sehubungan dengan dengan pekerjaan atau jasa yang
diterima atau diperoleh dalam bentuk natura dan/atau kenikmatan pajak dari wajib
pajak atau pemerintah, kecuali yang berikan oleh yang bukan wajib pajak, wajib pajak
yang dikenakan pajak secara final atau wajib pajak yang menggunakan norma
penghitungan khusus (deemed profit).
4. Pembayaran dari perusahaan asuransi kepada orang pribadi sehubungan dengan
asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi jiwa, asuransi dwiguna, asuransi
beasiswa.
5. Dividen atau bagian laba yang diperoleh/diterima oleh perseroan terbatas sebagai
wajib pajak dalam negeri, koperasi, badan usaha milik negara, atau badan usaha milik

7
daerah, dari penyertaan modal dari usaha yang didirikan dan bertempat kedudukan di
Indonesia dengan syarat sebagai berikut:
o Dividen bagian dari cadangan laba yang ditahan.
o Bagi perseroan terbatas, badan usaha milik negara dan badan usaha milik
daerah yang mendapat dividen, kepemilikan saham pada badan yang
memberikan dividen paling rendah 25% dari jumlah modal yang disetor.
6. Iuran yang diterima atau diperoleh dari dana pensiun yang pendiriannya telah
disahkan oleh Menteri Keuangan, baik yang bayar oleh pemberi kerja atau pegawai.
7. Penghasilan yang ditanamkan oleh dana pensiun, pada bidang-bidang tertentu yang
telah ditetapkan oleh menteri keuangan.
8. Bagian laba yang diterima dari perseroan komanditer yang modalnya tidak terbagi
atas saham-saham, perkumpulan, persekutuan, firma, dan kongsi, termasuk pemegang
unit penyetaraan kontrak investasi kolektif.
9. Penghasilan yang diterima atau diperoleh perusahaan modal ventura berupa bagian
laba dari badan pasangan usaha yang didirikan dan menjalankan usaha atau kegiatan
di lndonesia, dengan syarat badan pasangan usaha tersebut merupakan perusahaan
mikro, kecil, menengah, atau yang menjalankan sektor-sektor usaha yang diatur
berdasarkan Permenkeu dan sahamnya tidak diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia.
10. Beasiswa yang memenuhi persyaratan tertentu dan ketentuannya berdasar pada
Peraturan Menteri Keuangan.
11. Sisa lebih yang diterima oleh badan atau lembaga nirlaba yang bergerak dalam bidang
pendidikan dan/atau bidang penelitian, atau pengembangan yang telah terdaftar pada
instansi yang membidanginya, yang ditanamkan lagi dalam bentuk sarana dan
prasarana kegiatan pendidikan, pengembangan dan penelitian, dalam jangka waktu
paling lama 4 tahun sejak diperolehnya sisa lebih tersebut yang ketentuannya diatur
lebih lanjut dalam Peraturan Menteri Keuangan.
12. Bantuan atau santunan yang dibayarkan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial
(BPJS) kepada Wajib Pajak tertentu, yang ketentuannya diatur lebih lanjut dengan
atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan.

Subjek dan Objek Pajak Pertambahan Nilai (PPN)

Subjek PPN adalah Pengusaha Kena Pajak (PKP) atau pengusaha yang melakukan
penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau penyerahan Jasa Kena Pajak yang dikenai pajak
berdasarkan Undang-Undang PPN. Namun, untuk pengusaha kecil yang batasannya
ditetapkan oleh Menteri Keuangan masih belum termasuk, kecuali pengusaha kecil tersebut
memilih dikukuhkan sebagai PKP.

Subjek Pajak Pertambahan Nilai (PPN):

1. Pengusaha adalah orang pribadi atau badan yang dalam kegiatan usaha atau
pekerjaannya menghasilkan barang, mengimpor barang, mengekspor barang,
melakukan usaha perdagangan, memanfaatkan barang tidak berwujud dari luar
Daerah Pabean, melakukan usaha jasa, atau memanfaatkan jasa dari luar Daerah
Pabean.
2. Pengusaha Kena Pajak adalah Pengusaha yang melakukan penyerahan Barang Kena
Pajak atau penyerahan Jasa Kena Pajak yang dikenakan pajak, tidak termasuk
Pengusaha Kecil yang batasannya ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan,

8
kecuali Pengusaha Kecil yang memilih untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena
Pajak.
3. Pembeli adalah orang pribadi atau badan yang menerima atau seharusnya menerima
penyerahan Barang Kena Pajak dan yang membayar atau seharusnya membayar harga
Barang Kena Pajak tersebut.
4. Penerima jasa adalah orang pribadi atau badan yang menerima atau seharusnya
menerima penyerahan Jasa Kena Pajak dan yang membayar atau seharusnya
membayar Penggantian atas Jasa Kena Pajak tersebut.

Sedangkan objek pajak yang dikenakan PPN diatur dalam pasal 4 Undang-Undang Nomor 8
Tahun 1984 tentang PPN dan perubahannya yakni Undang-Undang 42 Tahun 2009 yang
mulai berlaku sejak 1 Januari 2010. Dalam pasal tersebut, pungutan PPN dikenakan atas:

1. Penyerahan Barang Kena Pajak (BKP) di dalam daerah pabean yang dilakukan
pengusaha.
2. Impor BKP.
3. Penyerahan Jasa Kena Pajak (JKP) di dalam daerah pabean yang dilakukan oleh
pengusaha.
4. Pemanfaatan BKP Tidak Berwujud dari luar daerah pabean di dalam daerah pabean.
5. Pemanfaatan JKP dari luar daerah pabean di dalam daerah pabean.
6. Ekspor BKP Berwujud oleh PKP.
7. Ekspor BKP Tidak Berwujud oleh PKP.
8. Ekspor JKP oleh PKP.

Subjek dan Objek Pajak Bumi dan Bangunan (PBB)

Subjek PBB adalah orang atau badan yang secara nyata memiliki status atas bumi dan
bangunan, memperoleh manfaat atas bangunan. Tanda pembayaran/pelunasan pajak bukan
merupakan bukti pemilikan hak.

Subjek PPB yang dikenakan kewajiban membayar PBB berdasarkan ketentuan perundang-
undangan perpajakan yang berlaku menjadi wajib pajak. Subjek pajak yang ditetapkan
sebagaimana dimaksud sebelumnya dapat memberikan keterangan secara tertulis kepada
Ditjen Pajak bahwa ia bukan wajib pajak terhadap objek pajak yang dimaksud.

Bila keterangan yang diajukan oleh wajib pajak sebagaimana dimaksud sebelumnya disetujui,
maka Direktur Jenderal Pajak membatalkan penetapan sebagai wajib pajak. Bila keterangan
yang diajukan itu tidak disetujui, maka Direktur Jenderal Pajak mengeluarkan surat
keputusan penolakan dengan disertai alasan–alasannya.

PBB adalah termasuk jenis pajak objektif, yang mana pengenaan pajaknya lebih ditekankan
pada objek pajaknya. Hal ini dapat Anda lihat melalui susunan pasal tentang objek pajak PBB
berikut ini:

 Bumi adalah permukaan bumi yang meliputi tanah dan perairan pedalaman, serta laut
wilayah Indonesia, dan tubuh bumi yang ada di bawahnya.
 Bangunan adalah konstruksi teknik yang ditanam/dilekatkan secara tetap pada tanah
dan/atau perairan. Termasuk dalam pengertian bangunan adalah jalan lingkungan
yang terletak dalam suatu kompleks bangunan seperti hotel, pabrik, dan

9
emplasemennya, dan lain-lain yang merupakan satu kesatuan dengan kompleks
bangunan tersebut.
 Jalan tol.
 Kolam renang.
 Tempat olahraga.
 Galangan kapal, dermaga.
 Taman mewah.
 Tempat penampungan / kilang minyak, air dan gas, pipa minyak.
 Fasilitas lain yang memberikan manfaat.

Subjek dan Objek Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan

Subjek Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan adalah orang pribadi atau badan yang
memperoleh hak atas suatu tanah dan bangunan. Subjek yang berkewajiban untuk membayar
pajak disebut wajib pajak BPHTB.

Pihak yang memiliki kewajiban untuk melunasi bea perolehan tersebut adalah orang pribadi
atau badan hukum. Namun, ada juga pihak yang dikecualikan dari kewajiban tersebut, di
antaranya:

1. Perwakilan diplomatik dan konsulat dengan asas timbal balik.


2. Negara untuk melaksanakan kepentingan umum.
3. Badan atau perwakilan organisasi internasional yang ditetapkan oleh keputusan
menteri untuk menjalankan fungsinya.
4. Orang pribadi atau badan, karena konversi hak atas tanah dan bangunan dengan tidak
ada perubahan nama.
5. Orang pribadi atau badan yang diperoleh dari wakaf.
6. Orang pribadi atau badan yang diperuntukan untuk kepentingan ibadah.

Sedangkan yang termasuk dalam objek BPHTB meliputi:

1. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) adalah pajak yang dikenakan
atas perolehan hak atas tanah dan atau bangunan.
2. Perolehan Hak atas Tanah dan atau Bangunan adalah perbuatan atau peristiwa hukum
yang mengakibatkan diperolehnya hak atas tanah dan atau bangunan oleh orang
pribadi atau badan.
3. Hak atas tanah adalah hak atas tanah termasuk hak pengelolaan, beserta bangunan di
atasnya sebagaimana dalam undang-undang nomor 5 tahun 1960 tentang Peraturan
Dasar Pokok-Pokok Agraria dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
4. Yang menjadi objek pajak BPHTB adalah perolehan hak atas tanah dan atau
bangunan, perolehan hak atas tanah dan atau bangunan
5. Pemindahan hak karena :

 Jual beli
 Tukar-menukar
 Hibah
 Hibah waris
 Waris
 Pemasukan dalam perseroan atau badan hukum lainnya
 Perpisahan hak yang mengakibatkan peralihan

10
 Penunjukkan pembeli dalam lelang
 Pelaksanaan putusan hakim yang mempunyai kekuatan hukum tetap
 Penggabungan usaha
 Peleburan usaha
 Pemekaran usaha
 Hadiah.

6. Pemberian hak baru karena :

 Pelanjutan pelepasan hak,


 Diluar pelepasan hak.

Hak atas tanah adalah hak milik, hak guna usaha, hak guna bangunan, hak pakai, hak milik
atas satuan rumah susun atau hak pengelolaan

Subjek dan Objek Bea Meterai

Bea Meterai diatur dalam UU No. 13 Tahun 1985. Dokumen-dokumen yang dikenakan Bea
Meterai hanya dokumen yang disebutkan dalam undang-undang tersebut. Pihak yang
menggunakan dokumen yang disebutkan dalam undang-undang menjadi subjek dari Bea
Meterai. Artinya, mereka yang wajib melunasi sejumlah Bea Meterai yang telah ditentukan.

Sedangkan Objek Bea Meterai dibagi tergantung tarif Bea Meterai yang digunakan. Berikut
penjelasannya:

1. Objek yang dikenakan tarif Bea Meterai Rp 6.000 di antaranya:

 Surat perjanjian dan surat-surat lainnya yang dibuat dengan tujuan untuk digunakan
sebagai alat pembuktian mengenai perbuatan, kenyataan atau keadaan yang bersifat
perdata.
 Akta-akta notaris termasuk salinannya.
 Akta-akta yang dibuat oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah termasuk rangkap-
rangkapnya.
 Surat yang memuat jumlah uang lebih dari Rp 1.000.000.
o Menyebutkan penerimaan uang.
o Menyatakan pembukuan uang atau penyimpanan uang dalam rekening bank.
o Berisi pemberitahuan saldo rekening di bank.
o Berisi pengakuan bahwa hutang uang seluruhnya atau sebagiannya telah
dilunasi atau diperhitungkan.
 Surat berharga seperti wesel, promes, aksep, dan cek yang harga nominalnya lebih
dari Rp 1.000.000.
 Efek dengan nama dan dalam bentuk apapun, sepanjang harga nominalnya lebih dari
Rp 1.000.000.
 Dokumen lain yang akan digunakan sebagai alat pembuktian di muka pengadilan:
o Surat-surat biasa dan surat-surat kerumahtanggaan.
o Surat-surat yang semula tidak dikenakan Bea Meterai berdasarkan tujuannya,
jika digunakan untuk tujuan lain atau digunakan untuk orang lain, lain dari
maksud semula untuk orang lain, lain dari maksud semula.

Objek yang dikenakan tarif Bea Cukai Rp 3.000 di antaranya:

11
 Surat yang memuat jumlah uang lebih dari Rp 250.000 tetapi tidak lebih dari Rp
1.000.000.
 Surat berharga seperti wesel, promes, aksep, dan cek yang harga nominalnya lebih
dari Rp 250.000 tetapi tidak lebih dari Rp 1.000.000.
 Efek dengan nama dan dalam bentuk apapun, sepanjang harga nominalnya lebih dari
dari Rp 250.000 tetapi tidak lebih dari Rp 1.000.000.
 Cek dan bilyet giro dengan harga nominal berapa pun.

Objek Pajak Daerah

Pajak Daerah dibagi menjadi 2 yakni Pajak Provinsi dan Pajak Kabupaten/Kota. Pajak daerah
juga memiliki subjek dan objek pajaknya masing-masing. Salah satu contohnya adalah Pajak
Reklame yang mana objek pajaknya merupakan penyelenggara atau pembuat reklamenya itu
sendiri.

Nah, setelah mengetahui subjek dan objek pajak di atas, maka kini Anda bisa tahu masuk ke
dalam subjek pajak yang memiliki kewajiban pajak atau tidak, serta apa saja objek pajak dari
setiap jenis pajak. Dengan begitu Anda akan semakin mudah dalam melaksanakan kewajiban
perpajakan.

12
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN

Subjek pajak adalah pihak-pihak (orang maupun badan) yang akan dikenakan pajak,
sedangkan objek pajak adalah segala sesuatu yang yang akan dikenakan pajak. Wajib pajak
adalah subjek pajak yang telah memenuhi syarat-syarat objektif sehingga kepadanya
diwajibkan pajak.
Objek pajak adalah Sebuah transaksi (biasanya sumber penghasilan) yang digolongkan
dalam transaksi yang dikenakan pajak menurut peraturan ataupun perundang-undangan
tentang perpajakan. Namun jika pendapatan atau penghasilan yang diterima itu merupakan
sebuah hibah atau sumbangan hal itu bukan menjadi objek pajak.
Salah satu syarat pemungutan pajak adalah keadilan, baik keadilan dalam prinsip
maupun keadilan dalam pelaksanaannya. Dengan adanya keadilan, pemerintah dapat
menciptakan keseimbangan sosial, yang sangat penting untuk kesejahteraan masyarakat pada
umumnya. Penentuan tarif pajak merupakan salah satu cara untuk mencapai keadilan.

13
B. SARAN

Penghasilan negara terbesar terutama negara kita Indonesia adalah berasal dari pajak.
Pajak memiliki peranan yang sangat penting dalam pembangunan suatu negara khususnya
Indonesia. Oleh karena itu, pengelolaan pajak harus dikelola dengan baik dan benar agar
manfaatnya dapat dirasakan oleh rakyat. Selain itu para wajib pajak juga harus rutin dalam
membayar pajak demi tercapainya pembangunan dan pertumbuhan ekonomi bangsa
Indonesia. Oleh karena itu, sudah seharusnya kita sebagai warga Negara Indonesia harus
memahami apa-apa saja yang menjadi subjek pajak, objek pajak, serta tarif pajak yang
berlaku di Negara Indonesia.Sehingga bisa dimanfaatkan dalam kehidupan bermasyarakat
dan menjadi warga Negara yang taat terhadap pajak.

DAFTAR PUSTAKA

Erly Suandi. 2011. Hukum Pajak. Edisi Kelima. Jakarta: Salemba Empat.
Siti Resmi. Perpajakan Teori dan Kasus. Edisi Ketujuh Buku 1. Jakarta: Salemba Empat.

14