Anda di halaman 1dari 4

BAB IV

PEMBAHASAN
Vertigo merupakan salah satu gangguan yang paling sering dialami dan
menjadi masalah bagi sebagian besar manusia. Umumnya keluhan vertigo menyerang
sebentar saja. Hari ini terjadi kemudian besok hilang, namun ada vertigo yang
kambuh lagi setelah beberapa bulan atau beberapa tahun. Penyebab vertigo umumnya
terjadi disebabkan oleh stress, mata lelah, dan makan atau minum tertentu. Selain itu,
vertigo bisa bersifat fungsional dan tidak ada hubunganya dengan perubahan organ di
dalam otak. Otak sendiri sebenarnya tidak peka terhadap nyeri. Pada umumnya
vertigo tidak disebabkan kerusakan di dalam otak. Namun, dapat menyebabkan
ketegangan atau tekanan pada selaput otak dan pembuluh darah besar, dan di dalam
kepala dapat menimbulkan rasa sakit yang hebat ketika seorang yang mengidap
vertigo tidak berada pada tempat yang aman dan ketika gejalanya timbul maka dapat
mengakibatkan terjadinya cedera (Junaidi, 2013).
Vertigo jenis ini paling sering didapati, dimana vertigo dicetuskan oleh
keadaan perubahan posisi kepala. BPPV diperkirakan sering terjadi pada rata-rata
usia 51-57 tahun dan jarang pada usia di bawah 35 tahun tanpa riwayat trauma
kepala. Sedangkan pada tahun 2008 di Indonesia angka kejadian vertigo sangat tinggi
sekitar 50% dari orang tua yang berumur 75 tahun. Hal ini merupakan keluhan nomer
tiga paling sering dikemukakan oleh penderita. Pada umumnya vertigo ditemukan 4-7
persen dari keseluruhan populasi dan hanya 15 persen yang diperiksakan ke dokter
(Dewanto, 2009).
Pada klien Tn. M dengan vertigo mengeluh pusing berputar disertai muntah
dan susah untuk buang air kecil. Sebelumnya, pasien mengatakan tidak pernah
menderita penyakit tertentu sampai dirawat di rumah sakit. Tetapi, pada tanggal 16
November 2019 keluarga membawa pasien ke RSD dr. Soebandi.
Penulis melakukan proses keperawatan dengan melakukan tindakan yang
berintegrasi dengan masalah yang ditemukan dari diagnosa keperawatan pertama
yakni nyeri akut. Penulis menganjurkan pasien untuk melakukan teknik relaksasi
napas dalam dan melatih pasien untuk membuka mata.
Diagnosa kedua yakni hambatan mobilitas fisik. Penulis memberikan terapi
kepada pasien dengan posisi head up 30 derajat untuk membantu proses kenyamanan
pasien. Penulis juga melatih pasien untuk posisi duduk.
Sedangkan masalah keperawatan dengan diagnose risiko jatuh adalah dengan
menciptakan lingkungan yang aman, mendorong pasien untuk menggunakan alat
bantu dalam berjalan bertujuan untuk menghindari terjadinya resiko jatuh.
Evaluasi dilakukan setelah Tn. M mendapatkan tindakan keperawatan yang
dilakukan tanggal 20 November 2019. Pada masalah keperawatan nyeri akut masalah
teratasi sebagian dimana pasien tidak mengalami nyeri kepala bagian kiri. Pada
diagnosa hambatan mobilitas fisik, masalah teratasi sebagian, dimana klien
mengatakan badannya sudah mulai enak dan sudah bisa berlatih untuk posisi duduk.
Masalah keperawatan ketiga yaitu risiko jatuh, masalah teratasi, dimana keluarga
mulai mengerti tentang apa yang harus dilakukan pada pasien. Keluarga juga
mengetahui tentang penyakit yang diderita oleh pasien sehingga keluarga memahami
tindakan apa saja yang harus ia lakukan.
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Vertigo merupakan suatu kumpulan gejala yang terjadi akibat gangguan pada
sistem keseimbangan. Pada sindrom vertigo ditemukan keluhan berupa rasa
berputar, rasa ditarik atau rasa didorong menjauhi bidang vertikal. Seseorang
yang mengalami vertigo akan mempresepsikan suatu gerakan yang abnormal.
Jika ada kelainan pada lintasan informasi indera keseimbangan yang dikirim ke
sistem saraf pusat, atau kelainan pada pusat keseimbangan (Setiawati, 2016).
Vertigo timbul jika terdapat gangguan alat keseimbangan tubuh yang
mengakibatkan ketidakcocokan antara posisi tubuh yang sebenarnya dengan apa
yang dipersepsi oleh susunan saraf pusat (pusat kesadaran). Susunan aferen yang
terpenting dalam sistem ini adalah susunan vestibular atau keseimbangan yang
secara terus menerus menyampaikan impulsnya ke pusat keseimbangan. Brandt
daroff exercise adalah sebuah latihan habituasi yang bertujuan untuk adaptasi
lansia terhadap meningkatnya respon gravitasi yang menimbulkan pusing saat
terjadi perubahan posisi kepala. Brandt daroff exercise yang dilakukan sesuai
dosis yang benar akan mengurangi bahkan 4 menghilangkan gejala vertigo dalam
jangka panjang. Menurut Sumarliyah (2011), latihan brandt daroff dapat
melancarkan aliran darah ke otak yang mana dapat memperbaiki tiga sistem
sensori yaitu sistem penglihatan (visual), sistem keseimbangan telinga dalam
(vestibular) dan sistem sensori umum yang meliputi sensor gerak, tekanan dan
posisi.
Ada beberapa masalah keperawatan yang dapat diangkat untuk memberikan
asuhan pada kasus vertigo yaitu nyeri akut, hambatan mobilitas fisik dan risiko
jatuh