Anda di halaman 1dari 13

1

Status Hemodinamik Pasien Dengan Posisi Lateral Kiri Elevasi


Kepala 300
Yuswandi1*, Anwar Wardi Warongan2, Fitrian Rayasari3
1*
Mahasiswa Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Muhammadiyah Jakarta. Jakarta 10510. Indonesia
2. Fakultas Kedokteran, Universitas Muhammadiyah Jakarta. Jakarta 10510. Indonesia
3. Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Muhammadiyah Jakarta. Jakarta 10510. Indonesia
2.

e-mail : useonedie24@gmail.com

ABSTRAK
Perubahan posisi merupakan salah satu intervensi keperawatan dalam penatalaksanaan pasien
yang terpasang ventilasi mekanik. Beberapa penelitian mengenai posisi lateral kiri dan elevasi
kepala 30 derajat menunjukan bahwa dengan elevasi kepala 30 derajat memiliki dampak positif
terhadap pernafasan yaitu peningkatan PaO2, SaO2, dan RR serta penurunan PaCO2. Selain
itu, Subiyanto menyatakan pada posisi elevasi kepala 30 derajat lateral kiri dengan waktu 5
menit sampai 30 menit sudah efektif untuk memberikan perubahan yang positif terhadap status
hemodinamik pasien yang mencakup tekanan darah diastole, Mean Arterial Pressure (MAP),
respiratory rate dan PO2, akan tetapi belum diketahui efektifikas setelah waktu 30 menit
sampai 120 Menit. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui waktu yang efektif untuk
posisi lateral kiri elevasi kepala 30 derajat terhadap status hemodinamik Pasien yang terpasang
ventilasi mekanik di ICU. Desain penelitian yang digunakan adalah desain quasi eksperiment
pre-test-posttest with control group. Populasi adalah seluruh pasien yang terpasang ventilasi
mekanik di ICU Rumah Sakit Umum (RSU) Kabupaten Tangerang pada bulan April sampai
Juli tahun 2019. Sampel 15 responden kelompok intervensi dan 15 responden kelompok
kontrol menggunakan teknik Purposive sampling. Hasil Diperoleh terdapat pengaruh yang
signifikan antara posisi lateral kiri elevasi kepala 30 derajat terhadap status hemodinamik pada
tekanan darah sistolik P value 0.045, tekanan darah diastolik P value 0.001, MAP P value
0.000, Hearth Rate P value 0.002 dan Respiratory rate P value 0.09. tidak terdapat pengaruh
pada SPO2 P value 0.334. Tidak teridentifikasi waktu yang efektif untuk pelaksanaan posisi
lateral kiri elevasi kepala 30 derajat terhadap status hemodinamik. pada tekanan darah sistolik,
tekanan darah diastolik, MAP, Hearth Rate dan Respiratory Rate terjadi peningkatan nilai rata-
rata yang signifikan selama 120 menit, sedangkan pada SPO2 terjadi penurunan nilai rata-rata
SPO2. Disarankan memeposisikan pasien lateral kiri elevasi kepala 30 derajat memperhatikan
hemodinamik dan jenis penyakit pasien.

Kata Kunci : Posisi Lateral Kiri, elevasi kepala 300, hemodinamik.


Kepustakaan : 20, 2004-2018.

ABSTRACT
Changes in position is one of the nursing interventions in the management of patients who are
equipped with mechanics. Several studies on left lateral position and 30 degree elevation
pointing to 30 degree altitude have a positive impact on breathing, namely an increase in
PaO2, SaO2, and RR and an increase in PaCO2. In addition, Subiyanto stated that the

1
2

elevation position of the head 30 degrees lateral left with a time of 5 minutes to 30 minutes has
been effective to provide positive changes in the hemodynamic status of patients who add
diastole pressure, Mean Arterial Pressure (MAP), respiratory rate and PO2, will be 30
minutes up to 120 minutes after 30 minutes up to 120 minutes. The purpose of this study was to
determine the effective time for the left lateral position of the head elevation of 30 degrees to
the hemodynamic status. The research design used was a quasi experimental pre-test-posttest
design with a control group. The population was all patients who were installed mechanically
at the ICU General Hospital (RSU) Tangerang District in April to July 2019. Samples of 15
respondents in the intervention group and 15 respondents in the control group used purposive
sampling technique. Results Estimated significant influence between the left lateral position of
the head elevation of 30 degrees to the hemodynamic status on systolic blood pressure P value
0.045, diastolic blood pressure value P 0.001, MAP value P 0.000, Hearth Rate value P 0.002
and respiratory rate P value 0.09. There is no effect on SPO2 P value 0.334. No effective time
was identified for the implementation of the left lateral position of the head elevation of 30
degrees to the hemodynamic status. in systolic blood pressure, diastolic blood pressure, MAP,
Hearth Rate and Respiratory Rate there was a significant increase in the mean value for 120
minutes, while in SPO2 there was a change in the average value of SPO2. It is permissible to
position the patient on the left side with a 30 degree head elevation, taking into account the
hemodynamics and type of the patient's disease.
Keyword : Left Lateral Position, 300 Head Elevation, Hemodynamic.
Bibliography : 20, 2004-2018.

PENDAHULUAN bahwa posisi semifowler dengan elevasi


kepal 30 derajat memiliki dampak positif
Perubahan posisi merupakan salah satu terhadap pernafasan dengan hasil bahwa
intervensi keperawatan dalam pasien dengan posisi semifowler dengan
penatalaksanaan pasien yang terpasang elevasi kepal 30 derajat terjadi peningkatan
ventilasi mekanik, perubahan posisi yang PaO2, SaO2, dan RR serta penurunan
dimaksud yaitu memposisikan pasien PaCO2. Penelitian Subiyanto (2018)
miring dan reposisi pasien tiap 2 jam tentang pengaruh posisi lateral terhadap
dengan rasionalisasi memiringkan status hemodinamik pasien dengan
membantu ventilasi kedua paru dan ventilasi mekanik di Ruang ICU RSUP DR
mobilisasi sekret (Black, 2014). Menurut Kariadi Semarang, diperoleh hasil posisi
Ignativicius et all (2006) volume paru-paru lateral 30 derajat selama 5 menit
dan pertukaran gas dapat dipengaruhi oleh berpengaruh terhadap heart rate,
perubahan posisi begitu juga dengan respiratory rate, diastole dan Mean
denyut nadi. Arterial Pressure (MAP).
Beberapa hasil penelitian dan studi yang Menurut Osborn dan Adam (2009), posisi
membahas tentang pemberian atau lateral kiri dapat memfasilitasi pergerakan
penggunaan posisi untuk mengatasi sekret yang dibantu oleh gaya grafitasi dari
berbagai masalah pernafasan pada pasien paru-paru ke saluran pernafasan bagian
dengan berbagai kasus diluar negeri, salah atas, sehingga sekret dapat dengan mudah
satunya adalah penelitian Elhy,et. All dikeluarkan dengan tindakan suction.
(2017), tentang efek posisi semifowler Posisi lateral kiri dapat meningkatkan
terhadap oksigenasi dan status ventilasi, hal ini dikarenakan anatomi
hemodinamik pada pasien dengan cedera jantung berada pada posisi sebelah kiri
kepala, hasil penelitiannya menunjukkan
3

diantara bagian atas dan bagian bawah METODE PENELITIAN


paru-paru sehingga membuat tekanan paru-
paru meningkat dan tekanan di apex lebih Desain yang di gunakan pada penelitian ini
rendah dari pada bagian basal paru-paru. quasi eksperiment pre-test-posttest with
Tekanan arteri yang rendah menyebabkan control group, Pada penelitian ini post-test
penurunan aliran darah pada pembuluh dilakukan sebanyak 4 kali. Populasi dalam
darah kapiler di bagian apex, sementara penelitian ini adalah seluruh pasien yang
pembuluh darah kapiler dibagian basal terpasang ventilasi mekanik di ICU Rumah
mengalami distensi dan aliran darahnya Sakit Umum (RSU) Kabupaten Tangerang
bertambah. Efek gravitasi mempengaruhi pada bulan April dan Juli tahun 2019.
ventilasi dan aliran darah dimana aliran Metode sampling yang digunakan adalah
darah dan udara meningkat pada basal purposive sampling, dengan jumlah 15
paru-paru (Rodney, 2001). Pada posisi responden untuk masing-masing
lateral kiri aliran darah ke paru bagian kelompok. Penelitian ini dilakukan setelah
bawah menerima 60 - 65 % dari total aliran lolos kaji etik dari Universitas
darah ke paru-paru (Gullo, 2008). Pada Muhammadiyah Jakarta dan Rumah Sakit
pasien yang menggunakan ventilator Umum Tangerang, peneliti telah
mekanik, efek gravitasi terhadap pembuluh menjelaskan tentang penelitian ini kepada
darah kapiler menyebabkan peningkatan para penanggung jawab responden
tekanan pada alveolar sehingga termasuk tujuan, metode, manfaat dan
meningkatkan ventilasi (Rodney, 2001). risikonya. Peneliti menjamin kerahasiaan
para peserta dan memberikan hak kepada
Berdasarkan hasil studi pendahuluan di responden bahwa mereka dapat
salah satu rumah sakit di wilayah mengundurkan diri dari penelitian
Tangerang, yaitu Rumah Sakit Umum kapanpun tanpa implikasi untuk perlakuan
(RSU) Kabupaten Tangerang, RSU selanjutnya. Statistik deskriptif dilakukan
Kabupaten Tangerang, dimana rumah sakit untuk mengetahui gambaran karakteristik
tersebut merupakan salah satu rumah sakit sampel berdasarkan usia dan jenis kelamin.
rujukan dan rumah sakit pendidikan di Analisis bivariate menggunakan Paired t
wilayah kabupaten Tangerang, dengan test digunakan untuk melihat pengaruh
kapasitas 19 tempat tidur di ruang posisi lateral kiri elevasi kepala 30 derajat
Intensive Care Unit (ICU) yang terdiri dari terhadap status hemodinamik (tekanan
13 tempat tidur untuk pasien dengan kasus darah systole, tekanan darah diastole,
sistemik dan 6 tempat tidur untuk pasien MAP, Hearth Rate, Respiratory Rate,
dengan kasus surgical, dimana setiap SPO2). Analisis multivariate untuk
tempat tidur tersedia ventilasi mekanik mengetahui waktu yang efektif posisi
(ventilator). Di ruang ICU RSUD lateral kiri elevasi kepala 30 derajat
Kabupaten Tangerang, kegiatan mobilisasi terhadap status hemodinamik
miring kanan, miring kiri dan terlentang, menggunakan uji MANOVA dengan
merupakan Standar Operasional Prosedur tehnik General Linier Model-Repeated
(SOP) yang harus di berikan kepada pasien Measure (GLM-RM). Sebelum uji
terutama pasien yang tidak dapat bivariat, sudah dilakukan uji normalitas
mobilisasi sendiri, atau harus dibantu, baik data dengan menggunakan uji Shapiro-
itu yang terpasang ventilator mekanik Wilk.
ataupun tidak, mobilisasi atau peralihan
posisi tersebut dilaksanakan setiap 2 jam,
dengan tujuan untuk mencegah pressure
ulcer dan untuk mencegah ventilator
associated pneumonia (VAP).
4

HASIL PENELITIAN Ruang ICU Rumah Sakit Umum


Kabupaten Tangerang Tahun 2019,
Analisi Univariat n = 30
Karakteristik Responden Variabel Mean Std Deviasi Nilai t P-
Value
Tabel 1 Rata-Rata Usia Responden di Kelompok Intervensi
Ruang ICU Rumah Sakit Umum Sistolik Pre 127.60 16.694
-2.200 0.045
Sistolik Post 131.33 11.362
Kabupaten Tangerang Tahun 2019, Diastolik Pre 81.07 9.316
-4.076 0.001
n = 30 Diastolik Post 86.53 6.917
MAP Pre 94.87 8.501
Kelompok -7.458 0.000
MAP Post 99.93 7.842
Intervensi kontrol HR Pre 85.73 10.443
Variabel -3.915 0.002
Min- Mi- HR Post 90.07 7.914
Mean ± SD Mean±SD
Max Max RR Pre 16.13 3.739
40.00 ± 24 - 44.73 ± 24 - -3.007 0.009
Usia RR Post 18.27 3.262
11.514 65 14.139 76 SPO2 Pre 98.73 0.884
1.000 0.334
SPO2 Post 98.53 1.060
Berdasarkan Tabel 1. diatas menunjukkan Kelompok Kontrol
Sistolik Pre 127.60 11.915
bahwa rata-rata usia kelompok intervensi Sistolik Post 128.33 8.449
-0.340 0.739
adalah 40 tahun dengan standar deviasi Diastolik Pre 81.27 6.861
-0.536 0.601
11.514. Sedangkan pada kelompok kontrol Diastolik Post 82.13 5.069
rata-rata usia responden adalah 44.73 tahun MAP Pre 96.67 8.381
-0.505 0.621
MAP Post 97.53 5.963
dengan standar deviasi 14.139. HR Pre 80.27 5.035
-2.438 0.029
HR Post 86.00 7.071
Tabel 2 Distribusi Frekuensi Frekuensi RR Pre 16.13 3.226
2.029 0.062
RR Post 14.67 2.093
Jenis Kelamin Responden di Ruang ICU SPO2 Pre 98.40 1.404
Rumah Sakit Umum Kabupaten -1.468 0.164
SPO2 Post 98.67 1.175
Tangerang Tahun 2019, n = 30 Berdasarkan tabel 3 diperoleh hasil pada
kelompok intervensi terdapat perbedaan
Kelompok yang signifikan antara nilai sebelum dan
Variabel Intervensi Kontrol 120 menit sesudah diberikan posisi lateral
n % n % kiri elevasi kepala 300 pada tekanan darah
Jenis sistolik (p= 0,045;= 0,05), tekanan darah
kelamin diastolik (p=0,001;=0,05), MAP
Laki-laki 8 53.3 9 60
(p=0,000;=0,05), Hearth Rate
Perempu
7 46.7 6 40 (p=0,001;= 0,05) dan Respiratory Rate
an
(p=0,009;=0,05), sedangkan pada SPO2
Total 15 100 15 100
tidak terdapat perbedaan yang signifikan
Berdasarkan Tabel 2. menyajikan
distribusi frekuensi responden berdasarkan (p= 0,334;=0,05). Maka dapat
Jenis Kelamin. Responden pada kelompok disimpulkan bahwa ada pengaruh posisi
intervensi dengan jenis kelamin laki-laki lateral kiri elevasi kepala 300 pada tekanan
sebanyak 8 responden (53.3%). Sedangkan darah sistolik, tekanan darah diastolik,
pada kelompok kontrol dengan jenis MAP, Hearth Rate) dan Respiratory Rate,
kelamin laki-laki sebanyak 9 responden akan tetapi tidak ada pengaruh terhdapat
(60%). SPO2.
Pada kelompok kontrol diperoleh hasil
Analisis Bivariat
tidak terdapat perbedaan yang signifikan
Tabel 3 Distribusi Rata-Rata Status antara nilai sebelum dan sesudah 120
Hemodinamik responden Pada menit pada posisi selain posisi lateral kiri
Kelompok Intervensi dan Kontrol di elevasi kepala 300 pada tekanan darah
sistolik (p= 0.739;= 0,05), tekanan darah
5

diastolik (0.601;=0,05), MAP Kelompok Kelompok


TD P
intervensi kontrol
(p=0.621;=0,05), dan Respiratory Rate Diastolik Min- Mean ± Min- Mean ± Value
(p=0.062;=0,05), dan SPO2 (p= max SD max SD
Pre test 76,740 81,067 76,940 81,267 0.007
0.164;=0,05). sedangkan pada Hearth - ± 2,112 - ± 2,112
Rate terdapat perbedaan yang signifikan 85,393 85,593
Hearth Rate (p=0.029;= 0,05). Post 1 81,249 84,533 74,716 78,000
- ± 1,603 - ± 1,603
87,818 81,284
Post 2 81,362 85,000 77,295 80,933
Analisis Multivariat - ± 1,776 - ± 1,776
88,638 84,572
Tabel 4. Deskriptif Statistik Multivariat Post 3 81,822 86,133 77,489 81,800
- ± 2,104 - ± 2,104
Rata-Rata Tekanan Darah Sistolik Di 90,444 86,111
Ruang ICU Rumah Sakit Umum Post 4 83,326 86,533 78,926 82,133
Kabupaten Tangerang Tahun 2019, n = - ± 1,566 - ± 1,566
89,740 85,340
30
Berdasarkan tabel 5.didapatkan hasil
Kelompok
pengukuran multivariat pada tekanan darah
TD Kelompok kontrol P diastolik diperoleh nilai P Value 0.007 (<
intervensi
Sistolik Min- Mean ± Min- Mean ± Value 0.05), dapat disimpulkan terdapat
max SD max SD
Pre test 119.930 127.600 119.930 127.600 ± 0.001
perbedaan rata-rata yang signifikan status
- ± 3.745 - 3.745 hemodinamik pada tekanan darah sistolik
135.270 135.270 dari mulai pre sampai post menit ke 120.
Post 1 124,003 129,667 113,936 119,600 ± Pada kelompok intervensi yang diberikan
- ± 2,765 - 2,765
135,330 125,264 posisi lateral kiri elevasi kepala 30 derajat
Post 2 126,235 131,067 118,502 123,333 ± terjadi peningkatan nilai rata-rata tekanan
- ± 2,359 - 2,359 darah diastolik akan tetapi pada kelompok
135,898 128,165
Post 3 126,065 131,133 123,398 128,467 ± kontrol terjadi penurunan rata-rata tekanan
- ± 2,474 - 2,474 darah diastolik.
136,202 133,535
Post 4 126,038 131,333 123,038 128,333 ±
- ± 2,585 - 2,585
136,629 133,629 Tabel 6. Deskriptif statistik multivariat
Berdasarkan tabel 4. didapatkan hasil rata-rata Mean Arterial Pressure (MAP)
pengukuran multivariat pada tekanan darah di Ruang ICU Rumah Sakit Umum
sistolik diperoleh nilai P Value 0.001 (< Kabupaten Tangerang Tahun 2019,
0.05), dapat disimpulkan terdapat n = 30
perbedaan rata-rata yang signifikan status Kelompok P
Kelompok kontrol
intervensi Value
hemodinamik pada tekanan darah sistolik MAP
Min-max Mean ± Min-max Mean ±
dari mulai pre sampai post menit ke 120. SD SD
Pada kelompok intervensi yang diberikan Pre 90,402 - 94,867 92,202 - 96,667 0.000
test 99,331 ± 2,179 101,131 ± 2,179
posisi lateral kiri elevasi kepala 30 derajat Post 1 94,681 - 98,267 88,414 - 92,000
terjadi peningkatan nilai rata-rata tekanan 101,852 ± 1,750 95,586 ± 1,750
darah sistolik akan tetapi pada kelompok Post 2 96,409 - 99,600 91,675 - 94,867
kontrol terjadi penurunan rata- rata tekanan 102,791 ± 1,558 98,058 ± 1,558
Post 3 97,272 - 100,800 93,872 - 97,400
darah sistolik. 104,328 ± 1,722 100,928 ± 1,722
Post 4 96,249 - 99,933 93,849 - 97,533
Tabel 5. Deskriptif Statistik Multivariat 103,618 ± 1,799 101,218 ± 1,799
Rata-Rata Tekanan Darah Diastolik di
Ruang ICU Rumah Sakit Umum Berdasarkan tabel 6. didapatkan hasil
Kabupaten Tangerang Tahun 2019, n = pengukuran multivariat pada MAP
30 diperoleh nilai P Value 0.000 (< 0.05),
dapat disimpulkan terdapat perbedaan rata-
rata yang signifikan status hemodinamik
6

pada MAP dari mulai pre sampai post 19,008 ± 0,688 15,675 0,688
Post 4 16,817 - 18,267 13,217 - 14,667 ±
menit ke 120. Pada kelompok intervensi 19,716 ± 0,708 16,116 0,708
yang diberikan posisi lateral kiri elevasi
kepala 30 derajat terjadi peningkatan nilai Berdasarkan tabel 8. didapatkan hasil
rata-rata MAP akan tetapi pada kelompok pengukuran multivariat pada Respiratory
kontrol terjadi penurunan rata-rata MAP. Rate diperoleh nilai P Value 0.036 (<
0.05), dapat disimpulkan terdapat
Tabel 7. Deskriptif Statistik Multivariat perbedaan rata-rata yang signifikan status
Rata-Rata Heart Rate (HR) di Ruang hemodinamik pada Respiratory Rate dari
ICU Rumah Sakit Umum Kabupaten mulai pre sampai post menit ke 120. Pada
Tangerang Tahun 2019, n = 30 kelompok intervensi yang diberikan posisi
lateral kiri elevasi kepala 30 derajat terjadi
Kelompok
Kelompok intervensi
kontrol P peningkatan nilai rata-rata Respiratory
HR
Min-max Mean ± Min- Mean Value Rate akan tetapi pada kelompok kontrol
SD max ± SD terjadi penurunan rata-rata Respiratory
Pre 81,397 - 85,733 75,931 - 80,267 ± 0.000
test 90,069 ± 2,117 84,603 2,117 Rate.
Post 1 80,747 - 85,533 77,947 - 82,733 ±
90,319 ± 2,336 87,519 2,336 Tabel 9. Deskriptif Statistik Multivariat
Post 2 81,803 - 86,133 79,603 - 83,933 ±
90,463 ± 2,114 88,263 2,114
Rata-Rata SPO2 di Ruang ICU Rumah
Post 3 82,698 - 87,267 74,432 - 79,000 ± Sakit Umum Kabupaten Tangerang
91,835 ± 2,230 83,568 2,230 Tahun 2019, n = 30
Post 4 86,098 - 90,067 82,031 - 86,000 ±
94,036 ± 1,938 89,969 1,938
Kelompok
Kelompok kontrol
intervensi
berdasarkan tabel 7. didapatkan hasil SPO2 P Value
Min- Mean ± Min- Mean ±
pengukuran multivariat pada Heart Rate max SD max SD
Pre 98,113 - 98,733 ± 97,780 - 98,400 ± 0.098
diperoleh nilai P Value 0.000 (< 0.05), test 99,354 0,303 99,020 ,303
dapat disimpulkan terdapat perbedaan rata- Post 1 97,478 - 98,067 ± 98,945 - 99,533 ±
rata yang signifikan status hemodinamik 98,655 0,287 100,122 ,287
pada Heart Rate dari mulai pre sampai Post 2 97,335 - 97,933 ± 98,135 - 98,733 ±
98,532 0,292 99,332 ,292
post menit ke 120. Pada kelompok Post 3 97,452 - 98,067 ± 98,118 - 98,733 ±
intervensi yang diberikan posisi lateral kiri 98,682 0,300 99,348 ,300
elevasi kepala 30 derajat terjadi Post 4 97,941 - 98,533 ± 98,075 - 98,667 ±
99,125 0,289 99,259 ,289
peningkatan nilai rata-rata Heart Rate akan
tetapi pada kelompok kontrol terjadi Berdasarkan tabel 9. didapatkan hasil
penurunan rata-rata Heart Rate. pengukuran multivariat pada SPO2
diperoleh nilai P Value 0.098 (> 0.05),
Tabel 8. Deskriptif Statistik Multivariat dapat disimpulkan tidak terdapat
Rata-Rata Respiratory Rate (RR) di perbedaan rata-rata yang signifikan status
Ruang ICU Rumah Sakit Umum hemodinamik pada SPO2 dari mulai pre
Kabupaten Tangerang Tahun 2019, sampai post menit ke 120. Pada kelompok
n = 30 intervensi yang diberikan posisi lateral kiri
elevasi kepala 30 derajat terjadi penurunan
Kelompok
intervensi
Kelompok kontrol
P nilai rata-rata SPO2 akan tetapi pada
RR
Min- Mean ± Min- Mean ± Value kelompok kontrol terjadi peningkatan rata-
max SD max SD rata SPO2.
Pre 14,286 - 16,133 14,286 - 16,133 ± 0.036
test 17,980 ± 0,902 17,980 0,902
Post 1 16,653 - 18,267 13,520 - 15,133 ±
19,880 ± 0,788 16,747 0,788
Post 2 16,804 - 17,867 15,604 - 16,667 ±0
18,929 ± 0,519 17,729 ,519
Post 3 16,192 - 17,600 12,858 - 14,267 ±
7

PEMBAHASAN terbanyak pada jenis kelamin perempuan


sebanyak 53.3%. akan tetapi menurut hasil
Karakterisitk Responden penelitian Ricky (2017) tentang gambaran
pasien gagal nafas pada kelainan paru,
Usia
diperoleh hasil bahwa 72 % berjenis
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kelamin laki-laki yang mengalami gagal
dari 30 responden. didapatkan rata-rata nafas.
usia responden adalah 40 dan 45 tahun.
Menurut peneliti bahwa hasil penelitian ini
sedangkan usia termuda berada pada rata-
lebih banyak responden laki-laki
rata 24 Tahun dan tertua 65-76 tahun. Usia
dikarenakan aktivitas yang dilakukan laki-
40-45 tahun merupakan usia dewasa akhir
laki lebih banyak dan bervariasi
yang akan memasuki usia lansia. Menurut
dibandingkan perempuan, laki-laki
Koutsoukou et al., dalam Ricky (2017),
bergerak lebih aktif dibandingkan
bahwa semakin tinggi kelompok umur
perempuan sehingga risiko kecelakaan
maka jumlah penderita kelainan paru yang
yang dapat menyebabkan gagal nafas pada
mengalami gagal nafas semakin
laki-laki lebih besar dibanding perempuan.
bertambah. Hal ini dikarenakan seiring
Kebanyakan aktivtas laki-laki sebagai
bertambahnya usia seseorang maka terjadi
pencari nafkah dan intensitas kegiatan
kecenderungan menurunnya fisiologis baik
diluar rumah yang lebih tinggi, aktifitas
tingkat seluler maupun tingkat organ
seperti memanjat, mengendarai kendaraan
seperti terjadinya penurunan kapasitas
bermotor, olah raga dan lain-lain yang
diffusi paru (PO2), penurunan permukaan
dapat meningkatkan resiko cidera dan
alveolar, penurunan kapasitas diffusi paru-
jatuh sakit
paru.
Menurut asumsi peneliti bahwa dari hasil Analisis Perbedaan Nilai Rata-Rata
penelitian berdasarkan karakteristik usia Status Hemodinamik Pada Tekanan
yang sebagian besar usia dewasa akhir Darah Sistolik, Tekanan Darah
yang akan memasuki usia lansia. Hal ini Diastolik, Mean Arterial Pressure dan
resiko terjadinya penurunan pada status Hearth Rate
fungsional pada tubuhnya dan berbagai
tekanan psikologis sehingga terjadi Hasil penelitian ini menunjukan bahwa
perubahan-perubahan dalam hidupnya, pada responden yang di lakukan posisi
termasuk perubahan fungsi serta resiko lateral kiri elevasi kepala 30 derajat pada
terserang penyakit akan meningkat. Hal ini tekanan darah, baik sistolik maupun
yang menyebabkan usia yang lebih tua diastolik, MAP dan Hearth Rate, terdapat
lebih cenderung mengalami penurunan peningkatan nilai rata-rata tekanan darah
baik itu pada sistem kardiovaskular baik sistolik maupun diastolik, MAP dan
maupun sistem respirasi. Hearth Rate. Ada banyak faktor yang
memengaruhi hemodinamik pasien. Dalam
Jenis Kelamin penelitian ini, sebagian responden
menerima dukungan obat norepinephrine
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dan dobutamin. Rhodes, et al., (2015)
dari 30 responden, sebagian besar adalah menjelaskan bahwa obat vasoaktif seperti
responden berjenis kelamin laki-laki yaitu norepinephrine akan meningkatkan MAP
53.3-60%. Karakeristik jenis kelamin ini melalui efek vasokonstriksi, sedikit
berbeda dengan penelitian karmiza “Posisi perubahan pada HR, dan sedikit
Lateral Kiri Elevasi Kepala 30 Derajat peningkatan volume sekuncup bila
Terhadap Nilai Tekanan Parsial Oksigen dibandingkan dengan dopamine.
(Po2) Pada Pasien Dengan Ventilasi Dobutamin merupakan pilihan obat
Mekanik” bahwa karekteristik responden inotropik primer yang akan meningkatkan
8

hemodinamik dan perfusi, termasuk pada pernapasan melalui paru/pernapasan


peningkatan klinis, Vasopressor dan eksterna. Oksigen dipungut melalui hidung
dobutamin akan meningkatkan dan mulut. Saat bernapas, oksigen masuk
hemodinamik pasien (Antonelli et al., melalui trakea dan pipa bronchial ke
2013). Kombinasi antara volume alveoli, dan dapat erat berhubungan
sekuncup, peningkatan kontraktilitas, dan dengan darah di dalam kapiler pulmonalis
peningkatan heart rate akan meningkatkan (Syaifudin).
curah jantung sehingga memengaruhi
hemodinamik pasien (Morton, et al., Hubungan perubahan posisi secara
2013). mekanik dengan terbatasnnya gerakan
dada dapat membatasi pengembangan paru
Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil dan menyebabkan berkurangnya volume
penelitian Subiyanto (2018), yang paru. Pada posisi lateral terbatasnya
menyatakan bahwa ada pengaruh posisi pergerakan dinding dada dan gangguan
lateral kiri elevasi kepala 30 derajat pergerakan hemidiafragma ipsilateral
terhadap nilai tekanan darah diastole, MAP dapat mempengaruhi perubahan nilai tidal
dan Hearth rate. selain itu menurut volume yang berujung pada kompensasi
Almeida, Pavan, Rodringues, (2009) pernafasan (Benumof, 2000). Penelitian ini
menyebutkan bahwa left lateral position didukung oleh Schellongowski P, at all,
dapat meningkatkan systolic and dyastolic (2007) menyimpulkan hasil penelitiannya
blood pressure 15mmHg pada 60 menit bahwa Posisi Lateral yang curam merusak
pertama pemberian posisi pada wanita kepatuhan pada sistem pernapasan. Posisi
hamil trimester akhir. lateral yang curam dan berkepanjangan
tidak membawa manfaat terhadap
Analisis Perbedaan Nilai Rata-Rata oksigenasiatau hemodinamik.
Status Hemodinamik Pada Respiratory
Rate Analisis Perbedaan Nilai Rata-Rata
Status Hemodinamik Pada SPO2
Hasil penelitian menunjukan bahwa
dengan posisi lateral elevasi kepala 30 Hasil penelitian menunjukan bahwa tidak
derajat, dapat meningkatkan nilai ada pengaruh yang signifikan antara posisi
Respiratory Rate sebaliknya pada lateral kiri elevasi kepala 30 derajat dengan
kelompok kontrol yang dilakukan posisi status hemodinamik pada SPO2. Penelitian
selain posisi posisi lateral elevasi kepala 30 ini sejalan dengan penelitian Kirchhoff et
derajat, yaitu lateral kanan dan semi fowler al. 1984, dalam Thomas et all. 2007,
30-45 derajat, menunjukkan hasil Dalam studinya, pemantauan hemodinamik
sebaliknya yaitu respirotry rate terjadi secara klinis dalam perubahan posisi
penurunan rata-rata Respiratory Rate. lateral yang diamati, tidak menunjukkan
ada perubahan klinis secara signifikan
Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil
untuk oksigenasi yang diamati pada pasien
penelitian Subiyanto (2018), yang
kritis. Selai itu hasil penelitian Stiller, et,
menyatakan bahwa ada pengaruh posisi
all. (2004) Keselamatan mobilisasi dan
lateral kiri elevasi kepala 30 derajat
efeknya pada status hemodinamik dan
terhadap respiratory rate . Respiratory
pernafasan pasien perawatan intensif,
Rate (RR) adalah jumlah napas yang
menunjukkan hasil bahwa tidak ada
dilakukan per menit. Dalam keadaan
pengaruh yang signifikan antara mobilisasi
istirahat, kecepatan pernapasan sekitar 15
dengan saturasi oksigen, walaupun
kali per menit (Price et al, 2006).
terdapat pengaruh terhadap Respiratory
Pernapasan paru merupakan pertukaran
Rate. Hubungan perubahan posisi secara
oksigen dan karbondioksida yang terjadi
mekanik dengan terbatasnnya gerakan
pada paru. Fungsi paru adalah tempat
dada dapat membatasi pengembangan paru
pertukaran gas oksigen dan karbondioksida
9

dan menyebabkan berkurangnya volume position dapat meningkatkan systolic and


paru. Pada posisi lateral terbatasnya dyastolic blood pressure 15 mmHg pada
pergerakan dinding dada dan gangguan 60 menit pertama pemberian posisi pada
pergerakan hemidiafragma ipsilateral dapat wanita hamil trimester akhir.
mempengaruhi perubahan nilai tidal
volume (Benumof, 2000). Jika ditidal Perubahan posisi kearah lateral atau miring
volume berkurang maka efek yang mempengaruhi aliran balik darah yang
ditimbulkan salah satunya adalah SPO2 menuju ke jantung dan berdampak pada
menurun. hemodinamik (Cicolini et al., 2010),
karena secara teoritis pada posisi lateral
menunjukkan aliran balik darah dari
Waktu Efektif Pelaksanaan Posisi bagian inferior menuju ke atrium kanan
Lateral Kiri Elevasi Kepala 30 Derajat cukup baik karena resistensi pembuluh
Terhadap Status Hemodinamik darah dan tekanan atrium kanan tidak
Tekanan Darah Sistolik, Tekanan terlalu tinggi, sehingga volume darah yang
Darah Diastolik dan MAP masuk (venous return) ke atrium kanan
cukup baik dan tekanan pengisian ventrikel
Tekanan Darah dan MAP kanan (preload) meningkat, yang dapat
mengarah kepeningkatan stroke volume
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dan cardiac output (Kim & Sohng, 2006).
terjadi peningkatan Tekanan darah
sistolikdan diastolik maupun MAP pada
posisi lateral kiri elevasi kepala 30 derajat Hearth Rate
dari pre test sampai dengan post test menit
ke 120. Akan tetapi perubahan tersebut Hasil penelitian menunjukkan bahwa
belum mencapai titik optimum, perubahan terjadi peningkatan Heart Rate pada
peningkatan Tekanan darah sistolikdan kelompok intervensi yang diberikan posisi
diastolik maupun MAP. Jadi dapat lateral kiri elevasi kepala 30 derajat dari
disimpulkan bahwa dengan waktu 120 pre test sampai dengan post test menit ke
menit belum ditemukan waktu yang 120. Akan tetapi perubahan tersebut belum
optimum peningkatan Tekanan darah mencapai titik optimum, perubahan
sistolikdan diastolik maupun MAP peningkatan MAP dilihat dari grafik pada
menit ke 120 masih terjadi peningkatan.
Menurut analisis peneliti, hasil penelitian Jadi dapat disimpulkan bahwa dengan
terhadap waktu yang efektif posisi lateral waktu 120 menit belum ditemukan waktu
kiri elevasi kepala 30 derajat dalam yang optimum peningkatan Heart Rate
penelitian ini dapat dijelaskan berdasarkan
tahap pengukuran pre sampai post IV (120 Terdapat perbedaan dengan penelitian
menit) pada masing-masing grafik plot. Nofiyanto (2016) pengaruh tindakan
pada tahap pengukuran pre sampai post IV mobilisasi dini terhadap denyut jantung
(120 mneit),masih tetap tampak grafik dan frekuensi pernapasan pada pasien
peningkatan baik pada tekanan darah kritis di ICU RSUD Sleman Yogyakarta
sistolik dan diastolik, kecuali pada MAP yang menunjukkan bahwa tidak terdapat
pada post IV (120 menit) terjadinya perubahan yang signifikan dari nilai awal
penurunan grafik plot. Hal ini sebelum mobilisasi pada denyut jantung
menunjukkan bahwa posisi lateral kiri dan frekuensi pernapasan segera setelah
elevasi kepala 30 derajat dapat dilakukan tindakan mobilisasi dini.
meningkatkan tekanan darah sistolik,
Menurut analisis peneliti bahwa
diastolik dan MAP selama 120 menit.
peningkatan Hearth Rate ini dikarenakan
Menurut Almeida, Pavan, Rodringues,
banyak faktor, beberapa pasien yang
(2009) menyebutkan bahwa left lateral
mengalami peningkatan heart rate hal ini
10

dikarenakan pasiennya mengalami membatasi pengembangan paru dan


kenaikan suhu, beberapa pasien febris, menyebabkan berkurangnya volume paru.
selain itu faktor lainnya adalah efek dari Pada posisi lateral terbatasnya pergerakan
obat vasopressor seperi noradrenain dan dinding dada dan gangguan pergerakan
dobutamin yang dipasangkan ke pasien. hemidiafragma ipsilateral dapat
mempengaruhi perubahan nilai tidal
Respiratory Rate volume yang berujung pada kompensasi
pernafasan (Benumof, 2000)..
Hasil penelitian menunjukkan bahwa
terjadi peningkatan Respiratory Rate pada
posisi lateral kiri elevasi kepala 30 derajat SPO2
dari pre test sampai dengan post test menit
ke 120. Akan tetapi perubahan tersebut Hasil penelitian menunjukkan bahwa
belum mencapai titik optimum, perubahan terjadi penurunan SPO2 pada posisi lateral
peningkatan Respiratory Rate dilihat dari kiri elevasi kepala 30 derajat dari pre test
grafik pada menit ke 120 masih terjadi sampai dengan post test menit ke 120.
peningkatan. Jadi dapat disimpulkan Akan tetapi perubahan tersebut belum
bahwa dengan waktu 120 menit belum mencapai titik optimum, perubahan
ditemukan waktu yang optimum penurunan SPO2 dilihat dari grafik pada
peningkatan Respiratory Rate. Semakin menit ke 90 terjadi peningkatan. Jadi dapat
lama waktu pelaksanaan maka semakin disimpulkan bahwa dengan waktu 120
meningkat nilai Respiratory Rate menit belum ditemukan waktu yang
responden. optimum pengukuran SPO2., hal tersebut
merupakan kondisi yang dapat
Menurut analisis peneliti hal ini pada
membahayan jika terus berlanjut. Menurut
waktu 30 menit terjadi keannaikan hal ini
analisis peneliti hal ini ada kesinambungan
dikarenakan awal perubahan posisi kea
dari nilai respiratory rate dan nilai tidal
rah lateral kiri paru-paru terjadi
volume, pada posisi Lateral Kiri Elevasi
ketrbatasan pengembangan paru sebelah
Kepala 30 Derajat, pergerakan data
kiri sehingga tidal volume dapat berubah,
terbatas, dan pengembangan paru terbatas
dan SPO2 dapat merubah dikarenakan
sehingga volume paru berkurang. Dan tidal
factor tidal volume yang tidak optimal,
volume menurun. Sehingga SPO2
akan tetapi pada menit selanjutnya yaitu
menurun.
menit ke 60 dan 90 terjadi penyeuaia
sehingga respiratory rate menurun, Hal ini sesuai dengan teori bahwa Posisi
kemudian pada mnit ke 120 respiratory lateral 30 derajat akan memberikan
rate meningkat hal ini karena keterbatasan dampak tekanan yang lebih sehingga akan
upaya paru-paru untuk mengkompensasi memicu usaha nafas yang lebih. Ketika
kebutuhan oksigen.sehingga semakin lama pasien belum mampu, maka yang terjadi
posisi lateral kiri elevasi kepala 30 derajat adalah penurunan saturasi oksigen yang
maka respirasi akan meningkat. diawali denegan peningkatan respiratory
rate (Purnawan & Saryono, 2010).
Hal ini sesuai yang dikemukakan oleh
Schellongowski P, at all, (2007)
menyimpulkan hasil penelitiannya bahwa KESIMPULAN
Posisi Lateral yang curam merusak Sebagian responden berusia pada rata-rata
kepatuhan pada sistem pernapasan. Posisi 40 Tahun dan berjenis kelamin laki-laki.
lateral yang curam dan berkepanjangan Ada pengaruh yang signifikan antara posisi
tidak membawa manfaat terhadap lateral kiri elevasi kepala 30 derajat dengan
oksigenasi atau hemodinamik. Hubungan status hemodinamik pada tekanan darah
perubahan posisi secara mekanik dengan sistolik, tekanan darah diastolic, MAP,
terbatasnnya gerakan dada dapat
11

Hearth Rate dan Respiratory rate. Tidak elevasi kepala 30 derajat dapat
terdapat pengaruh yang signifikan antara meningkatkan tekanan darah sistolik,
posisi lateral kiri elevasi kepala 30 derajat tekanan darah diastolik, MAP, Hearth
dengan status hemodinamik pada SPO2. Rate dan Respiratory rate
Dengan waktu 120 meit belum tercapai 3. Bagi Pendidikan Keperawatan
waktu yang optimum untuk pelaksanaan Institusi pendidikan keperawatan
posisi lateral kiri elevasi kepala 30 derajat dapat memberikan kemampuan
terhadap status hemodinamik. Terjadi pemahaman kepada mahasiswa
peningkatan nilai rata-rata yang signifikan keperawatan untuk dapat menerapkan
selama 120 menit, sedangkan pada SPO2 aspek pemikiran kritis pada pasien
terjadi penurunan nilai rata-rata SPO2. dengan status hemodinamik tidak
Sehingga dapat disimpulkan pada posisi stabil terhadap pelaksanaan tindakan
posisi lateral kiri elevasi kepala 30 derajat memposisikan pasien lateral kiri 30
memberikan dampak yang negative derajat di Rumah Sakit
terhadap status respirasi, aka tetapi dapat 4. Bagi peneliti selanjutnya
memberikan dampak peningkatan status Peneliti selanjutnya dapat
kardiovaskular khususnya pada pasien- mengembangkan penelitian dengan
pasien yang mengalami penurunan tekanan mempertimbangkan tingkat kriteria
darah. diagnosis penyakit pasien dan mode
ventilator yang digunakan.
KETERBATASAN
DAFTAR PUSTAKA
Jumlah responden yang memenuhi kriteria
penelitian menjadi kendala dalam Almeida F, Pavan M, Rodringues C,
pengambilan data sehingga untuk (2009). The Haemodynamic, Renal
memperoleh sampel membutuhkan waktu Excretory And Hormonal Changes
yang lama. Rata-rata usia dan jenis Induced By Resting In The Left
penyakit berbeda sehingga akan Lateral Position In Normal
mempengaruhi tingkat keakuratan hasil. Pregnant Women During Late
Referensi posisi lateral kiri elevasi kepala Gestation. BJOG 2009;116:1749–
30 derajat, masih masih kurang dan 1754.
tentunya dibutuhkan penelitian lebih lanjut
agar dapat meningkatkan penelitian Antonelli, M., Conti, G., Curtis, J. R.,
Maggiore, S. M., Mebazaa, A. and
REKOMENDASI Wernerman, J. (2013), Year in
Review in Intensive Care Medicine
1. Bagi Pelayanan Keperawatan 2012. II : Pneumonia and Infection,
Bagi rumah sakit Penelitian ini dapat Sepsis, Coagulation,
menjadi salah satu pertimbangan Hemodynamics, Cardiovascular
kebijakan intervensi mandiri perawat and Microcirculation, Critical Care
dalam aspek perubahan posisi pasien Organization, Imaging, Ethics and
dalam monitoring hemodinamik pada legal issues, Intensive Care
pasien di Ruang ICU. Medicine, 39, pp. 345–364
2. Bagi Perawat
Perawat dapat meningkatkan Benumof J.L. (2000). Scientific Principles
pemahaman bahwa posisi tertentu Physiology and Anesthesia
dapat mempengaruhi hemodinamik Respiratory Physiology and
pasien, sehingga disarankan Respiratory Fungtion During
memperhatikan respon dan jenis Anesthesi. Willians & Wilkins. Inc.
penyakit pasien. Dengan Lippincott Company.
memposisikan pasien lateral kiri
12

Black dan Hawks. (2014). Keperawatan Nofiyanto, M. dan Adhinugraha, T.S.


Medikal bedah Manajemen Klinis (2016). Pengaruh Tindakan
Untuk Hasil Yang Diharapkan Mobilisasi Dini terhadap Denyut
Edisi * Buku 3. Singapura: Elsevier Jantung dan Frekuensi Pernapasan
pada Pasien Kritis di ICU RSUD
Cicolini, G., Gagliardi, G., & Ballone, E. Sleman Yogyakarta. Media Ilmu
(2010). Effect of Fowler’s Body Kesehatan, Vol. 5, No. 3, Desember
Position on Blood Pressure 2016, hlm. 213-223
Measurement. Journal of Clinical
Nursing, Volume 19, Issue 23-24. Osborn, S., dan Adam, K.S., (2009).
Oxford Hand Book of Critical Care
Elhy, A.H.A. (2017). Effect of Nursing. United State: Oxford
Semifowler’s Positions on University Press.
Oxygenation and Hemodynamic
Status among Critically III Patients Purnawan, I., & Saryono. (2010).
With Traumatic Brain Injury. Mengelola pasien dengan
ventilator mekanik. Jakarta:
Gullo, A. (2008). Anaestesi Pain Intensive Rekatama
Care Intesive and Emergency
Medicine. Italy: Springer. Price, S.A., dan Wilson, L.M., 2006,
Patofisiologi, Konsep Klinis
Ignatavicius D.D., & Workman, M.L Proses-Proses Penyakit,Edisi 6, hal.
(2006). Medical Surgical Nursing : 1271; Huriawati H, Natalia S, Pita
Critical Thinking For Wulansari, Dewi Asih (eds),
Collaborative Care. 5tn Ed., Vol.2. Penerbit Buku Kedokteran, EGC,
St. Louis : Elsevier Saunders. Jakarta.
Kim, H.J., Sohng, K.Y. (2006). Effects of Ricky K. (2017). Gambaran Pasien Gagal
Backrest Position on Central Nafas dengan Kelainan Paru Pada
Venous Pressure and Intracranial Rawat Inap Di Rumah Sakit Umum
Pressure in Brain Surgery Patients. Haji Adam Malik Medan Bulan
Taehan Kanho Hakhoe Chi, Januari Sampai Agustus 2017.
36(2):35 3-60 Universitas Sumatera utara :
Skripsi
Kirchhoff KT, Rebenson-Piano M & Patel
MK. (1984). Mean Arterial Rhodes, A., Phillips, G., Beale, R.,
Pressure Readings: Variations Cecconi, M., Chiche, J. D., Backer,
With Positions And Transducer D. et al. (2015), The Surviving
Level. Nursing Research 33, 343– Sepsis Campaign bundles and
345 outcome : results from the
International Multicentre
Morton, P. G., Reck, K., Hamel, J.,
Prevalence Study on Sepsis (the
Walther, A. S., Rueden, K. T. Von
IMPreSS study), Intensive Care
and Headley, J. M. (2013), Patient
Medicine, Springer Berlin
Assessment: Cardiovascular
Heidelberg, 41(9), pp. 1620–1628.
System, in Morton, P. G. and
Fontaine, D. K., Critical Care Rodney, R.A., (2001). Ventilasi Perfusi
Nursing A Holistic Approach, 12th Apakah dipengaruhi Posisi dan
edn, Wolters Kluwer Gravitasi,),
Health/Lippincott Williams & www.dokterzarra.wordpress.com,
Wilkins, Philadelphia, USA. diakses pada 03 Februari 2019
13

Schellongowski, P., Sperr R., & Staudinger


T. (2007). Critically ill patients
with cancer: chances and
limitations of intesive care
medicine – a narrative review.
Diakses
http://dx.doi.org/10.1136/esmoopen
-2015-000018
Subiyanto, (2018). Pengaruh Posisi
Lateral Terhadap Status
Hemodinamik Pasien Dengan
Ventilasi Mekanik di Ruang ICU
RSUP DR Kariadi Semarang.
Diakses melalui
www.respository.unimus.ac.id pada
tanggal 4 Januari 2019
Thomas PJ, Paratz JD, Lipman J & Stanton
WR. (2007). Lateral Positioning
Ventilated Intensive Care Patients:
A Study Of Oxygenation,
Respiratory Mechanics,
Hemodynamics