Anda di halaman 1dari 25

STUDI KORELASI PENGGUNAAN PESTISIDA DAN GANGGUAN

KESEHATAN AKIBAT INTOKSIKASI PESTISIDA PADA PETANI DI


DESA BUMIAJI KOTA BATU

Makalah Proyek
Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah Kesehatan Lingkungan
Yang dibina oleh Bapak Dr. H. Sueb, M.Kes
Disajikan Pada Hari Selasa Tanggal 05 November 2019

Disusun oleh :
Offering K 2017
Nenes Prastita (170342615510)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
PRODI BIOLOGI
November 2019
LEMBAR PERSETUJUAN

Proposal kegiatan penelitian dengan judul Studi Korelasi Penggunaan Pestisida


Dengan Gangguan Kesehatan Akibat Intoksikasi Pestisida pada Petani di
Desa Bumiaji Kota Batu telah diperiksa dan telah/belum disetujui untuk
dilaksanakan mengambil data lapangan.

Malang, ..... Oktober 2019


Dosen Pengampu Matakuliah

Dr. Sueb, M. Kes.


NIP 19611120 198701 1 001
STUDI KORELASI PENGGUNAAN PESTISIDA DAN GANGGUAN
KESEHATAN AKIBAT INTOKSIKASI PESTISIDA PADA PETANI DI
DESA BUMIAJI KOTA BATU
Nenes Prastita, dan Dr. H. Sueb, M.Kes
Jurusan Biologi, FMIPA, Universitas Negeri Malang
Email : nenespra@gmail.com dan sueb.fmipa@um.ac.id

Abstrak. Selama beberapa tahun terakhir telah terjadi peningkatan penggunaan


pestisida di negara berkembang termasuk Indonesia. Studi ini menjelaskan penggunaan
pestisida dan gangguan kesehatan akibat intoksikasi pestisida pada kalangan petani di
Desa Bumiaji Kota Batu dan menganalisis hubungan atau korelasi keduanya. Penelitian
ini menggunakan metode cross-sectional berbasis survey. Sebanyak 57 responden telah
diberikan kuisioner yang meliputi penggunaan pestisida dan gejala intoksikasi pestisida
yang pernah dialami. Dari hasil penelitian didapatkan secara keseluruhan tingkat
penggunaan pestisida tergolong sedang. Sedangkan pada petani yang tidak mengikuti
kelompok tani tergolong tinggi dan sebaliknya. Gangguan kesehatan yang dialami petani
juga tergolong rendah. Sehingga terdapat korelasi yang sangat kuat antara penggunaan
pestisida dengan gangguan kesehatan akibat intoksikasi pestisida. Semakin tinggi tingkat
penggunaan pestisida, maka akan semakin tinggi pula gangguan kesehatan akibat
intoksikasi pestisida.
Kata Kunci: Pestisida, intoksikasi, gangguan kesehatan, toksikologi.

Abstract. Over the last few years there has been an increase in the use of
pesticides in developing countries including Indonesia. This study explains the
use of pesticides and health problems in pesticide intoxication in farmers in
Bumiaji Village, Batu City and analyzes their relationship. This study uses a
cross-sectional survey method. A total of 57 respondents have given
questionnaires using pesticides and intoxication of pesticides that have been
consumed. From the research results obtained from the overall use of pesticides
are classified as moderate. While farmers who did not join the farmer group were
classified as high and vice versa. Health problems experienced by farmers are also
relatively low. Pesticide Intisication The higher the level of pesticide use, the
higher the health improvement due to pesticide intoxication.
Keywords: Pesticides, intoxication, health problems, toxicology.
PENDAHULUAN

Problem lingkungan hidup dewasa ini menghadapi masalah yang cukup


kompleks. Lingkungan sebagai tempat hidup akan terasa sesak dan tidak nyaman.
Dengan demikian maka kerusakan lingkungan akan mengancam tidak saja
terhadap keberlanjutan pembangunan itu sendiri tetapi juga akan mengancam
eksistensi manusia [1]. Penurunan kualitas lingkungan hidup oleh manusia terdiri
atas 3 faktor yaitu jumlah manusia, jumlah sumberdaya alam yang dipergunakan
oleh setiap manusia, dan dampak lingkungan dari sumberdaya alam dipergunakan.
Salah satu hubungan antara penurunan kualitas lingkungan hidup dan manusia
(sosial) yaitu sebagian besar penurunan kualitas lingkungan hidup hasil dari
tindakan atau perilaku manusia. Kepribadian manusia itu sendiri dan
situasi/keadaan lingkungan sekitar akan mempengaruhi perilaku lingkungan
seseorang [2].
Manusia selalu menuntut kepada alam agar kebutuhan hidupnya dapat
terpenuhi. Kebutuhan primer manusia adalah makan. Dan untuk meningkatkan
hasil-hasil bumi mereka mempunyai ambisi besar untuk meningkatkan produksi
pangan [3]. Banyak hal yang dilakukan manusia seperti program irigasi,
pemupukan intensif yang kadang berlebihan hingga merusak struktur tanah.
Untuk mendukung keberhasilan produksi pangan ini, penelitian dan teknologi
semakin berkembang, salah satu teknologinya yang sangat dikenal adalah produk
pestisida [4]. Pestisida adalah zat kimia beracun atau campuran zat atau agen
biologis yang sengaja dilepaskan ke lingkungan untuk mencegah, menghalangi,
mengendalikan atau membunuh populasi serangga, gulma, tikus, jamur atau hama
berbahaya lainnya [5].
Pestisida merupakan suatu zat yang bersifat toksik, namun di sisi lain
pestisida sangat dibutuhkan oleh petani untuk melindungi tanamannya [3]. Harus
diakui walaupun pestisida sangat berbahaya, peningkatan produksi pertanian
dapat tercapai justru dengan bantuan pestisida [4]. Semakin banyak pestisida
digunakan semakin baik karena produksi pertanian menjadi semakin tinggi. Inilah
pandangan umum yang masih berlaku di dunia sampai saat ini termasuk juga
Indonesia. Segala keberhasilannya manusia semakin merasakan dampak negatif
pestisida yang semakin memprihatinkan rasa kemanusiaan dan juga rasa
tanggungjawabnya terhadap kelangsungan hidup manusia di biosfer ini [6].
Kelompok pestisida utama yaitu dithiocarbamte, organophosphorus,
pyrethroid dan neonicotinoid. Kelompok terakhir ini menunjukkan toksisitas akut
dan kronis yang rendah terhadap mamalia, burung dan ikan, tetapi telah
ditemukan bahwa pestisida tersebut sebagai kemungkinan penyebab koloni lebah
runtuh [7]. Selain itu, organofosfor memiliki efek berbahaya pada sistem saraf
organisme yang terpajan, dimana mereka menghambat asetil cholinesterase [8].
Kekhawatiran karena risiko dampak pestisida non-target meningkat secara global
seperti yang ditunjukkan oleh standar ketat tingkat residu pestisida yang semakin
meningkat [9].
Banyak peneelitian yang mengaitkan kandungan pestisida sebagai
penyebab gangguan neurologis seperti alzeimer dan demensia. Selain itu juga
sebagai pemicu asma, fetal pada kelahiran, dan kanker. Kanker yang
kemungkinan dapat dipicu oleh zat pada pestisida antara lain yaitu kanker otak,
kanker payudara, leukemia, Lymphoma, kanker prostat, Soft tissue sarcoma dan
jenis kanker lainnya. Selain itu pajanan berlebih dari pestisida juga dapat
menyebabkan gangguan perkembangan dan kemampuan berpikir seseorang [17].
Sebagian besar penelitian neurotoksisitas telah mendokumentasikan peningkatan
prevalensi gejala dan perubahan kinerja neurobehavioral mencerminkan disfungsi
kognitif dan psikomotorik, tetapi banyak ditemukan efek pajanan pestisida pada
fungsi sensorik [18].
Defisit Hyperactivity Disorder adalah perkembangan neurobehavioral
gangguan yang menyebabkan kurangnya perhatian, impulsif, dan hiperaktif. Saat
publikasi, database mencantumkan 8 studi menghubungkan pestisida ke Attention
Defisit Hyperactivity Disorder (ADHD). Dalam satu penelitian menghubungkan
ADHD dengan pajanan pestisida, para ilmuwan dari University of Montreal dan
Harvard Universitas memeriksa data dari National Survei Pemeriksaan Kesehatan
dan Gizi (NHANES), program studi yang dirancang untuk menilai status
kesehatan dan gizi orang dewasa dan anak-anak. Penelitian menunjukkan anak
mengalami peningkatan 10 kali lipat dalam konsentrasi metabolit dialkil fosfat
dalam urin mereka (indikator pajanan organofosfat) kemungkinan ADHD
meningkat lebih banyak dari 50%. Untuk dimetil produk gangguan triofosfat,
kemungkinan ADHD hampir dua kali lipat pada anak-anak dengan tingkat di atas
rata-rata dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki level yang terdeteksi
[17].
Semua pestisida berpotensi berbahaya bagi manusia, hewan, organisme
hidup lainnya, dan lingkungan jika digunakan secara tidak benar. Kunci untuk
mengurangi bahaya kesehatan saat menggunakan pestisida adalah selalu
membatasi paparan Anda dengan mengenakan APD dan menggunakan pestisida
dengan toksisitas rendah jika tersedia [19].
Menurut [13], sebanyak 3207 formulasi pestisida yang terdaftar. Hal ini
menunjukkan banyaknya jenis pestisida yang digunakan untuk pertanian di
Indonesia. Sedangkan menurut [14], tercatat bahwa Jenis pupuk yang disalurkan
melalui Bantuan Langsung Pupuk (BLP) adalah pupuk NPK dan urea. BLP di
tahun 2015 terealisasi sebesar Rp 1.720.698.193.644 yang jika dilakukan
pendekatan terhadap HET per jenis pupuk, maka besarnya BLP dalam satuan
berat adalah 326,068,310.93 kg, dengan NPK sebesar 150.803.767,57 kg dan
ureasebesar 175.264.543,36 kg. Sedangkan untuk wilayah Jawa Timur, dari tahun
2011-2015 terhitung penggunaan pestisida bersubsidi jenis urea sebanyak
5.308.126,56 ton.
Kota Batu merupakan salah satu daerah yang berada di wilayah Malang
raya, hasil pemekaran dari Kabupaten Malang bagian utara. Keunggulan
kompetitif yang dimiliki oleh Kota Batu salah satunya ada pada sektor pertanian.
Menurut portal data Pemerintahan Kota Bau, sektor pertanian di Kota Batu salah
satunya berada di Desa Bumiaji, yang dimana banyak keluarga yang
menggantungkan hidupnya dari sektor pertanian. Dalam perjalanan waktu,
pembangunan sektor pertanian yang ada di Kota Batu dirasa tidak tertangani
dengan baik, dan juga kurang optimal [10]. Sebagian besar petani, lebih memilih
menggunakan pestisida, daripada alternatif lainya [11].
Penggunaan pestisida di sentra produksi sektor pertanian Desa Bumiaji
perlu dievaluasi. Maka dari itu perlu dilakukan analisis kesadaran masyarakat
tentang toksikologi pestsida serta dampaknya terhadap lingkugan dan kesehatan
masyarakat itu sendiri guna mengurangi dampak penggunaan pestisida yang
berlebihan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi antara pengunaan
pestisida dengan gangguan kesehatan akibat intoksikasi pestisida yang terjadi
pada petani di Desa Bumiaji.

Rumusan Masalah :
1. Bagaimana penggunaan pestisida oleh petani di Desa Bumiaji, Kota Batu?
2. Bagaimana gangguan kesehatan akibat intoksikasi pestisida yang terjadi
pada petani di Desa Bumiaji, Kota Batu?
3. Bagaimana korelasi antara pengunaan pestisida dan gangguan kesehatan
akibat intoksikasi pestisida yang terjadi pada petani di Desa Bumiaji,
Kota Batu?
Tujuan :
1. Mengetahui penggunaan pestisida oleh petani di Desa Bumiaji, Kota Batu.
2. Mengetahui gangguan kesehatan akibat intoksikasi pestisida yang terjadi
pada petani di Desa Bumiaji, Kota Batu.
3. Mengetahui korelasi antara pengunaan pestisida dan gangguan kesehatan
akibat intoksikasi pestisida yang terjadi pada petani di Desa Bumiaji, Kota
Batu.
METODE PENELITIAN

Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan yaitu studi cross-sectional kuantitatif
berbasis survey. Penelitian kuantitatif merupakan metode untuk menguji teori
tertentu dengan cara meneliti hubungan antar variabel. Dengan metode kuantitatif
akan diperoleh hasil signifikansi perbedaan kelompok atau signifikansi hubungan
antara variabel yang diteliti. Penelitian ini merupakan penelitian korelasional
dengan tujuan untuk mendeteksi sejauh mana variasi pada suatu faktor lain
berdasarkan pada koefisien korelasi.

Lokasi dan Waktu Penelitian


Penelitian ini dilakukan di Desa
Bumiaji, Kota Batu. Dengan
pertimbangan di Kecamatan ini
merupakan sektor pertanian utuma di
Kota Batu. Penelitian ini dilakukan pada
bulan September s/d Oktober 2019.

Gambar 1. Peta Wilayah Desa Bumiaji,


Kota Batu
Teknik Sampling
Populasi pada penelitian ini adalah masyarakat yang berprofesi sebagai
petani di Desa Bumiaji. Anggota sampel dipilih menggunakan metode purpose
sampling, dengan kriteria inklusi berprofesi sebagai petani. Menurut [12], apabila
penelitian berbasiskan survey, maka digunakan rumus proporsi binomunal. Serta
dikarenakan jumlah populasi tidak diketahui, maka digunakan rumus sebagai
berikut:
n = 4pq
d2
n = 4(0,043)(0,082)
0,052
n = 0,142416
0,0025
= 56,9664 57
Maka jumlah sampel minimum dari penelitian ini adalah sebesar 57
sampel responden.
Variabel Penelitian
Dalam penelitian ini, penggunaan pestisida oleh petani merupakan
variabel bebas. Sedangkan gangguan kesehatan pada petani merupakan variabel
terikat. Variabel kontrol dalam penelitian ini yakni profesi respoden sebagai
petani serta berdomisili di Desa Bumiaji Kota Batu.
Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berdasakan penelitian oleh
[16], [20], dan [21]. Antara lain angket yang berisi pernyataan dengan item
sebanyak 47. Pada variabel pertama yakni Penggunaan pestisida, kuisioner
disajikan dengan pilihan jawaban Ya, Tidak, dan Tidak tahu. Dengan penskoran
Ya=2, Tidak=1, dan tidak tahu=0. Pada variabel kedua Gangguan kesehatan
akibat intoksikasi pestisida, subvariabel gejala gangguan kesehatan akibat
intoksikasi pestisida kuisioner disajikan dengan pilihan jawaban tidak pernah
/sesekali, selalu, dan sering. Dengan penskoran tidak pernah=1, sering=2, dan
selalu=3. Subvariabel Frekuensi menjalani pengobatan akibat intoksikasi pestisida
disajikan dengan pilihan jawaban tidak pernah, sekali, dua kali, dan tiga kali atau
lebih. Dengan penskoran tidak pernah=1, sekali=2, dua kali=3, dan tiga kali atau
lebih=4.
Prosedur Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini digunakan data primer Data primer didapat dari hasil
survei dan observasi langsung dari masyarakat yang berprofesi sebagai petani di
Desa Bumiaji dengan membagikan kuisioner dan wawancara. Sampel sebanyak
57 responden.
Analisis Data yang Digunakan
Data disajikan dalam bentuk tabulasi dan grafik serta diolah dengan
komputer menggunakan program SPSS 2010. Pada tujuan pertama dan kedua,
distribusi frekuensi skor diperoleh dari tabulasi jawaban responden. Menurut [22]
mengklasifikasikan interpretasi skor menjadi lima kriteria (Tabel 1).
Tabel 1. Skor kriteria Interpretasi
No. Nilai Rata-Rata Skor Kriteria
1 1.00-1.80 Sangat rendah
2 1.81-2.60 Rendah
3 2.61-3.40 Sedang
4 3.41-4.20 Tinggi
5 4.21-5.00 Sangat tinggi

Sedangkan pada tujuan ketiga, langkah pertama dilakukan uji normalitas


data, apabila data terbilang normal, maka dilakukan uji Korelasi Pearson. Menurut
[15], untuk melihat hubungan korelasi antara penggunaan pestisida dengan
gangguan kesehatan dilakukan uji berdasarkan besaran hubungan korelasi
pearson. Karna sampel kurang dari 100, maka angka korelasi terkecil yang dapat
dipertimbangkan adalah ±0,30. Besaran hubungan korelasi Pearson disajikan
pada (Tabel 2).
Tabel 2. Besaran Hubungan Korelasi Pearson
No. R (Koefisien Korelasi) Ukuran Tingkat
Hubungan
1 0,0≤ r ≤ 0,2 Sangat rendah
2 0,2≤ r ≤ 0,4 Rendah
3 0,4≤ r ≤ 0,6 Sedang
4 0,6≤ r ≤ 0,8 Kuat
5 0,8≤ r ≤ 1,0 Sangat Kuat
HASIL PENELITIAN

Penggunaan Pestisida
Untuk mengetahui tingkat penggunaan pestisida oleh masyarakat yang
berprofesi utama sebagai petani di Desa Bumiaji Kota Batu, telah dilakukan
penelitian kuantitatif dengan berbasis survey. Dari total dan rerata skor yang
diakumulasikan dari kuisioner didapatkan data sebagai berikut.

Gambar 2. Diagram tingkat penggunaan pestisida


Pada diagram yang ditunjukkan, dapat dianalisis bahwa tingkat
penggunaan pestisida oleh petani Desa Bumiaji beragam mulai dari tingkat
penggunaan pestisida yang sangat rendah sampai tingkat penggunaan yang sangat
tinggi. Dari 57 responden, terdapat 8 responden petani dengan tingkat penggunaan
pestisida yang sangat rendah, 18 responden petani dengan tingkat penggunaan
pestisida rendah, 8 petani dengan tingkat penggunaan pestisida tinggi serta 13
responden petani dengan tingkat penggunaan pestisida yang sangat tinggi. Dari
data tersebut dapat diinpretasikan dalam bentuk persentase pada Gambar 3.
Sebanyak 16% dari responden menggunakan pestisida dengan tingkat
yang sangat rendah. Sedangkan sebanyak 31% atau sebagian besar responden
memiliki tingkat penggunaan pestisida yang rendah. Kemudian 14% dengan
tingkat penggunaan pestisida sedang, 16% dengan tingkat penggunaan pestisida
tinggi, serta 23% dengan tingkat penggunaan pestisida sangat tinggi. Berdasarkan
data tersebut disimpulkan bahwa mayoritas petani menggunakan pestisida dengan
tingkat yang rendah. Namun apabila diambil rerata maka diperoleh hasil 3,0044
yang menunjukan pada rentangan kriteria sedang.
Gambar 3. Persentase penggunaan pestisida
Gangguan Kesehatan Akibat Intoksikasi Pestisida
Untuk mengetahui tingkat gangguan kesehatan akibat intoksikasi
pestisida pada masyarakat yang berprofesi utama sebagai petani di Desa Bumiaji
Kota Batu, telah dilakukan penelitian kuantitatif dengan berbasis survey. Dari
total dan rerata skor yang diakumulasikan dari kuisioner didapatkan data sebagai
berikut.

Gambar 4. Diagram tingkat gangguan kesehatan akibat intoksikasi pestisida


Pada diagram yang ditunjukkan, dapat dianalisis bahwa tingkat gangguan
kesehatan akibat intoksikasi pestisida pada petani Desa Bumiaji beragam mulai
dari tingkat gangguan kesehatan yang sangat rendah sampai tingkat gangguan
kesehatan dalam katagori sedang. Dari 57 responden, terdapat 20 responden
petani dengan tingkat gangguan kesehatan yang sangat rendah, 28 responden
petani dengan tingkat gangguan kesehatan rendah, serta 9 petani dengan tingkat
gangguan kesehatan dalam katagori sedang. Dari data tersebut dapat
diinpretasikan dalam bentuk persentase pada Gambar 5.

Gambar 5. Persentase gangguan kesehatan akibat intoksikasi pestisida


Sebanyak 35% dari responden mengalami gangguan kesehatan dengan
kategori sangat rendah. Sedangkan sebanyak 49% atau sebagiaan besar responden
tingkat gangguan kesehatan dalam katagori rendah, serta 16% dengan tingkat
gangguan kesehatan dalam kategori sedang. Dari hasil tabulasi data tersebut tidak
terdapat masyarakat petani yang mengalami gangguan kesehatan dalam kategori
tinggi sampai sangat tinggi yang ditunjukkan dengan persentase 0%. Berdasarkan
data tersebut disimpulkan bahwa mayoritas petani tidak mengalami gangguan
kesehatan akibat intoksikasi pestisida atau dengan tingkat gangguan kesehatan
yang rendah. Hal ini sesuai dengan hasil rerata data yang didapatkan yakni sebesar
2,140350877 yang menunjukan pada rentangan kriteria rendah.
Korelasi Antara Pengunaan Pestisida Dan Gangguan Kesehatan Akibat
Intoksikasi Pestisida
Untuk menguji korelasi data, maka dilakukan uji normalitas Kolmogorov-
Smirnov terlebih dahulu untuk mengetahui distribusi dari data hasil pengamatan.
Pada tabel 1, ditunjukkan bahwa hasil signifikasi dari uji normalitas Kolmogorov-
Smirnov sebesar 0,066. 0,066 > 0,05 yang artinya data berdistribusi normal, 0,05
merupakan acuan dalam nilai statistik. Jika nilai signifikansi >0,05 data
berdistribusi nirmal, sedangkan jika nilai signifikansi <0,05 data berdistribusi
tidak normal.
Dalam hasil uji normalitas data, data penelitian ini berdistribusi normal
sehingga dapat dilakukan uji statistik parametrik menggunakan uji korelasi
Pearson. Pada hasil uji korelasi Pearson, dengan tingkat kepercayaan sebesar 99%
(0,01) nilai R pada tabel 2 sebesar 0,865 yang menunjukkan bahwa hubungan
korelasi pearson sangat kuat, karena nilai r berada diantara 0,8 sampai dengan 1,0
(0,8≤ r ≤ 1,0). Sedangkan arah hubungan penggunaan pestisida dengan gangguan
kesehatan adalah positif, hal ini dianalisis dari nilai positif pada koefidien korelasi
(R). Sehingga kesimpulan yang dapat diambil adalah seiring meningkatnya
penggunaan pestisida, maka gangguan kesehatan akibat intoksikasi pestisida juga
semakin tinggi.
Tabel 1. Uji Normalitas Data

Tabel 2. Uji Korelasi Pearson


PEMBAHASAN
Penggunaan Pestisida
Dari hasil penelitian ini, didapatkan rerata masyarakat yang berprofesi
sebagai petani dalam penggunaan pestisida dapat dikategorikan dalam
penggunaan sedang, wajar atau secukupnya. Menurut [23], tingkat penggunaan
pestisida yang mengalami penurunan akibat pestisida tersebut tidak memilki efek
yang signifikan terhadap hasil pertanian, selain itu penggunaan pestisida yang
tinggi juga mengakibatkan berbagai masalah kesehatan. Namun dilihat dari hasil
peelitian terdapat perbedaan antar petani yang mengikuti kegiatan kelmpk tani dan
petani yang tidak mengikuti kelompok tani. Petani yang mengikuti kegiatan
kelompok tani tingkat penggunaan pestisidanya tergolong rendah. Sedangkan
yang tidak mengikuti kegiatan kelompok tani penggunaan pestisida tergolong
tinggi. Semakin banyak pestisida digunakan semakin baik karena produksi
pertanian menjadi semakin tinggi. Inilah pandangan umum yang masih berlaku di
dunia sampai saat ini termasuk juga Indonesia [6]. Di era modern sekarang ini,
penggunaan pestisida di Indonesia masih tergolong masif. Pada pertengahan tahun
ini, salah satu daerah di Indonesia bernama Brebes dinobatkan sebagai kota
dengan penggunaan pestisida terbesar di Asia Tenggara, gelar itu adalah sesuatu
yang tidak boleh kita banggakan. Ini terjadi karena para petani di daerah tersebut
menginginkan peningkatan hasil pertanian terlepas dari dampak negatif yang
ditimbulkannya. Mereka rata-rata menggunakan jenis Chlorpyrifos pestisida
(kelompok insektisida organosfat) dan Mancozeb (kelompok fungisida karbamat).
Kedua zat ini diketahui dapat menyebabkan pertumbuhan kelenjar tiroid
meningkat [32].
Namun petani skala kecil masih sering bertani tanpa sarana atau
pengetahuan yang tepat dalam menggunakan pestisida dengan tepat [24,25,26].
Dosis pestisida yang digunakan salah, penentuan waktu dan penargetan yang
kurang tepat, pemeliharaan peralatan yang buruk, kotak langsung dengan tangan,
kurang peduli dengan penggunaan APD (misalnya masker, sepatu bot, sarung
tangan, baju lengan panjang, dan topi) dan kurang higienis. Tindakan pencegahan
selama dan ketika penyemprotan (misalnya cuci badan setelah penyemmprotan,
ganti pakaian setelah penyemprotan) dapat menyebabkan keracunan pestisida akut
(APP) [27].
Gangguan Kesehatan Akibat Intoksikasi Pestisida
Gangguan kesehatan yang terjadi pada petani tergolong rendah. Walaupun
frekuensi mengalami gejala gangguan akibat intoksikasi pestisida cukup sering,
namun frekuensi mengalani pengobatan akibat intoksikasi pestisida cukup rendah.
Petani mengalami gejala seperti pusing, mual, iritasi kulit, iritasi mata dan
mengalami rasa tidak nyaman pada bagian dada, namun hal ini sering dianggap
hal yang wajar dan sangat sedikit petani yang melakukan pemeriksaan ke dokter.
Mayoritas tenaga kerja Indonesia di daerah pedesaan bekerja di sektor
pertanian yang berisiko untuk masalah kesehatan yang berkaitan dengan interaksi
petani dan lingkungan [33]. Bahan aktif dalam banyak pestisida pertanian telah
dikaitkan dengan kanker pada manusia dan hewan lainnya. Seluruh proses
penautan untuk bahan kimia pertanian sangat kompleks. Gangguan sistem
imunitas dan endokrin dapat terjadi dalam berbagai bentuk dan bentuk dicirikan
oleh begitu banyak gejala yang berbeda sehingga membingungkan bahkan untuk
berpikir tentang bagaimana keterkaitan gangguan dengan berbagai kemungkinan
penyebab dapat diurai. Namun, ada semakin banyak bukti empiris yang
menunjukkan bahwa petani kurang sehat daripada anggota serupa dari populasi
umum, terlepas dari sumber penyakit mereka [28]. Dalam penlitian [34], beberapa
penyakit/gangguan yang berhubungan dengan pekerjaan petani yang ditemukan
dalam penelitian adalah : Dermatitis (dermatosis akibat kerja), gangguan yang
berhubungan dengan masalah ergonomik seperti backpain, myalgia, penyakit
pernafasan dengan kelainan ventilasi obstruktif dan restriktif dan keracunan
pestisida.
Korelasi Antara Pengunaan Pestisida dan Gangguan Kesehatan Akibat
Intoksikasi Pestisida yang Terjadi Pada Petani di Desa Bumiaji, Kota Batu.
Dari hasil penelitian, seiring meningkatnya penggunaan pestisida, maka
gangguan kesehatan akibat intoksikasi pestisida juga semakin tinggi. [29]
menemukan bahwa petani memiliki pelaporan peningkatan gejala risiko
keracunan pestisida. Temuan ini tidak diharapkan tetapi bisa saja disebabkan oleh
fakta bahwa anggota kelompok tani kurang sadar akan risiko potensial pestisida
dan karenanya dilaporkan lebih banyak gejala yang terjadi.
Penanganan pestisida yang salah di pertanian telah menyebabkan masalah
kesehatan yang serius di banyak negara berkembang. Dalam studi [30], dilaporkan
kondisi penggunaan pestisida di kalangan petani Indonesia dan hubungannya
dengan gejala keracunan pestisidaPestisida yang paling sering digunakan
termasuk dithiocarbamate, pyrethroids dan organophosphate. Dalam sekitar 80%
penyemprotan, pestisida kategori II (World Health Organization (WHO))
digunakan; "cukup berbahaya") digunakan. Banyak petani berada pada
lingkungan kerja yang sangat tidak aman, langkah-langkah perlindungan dan
penanganan yang aman jarang diamati, sedangkan merokok dan minum selama
penyemprotan sering dilakukan.
Analisis korelasi mengungkapkan bahwa petani yang mengenakan kemeja
lengan panjang dan tutup kepala menunjukkan gejala kesehatan yang lebih jarang.
Selain itu, petani yang memiliki kontak kulit dengan larutan semprot selama
pengukuran atau pencampuran (tidak termasuk tangan), yang mengenakan
pakaian basah (paparan kulit dengan pestisida), dan yang merokok dan
menggosok mata mereka selama penyemprotan menunjukkan lebih banyak gejala.
Di antara faktor-faktor ini, penggunaan tutup kepala, mengenakan pakaian basah
(paparan kulit dengan pestisida), dan merokok selama penyemprotan adalah faktor
penentu yang signifikan untuk mengembangkan gejala kesehatan. Mencegah
perilaku seperti itu akan menjadi metode yang efektif untuk mengurangi masalah
kesehatan di kalangan petani [31].

KESIMPULAN

1. Penggunaan pestisida oleh petani dalam kategori sedang. Namun pada petani
yang mengikuti kegiatan kelompok tani penggunaan pstisida tergolong
rendah, dan pada petani yang tidak mengikuti kelompok kegiatan tani
menunjukkan tingkat penggunaan pestisida yang tinggi.
2. Gangguan kesehatan akibat intoksikasi pestisida pada masyarakat petani di
Desa Bumiaji Kota Batu tergolong rendah.
3. Terdapat korelasi yang sangat kuat antara pengunaan pestisida dan gangguan
kesehatan akibat intoksikasi pestisida yang terjadi pada petani di Desa
Bumiaji, Kota Batu. seiring meningkatnya penggunaan pestisida, maka
gangguan kesehatan akibat intoksikasi pestisida juga semakin tinggi.
DAFTAR RUJUKAN
[1] Sriyanto. 2007. Kondisi Lingkungan Hidup Di Jawa Tengan dan Prospek
Pembangunan ke Depan. Jurnal Geografi, 4(2): 107-103.
[2] Puspita, I., Ibrahim, L., & Hartono, D. 2016. Pengaruh Perilaku Masyarakat
yang Bermukim di Kawasan Bantaran Sungai Terhadap Penurunan Kualitas
Air Sungai Karang Anyar Kota Tarakan. Jurnal Manusia dan Lingkungan,
23(2): 249-258.
[3] Yuantari, M.G.C., Widianarko, B., & Sunoko, H.R. 2015. Analisis Risiko
Pajanan Pestisida Terhadap Kesehatan Petani. Jurnal Kesehatan
Masyarakat, 10(2): 239-245.
[4] Pohan, N. 2014. Pestisida dan Pencemarannya. (online) (e-USU
Repository), diakses pada 20 Agustus 2019.
[5] Mahmood, I., Shazadi, K., Imadi, S.R., & Gul, A. 2015. Effects of
Pesticides on Environment. Journal of Plant, Soil, and Microbes, 3(2): 254-
266.
[6] Arif, A. 2015. Pengaruh Bahan Kimia terhadap Penggunaan Pestisida
Lingkungan. JF FIK UINAM, 3(4): 134-143.
[7] Aktar, W., Sengupta, D., & Chowdhury, A. 2009. Impact of Pesticides Use
in Agriculture: Their Benefits and Hazards. Journal of Toxicology, 2(1) 1-
12.
[8] Silva, V., Mol, H.G.J., Zomer, P., Tienstra, M., Ritsema, C.J., & Geissen, V.
Pesticide Residues in European Agricultural Soils – A Hidden Reality
Unfolded. Journal of Science of the Total Environment, 653: 1532–1545.
[9] Macharia, I., Mithöfer, D., & Waibel, H. 2009. Potential Environmental
Impacts of Pesticides Use in The Vegetable Sub-Sector in Kenya. Afr. J.
Hort. Sci, 2(1): 138-151.
[10] Hilman, Y.A. 2017. Strategi pembangunan pariwisata internasional berbasis
pertanian organik “shining batu”. Jurnal Sosial Politik Humaniora, 5(1): 82
100.
[11] Sparks, T.C., Watson, G.B., Loso, M.R., Geng, C., Babcock, J.M., &
Thomas, J.D. 2013. Sulfoxaflor and The Sulfoximine Insecticides:
Chemistry, Mode of Action and Basis For Efficacy on Resistant Insects.
Journal of Pesticide Biochemistry and Physiology, 107: 1-7.
[12] Cha, N. 2012. Menghitung Besar Sampel Penelitian. (online) (https://www.
statistikian.com/2012/08/menghitung -besar-sampel -penelitian. html /
amp), diakses pada 30 Agustus 2019.
[13] Ditjen Pertaniaan dan Kehutanan tahun 2016.
[14] Setjen Pertanian tahun 2017
[15] Sulisetijono. 2016. Statistika. Malang: Jurusan Biologi, Universitas Negeri
Malang
[16] Niewenhuijsen, M.J. 2005. Design Of Exposure Questionnaires For
Epidemiological Studies. Journal of Education, 62: 272–280. doi:
10.1136/oem.2004.015206
[17] Owens, K., Feldman, J., & Kepner, J. 2010. Wide Range of Diseases Linked
to Pesticides. Database supports policy shift from risk to alternatives
assessment, 30(2): 13-21.
[18] Kamel, F., & Hoppin, J.A. 2004. Association of Pesticide Exposure with
Neurologic Dysfunction and Disease. Environ Health Perspect, 112(9):
950–958. doi: 10.1289/ehp.7135.
[19] Lorenz, E.S. Potential Health Effects of Pesticides. Pennsylvania: College of
Agricultural Sciences The Pennsylvania State University 323 Agricultural
Administration.
[20] The PIPAH Study The Prospective Investigation of Pesticide Applicators’
Health Study. 2016. Pesticide Use Questionnaire. (online)
(PIPAH@hsl.gsi.gov.uk), diakses pada 23 September 2019.
[21] Survey Research Center. 2002. Farming and Pesticide Exposure Survey.
Rochester, Minnesota: Mayo Foundation for Medical Education and
Research (MFMER). (www.mayoclinic.org)
[22] Riduwan & Kuncoro. 2007. Manual and interpretation of Path Analysis.
Bandung: Alfabeta.
[23] Suswati, E., Agustin, N.K., & Mariyono. Adverse Health Impacts Of
Pesticide Use On Indonesian Rice Production: An Economic Analysis.
[24] Food and Agriculture Organization. 2002. International Code of Conduct on
the Distribution and Use of Pesticides. Rome.
[25] Jors E., Morant, R.C., Aguilar, G.C., Huici, O., Lander, F., Baelum J., &
Konradsen F. 2006. Occupational pesticide intoxications among farmers in
Bolivia: a cross-sectional study. Environ Health, 5:10.
[26]. Williamson, S., Ball, A., & Pretty J. 2008. Trends in pesticide use and
drivers for safer pest management in four African countries . Crop
Protection, 27:1327
[27] Clarke EE, Levy LS, Spurgeon A, & Calvert IA. 1997. The problems
associated with pesticide use by irrigation workers in Ghana. Occup Med
(Lond), 47:301-308.
[28] Konradsen F, van der HW, Cole DC, Hutchinson G, Daisley H, Singh S,
Eddleston M. 2003. Reducing acute poisoning in developing countries -
options for restricting the availability of pesticides. Toxicology, 192:249-
261.
[29] Ngowi AV, Mbise TJ, Ijani AS, London L, & Ajayi OC. 2007. Pesticides
use by smallholder farmers in vegetable production in Northern Tanzania.
Crop Prot , 26:1617- 1624.
[30] Sekiyama M, Tanaka M, Gunawan B, Abdoellah O, & Watanabe C. 2007.
Pesticide usage and its association with health symptoms among farmers in
rural villages in West Java, Indonesia. Environ Sci. 14 Suppl:23-33.
[31] Naidoo S, London L, Rother HA, Burdorf A, Naidoo RN, & Kromhout H.
2010. Pesticide safety training and practices in women working in small-
scale agriculture in South Africa. Occup Environ Med, 67:823-828.
[32] Wijaya, R.A. 2017. Pesticide Use in Indonesia. Environmental Networking
Platform for Children and Youth by Samsung Engineering and UNEP.
[33] Susanto, T., Purwandari, R., & Wuryaningsih, E.W. 2016. Model
Kesehatan Keselamatan Kerja Berbasis Agricultural Nursing: Studi Analisis
Masalah Kesehatan Petani. Jurnal Ners,11(1): April 45-50

Tabel Jabaran Variabel

N Varibel Sub variabel Indikator Skala variabel Cara


o pengump
ulan data
1 Penggunaan 1. penggunaan dan 1. Mengetahui apa itu Skala interval Pengumpu
. pestisida penyemprotan pestisida, penggunan dengan pilihan lan data
pestisida pestisida dalam 1 jawaban: dengan
musim panen, tempat 1. Ya membagik
penyimpanan pestisida 2. Tidak an
yang baik. 3. Tidak tahu kuisoner

2. kerasionalan 2. Melakukan
penggunaan penyemprotan pestisida
pestisida sesuai kebutuhan pada
takaran yang tepat.
3. kepedulian 3. Menggunakan pestisida
petani terhadap secara terjadwal.
dampak
pestisida
4. pestisida yang 4. Mengenal pestisida
ramah hayati yang lebih ramah
Lingkungan lingkungan

2 Gangguan 1. Gejala gangguan 1. Petani mengalami Skala interval Pengumpu


. kesehatan kesehatan akibat ganguan kesehatan saat dengan pilihan lan data
akibat intoksikasi pengaplikasian gejala jawaban: dengan
intoksikasi pestisida pusing, mual/muntah, 1. tidak pernah membagik
pestisida iritasi kulit, iritasi mata, /sesekali an
merasa tidak nyaman 2. Selalu kuisoner.
pada bagian dada 3. Sering
merasa tidak nyaman
dan tertekan.

2. Frekuensi 2. Jumlah pengobatan 1. Tidak pernah


menjalani (konsultasi dokter dan 2. Sekali
pengobatan akibat rawat inap) yang 3.dua kali
intoksikasi dijalani petani akibat 4. Tiga kali atau
pestisida intoksikasi pestisida lebih

KUISONER PENELITIAN
Sumber:
[16] Niewenhuijsen, M.J. 2005. Design Of Exposure Questionnaires For
Epidemiological Studies. Journal of Education, 62: 272–280. doi:
10.1136/oem.2004.015206
[20] The PIPAH Study The Prospective Investigation of Pesticide Applicators’
Health Study. 2016. Pesticide Use Questionnaire. (online)
(PIPAH@hsl.gsi.gov.uk), diakses pada 23 September 2019.
[21] Survey Research Center. 2002. Farming and Pesticide Exposure Survey.
Rochester, Minnesota: Mayo Foundation for Medical Education and
Research (MFMER). (www.mayoclinic.org)
Identitas responden
1. Nama : …………………………………. (Laki-laki/Perempuan)
2. Umur :
a) < 20 tahun d) 41-50 tahun
b) 21-30 tahun e) 50-60 tahun
c) 31-40 tahun e) >60 tahun
3. Pendidikan tertinggi :
a) Tidak sekolah d) SMU
b) SD e) Perguruan Tinggi
c) SMP
4. Pekerjaan utama :
a) Petani d) Pegawai Negeri
b) Pedagang e) Pegawai Swasta
c) Buruh bangunan f) Lainnya...................................
5. Mengikuti kegiatan kelompok tani:
a) Ya b) Tidak
1. PENGGUNAAN PESTISIDA
Penggunaan Dan Penyemprotan Pestisida
6. Apakah tahu pengertian pestisida?
a) Ya b) Tidak
7. Apakah membaca label pestisida sebelum aplikasi?
a) Ya b) Tidak
8. Jika tidak, apa alasannya? .............................................................................
9. Berapa kali aplikasi pestisida dalam satu musim tanam? .............................
10. Adakah keyakinan bahwa pestisida dapat mengatasi masalah akibat serangan
hama:
a) Ya b) Tidak
11. Apakah mengetahui perbedaan insektisida, fungisida, dan herbisida?
a) Ya b) Tidak
12. Pada saat menyemprot, apakah harus searah arah angin?
a) Ya b) Tidak c) Tidak tahu
13. Bagaimana kelengkapan pakaian ketika menyemprot?
a) Ada b) Tidak
14. Apakah setelah aplikasi, alat aplikasi dicuci?
a) Ya b) Tidak
15. Jika ya, dimana? ....................................
16. Pada saat menjelang panen, apakah penyemprotan pestisida masih dilakukan?
a) Ya b) Tidak c) Tidak tahu
17. Jika setelah menyemprot terdapat sisa pestisida, dimana menyimpan sisa
pestisida tersebut?
a. .................................................. c. ................................................
b. .................................................. d. ................................................
18. Apa dasar aplikasi pestisida pertama kali? ..................................................
Kerasionalan Penggunaan Pestisida
19. Apakah penyemprotan perlu lebih sering dilakukan untuk meningkatkan hasil?
a) Ya b) Tidak c) Tidak tahu
20. Apakah dengan penyemprotan yang terjadwal, hasil panen dapat
diselamatkan?
a) Ya b) Tidak c) Tidak tahu
21. Apakah penyemprotan perlu dilakukan seawal mungkin saat gejala serangan
hama atau penyakit mulai terlihat?
a) Ya b) Tidak c) Tidak tahu
22. Apabila Anda melakukan penyemprotan pada pagi hari, setelah penyemprotan
tersebut turun hujan, apakah pada sore atau keesokan harinya pertanaman
perlu disemprot ulang?
a) Ya b) Tidak c) Tidak tahu
23. Apabila harga pestisida murah, perlukah lebih sering menyemprot?
a) Ya b) Tidak c) Tidak tahu
Kepedulian Petani Terhadap Dampak Pestisida
24. Apakah tanaman yang sering disemprot dengan pestisida dapat mengandung
racun?
a) Ya b) Tidak c) Tidak tahu
25. Apakah penyemprotan dengan pestisida dapat menyebabkan organisme bukan
sasaran yang ada di pertanaman menjadi punah?
a) Ya b) Tidak c) Tidak tahu
26. Apakah pestisida yang sudah kadaluwarsa tanggal pemakaiannya masih boleh
digunakan?
a) Ya b) Tidak c) Tidak tahu
27. Apakah pestisida ilegal (yang belum mendapat izin dari pemerintah) boleh
digunakan?
a) Ya b) Tidak c) Tidak tahu
28. Apakah penyemprotan dengan pestisida yang terlampau sering dapat
menyebabkan patogen penyebab penyakit atau serangga hama menjadi
resisten (tahan disemprot pestisida)?
a) Ya b) Tidak c) Tidak tahu
Pestisida Yang Ramah Lingkungan
29. Apakah Anda mengenal pestisida hayati?
a. Ya b. Tidak
30. Pernahkah Anda mencoba memakai tanaman tertentu untuk mengendalikan
hama atau penyakit? a. Ya b. Tidak
Jika Ya... (lanjut ke nomor berikutnya)
31. Tanaman apa saja yang Anda manfaatkan?
a. .......................................... c. .......................................
b. .......................................... d. .......................................
32. Dari mana Anda memperoleh informasi bahwa tanaman tersebut dapat dipakai
untuk mengendaliakn serangan hama tanaman?
a. Pengalaman sendiri d. Kios saprotan
b. Petugas pertanian e. Perusahaan pestisida
c. Petani lain f. Lainnya......................................
33. Apa alasan Anda memakai pestisida hayati?
a. Lebih murah c. Mudah didapat
b. Efek ke tanaman lebih baik d. Lainnya..........................
34. Bagaimana cara Anda mengaplikasikannya ke tanaman?
a. ...................................... c. ...............................
b. ...................................... d. ...............................
35. Jika dibandingkan dengan pestisida sintetik, apakah pemakaian pestisida
hayati tersebut memeberikan hasil yang lebih baik?
a. Ya b. Tidak
36. Jika dibandingkan dengan pestisida sintetik, apakah pemakaian lebih pestisida
hayati menguntungkan?
a. Ya b. Tidak
37. Jika ya, keuntungan apa saja yang diperoleh?
a. .................................... c. .................................
b. .................................... d. .................................
38. Apakah dalam mendapatkan pestisida hayati, Anda mengalami kesulitan?
a. Ya b. Tidak
39. Jika ya, kesulitan apa saja yang dihadapi?
a. ..................................... c. ................................
b. ..................................... d. ................................
2. GANGGUAN KESEHATAN AKIBAT INTOKSIKASI PESTISIDA

Frekuensi mengalami Gejala gangguan kesehatan akibat intoksikasi


pestisida
40. Apakah Anda pernah mengalami pusing ketika menyemprot atau setelah
menyemprot pestisida?
a. tidak pernah/sesekali b. Selalu c. Sering
41. Apakah Anda pernah mengalami mual atau muntah ketika menyemprot atau
setelah menyemprot pestisida?
a. tidak pernah/sesekali b. Selalu c. Sering
42. Apakah Anda pernah mengalami iritasi kulit ketika menyemprot atau setelah
menyemprot pestisida?
a. tidak pernah/sesekali b. Selalu c. Sering
43. Apakah Anda pernah mengalami iritasi mata ketika menyemprot atau setelah
menyemprot pestisida?
a. tidak pernah/sesekali b. Selalu c. Sering
44. Apakah Anda pernah merasa tidak nyaman pada bagian dada ketika
menyemprot atau setelah menyemprot pestisida?
a. tidak pernah/sesekali b. Selalu c. Sering
45. Apakah Anda pernah merasa tidak nyaman dan tertekan ketika menyemprot
atau setelah menyemprot pestida?
a. tidak pernah/sesekali b. Selalu c. Sering

Frekuensi menjalani pengobatan akibat intoksikasi pestisida


46. Berapa kali anda menemui dokter akibat intoksikasi pestisida
a. Tidak pernah b. Sekali c.dua kali d. Tiga kali atau lebih
47. Berapa kali anda menjalani rawat inap akibat intoksikasi pestisida
b. Tidak pernah b. Sekali c.dua kali d. Tiga kali atau lebih
LAMPIRAN