Anda di halaman 1dari 2

Pengarangnya adalah Sapardi Joko Damono, Pria kelahiran Solo Jawa Tengah 20 Maret 1940,

mengaku tak pernah berencana menjadi penyair, karena ia berkenalan dengan puisi secara tidak
langsung. Sejak masih belia ia sering membenamkan dirinya dalam tulisan-tulisan, bahkan ia
pernah menulis delapan belas sajak dalam satu malam.

Sebuah karya besar yang perbah ia buat adalah kumpulan sajak yang berjudu Perahu Kertas,
karyanya ini memperoleh pemnghargaan dari Dewan Kesenian Jakarta dan kumnpulan sajak Sihir
Hujan – yang ditulis waktu dia sakit – memperoleh Puisi Poetra Malaysia. Selain itu, ia juga pernah
memperoleh memperoleh SEA Write pada tahu 1986 di Bangkok, Thailand.

TUAN

Tuan Tuhan, bukan? Tunggu sebentar,


saya sedang ke luar.

Sapardi Djoko Damono


Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak, 1982.

Sajak di atas sangat sederhana, hanya terdiri dari dua larik saja. Sajak ini tampak bagaikan
percakapan singkat antara dua orang. Si saya seperti sedang bertemu dengan seorang Tuan, Tuan itu
ternyata Tuhan. Untuk megaskan bahwa Tuan itu adalah Tuhan maka si saya mengeluarkan sebuah
pertanyaan retoris, “Tuan Tuhan, bukan?” Setelah itu Si Saya meyakini bahwa Tuan itu benar Tuhan.
Kemudian dia melanjutkan perkataannya dengan permintaan “tunggu sebentar saya sedang keluar”.

Puisi “Tuan” Karya Sapardi Djoko Damono itu, dimulai dengan kalimat tanya. Maksud puisi itu
menggunakan kalimat tanya adalah untuk menyimbolkan keadaan si saya yang kadang seperti orang
yang tidak mengenal Tuhan, ragu-ragu, dan lupa kepada Tuhan. Orang yang tidak mengenal sesuatu,
ragu, dan lupa akan sesutu itu perlu bertanya untuk meyakinkan, mengingatkan dan sebagainya. Maka
dalam puisi itu menggunakan kalimat tanya untuk meyakinkan, menegaskan bahwa si saya adalah orang
yang bertuhan.

Setelah si saya yakin kepada Tuhan, dia mengatakan “tunggu sebentar, saya sedang keluar”. Arti
ungkapan ini adalah si saya (adalah makhluk yang bertuhan) sedang keluar dari tempatnya. Tentu yang
dimaksud adalah tempat yang sebenarnya, tempat yang hakiki, tempat yang abadi. Maka jelas tempat
yang sebenarnya bagi si saya itu bukan tempat yang sekarang dia berada diatasnya, tempat yang
sekarang adalah tempatnya menanti jemputan untuk pergi ketempat tempat yang sebenarnya, dan
ditempat itu si saya hanya sebentar. Ungkapan “tunggu” pada “ tunggu sebentar” artinya si saya akan
menemui sesuatu atau sebaliknya sesuatu itu yang akan menemui dia. Ini menyiratkan bahwa si saya
pasti akan bertemu dengan sesuatu itu. Apakah sesuatu itu? Sesuatu dalam konteks ini adalah yang di
sapa Tuan oleh si Saya (Tuan tadi adalah Tuhan) namun, apakan Tuan itu yang akan langsung bertemu
dengan si saya? Pasti tidak, sebab si Tuan punya pesuruh-pesuruh, dan pesuruh itulah yang akan ditemui
atau menemui si saya. Ungkapan tunggu sebentar dilanjutkan dengan ungkapan “saya sedang keluar”. Si
saya sedang keluar, keluarnya tidak lama, hanya sebentar. Berarti setelah keluarnya yang sebentar itu si
saya mesti masuk ketempat aslinya. Manakah tempat asli bagi si saya? Jelas tempat yang aslinya yaitu
tempat yang akan dimasuki oleh si saya setelah dia keluar tadi, yaitu akhirat dan tempat dia kelaur itu
adalah dunia.

Puisi “Tuan” yang di tulis oleh Sapardi itu termasuk kedalam puisi yang bagus, menurut saya puisi yang
kreatif, mengapa tidak? Coba kita lihat bentuknya, hanya dua baris, namun isinya tidaklah sekecil
bentuknya. Bentuknya sedikit namun dapat, dapat dalam mempermainkan bunyi-bunyi yang khas, liat
saja Tuan Tuhan, bukan? Ada kombinasi /an/, tunggu sebantar, saya sedang keluar, sebentar-keluar ada
rima yang menrik keelokan puisinya.