Anda di halaman 1dari 35

LAPORAN

HASIL PRAKTIK MESIN PERKAKAS II

DISUSUN OLEH:
Muhamad Agisna Alfarisy
1813007

Prodi:
Teknik mesin D-3

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI MANDALA


BANDUNG
Jl.Soekarno-Hatta No 597 Bandung
www.sttmandalabdg.ac.id

i
DAFTAR ISI
BAB 1................................................................................................................................2
PENDAHULUAN.............................................................................................................2
1.1 Latar Belakang.........................................................................................................2
1.2 Rumusan Masalah...................................................................................................4
1.3 Tujuan......................................................................................................................4
BAB II.................................................................................................................................6
KAMAN PUSTAKA..............................................................................................................6
2.1. Alat Ukur dan Alat Penanda.....................................................................................6
2.2. Perkakas Tangan....................................................................................................11
2.3. Perabot Kerja Bangku...........................................................................................30
2.4. Alat Pelindung Diri................................................................................................30
BAB III...........................................................................................................................32
METODE PRAKTIKUM..............................................................................................32
3.1. tempat dan waktu..................................................................................................32
3.2 alat dan bahan.........................................................................................................32
3.3 langkah kerja........................................................................................................32
BAB IV............................................................................................................................34
KESELAMATAN DAN KEAMANAN.........................................................................34
4.1. KESELAMATAN KERJA................................................................................34
BAB V.............................................................................................................................35
PENUTUP.......................................................................................................................35
5.1. KESIMPULAN DAN SARAN.............................................................................35

ii
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Praktikum kerja bangku merupakan pekerjaan dasar yang harus dikuasai dalam
mengerjakan benda kerja secara manual bagi seseorang yang berkecimpung dalam
bidang teknik mesin. Pekerjaan kerja bangku melakukan penekanan pada
pembuatan benda kerja dengan alat tangan, dan dilakukan di bangku kerja.

Praktik kerja bangku melatih mahasiswa agar mampu menggunakan alat kerja
yang baik dan benar, serta mampu menghasilkan benda kerja yang memiliki
standar tertentu sesuai dengan lembar kerja yang ditentukan. Hal ini dapat tercapai
jika mahasiswa melakukan pekerjaan dengan baik sesuai dengan peraturan dan
tata cara pengerjaan praktik kerja bangku. Kunci kesuksesan dari kerja bangku ini
adalah kesabaran dan ketelitian dalam bekerja, karena setiap pekerjaan yang
dilakukan pasti akan menyita waktu yang lama bila dibandingkan dengan alat
yang menggunakan mesin pada waktu sekarang.

Untuk itu pada laporan praktikum ini akan dibahas mengenai alat dan perkakas
serta cara pengerjaan benda kerja pada jobsheet matakuliah praktikum kerja
bangku.

Bandung,9 juli 2019

1
1.2 Rumusan Masalah
A. Apa saja alat dan mesin mesin perkakas yang digunakan dalam
pengerjaan pembuatan roda gigi yang meliputi membubut, proses
frais, mengebor, dan menggunakan mesin skrap pada praktikum
mesin perkakas?

B. Apa saja perkakas tangan yang digunakan dalam pengerjaan yang


meliputi pembuatan roda gigi yang meliputi membubut, proses frais,
mengebor, dan menggunakan mesin skrap pada praktikum mesin
perkakas?

C. Apa saja mesin mesin perkakas yang dipergunakan dalam pengerjaan


pembuatan roda gigi yang meliputi membubut, proses frais,
mengebor, dan menggunakan mesin skrap pada praktikum mesin
perkakas?

D. Apa saja peralatan yang digunakan dalam pengerjaan pembuatan


roda gigi yang meliputi membubut, proses frais, mengebor, dan
menggunakan mesin skrap pada praktikum mesin perkakas?

E. Apa saja alat pelindung diri yang digunakan dalam pengerjaan


pembuatan roda gigi yang meliputi membubut, proses frais,
mengebor, dan menggunakan mesin skrap pada praktikum mesin
perkakas?

F. Bagaimana proses pengerjaan pembuatan roda gigi yang meliputi


membubut, proses frais, mengebor, dan menggunakan mesin skrap
pada praktikum mesin perkakas?

G. Untuk memahami alat pengukur dan alat penanda yang digunakan


dalam pengerjaan plat yang meliputi mengikir, mengebor, mengetap,
menyetempel, menyenei, dan menggergaji pada praktikum kerja
bangku.

2
1.3 Tujuan

A. Untuk memahami dan melatih Mahasiswa/I alat pengukur dan alat


penanda yang digunakan dalam pengerjaan Untuk memahami alat
pengukur dan alat penanda yang digunakan dalam pengerjaan plat
yang meliputi mengikir, mengebor, mengetap, menyetempel,
menyenei, dan menggergaji pada praktikum kerja bangku.

B. Untuk memahami perkakas tangan yang digunakan dalam


pengerjaan plat yang meliputi mengikir, mengebor, mengetap,
menyetempel, menyenei, dan menggergaji pada praktikum kerja
bangku.

C. Untuk memahami mesin yang digunakan dalam pengerjaan plat yang


meliputi mengikir, mengebor, mengetap, menyetempel, menyenei,
dan menggergaji pada praktikum kerja bangku.

D. Untuk memahami peralatan yang digunakan dalam pengerjaan plat


yang meliputi mengikir, mengebor, mengetap, menyetempel,
menyenei, dan menggergaji pada praktikum kerja bangku.

E. Untuk memahami alat pelindung diri yang digunakan dalam


pengerjaan plat yang meliputi mengikir, mengebor, mengetap,
menyetempel, menyenei, dan menggergaji pada praktikum kerja
bangku.

F. Untuk mengetahui proses pengerjaan plat yang meliputi mengikir,


mengebor, mengetap, menyetempel, menyenei, dan menggergaji
pada praktikum kerja bangku.

3
BAB II
KAMAN PUSTAKA
2.1. Alat Ukur dan Alat Penanda
Pada bengkel kerja bangku peralatan ukur yang digunakan harus benarbenar presisi,
maka peralatan ukur, cara memegang alat ukur, cara melakukan pengukuran, dan
kesalahan-kesalahan yang biasa terjadi dalam pengukuran harus benar-benar diketahui
şecara baik.

A. Mistar baja

Mistar baja adalah alat ukur dasar pada bengkel kerja bangku. Alat ukur ini dapat
dikatakan alat ukur yang kurang presisi, karena ia hanya melakukan pengukuran paling
kecil sebesar 0,5 mm. Jenis mistar baja yang dipakai pada bengkel kerja bangku
mempunyai ukuran yang berbeda-beda, tetapi pada umumnya panjang mistar baja adalah
150 mm şampai 300 mm, dengan skala ukur terdiri dari satuan setengah milimeter dan
satuan satu milimeter.

Dalam bengkel kerja bangku mistar baja ada dua sistem, yaitu sistem metrik dan sistem
imperial. Pada sistem imperial untuk satuannya dinyatakan dengan inchi, sedangkan pada
sistem metrik satuan dinyatakan dengan millimeter

(Ambiyar, dkk, 2008 : 240).

Gambar 2.1 : Mistar Baja

B. Jangka sorong

Jangka şorong adalah alat ukur yang ketelitiannya dapat mencapai sepersepuluh,
seperdua puluh, seperlima puluh, dan seperseratus milimeter. Jangka şorong dapat

4
digunakan untuk mengukur diameter bagian luar benda kerja, kedalaman lobang,
diameter bagian dalam suatu benda kerja, İcbar suatu celah dan panjang dari suatu benda
kerja, apabila ukuran dari jangka şorong tersebut mencukupi.

Gambar 2.2 : Mengukur Menggunakan Jangka Sorong

Ukuran jangka sorong ada beberapa macam, seperti jangka sorong dengan panjang 150
mm, 175 mm, 250 mm, 300 mm (sistem metrik). Sedangkan untuk mengukur ukuran
benda kerja yang besar juga digunakan jangka dengan ukuran panjang lebih clari I meter.

5
Gambar 2.3 : Bagian — Bagian Jangka Sorong

Keterangan gambar

 Rahang tetap
 Rahang yang dapat digerakkan
 Sensor untuk pengukuran bagian luar benda kerja
 Sensor untuk pengukuran bagian dalam benda kerja
 Skala utama
 Skala vernier
 Baut pengunci, digunakan apabila jangka sorong akan digunakan untuk
melakukan pengukuran benda kerja dengan ukuran sama dan dalam
jumlah yang banyak
 Batang pengukur kedalaman benda kerja
 Penyetel, digunakan untuk menggeserkan bagian rahang vernier, sehingga
mencapai posisi tertentu sesuai dengan benda kerja yang akan diukur.

(Ambiyar, dkk, 2008 : 246)

Ketelitian dari jangka sorong bermacam-macam, yaitu ketelitian 0,1 mm yang


berarti pada skala noniusnya dibagi menjadi IO bagian, di mana setiap bagian
berarti 0,1 mm, sedangkan pada skala utama setiap bagian berarti besarnya I mm.
Untuk jangka sorong dengan ketelitian 0,05 mm, maka pada skala noniusnya satu

6
bagian pada skala utama dibagi menjadi 20 bagian, artinya setiap bagian berharga
0,05 mm, setta jangka sorong dengan ketelitian 0,001 mm.

Mengukur sisi dalam suatu benda dengan cara memasukkan rahang bagian
atas ke dalam benda yang akan diukur. Untuk mengukur panjang suatu benda
dengan cara membuka rahang jangka sorong hingga ujung lancip menyentuh
dasar benda. Untuk mengukur kedalaman suatu benda dengan cara menempatkan
benda yang akan diukur kedalamannya pada tangkai ukur.

Cara membaca hasil pengukuran menggunakan jangka sorong :

 Bacalah skala utama yang berimpit atau skala terdekat tepat didepan titik
nol skala nonius.
 Bacalah skala nonius yang tepat berimpit dengan skala utama.
 Hasil pengukuran dinyatakan dengan persamaan :

Hasil Skala Utama + (skala nonius yang berimpit x skala terkecil jangka
sorong) Skala Utama + (skala nonius yang berimpit x 0,01 cm)

(Anggriawan, dkk, 2012 : 9).

C. Siku-siku

Siku-siku mempakan peralatan yang dapat berfungsi untuk mengukur kesikuan


benda kerja, memeriksa kesejajaran garis, serta mempakan peralatan bantu dalam
membuat garis pada benda kerja. Siku-siku terdiri dari satu blok baja dan satu bilah baja,
di mana keduanya digabungkan sehingga membentuk sudut

90 derajat antara satu dengan Iainnya. Bahan pembuat siku-suku adalah baja perkakas,
sehingga ia cukup kuat dan tahan terhadap keausan dan karat (Ambiyar, dkk, 2008 : 303).

7
Gambar 2.4 : Mengukur Kesikuan Benda Kerja

D. Penggores

Penggores adalah alat untuk menggores permukaan benda kerja, sehingga dihasilkan
goresan atau garis gambar pada benda kerja. Bahan untuk membuat penggores ini ialah
baja perkakas, sehingga ia cukup keras dan sanggup menggores benda kerja. Dua jenis
penggores kita kenal, yaitu penggores dengan kedua ujungnya tajam, tetapi ujung yang
satunya lurus sedangkan ujung yang Iainnya bengkok, kedua penggores dengan hanya
satu ujungnya yang tajam, sedangkan ujung yang Iainnya tidak tajam (Ambiyar, dkk,
2008 : 308).

Gambar 2.5 : Penggores

8
E. Penitik.

Ditinjau dari segi fungsinya hanya ada dua jenis, yaitu penitik garis dan penitik
pusat/senter. Kedua jenis penitik teNebut sangat penting untuk melukis dan
menandai, sebab masing-masing mempunyai sifat-sifat tersendiri (Ambiyar, dkk,
2008 : 311).

Gambar 2.6 : Cara Menitik

F. Stempel Hurufdan Angka

Stempel hunlf adalah alat yang digunakan untuk memberi tanda huruf pada besi
dengan cara memukulnya dengan keras, sedangkan stempel angka adalah alat yang
digunakan untuk memberi tanda angka pada besi dengan cara memukulnya dengan keras,
dan usahakan sekali pukul (Zarkasi, 2013 : 6).

Gambar 2.7 : Stempel Hunlf dan Angka

9
2.2. Perkakas Tangan
A. Ragum

Ragum berfungsi untuk menjepit benda kerja secara kuat dan benar, artinya penjepitan
Oleh ragum tidak boleh memsak benda kerja (Ambiyar, dkk, 2008 .

331). Dengan demikian ragum harus lebih kuat dari benda kerja yang dijepitnya. Untuk
menghasilkan penjepitan yang kuat maka pada mulut ragum/rahangnya dipasangkan baja
berigi sehingga benda kerja dapat dijepit dengan kuat. Rahangrahang ragum digerakkan
Oleh batang ulir yang dipasangkan pada rumah ulir. Apabila batang ulir
digerakkan/diputar searah jarum jam, maka rahang ragum akan menutup, tetapi bila
diputar berlawanan dengan arah jarum jam maka rahang ragum akan membuka.

Rahang penjepit

Batang berulir segi empat

Gambar 2.8 : Ragum

Tangkai pernutar

Pemasangan ragum pada meja kerja harus disesuaikan dengan tinggi pekerja yang
akan bekerja. Sebagai patokan adalah apabila ragum dipasang pada meja kerja, maka
tinggi mulut ragum harus sebatas siku dari pekerja pada posisi berdiri sempurna.

Ketinggian pemasangan ragum pada meja kerja sangat berpengaruh dalam


pelaksanaan pekerjaan. Sebagai pedoman pengaturan tinggi rendahnya penjepitan benda
kerja pada ragum adalah untuk pekerjaan yang tidak memerlukan gaya yang besar seperti
pada pekerjaan akhir, benda kerja dapat di jepit lebih tinggi, artinya permukaan benda
kerja yang keluar dari rahang ragum lebih tinggi Untuk pekerjaan yang memerlukan gaya

10
yang besar seperi memahat, menggergaji, mengikir, mengetap dan menyenai maka
kedudukan benda kerja harus serendah mungkin berada di atas rahang ragum.

Untuk penjepitan pipa-pipa sebaiknya digunakan pelapis rahang, di mana bentuk


pelapis rahang tersebut hendaknya masing-masing berbentuk setengah lingkaran. Bahan
pelapis biasanya bisa dari kayu atau dari bahan yang lunak sehingga tidak akan merusak
penampang Pipa.

Gambar 2.9 : Pemasangan Benda Kerja pada Ragum

B. Palu (Hammer)

Palu mempakan alat tangan yang sudah yang lama ditemukan orang dan sudah
sejak lama dipergunakan dalam bengkel dalam seluruh kegiatan pekerjaan umat
manusia. Ukuran palu ditentukan Oleh berat dari kepala palu, sepefli palu 250 gr,
500 gr, 1000 gr dan bahkan palu dengan berat IO kg.

Jenis palu dapat dibagi dua yaitu palu keras dan palu lunak. Palu keras adalah
palu yang kepalanya terbuat dari baja dengan kadar karbon sekitar 0,6%. Proses
pembuatannya adalah dengan jalan ditempa, kemudian dikeraskan pada bagian
permukaannya agar menjadi keras. Pemakaian palu keras pada bengkel kerja
bangku adalah sebagai pemukul pada kerja memotong dengan pahat, menempa
dingin, pada pekerjaan assembling/perakitan, membengkokkan benda kerja,

11
membuat tanda dan pekerjaan pemukulan Iainnya. Jenis palu keras yang umum
dipakai pada bengkel kerja bangku adalah jenis palu keras yaitu palu konde (ball
pein hammer), palu pen searah (straight peen hammer), dan palu pen melintang
(cross peen hammer). (Ambiyar, dkk, 2008 : 336).

Gambar 2.10 : Palu Keras

Palu lunak adalah palu yang permukaan kepalanya terbuat dari bahan lunak
sepefli plastik, karet, kayu, tembaga, timah hitam, dan kulit. Palu lunak biasanya
digunakan sebagai alat bantu pada pekerjaan pemasangan benda kerja pada mesin
frais, skrap dan merakit benda kerja pada bengkel perakitan. Di samping itu juga
banyak digunakan pada bengkel kerja pelat, bengkel listrik dan bengkel Pipa.

12
Gambar 2.11 : Palu Lunak

C. Tang (Plier)

Hampir semua bengkel menggunakan tang, karena alat ini di samping harganya
murah juga mempunyai kegunaan yang sangat besar. Tang dibuat beberapa jenis dengan
ukuran yang berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan.

13
No Nama Gambar Fungsi
1. T ang
Kombin asi
Untuk memotong,
membengkokkan dan
menarik atau
memegang benda
kerja.

2. Tang Untuk memotong


Potong bahan-bahan kawat
baja dan kabelkabel
tembaga ukuran
diameter yang kecil.

3. Tang Untuk membuat


Pembul at lingkaran atau
radius pada benda
kerja yang tipis atau
kawat dengan
diameter yang kecil.

4. Tang Pipa Untuk pemegang


benda kerja yang
berpenampang
bulat.

(Ambiyar, dkk, 2008 : 338-340).

Tabel 2.I : Macam-Macam Tang

14
D. Kikir

Pemakaian kikir pada bengkel kerja bangku adalah untuk menyayat


permukaan bahan benda kerja sedikit demi sedikit, sehingga dapat dihasilkan
permukaan benda kerja yang halus. Bahan untuk membuat kikir adalah baja
karbon tinggi, di mana kandungan karbon pada baja jenis ini adalah kurang 0,7
sampai 0,8%. Untuk mendapatkan pisau potongnya maka permukaan kikir
dicacah dengan pisau yang keras dan tajam.

Gambar 2.12 : Bagian-Bagian Kikir

Berdasarkan gigi pemotongnya kikir (lapat diklasifikasikan menjadi dua jenis,


yaitu kikir bergigi tunggal dan kikir bergigi kembar/dua. Kikir dengan gigi potong
tunggal digunakan untuk pemotongan benda kerja secara halus. Artinya
pemotongan tidak dapat dilaksanakan secara tepat, tetapi hasil pengikiran pada
permukaan benda kerja menjadi lebih halus. Kikir bergigi tunggal arah gigi
pemotongnya diagonal terhadap permukaan kikir. Kikir dengan dua gigi
pemotong yang saling beNilangan dapat melakukan pemotongan secara cepat,
tetapi hasil pengikirannya kasar. Jadi kikir ini sangat cocok untuk pekerjaan
pendahuluan atau pekerjaan kasar, sedangkan kikir dengan gigi pemotong tunggal
digunakan untuk pekerjaan akhir atau finishing. (Ambiyar, dkk, 2008 : 341).

Ditinjau dari sifat kekasaran gigi pemotongnya maka kedua jenis kikir ini juga
mempunyai lima sifat kekasaran yaitu sangat kasar, kasar, sedang, halus dan sangat halus.
Kikir sangat kasar digunakan untuk pemotongan secara cepat sehingga ia digunakan
untuk pemotongan pendahuluan. Kikir kasar digunakan untuk pemotongan awal, tanpa
memperhitungkan kehalusan permukaan benda kerja. Kikir sedang digunakan untuk
menghaluskan permukaan setelah dikikir dengan menggunakan kikir kasar atau kikir
sangat kasar sebelum dikerjakan dengan menggunakan kikir halus. Kikir halus digunakan

15
untuk pengikiran pada pekerjaan akhir/finishing di mana kehalusan permukaan benda
kerja sangat diperlukan. Kikir sangat halus digunakan untuk pekerjaan finishing terutama
untuk benda kerja dengan ketelitian yang tinggi.

sangat kasar setengah kasar

halus sengat halus


Gambar 2.13 : Jenis Gigi Pemotong Kikir

Berdasarkan bentuk fisiknya, kikir dibedakan menjadi dua macam, yaitu kikir
rata dan kikir instrumen. Kikir rata digunakan untuk mengikir benda yang
permukaannya rata, sedangkan kikir instrumen untuk pengikiran benda-benda
kerja yang kecil atau instrumen dari suatu peralatan.

16
Gambar 2.14 : Kikir Rata dan Kikir Instrumen

Pada saat melakukan pengikiran banyak beram hasil pengikiran akan


tertinggal pada mata potong kikir atau pada gigi pemotong kikir yang

menyebabkan gigi pemotong kikir tidak dapat melakukan pemotongan bahan


juga dapat merusak gigi pemotong karena penumpukan beram sehingga proses
pengikiran menjadi tidak efektif. Maka setiap saat hendaknya beram-beram yang
tertahan pada gigi-gigi pemotong kikir selalu dibuang dengan menggunakan sikat
kikir atau peralatan khusus lainnya. Cara melakukan pembersihan tersebut dengan
jalan menyikat gigi-gigi kikir searah dengan alurnya dan pembersihan satu arah,
agar beram bisa terbuang dengan baik. Untuk kikir dengan mata ganda maka
kedua gigi pemotongnya harus dibersihkan secara bersama-sama. Apabila
digunakan sikat kikir maka pilihlah sikat kikir dengan bahan kuningan sehingga
tidak akan memsak gigi-gigi pemotong kikir.

17
Gambar 2.15 : Cara Membersihkan Kikir

Kikir hendaknya disimpan pada tempat yang kering atau tidak lembab dan
jauh clari tempat yang berminyak. Penempatan kikir tidak boleh ditumpuk artinya
mata-mata potong kikir tidak boleh bersinggungan satu dengan yang lainnya. Cara
penyimpanan kikir yang baik adalah dengan menyimpan secara sejajar dan
memberikan jarak antara kikir yang satu dengan yang lainnya. Cara lain dengan
menggantungkan kikir di dalam lemari alat.

Gambar 2.16 : Cara Menyimpan Kikir

E. Gergaji Tangan

Gergaji tangan berfungsi untuk mempersiapkan bahan bakal yang akan


dikerjakan atau dibuat benda kerja. Prinsip kerja dari gergaji tangan adalah

18
langkah pemotongan ke arah depan, sedang langkah mundur mata gergaji tidak
melakukan pemotongan (Ambiyar, dkk, 2008 : 353).

Gambar 2.17 : Bagian-Bagian Gergaji Tangan

F. Tap

Tap adalah peralatan yang digunakan untuk pembuatan ulir pada suatu benda
kerja. Sebelum benda tersebut diulir, terlebih dahulu benda tersebut dilubangi
dengan menggunakan mesin bor. Ukuran diameter lubang tergantung pada besar
diameter ulir yang akan dibuat. Bahan untuk pembuatan tap adalah baja perkakas
baja potong cepat. Setelah tap dibentuk kemudian dikeraskan dan ditempering.

Tap terdiri dari 3 jenis, yaitu tap konis digunakan untuk melakukan
penguliran pendahuluan/pemotongan awal karena bagian ujung mata potongnya
berbentuk tirus dan tidak mempunyai gigi pemotong sehingga ia akan dengan
mudah masuk ke dalam lubang yang telah dibuat, tap antara berfungsi untuk
pengulir antara tap konis dan tap rata atau dapat dikatakan ia sebagai pemotong
kedua. Tap ini pada bagian 3 sampai 4 mata potongnya tidak ada, ini dimaksudkan
agar tap dapat masuk ke dalam lubang dengan mudah. Jadi setelah benda kerja
diulir dengan menggunakan tap konis kemudian diulir dengan menggunakan tap
antara. Yang ketiga adalah tap rata yang berfungsi untuk melakukan pekerjaan
akhir dalam pembuatan ulir dengan menggunakan tap. Pada tap ini seluruh mata
potongnya dapat melakukan pemotongan. Bentuk tap ini adalah bagian
pemotongannya mempunyai mata potong dan diameternya adalah sama (Ambiyar,
dkk, 2008 : 367-369).

19
Tap Konis, Tap Antara, dan Tap Rata

Untuk melakukan penguliran dengan menggunakan tap diperlukan alat bantu yaitu
tangkai tap/pemutar tap. Ukuran dari tangkai tap sangat tergantung pada besar diameter
tap yang akan digunakan. Untuk itu tap dibuat bervariasi dari ukuran kecil sampai besar.

tap
bentuk T
Gambar 2.19 : Tangkai Tap

Langkah kerja pembuatan ulir dengan tap adalah sebagai berikut :

20
1. Jepit benda kerja pada ragum secara benar dan kuat.

Pasang tap konis pada tangkai tap.

Tempatkan mata tap tegak lurus pada lubang (periksa dengan menggunakan
siku-siku).

Tekan hingga masuk dalam lubang kemudian putar tangkai tap ke kanan
(searah dengan putaran jarum jam). Pemutaran harus tegak lurus.

Pemutaran kira-kira sebesar 900, kemudian putar kembali ke arah kiri.

Maksud pemutaran kembali adalah untuk memotong beram yang belum


terpotong dan memberikan kesempatan beram-beram hasil pemotongan keluar
dari lubang.

Berikan pelumasan selama prose pengetapan, kecuali untuk pengetapan bahan


dari besi.

Lakukan pengetapan hingga selesai, kemudian ulangi langkah pengetapan


dengan menggunakan tap antara.

Setelah selesai ulangi langkah pengetapan dengan menggunakan tap rata/


finishing.

G. Snei

21
Snei adalah alat untuk membuat ulir dalam. Bentuk snei menyerupai mur
tetapi ulirnya merupakan mata potong. Gigi-gigi ulir setelah dibentuk kemudian
dikeraskan dan temper agar dia mampu melakukan pemotongan terhadap benda
kerja. Snei yang biasanya digunakan untuk pembuatan ulir adalah snei pejal dan
snei bercelah.

Snei pejal berbentuk segi enam atau bulat berfungsi untuk memudahkan
dalam penguliran awal. Maka pada snei jenis ini tidak selunlh mata potongnya
sama besar, tetapi sedikit tirus pada bagian mata pemotong awal. Dengan
demikian benda kerja dapat masuk ke dalam snei sedikit mudah.

Snei Bercelah (split die) digunakan untuk pembuatan ulir luar. Snei ini
memiliki baut penyetel untuk mengatur ukuran diameter. Dengan demikian pada
waktu penguliran pendahuluan diametemya diperbesar dan pada waktu finishing
diameternya dikembalikan pada ukuran standarnya (Ambiyar, dkk, 2008 : 372).

Gambar 2.21 : Snei Pejal dan Snei Bercelah

Untuk membuat ulir dengan menggunakan snei dibutuhkan alat bantu yaitu
pemegang snei. Pada pemegeng snei ini dilengkapi dengan baut-baut pengikat, agar snei
tidak ikut berputar saat melakukan pemotongan/penguliran.

22
baut
pengikat

Gambar 2.22 : Pemegang Snei

Langkah kerja pembuatan ulir dengan snei adalah sebagai berikut:

1. Persiapkan benda kerja dan jepit pada ragum secara tegak lurus.
2. Pasang snei pada pemegangnya dan kuncikan baut pengikatnya.
3. Tempatkan snei pada benda kerja dengan posisi datar, kemudian tekankan snei
hingga benda kerja masuk pada snei.Lakukan penekanan sambil snei
diputarkan searah dengan arah jarum jam. Pemutaran atau pemakanan kira-kira
60, kemudian dikembalikan pada posisi semula. Pemutaran kembali
dimaksudkan untuk memotong beram dan membersihkan ulir yang telah
terbuat setta memberikan kesempatan beram keluar dari snei.
4. Lakukan pekerjaan langkah di atas secara tems menems dan berikan minyak
pelumas untuk mendingingkan snei dan untuk membantu mengeluarkan beram.

Untuk pembuatan ulir dengan snei bercelah, maka ulangi kembali penguliran
dengan terlebih dahulu menyetel kembali lebar pembukaan sneł.

Demikian seterusnya sampai ukuran snei kembali pada ukuran standarnya.

Periksa hasil snei dengan menggunakan mal ulir, seterusnya bersihkan ulir dan

23
Gambar 2.23 : Cara Membuat Ulir Luar

2.3. Mesin

A. Mesin Bor (Drilling)

Pengeboran adalah proses pembuatan lubang bulat dengan menggunakan


mata bor (twist dril[). Mesin bor yang digunakan pada kerja bangku ada dua jenis
yaitu mesin bor bangku untuk pekerjaan-pekerjaan yang kecil sampai sedang dan
mesin bor tiang untuk pekerjaan yang lebih besar. (Sumbodo, dkk, 2008 : 207).

24
Gambar 2.24 : Mesin Bor Bangku dan Mesin Bor Tiang

Keterangan .

Mesin Bor Bangku

Tombol

2. Tuas penekan Mesin Bor Tiang

3. Tuas pengikat Tuas pengatur kecepatan

4. Alas mesin bor 2. Tuas penekan

5. Meja mesin bor 3. Sumbu bor

6. Penjepit bor 4. Meja mesin bor

7. Pengaman 5. Ti ang

8. Mur penyetel 6. Landasan/bantalan


9. Rumah sabuk kecepatan

Perkakas sebagai kelengkapan mesin bor di antaranya ragum untuk


mencekam benda kerja pada saat akan di bor, klem set untuk mencekam benda
kerja yang tidak mungkin dicekam, landasan (blok paralel) sebagai landasan pada
pengeboran lubang tembus untuk mencegah ragum atau meja mesin turut terbor,
pencekam mata bor untuk mencekam mata bor yang berbentuk silindris, sarung
pengurang untuk mencekam mata bor yang bertangkai konis, pasak pembuka
untuk melepas sarung pengurang dari spindel bor atau melepas mata bor dari

25
sarung pengurang, boring head untuk memperbesar lubang baik yang tembus
maupun yang tidak tembus, dan mata bor yang berfungsi sebagai pemotong

(Widarto, dkk, 2008 : 249).

2.25 : Perkakas Mesin Bor

Mata bor terdiri dari bor spiral untuk pembuatan lubang yang diameternya
sama dengan diameter mata bor, mata bor pemotong lurus untuk material yang
lunak seperti kuningan, tembaga, penmggu, dan plastik, mata bor untuk lubang
yang dalam (deep hole drill) untuk membuat lubang yang relatif dalam, mata bor
Skop (spade drill) untuk material yang keras tetapi rapuh, dan mata bor stelite
untuk membuat lubang pada material yang telah dikeraskan. Mata bor stelite ini
mempunyai bentuk segitiga dan terbuat dari baja campuran yang tahan panas

(Widarto, dkk, 2008 : 250).

26
_I
Gambar 2.26 : Mata Bor

Cara mengebor :

1. Cekam mata bor, apabila mata bor terlalu kecil untuk dimasukkan pada
tempat pahat gurdi maka perlu disambung dengan sarung tirus (drill
sleeve), apabila masih kurang besar sarung tirus tersebut disambung lagi
dengan sambungan sanmg tirus (drill socket).
2. Cekam benda kerja bisa menggunakan ragum. Benda kerja yang tidak
terlalu besar ukurannya biasanya dicekam dengan ragum meja (table vise)
atau ragum putar (swivel vise). Apabila diinginkan membuat lubang pada
posisi menyudut pencekaman bisa menggunakan ragum sudut (angle vise).
3. Agar ragum tidak bergetar atau bergerak ketika proses pembuatan lubang,
sebaiknya ragum diikat dengan klem C. Beberapa alat bantu pencekaman
yang lain bisa juga digunakan untuk mengikat benda kerja pada meja
mesin bor. Benda kerja dengan bentuk tidak teratur, terlalu tebal atau
terlalu tipis tidak mungkin bisa dipegang oleh ragum, maka pengikatan
pada meja mesin bor dilakukan dengan alat bantu pencekaman dengan
bantuan beberapa buah baut T.
4. Kencangkan bor.
5. Kencangkan benda kerja dengan kuat secara meyakinkan.
6. Ukur panjang sumbu bor dengan jangka sorong sesuai dengan kedalaman
ulir yang akan dibor.
7. Tekan tombol 'ON”.
8. Gerakkan tuas penekan perlahan — lahan searah dengan jarum jam.
Pemutaran tuas penekan kira-kira 600, kemudian dikembalikan pada posisi
semula. Pemutaran kembali dimaksudkan untuk memotong beram dan
membersihkan ulir yang telah terbuat serta memberikan kesempatan beram
keluar dari lubang pengeboran.

27
9. Lakukan pekerjaan langkah di atas secara terus menerus sampai sumbu bor
kembali ke panjang semula dan berikan minyak pelumas untuk
mendingingkan mata bor dan untuk membantu mengeluarkan beram.

IO. Tekan tombol 'OFF” jika sumbu bor telah kembali ke panjang semula.

2.3. Perabot Kerja Bangku


A. Sikat Kikir
Sikat kikir digunakan untuk membersihkan kikir karena terdapan serpihan bram
yang menyangkut pada sela-sela kikir.

B. Sapu Meja
Sapu meja digunakan untuk alat kebersihan perkakas. Sapu meja ini adalah jenis
sapu yang berbentuk kecil

C. Oli dan Air


Dalam praktikum kerja bangku, Oli dan air ini memiliki fungsi yang sama, yaitu
sebagai pendingin (coolant) saat pengerjaan benda kerja yang melibatkan kontak
langsung yang menimbulkan gesekan antar logam agar tidak menimbulkan
kerusakan pada alat dan benda kerja, misalnya kepatahan.

D. Anvil
Merupakan landasan yang digunakan untuk melakukan stamping, pinitikan, atau
pekerjaan Iainnya yang menggunakan tenaga pukulan. Alat ini juga bisa
digunakan untuk membuat tatakan benda menjadi silindris yang terdapat pada
ujungnya.

2.4. Alat Pelindung Diri


A. Kaca Mata Pengaman (Safety Glasses)
Berfungsi sebagai pelindung mata ketika bekerja, misalnya saat mengikir.

B. Masker (Respirator)

28
Berfungsi sebagai penyaring udara yang dihirup saat bekerja di tempat dengan
kualitas udara buruk, misalnya misal berdebu dan beracun.

C. Sarung Tangan
Berfungsi sebagai alat pelindung tangan pada saat bekerja di tempat atau situasi
yang dapat mengakibatkan cedera tangan, misalnya saat mengikir dan
menggergaji. Bahan dan bentuk sarung tangan disesuaikan dengan fungsi
masingmasing pekerjaan.

D. Baju dan Celana Kerja


Baju kerja berfungsi melindungi badan dari benda tumpul, benturan, goresan saat
praktik kerja bangku, sedangkan celana kerja berfungsi melindungi bagian bawah
tubuh dari benda tumpul, benturan, goresan saat praktik kerja bangku.

E. Sepatu
Seperti sepatu biasa, tapi dari bahan kulit dilapisi metal dengan sol dari karet tebal
dan kuat. Berfungsi untuk mencegah kecelakaan fatal yang menimpa kaki karena
teflimpa benda tajam atau berat, benda panas, cairan kimia, dsb.

29
BAB III
METODE PRAKTIKUM

3.1. tempat dan waktu


Praktikum ini dilaksanakan di lab teknik mesin mandala pada tanggal 6
febuari 2019 sampai 22 mei 2019 jam 16.00-19.00 wib

3.2 alat dan bahan


1. Jangka sorong
2. Siku
3. Penggaris baja
4. Penitik
5. Kikir halus
6. Kikir kasar
7. Kikir bulat
8. Penggores
9. Gergaji
10. Palu
11. Tap
12. Mal huruf dan mal angka

3.3 langkah kerja


-Lalu berinama dan kelompok pada benda kerja dengan menggunakan mal
huruf dan angka.

30
BAB IV
KESELAMATAN DAN KEAMANAN

4.1. KESELAMATAN KERJA


1. Para peraktikan di wajibkan datang 15 menit
sebelum praktikum di mulai.
2. A. Jaga sopan santun di dalam laboratorium
B. Dilarang makan atau minum,di dalam
laboratorium
C. Dilarang menbawa barang barang yang
tidak perlu kedalam
laboratorium,kehilangan barang barang
diluar tanggung jawab laboratorium
Teknologi Mekanika
3. Melakukan tugas job sheet yang di berikan
dosen atau asistem praktek
4. Mengisi daftar hadir untuk tiap tiap pertemuan
praktek
5. Serahkan kartu praktikum saudara pada asisten
6. Mengisi bon pinjaman pada setiap akan
meminjam alat
7. Laporkan segera bila ada kerusakan atau
kehilangan alat alat
8. Mintalah kembali kartu praktikum sebelum
meninggalkan laboratorium

31
BAB V
PENUTUP

5.1. KESIMPULAN

Pekerjaan kerja bangku meliputi berbagai jenis kontruksi geometris


yang sesuai dengan perintah kerja. Kerja bangku tidak hanya menitik
beratkan pada pencapaian hasil kerja, tetapi juga pada prosesnya. Dimana
pada proses tersebut lebih menitik beratkan pada etos kerja yang meliputi
ketekunan, disiplin, ketahanan, serta teknik sebagai dasar sebelum
melanjutkan ke pengerjaan yang menggunakan mesin - mesin produksi.
Kunci kesuksesan dari kerja bangku ini adalah kesabaran dan ketelitian
dalam bekerja. Karena setiap pekerjaan yang dilakukan pasti akan menyita
waktu yang lama bila dibandingkan dengan alat yang menggunakan mesin
pada waktu sekarang Pada bengkel kerja bangku peralatan ukur yang
digunakan harus benar-benar presisi, maka peralatan ukur, cara memegang
alat ukur, cara melakukan pengukuran, dan kesalahan-kesalahan yang
biasa terjadi dalam pengukuran harus benar-benar diketahui secara baik.
Berbagai alat digunakan dalam praktek kerja bangku, praktek kerja
bangku membutuhkan tenaga yang lebih dibandingkan dengan berfikir
Praktikum kerja bangku adalah suatu praktek yang membutuhkan
kesabaran,keuletan serta ketelitian dalam pengerjaannya.
Praktikum kerja bangku adalah suatu kegiatan untuk
menyelesaikan suatu jobsheet dengan menggunakan cara manual sebagai
bekal mahasiswa untukmelatih kemamapuan siswa dalam
mengaplikasikan teori kedalam praktek yang nyata serta sebagai bekal
dasar untuk menempuh matakuliah yang selanjutnya.
Dalam penggunaan setiap alat-alat perkakas maka hendakanya
selalumemperhatikan prosedur pemakaian sehingga alat-alat perkakas
dapat digunakansecara maksimal sesuai dengan fungsi dari setiap alat-alat
perkakas tersebut.
Dalam setiap praktek untuk menyelesaiakan jobsheet harus selalu
memperhatikan petujuk pengerjaan sehingga hasil dari jobsheet
yang dikerjakan sesuai dengan jobsheet yang ditugaskan.
Sebelum memulai mengerjakan jobsheet, terlebih dahulu merencanakan
langkah-langkah pengerjaan agar jobsheet dapat dikerjakan dengan cepat
dan tepat.

32
5.2 SARAN
.

Alat-alat yang digunakan ditambah lagi dan yang sudah tidak dapat
digunakan juga diganti dengan yang baru agar mahasiswa dalam praktek dapat
bekerjasemaksimal mungkin dengan cepat dan hasilnya memuaskan terutama
pada alat ukur.

33