Anda di halaman 1dari 58

ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY.

A
DENGAN DIAGNOSA TYPHOID FEVER
DI RUANG RAWAT INAP LANTAI 4

DI SUSUN OLEH
RINI FEBRIANI
KC.1901.391

RUMAH SAKIT KARTIKA CIBADAK


SUKABUMI
2019
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur senatiasa kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan limpahan Rahmat serta Taufik-Nya kepada penulis, sehingga penulis
dapat menyelesaikan Laporan Presentasi Kasus “Asuhan Keperawatan Pada Ny.
A Dengan Demam Typhoid Di Ruang rawat inap lantai 4 Rumah Sakit Kartika
Cibadak” dengan baik dan semoga banyak manfaat di dalamnya.

Laporan ini kami susun untuk menyelesaikan tugas kelompok dalam


presentasi kasus di Rumah Sakit Kartika Cibadak. Dalam kesempatan ini
penyusun mengucapkan rasa terimakasih kepada semua pihak yang telah
memberikan bantuan, bimbingan, petunjuk dan kerjasama sehingga laporan
Presentasi Kasus ini dapat tersusun dengan baik dan lancar

Kami menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan asuhan keperawatan


ini masih jauh dari kesempurnaan dan masih banyak kekurangan, oleh karena itu
kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat diharapkan dan akan diterima
dengan ikhlas. Akhirnya semoga Laporan Presentasi Kasus ini dapat bermanfaat
bagi penulis sendiri dan secara umum bagi semua pembaca serta bagi
perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya dalam bidang keperawatan.

Cibadak, Desembaer 2019


DAFTAR ISI
Kata Pengantar .................................................................................................i
Daftar Isi.......................................................................................................... ii
BAB I Pendahuluan
A. Latar Belakang .................................................................................... 1
B. Tujuan penulisan ................................................................................. 2
C. Ruang Lingkup keperawatan/Kebidanan ............................................ 3
D. Metode penulisan ................................................................................ 3
E. Sistematika penulisan .......................................................................... 3

BAB II Tinjauan Teori


A. Anatomi dan Fisiologi ......................................................................... 4
B. Pengertian ........................................................................................... 10
C. Etiologi ............................................................................................... 10
D. Patofisiologi ....................................................................................... 11
E. Gejala Klinis....................................................................................... 14
F. Pemeriksaan Diagnostik ..................................................................... 14
G. Komplikasi ......................................................................................... 15
H. Penatalaksanaan Medis ...................................................................... 16
I. Asuhan Keperawatan ......................................................................... 17

BAB III Tinjauan Kasus


A. Pengkajian .......................................................................................... 22
B. Analisa Data ....................................................................................... 30
C. Diagnosa Keperawatan....................................................................... 32
D. Perencanaan Pelaksanaan Evaluasi .................................................... 32
E. Implementasi Keperawatan ................................................................ 35

BAB IV Pembahasan
A. Pengkajian .......................................................................................... 49
B. Diagnosa Keperawatan....................................................................... 49
C. Intervensi ........................................................................................... 50
D. Implementasi ...................................................................................... 50
E. Evaluasi .............................................................................................. 51

BAB V Kesimpulan dan Saran


A. Kesimpulan ........................................................................................ 52
B. Saran ................................................................................................... 53
Daftar Pustaka ................................................................................................. ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Typhoid Fever merupakan penyakit infeksi akut usus halus yang
disebabkan oleh salmonella typhi, salmonella paratyphi A, salmonella
paratyphi B, salmonella typhi C. Penyakit ini mempunyai tanda – tanda
khas berupa perjalanan yang cepat yang berlangsung kurang lebih 3
minggu disertai gejala demam, nyeri perut, dan erupsi kulit. Penyakit ini
termasuk dalam penyakit daerah tropis dan penyakit ini sangat sering di
jumpai di Asia termasuk di Indonesia. ( Widodo Djoko, 2009)
Typhoid Fever sendiri akan sangat berbahaya jika tidak segara di
tangani secara baik dan benar. Menurut data WHO (World Health
Organisation) memperkirakan angka insidensi di seluruh dunia sekitar 17
juta jiwa per tahun, angka kematian akibat Typhoid Fever mencapai
600.000 dan 70% nya terjadi di Asia. Asia menempati urutan tertinggi
pada kasus Typhoid Fever ini, dan terdapat 13 juta kasus dengan 400.000
setiap tahunnya. 91% kasus typhoid menyerang anak-anak usia 3-19 tahun
dan angka kematian 20.000/ tahunnya. Di Indonesia 14% demam enteris
ini disebabkan oleh Salmonella typhi (Suratun, 2010: 120). Di Indonesia
sendiri, penyakit Typhoid Fever bersifat endemik, menurut WHO angka
penderitaTyphoid Fever di Indonesia mencapai 81% per 100.000 (Depkes
RI, 2013).
Berdasarkan Profil Kesehatan Indonesia tahun 2011 jumlah
kejadian Typhoid Feverdan parathypoid di Rumah Sakit adalah 80.850
kasus pada penderitarawat inap dan 1.013 diantaranya meninggal dunia.
Sedangkan pada tahun 2012 penderita Typhoid Feverdan parathypoid
sejumlah 41.081 kasus pada penderita rawat inap dan jumlah pasien
meninggal dunia sebanyak 276 jiwa. Angka kematian diperkirakan sekitar
6-5% sebagai akibat dari keterlambatan mendapat pengobatan serta kurang
sempurnanya proses pengobatan. Secara umum insiden Typhoid Fever
dilaporkan 75% didapatkan pada 3 umur kurang dari 24 tahun. Pada anak-
anak biasanya diatas 1 tahun dan terbanyak di atas 5 tahun.
Berdasarkan penelitian Cyrus H. Simanjuntak di provinsi Jawa
Barat pada tahun 2009, insidens rate Typhoid Fever pada masyarakat di
daerah semi urban adalah 357,6 per 100.000 penduduk per tahun. Insiden
Typhoid Fever bervariasi di tiap daerah dan biasanya terkait dengan
sanitasi lingkungan. Di daerah Jawa Barat, terdapat 157 kasus per 100.000
peduduk sedangkan di daerah urban ditemukan 760-810 per 100.000
penduduk (Simajuntak,C.H, 2009).
Di Rumah Sakit Kartika Cibadak klien yang di rawat inap dengan
diagnosa thypoid fever bulan November 2019 101 pasien, pada bulan
Oktober 2019 99 pasien dan bulan September 69 Pasien. Dari data tersebut
selama 3 bulan mengalami peningkatan namun Typhoid Fever juga tidak
bisa di prediksi akan bertambahnya klien. Tingginya kasus Typhoid Fever
dan mudahnya penularan penyakit Typhoid Fever serta komplikasi yang
dapat berakibat kematian, maka dibutuhkan peran perawat untuk
menurunkan angka kejadian demam typhoid pada anak dan dewasa.
Perawat dapat melakukan berbagai cara diantaranya peran perawat sebagai
care giver yaitu melakukan proses keperawatan yang profesional untuk
memberikan asuhan keperawatan secara tepat sasaran sesuai kebutuhan
klien. Salah satu contoh peran perawat sebagai care giver dalam kasus
Typhoid Feveradalah memberikan penyuluhan kepada orang tua atau klien
untuk menjaga kebersihan lingkungan dan pribadi.
Maka dari itu penulis tertarik untuk menyusun laporan yang
berjudul “Asuhan Keperawatan pada Ny. A dengan Demam Typhoid di
Ruang Rawat Inap 4 Rumah Sakit Kartika Cibadak”
B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan umum
Penulis mampu menambah pengetahuan dan wawasan yang
lebihmendalam tentang proses pelaksanaan Asuhan Keperawatan
Typhoid Fever
2. Tujuan Khusus
a. Melakukan pengkajian secara langsung pada pasien Typhoid Fever.
b. Merumuskan masalah dan membuat diagnosa keperawatan pada
pasien Typhoid Fever.
c. Membuat perencanaan keperawatan pada pasien Typhoid Fever.
d. Melaksanakan tindakan keperawatan pada pasien Typhoid Fever.
e. Mengefa luasi keperawatan pada pasien Typhoid Fever.
f. Mendokumentasikan asuhan keperawatan pada pasien Typhoid
Fever.
C. Ruang lingkup keperawatan
Ruang lingkup keperawatan dalam laporan ini adalah tentang
asuhan keperawatan pada klien dengan diagnosa medis Typhoid Fever di
Ruang Rawat Inap Lantai 4 Rumah Sakit Kartika Cibadak Sukabumi,
dengan lama perawatan selama 3 hari dari tanggal 30 Desember 2019 – 01
Januari 2020.
D. Metode penulisan
Pada pembahasan laporan ini dalam pengkajian penulis menggunakan
metode wawancara dan pengamatan atau observasi. Kekuatan dari metode
wawancara adalah dilakukan secara langsung face to face. Kelemahan dari
metode tersebut jika dalam pembicaraan tidak terarah maka akan
membutuhkan waktu yang lama. Kekuatan pada metode pengamatan
adalah kriteria yang diamati jelas, sedang akan kelemahannya
membutuhkan banyak waktu.
E. Sistematika penulisan
BAB I (Latar Belakang, Tujuan Penulisan, Ruang Lingkup Keperawatan,
Metode Penulisan, Sistematika Penulisan).
BAB II (anatomi dan Fisiologi, Pengertian, Etiologi, Patofisiologi, Gejala
Klinis, Pemeriksaan Diagnostik, Komplikasi, Penatalaksanaan
Medis, Pencegahan, Asuhan Keperawatan).
BAB III (Pengkajian, Data Fokus, Analisa Data, Diagnosa Keperawatan,
Perencanaan Pelaksanaan , Evaluasi)
BAB IV (Pengkajian, Data Fokus, Analisa Data, Diagnosa Keperawatan,
Perencanaan Pelaksanaan , Evaluasi)
BAB V (Kesimpulan, Saran)
BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Anatomi Dan Fisiologi
1. Anatomi

2. Fisiologi
Sistem pencernaan atau sistem gastroinstestinal (mulai dari mulut
sampai anus) adalah sistem organ dalam manusia yang berfungsi untuk
menerima makanan, mencernanya menjadi zat-zat gizi dan energi,
menyerap zat-zat gizi ke dalam aliran darah serta membuang bagian
makanan yang tidak dapat dicerna atau merupakan sisa proses tersebut
dari tubuh (Cahyono, 2010).
Saluran pencernaan terdiri dari mulut, tenggorokan (faring),
kerongkongan, lambung, usus halus, usus besar, rektum dan anus.
Sistem pencernaan juga meliputi organ-organ yang terletak diluar
saluran pencernaan, yaitu pankreas, hati dan kandung empedu
(Cahyono, 2010).
a. Rongga Mulut
Secara umum berfungsi untuk menganalisis makanan sebelum
menelan, proses penghancuran makanan secara mekanis oleh gigi,
lidah dan permukaan palatum, lubrikasi oleh sekresi saliva serta
digesti pada beberapa material karbohidrat dan lemak.
1) Mulut
Mulut dibatasi oleh mukosa mulut, pada bagian atap terdapat
palatum dan bagian posterior mulut terdapat uvula yang
tergantung pada palatum.
2) Lidah
Lidah terdiri dari jaringan epitel dan jaringan epitelium lidah
dibasahi oleh sekresi dari kelenjar ludah yang menghasilkan
sekresi berupa air, mukus dan enzim lipase. Enzim ini
berfungsi untuk menguraikan lemah terutama trigleserida
sebelum makanan di telan. Fungsi utama lidah meliputi, proses
mekanik dengan cara menekan, melakukan fungsi dalam
proses menelan, analisis terhadap karakteristik material, suhu
dan rasa serta mensekresikan mukus danenzim.
3) Kelenjarsaliva
Kira-kira 1500 ml saliva disekresikan per hari, pH saliva
pada saat istirahat sedikit lebih rendah dari 7,0 tetapi selama
sekresi aktif, pH mencapai 8,0. Saliva mengandung 2 enzim
yaitu lipase lingual disekresikan oleh kelenjar pada lidah dan
α-amilase yang disekresi oleh kelenjar-kelenjar saliva.
Kelenjar saliva tebagi atas 3, yaitu kelenjar parotis yang
menghasilkan serosa yang mengandung ptialin. Kelenjar
sublingualis yang menghailkan mukus yang mengandung
musin, yaitu glikoprotein yang membasahi makanan dan
melindungi mukosa mulut dan kelenjar submandibularis yang
menghasilkan gabungan dari kelenjar parotis dan sublingualis.
Saliva juga mengandung IgA yang akan menjadi pertahanan
pertama terhadap kuman dan virus.
Fungsi penting saliva antara lain, memudahkan poses
menelan, mempertahankan mulut tetap lembab, bekerja
sebagai pelarut olekul-molekul yang merangsang indra
pengecap, membantu proses bicara dengan memudahkan
gerakan bibir dan lidah dan mempertahankan mulut dan gigi
tetapbersih(Cahyono, 2010).
4) Gigi
Fungsi gigi adalah sebagai penghancur makanan secara
mekanik. Jenis gigi di sesuaikan dengan jenis makanan yang
harus dihancurkannya dan prosses penghancurannya. Pada gigi
seri, terdapat di bagian depan rongga mulut berfungsi untuk
memotong makanan yang sedikit lunak dan potongan yang
dihasilkan oleh gigi seri masih dalam bentuk potongan yang
kasar, nantinya potongan tersebut akan dihancurkan sehingga
menjadi lebih lunak oleh gigi geraham dengan dibantu oleh
saliva sehingga nantinya dapat memudahkan makanan untuk
menuju saluran pencernaan seterusnya. Gigi taring lebih tajam
sehingga difungsikan sebagai pemotong daging atau makanan
lain yang tidak mampu dipotong oleh gigi seri.(Cahyono,
2010).
5) Faring
Faring merupakan jalan untuk masuknya material makanan,
cairan dan udara menuju esofagus. Faring berbentuk seperti
corong dengan bagian atasnya melebar dan bagian bawahnya
yang sempit dilanjutkan sabagai esofagus setinggi vertebrata
cervicalis keenam. Bagian dalam faring terdapat 3 bagian yaitu
nasofaring,orofaring dan laringfaring. Nasofaring adalah
bagian faring yang berhubungan ke hidung. Orofaring terletak
di belakang cavum oris dan terbentang dari palatum sampai ke
pinggir atas epiglotis. Sedangkan laringfaring terletak
dibelakang pada bagian posterior laring dan terbentang dari
pinggir atas epiglotis sampai pinggir bawah cartilago
cricoidea(Cahyono, 2010).
b. Laring
Laring adalah organ yang mempunyai sfingter pelindung
pada pintu masuk jalan nafas dan berfungsi dalam pembentukan
suara. Sfingter pada laring mengatur pergerakan udara dan
makanan sehingga tidak akan bercampur dan memasuki tempat
yang salah atau yang bukan merupakan tempatnya Sfingter tersebut
merupakan epiglotis. Epiglotis akan menutup jalan masuk udara
saat makanan ingin masuk ke esofagus.
c. Esofagus
Esofagus adalah saluran berotot dengan panjang sekitar 25
cm dan diameter sekitar 2 cm yang berfungsi membawa bolus
makanan dan cairan menuju lambung. Otot esofagus tebal dan
berlemak sehingga mobilitas esofagus cukup tinggi. Peristaltik
pada esofagus mendorong makanan dari esofagus memasuki
lambung. Pada bagian bawah esofagus terdapat otot-otot
gastroesofagus (lower esophageal sphincter, LES) secara tonik
aktif, tetapi akan melemas sewaktu menelan. Aktifasi tonik LES
antara waktu makan mencegah refluks isi lambung ke dalam
esofagus. Otot polos pada esofagus lebih menonjol diperbatasan
dengan lambung (sfingter intrinsik). Pada tempat lain, otot rangka
melingkari esofagus (sfrinter ekstrinsik) dan bekerja sebagai keran
jepit untuk esofagus. Sfringte ekstrinsik dan intrinsik akan
bekerjasama untuk memungknkan aliran makanan yang teratur
kedalam lambung dan mencegah refluks isi lambung kembali ke
esofagus (Cahyono, 2010).
d. Lambung
Lambung terletak di bagian kiri atas abdomen tepat di
bawah diafragma. Dalam keadaan kosong, lambung berbentuk
tabung J dan bila penuh akan tampak seperti buah alpukat.
Lambung terbagi atas fundus, korpus dan pilorus. Kapasitas normal
lambung adalah 1-2 L. Pada saat lambung kosong atau berileksasi,
mukosa masuk ke lipatan yang dinamakan rugae. Rugae yang
merupakan dinding lambung yang berlipat-lipat dan lipatan
tersebut akan menghilang ketika lambung berkontraksi. Sfingter
pada kedua ujung lambung mengatur pengeluarn dan pemasukan
lambung. Sfingter kardia, mengalirkan makanan masuk ke
lambung dan mencegah refluks isi lambung memasuki esofagus
kembali. Sedangkan sfingter pilorus akan berelaksasi saat makanan
masuk ke dalam duodenum dan ketika berkontraksi, sfingter ini
akan mencegah aliran balik isi usus halus ke lambung.
e. Usus Halus
Bagian awal dari usus halus adalah duodenum atau lebih
sering disebut duodenal cup atau bulb. Pada bagian ligamentum
Treitz, duodenum berubah menjadi jejunum. duodenum
mempunyai panjang sekitar 25 cm dan berhubungan dengan
lambung, jejunum mempunyai panjang sekitar 2,5 m, dimana
proses digesti kmmia dan absorpsi nutrisi terjadi dalam jejunum
sedangkan ileum mempunyai panjang sekitar 3,5 m. Disepanjang
usus halus terdapat kelenjar usus tubular. Diduodenum terdapat
kelenjar duodenum asinotubular kecil yang membentuk kumparan.
Disepanjang membran mukosausus halus yang diliputi oleh vili.
Terdapat 20 sampai 40 vili per milimeter persegi glukosa. Ujung
sel-sel evitel virus dibagi menjadi mikrovili yang halus dan
diseilmuti glikokaliks yang membentuk brush border. Mukus usus
terdiri dari berbagai macam enzim,seperti disakaridase, peptidase
dan enzim lain yang terlibat dalam penguraian asam nukleat.
f. Usus Besar(Kolon)
Kolon memiliki diameter yang lebih besar dari usus halus.
Kolon terdiri atas sekum-sekum yang membentuk kantung-kantung
sebagai dinding kolon (haustra). Pada pertengahannya terdapat
serat- serat lapisan otot eksterrnalnya tekumpul menjadi 3
pitalongitudinal yang disebut taenia koli. Bagian ileum yang
mengandung katup ileosekum sedikit menonjol ke arah sekum,
sehingga peningkatan tekanan kolon akan menutupnya sedangkan
peningkatan tekanan ileum akan menyebabkan katup tersebut
terbuka. Katup ini akan secara efektif mencegah refluks isi kolon
ke dalam ileum. Dalam keadaan normal katup in akan tertutup.
Namun, setiap gelombang peristaltik, katup akan terbuka sehingga
memungkinkan kimus dari ileum memasuki sekum. Pada kolon
terjadi penyerapan air, natrium dan mineral lainnya. Kontraksi
kerja massa pada kolon akan mendorong isi kolon dari satu bagian
kolon ke bagian lain. Kontraksi ini juga akan mendorong isi kolon
menuju ke rektum. Dari rektum gerakan zat sisa akan terdorong
keluar menuju anus dengan perenggangan rektum dan kemudian
mencetus refleks defekasi
B. Pengertian
Typhoid fever adalah suatu penyakit infeksi oleh
bakteri Salmonella typhii dan bersifat endemik yang termasuk dalam
penyakit menular (Cahyono, 2010).
Demam typhoid adalah infeksi sistemik akut yang disebabkan oleh
Salmonella typhii (Elsevier, 2013). Typhoid fever ( typhus abdominalis
,enteric fever ) adalah infeksi sistemik yang disebabkan kuman salmonella
enterica, khususnya varian varian turunanya, yaitu salmonella typhi,
Paratyphi A, Paratyphi B, Paratyphi C. Kuman kuman tersebut menyerang
saluran pencernaan, terutama di perut dan usus halus. Typhoid fever
sendiri merupakan penyakit infeksi akut yang selalu ditemukan di
masyarakat (endemik) Indonesia. Penderitanya juga beragam, mulai dari
usia balita, anak- anak, dan dewasa (Suratun dan Lusianah,2010).
C. Etiologi
Penyebab penyakit ini adalah kuman Salmonella typhi, Salmonella
para typhi A, dan Salmonella para typhi B. Wujudnya berupa basil gram
negatif, bergerak dengan rambut getar, tidak berspora, dan mempunyai
tiga macam antigen (antigen O, H, dan VI). Dalam serum penderita
terdapat zat (aglutinin) terhadap ketiga macam antigen tersebut. Kuman
tumbuh pada suasana aerob dan fakultatif anaerob pada suhu 15-41 ˚C
(option 37˚C) dan pH pertumbuhan 6-8.
Salmonella typhi merupakan basil gram (-) dan bergerak dengan
rambut getar. Transmisi Salmonella typhi kedalam tubuh manusia dapat
melalui hal –hal berikut.
1. Transmisi oral, melaluimakanan yang terkontaminasi kuman
salmonella typhi.
2. Transmisi dari tangan ke mulut, di mana tangan yang tidak higenis
yang mempuyai Slmonella typhi langsung bersentuhan dengan
makanan yang dimakan.
3. Transmisi kotoran, di mana kotoran individu yang mempunyai basil
Salmonella typhi kesungai atau sumber air yang digunakan sebagai air
minum yang kemudian langsung di minum tanpa dimasak.
D. Patofisiologi
Kuman salmonella typhi yang masuk kesaluran gastro intestinal
akan ditelan oleh sel-sel fagosoit ketika masuk melewati mukosa dan oleh
makrofag yang ada di dalam lamina propina. Sebagian dari salmonella
typhi ada yang masuk ke usus halus mengadakan invanigasi ke jaringan
limfoid usus halus (plak peyer) dan jaringan limfoid mesentrika.
Kemudian Salmonella typhi masuk melalui folikel limfatik dan sirkulasi
darah sistemik sehingga terjadi bakterimia. Bakterimia pertama-tama
menyerang system retikulo endothelial (RES) yaitu: hati, limpa, dan
tulang, kemudian selanjutnya mengenai seluruh organ di dalam tubuh
antara lain system saraf pusat, ginjal dan jaringan limfa (Cahyono, 2010).
Usus yang terserang tifus umumnya ileum distal,tetapi kadang
begian lain usus halus dan kolon proksimal juga dihinggapi. Pada
mulanya, plakat peyer penuh dengan fagosit, membesar, menonjol, dan
tampak seperti infitrat atau hyperplasia di mukosa usus. Pada akhir minggu
pertama infeksi, terjadi nekrosis dan tukak. Tukak ini lebih besar di ileum
dari pada di kolon sesuai dengan ukuran plak peyer yang ada disana.
Kebanyakan tukaknya dangkal, tetapi kadang lebih dalam sampai
menimbulkan perdarahan. Perforasi terjadi pada tukak yang menembus
serosa. Setelah penderita sembuh, biasanya ulkus membaik tanpa
meninggalkan jaringan parut di fibrosis(Cahyono, 2010).
Masuknya kuman kedalam intestinal terjadi padsa minggu pertama
dengan tanda dan gejala suhu tubuh naik turun khususnya suhu tubuh akan
naik pada malam hari dan akan menurun menjelang pagi hari. Demam
yang terjadi pada masa ini disebut demam intermitet (suhu yang tinggi,
naik-turun, dan turunnya dapat mancapai normal), di samping peningkatan
suhu tubuh ,juga akan terjadi obstipasisebagi akibat motilitas penurunan
suhu tubuh, namun hal ini tidak selalu terjadi dan dapt pula terjadi
sebaliknya. Setelah kuman melewati fase awal intestinal, kemudian masuk
kesirkulasi sistemik dengan tanda peningkatan suhu tubuh yang sangat
tinggi dengan tanda tanda infeksi pada RES seperti nyeri perut
kanan atas, splenomegali dan hepatomegali (Cahyono, 2010).
Pada minggu selanjutnya di mana infeksi Intestinal terjadi dengan
tanda-tanda suhu tubuh masih tetap tingi, tetapi nilainya lebih rendah dari
fase bakterimia dan berlangsung terus menerus (demam kontinu), lidah
kotor, tetapi lidah hiperemis, penurunan peristaltik, gangguan digesti dan
absorpsi sehingga akan terjadi distensi, diare dan pasien akan merasa tidak
nyaman. Pada masa ini dapat terjadi perdarahan usus, perforasi, dan
peritonitis dengan tanda distensi abdomen berat, peristaltik usus menurun
bahkan hilang, melena, syok, dan penurunan kesadaran (Arif Muttaqin,
2003).
E. Pathway

(Nanda Nic Noc, 2013)


F. Gejala Klinis
Masa tunas 7-14 hari, selama inkubasi ditemukan gejala prodroma
(gejala awal tumbuhnya penyakit/gejala yang tidak khas)
1. Perasaan tidak enak badan
2. Nyeri kepala
3. Pusing
4. Diare
5. Anoreksia
6. Batuk
7. Nyer otot
8. Muncul gejala klinis yang lain
Demam berlangsung 3 minggu. Minggu pertama: demam ritmen,
biasanya menurun pagi hari, dan meningkat pada sore dan malam hari.
Minggu kedua: demam terus. Minggu ketiga: demam mulai turun secara
berangsur-angsur, gangguan pada saluran pencernaan, lidah kotor yaitu
ditutupi selaput kecoklatan kotor, ujung dan tepi kemerahan, jarang
disertai tremor, hati dan limpa membesar yang nyeri pada perabaan,
gangguan pada kesadaran, kesadaran yaitu apatis-samnolen. Gejala lain
”RESEOLA” (bintik-bintik kemerahan karena emboli hasil dalam
kapilerkulit) (Cahyono, 2010).
G. Pemeriksaan Diagnostik
Pemerikasaan penunjang pada pasien dengan typhoid adalah
pemerikasaan laboratorium, yang terdiri dari :
1. Pemeriksaan leukosit
Di dalam beberpa literatur dinyatakan bahwa typoid terdapat
leukopenia dan limpositosis relatif tetapi kenyataannya leukopenia
tidak sering di jumpai. Pada kebanyakan kasus typhoid fever, jumlah
leukosit pada sediaan darah tepi berada pada batas batas normal
bahkan kadang-kadang terdapat leukosit walaupun tidak ada
komplikasi atau infeksi sekunder. Oleh karena itu pemeriksaan jumlah
leukosit tidak berguna untuk diagnosa typhoid fever.
2. Pemeriksaan SGOT dan SGPT
SGOT dan SGPT pada typhoid fever sering kali meningkat
tetapi dapat kembali normal setelah sembuhnya typhoid fever.
3. Uji Widal
Uji Widal adalah suatu reaksi aglutinasi antara antigen dan
anti bodi (agglutinin). Agglutinin yang spesifik terhadap salmonella
typhi terdapat dalam serum klien dengan typhoid juga terdapat pada
orang yang pernah di vaksinasikan. Antigen yang di gunakan pada uji
widal adalah suspense salmonella yang sudah dimatikan dan di olah di
laboratorium tujuan dari uji widal ini adalah untuk menentukan
adanya agglutinin dalam serum klien yang disangka menderita
typhoid. Akibat infeksi salmonella typhi, klien membuat anti bodi atau
agglutinin yaitu :
a. Aglutinin O, yang di buat karena rangsangan antigen O (berasal
dari tubuh kuman)
b. Aglutinin H, yang dibuat karena rangsangan antigen H (berasal
dari flagel kuman)
c. Aglutinin Vi, yang dibuat dari rangsanaganantigen Vi (berasal
dari simpai kuman).
H. Komplikasi
Komplikasi demam typhoid dapat di bagi dalam 2 bagian yaitu (Cahyono,
2010). :
1. Komplikasi intestinal
a. Perdarahanusus
b. Perforasiusus
c. Ileusparalitik
2. Komplikasi ekstraintestinal
a. Komlikasi kardiovaskular : Kegagalan sirkulasi perifer( renjatan,
sepsis ), miokarditis, thrombosis, dan trombofebitis
b. Komplikasi darah : anemia hemolitik, trombositopenia, atau
koagulasi intravaskulardiseminata dan sindrom uremia hemolitik.
c. Komplikasi paru : Pnemonia, empemia, danpleuritis.
d. Komplikasi hepar dan kandung kemih : pielonefritis dan
perinefritis.
e. Komplikasi ginjal : glomerulonefritis, pielonefritis, dan
perinefritis.
f. Komplikasi tulang : osteomielitis, periostisis, spondilitis, dan
arthritis.
g. Komplikasi neuropsikatrik : delirium, meningismus, meningitis,
poluneuritis perifer, sindrom gullain barre, psikosis dan sindrom
katatona.
I. Penatalaksanaan Medis
1. Istirahat dan perawatan
Tirah baring dan perawatan professional bertujuan untuk mencegah
komplikasi. Tirah baring dengan perawatan sepenuhnya di tempat
seperti makan, minum, mandi, buang air kecil dan besar akan
membantu mempercepat masa penyembuhan. Dalam perawatan perlu
sekali di jaga kebersihan tempat tidur, pakaian dan perlengkapan yang
di pakai. Posisi pasien harus di awasi untuk mencegah terjadinya
dekubitus dan pnemoni ortostarti serta hygiene perorangan tetap, perlu
diperhatikan dan dijaga (Cahyono, 2010).
2. Diet dan terapipenunjang
Diet merupakan hal yang paling penting dalam proses penyembuhan
penyakit dengan typhoid fever, karena makanan yang kurang akan
menurunkan keadaan uamum dan gizi penderita akan semakin turun
dan proses penyembuhan akan menjadi lama.dimana lampau penderita
demam typhoid diberi bubur saring, kemudian ditingkatkan menjadi
bubur kasar dan akhirnaya di beri nasi, yang perubahan diet tersebut
disesuaikan dengan tingkaat kesembuhan pasien. Pemberian bubur
saring tersebut di tunjukan untuk menghindari komplikasi perdarahan
saluran cerna atau peforasi usus. Hal ini disebabka ada pendapat
bahwa usus harus di istirahatkan. beberapa penelitian menunjukan
bahwa pemberian makanan padat dini yaitu nasi dengan lauk pauk
rendah selulosa (menghindari sementara sayuran yang berserat) dapat
diberikan dengan aman pada penderita typhoid fever.
3. Pemberian antibiotik
a. Klorampenol
Di Indonesia Klorampenikol masih merupakan obat pilihan utama
untuk pengobatan demam typhoid. Dosis yang di berikan 4 x 500
mg perhari dapat diberikan peroral atau intravena, diberikan
sampai 7 hari bebasdemam.
b. Tiampenikol
Dosis dan efektifitas tiampenikol pada typhoid fever hampir sama
dengan Klorampenikol. Akan tetapi kemungkinan terjadi anemia
aplastik lebih rendah dari kloram penikol. Dosis 4 x 500 mg di
berikan sampai hari ke 5 dan ke 6 bebas demam.
c. Kotrimoksazol
Dosis untuk orang dewasa 2 x 2 tablet dan di berikan selam 2
minggu.
d. Ampisilin danamoksisilin
Kemampuan obat ini untuk menurunkan demam lebih rendah di
bandingkan dengan Klorampenikol, dosis diberikan 50-150
mg/kgBB dan digunakan selama 2 minggu.
e. Seflosporin generasi ketiga
Hingga saat ini golongan seflosporin generasi ke tiga yang
terbukti efekti untuk demam typhoid adalah sefalosforin, dosis
yang dianjurkan adalah 3-4 gram dalam dektrose 100cc diberikan
selama ½ jam perinfus sekali sehari selam 3 hingga 5hari.
J. Asuhan Keperawatan
1. Riwayat keperawatan.
a. Kaji adanya gejala dan tanda meningkatnya suhu tubuh terutama
pada malam hari, nyeri kepala, lidah kotor, tidak nafsu makan,
epistaksis, penurunankesadaran.
b. Pada pengkajian anak dengan typhoid seperti ditemukan
timbulnya demam yang khas yang berlangsung selama kurang
lebih 3 minggu dan menurun pada pagi hari serta meningkat pada
sore dan malam hari, nafsu makan menurun, bibir kering dan
pecah-pecah, lidah kotor ujung dan tepinya kemerahan,adanya
meteorismus, terjadi pembesaran hati dan limfa, adanya
konstipasi dan bahkan bisa terjadi gangguan kesadaran seperti
apatis sampai somnolen, adanya bradikardia, kemungkinan terjadi
komplikasi seperti pendarahan pada usus halus, adanya perforasi
usus, peritonitis, peradangan pada meningen, bronkhopneumonia,
dan lain-lain. Pada pemeriksaan laboratorium dapat ditemukan
leukopenia dengan limfositosis relatif, pada kultur empedu
ditemukan kuman pada darah, urin, feses, dan uji serologis widal
menunjukkan kenaikan pada titer antibodi O lebih besar atau
sama dengan 1/200 dan H 1/200.
2. DiagnosaKeperawatan
a. Hipertermia berhubungan dengan proses penyakit (infeksi).
b. Nyeri akut berhubungan dengan prosesinfeksi.
c. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dari intake yang tidakadekuat..
d. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan intake yang tidak
adekuat.
e. Konstipasi berhubungan dengan penurunan mortilitas straktus
gastrointestinal (penurunan motilitas usus).
3. Intervensi Keperawatan

NO Diagnosa NOC NIC


1 Hipertermia Setelah dilakukan Fever treatment
berhubungan tindakan keperawatan 1. Monitor TTV
dengan proses selama 3x24 2. Kompres hangat bila
penyakit (infeksi). jammasalah hipertermi demam
teratasi dengan kriteria 3. Ajarkan indikasi dan
hasil: penanganan yang di
1. Suhu dalam perlukan
rentang normal 4. Kolaborasi pemberian
36,50C – 37,5 0C therapy
2. Nadi (60-100
x/menit) dan RR
(16-24 x/menit)
dalam rentang
normal
3. Tidak ada
perubahan warna
kulit
2 Nyeri akut Setelah dilakukan Pain Management
berhubungan tindakan 1. Observasi TTV
dengan keperawatan selama 2. Kaji nyeri
prosesinfeksi. 3x24 jam 3. Ajarkan tekhnik relaksasi
diharapakan kepada pasien
masalah nyeri pasien 4. Berikan analgetik sesuai
teratasi dengan program
kriteria hasil:
Pain Level
1. Adanya penurunan
intensitas nyeri
2. Ketidaknyaman
akibat nyeri
berkurang
3. Tidak menunjukan
tanda-tanda fisik dan
perilaku dalam nyeri
akut
3 Ketidakseimbangan Setelah dilakukan Nutrition Management
nutrisi kurang dari tindakan 1. Kajiadanyaalergi
kebutuhan tubuh keperawatan makanan
berhubungan dari selama 3x24 jam 2. Kolaborasi dengan
intake yang diharapakan ahli gizi untuk
tidakadekuat.. masalah menentukan jumlah
ketidakseimbangan kalori dan nutrisi
nutrisi pasien yangdi butuhkan
teratasi dengan pasien
kriteria hasil: 3. Anjurkan pasien
Nutrition Status: untuk meningkatkan
food and Fluid proteindan vitamin C
intake 4. Ajarkan pasien
1. Peningkatan bagaimana membuatt
beratbadan catatan makanan
2. Berat badan harian
ideal sesuai 5. Monitor jumlah kalori
dengan tinggi dannutrisi
badan 6. Kaji kemampuan
3. Tidak ada pasien untuk
tanda tanda mendapatkan nutrisi
malnutrisi yang dibutuhkan
4 Resiko Setelah dilakukan Fluid management
kekurangan tindakan keperawatan 1. Monitor status hidrasi
volume cairan selama 3x24 jam 2. Monitor TTV
berhubungan diharapakan masalah 3. Kolaborasi pemberian
intake yang tidak kekurangan volume cairan IV
adekuat. cairan pasien teratasi 4. Edukasi keluarga untuk
dengan kriteria hasil: membantu pasien makan
Nutritional Status: 5. Kolaborasi pemberian
food and Fluid therapy
intake
1. Memperhatikan
urine output
sesuai dengan
BB dan usia
2. TTV dalam batas
normal
3. Tidak ada tanda-
tanda dehidrasi

4. Implementasi Keperawatan
Setelah melakukan intervensi keperawatan, tahap selanjutnya
adalah mencatat intervensi yang telah dilakukan dan evaluasi respons
klien. Hal ini dilakukan karena pencatatan akan lebih akurat bila
dilakukan saat intervensi masih segar dalam ingatan. Tulislah apa yang
diobservasi dan apa yang dilakukan (Deswani, 2009).
Implementasi yang merupakan kategori dari proses keperawatan
adalah kategori dari perilaku keperawatan dimana tindakan yang
diperlukan untuk mencapai tujuan dan hasil yang diperkirakan dari
asuhan keperawatan dilakukan dan diselesaikan (Potter & Perry, 2005).
5. Evaluasi Keperawatan

Evaluasi adalah tahap akhir dari proses keperawatan. Namun,


evaluasi dapat dilakukan pada setiap tahap dari proses perawatan.
Evaluasi mengacu pada penilaian, tahapan dan perbaikan. Pada tahap
ini, perawat menemukan penyebab mengapa suatu proses
keperawatan dapat berhasil atau gagal (Alfaro-Lefevre, 1994 dalam
Deswani, 2009).
Pada tahap evaluasi, perawat dapat menemukan reaksi klien
terhadap intervensi keperawatan yang telah diberikan dan
menetapkan apakah sasaran dari rencana keperawatan dasar
mendukung proses evaluasi. Selain itu juga dapat menetapkan
kembali informasi baru yang ditunjukkan oleh klien untuk
mengganti atau menghapus diagnosa keperawatan, tujuan atau
intervensi keperawatan (Yura dan Walsh, 1988 dalam Deswani,
2009).
BAB III
TINJAUAN KASUS

Tanggal masuk RS : 30 Desember 2019


Jam masuk RS : 15.00 WIB
Tanggal Pengkajian : 30 Desember 2019
Jam Pengkajian : 17.15 WIB
No RM : 0.06.41.45
Diagnosa Masuk : Thypoid Fever
IDENTITAS:
A. IDENTITAS KLIEN
1. Nama Klien : Ny. A
2. Tanggal Lahir : 18 Juni 1995
3. Umur : 24 tahun
4. Suku / Bangsa : Sunda /Indonesia
5. Agama : Islam
6. Pendidikan : SLTA
7. Alamat : Kp. Cimanggis RT 03/02 Cibadak
B. IDENTITAS PENANGGUNG JAWAB
1. Nama Klien : Tn. B
2. Umur : 23 tahun
3. Suku / Bangsa :Sunda/Indonesia
4. Agama :Islam
5. Pendidikan : SLTA
6. Pekerjaan : Wiraswasta
7. Hubungan klien : Suami
8. Alamat : Kp. Cimanggis RT 03/02 Cibadak
RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG
1. Keluhan Utama
Klien mengatakan demam 38,3oC
2. Riwayat Penyakit Sekarang
Klien mengeluh demam (suhu 38oC) sejak 1 minggu yang lalu, demam
dirasakan naik turun pada sore hari menjelang malam, demam terasa
berkurang bila di istirahatkan sambil dikompres. Keluhan ini disertai mual,
lemas.

RIWAYAT PENYAKIT DAHULU


1. Pernah Dirawat : Tidak
- Kapan : klien mengatakan tidak pernah dirawat sebelumnya
- iagnosa : - tidak ada
2. Riwayat Penyakit Kronik dan Menular : Tidak
- Jenis : - Tidak ada
- Riwayat Kontrol : - Tidak ada
- Riwayat Penggunaan Obat: - Tidak ada
3. Riwayat Alergi : Tidak
- Jenis : - Tidak ada
Klien mengatakan tidak memiliki riwayat alergi berupa makanan
ataupun obat.
4. Riwayat Operasi : Tidak
- Kapan : - Tidak ada
Klien mengatakan belum pernah melakukan operasi tubuhnya.
RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA
- Riwayat Penyakit Keluarga : Tidak
- Jenis :-
Klien mengatakan orangtua/ibu klien tidak memiliki penyakit seperti
DM, Hipertensi, Asma dll
OBSERVASI DAN PEMERIKSAAN FISIK
1. Tanda-tanda Vital
TD : 120/80 mmHg
N : 85 x/menit
RR : 20 x/menit
S : 38,3o C
Berat Badan Awal : 65 kg, Berat Badan Sakit : 64 kg Tinggi Badan :
165 cm IMT : 23,8
Kesadaran : Compos mentis
Keadaan Umum : Tampak lemah
2. Sistem Pernapasan :
Tidak terdapat sesak/nyeri waktu napas. Ada batuk tetapi tidak terdapat
sekret. Irama napas teratur, tidak terdapat dipsneu kusmaul/ceyne stoks.
Suara napas vesikuler, tidak terdapat bronco vesikuler/ronki/wheezing.
Tidak menggunakan alat bantu napas.
 Masalah Keperawatan : -
3. Sistem Kardiovaskuler :
Tidak terdapat keluhan nyeri dada. Irama jantung regular, tidak terdapat
irama ireguler/ ireguler S1/ireguler S2. Suara jantung normal, tidak
terdapat suara jantung murmur/gallop. CRT < 2 detik. JVP Normal, Tidak
ada peningkatan jugularis vena pressure.
 Masalah Keperawatan : -
4. Sistem Persyarafan
Keasadaran Compos mentis GCS 15 (E4 M6 V5). Reflekfisiologi seperti
Patella positif, Reflekfisiologi seperti trisep Positif, Reflekfisiologi seperti
biseps positif. Reflek patologis seperti kernig positif. Keluhan pusing
sudah tidak dirasakan. Pupil isokor, reflek cahaya positif, dengan diameter
2 mm. Sklera merah muda, konjungtiva merah muda, sclera dan
konjungtiva ridak terdapat anemis/ikterus. Tidak terdapat gangguan
pendengaran. Tidak terdapat gangguan pandang. Tidak terdapat gangguan
penciuman. Istirahat/tidur 6-8 jam perhari, tidak terdapat gangguan tidur.
 Masalah Keperawatan : -
5. Sistem Perkemihan
Kebersihan reproduksi (tidak dikaji karna privacy). Tidak terdapat
keluhan kencing seperti nokturia/gross hematuri/disuria/retensi/anuria/
inkontinensia/poliuria/oliguria/hesistensi. Produksi urine ±750 - ± 1400cc
perhari, warna urine kuning jernih, bau urine khas. Tidak terdapat nyeri
tekan pada kandung kemih. Tidak menggunakan alat bantu cateter.
Masalah Keperawatan : -
6. Sistem Pencernaan
Mulut bersih, mulut tidak kotor/berbau. Mukosa bibir lembab, mukosa
tidak kering/stomatitis. Tenggorokan tidak terdapat sakit
menelan/kesulitan menelan/pembesaran tonsil/nyeri tenggorokan. Tidak
ada nyeri tekan abdomen. Tidak terdapat luka operasi pada abdomen.
Peristaltik usus 8x/menit. BAB 1x perhari. Nafsu makan menurun,
frekuensi makan 3x per hari , porsi makan habis ¼ porsi, terdapat mual.
Intake cairan peroral ±1000cc sampai ±1200 cc perhari
Masalah Keperawatan : Mual
7. Sistem Muskuloskletal dan Integumen
Pergerakan sendi bebas dalam batas normal seorang
manusia, tidak terdapat pergerakan sendi yang tidak bebas 5 5 atau
abnormal. Kekuatan otot . 4 4
Tidak terdapat kelainan estremitas. Tidak terdapat kelainan tulang
belakang. Tidak terdapat fraktur, tidak terpasang traksi/spalk/gips, tidak
terdapat kompartemen syindrom. Kulit tidak terdapat
ikterik/sianosis/hiperpigmentasi/kemerahan. Turgor kulit baik (elastis).
Akral panas (suhu 38,3oC) Tidak terdapat luka.
 Masalah keperawatan :
8. Sistem Endokrin
Tidak terdapat pembesaran kelenjar tiroid. Tidak terdapat pembesaran
kelenjar getah bening. Tidak terdapat hiperglikemi/hipoglikemi. Tidak
terdapat luka gangrene.
 Masalah Keperawatan : -
PENGKAJIAN PSIKOSOSIAL
a. Persepsi Klien Terhadap Penyakitnya :
Klien menganggap penyakit yang dideritanya merupakan cobaan dari
Tuhan
b. Ekspresi Klien Terhadap Penyakitnya :
Klien menunjukan ekspresi sakitnya dengan cara diam dan mau
bekerja sama dalam mengatasi masalah kesehatannya.
c. Reaksi Saat Interaksi
Reaksi interaksi klien kooperatif terbukti dengan keterbukaan klien
dalam memberikan informasi terkait maslah kesehatannya
d. Gangguan Konsep Diri
Klien tidak mengalami gangguan konsep diri
Masalah Keperawatan : -

POLA AKTIFITAS SEHARI HARI

NO DATA BIOLOGIS SEBELUM SAAT SAKIT


SAKIT
1. Pola makan
- Frekuensi 3 x sehari 3 x sehari
- Jenis Nasi,ikan,sayur lunak
- Porsi 1 porsi ¼ porsi
- Diet Tidak ada Tidak ada
- Keluhan Tidak ada Ada
(mual)
2. Pola minum
- Frekuensi 5 - 6 gelas /hari 5- 6 gelas /hari
- Jumlah ±1500 cc/hari ± 1000cc /hari
- Jenis Air putih Air putih
- Pantangan Tidak ada Tidak ada
- Keluhan Tidak ada Tidak ada
3. Pola eliminasi BAB 3 x sehari 1 x sehari ±100
- Frekuensi Kuning cc
- Warna Khas feses kuning
- Bau lembek khas fese
- Konsistensi Tidak ada lembek
- Keluhan tidak ada
4. Pola eliminasi BAK
- Frekuensi 6 – 8 x/hari 6 - 7 x/hari
- Warna Kuning jernih Kuning jernih
- Bau Khas urin Khas urin
- Jumlah ± 2000 cc ± 1400 cc
- Alat bantu Tidak ada Tidak ada
- Gangguan Tidak ada Tidak ada
- Keluhan Tidak ada Tidak ada
5. Pola istirahat tidur
- Lama tidur siang ± 1 jam ± 2-3 jam
- Lama tidur malam ± 8 jam ± 6 jam
- Kebiasaan pengantar Berdoa Berdoa
tidur
- Kesulitan tidur Tidak ada Tidak ada

6. Pola kebersihan (personal


hygiene) :
- Mandi 3 x sehari 1 x sehari
- Mencuci rambut 1 x /2 hari (Dilap)
- Sikat gigi 2 x sehari Tidak pernah
- Mengganti pakaian 3 x sehari 1 x sehari
1 x sehari
7. Pola aktivitas dan olahraga
- Jenis pekerjaan karyawan Tidak ada
- Waktu bekerja Jam 08.00 s/d jam Tidak ada
16.00
- Lama bekerja 8 jam Tidak ada
- Jenis olahraga Tidak ada Tidak ada
- Frekuensi olahraga Tidak ada Tidak ada
- Kegiatan diwaktu Beristirahat Tidur dan
luang berbaring

- Keluhan Tidak ada Lemas dan


panas badan

BALANCE CAIRAN

IWL :15 x BB = 15 x 64 = 40cc/jam


24 jam 24 jam
Jadi dalam 24 jam menjadi 40 x 24 = 960cc/24 jam
IWL kenaikan suhu = IWL normal + 200 (suhu tinggi – suhu normal)
= 960 + 200 (38 – 36,5)
= 1160 (1,5)
= 1740 cc / 24 jam
Perhitungan Balance Cairan (dalam 24 jam)
Intake RL = 1500cc/24 jam
Minum = 1000 cc
Obat IV = 40 cc
Air metabolisme = 350

Output Urine = 1400 cc


Feses = 100 cc
IWL = 960
Balance Cairan = Intake – Output
= 2890 – 2460 = 430/24 jam
PENGKAJIAN SPIRITUAL
a. Kebiasaan Beribadah Sebelum Sakit : Sering (tidak meninggalkan shalat 5
waktu)
b. Kebiasaan Beribadah Selama Sakit : Sering (tidak meninggalkan shalat 5
waktu)
c. Masalah Keperawatan : -

PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Laboratorium
Tanggal 30-12-2019 / Pukul 16.00 WIB
Pemeriksaan Hasil Nilai Normal Satuan Keterangan
HEMATOLOGI
RUTIN 1
Hemoglobin 15,4 12.0 – 14.0 g/dl Meningkat
Hematokrit 45,9 36.0 – 46.0 %
Jumlah Leukosit 8,300 4.500 – 11.000 /µl
Jumlah Trombosit 308.000,00 150.000 – /µl
350.000
SEROLOGI WIDAL
Typhi – O 1/320 NEGATIF
Paratyphi - A O 1/80 NEGATIF -
Paratyphi - B O 1/320 NEGATIF
Paratyphi - C O 1/80 NEGATIF
Typhi – H 1/320 NEGATIF
Paratyphi - A H 1/80 NEGATIF -
Paratyphi - B H 1/320 NEGATIF
Paratyphi - C H 1/160 NEGATIF
OBAT YANG DITERIMA

Nama Obat Dosis


1. Paracetamol tab 3 x 500 mg
2. Ceftriaxone 1 x 2 gr
3. Omeprazole 2 x 40 mg

ANALISA DATA

Nama : Ny. A

No. RM : 0.06.41.45

Ruang : IRNA 4

Tanggal : 30 Desember 2019

No Pengelompokan Data Etiologi Problem


1 Ds : Klien mengeluh demam, Infasi bakteri Peningkatan Suhu
sakit kepala Tubuh
Peradangan padea saluran
Do : pencernaan
 Akral hangat
 Konjungtiva anemis Merangsang susuna saraf
 Mukosa bibir kering otonom di hipotalamus yang

 Suhu 38,3o C mengatasi suhu

 Hasil Lab : Typhi – O


1/320, Paratyphi - B O Peningkatan suhu tubuh

1/320, Paratyphi –
B H 1/320, Paratyphi
– C H 1/160
2 Ds : Klien mengatakan mual, Infasi bakteri Resiko kekurangan
mual jika makan, klien nutrisi kurang dari
mengatakan selera makan Peradangan padea saluran kebutuhan tubuh
menurun pencernaan

Do: Sebagian di musnahkan asam


 Porsi makan tidak lambung
habis, hanya
seperempat porsi Peningkatan asam lambung
 Ada penurunan berat
badan Mual
BB Sebelum Sakit :
65, BB Saat Sakit : 64 Intake kurang (in adekuat)
 Tampak tidak nafsu
makan karena mual Resiko kekurangan nutrisi
kurang dari kebutuhan tubuh
3 DS : Kelemahan otot Gangguan Pola
pasin mengatakan lemas Aktivitas
DO : Kehilangan sebagian
 Pasien tampak lemas kekuatan dan fungsi
 Aktivitas dibantu keluarga normalnya
 kekuatan otot 5 5
4 4 Fungsi mobilisasi terganggu

Gangguan pola aktivitas

DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Hipertermi tubuh b.d proses inflamasi


2. Resiko kekurangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d intake tidak
adekuat
3. Gangguan pola aktivitas b.d kelemahan fisik
INTERVENSI KEPERAWATAN
Perencanaan
D
X Tujuan Intervensi Rasional

1 TUPAN: 1. Observasi TTV/ shift 1. tanda-tanda vital


Setelah tindakan merupakan acuan
keperawatan 3 x 24 jam untuk mengetahui
suhu tubuh dalam batas keadaan umum pasien
normal (36.5-37.5)
TUPEN : 2. Berikan penjelasan 2. agar pasien dan
Setelah tindakan kepada pasien dan keluarga mengetahui
keperawatan 1 x 24 jam keluarga tentang sebab dari
demam berkurang, dengan kompres hangat peningkatan suhu dan
kriteria: membantu
 Pasien melaporkan mengurangi
penurunan suhu tubuh kecemasan yang
 Turgor kulit membaik timbul.
 Suhu dalam batas 3. untuk menjaga agar
3. Anjurkan pasien
normal 36,50C-37,50C pasien merasa
menggunakan pakaian
nyaman, pakaian tipis
tipis dan menyerap
akan membantu
keringat
mengurangi
penguapan tubuh.
4. Batasi pengunjung dan 4. agar pasien merasa
atur suhuruangan tenang dan udara di
dalam ruangan tidak
terasa panas.
5. peningkatan suhu
5. Anjurkan pasien untuk
tubuh mengakibatkan
banyak minum,
penguapan tubuh
minum min 12
meningkat sehingga
gelas/hari.
perlu diimbangi
dengan asupan cairan
yang banyak
6. Ajarkan keluarga dan 6. peningkatan suhu
pasien untuk kompres tubuh mengakibatkan
hangat di daerah penguapan tubuh
ketiak dan lipatan meningkat sehingga
lainnya. perlu diimbangi
dengan kompres air
hangan
7. Berikan therapi obat 7. antibiotik untuk
sesuai advice dokter mengurangi infeksi
dan kondisi pasien, dan antipiretik untuk
mengurangi panas.

2 TUPAN : 1. Jelaskan pada klien 1. untuk


Setelah dilakukan dan keluarga meningkatkan
tindakan 3 x 24 jam tentang manfaat pengetahuan klien
masalah nutrisi teratasi makanan/nutrisi. tentang nutrisi
TUPEN : sehingga motivasi
Setelah tindakan 1 x 24 untuk makan
jam masalah nutrisi meningkat.
teratasi dengan kriteria :
 Pasien mampu
mempertahankan 2. Beri makanan 2. untuk
kebutuhan nutrisi dalam porsi kecil meningkatkan
adekuat dan frekuensi asupan makanan
 Nafsu makan sering. karena mudah
bertambah ditelan.
 Tidak ada mual
3. Beri nutrisi dengan 3. Nutrisi parenteral
diet lembek, tidak dibutuhkan
mengandung terutama jika
banyak serat, tidak kebutuhan nutrisi
merangsang, per oral sangat
maupun kurang.
menimbulkan
banyak gas dan
dihidangkan saat
masih hangat.
4. Berikan therapi 4. untuk
obat sesuai advice menghindari mual
dokter dan kondisi dan muntah.
pasien mengurangi rasa
mual dan muntah.

3 TUPAN: 1. Kaji kemampuan 1. untuk mengetahui


Setelah tindakan pasien dalam sejauh mana
keperawatn 3 x 24 jam beraktivitas (makan, kelemahan yang
mobilisasi tidak terganggu minum). terjadi.
2. Beri motivasi pada 2. agar pasien dan
TUPEN : pasien dan kelurga keluarga mengetahui
Setelah tindakan untuk melakukan pentingnya mobilisasi
keperawatan 1 x 24 jam mobilisasi sebatas bagi pasien yang
fungsi mobilisasi mulai kemampuan (misal. bedrest
normal kembali , dengan Miring kanan, miring
kriteria: kiri).
 Kebutuhan personal 3. Dekatkan keperluan 3. untuk mempermudah
terpenuhi pasien dalam pasien dalam
 Dapat melakukan jangkauannya. melakukan aktivitas.
gerakkan yang 4. Berikan latihan 4. Menghindari
bermanfaat bagi tubuh. mobilisasi ROM pasif kekakuan sendi dan
secara bertahap mencegah adanya
sesudah demam dekubitus
hilang.

IMPLEMENTASI
Shift : Siang
Tanggal : 30 Desember2019
PROBLEM IMPLEMENTASI Paraf EVALUASI
Peningkatan Jam : 16.35 WIB Rini Jam : 19.45
suhu tubuh 1. Mengobservasi TTV/ shift S:
R/ TD : 120/80 mmHg, N : Pasien
85x/menit, R : 20x/menit, mengatakan
S: 38,30C masih demam
Jam 16.37 WIB O:
2. Memberikan penjelasan TD : 120/80
kepada pasien dan keluarga mmHg
tentang Kompres hangat N : 85x/menit, R
penurun demam : 20x/menit,
R/ pasien dan keluarga S: 38,30C
mengerti Pasien mengerti
Jam : 17.39 WIB anjuran perawat
3. Menganjurkan pasien A:
menggunakan pakaian tipis Peningkatan suhu
dan menyerap keringat tubuh teratasi
R/ pasien menggunakannya sebagian
Jam 19.00 P:
4. Membatasi pengunjung dan Intervensi
mengatur suhu ruangan 1,4,5,dilanjutkan
R/ Keluarga pasien
mengerti
Jam : 17.45WIB
5. Menganjurkan pasien
untuk banyak minum

Resiko Jam 17.00 wib Rini Jam 19.45 wib


gangguan 1. Menjelaskan pada klien S:
nutrisi dan keluarga tentang Pasien mengatakan
kurang dari manfaat mual masih belum
kebutuhan makanan/nutrisi. berkurang
tubuh O:
R/ pasien mengerti
Pasien mengerti
Jam 18.00
penjelasan perawat,
2. Memberikan makanan
makan habis ½ porsi.
dalam dalam kondisi
A:
hangat
Masalah gangguan
R/ makanan habis ½ porsi nutrisi teratasi
sebagian
P:
Intervensi 1,2,3
dilanjutkan
Gangguan Jam : 18.00 WIB Rini Jam : 19.45
Pola 1. Mengkaji kemampuan S:
Aktivitas pasien dalam beraktivitas Pasien
(makan, minum). mengatakan
R/ pasien masih bisa makan masih lemes
sendiri O:
Jam : 18.10WIB Pasien tampak
2. Memberi motivasi pada lemes
pasien dan kelurga untuk Kekuatan otot 5
melakukan mobilisasi 5
sebatas kemampuan (misal. 44
Miring kanan, miring kiri) A:
R/ pasien mengerti Masalah teratasi
Jam : 18.45 WIB sebagian
3. Mendekatkan keperluan P:
pasien dalam jangkauannya Intervensi
R/ keluarga pasien mengerti 1,2,3,dilanjutkan

Shift : Malam
Tanggal : 30 Desember 2019
PROBLEM IMPLEMENTASI Paraf EVALUASI
Peningkatan Jam : 05.30 WIB Zr. Jam : 06.45 wib
suhu tubuh 1. Mengobservasi TTV/ shift Fatimah S:
R/ TD : 120/80 mmHg, Pasien
N: 85x/menit, R : mengatakan
20x/menit, demam
S: 37,20C berkurang
Jam 21.00 WIB O:
2. Membatasi pengunjung TD : 120/80
dan mengatur suhu mmHg, N :
ruangan 85x/menit, R :
R/ Keluarga pasien 20x/menit,
mengerti S: 37,20C
Jam : 21.15WIB Pasien mengerti
3. Menganjurkan pasien anjuran perawat
untuk banyak minum A:
Peningkatan suhu
Jam : 20.01 WIB
tubuh teratasi
4. Memberikan therapy
sebagian
obat pct tablet 500 mg
P:
& ceftriaxone 2 gr via
Intervensi
IV 1,2,3,4,dilanjutkan
R/ obat terlayani via
injeksi, tidak terdapat
alergi.
Resiko Jam 18.00 Zr Jam 06.45 wib
gangguan 1. memberikan therapy obat Fatimah S:
nutrisi omeprazole 40mg Pasien mengatakan
kurang dari R/ therapy obat terlayani via mual berkurang
kebutuhan injeksi tidak terdapat alergi O:
tubuh Obat mual terlayani
A:
Masalah gangguan
nutrisi teratasi
sebagian
P:
Intervensi 1,2,3
dilanjutkan
Gangguan Jam : 21.30 WIB Zr Jam : 06.45 Wib
Pola 1. Memberi motivasi pada Fatimah S:
Aktivitas pasien dan kelurga untuk Pasien
melakukan mobilisasi sebatas mengatakan
kemampuan (misal. Miring lemes sudah
kanan, miring kiri) berkurang
R/ pasien mengerti
Jam : 22.00 WIB
2. Mendekatkan keperluan O:
pasien dalam Pasien tidak
jangkauannya tampak lemes
R/ keluarga pasien Kekuatan otot 5
mengerti 5
44
A:
Masalah teratasi
sebagian
P:
Intervensi
1,2dilanjutkan

CATATAN PERKEMBANGAN
Hari ke : 1 (satu)
Tanggal : 31 Desember 2019
NO
PERKEMBANGAN PARAF
DX
1 Hipertermi

Jam 07.00 (31 Desember2019)

S : Pasien mengatakan demam berkurang


O : - TD: 110/80 mmHg, N:80x/menit, S:36.90C, R:20x/menit
A : Hipertermi teratasi sebagian
P : Intervensi 1,4,5,6 dilanjutkan
I : Jam 10.30 Mengobservasi TTV/ shift Zr. Putri
0
R/TD: 110/80 mmHg, N:80x/menit, S:36.9 C,
R:20x/menit Zr. Putri
Jam 10.05 Menganjurkan pasien menggunakan pakaian tipis
dan menyerap keringat
R/ pasien menggunakannya Zr. Putri
Jam 10.10 Membatasi pengunjung dan mengatur suhu
ruangan
R/ Keluarga pasien mengerti
Jam 09.00 Menganjurkan pasien untuk banyak minum Zr. Rini

Jam 13.00 Melanjutkan dalam pemberian antipiretik pct 3x1


tab Zr. Rini

R/ Terapi Paracetamol terlayani via oral, tidak


terdapat alergi
Jam 15.00 Observasi TTV/ shift Zr. Mega
R/TD: 120/80 mmHg, N:80x/menit, S:36.50C,
R:20x/menit
Jam 15.03 Membatasi pengunjung dan mengatur suhu Zr. Mega
ruangan
R/ Keluarga pasien mengerti Zr. Nisa
Jam 20.00 Melanjutkan dalam pemberian antipiretik pct 3x1
tab
R/ Terapi Paracetamol terlayani via oral Zr. Nisa
Jam 21.00 Mengobservasi TTV/ shift
R/TD: 120/80 mmHg, N:82x/menit, S:36.70C,
R:20x/menit Br. Joko

Jam 21.03 Membatasi pengunjung dan mengatur suhu


ruangan
R/ Keluarga pasien mengerti
Br. Joko
Jam 21.00 Melanjutkan dalam pemberian therapi antibiotik
ceftriaxone 2x1 gr
R/ Terapi Ceptriaxone terlayani via injeksi
Jam 05.00 Melanjutkan dalam pemberian antipiretik
Paracetamol 4x1 tab
R/ Terapi Paracetamol terlayani via oral
Jam 06.45 (31 Desember 2019)

E : Pasien mengatakan tidak terlalu merasa panas


- Akral hangat
- Suhu tubuh 36,7 C
R : Therapy lanjut
1. Observasi TTV/ shift

2. Berikan penjelasan kepada pasien dan keluarga tentang


kompres hangat
3. Anjurkan pasien menggunakan pakaian tipis dan
menyerap keringat
4. Batasi pengunjung dan atur suhu ruangan
5. Anjurkan pasien untuk banyak minum, minum 6-8 gelas
/ 24 jam
6. Lanjutkan therapy antibiotik dan antipiretik (ceftriaxone
1x2gr, dan pct 3x500 mg tab)

2 Resiko gangguan Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

Jam 07.00 (31 Desember2019)

S : Pasien mengatakan mual berkurang


O : - Makan habis setengah porsi
- Obat omeprazole terlayani
A : Gangguan nutrisi teratasi sebagian Br.
P : Intervensi 1,3,4dilanjutkan Werry
I : Jam 07.30 Menjelaskan pada klien dan keluarga tentang
manfaat makanan/nutrisi. Br.
R/ pasien mengerti Werry
Jam 07.30 Memberikan makanan dalam dalam kondisi
hangat Zr. Mega
R/ makanan habis 1 porsi
Jam 09.00 Memberikan therapy omeprazole 40 mg dan
lapisiv
R/ therapy obat Omeprazole terlayani via injeksi

Zr. Mega

Jam 18.00 Memberikan makanan dalam dalam kondisi


hangat Br. Joko

R/ makanan habis 1 porsi


Jam 21.00 Memberikan therapy omeprazole 40 mg dan
R/ therapy obat Omeprazole terlayani
Jam 06.45 wib (01 Januari 2020)

E : Pasien mengatakan mual berkurang


- Makan habis 1 porsi
- Bising usus 12x/menit
- pasien mengerti anjuran perawat

R : therapy lanjut
1. Jelaskan pada klien dan keluarga tentang manfaat makanan/nutrisi.
3. Beri makanan dalam porsi kecil dan frekuensi sering.
4. Beri nutrisi dengan diet lembek, tidak mengandung banyak serat,
tidak merangsang, maupun menimbulkan banyak gas dan dihidangkan
saat masih hangat.
5. lanjutkan therapy obat anti emethic (omeprazole 2x40 mg)

3 Gangguan Pola Aktivitas

Jam 07.00 (31 Desember 2019)

S : Pasien mengatakan lemas berkurang


O : - Aktivitas terbatas terpasang infuse
- Sudah tidak tampak lemas
A : Gangguan pola aktivitas teratasi sebagian
P : Intervensi 1,2,3,4 dilanjutkan Zr. Futri
I : Jam 08.08 Memberi motivasi pada pasien dan kelurga untuk
melakukan mobilisasi sebatas kemampuan
(misal. Miring kanan, miring kiri)
R/pasien mengerti Zr. Futri
Jam 11.30 Mengkaji kemampuan pasien dalam beraktivitas
(makan, minum).
R/ pasien masih bisa makan sendiri Zr. Futri
Jam 11.28 Menganjurkan untuk mendekatkan keperluan
pasien dalam jangkauannya Zr.
R/ keluarga pasien mengerti Ummi
Jam 08.10 Memberikan latihan mobilisasi secara bertahap
sesudah demam hilang
R/ pasien mengikuti apa yang diperintahkan. Zr. Rini
Jam 17.00 Memberi motivasi pada pasien dan kelurga untuk
melakukan mobilisasi sebatas kemampuan
(misal. Miring kanan, miring kiri)
R/pasien mengerti Zr. Rini
Jam 17.30 Mengkaji kemampuan pasien dalam beraktivitas
(makan, minum).
R/ pasien masih bisa makan sendiri Zr. Rini
Jam 17.28 Menganjurkan untuk mendekatkan keperluan
pasien dalam jangkauannya
R/ keluarga pasien mengerti
Zr. Putri
Jam 17.05 Memberikan latihan mobilisasi secara bertahap
sesudah demam hilang Zr. Puti
R/ pasien mengikuti apa yang diperintahkan.
Jam 06.00 Memberi motivasi pada pasien dan kelurga untuk Zr. Putri
melakukan mobilisasi sebatas kemampuan
(misal. Miring kanan, miring kiri)
R/pasien mengerti
Jam 06.45 Mengkaji kemampuan pasien dalam beraktivitas Zr. Putri
(makan, minum).
R/ pasien masih bisa makan sendiri
Jam 06.40 Menganjurkan untuk mendekatkan keperluan
pasien dalam jangkauannya
R/ keluarga pasien mengerti

Jam 06.10 Memberikan latihan mobilisasi secara bertahap


sesudah demam hilang
R/ pasien mengikuti apa yang diperintahkan.
Jam 06.45 (01 Januari 2020)

E : Pasien mengatakan lemas berkurang


- Pasien tampak ada tenaga
- Pasien terpasang infus

R : Therapy lanjut
1. Kaji kemampuan pasien dalam beraktivitas (makan, minum).
2. Beri motivasi pada pasien dan kelurga untuk melakukan
mobilisasi sebatas kemampuan (misal. Miring kanan,
miring kiri).
3. Dekatkan keperluan pasien dalam jangkauannya.
4. Berikan latihan mobilisasi ROM pasif secara bertahap
sesudah demam hilang.

Hari ke : 2 (Dua)
Tanggal : 01 Januari 2020
NO
PERKEMBANGAN PARAF
DX
1 Hipertermi

Jam 07.00 (01 Januari 2020)

S : Pasien mengatakan demam berkurang


O : - TD: 110/80 mmHg, N:80x/menit, S:36.70C, R:21x/menit
A : Peningkatan suhu tubuh teratasi sebagian
P : Intervensi 1,4,5,6 dilanjutkan
I : Jam 10.30 Mengobservasi TTV/ shift Zr. Ummi
0
R/TD: 110/70 mmHg, N:80x/menit, S:36.4 C,
R:20x/menit Zr. Ummi
Jam 10.05 Menganjurkan pasien menggunakan pakaian tipis
dan menyerap keringat
R/ pasien menggunakannya
Zr. Ummi
Jam 10.10 Membatasi pengunjung dan mengatur suhu
ruangan Zr. Nisa
R/ Keluarga pasien mengerti
Jam 09.00 Menganjurkan pasien untuk banyak minum

Jam 13.00 Melanjutkan dalam pemberian antipiretik pct 3x1


tab
R/ Terapi obat Paracetamol terlayani via oral
Jam 15.00 Mengobservasi TTV/ shift Zr. Nisa
0
R/TD: 120/80 mmHg, N:80x/menit, S:36.5 C,
R:20x/menit
Jam 15.03 Membatasi pengunjung dan mengatur suhu
ruangan
R/ Keluarga pasien mengerti
Jam 16.00 (01 Januari 2020)

E : Pasien mengatakan demam turun


- Akral hangat
- Suhu tubuh 36,4 C
R : Therapy dihentikan

2 Resiko Gangguan Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

Jam 07.00 (01 Januari 2020)

S : Pasien mengatakan mual berkurang


O : - Makan habis 1 porsi
- Obat omeprazole terlayani
A : Gangguan nutrisi teratasi sebagian Zr. Rini
P : Intervensi 1,3,4dilanjutkan
I : Jam 07.30 Menjelaskan pada klien dan keluarga tentang Zr. Rini
manfaat makanan/nutrisi.
R/ pasien mengerti
Jam 07.30 Memberikan makanan dalam dalam kondisi
hangat Zr. Rini
R/ makanan habis 1 porsi
Jam 09.00 Memberikan therapy omeprazole 40 mg dan Zr. Rini
R/ therapy obat Omeprazole terlayani

Jam 16.00 wib (01 Januari 2020)

E : Pasien mengatakan mual berkurang


- Makan habis 1 porsi
- pasien mengerti anjuran perawat

therapy dihentikan
R :

3 Gangguan Pola Aktivitas

Jam 07.00 (01 Januari 2020)

S : Pasien mengatakan lemas berkurang


O : - Aktivitas terbatas terpasang infus
- Sudah tidak tampak lemas
A : Gangguan pola aktivitas teratasi sebagian
P : Intervensi 1,2,3,4 dilanjutkan Zr. Rini

Zr. Mega
I : Jam 08.08 Memberi motivasi pada pasien dan kelurga untuk
melakukan mobilisasi sebatas kemampuan
(misal. Miring kanan, miring kiri) Zr. Mega
R/pasien mengerti
Jam 11.30 Mengkaji kemampuan pasien dalam beraktivitas
(makan, minum).
R/ pasien masih bisa makan sendiri Zr.Nisa
Jam 11.28 Menganjurkan untuk mendekatkan keperluan
pasien dalam jangkauannya
R/ keluarga pasien mengerti
Zr. Putri

Jam 08.10 Memberikan latihan mobilisasi secara bertahap


sesudah demam hilang
R/ pasien mengikuti apa yang diperintahkan.
Jam 15.00 Memberi motivasi pada pasien dan kelurga untuk
Zr. Putri
melakukan mobilisasi sebatas kemampuan
(misal. Miring kanan, miring kiri)
R/pasien mengerti
Jam 15.30 Mengkaji kemampuan pasien dalam beraktivitas
(makan, minum).
R/ pasien masih bisa makan sendiri
Jam 16.00 (01 Januari 2020)

E : Pasien mengatakan lemas berkurang


- Pasien tampak ada tenaga
- Pasien terpasang infus

R : Therapy dihentikan

Evaluasi : Intervensi dihentikan karna pasien pulang setelah menjalani


perawatan intensif selama 3 hari. Intervensi yang diberikan selama 3 hari
efektif karena pasien sudah tidak mengalami kenaikan suhu, adanya perbaikan
dalam nutrisi dan berkurangnya rasa lemas.
BAB IV
PEMBAHASAN

A. Pengkajian
Menurut Nursalam (2008) keluhan utama pada pasien dengan
thypoid feveradalah perasaan tidak enak badan, lesu, nyeri kepala, pusing,
dan kurang bersemangat serta nafsu makan berkurang (terutama selama
masa inkubasi).
Dalam pengkajian di dapatkan hasil yaitu klien mengeluh demam
dengan suhu 38,3oC, disertai mual dan porsi makan tidak habis dan badan
terasa lemas, di mana di dapatkan hasil tekanan darah: 120/80 mmhg, nadi:
85x/menit respirasi rate: 20x/menit suhu badan: 38,3oC, nafsu makan klien
menurun dikarenakan adanya mual. Hal yang menyebabkan pasien
mengalami demam yaitu pola makan yang tidak sesuai dengan kondisi
klien dan jadwal makan yang tidak teratur.
B. Diagnosa
Diagnosa keperawatan adalah penilaian klinis tentang respon
individu, keluarga atau masyarakat terhadap masalah kesehatan atau
proses kehidupan yang aktual atau potensial. Diagnosa keperawatan
menjadi dasar pemilihan intervensi keperawatan untuk mencapai tujuan
yang merupakan tanggung jawab perawat(Nanda. (2015).
Menurut Nanda NIC-NOC (2014) diagnosa keperawatan yang
muncul untuk pasien demam thypoid adalah :
1. Hipertermia berhubungan dengan proses infeksi salmonella typhi
2. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan intake cairan tidak
adekuat
3. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis
4. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan malabsorbsi
nutrien
Berdasarkan pengkajian dan analisa data yang dilakukan pada
kasus pasien Ny. A ditemukan ada 3 diagnosa keperawatan yaitu :
1. Hipertermi b.d proses inflamasi d.d klien mengeluh demam, sakit
kepala, akral hangat, suhu 38,30C
2. Resiko Gangguan nutrisi b.d mual klien mengatakan mual, mual jika
makan , klien terlihat mual saat makan, makan habis setengah porsi
3. Gangguan pola aktivitas b.d kelemahan fisik, klien mengatakan
lemas, nyeri pada sendi
C. Intervensi
Intervensi adalah rencana keperawatan yang akan penulis
rencanakan kepada klien sesuai dengan diagnosa yang ditegakkan
sehingga kebutuhan pasien dapat terpenuhi (Wilkinson, 2011).
Dari tiga diagnosa keperawatan selanjutnya dibuat rencana keperawatan
sebagai tindakan pemecahan masalah keperawatan dimana penulis
membuat rencana keperawatan berdasarkan diagnosa keperawatan
kemudian menetapkan tujuan dan kriteria hasil, selanjutnya menetapkan
tindakan yang tepat.
D. Implementasi
Implementasi yang merupakan kategori dari proses keperawatan
adalah kategori dari perilaku keperawatan dimana tindakan yang
diperlukan untuk mencapai tujuan dan hasil yang diperkirakan dari asuhan
keperawatan dilakukan dan diselesaikan. (Wilkinson, 2011).
Pelaksanaan tindakan yang di lakukan atau implementasi di
dasarkan atas intervensi yang disusun sebelumnya maka tindakan
keperawatan dari diagnosa keperawatan yang pertama yaitu hipertermi
berhubungan dengan proses inflamasi yaitu : menganjurkan klien untuk
banyak minum, menganjurkan klien untuk banyak istirahat, menganjurkan
klien untuk menggunakan pakaian yang tipis dan dapat menyerap keringat,
memerikan kompres hangat pada dahi, ketiak dan selangkangan saat
demam, paracetamol 500 mg.
Tindakan yang di lakukan dari diagnosa keperawatan yang kedua
yaitu Resiko gangguan nutrisi b.d mual yaitu: menganjurkan makan dalam
porsi kecil tapi sering, menganjurkan nutrisi dengan diet lembek, tidak
mengandung banyak serat tidak merangsang, maupun menimbulkan
banyak gas, dihidangkan saat hangat, melanjutkan pemberian therapi
Omeprazole 2x40 mg.
Tindakan yang dilakukan dari diagnosa keperawatan yang ktiga
yaitu gangguan pola aktivitas b.d kelmahan fisik yaitu: mengkaji
kemampuan pasien dalam beraktivitas, memberikan motivasi pada pasien
dan keluarga untuk melakukan mobilisasi sebatas kemampuan (miring
kanan, miring kiri), menganjurkan pada keluarga mendekatkan keperluan
pasien dalam jangkauannya, memberikan latihan ROM pasif secara
bertahap sesudah demam hilang.
E. Evaluasi
Evaluasi adalah tahap akhir dari proses keperawatan. Namun,
evaluasi dapat dilakukan pada setiap tahap dari proses perawatan.
Evaluasi mengacu pada penilaian, tahapan dan perbaikan. Pada tahap ini,
perawat menemukan penyebab mengapa suatu proses keperawatan dapat
berhasil atau gagal (Alfaro-Lefevre, 1994 dalam Deswani, 2009).
Untuk evaluasi selama 3x24 jam di dapatkan hasil dari diagnosa
yang pertama menunjukan hasil bahwa klien sudah tidak merasakan
demam, suhu normal 37,5oC. Dari diagnosa yang kedua yaitu dengan
menunjukkan hasil: mual sudah berkurang dan mau makan sedikit-sedikit.
Dari diagnosa yang terakhir yaitu klien sudah bisa memenuhi kebutuhan
aktivitasnya.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Setelah melakukan asuhan keperawatan selama tiga hari dan melakukan
pengkajian kembali baik secara teoritis maupun secara tinjauan kasus di dapat
kansimpulan sebaga iberikut :
a) Pada pengkajian yang dilakukan didapat dari pasien dengan cara pengkajian
head to toe pada pasien, observasi dan wawancara kepada pasien sebagai data
sekunder, dan data primer didapatkan catatan medic passion dan hasil
laoratorium.
b) Diagnosa yang muncul yaitu hasil dari pengkajian terhadap pasien dan
didapatkan diagnosanya yaitu peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan
proses inflamasi, dan gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan
tubuh berhubungan dengan adanya mual muntah.
c) Intervensi yang dilakukan tidak mengambil semua intervensi yang ada
di dalamteori, karena disesuaikan dengan kebutuhan dan keadaan
pasien.
d) Implementasi yang dilakukan sesuai dengan intervensi yang telah
direncanakan dan disesuaikan dengan kondisi pasien
e) Hasil yang didapatkan setelah di lakukan asuhan keperawatan selama tiga hari
mendapatkan hasil yang cukup mengurangi keluhan pasien. Diagnosa
keperawatan, peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses inflamasi
teratasi dengan suhu tubuh terakhir 36.5ºC ,dan perubahan nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh teratasi pasien tidak merasakan mual dan muntah serta nafsu
makan bertambah dengan habis 1 porsi, pusing sudah tidak dirasakan lagi.
B. Saran
Setelah penulis melakukan studi kasus, tidak terlepas dari beberapa
hambatan dalam penulisan karya ilmiah ini namun dengan bantuan dari
pihak-pihak yang ikut berkontribusi sehingga penulis mampu menyelesaikan
karyatulis ilmiah ini tepat pada waktunya, agar terjadi kemajuan selanjutnya
maka penulis mrnyarankan:
1. Klien dengan masalah Typhoid Fever harus lebih kooperatif bekerjasama
dalam pemberian infomrasi maupun dalam penanganan tindakan medis
dan bisa patuh dalam berbagai terapi serta diet yang diberikan atau
dengan kata lain tidak menyimpang dari pfofesional pemberi asuhan.
2. Untuk perawatan klien Typhoid Feverharus terjalin kerjasama antara
perawat ruangan dan keluarga agar selalu memberikan dukungan serta
informasi tentang perkembangan kesehatan klien dan memberikan
pendidikan kesehatan pada keluarga yang paling sederhana dengan
informasi terkait masalah penyakit
3. Perawat sebagai tim kesehatan yang paling sering berinteraksi dengan
pasien sangat perlu meningkatkan keterampilan dan pengetahuan agar
mampu merawat pasien dengan komperhensif dan optimal serta
senantiasa bekerjasama dengan tim kesehatan lain (dokter, ahligizi,analis,
farmasi) dalam melakukan perawatan serta penanganan pasien dengan
Typhoid Fever.
DAFTAR PUSTAKA

Cahyono, S. B. 2010. Vaksinansi Cara Ampuh Cegah Penyakit Infeksi.


Yogyakarta: Kanisius

DepartemenKesehatanJawa Barat. ProfilKesehatanProvinsiJawa Barat Tahun


2012.

Departemen Kesehatan RI. Tahun 2013

Deswani, (2009). Asuhan Keperawatan dan Berfikir Kritis. Jakarta: Salemba


Medika.

NANDA, NIC NOC. 2013. Panduan Penyusunan Asuhan Keperawatan


Profesional : Edisi Revisi. Mediaction Publishing.

Nurarif. A.H. &Kusuma. H. 2015. Aplikasi NANDA NIC-NOC. Jilid 1, 2 dan


3. Yogyakarta. Media Action.

Nursalam, 2008. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu


Keperawatan : Jakarta: Salemba Medika.

Potter & Perry. 2005. Buku ajar Fundamental KeperawatanEdisi 4. EGC,


Jakarta.

Profil Kesehatan Indonesia . Tahun 2011

RekamMedik RS KARTIKA CIBADAK

Suratun, Lusianah. 2010. Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan


Sistem Pencernaan. Jakarta. Trans Info Media.
Tarwoto&Wartonah, 2006, Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses
Keperawatan, Jakarta: Salemba Medika.

Widoyono, 2011, Penyakit Tropis Epidimologi, Penuluran, Pencegahan &


Pemberantasannya. Jakarta: Erlangga.

Widagdo, 2011, Masalah &Tata Laksana Penyakit Infeksi Pada Anak, Jakarta:
CV Sagung Seto.

Widodo, Joko. 2009. Buku Ajar Penyakit Dalam. Jakarta :Fakultas


Kedokteran Universitas Indonesia.

Wilkinson, M, 2011. Buku Saku Diagnosis Keperawatan Nanda Edisi 9.


Jakarta: EGC.