Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Perubahan perdagangan dunia menuntut segera dibenahinya etika bisnis
agar tatanan ekonomi dunia semakin membaik. Didalam bisnis tidak jarang
berlaku konsep tujuan menghalalkan segala cara. Bahkan tindakan yang berbau
kriminal pun ditempuh demi pencapaian suatu tujuan. Kalau sudah demikian,
pengusaha yang menjadi pengerak motor perekonomian akan berubah menjadi
binatang ekonomi.Terjadinya perbuatan tercela dalam dunia bisnis tampaknya
tidak menampakan kecenderungan tetapi sebaliknya, makin hari semakin
meningkat. Tindakan mark-up, ingkar janji, tidak mengindahkan kepentingan
masyarakat, tidak memperhatikan sumber daya alam maupun tindakan kolusi dan
suap merupakan segelintir contoh pengabdian para pengusaha terhadap etika
bisnis.Secara sederhana etika bisnis dapat diartikan sebagai suatu aturan main
yang tidak mengikat karena bukan hukum. Tetapi harus diingat dalam praktek
bisnis sehari-hari etika bisnis dapat menjadi batasan bagi aktivitas bisnisyang
dijalankan.
Etika bisnis sangat penting mengingat dunia usaha tidak lepas dari elemen-
elemen lainnya. Keberadaan usaha pada hakikatnya adalah untuk memenuhi
kebutuhan masyarakat. Bisnis tidak hanya mempunyai hubungan dengan orang-
orang maupun badan hukum sebagai pemasok, pembeli, penyalur, pemakai dan
lain-lain.Sebagai bagian dari masyarakat, tentu bisnis tunduk pada norma-norma
yang ada pada masyarakat. Tata hubungan bisnis dan masyarakat yang tidak bisa
dipisahkan itu membawa serta etika-etika tertentu dalam kegiatan bisnisnya, baik
etika itu antara sesama pelaku bisnis maupun etika bisnis terhadap masyarakat
dalam hubungan langsung maupun tidak langsung.
Dengan memetakan pola hubungan dalam bisnis seperti itu dapat dilihat
bahwa prinsip-prinsip etika bisnis terwujud dalam satu pola hubunganyang
bersifat interaktif. Hubungan ini tidak hanya dalam satu negara, tetapi meliputi
berbagai negara yang terintegrasi dalam hubungan perdagangan dunia yang

1
nuansanya kini telah berubah. Perubahan nuansa perkembangan dunia itu
menuntut segera dibenahinya etika bisnis. Pasalnya, kondisi hukumyang
melingkupi dunia usaha terlalu jauh tertinggal dari pertumbuhan serta
perkembangan dibidang ekonomi. Jalinan hubungan usaha dengan pihak-pihak
lain yang terkait begitu kompleks. Akibatnya, ketika dunia usaha melaju pesat,
ada pihak-pihak yang tertinggal dan dirugikan, karena peranti hukum dan aturan
main dunia usaha belum mendapatkan perhatian yang seimbang. Salah satu
contoh yang selanjutnya menjadi masalah bagi pemerintah dan dunia usaha adalah
masih adanya pelanggaran terhadap upah buruh. Hal lni menyebabkan beberapa
produk nasional terkena batasan di pasar internasional. Contoh lain adalah
produk-produk hasil hutanyang mendapat protes keras karena pengusaha
Indonesia dinilai tidak memperhatikan kelangsungan sumber alam yang sangat
berharga.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Benturan kepentingan (conflict of Interest).


Benturan kepentingan adalah perbedaan antara kepentingan ekonomis
perusahaan dengan kepentingan ekonomis pribadi direktur, komisaris, atau
pemegang saham utama perusahaan. Perusahaan menerapkan kebijakan bahwa
personilnya harus menghindari investasi, asosiasi atau hubungan lain yang akan
mengganggu, atau terlihat dapat mengganggu, dengan penilaian baik mereka
berkenaan dengan kepentingan terbaik perusahaan. Sebuah situasi konflik dapat
timbul manakala personil mengambil tindakan atau memiliki kepentinganyang
dapat menimbulkan kesulitan bagi mereka untuk melaksanakan pekerjaannya
secara obyektif dan efektif.
Benturan kepentingan juga muncul manakala seorang karyawan, petugas
atau direktur, atau seorang anggota dari keluarganya, menerima tunjangan pribadi
yang tidak layak sebagai akibat dari kedudukannya dalam perusahaan.
8 Kategori situasi benturan kepentingan (conflict of interest) tertentu,
sebagai berikut:
a. Segala konsultasi atau hubungan lain yang signifikan dengan atau berkeinginan
mengambil andil di dalam aktivitas pemasok, pelanggan atau pesaing
(competitor).
Contoh: Seorang karyawan disebuah perusahaan memeliki usaha dibidang
penyedian bahan baku, dan kemudian karyawan tersebut berusaha
menggantikan aktifitas pemasok lain dengan memasukkan pasokan bahan baku
dari usaha yang dia miliki tersebut ke perusahaan tempat dia bekerja.
b. Segala kepentingan pribadi yang berhubungan dengan kepentingan perusahaan.
Contoh: Ketika seorang karyawan mendapatkan tugas keluar kota dari
perusahaan tempat dia berkerja dia memanfaatkan sebagian dari waktu tersebut
untuk sekalian berlibur dengan anggota keluarganya.

3
c. Segala hubungan bisnis atas nama perusahaan dengan personal yang masih ada
hubungan keluarga (family) atau dengan perusahaan yang dikontrol oleh
personal tersebut.
Contoh: Seorang karyawan di suatu perusahaan memasukkan anggota
keluarganya untuk dapat menempati suatu posisi di perusahaan tersebut tanpa
harus melewati tahapan recruitment seperti para pencari kerja lainnya.
d. Segala posisi dimana karyawan dan pimpinan perusahaan mempunyai
pengaruh atau control terhadap evaluasi hasil pekerjaan atau kompensasi dari
personal yang masih ada hubungan keluarga.
Contoh: Seorang manajer memberikan evaluasi hasil kerja yang baik terhadap
anggota keluarganya yang bekerja di perusahaan itu juga, padahal kinerja dari
anggota keluarganya itu tidak sesuai dengan hasil laporan yang dilaporkan oleh
manajer tersebut.
e. Segala penggunaan pribadi maupun berbagai atas informasi rahasia perusahaan
demi suatu keuntungan pribadi, seperti anjuran untuk membeli atau menjual
barang milik perusahaan atau produk, yang didasarkan atas informasi rahasia
tersebut.
Contoh:Seorang karyawan disuatu perusahaan memberikan atau membocorkan
rahasia perusahaan kepada temannya yang berkerja disuatu perusahaan yang
bergerak dibidang usaha yang sama.
f. Segala penjualan pada atau pembelian dari perusahaan yang menguntungkan
pribadi.
Contoh: Perusahaan membeli kendaraan untuk menunjang kegiatan operasional
perusahaan, tetapi salah satu karyawan diperusahaan tersebut menggunakan
kendaraan tersebut untuk berekreasi ke suatu tempat.
g. Segala penerimaan dari keuntungan, dari seseorang / organisasi / pihak ketiga
yang berhubungan dengan perusahaan
Contoh: Perusahaan menjual salah satu asetnya kepada perusahaan lain dengan
harga yang telah dimanipulasi sehingga perusahaan memperoleh keuntungan
yang besar.

4
h. Segala aktivitas yang berkaitan dengan insider trading atas perusahaan yang
telah go public yang merugikan pihak lain.
Contoh: Seorang karyawan dalam memberikan informasi kepada manajer
investainya tentang efek yang diperdagangkan yang dimana informasi tersebut
tidak disediakan oleh emiten, dan orang dalam tersebut melakukan transaksi
atas efek perusahaan tersebut.
Beberapa contoh upaya perusahaan / organisasi dalam menghindari benturan
kepentingan :

1. Menghindarkan diri dari tindakan dan situasi yang dapat menimbulkan


benturan kepentingan antara kepentingan pribadi dengan kepentingan
perusahaan.
2. Mengusahakan lahan pribadi untuk digunakan sebagai kebun perusahaan
yang dapat menimbulkan potensi penyimpangan kegiatan pemupukan.
3. Menyewakan properti pribadi kepada perusahaan yang dapat menimbulkan
potensi penyimpangan kegiatan pemeliharaan.
4. Memiliki bisnis pribadi yang sama dengan perusahaan.
5. Menghormati hak setiap insan perusahaan untuk memiliki kegiatan di luar
jam kerja, yang sah, di luar pekerjaan dari perusahaan, dan yang bebas dari
benturan dengan kepentingan.
6. Mengungkapkan dan melaporkan setiap kepentingan dan atau kegiatan-
kegiatan di luar pekerjaan dari perusahaan. yaitu: Kepada atasan langsung
bagi karyawan, Kepada Pemegang Saham bagi Komisaris, Kepada
Komisaris dan Pemegang Saham bagi Direksi.
7. Menghindarkan diri dari memiliki suatu kepentingan baik keuangan
maupun non-keuangan pada organisasi / perusahaan yang merupakan
pesaing
8. Tidak akan memegang jabatan pada lembaga-lembaga atau institusi lain di
luar perusahaan dalam bentuk apapun, kecuali telah mendapat persetujuan
tertulis dari yang berwenang.

5
B. Etika dalam tempat kerja
Dalam pandangan rasional tentang perusahaan, kewajiban moral utama
pegawai adalah untuk bekerja mencapai tujuan perusahaan dan menghindari
kegiatan-kegiatan yang mungkin mengancam tujuan tersebut. Ada dua hal yang
terkandung dalam etika bisnis yaitu kepercayaan dan tanggung jawab.
Kepercayaan diterjemahkan kepada bagaimana mengembalikan kejujuran dalam
dunia kerja dan menolak stigma lama bahwa kepintaran berbisnis diukur dari
kelihaian memperdayasaingan. Sedangkan tanggung jawab diarahkan atas mutu
output sehingga insan bisnis jangan puas hanya terhadap kualitas kerja yang asal –
asalan.

Adapun beberapa praktik di dalam suatu pekerjaan yang dilandasi dengan


etika dengan berinteraksi di dalam suatu perusahaan, misalnya:

1. Etika Hubungan dengan Karyawan


Di dalam perusahaan ada aturan-aturan dan batas-batas etika yang
mengatur hubungan atasan dan bawahan, Atasan harus ramah dan menghormati
hak-hak bawahan, Karyawan diberi kesempatan naik pangkat, dan memperoleh
penghargaan.

2. Etika dalam hubungan dengan publik


Hubungan dengan publik harus dujaga sebaik mungkin, agar selalu
terpelihara hubungan harmonis. Hubungan dengan public ini menyangkut
pemeliharaan ekologi, lingkungan hidup. Hal ini meliputi konservasi alam,
daur ulang dan polusi. Menjaga kelestarian alam, recycling (daur ulang)
produk adalah uasha-usaha yang dapat dilakukan perusahaan dalam rangka
mencegah polusi, dan menghemat sumber daya alam.

Sikap baik menurut suatu tata krama bukan berarti bersikap sebagai seorang yang
tahu segalanya atau mengoreksi kesalahan orang lain. namun suatu usaha untuk
menghormati pihak lain dan memperlakukan mereka dengan sopan dan baik.

6
Banyak etika yang berlaku di tempat kerja, namun ada beberapa yang perlu anda
cermati:

a. Menghormati Budaya Kerja Perusahaan Anda.


Bila budaya kerja perusahaan tempat Anda bekerja bersifat santai dan
kasual, jangan mengenakan suits mahal dari butik perancang italia. Hal ini
disamping akan membuat Anda ‘berbeda’ juga dimungkinkan menimbulkan
kecemburuan sosial dari rekan-rekan sejawat Anda. Jadi bagian dari mereka.
b. Hormat Senior Anda dan lakukan sebagaimana mestinya tanpa bersikap
berlebihan.
Banyak perusahaan punya tingkat hierarki sendiri, pelajari dan
sesuaikan sikap Anda pada tiap tingkatan. Misal: Jangan anggap bos seperti
teman bermain atau bercanda.
c. Hormati Privacy Orang Lain.
Meski Anda bekerja dengan banyak orang, Anda harus tahu secara pasti
batas-batas pribadi mereka Jangan sok akrab dengan melakukan pendekatan
yang tidak perlu.
d. Hormati Cara Pandang Orang Lain.
Selesaikan pertentangan yang terjadi dengan luwes. Kenali perbedaan
pendapat tentang agama, politik, moral serta gaya hidup masing-masing orang,
tapi jangan paksakan apa yang menjadi keyakinan Anda.
e. Tangani Beban Kerja Anda.
Tanpa perlu melimpahkannya pada orang lain. Stres memang tidak
dapat dihindari, namun saat mengalaminya Anda harus menyalurkannya pada
hal yang lebih positif, tanpa perlu marah atau membentak rekan kerja Anda.
f. Bersikap Sopan Pada Semua Orang Di Kantor.
Bahkan jika posisi Anda sudah lumayan tinggi sekalipun, bukan berarti
Anda dapat memerintah bawahan dengan sewenang-wenang. Karena semua
orang berhak dihormati dan didengar pendapatnya.
g. Tidak Semena-mena Menggunakan Fasilitas Kantor.

7
Perlu Anda ketahui bahwa peralatan kantor disediakan untuk
memudahkan kerja banyak pihak, jadi rawatlah baik-baik semua fasilitas yang
Anda pakai. Dan hindari penggunaan fasilitas kantor untuk kepentingan
pribadi. Misalnya, menggunakan mobil dinas untuk keperluan-keperluan
kantor dsb.
C. Akuntabilitas sosial.
Akuntabilitas sosial merupakan proses keterlibatan yang konstruktif antara
warga negara dengan pemerintah dalam memeriksa pelaku dan kinerja pejabat
publik, politisi dan penyelenggara pemerintah.

Tujuan Akuntanbilitas Sosial, antara lain :


a. Untuk mengukur dan mengungkapkan dengan tepat seluruh biaya dan manfaat
bagi masyarakat yang ditimbulkan oleh aktifitas-aktifitas yang berkaitan dengan
produksi suatu perusahaan.
b. Untuk mengukur dan melaporkan pengaruh kegiatan perusahaan terhadap
lingkungannya, mencakup : financial dan managerial social accounting, social
auditing.
c. Untuk menginternalisir biaya sosial dan manfaat sosial agar dapat menentukan
suatu hasil yang lebih relevan dan sempurna yang merupakan keuntungan sosial
suatu perusahaan.

Salah satu alasan utama kemajuan akuntabilitas sosial menjadi lambat yaitu
kesulitan dalam pengukuran kontribusi dan kerugian. Prosesnya terdiri dari atas
tiga langkah, diantaranya:

1. Menentukan biaya dan manfaat sosialSistem nilai masyarakat merupakan faktor


penting dari manfaat dan biaya sosial. Masalah nilai diasumsikan dapat diatasi
dengan menggunakan beberapa jenis standar masyarakat dan mengidentifikasikan
kontribusi dan kerugian secara spesifik.
2. Kuantifikasi terhadap biaya dan manfaatSaat aktivitas yang menimbulkan biaya
dan manfaat sosial ditentukan dan kerugian serta kontribusi

8
3. Menempatkan nilai moneter pada jumlah akhir.Tanggung Jawab Sosial
BisnisDunia bisnis hidup ditengah-tengah masyarakat, kehidupannya tidak bisa
lepas dari kehidupan masyarakat.

Oleh karena itu ada suatu tanggungjawab social yang dipikul oleh bisnis.
Banyak kritik dilancarkan oleh masyarakat terhadap bisnis yang kurang
memperhatikan lingkungan.

Banyak timbul perbedaan pendapat mengenai bahwa tanggungjawab bisnis


hanya terbatas sampai menghasilakan barang dan jasa buat konsumen dengan
harga yang murah, atau juga ada yang mengatakan tanggungjawab bisnis adalah
jangan mengambil keuntungan besar, tetapi yang sewajarnya.Dalam dunia bisnis
juga semua orang tidak mengharapkan memperoleh perlakuan tidak jujur dari
sesamanya, banyak praktik manipulasi tidak akan terjadi jika dilandasi dengan
moral tinggi.

Moral dan tingkat kejujuran rendah akan menghancurkan tata nilai etika
bisnis itu sendiri, karena masalahnya nilai etika hanya ada di dalam hati nurani
seseorang. Etika mempunyai kendali intern dalam hati, berbeda dengan hokum
yang mempunyai unsur paksaan ekstern. Akan tetapi bagi orang-orang yang
berkecimpung dalam bidang bisnis yang dilandasi oleh rasa keagamaan mendalam
akan mengetahui bahwa perilaku jujur akan memberikan kepuasan tersendiri
dalam kehidupannya baik dalam duniawi maupun akhirat.

D. Manajemen Krisis
Manajemen krisis adalah respon pertama perusahaan terhadap sebuah
kejadian yang dapat merubah jalannya operasi bisnis yang telah berjalan normal.
Artinya terjadi gangguan pada proses bisnis ‘normal’ yang menyebabkan
perusahaan mengalami kesulitan untuk mengoptimalkan fungsi-fungsi yang ada,
dan dengan demikian dapat dikategorikan sebagai krisis.Kejadian buruk dan krisis
yang melanda dunia bisnis dapat mengambil beragam bentuk. Mulai dari bencana
alam seperti Tsunami, musibah teknologi (kebakaran, kebocoran zat-zat

9
berbahaya) sampai kepada karyawan yang mogok kerja. Segala kejadian buruk
dan krisis, berpotensi menghentikan proses normal bisnis yang telah dan sedang
berjalan, membutuhkan penanganan yang segera (immediate) dari pihak
manajemen. Penanganan yang segera ini kita kenal sebagai manajemen krisis
(crisis management). Saat ini, manajemen krisis dinobatkan sebagai new corporate
discipline. Manajemen krisis adalah respon pertama perusahaan terhadap sebuah
kejadian yang dapat merubah jalannya operasi bisnis yang telah berjalan normal.
Pendekatan yang dikelola dengan baik sebagai respon terhadap kejadian itu
terbukti secara signifikan sangat membantu meyakinkan para pekerja, pelanggan,
mitra, investor, dan masyarakat luas akan kemampuan organisasi melewati masa
krisis.

Aspek dalam Penyusunan Rencana Bisnis.


Setidaknya terdapat enam aspek yang mesti kita perhatikan jika kita ingin
menyusun rencana bisnis yang lengkap. Yaitu tindakan untuk menghadapi :
1. Situasi darurat (emergency respon.
2. Skenario untuk pemulihan dari bencana (disaster recovery)
3. Skenario untuk pemulihan bisnis (business recovery)
4. Strategi untuk memulai bisnis kembali (business resumption)
5. Menyusun rencana-rencana kemungkinan (contingency planning), dan
Manajemen krisis (crisis management).
Penanganan Krisis Pada hakekatnya dalam setiap penanganan krisis,
perusahaan perlu membentuk tim khusus. Tugas utama tim manajemen krisis ini
terutama adalah mendukung para karyawan perusahaan selama masa krisis terjadi.
Kemudian menentukan dampak dari krisis yang terjadi terhadap operasi bisnis
yang berjalan normal, dan menjalin hubungan yang baik dengan media untuk
mendapatkan informasi tentang krisis yang terjadi. Sekaligus menginformasikan
kepada pihak-pihak yang terkait terhadap aksi-aksi yang diambil perusahaan
sehubungan dengan krisis yang terjadi. Dalam menghadapi krisis dibutuhkan
kepemimpinan yang efektif. Sang pemimpin mesti mengetahui tujuan dan strategi
yang jelas untuk mengatasai krisis. Tentu harus dilandasi oleh rasa optimisme

10
terhadap penyelesaian krisis. Mintalah dukungan dari semua orang, dan tunjukkan
bahwa perusahaan mampu menghadapi krisis yang terjadi ini dengan baik.
Tenangkan hati mereka. Ajaklah seluruh anggota organisasi untuk terlibat dalam
mencari dan menjalani solusi krisis yang telah disusun bersama.
Salah satu permasalahan yang dihadapi oleh manajemen perusahaan
adalah situasi krisis yang melanda perusahaan. Berbagai contoh krisis perusahaan
adalah kasus penyedap makanan Ajinomoto yang diduga terbuat dari bahan
berasalah dari babi. Sebelumnya pernah juga terjadi krisis yang melanda pabrik
biskuit dari pabrik susu yang terkait dengan isu biskuit beracun dan isu
pengunaan lemak babi. Kedua masalah tersebut telah berkembang menjadi isu
nasional dan telah melibatkan banyak pihak di dalam penanganannya. Implikasi
dari kedua masalah tersebut tidak hanya berpengaruh terhadap perusahaan besar,
tetapi juga telah membuat perusahaan kecil dan pedagang kecil ikut merasakan
akibatnya. Sekian banyak pengangguran yang terjadi, dan sekian banyak produk
yang tidak laku dijual.
Disamping masalah yang sangat besar seperti contoh di atas, tidak jarang
perusahaan dilanda oleh masalah yang implikasinya hanya terbatas pada ruang
lingkup satu perusahaan saja. Beberapa contoh krisis yang dihadapi perusahaan
adalah :
1) masalah pencemaran lingkungan oleh pabrik.
2) masalah unjuk rasa oleh pekerja.
3) masalah produk yang tidak bisa dipasarkan.
4) masalah kericuhan dengan pemerintah dalam hal peraturan yang berkaitan
dengan izin usaha.
Definisi Krisis.
Krisis adalah situasi yang merupakan titik balik (turning point) yang dapat
membuat sesuatu tambah baik atau tambah buruk. Jika dipandang dari kaca mata
bisnis suatu krisis akan menimbulkan hal-hal seperti berikut :
1. Intensitas permasalahan akan bertambah.
2. Masalah akan dibawah sorotan publik baik melalui media masa,
atau informasi dari mulut ke mulut.

11
3. Masalah akan menganggu kelancaran bisnis sehari-hari.
4. Masalah menganggu nama baik perusahaan.
5. Masalah dapat merusak sistim kerja dan menggoncangkan
perusahaan secara keseluruhan.
6. Masalah yang dihadapi disamping membuat perusahaan menjadi
panik, juga tidak jarang membuat masyarakat menjadi panik.
7. Masalah akan membuat pemerintah ikut melakukan intervensi.
Level Perkembangan Krisis.
Suatu krisis menurut pendapat Steven Fink (1986) dapat dikategorikan
kedalam empat level perkembangan, yakni :
1. Masa pre-krisis
Suatu krisis yang besar biasanya telah didahului oleh suatu pertanda
bahwa bakal ada krisis yang terjadi. Masa terjadinya atau munculnya pertanda ini
disebut masa pre-krisis.Seringkali tanda-tanda ini oleh karyawan yang bertugas
sudah disampaikan kepada pejabat yang berwenang, tetapi oleh pejabat yang
berwenang tidak ditanggapi. Oleh karena sipelapor merasa laporannya tidak
ditanggapi dia ikut diam saja. Bila keadaan yang lebih buruk terjadi dia lebih baik
memilih diam daripada laporan dia tidak ditanggapi. Kasus terjadinya kebocoran
gas racun pabrik Union Carbide di Bhopal, India (terkenal dengan nama tragedy
Bhopal) yang merenggut lebih dari 2000 jiwa, telah diantisipasi oleh petugas.
Kebocoran yang terjadi di pabrik Union Carbide di tempat lain tidak diteruskan ke
pabrik di Bhopal. Laporan yang tidak disampaikan itu menyebabkan terjadinya
malapetaka tersebut.Cukup sering terjadi, malapetaka yang besar sudah deketahui
gejalanya oleh orang yang berwenang, tetapi didiamkan saja tanpa diambil
tindakan. Kalau sekiranya tindakan koreksi segera diambil maka kejadian yang
akibatnya fatal tersebut dapat dihindarkan. Mengatasi krisis yang paling baik
adalah disaat pre-krisis ini terjadi. Seringkali suatu krisis sudah diantisipasi bakal
terjadi, namun tidak ada cara untuk menghindarinya. Misalnya kasus kapal di laut
yang akan dilanda oleh topan, dan tidak ada jalan keluar kecuali menghadapi
topan tersebut. Namun oleh karena sudah diantisipasi terjadinya, sang nakhoda

12
akan lebih siap menghadapi krisis tersebut. Misalnya mengarahkan kapalnya ke
batu karang. Dari contoh ini kita dapat menarik pelajaran bahwa menghadapi
krisis yang tidak terelakkan bila kita sudah tahu, kita akan lebih siap.
2. Masa Krisis Akut (Acute stage).
Bila pre-krisis tidak dideteksi dan tidak diambil tindakan yang sesuai maka
masa yang paling ditakuti akan terjadi. Kasus biskuit beracun setelah korban
berjatuhan, misalnya cepat sekali mendapat sorotan media massa sebagai suatu
berita yang hangat dan masuk halaman pertama. Keadaan yang demikian akan
menimbulkan suasana yang paling kritis bagi perusahaan, khususnya bagi
perusahaan yang produknya tercemar racun. Informasi tersebut berkembang
dengan cepat dikalangan masyarakat dari mulut ke mulut. Setelah itu berkembang
masalah baru berupa ‘rumor’ bahwa banyak makanan lain yang ikut tercemar.
Beberapa bahan makanan yang dilaporkan tercemar racun adalah minyak goreng,
bakso, bakmi, rokok, dan beberapa jenis jajanan pasar. Memang isu keracunan ini
akan merembet ke makanan yang sejenis Hal ini disebut dengan proses
generalisasi. Fenomena generalisasi ini juga terjadi pada pabrik yang mempunyai
cabang di tempat lain, atau pabrik yang memproduksi barang yang hampir sama.
Pada masa krisis akut ini tugas utama perusahaan adalah menarik produk secepat
mungkin agar tidak ada lagi korban yang menjadi korban produk. Pada masa ini
tugas perusahaan bukanlah diprioritaskan untuk mencari penyebab kenapa
masalah itu terjadi. Tetapi tugas pokoknya adalah mengontrol semaksimal
mungkin agar jatuhnya korban dapat ditekan.Masa krisis akut ini jika
dibandingkan dengan masa krisis kronis jauh lebih singkat. Tetapi masa akut
adalah masa yang paling menegangkan dan paling melelahkan anggota tim yang
menangani krisis.
3. Masa kronis krisis.
Masa ini adalah masa pembersihan akibat dari krisis akut. Masa ini adalah
masa ‘recovery’, masa mengintrospeksi kenapa krisis sampai terjadi. Masa ini
bagi mereka yang gagal total menangani krisis adalah masa kegoncangan
manajemen atau masa kebangkrutan perusahaan. Bagi mereka yang bisa
menangani krisis dengan baik ini adalah masa yang menenangkan.Masa kronis

13
berlangsung panjang, tergantung pada jenis krisis. Masa kronis adalah masa
pengembalian kepercayaan publik terhadap perusahaan.
4. Masa kesembuhan dari krisis.
Masa ini adalah masa perusahaan sehat kembali seperti keadaan sediakala.
Pada fase ini perusahaan akan semakin sadar bahwa krisis dapat terjadi sewaktu-
waktu dan lebih mempersiapkan diri untuk menghadapinya.
Contoh kasus:

“ Penggelembungan Nilai (mark up) PT. Kimia Farma Tbk ”

Penggelembungan nilai (mark up) PT. Kimia Farma Tbk pada tahun
2001 (Arifin, 2005). Laba bersih dilaporkan sebesar Rp 132 miliar lebih,
padahal seharusnya hanyalah sebesar Rp 99,6 miliar.
Berdasarkan hasil pemeriksaan BAPEPAM, penggelembungan sebesar Rp 32,7
miliar tersebut berasal dari: overstated atas penjualan pada Unit Industri Bahan
Baku sebesar Rp 2,7 miliar, overstated atas persediaan barang pada Unit Logistik
Sentral sebesar Rp 23,9 miliar, dan overstated pada persediaan barang sebesar Rp
8,1 miliar dan overstated atas penjualan sebesar Rp 10,7 miliar pada unit
Pedagang Besar Farmasi (PBF).

Para akuntan adalah salah satu profesi yang terlibat secara langsung dalam
pengelolaan perusahaan (corporate governance). Dalam hubungannya dengan
prinsip good corporate governance (GCG), peran akuntan secara signifikan
terlibat dalam berbagai aktivitas penerapan prinsip-prinsipGCG. Terbongkarnya
kasus–kasus khususnya ilmu akuntansi yang terlibat dalam praktik
manajemen laba memberikan kesadaran tentang betapa pentingnya peran dunia
pendidikan dalam menciptakan sumber daya manusia yang cerdas dan bermoral.
Ungkapan tersebut mengisyaratkan bahwa sikap dan perilaku moral (akuntan)
dapat terbentuk melalui proses pendidikan yang terjadi dalam lembaga
pendidikan akuntansi, dimana mahasiswa sebagai input, sedikit banyaknya akan
memiliki keterkaitan dengan akuntan yang dihasilkan sebagai output.

14
Kasus pelanggaran etika seharusnya tidak terjadi apabila setiap akuntan
mempunyai pengetahuan, pemahaman, dan kemauan untuk menerapkan nilai-nilai
moral dan etika secara memadai dalam pelaksanaan pekerjaan
profesionalnya (Ludigdo, 1999). Oleh karena itu, terjadinya berbagai kasus
sebagaimana disebutkan di atas, seharusnya memberi kesadaran untuk lebih
memperhatikan etika dalam melaksanakan pekerjaan profesi akuntan.

Pertanyaan–pertanyaan tentang dugaan atas pelanggaran etika profesi


akuntan terhadap kepercayaan publik telah menimbulkan campur tangan
pemerintah.

Disisi lain, karakter moral berkenaan dengan personaliti, seperti kekuatan


ego, keteguhan ego, kegigihan, kekerasan hati, pemikiran dan kekuatan akan
pendirian serta keberanian yang berguna untuk melakukan tindakan yang
benar (Rest, 1986). Seorang individu yang memiliki kemampuan dalam
menentukan apa yang secara moral baik atau buruk dan benar atau salah, mungkin
bisa gagal atau salah dalam berkelakuan secara moral sebagai hasil dari kegagalan
dalam mengidentifikasi persoalan-persoalan moral(Walker, 2002). Dalam
berkelakuan secara moral seorang individu dipengaruhi oleh faktor-faktor
individu yang dimilikinya.

Jones (1991) telah mengembangkan suatu model isu-kontinjen untuk


menguji pengaruh persepsi intensitas moral dan menghubungkannya
dengan ‘model empat komponen Rest’. Rest (1986) membangun model
kognitif tentang pengambilan keputusan (empat model komponen) untuk
menguji pengembangan proses-proses pemikiran moral dan perilaku
individu (Chan dan Leung, 2006). Rest menyatakan bahwa untuk bertindak
secara moral, seorang individu melakukan empat dasar proses psikologi, yaitu :

1. Sensitivitas Moral (Moral Sensitivity)

2. Pertimbangan Moral (Moral Judgment)

3. Motivasi Moral (Moral Intentions), dan

15
4. Perilaku Moral (Moral Behavior)).

Jones (1991) mengungkapkan bahwa isu-isu intensitas moral secara


signifikan mempengaruhi proses pembuatan keputusan moral. Penelitian
sebelumnya telah menguji pengaruh komponen dari intensitas moral terhadap
sensitivitas moral (Singhapakdi dkk., 1996; May dan Pauli, 2000),
pertimbangan moral (Webber, 1990, 1999; Morris dan McDonald, 1995;
Ketchand dkk., 1999; Shafer dkk., 1999), dan intensi moral(Singhapakdi dkk.,
1996, 1999; Shafer dkk., 1999; May dan Pauli, 2000). Dalam penelitian-
penelitian tersebut, beberapa komponen intensitas moral ditemukan berpengaruh
secara signifikan dalam proses pembuatan keputusan moral dari berbagai
responden. Bagaimanapun, terdapat sedikit penelitian yang melakukan pengujian
pada berbagai karakteristik dari isu-isu dan pengaruhnya terhadap proses
pembuatan keputusan moral pada mahasiswa akuntansi.

Kesimpulan Kasus :

Kasus-kasus pelanggaran terhadap etika dalam dunia bisnis yang terjadi di


Indonesia belakangan ini seharusnya mengarahkan kebutuhan bagi lebih banyak
penelitian yang meneliti mengenai pembuatan keputusan etis. Kerasnya isu dalam
hal pembuatan keputusan moral terasa sangat penting dalam menegakkan kembali
martabat dan kehormatan profesi akuntan yang sedang dilanda krisis kepercayaan
dari masyarakat luas.

Penelitian pengembangan etika akuntan profesional seharusnya dimulai


dengan penelitian mahasiswa akuntansi di bangku kuliah, dimana mereka
ditanamkan perilaku moral dan nilai-nilai etika profesional akuntan . Bahwa
sosialisasi etika profesi akuntan pada kenyataanya berawal dari masa kuliah,
dimana mahasiswa akuntansi sebagai calon akuntan profesional di masa datang.

16
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari pembahasan sebelumnya maka dapat di simpulkan bahwa kode etik
profesi merupakan pedoman mutu moral profesi dalam masyarakat yang di atur
sesuai dengan profesi masing-masing. Hanya kode etik yang berisikan nilai-nilai
dan cita-cita di terima oleh profesi itu sendiri serta menjadi tumpuan harapan
untuk di laksanakan dengan tekun dan konsekuen. Kode etik tidak akan efektif
kalau di drop begitu saja dari atas yaitu instansi pemerintah karena tidak akan di
jiwai oleh cita-cita dan nilai hidup dalam kalangan profesi itu sendiri.

B. Saran
Agar dapat memahami dan memperoleh pengetahuan baru maka usaha
yang dapat di lakukan adalah :
1. Memperbanyak pemahaman terhadap kode etik profesi
2. Mengaplikasikan keahlian sebagai tambahan ilmu dalam praktek pendidikan
yang di jalani.
3. Pembahasan makalah ini menjadikan individu yang tahu akan pentingnya kode
etik profesi.

17