Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH

TUGAS KELOMPOK

Ilmu Sosial Budaya Dasar

Diajukan untuk Memenuhi Tugas

Mata Kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar

Dosen mata kuliah Dr. Moh Wildan, SST, M.Pd

Disusun Oleh :

Kelompok

Nama Anggota

1. Nuraini Fitria (P17310191001)


2. Hasbiya Maghfury (P17310191003)
3. Nisrina Salsabila (P17310191006)
4. Vela Ayu Indriana (P17310192016)
5. Dhea Ayu Nabila Dewi (P17310193032)

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG
JURUSAN KEBIDANAN
PROGRAM STUDI DIII KEBIDANAN MALANG
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya
sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini tepat pada waktunya.

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas pada bidang
mata kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar. Selain itu, makalah ini juga bertujuan untuk
menambah wawasan tentang Aspek Sosial Budaya dalam Persalinan Kala 1, 2, 3 ,4 bagi para
pembaca dan juga bagi penulis.

Kami mengucapkan terimakasih kepada Bapak Dr. Moh Wildan, SST, M.Pd selaku
dosen mata kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar, yang telah memberikan tugas ini sehingga dapat
menambah pengetahuan dan wawasan sesuai dengan bidang studi yang kami tekuni.

Kami menyadari, makalah yang kami tulis masih jauh dari kata sempurna. Oleh
karena itu, kritik dan saran yang membangun akan kami nantikan demi kesempurnaan
makalah ini.

Malang, 24 September 2019

Penyusun

i
Daftar isi

KATA PENGANTAR.........................................................................................................i

DAFTAR ISI ....................................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN ................................................................................................1

1. Latar Belakang ..................................................................................................1

2. Rumusan Masalah............................................................................................. 2

3. Tujuan Prnulisan............................................................................................... 2

4. Manfaat Penulisan ............................................................................................2


BAB II PEMBAHASAN...................................................................................................3
BAB III PENUTUP.......................................................................................................... 7
A. Kesimpulan ......................................................................................................7
B. Saran ................................................................................................................7
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................................8

ii
BAB I
Pendahuluan

1. Latar Belakang

a. Tahapan Pertama Proses Melahirkan Normal (Kala I)

Tahapan pertama proses melahirkan normal, yaitu ditandai dengan adanya pembukaan
serviks. Pembukaan serviks merupakan proses terjadinya perenggangan ukuran leher rahim.
Serviks berada di bagian bawah rahim, dimana servik (leher rahim) inilah merupakan jalan
lahir keluarnya bayi.

Agar serviks dapat terbuka, maka muncullah rasa mulas (kontraksi) yang sering dialami
Bunda. Kontraksi akan membantu terjadinya pembukaan serviks. Pembukaan serviks dimulai
dari pembukaan 0 cm -10 cm.

b. Tahapan Kedua Proses Melahirkan Normal (Kala II)

Tahapan kedua proses persalinan normal yaitu dimulai dari pembukaan lengkap (10 cm)
sampai bayi lahir. Pada tahapan ini, normalnya membutuhkan waktu selama dua jam sampai
bayi lahir. Pada tahapan ini juga, Bunda akan merasakan kontraksi yang semakin kuat. Perlu
diingatkan lagi, pada tahap kedua melahirkan normal, yang paling penting adalah mengikuti
instruksi dokter atau bidan penolong.

c. Tahapan Ketiga Proses Melahirkan Normal (Kala III)

Tahapan ketiga proses melahirkan normal, yaitu dimulai setelah bayi lahir hingga ari-ari lahir.
Setelah bayi lahir, ari-ari harus dikeluarkan. Pada tahap pengeluaran ari-ari memerlukan
waktu normal 15 menit. Jika ari-ari tidak segera dikeluarkan maka akan menyebabkan
perdarahan.

Pada tahapan ketiga proses melahirkan normal ini, Bunda masih bisa merasakan sedikit
rasa mulas. Rasa mulas ini tidak sesakit saat menjelang proses persalinan. Saat tahapan ketiga
ini, Bunda akan diberikan suntikan yang berfungsi untuk mencegah perdarahan. Jadi
sebaiknya ibu jangan menolak jika diberikan suntikan tersebut. Jika ari-ari dapat dikeluarkan
maka selanjutnya Bunda akan melakukan Inisiasi Menyusui Dini (IMD).

1
d. Tahapan Keempat Proses Melahirkan Normal (Kala IV)

Tahapan Keempat proses Melahirkan Normal, merupakan tahapan yang terakhir. Tahapan ini
dimulai saat ari-ari telah lahir sampai dua jam setelah melahirkan. Saat tahapan ini, Bunda
akan dipantau selama dua jam.

Mitos pada persalinan adalah suatu hal yang di percaya oleh masyarakat yang terjadi saat
persalinan, banyak mitos yang beredar di masyarakat kita harus meneliti dan memilah mana
yang berdampak baik dan mana yang berdampak buruk

2. Rumusan Masalah

Dari penjelasan latar belakang di atas maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:

a) Apa saja mitos yang terjadi di daerah mengenai persalinan?

b) Apa hubungannya dalam segi medis ?

3. Tujuan penulisan

Dari perumusan masalah di atas. Tujuan penulisan makalah ini sebagai berikut :

Mengetahui kebenaran dari mitos- mitos yang beredar di masyakat, agar mitos tersebut tidak
berdampak buruk pada masyarakat.

4. Manfaat Penulisan

Manfaat yang dapat diperoleh dari penulisan makalah ini mencakup beberapa
diantaranya sebagai berikut :

a. Sebagai pengetahuan bagi masyarakat luas agar tidak terjadi hal- hal yang buruk
atau hal-hal yang tidak di ingin kan pada saat persalinan,

b. Masyarakat dapat diajak untuk berpikir lebih rasional lagi dalam melakukan sesuatu.
Memahami sebab akibat yang akan terjadi jika melakukan mitos yang belum tentu
benar adanya.

2
BAB II
Pembahasan

BUDAYA JAWA PADA MASA PERSALINAN KALA I,II,III DAN IV

1. Jika dalam proses kelahiran mengalami kesulitan ibu diberi jamu berupa kunyahan
sedikit daun pisang muda dengan sedikit garam sampai lembut kemudian diusapkan ke
tubuhnya dari atas sampai bawah dari celah kedua belah dada hingga vagina.
Segi Medis : Ini jelas tidak berkaitan, bahkan jika di oleskan pada daerah vagina yang
terjadi malah berbahaya karena dapat menimbulkan infeksi

2. Saat Wanita menjelang kelahiran dianjurkan minum minyak kelapa (satu sendok makan
per hari). Maksudnya agar proses persalinan berjalan dengan lancar.
Segi Medis : Ini jelas tidak berkaitan. Semua unsur makanan akan dipecah dalam usus
halus menjadi asam amino, glukosa, asam lemak, dan lain-lain agar mudah diserap oleh
usus.

3. Upaya adat makan nasi dengan piring besar supaya pada saat melahirkan jabang bayi,
ari-ari besar dan lebar serta mudah dikeluarkan sehingga selamat dalam melahirkan
Segi Medis : Ini jelas tidak berkaitan, karena ari ari bayi (plasenta) telah terbentuk sejak
kehamilan. Jadi, baik melakukan makan nasi dengan piring besar atau tidak, tidak ada
hubungan sehingga dipersilahkan untuk melakukan hal tersebut.

4. Pada Pulau Siberut yang terutama dianut secara ketat di masa lalu melahirkan dianggap
kategori non sakral sehingga kelahiran di langsungkan di ladang yang bersifat
keduniawian, dimana ladang tersebut tempat warga masyarakat menghasilkan nafkah dari
bercocok tanam dan beternak. karena itu sekitar seminggu sebelum melahirkan sang
wanita dibawa suami dan ibunya hingga saat melahirkan.
Segi medis: hubungan negatif karena dapat menjadikan infeksi pada ibu tersebut

5. Penolong persalinan di Suku Baduy Dalam mengikuti tradisi turun temurun yaitu
dilakukan sendiri tanpa pendampingan dukun paraji apalagi tenaga medis. Tenaga medis
dipanggil ketika mengalami kesulitan selama proses melahirkan, sehingga selama proses
melahirkan lancar cukup memanggil paraji. Sesuai dengan penuturan AD, bapak dengan
3
lima anak suami dari informan AmD. Penjemputan paraji dilakukan ketika ibu sudah
berhasil melahirkan bayinya. Prosesi melahirkan Suku Baduy Dalam dilakukan dengan
posisi Ibu duduk bersandar dengan posisi kedua kaki diangkat nyaris seperti posisi
jongkok.Tempat yang dipilih untuk bersalin hanya ada dua pilihan tergantung keberadaan
Ibu saat hendak melahirkan yaitu di rumah atau di saung yaitu rumah yang didirikan di
dekat huma atau ladang milik mereka.
Pendamping selama persalinan terkadang dibantu oleh ambu (ibu) atau saudara
perempuannya, meskipun tidak jarang ketika menghadapi pertaruhan hidup dan mati
dilakukan sendirian saja. Selama proses melahirkan, suami atau laki-laki tabu untuk
mendampingi. Peran sang calon ayah berlaku sesaat setelah bayi lahir yaitu bertugas
menjemput dukun paraji untuk memotong tali ari-ari, memandikan ibu dan bayi. Selama
ambu paraji belum datang, ibu yang baru melahirkan dan bayinya hanya bisa menunggu
dengan kondisi duduk dan bayi masih terhubung dengan ari-ari yang belum terputus. Tak
seorangpun boleh mendampingi bahkan suaminya sekalipun, saudara perempuan dan
ambu hanya menengok sesekali sampai dengan dukun paraji datang. Lama waktu
menunggu dalam rentang yang tidak sebentar bisa mencapai 1-6 jam tergantung
keberadaan dan kesiapan dukun paraji. Keberadaan dukun paraji tidak ada di setiap
kampung, dengan jarak tempuh antar kampung bisa mencapai dua sampai tiga kilometer
dengan berjalan kaki.
Kondisi Ibu yang lemas, kehilangan banyak darah dan bayi hanya dibalut selimut tidak
diperbolehkan makan dan minum selama menunggu kedatangan dukun paraji. Segera
setelah Paraji datang, ayah menyiapkan hinis yaitu bambu untuk memotong tali ari-ari
bayi, bambu yang digunakan diambil dari bambu yang berada di dekat pintu. Makna yang
mereka percayai bahwa bambu dekat pintu adalah bamboo terbaik dari yang ada. Selagi
sang ayah menyiapakan hinis, ambu paraji menyiapkan tali tereup, untuk mengikat tali
ari-ari bayi ketika hendak dipotong. Prosesi pemotongan tali ari-ari bayi diawali dengan
dukun paraji mengunyah panglai yang kemudian disemburkan kekiri-kekanan-keatas dan
kearah baskom yang berisi air yang nantinya digunakan untuk memandikan bayi. Mulut
komat kamit membaca jampe-jampe atau mantra selama lebih kurang lima menit dengan
beberapa kali menyemburkan panglai yang dikunyah ke dalam air untuk memandikan
bayi. Selanjutnya ambu paraji menempatkan posisi bayi di atas kakinya, kemudian tali
ari ari diikat menggunakan tali teureup di bagian atas dan bawahnya. Pada bagian tali ari-
ari yang hendak dipotong, dipijit menggunakan lebu haneut yaitu abu dalam kondisi
hangat hasil proses pembakaran kayu bakar yang digunakan untuk memasak. Sesaat
sebelum tali ari-ari dipotong, ambu paraji kembali membancakan jampe dan setelah itu
4
barulah tali ari-ari dipotong menggunakan hinis dengan koneng santen sebagai alas.
Selanjutnya setelah merawat bayi, paraji melanjutkan dengan perawatan pada Ibu yang
selesai bersalin. Perawatan di sini tidak termasuk untuk perawatan pada bagian alat
kelamin, vagina ibu yang habis melahirkan tidak dilakukan tindakan apapun. Ibu sendiri
yang membersihkan darah yang keluar pada saat melahirkan dengan membasuhnya
menggunakan samping atau kain yang ada. Ritual yang dilakukan untuk perawatan pada
ibu nifas (bufas) adalah mandi dimana ibu berjalan bersama-sama dukun paraji menuju
wahangan atau sungai untuk dimandikan. Ramuan dibalurkan ke seluruh badan terdiri
dari campuran koneng tinggang, cikur, lempuyang yang dihaluskan dengan cara
ditumbuk. Kemudian selesai mandi, perut dibenerkeun/ dipijit supaya rahim kembali ke
posisinya. Selain itu juga lebu haneut (abu hasil pembakaran kayu bakar dari
hawu/kompor) yang dibungkus daun kemudian ditempel ke perut supaya perut tidak
bengkak.
Segi medis : sangat membahayakan apabila melakukan persalinan tanpa dibantu dengan
tenaga medis. Dengan adanya bantuan tenaga medis tentunya dapat menekan angka
kematian ibu dan anak
6. Di daerah Papua, terdapat kebiasaan menempatkan ibu hamil yang akan melahirkan di
kandang ternak. Secara medis tentu saja hal ini sangat berisiko bagi ibu dan bayi karena
umumnya kandang ternak sangat tidak bersih untuk proses melahirkan. Selain itu, banyak
ibu di daerah pedalaman Papua yang masih melahirkan dengan cara yang tradisional
dengan berjuang seorang diri di pinggir sungai. Bayangkan bagaimana cara sang ibu
untuk memotong tali pusat yang kemungkinan jika dilakukan seorang diri akan rentan
menimbulkan infeksi akibat tidak higienisnya alat pemotong pusat.
Segi medis : sangat berbahaya dan beresiko apabila melakukan kelahiran di kandang
ternak, karena seperti yang kita tahu bahwa kandang ternak sangat tidak bersih dan bisa
menimbulkan infeksi dalam proses kelahiran.

7. Meminum air rumput Fatimah untuk mempermudah persalinan


Segi medis: tidak baik karena meminum air rumput fatimah dapat mempercepat
kontraksi dan mampu menyebabkan pendarahan, jika pendarahan tidak bisa dihentikan
dapat menyebabkan kematian.

8. Tradisi orang Mentawai di pulau Siberut pada masa lalu, kelahiran merupakan peristiwa
pribadi yang hanya dihadapai oleh suami dan ibu sang wanita yang melahirkan, dengan

5
suami sebagai penolong utama dari kelahiran anaknya.pada kebudayaan lainya, kelahiran
masih tetap merupakan masalah pribadi, namun lebih bersifat terbuka bagi kerabat
terdekat yang dianggap mempunyai fungsi tertentu dalam menghadapi peristiwa
itu.biasanya mereka adalah kerabat wanita yang sudah berumur dan sudah biasa
menghadapi peristiwa pesalinan

9. Di daerah Papua, sebagian masyarakat di sana juga mempercayai bahwa jika ibu
melahirkan anak kembar, maka si ibu harus memilih salah satu anak untuk dibawa pulang
dan membunuh salah satunya. Hal tersebut disebabkan oleh keyakinan bahwa anak
kembar adalah dua saudara yang akan tumbuh saing bermusuhan.
Segi medis: sangat tidak dibenarkan bagi tenaga medis karena nyawa seseorang bukan
hal yang dibuat main main apalagi sampai membunuh darah dagingnya sendiri, secara
medis itu sangat salah

10. Di Bali Aga, wanita akan melahirkan duduk dengan posisi bersandar pada dada balian
tekuk(dukun beranak) di atas bangku.sang suami duduk tepat di hadapan isterinya, karena
berfungsi sebagai penerima bayi pada saat lahirnya.
Segi medis: tindakan ini sangat tidak nyaman jika diterapkan karena seorang ibu yang
melahirkan harus dengan menggunakan tindakan yang tepat.

6
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari persoalan dan pembahasan yang kami angkat tentang masalah mitos yang terjadi
dalam persalinan kala 1,2,3 dan 4 dapat kami simpulkan bahwa dalam masyarakat awam
masih banyak praktek mitos yang terjadi dan masih menganggap itu adalah hal yang biasa
dan bukan hal yang tabuh lagi untuk dilakukan, tetapi dalam hal medis mitos mitos seperti itu
ada yang baik dan ada yang tidak baik bahkan ada juga yang membahayakan untuk ibu dan
janinya. Dari mitos mitos tersebut dampaknya ada juga yang meregang nyawa ibu dan janin.
Mitos yang terjadi dimasyarakat mayoritas membawa dampak yang kurang baik bagi
persalinam seperti meminum rumput fatimah yang menyebabkan kontraksi dini yang akan
membahayakan ibu dan janinnya.

B. Saran

Yang dapat kami sarankan dalam masalah ini adalah pembaca dapat memahami dan
menerapkan mana mitos yang baik dan mana mitos yang kurang baik baik dalam praktek
persalinan nantinya. Dan diharapkan juga untuk masyarakan agar dapat mulai meninggalkan
mitos mitos yang kurang baik dilakukan untuk persalinan. Untuk tenaga medis juga
diharapkan bisa memberi penyuluhan atau sosialisasi kepada desa desa yang masih
melakukan praktek praktek mitos tersebut.

7
Daftar Pustaka

https://mi-coretanimajinasi.blogspot.com/2016/11/adat-istiadat-dan-budaya-seputar.html?m=1

https://docplayer.info/29707185-Aspek-sosial-budaya-pada-kehamilan-persalinan-dan-nifas-di-
indonesia.html

https://www.kompasiana.com/theovani/yuks-lebih-mengenal-tradisi-dan-fakta-kesehatan-ibu-dan-
bayi_552a94fff17e61bc22d623df