Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Ginjal merupakan bagian tubuh yang memiliki fungsi vital bagi tubuh kita,
merupakan organ ekskresi yang berbentuk mirip kacang yang berfungsi
menyaring urea dari darah dan membuangnya bersama air dalam bentuk urin.
Penyakit gagal ginjal adalah suatu penyakit dimana fungsi organ ginjal
mengalami penurunan hingga akhirnya tidak mampu bekerja sama sekali
dalam hal penyaringan dan pembuangan elektrolit tubuh, tidak mampu
menjaga keseimbangan cairan dan zat kimia tubuh, seperti sodium, kalium
dalam darah atau tidak mampu dalam memproduksi urin (Widayanti, 2014).
Penyakit gagal ginjal adalah suatu penyakit dimana fungsi organ ginjal
mengalami penurunan hingga akhirnya tidak lagi mampu bekerja sama sekali
dalam hal penyaringan pembuangan elektrolit tubuh, menjaga keseimbangan
cairan dan zat kimia tubuh seperti sodium dan kalium didalam darah atau
produksi urin. Penyakit gagal ginjal berkembang secara perlahan kearah yang
semakin buruk dimana ginjal sama sekali tidak lagi mampu bekerja
sebagaimana fungsinya. Dalam dunia kedokteran dikenal 2 macam jenis
gagal ginjal yaitu gagal ginjal akut dan gagal ginjal kronis (Anonim, 2010).
Adapun tanda dan gejala terjadinya gagal ginjal lainnya yang dialami
penderita secara akut antara lain : nyeri pinggang hebat (kolik), kencing sakit,
demam, kencing sedikit, kencing merah /darah, sering kencing. Kelainan
Urin: Protein, Darah / Eritrosit, Sel Darah Putih / Lekosit, Bakteri (Anonim,
2010). Sedangkan tanda dan gejala yang mungkin timbul oleh adanya gagal
ginjal kronik antara lain : Lemas, tidak ada tenaga, nafsu makan, mual,
muntah, bengkak, kencing berkurang, gatal, sesak napas, pucat/anemi.
Kelainan urin: Protein, Eritrosit, Lekosit. Kelainan hasil pemeriksaan Lab.
lain: Creatinine darah naik, Hb turun, Urin: protein selalu positif (Anonim,
2010).

1
B. Rumusan Masalah
1. Apa saja konsep medis gagal ginjal?
2. Apa saja konsep keperawatan gagal ginjal?
C. Tujuan
1. Mengetahui apa saja yang ada dalam konsep medis pada pasien dengan
gagal ginjal.
2. Mengetahui apa saja yang ada dalam konsep keperawatan pada pasien
dengan gagal ginjal.

2
BAB II

KONSEP MEDIS

A. Defenisi
Ginjal merupakan bagian tubuh yang memiliki fungsi vital bagi tubuh
kita, merupakan organ ekskresi yang berbentuk mirip kacang yang berfungsi
menyaring urea dari darah dan membuangnya bersama air dalam bentuk urin.
Penyakit gagal ginjal adalah suatu penyakit dimana fungsi organ ginjal
mengalami penurunan hingga akhirnya tidak mampu bekerja sama sekali
dalam hal penyaringan dan pembuangan elektrolit tubuh, tidak mampu
menjaga keseimbangan cairan dan zat kimia tubuh, seperti sodium, kalium
dalam darah atau tidak mampu dalam memproduksi urin (Widayanti, 2014).
Ginjal merupakan sepasang organ saluran kemih yang terletak di rongga
retroperitonial bagian atas. Bentuknya menyerupai kacang dengan sisi
cekungnya menghadap ke medial. Cekungan ini disebut hilus renalis, yang di
dalamnya 3 terdapat apeks pelvis renalis dan struktur lain yang merawat
ginjal yakni pembuluh darah, sistem limfatik, dan sistem saraf (Purnomo,
2011).
Gagal ginjal merupakan suatu keadaan klinis yang ditandai dengan
penurunan fungsi ginjal yang irreversible (Rahardjo et al., 2006).
Penyakit gagal ginjal adalah suatu penyakit dimana fungsi organ ginjal
mengalami penurunan hingga akhirnya tidak lagi mampu bekerja sama sekali
dalam hal penyaringan pembuangan elektrolit tubuh, menjaga keseimbangan
cairan dan zat kimia tubuh seperti sodium dan kalium didalam darah atau
produksi urin. Penyakit gagal ginjal berkembang secara perlahan kearah yang
semakin buruk dimana ginjal sama sekali tidak lagi mampu bekerja
sebagaimana fungsinya. Dalam dunia kedokteran dikenal 2 macam jenis
gagal ginjal yaitu gagal ginjal akut dan gagal ginjal kronis (Anonim, 2010).
B. Etiologi
Penyebab penyakit gagal ginjal dapat dibagi menjadi 3 bagian yaitu
penyakit diabetik, penyakit ginjal non diabetik dan penyakit ginjal transplan.
Pada ginjal diabetik dapat disebabkan oleh diabetes tipe 1 dan 2. penyebab

3
pada penyakit ginjal non diabetik adalah penyakit glomerulus (penyakit
autoimun, infeksi sistemik, neoplasia), penyakit vaskuler (penyakit pembuluh
darah besar, hipertensi dan mikroangiopati) penyakit tubulointerstisial
(infeksi saluran kemih, batu obstruksi dan toksisitas obat) dan penyakit kistik
(penyakit ginjal polikistik). Pada penyakit ginjal transplan dapat disebabkan
oleh rejeksi kronik, toksisitas obat, penyakit rekuren dan glomerulopati
transplan (Suhardjono, 2003 dikutip dari Susalit). Krause (2009)
menambahkan bahwa penyebab dari gagal ginjal kronik sangat beragam.
Pengetahuan akan penyebab yang mendasari penyakit penting diketahui
karena akan menjadi dasar dalam pilihan pengobatan yang diberikan.
Penyebab gagal ginjal tersebut diantaranya meliputi :
a. Penyebab dengan frekuensi paling tinggi pada usia dewasa serta anak-
anak adalah glomerulonefritis dan nefritis interstitial.
b. Infeksi kronik dari traktus urinarius (menjadi penyebab pada semua
golongan usia).
c. Gagal ginjal kronik dapat pula dialami ana-anak yang menderita kelainan
kongenital seperti hidronefrosis kronik yang mengakibatkan bendungan
pada aliran air kemih atau air kemih mengalir kembali dari kandung
kemih.
d. Adanya kelainan kongenital pada ginjal.
e. Nefropati herediter.
f. Nefropati diabetes dan hipertensi umumnya menjadi penyebab pada usia
dewasa.
g. Penyakit polisistik, kelainan pembuluh darah ginjal dan nefropati
analgesik tergolong penyebab yang sering pula.
h. Pada beberapa daerah, gangguan ginjal terkait dengan HIV menjadi
penyebab yang lebih sering.
i. Penyakit yang tertentu seperti glomerulonefritis pada penderita
transplantasi ginjal. Tindakan dialisis merupakan pilihan yang tepat pada
kondisi ini.
j. Keadaan yang berkaitan dengan individu yang mendapat obat
imunosupresif ringan sampai sedang karena menjalani transplantasi

4
ginjal. Obat imunosupresif selama periode atau masa transisi setelah
transplantasi ginjal yang diberikan untuk mencegah penolakan tubuh
terhadap organ ginjal yang dicangkokkan menyebabkan pasien beresiko
menderita infeksi, termasuk infeksi virus seperti herpes zoster.
C. Patofisiologi
Apabila ginjal kehilangan sebagian fungsinya oleh sebab apapun, nefron
yang masih utuh akan mencoba mempertahankan laju filtrasi glomerulus agar
tetap normal. Keadaan ini akan menybabkan nefron yang tersisa harus bekerja
melebihi kapasitasnya, sehingga timbul kerusakan yang akan memperberat
penurunan fungsi ginjal (Azmi, 2003). Dua adaptasi 10 penting dilakukan
oleh ginjal sebagai respon terhadap ancaman ketidakseimbangan cairan dan
elektrolit. Sisa nefron yang ada mengalami hipertropi dalam usahanya untuk
melaksanakan seluruh badan kerja ginjal. Terjadi peningkatan kecepatan
filtrasi, beban solut dan reabsobsi tubulus dalam setiap nefron meskipun
filtrasi glomerulus untuk seluruh masa nefron yang terdapat pada ginjal turun
dibawah nilai normal. Mekanisme dari adaptasi ini cukup berhasil dalam
mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh hingga tingkat
fungsi ginjal yang sangat rendah. Bila sekitar 75% masa nefron sudah hancur,
maka kecepatan filtrasi dan beban setiap nefron demikian tinggi sehingga
keseimbangan tubulus glomerulus tidak dapat lagi dipertahankan (Price &
Wilson, 1995).
D. Manifestasi Klinis
Gambaran klinik gagal ginjal kronik berat disertai sindrom azotemia
sangat kompleks, meliputi kelainan-kelainan berbagai organ seperti: kelainan
hemopoeisis, saluran cerna, mata, kulit, selaput serosa, kelainan
neuropsikiatri dan kelainan kardiovaskular (Sukandar, 2006).
1. Kelainan hemopoeisis Anemia normokrom normositer dan normositer
(MCV 78-94 CU), sering ditemukan pada pasien gagal ginjal kronik.
Anemia yang terjadi sangat bervariasi bila ureum darah lebih dari 100
mg% atau bersihan kreatinin kurang dari 25 ml per menit.
2. Kelainan saluran cerna Mual dan muntah sering merupakan keluhan
utama dari sebagian pasien gagal ginjal kronik terutama pada stadium

5
terminal. Patogenesis mual dan muntah masih belum jelas, diduga
mempunyai hubungan dengan dekompresi oleh flora usus sehingga
terbentuk amonia. Amonia inilah yang menyebabkan iritasi atau
rangsangan mukosa lambung dan usus halus. Keluhan-keluhan saluran
cerna ini akan segera mereda atau hilang setelah pembatasan diet protein
dan antibiotika.
3. Kelainan mata Visus hilang (azotemia amaurosis) hanya dijumpai pada
sebagian kecil pasien gagal ginjal kronik. Gangguan visus cepat hilang
setelah beberapa hari mendapat pengobatan gagal ginjal kronik yang
adekuat, misalnya hemodialisis. Kelainan saraf mata menimbulkan gejala
nistagmus, miosis dan pupil asimetris. Kelainan retina (retinopati)
mungkin disebabkan hipertensi maupun anemia yang sering dijumpai
pada pasien gagal ginjal kronik. Penimbunan atau deposit garam kalsium
pada conjunctiva menyebabkan gejala red eye syndrome akibat iritasi dan
hipervaskularisasi. Keratopati mungkin juga dijumpai pada beberapa
pasien gagal ginjal kronik akibat penyulit hiperparatiroidisme sekunder
atau tersier.
4. Kelainan kulit Gatal sering mengganggu pasien, patogenesisnya masih
belum jelas dan diduga berhubungan dengan hiperparatiroidisme
sekunder. Keluhan gatal ini akan segera hilang setelah tindakan
paratiroidektomi. Kulit biasanya kering dan bersisik, tidak jarang
dijumpai timbunan kristal urea pada kulit muka dan dinamakan urea
frost.
5. Kelainan selaput serosa Kelainan selaput serosa seperti pleuritis dan
perikarditis sering dijumpai pada gagal ginjal kronik terutama pada
stadium terminal. Kelainan selaput serosa merupakan salah satu indikasi
mutlak untuk segera dilakukan dialisis.
6. Kelainan neuropsikiatri Beberapa kelainan mental ringan seperti emosi
labil, dilusi, insomnia, dan depresi sering dijumpai pada pasien gagal
ginjal kronik. Kelainan mental berat seperti konfusi, dilusi, dan tidak
jarang dengan gejala psikosis juga sering dijumpai pada pasien GGK.
Kelainan mental ringan atau berat ini sering dijumpai pada pasien dengan

6
atau tanpa hemodialisis, dan tergantung dari dasar kepribadiannya
(personalitas).
7. Kelainan kardiovaskular Patogenesis gagal jantung kongestif (GJK) pada
gagal ginjal kronik sangat kompleks. Beberapa faktor seperti anemia,
hipertensi, aterosklerosis, kalsifikasi sistem vaskular, sering dijumpai
pada pasien gagal ginjal kronik terutama pada stadium terminal dan dapat
menyebabkan kegagalan faal jantung.bila ureum darah lebih dari 100
mg% atau bersihan kreatinin kurang dari 25 ml per menit.
E. Pemeriksaan Penunjang
Menurut (Doengoes, 2000:628) pada pasien Gagal Ginjal Kronik di lakukan
pemeriksaan, yaitu :
1. Kreatinin plasma meningkat, karena penurunan laju filtrasi glomerulus.
2. Natrium serum rendah / normal.
3. Kalium dan fosfat meningkat.
4. Hematokrit menurun pada animia Hb : biasanya kurang dari 7-8 gr/dl.
5. GDA : PH : penurunan asidosis matabolik (kurang dari 7,2).
6. USG ginjal.
7. Pielogram retrograde.
8. Arteriogram ginjal.
9. Sistouretrogram.
10. EKG.
11. Foto rontgen.
12. SDM waktu hidup menurun pada defisiensi eritopoetin.
13. Urine :
Volume : oliguria, anuria
Warna : keruh.
Sedimen : kotor, kecoklatan.
BD : kurang dari 1,0125.
Klerin kreatinin menurun.
Natrium: lebih besar atau sama dengan 40 m Eq/L.
Protein : proteinuria.

7
F. Penatalaksanaan
a. Terapi konservatif Tujuan dari terapi konservatif adalah mencegah
memburuknya faal ginjal secara progresif, meringankan keluhan-keluhan
akibat akumulasi toksin azotemia, memperbaiki metabolisme secara
optimal dan memelihara keseimbangan cairan dan elektrolit (Sukandar,
2006).
 Peranan diet Terapi diet rendah protein (DRP) menguntungkan untuk
mencegah atau mengurangi toksin azotemia, tetapi untuk jangka lama
dapat merugikan terutama gangguan keseimbangan negatif nitrogen.
 Kebutuhan jumlah kalori Kebutuhan jumlah kalori (sumber energi)
untuk GGK harus adekuat dengan tujuan utama, yaitu
mempertahankan keseimbangan positif nitrogen, memelihara status
nutrisi dan memelihara status gizi.
 Kebutuhan cairan Bila ureum serum > 150 mg% kebutuhan cairan
harus adekuat supaya jumlah diuresis mencapai 2 L per hari. 
Kebutuhan elektrolit dan mineral Kebutuhan jumlah mineral dan
elektrolit bersifat individual tergantung dari LFG dan penyakit ginjal
dasar (underlying renal disease).
b. Terapi simtomatik
 Asidosis metabolik Asidosis metabolik harus dikoreksi karena
meningkatkan serum kalium (hiperkalemia). Untuk mencegah dan
mengobati asidosis metabolik dapa iberikan suplemen alkali. Terapi
alkali (sodium bicarbonat) harus segera diberikan intravena bila pH ≤
7,35 atau serum bikarbonat << 20 mEq/L.
 Anemia Transfusi darah misalnya Paked Red Cell (PRC) merupakan
salah satu pilihan terapi alternatif, murah, dan efektif. Terapi
pemberian transfusi darah harus hati-hati karena dapat menyebabkan
kematian mendadak.
 Keluhan gastrointestinal Anoreksi, cegukan, mual dan muntah,
merupakan keluhan yang sering dijumpai pada GGK.gastrointestinal
ini merupakan keluhan utama (chief complaint) dari GGK. Keluhan

8
c. Terapi pengganti ginjal
Terapi pengganti ginjal dilakukan pada penyakit ginjal kronik stadium 5,
yaitu pada LFG kurang dari 15 ml/menit. Terapi tersebut dapat berupa
hemodialisis, dialisis peritoneal, dan transplantasi ginjal (Suwitra, 2006).
 Hemodialisis
Tindakan terapi dialisis tidak boleh terlambat untuk mencegah gejala
toksik azotemia, dan malnutrisi. Tetapi terapi dialisis tidak boleh
terlalu cepat pada pasien GGK yang belum tahap akhir akan
memperburuk faal ginjal (LFG).
Indikasi tindakan terapi dialisis, yaitu indikasi absolut dan indikasi
elektif. Beberapa yang termasuk dalam indikasi absolut, yaitu
perikarditis, ensefalopati/neuropati azotemik, bendungan paru dan
kelebihan cairan yang tidak responsif dengan diuretik, hipertensi
refrakter, muntah persisten, dan Blood Uremic Nitrogen (BUN) > 120
mg% dan kreatinin > 10 mg%. Indikasi elektif, yaitu LFG antara 5 dan
8 mL/menit/1,73m², mual, anoreksia, muntah, dan astenia berat
(Sukandar, 2006).
Hemodialisis di Indonesia dimulai pada tahun 1970 dan sampai
sekarang telah dilaksanakan di banyak rumah sakit rujukan.
Umumnya dipergunakan ginjal buatan yang kompartemen darahnya
adalah kapiler-kapiler selaput semipermiabel (hollow fibre kidney).
Kualitas hidup yang diperoleh cukup baik dan panjang umur yang
tertinggi sampai sekarang 14 tahun. Kendala yang ada adalah biaya
yang mahal (Rahardjo, 2006).
 Dialisis portenal (DP)
Akhir-akhir ini sudah populer Continuous Ambulatory Peritoneal
Dialysis (CAPD) di pusat ginjal di luar negeri dan di Indonesia.
Indikasi medik CAPD, yaitu pasien anak-anak dan orang tua (umur
lebih dari 65 tahun), pasien-pasien yang telah menderita penyakit
sistem kardiovaskular, pasien-pasien yang cenderung akan mengalami
perdarahan bila dilakukanhemodialisis, kesulitan pembuatan AV
shunting, pasien dengan stroke, pasien GGT (gagal ginjal terminal)

9
dengan residual urin masih cukup, dan pasien nefropati diabetik
disertai comorbidity dan co-mortality. Indikasi non-medik, yaitu
keinginan pasien sendiri, tingkat intelektual tinggi untuk melakukan
sendiri (mandiri), dan di daerah yang jauh dari pusat ginjal (Sukandar,
2006).
 Transplantasi ginjal
Transplantasi ginjal merupakan terapi pengganti ginjal (anatomi dan
faal). Pertimbangan program transplantasi ginjal, yaitu:
 Cangkok ginjal (kidney transplant) dapat mengambil alih seluruh
(100%) faal ginjal, sedangkan hemodialisis hanya mengambil alih
70-80% faal ginjal alamiah.
 Kualitas hidup tidak normal
 Komplikasi (biasanya dapat diantisipasi) terutama berhubungan
dengan obat imunosupresif untuk mencegah reaksi penolakan
 Biaya lebih murah dan dapat dibatasi
 Masa hidup (survival rate) lebih lama
G. Komplikasi
Komplikasi yang mungkin timbul akibat gagal ginjal kronis antara lain :
(Smeltzer & Bare, 2001)
1. Hiperkalemia akibat penurunan eksresi, asidosis metabolic, katabolisme
dan masukan diet berlebihan.
2. Perikarditis, efusi pericardial dan tamponade jantung akibat retensi produk
sampah uremik dan dialysis yang tidak adekuat.
3. Hipertensi akibat retensi cairan dan natrium serta malfungsi system rennin-
angiostensin-aldosteron
4. Anemia akibat penurunan eritropoetin, penurunan rentang usia sel darah
merah, perdarahan gastrointestinalakibat iritasi oleh toksin dan kehilangan
darah selama hemodialisis.
5. Penyakit tulang serta kalsifikasi metastatic akibat retensi fosfat, kadar
kalsium serum yang rendah, metabolism vitamin D abnormal dan
peningkatan kadar alumunium.

10
BAB III

KONSEP KEPERAWATAN

1. Pengkajian
a. Identitas Pasien
 Nama :
 No. RM :
 Umur : 45 tahun
 Jenis Kelamin :
 Alamat :
 Agama :
 Pekerjaan :
b. Pemeriksaan fisik (Head to Toe )
 Kepala
- Inspeksi apakah ada massa pada kepala pasien, kebersihan
kulit kepala, ketombe, kutu, dan warna rambut.
- Bentuk kepala : mesosephal (normal)
- Palpasi apakah ada massa yang terdapat besar atau kecil.
 leher
- Inspeksi leher, lihat apakah ada pembesaran
- Palpasi jika ada pembesaran kelenjar tiroid, seberapa luas
dan seberapa besar
 Mata
- Inspeksi:
Perhatikan kesimetrisan kedua mata dan alis serta
persebarannya
Konjungtiva anemis
Normal pupil mata 3-7 mm
Normal kornea tidak berwarna ( bening ) dan bertepi rata
- Palpasi
Kaji kekenyalan bola mata
Kaji jika terdapat massa

11
 Hidung
- Inspeksi
Perhatikan kesimetrisan lubang hidung kiri dan kanan
Letak hidung terletak di tengah wajah
Adanya produksi secret (jika ada), perhatikan warna,
produksi, dan bau secret
Periksa apakah tampak perforasi, massa, secret,
sumbatan, deviasi, pendarahan, atau adanya polip di
bagian dalam hidung
- Palpasi
Palpasi pada sinus-sinus hidung dengan menggunakanujung
ketiga jari tengah. Normalnya klien tidak mengeluh nyeri
atau teraba panas saat palpasi
 Telinga
- Inspeksi
Lihat kesimetrisan kedua daun telinga
Lihat adanya serumen, normalnya telinga mempunyai
serumen tapi tidak terlalu banyak
- Palpasi
Palpasi telinga pada daerah tragus, normalnya tidak akan
terasa nyeri
Jika nyeri, kemungkinan ada infeksi di dalam saluran
telinga
- Tes ketajaman pendengaran
Tes berbisik
Tes weber
Tes rinne
 Mulut
- Inspeksi:
Berdiri agak jauh dari klien, cium aroma nafasnya,
normalnya tercium segar
Bau nafas abnormal:

12
 Bau aseton (seperti buah)
 Bau amoniak
 Bau ganggren ( seperti bau busuk)
 Bau foetor hepatic
Lihat lipatan nasolabial, normalnya terletak di tengah
Bibir terletak tepat ditengah wajah, warna bibir merah
muda, lembab, tidak tampak kering ( pecah-pecah), tidak
tampak sianosis.
Normal gusi berwarna merah muda
Posisi lidah tepat ada di tengah
Posisi uvula tepat ditengah, normalnya berwarna merah
muda
 Dada (toraks)
- Paru-paru (pulmo)
Inspeksi:
Lihat gerakan dinding dada, bandingkan kesimetrisan
gerakan dinding dada kiri dan kanan saat pernafasan
berlangsung
Lihat adanya bekas luka, bekas operasi, atau adanya lesi.
perhatikan bentuk dinding dada klien, bentuk-bentuk
dinding dada:
 dada Barel (barrel chest)
 dada corong (funnel chest)
 dada burung (pigeon chest)
 dada normal (normal chest)
perhatikan adanya bentuk kelainan tulang belakang:
 scoliosis (tulang belakang berlekuk)
 kifosis ( bungkuk)
 lordosis (dada lebih maju kedepan)
Palpasi
Rasakan adanya massa dan krepitasi

13
Minta pasien mengatakan” tujuh puluh tujuh” atau
“Sembilan puluh Sembilan”, prinsip pemeriksaan:
 Getaran suara akan merambat melalui udara yang ada
dalam paru-paru( vibrasi)
 Saat bicara, getaran akan terasa dari luar dinding
dada.
Perkusi
Lakukan perkusi pada seluruh lapang paru pada ruang
interkostanya (ruang diantara 2 kosta/ ICS)
Hasil perkusi normal pada paru adalah resonan
Pada area jantung akan menghasilkan bunyi pekak ( ICS
3-5, sebelah kiri sternum)
Auskultasi
Anjurkan pasien untuk bernafas normal. Setelah beberapa
saat, letakkan stetoskop pada ICS 2 kanan, minta klien
untuk bernafas panjang
Suara nafas normal:
 Vesikuler: suara ini terdengar halus dan lembut
 Bronkovesikuler: suara ini dapat didengarkan pada
ICS 1dan 2 kiri dan kanan
 Bronkial: suaranya terdengar keras dan kasar
Suara nafas tambahan pada paru-paru:
 Krekels
 Ronki
 Mengi (wheezing)
 Pleural friction rub
 Stridor
- Jantung
Inspeksi
Denyutan jantung (saat kontraksi ventrikel) atau iktus
kordis dapat dilihat dipermukaan dinding dada pada ICS
5 midklavikular garis sinistra

14
Palpasi
Palpasi iktus kordis pada ICS 5 midklavikular garis
sinistra
Rasakan iktus kordisnya, hitung denyutan jantung yang
teraba selama 1 menit penuh
Tinggi iktus kordis norma tidak lebih dari 1 cm
Perkusi
Normalnya:
 Sepanjang ICS 3-5 toraks sinistra, terdengar suara
pekak
 Jika hasil perkusi terdengar pekak lebih dari batas
tersebut, dikatakan kardiomegali ( pembesaran
jantung)
Auskultasi
Bunyi jantung I ( S1)
 Katup mitralis terletas di ICS 5, dipotongkan dengan
midklavikular garis distra
 Katup aorta terletak di ICS 2 sternal garis sinistra
Bunyi jantung II (S2)
 Katup pulmonal terletak di ICS 2 sternal garis sinistra
 Katup trikuspidalis terletak di ICS 4 atau 5 sternal
garis sinistra
Bunyi jantung III ( S3) / gallop ( adanya bunyi bernada
rendah yang terdengar setelah S2)
Bunyi jantung IV (S4)/ murmur: bunyi jantung
berfrekuensi rendah yang bisa didengarkan sebelum S1
 Abdomen
- Inspeksi
Perhatikan bentuk abdomen klien
Perhatikan alastisitas kulit abdomen
Inspeksi umbilicus, normalnya tidak menonjol
- Auskultasi

15
Dilakukan pada keempat kuadran abdomen
Bising usus normalnya terdengar 5-30 x/i
Jika peristaltic usus terdengar lebih dari nilai normal,
kemungkinan klien sedang mengalami diare
- Perkusi
Lakukan perkusi pada kesembilan region abdomen
Jika perkusi terdengar timpani, berarti perkusi dilakukan
diatas organ yang berisi udara
Jika terdengar pekak, berarti perkusi mengenai organ
padat
- Palpasi
Berdiri disamping kanan klien
Kaji jika terdapat massa pada bdomen
 Ekstremitas bawah
- Inspeksi
Lihat apakah ada edema pada kaki
Kaji kaki dan tumit
- Palpasi
Kaji seberapa besar edemanya jika ada
Kaji jika terdapat lesi pada kaki
- Perkusi
Lakukan reflex patella
(Kumala. 2005.)
2. Diagnosa yang mungkin muncul
a. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan mual muntah dan tidak nafsu makan
b. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan keletihan
otot pernafasan
c. Gangguan rasa nyaman berhubungan gejala terkait penyakit
d. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri
e. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan
antara suplai dan kebutuhan oksigen
3. Intervensi
a. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

16
Intervensi :
- Ajarkan dan dukung konsep nutrisi yang baik dengan
klien (dan orang terdekat klien dengan tepat).
- Monitor asupan kalori makanan harian.
- Bangun harapan terkait dengan perilaku makan yang
baik, intake/asupan makanan /cairan dan jumlah
aktivitas fisik.
- Observasi klien selama dan setelah pemberian
makan/asupan makanan yang cukup tercapai dan di
pertahankan.
b. Ketidakefektifan pola nafas
Intervensi :
- Tentukan dasar status pernafasan sebagai titik
pembanding
- Bandingkan status saat ini dengan status sebelumnya
untuk mendeteksi perubahan dalam status pernafasan .
- Monitor puncak dari jumlah aliran pernafasan (PERF)
dengan tepat.
- Monitor reaksi asma.
- Ajarkan klien untuk mengidentifikasi dan
menghindari pemicu sebisa mungkin.
- Bantu untuk mengenal tanda dan gejala sebelum
terjadi reaksi asma dan implementasi dari respon
tindakan yang tepat.
c. Gangguan rasa nyaman
Intervensi :
- Luangkan waktu bersama pasien.
- Sediakan lingkungan yang tidak mengancam.
- Tawarkan pasien untuk tetap berada di lingkungan
baru selama interaksi awal dengan yang lain.
- Fasilitasi untuk mempertahankan kebiasaan tidur
pasien.
- Diskusikan situasasi khusus atau individu yang
mengancam pasien atau keluarga.
- Bantu pasien/keluarga mengidentifikasi factor apa
yang meningkatkan rasa keamanan.
d. Hambatan mobilitas fisik
Intervensi :
- Edukasi mengenai bagaimana menggunakan postur
(tubuh) dan mekamika tubuh untuk mencegah injuri
saat melakukan berbagai aktifitas.

17
- Kaji kesadaran pasien tentang abnormalitas
muskuloskeletalnya dan efek yang mungkin timbul
pada jaringan otot dan postur.
- Instruksikan untuk menggerakkan kaki terlebih
dahulu kemudian badan ketika memulai berjalan dari
posisi berdiri.
- Bantu pasien atau keluarga untuk mengidentifikasi
postur tubuh yang sesuai.
e. Intoleransi aktifitas
Intervensi :
- Bantu klien untuk mengidentifikasi aktivitas yang di
inginkan.
- Bantu klien dankeluarga untuk mengidentifikasi
kelemahan dalam level aktivitas tertentu.
- Instruksikan klien dan keluarga untuk
mempertahankan fungsi dan kesehatan terkait peran
dalam beraktivitas secara fisik, social, spiritual dan
kognisi.
- Berkoordinasi dalam menyeleksi pasien sesuai dengan
umur yang sesuai dengan aktivitas (yang akan di
lakukan)
- Fasilitasi aktivitas pengganti pada saat klien memiliki
keterbatasan waktu, energy,maupun pergerakan
dengan cara berkonsultasi pada terapis-terapis fisik,
okupasi dan terapi rekreasi.
4. Evaluasi
a. S = Subject (Respon klien)
b. O = Object (Hasil pengamatan perawat terhadap klien)
c. A = Assessment (Penilaian perawat terhadap berhasil tidaknya
asuhan yang diberikan kepada klien)
d. P = Planning (Rencana tindak lanjut)
5. Discharge planning
Discharge planning (perencanaan pulang) adalah serangkaian
keputusan dan aktivitas-aktivitasnya yang terlibat dalam pemberian
asuhan keperawatan yang kontinu dan terkoordinasi ketika pasien
dipulangkan dari lembaga pelayanan kesehatan (Potter & Perry,
2005:1106).

18
Menurut Kozier (2004), discharge planning didefenisikan sebagai
proses mempersiapkan pasien untuk meninggalkan satu unit pelayanan
kepada unit yang lain di dalam atau di luar suatu agen pelayanan
kesehatan umum.

19
BAB IV

PEMBAHASAN KASUS

Seorang laki-laki berusia 54 tahun masuk rumah sakit dengan keluhan


sesak nafas, bertambah sesak jika beraktifitas dan jika berpindah posisi, tidak bisa
tidur karena sesak nafas, badan terasa lemah, kepala terasa pusing, tidak nafsu
makan, mual dan muntah (cairan berwarna hitam), tungkainya terasa berat dan
bengkak, juga mengeluh BAK nya sedikit sejak masuk rumah sakit, keluarga
pasien mengatakan pasien pernah di rawat di rumah sakit karena infeksi pada
kandung kemih. Hasil pemeriksaan fisik: TD 150/90 mm/Hg, suhu : 36,5oC, Nadi
: 71 x/i, RR : 30 x/I, hasil pemeriksaan laboratorium : ureum darah 452 mg/dl,
kreatinin darah 33,8 mg/dl, kalium 3,3 mmol/L, total protein 6,0 g/dl, albumin 3,3
g/dl, Hb 7,7 g/dl, Ht 21%, leu 11.560/mm3 , LED 1 jam 83 mm, Eritrosit
2.710.000/mm3. Terapi yang diberikan : asfolat 3 x 5 gr, Bicnat 3 x 5 gr (IV),
amloidipin 1x1 ampul, furosemide 2x1 ampul (IV), ramipil 1x5 mg, lansoprazole
2x3 gr, Nacl 0,9% (IV) dalam 28 tetes/menit.

1. PENGKAJIAN
a. Identitas

Nama :

Umur : 54 tahun

Jenis Kelamin : laki-laki

Alamat :

Agama :

Pekerjaan :

Riwayat terdahulu : keluarga Pasien mengatakan pasien pernah


dirawat di rumah sakit karena infeksi pada
kandung kemih.

Riwayat sekarang : pasien mengeluhan sesak nafas, bertambah


sesak jika beraktifitas dan jika berpindah
posisi, tidak bisa tidur karena sesak nafas,
badan terasa lemah, kepala terasa pusing,
tidak nafsu makan, mual dan muntah

20
(cairan berwarna hitam), tungkainya terasa
berat dan bengkak, juga mengeluh BAK
nya sedikit sejak masuk rumah sakit

b. Pemeriksaan fisik
- Sesak nafas
- Badan terasa lemah
- Kepala terasa pusing
- Tidak nafsu makan
- Mual dan muntah (cairan berwarna hitam).
- Tungkainya terasa berat dan bengkak.
- Mengeluh BAK nya sedikit.
c. Pemeriksaan diagnostic :
- Ureum darah : 452 mg/dl
- Kreatinin darah : 33,8 mg/dl
- Kalium : 3,3 mmol/L
- Total protein : 6,0 g/dl
- Albumin : 3,3 g/dl
- Hb : 7,7 g/dl
- Ht : 21%
- Leu : 11.560 /mm3
- LED : 1 jam 83 mm
- Eritrosit : 2.710.000 / mm3
d. DS
- Pasien mengeluh sesak nafas dan batuk sejak 1 hari
yang lalu
- Pasien mengatakan bertambah sesak jika beraktifitas
dan jika berpindah posisi
- Pasien mengatakan tidak bisa tidur karna sesak nafas
- Pasien mengeluh badan terasa lemah
- Pasien mengatakan kepala terasa pusing
- Pasien mengatakan tidak nafsu makan
- Pasien mengatakan mual dan muntah (cair berwarna
hitam)
- Pasien mengeluh tungkainya terasa berta dan bengkak
- Pasien juga mengeluh BAKnya sedikit sejak masuk
rumah sakit

21
- Keluarga pasien mengatakan pasien memiliki riwayat
penyakit batu saluran kemih dan pernah mengalami
operasi batu ginjal sejak 25 tahun yang lalu

e. DO
- Hasil pemeriksaan fisik :
TD : 150/90 mmHg
Suhu : 36,5ºC
Nadi : 71 x / i
RR : 30 x/ i
- Hasil pemeriksaan Laboratorium :
Ureum darah : 452 mg/dl
Kreatinin darah : 33,8 mg/dl
Kalium : 3,3 mmol/L
Total protein : 6,0 g/dl
Albumin : 3,3 g/dl
Hb : 7,7 g/dl
Ht : 21%
Leu : 11.560 /mm3
LED : 1 jam 83 mm
Eritrosit : 2.710.000 / mm3
- Terapi yang diberikan :
Asfolat 3x5 gr
Bicnat 3x5 gr (IV)
Amlodipin 1x1 ampul
Furosemide 2x1 ampul (IV)
Ramipril 1x5 mg
Lanroprazole 2x3 gr
Nacl 0,9 % (IV) dalam 20 tetes/menit
2. Masalah keperawatan
1. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh 2,1,00002
2. Ketidakefektifan Pola nafas 4,4,00032
3. Gangguan rasa nyaman 12,123,00214
4. Hambatan mobilitas fisik 4,2,00085
5. Intoleransi aktivitas 4,4,0392

3. Diagnosa keperawatan
f. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan mual muntah dan tidak nafsu makan
g. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan keletihan
otot pernafasan
h. Gangguan rasa nyaman berhubungan gejala terkait penyakit

22
i. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri
j. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan
antara suplai dan kebutuhan oksigen
4. Intervensi
f. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
Intervensi :
- Ajarkan dan dukung konsep nutrisi yang baik dengan
klien (dan orang terdekat klien dengan tepat).
- Monitor asupan kalori makanan harian.
- Bangun harapan terkait dengan perilaku makan yang
baik, intake/asupan makanan /cairan dan jumlah
aktivitas fisik.
- Observasi klien selama dan setelah pemberian
makan/asupan makanan yang cukup tercapai dan di
pertahankan.
g. Ketidakefektifan pola nafas
Intervensi :
- Tentukan dasar status pernafasan sebagai titik pembanding
- Bandingkan status saat ini dengan status sebelumnya untuk
mendeteksi perubahan dalam status pernafasan .
- Monitor puncak dari jumlah aliran pernafasan (PERF) dengan tepat.
- Monitor reaksi asma.
- Ajarkan klien untuk mengidentifikasi dan menghindari pemicu sebisa
mungkin.
- Bantu untuk mengenal tanda dan gejala sebelum terjadi reaksi asma
dan implementasi dari respon tindakan yang tepat.
h. Gangguan rasa nyaman
Intervensi :
- Luangkan waktu bersama pasien.
- Sediakan lingkungan yang tidak mengancam.
- Tawarkan pasien untuk tetap berada di lingkungan baru selama
interaksi awal dengan yang lain.
- Fasilitasi untuk mempertahankan kebiasaan tidur pasien.
- Diskusikan situasasi khusus atau individu yang mengancam pasien
atau keluarga.
- Bantu pasien/keluarga mengidentifikasi factor apa yang meningkatkan
rasa keamanan.
i. Hambatan mobilitas fisik
Intervensi :
- Edukasi mengenai bagaimana menggunakan postur (tubuh) dan
mekamika tubuh untuk mencegah injuri saat melakukan berbagai
aktifitas.

23
- Kaji kesadaran pasien tentang abnormalitas muskuloskeletalnya dan
efek yang mungkin timbul pada jaringan otot dan postur.
- Instruksikan untuk menggerakkan kaki terlebih dahulu kemudian
badan ketika memulai berjalan dari posisi berdiri.
- Bantu pasien atau keluarga untuk mengidentifikasi postur tubuh yang
sesuai.
j. Intoleransi aktifitas
Intervensi :
- Bantu klien untuk mengidentifikasi aktivitas yang di inginkan.
- Bantu klien dankeluarga untuk mengidentifikasi kelemahan dalam
level aktivitas tertentu.
- Instruksikan klien dan keluarga untuk mempertahankan fungsi dan
kesehatan terkait peran dalam beraktivitas secara fisik, social, spiritual
dan kognisi.
- Berkoordinasi dalam menyeleksi pasien sesuai dengan umur yang
sesuai dengan aktivitas (yang akan di lakukan)
- Fasilitasi aktivitas pengganti pada saat klien memiliki keterbatasan
waktu, energy,maupun pergerakan dengan cara berkonsultasi pada
terapis-terapis fisik, okupasi dan terapi rekreasi.
5. Discharge planning
Pemberian informasi pada klien dan keluarga tentang:
a. Obat: beritahu klien dan kelurga tentang daftar nama obat dosis, waktu
pemberian obat. Jangan mengonsumsi obat-obatan tradisional dan
vitamin tanpa instruksi dokter. Konsumsi obat secara teratur. Jika
merasakan ada efek samping dari obat segera cek ke rumah sakit.
Perhatikan aktivitas ketika selesai meminum obat yang memiliki efek
samping mengantuk.
b. Diet: pertahankan diet seperti yang dianjurkan dokter seperti
mengonsusmsi makanan tinggi kalori dan rendah protein. Banyak
mengonsumsi makanan rendah natrium dan kalium. Kelurga harus
memperhatikan benar-benar pola makan klien. Minumlah banyak-
banyak cairan. Jangan membiasakan diri untuk menahan buang air kecil.
Pertahankan berat badan normal. Timbang berat badan secara teratur.
Hindari minuman alkhohol termasuk bir, anggur, wiski dan minuman
keras lainnya.
c. Latihan: Melatih membuat jantung lebih kuat, menurunkan tekanan
darah, dan membantu membuat klien tetap sehat. Cara terbaik untuk
mulai berolahraga perlahan-lahan dan lakukan lebih berat untuk
membuat klien lebih kuat. Lakukan beberapa kegiatan yang sudah
dijadwalkan bersama dokter dan perawat secara rutin.

24
BAB V

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Ginjal merupakan bagian tubuh yang memiliki fungsi vital bagi tubuh kita,
merupakan organ ekskresi yang berbentuk mirip kacang yang berfungsi
menyaring urea dari darah dan membuangnya bersama air dalam bentuk urin.
(Widayanti, 2014).

Penyakit gagal ginjal adalag suatu penyakit dimana fungsi organ ginjal
mengalami penurunan hingga akhirnya tidak lagi mampu bekerja sama sekali
dalam hal penyaringan pembuangan elektrolit tubuh, menjaga keseimbangan
cairan dan zat kimia tubuh seperti sodium dan kalium didalam darah atau
produksi urin. (Anonim, 2010).

B. SARAN

Saran yang mampu penulis sampaikan di dalam makalah ini yaitu


hendaknya lakukan deteksi dini penyakit gagal ginjal agar mampu mencegah
penyakit gagal ginjal sebelum mengalami fase kegawatan pada penyakit gagal
ginjal.

25
DAFTAR PUSTAKA

Anonim., 2010. Pendekatan Komprehensif Untuk Penyakit Ginjal Dan


Hipertensi. http://www.jurnalmedika.com/edisi-tahun-2010/edisi-no-12-
vol-xxxvi-2010/267-kegiatan/485-pendekatan-komprehensif-untuk-
penyakit-ginjal-dan-hipertensi. (2012)

NANDA Iternational, diagnosis keperawatan: definisi dan klasifikasi 2015-


2017 edisi 10,Nursing Intervension Classification (Nic) 2013, Edisi 6.

Nursing Intervension Classification (NIC) 2013, edisi 6

Nursing Outcomes Classification (NOC), edisi 5

Purnomo, 2011. Dasar-dasar Urologi, Jakarta : EGC

Price, Sylvia. A Lorraine, M. Wilson. (1995). Buku 1 Patofisiologi “Konsep


Klinis Proses-Proses Penyakit” , edisi : 8. Jakarta : EGC.

Rahardjo et al., Hemodialisis, Dalam : Aru W. Sudaya et al, Buku Ajar Ilmu
Penyakit Dalam, (Jakarta : Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI,
2006).

Sukandar E. 2006. Gagal Ginjal dan Panduan Terapi Dialisis. Bandung: Pusat
Informasi Ilmiah Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran
Universitas Padjajaran/RS Dr. Hasan Sadikin Bandung.

26