Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM

“ PERCOBAAN OBAT ANALGETIKA PADA MENCIT “

Penyusun:

Yeka Ramadhani 021811133035


Wulan Ruhun Natiqoh Safira 021811133036
Nur Aini Indah Lestari 021811133037
Maya Safitri 021811133038
Nadira Nurin Febrianti 021811133039
Alqomariyah Eka Purnamasari 021811133040
Rizma Puspadini Naharuddin 021811133041
Dania Artha Fakhrunnisa 021811133042
Ilona Talitha Amalia 021811133043
Shalma Maulidya 021811133044
Pamela Handy Cecilia 021811133045
Sagita Putri 021811133046

DEPARTEMEN BIOLOGI ORAL


FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS AIRLANGGA
2019
1. TUJUAN PRAKTIKUM
a. Mengamati respon nyeri pada mencit yang ditimbulkan oleh bahan kimia.
b. Mengamati respon menjilat kaki depan atau meloncat (merupakan respon nyeri pada
mencit) yang ditimbulkan reaksi termis menggunakan hot plate 51°C.
c. Mengamati hambatan respon nyeri yang timbul setelah pemberian obat analgesik.
d. Membandingkan hambatan respon nyeri yang timbul pada kelompok yang diberi obat
dengan kelompok kontrol.
e. Menjelaskan mekanisme kerja obat-obat analgesik.

2. ALAT DAN BAHAN


a. Hewan coba : Mencit
b. Obat-obat yang digunakan :
o Metampiron 100 mg/cc
o Asam Asetat 0,6%
o Larutan CMC 1%
o Kodein
o Larutan PZ
c. Hot plate
d. Stopwatch
e. Syringe

3. CARA KERJA
3.1 Induksi Nyeri Secara Kima
a. Mencit ditimbang dan dikelompokkan sesuai jumlah obat yang dipergunakan.
Kelompok I sebagai kontrol diberi CMC 1%, kelompok II diberi Metampiron 100
mg/cc per oral. Ditunggu selama 30 menit.
b. Setelah 30 menit, mencit diberi asam asetat 0,6% intra peritoneal, ditunggu selama
5 menit.
c. Setelah 5 menit, amati dan catatlah jumlah liukan setiap 5 menit selama 30 menit.
d. Bandingkan hasil yang diperoleh dari kelompok I dan kelompok II.
3.2 Induksi Nyeri Secara Termal
a. Mencit ditimbang dan dikelompokkan sesuai jumlah obat yang dipergunakan.
Kelompok I sebagai kontrol diberi CMC 1%, kelompok II diberi Kodein per oral.
Ditunggu selama 30-45 menit.
b. Setelah 45 menit, mencit diletakkan pada Hot plate dengan suhu 51°C
c. Catat waktu (mulai saat diletakkan sampai menjilat telapak kaki) yang tertera pada
hot plate.

PERHATIKAN

 Memasukkan obat per oral dengan menggunakan sonde mulut


 Obat dimasukkanlangsung dengan pelan-pelan
 Hati-hati jangan sampai obat masuk ke paru-paru.

4. HASIL PRAKTIKUM
4.1 Induksi Nyeri Secara Kimia

Kelompok Mencit Waktu (menit) Jumlah Rata-


rata
5’-10’ 10’-15’ 15’-20 20’-25’ 25’-30’

I Merah 29 18 20 13 2 82 16.4

Biru 31 16 15 4 0 66 13.2

II Merah 26 26 14 13 15 94 18.8

Biru 12 21 23 13 13 82 16.4

III Merah 16 12 7 12 8 55 11

Biru 0 2 7 7 5 21 4.2

IV Merah 22 28 19 17 11 97 19.4

Biru 6 13 13 11 0 43 8.6

V Merah 9 21 12 9 4 55 11

Biru 21 31 14 13 8 87 17.4
VI Merah 14 13 12 4 5 65 13

Biru 26 27 20 15 9 122 24.4

VII Merah 13 11 7 4 6 41 8.2

Biru 9 16 18 15 15 73 14.6

TOTAL Merah 13.9

Biru 14.11

Keterangan : Liukan mencit mulai dihitung sejak 5 menit pertama setelah mencit
diinjeksikan Asam Asetat intra peritoneal.

4.2 Induksi Nyeri Secara Termal (Hot Plate)

Kelompok Mencit Bertanda Hijau Mencit Bertanda Hitam

I 28,5 detik 14,8 detik

II 14,3 detik 17,9 detik

III 16,3 detik 29,9 detik

IV 10,0 detik 14,1 detik

V 16,9 detik 28,5 detik

VI 26,7 detik 19,2 detik

VI 9,9 detik 17,7 detik

Rata – Rata 17,5 detik 20,3 detik

Dari hasil praktikum di atas didapatkan rata rata waktu pada tikus bertanda
hijau adalah 17,5 detik , sedangkan untuk rata rata waktu pada tikus bertanda hitam
adalah 20,3 detik. Hal di atas dapat disimpulkan bahwa tikus bertanda hitam diberi
kodein karena memiliki waktu menahan panas lebih lama, sedangkan tikus
bertanda hijau tidak diberi apa - apa karena memiliki waktu menahan panas lebih
sebentar. Untuk hasil kelompok kami, yaitu kelompok IV memiliki waktu 10 detik
untuk tikus yang bertanda hijau dan waktu 14,1 detik untuk tikus bertanda hitam.

5. TINJAUAN PUSTAKA
5.1 Nyeri
Nyeri adalah pengalaman sensorik dan emosionak yang tidak menyenangkan
akibat kerusakan jaringan, baik aktual maupun potensial atau yang digambarkan dalam
bentuk kerusakan tersebut. Fenomena ini dapat berbeda dalam intensitas
(ringan.sedang,berat), kualitas (tumpul,seperti terbakar,tajam), durasi
(transien,intermiten,persisten), dan penyebaran (superfisial atau dalam,terlokalisir
atau difus). Meskipun nyeri adalah suatu sensasi, nyeri memiliki komponen kognitif
dan emosional, yang digambarkan dalam suatu bentuk penderitaan. Nyeri juga
berkaitan dengan refleks menghindar dan perubahan output otonom (Meliala, 2004).
Reseptor untuk stimulus nyeri disebut nosiseptor. Nosiseptor ini peka terhadap
rangsang mekanis, suhu, listrik atau kimiawi yang menyebabkan terlepasnya bahan
kimia ion hidrogen, ion kalium, ion polipeptida histamin dan prostaglandinuntuk
kemudian bekerja merangsang nosiseptor. Distribusi nosiseptor bervariasi di seluruh
tubuh, dengan jumlah terbesar terdapat di kulit. Nosiseptor terletak di jaringan
subkutis, otot rangka dan sendi .impuls rasa nyeri yang berasal dari nosiseptor akan
disalurkan ke susunan saraf pusat afferent melalui dua serat syaraf, yaitu: tipe saraf
bermyelin (A-Delta Fiber)atau dikenal dengan jalur nyeri cepat dan tipe saraf tak
bermyelin (C Fiber)atau dikenal dengan jalur nyeri lambat, kemudia akan timbul emosi
serta perasaan yang tidak menyenangkan sehingga timbul rasa nyeri dan reaksi
menghindar.

5.2 Mekanisme Nyeri


Mekanisme timbulnya nyeri didasari oleh proses multipel yaitu nosisepsi,
sensitisasi perifer, perubahan fenotip, sensitisasi sentral, eksitabilitas ektopik,
reorganisasi struktural, dan penurunan inhibisi. Antara stimulus cedera jaringan dan
pengalaman subjektif nyeri terdapat empat proses tersendiri: tranduksi, transmisi,
modulasi, dan persepsi. Transduksi adalah suatu proses dimana akhiran saraf aferen
menerjemahkan stimulus (misalnya tusukan jarum) ke dalam impuls nosiseptif. Ada
tiga tipe serabut saraf yang terlibat dalam proses ini, yaitu serabut A-beta, A-delta,
dan C. Serabut yang berespon secara maksimal terhadap stimulasi non noksius
dikelompokkan sebagai serabut penghantar nyeri, atau nosiseptor. Serabut ini adalah
A-delta dan C. Silent nociceptor, juga terlibat dalam proses transduksi, merupakan
serabut saraf aferen yang tidak bersepon terhadap stimulasi eksternal tanpa adanya
mediator inflamasi. (Bahrudin, 2018)

Transmisi adalah suatu proses dimana impuls disalurkan menuju kornu


dorsalis medula spinalis, kemudian sepanjang traktus sensorik menuju otak. Neuron
aferen primer merupakan pengirim dan penerima aktif dari sinyal elektrik dan
kimiawi. Aksonnya berakhir di kornu dorsalis medula spinalis dan selanjutnya
berhubungan dengan banyak neuron spinal. Modulasi adalah proses amplifikasi
sinyal neural terkait nyeri (pain related neural signals). Proses ini terutama terjadi di
kornu dorsalis medula spinalis, dan mungkin juga terjadi di level lainnya.
Serangkaian reseptor opioid seperti mu, kappa, dan delta dapat ditemukan di kornu
dorsalis. Sistem nosiseptif juga mempunyai jalur desending berasal dari korteks
frontalis, hipotalamus, dan area otak lainnya ke otak tengah (midbrain) dan medula
oblongata, selanjutnya menuju medula spinalis. Hasil dari proses inhibisi desendens
ini adalah penguatan, atau bahkan penghambatan (blok) sinyal nosiseptif di kornu
dorsalis. Persepsi nyeri adalah kesadaran akan pengalaman nyeri. Persepsi
merupakan hasil dari interaksi proses transduksi, transmisi, modulasi, aspek
psikologis, dan karakteristik individu lainnya. (Bahrudin, 2018)

Reseptor nyeri adalah organ tubuh yang berfungsi untuk menerima rangsang
nyeri. Organ tubuh yang berperan sebagai reseptor nyeri adalah ujung syaraf bebas
dalam kulit yang berespon hanya terhadap stimulus kuat yang secaara potensial
merusak. Reseptor nyeri disebut juga Nociseptor. Secara anatomis, reseptor nyeri
(nociseptor) ada yang bermiyelin dan ada juga yang tidak bermiyelin dari syaraf
aferen. (Bahrudin, 2018)
5.3 Obat Analgesik
a. Non Steroidal Anti Inflamation Drugs (NSAID)
Non Steroidal Anti Inflamation Drugs (NSAID) merupakan obat
antiiflamasi yang sering digunakan dalam penatalaksanaan nyeri muskuloskeletal,
namun memiliki risiko berupa gangguan saluran cerna (ulkus peptikum),
pendarahan, dan hipertensi. Selain memiliki efek sebagai antiinflamasi, NSAIDs
juga memiliki efek sebagai analgesik dan antipiretik. Berdasarkan selektifitasnya
terhadap COX-1 dan COX-2, NSAIDs dibagi menjadi dua jenis yaitu selektif
COX-2 dan non selektif (Indonesian Reumatology Association, 2014). NSAID
bekerja sebagai obat antiinflamasi dengan cara menghambat enzim
cyclooksigenase pada jalur asam arakidonat. Penghambatan tersebut
mengakibatkan terjadinya penghambatan sintesis prostaglandin, tromboxan, dan
prostasiklin yang merupakan mediator inflamasi (Landefeld et al., 2016).
Obat analgesik anti inflamasi non steroid merupakan suatu kelompok
sediaan dengan struktur kimia yang sangat heterogen, dimana efek samping dan
efek terapinya berhubungan dengan kesamaan mekanisme kerja sediaan ini pada
enzim cyclooxygenase (COX). Kemajuan penelitian dalam dasawarsa terakhir
memberikan penjelasan mengapa kelompok yang heterogen tersebut memiliki
kesamaan efek terapi dan efek samping, ternyata hal ini terjadi berdasarkan atas
penghambatan biosintesis prostaglandin (PG). Mekanisme kerja yang
berhubungan dengan biosintesis PG ini mulai dilaporkan pada tahun 1971 oleh
Vane dan kawan-kawan yang memperlihatkan secara invitro bahwa dosis rendah
aspirin dan indometason menghambat produksi enzimatik PG. Dimana juga telah
dibuktikan bahwa jika sel mengalami kerusakan maka PG akan dilepas.Namun
demikian obat AINS secara umum tidak menghambat biosintesis leukotrin,yang
diketahui turut berperan dalam inflamasi. AINS menghambat enzim
cyclooxygenase (COX) sehingga konversi asam arakidonat menjadi PGG2
terganggu. Setiap obat menghambat cyclooxysigenase dengan cara yang berbeda.
 Metampiron
Antalgin (Metampiron/Metamizole) bekerja sebagai analgesik.
Diabsorpsi dari saluran pencernaan, mempunyai waktu paruh 1 – 4 jam.
Antalgin adalah derivat metansulfonat dari Amidopirina yang bekerja
terhadap susunan saraf pusat yaitu mengurangi sensitivitas reseptor rasa
nyeri dan mempengaruhi pusat pengatur suhu tubuh. Tiga efek utama
adalah sebagai analgesik, antipiretik dan anti-inflamasi. Antalgin mudah
larut dalam air dan mudah diabsorpsi ke dalam jaringan tubuh. Mekanisme
kerjanya dengan menghambat secara Reversibel enzim siklooksigenase-1
1 dan 2, yang mengakibatkan pembentukan penurunan prostaglandin
prekursor (COX-1 dan2), memiliki antipiretik, analgesik, dan anti-
inflamasi.
Farmakokinetik dari metampiron yaitu setelah dosis oral dipyrone
(Antalgin / metampiron / metamizole) cepat dihidrolisis di salurang
gastrointestinal menjadi metabolit aktif 4-metil-amino-antipyrine, yang
setelah penyerapan mengalami metabolisme menjadi 4-formil-amino
Antipyrine dan metabolit lainnya. Dipyrone (Metampiron / matamizole /
antalgin) juga cepat terdeteksi dalam plasma setelah dosis intravena. Tak
satu pun dari metabolit dari dipyrone secara luas terikat untuk protein
plasma. Sebagian besar dosis diekskresikan dalam urin sebagai metabolit.
Metabolit dipyrone juga didistribusikan ke dalam ASI.

b. Opioid
Opioid dapat menimbulkan efek analgesia melalui mekanisme perifer.
Reseptor opioid yang terdapat pada jaringan saraf perifer dilapisi oleh mielin tipis.
Respons inflamasi mengakibatkan penambahan jumlah reseptor opioid perifer dan
densitas bertambah dalam hitungan menit sampai jam setelah respons inflamasi
dimulai. Dari pernyataan ini dapat disimpulkan bahwa mekanisme kerja opioid
dapat dipakai untuk mengatasi nyeri melalui mekanisme perifer.
Reseptor opioid secara luas terdistribusi dalam sistem saraf pusat yang
dikelompokkan menjdi 3 tipe utama yaitu μ, κ, dan σ reseptor. μ reseptor memiliki
jumlah yang paling banyak di otak dan merupakan reseptor yang paling
berinteraksi dengan opioidanalgesik untuk mengasilkan efek analgesik.
Sedangkan κ dan σ reseptor menunjukkan selektivitas terhahap enkefalin dan
dinorfin secara respektif. Aktivasi κ reseptor juga dapat menghasilkan efek
analgesik, namun berlawanan dengan μ agonis, yang dapat menyebabkan euforia.
Beberapa opioid analgesik mengahsilkan efek stimulan dan psikomotorik dengan
beraksi pada σ reseptor. Aktivasi pada μ dan σ reseptor dapat
menyebabknhiperpolarisasi pada saraf dengan cara mengaktivasi K chanel
melalui proses yang melibatkan G-protein.Sedangkan aktivasi κ reseptor dapat
menghambat membran Ca2+ chanel. Sehingga dapa tmerintangi peletuoan
neuronal dan pelepasan transmitter.
Opioid memiliki tiga sifat dalam berikatan dengan reseptor μ agonis murni,
agonis-antagonis, dan agonis parsial . Sifat agonis murni adalah andalan dalam
manajemen nyeri akut karena memberikan ikatan penuh terhadap reseptor μ, dan
tidak ada batas maksimal analgesia (titrasi opioid lebih lanjut akan memberikan
efek pengurangan rasa nyeri yang lebih baik). Namun, terdapat "batas maksimal
klinis" yang menimbulkan efek samping seperti sedasi, depresi pernapasan, dan
sering membatasi penambahan dosis sebelum mencapai analgesia yang adekuat.
Opioid agonis-antagonis mengaktivasi reseptor ĸ dan antagonis terhadap reseptor
μ. Meskipun mereka dipasarkan dengan memiliki efek batas maksimal terhadap
depresi pernafasan, sehingga memberikan margin keselamatan yang lebih besar,
efek ini muncul hanya pada dosis sangat besar jika dibandingkan secara relatif
terhadap agonis μ. Yang terpenting, agonis-antagonis memiliki batas maksimal
efek analgetik,sehingga golongan ini kurang memberikan sifat analgesia jika
dibandingkan dengan golongan agonis μ. Selanjutnya, agonisantagonis dapat
memicu respon withdrawal akut pada pasien yang sudah menerima agonis μ.
Opioid biasanya diberikan oleh rute oral,rektal,sublingual, intramuskular
(IM), intravena (IV), subkutan (SC) atau transdermal. Pada praktikum ini dengan
menggunakan IV (intravena) yaitu Rute intravena memiliki keuntungan
memproduksi tingkat darah yang cepat dan dapat diprediksi. Rute ini
memungkinkan titrasi tepat persyaratan analgesik dengan kebutuhan pasien.
Setelah cukup analgesia telah diperoleh dengan bolus IV, perawatan bisa
dilakukan dengan cara IV atau SC infus, atau suntikan IM.
 Kodein
Kodein dan oxycodone merupakan opioid yang sering diberikan
secara enteral terutama saat konversi dari suntikan ke oral. Efek analgetik
dan depresi nafasnya sama dengan morfin pada dosis yang equipotent.
Adanya ceiling effect terhadap depresi respirasi, serta tidak dipengaruhi
oleh pupillary sign, membuat kodein menjadi pilihan menarik walaupun
kejadian mual cukup tinggi saat pemakaian kodein. Kodein merupakan
narkotik poten moderat yang memerlukan demetilasi untuk menjadi
metabolit aktif (morfin). Metabolism codein tergantung pada enzim
sitokrom P450 (terutama CYP 2D6). Adanya variasi fenotif pada pasien
membuat respon metabolisme codein pada pasien bervariasi. Ada pasien
yang metabolisme codeinnya kurang baik, pada pasien ini konversi codein
menjadi morfin kurang adekwat sehingga menyebabkan daya analgetiknya
lemah. Pada pasien yang lain ada yang memiliki metabolismenya berlebih
sehingga terbentuk sejumlah besar morfin.
Karena itu, terdapat variasi antar individu dalam hal biotransformasi
pembentukan metabolit aktifnya, kecepatan pembentukan, serta
konsentrasi plasma dari metabolit tersebut sehingga akibatnya efikasi dari
codein sebagai prodrug sangat bervariasi. Karenanya kekuatan analgetik
codein ini menjadi sangat bervariasi dan tidak mencukupi. Untuk
mendapatkan efek sinergis,kodein dan oxykodone sering diberikan
bersama asetaminofen dan aspirin.Tablet oxycodone lepas lambat tidak
dapat berikan melalui nasogastrik tube karena bila tablet dihancurkan
maka tablet ini akan melepaskan sejumlah besar oxycodone yang akan
diabsorbsi secara sistemik.

5.4 Mekanisme Obat Analgesik


Menurut (Puspitasari, 2010), memblok rasa nyeri dimaksudkan untuk
mengurangi atau menghilangkan rasa nyeri. Banyak cara dapat dilakukan untuk
memblok nyeri, berdasarkan pemahaman mekanisme terjadinya nyeri.
1. Memblok pembentukan mediator nyeri khususnya PG, yaitu dengan pemberian
analgetik steroid (prednisone, deksametason), maupun nonsteroid (aspirin,
parasetamol, ibuprofen, dan lain-lain). Analgetik steroid (NSAID) ini yang lebih
menonjol adalah sifat antiinflamasinya (anti radang), sementara nonsteroid
sebagian besar selain bersifat analgetik antipiretik juga beberapa memiliki sifat
antiinflamasi.
2. Memblok penghantaran nyeri oleh serabut saraf dapat dilakukan melalui anestesi
(obat bius), baik local (ditempat rangsang nyeri terjadi saja) atau sistemik
(seluruh saraf tubuh). Lidokain semprot/injeksi (pada cabut gigi, khitan) adalah
contoh anestesi local. Ada juga bermacam anestesi yang diberikan melalui
injeksi intravena (masuk pembuluh darah vena), bahkan sekarang banyak
diberikan melalui sumsum tulang belakang khususnya bila diinginkan efek obat
sangat cepat seperti pada operasi section cesaria (bedah cesar).
3. Memblok pusat nyeri/reseptor nyeri di otak, yakni dengan analgetik narkotik
(morfin, pethidin). Hanya analgetik bentuk narkotik yang mampu menembus
penghalang antara darah dan otak sehingga dapat memblok rasa nyeri yang amat
sangat
4. Menghambat kerja enzim siklooksigenase yang akan mengurangi produksi
prostaglandin sehingga mengurangi rasa nyeri. Contohnya pada flavonoid
berkhasiat sebagai analgetik.
5. Menghambat enzim siklooksigenase sehingga pembentukan asam arakidonat
menjadi terganggu. Ibuprofen menghambat COX-1 dan COX-2 dan membatasi
produksi prostaglandin yang berhubungan dengan rusaknya jaringan seperti
analgetik dan inflamasi. ibuprofen lebih cepat diabsorbi dan dikenal oleh
masyarakat sebagai obat yang mampu mengobati nyeri dengan baik. Ibuprofen
diketahui merupakan obat yang memiliki kemampuan analgetik.

Obat analgetik steroid, anestesi, dan analgetik narkotik hanya dapat diberikan oleh
dokter (atas resep dokter), sementara analgetik nonsteroid dapat dibeli secara bebas oleh
konsumen (Puspitasari, 2010).
6. PEMBAHASAN
6.1 Induksi Nyeri Secara Kimia
Pada percobaan ini dilakukan percobaan rasa nyeri yang dilakukan dengan
induksi secara kimia. Percobaan ini ditujukan untuk melihat respon mencit terhadap
asam asetat yang diinjeksikan secara intraperitoneal pada mencit. Langkah pertama
yang dilakukan yaitu mencit ditimbang dan dikelompokkan sesuai dengan obat yang
akan dipergunakan. Setelah itu pada mencit dengan ekor bertanda biru diberi CMC 1%
secara peroral yang nantinya akan digunakan sebagai kontrol. Lalu mencit dengan ekor
bertanda merah diberi metampiron 100 mg/cc secara peroral sebagai obat analgesik.
Tujuan pemberian CMC 1% dan metampiron 100 mg/cc adalah untuk mengamati
hambatan respon nyeri pada mencit setelah diberi obat analgesik atau dalam percobaan
ini diberi metampiron. Setelah 30 menit mencit diberi asam asetat 0,6% secara
intraperitoneal dan ditunggu selama 5 menit. Pemberian asam asetat dilakukan melalui
intraperitoneal bertujuan agar mencegah terjadinya penguraian asam asetat dan iritasi
pada jaringan/organ yang akan dilewati seperti kerongkongan, lambung, dan lain
sebagainya.
Tujuan pemberian asam asetat pada percobaan ini adalah untuk menimbulkan
rasa nyeri melalui rangsangan kimia. Pemberian bahan kimia tertentu dapat
menyebabkan terlepasnya mediator-mediator nyeri seperti bradikinin, prostaglandin
pada jaringan yang rusak sehingga menyebabkan terjadi rangsangan reseptor nyeri
pada ujung-ujung saraf nyeri (hiperalgesia) yang kemudian akan diteruskan menuju ke
pusat nyeri pada korteks serebri oleh saraf sensoris melalui thalamus. Asam asetat
digunakan karena asam ini tergolong bersifat lemah dan sedikit mengiritasi serta
menimbulkan rasa nyeri yang ditandai dengan mencit yang menggeliat dengan
menempelkan perutnya pada lantai dan menarik kakinya ke belakang. Namun jika
dibandingkan dengan jenis asam yang lain seperti asam klorida, asam asetat memiliki
sifat yang tidak permanen sehingga masih aman digunakan dalam percobaan ini.
Sedangkan tujuan pemberian metampiron dalam percobaan ini adalah untuk
menghambat terjadinya respon nyeri pada mencit yang diberi asam asetat. Metampiron
merupakan golongan obat analgesik Non-Opioid atau Non Steroid Anti Inflamation
Drug. Obat-obatan dalam kelompok ini memiliki target aksi pada enzim, yaitu enzim
siklooksigenase (COX). COX berperan dalam sintesis mediator nyeri, salah satunya
adalah prostaglandin. Mekanisme umum dari analgetik jenis ini adalah mengeblok
pembentukan prostaglandin dengan jalan menginhibisi enzim COX pada daerah yang
terluka dengan demikian mengurangi pembentukan mediator nyeri.
Setelah dilakukan percobaan ini dapat dilihat bahwa mencit yang diberi
metampiron memiliki efek analgesik yang ditandai dengan hasil rata-rata geliat
sebanyak 13,9. Hal ini menunjukkan hasil yang lebih sedikit dibandingkan dengan
mencit yang digunakan sebagai kontrol yang diberi CMC 1% dengan hasil rata-rata
geliat sebanyak 14,11. Mencit yang digunakan sebagai kontrol memiliki rata-rata
geliat yang lebih banyak karena tidak ada obat yang menimbulkan hambatan respon
nyeri pada tubuh mencit.
Namun, pada percobaan yang dilakukan kelompok kami terjadi kesalahan hasil
karena mencit yang diberi metampiron memiliki jumlah rata-rata geliat yang lebih
banyak yaitu 19,4 dibandingkan jumlah rata-rata geliat yang diberikan pada mencit
yang diberi CMC 1% yaitu 8,6. Kesalahan hasil percobaan ini kemungkinan
disebabkan oleh 3 faktor, yaitu :

1. Kesalahan operator dalam menghitung jumlah liukan pada mencit


2. Kesalahan operator dalam mengaplikasikan asam asetat secara
intraperitoneal, bila terlalu dalam akan masuk ke dalam saluran pencernaan
sehingga efeknya akan berkurang
3. Sistem pertahanan tubuh mencit yang berbeda-beda akan menimbulkan efek
terhadap respon nyeri yang berbeda

6.2 Induksi Nyeri Secara Termal (Hot Plate)


Pada percobaan kedua, percobaan untuk rasa nyeri dinduksi dengan hot plate
(thermis). Uji analgetik dengan metode hot-plate digunakan untuk mengukur nyeri
nosiseptif spinal berdasarkan sensitifitas hewan pada kenaikan temperatur. Rangsang
nyeri yang digunakan pada metode ini berupa lempeng panas yang dipaparkan pada
telapak kaki mencit. Respon yang terjadi, mencit akan merasakan nyeri panas yang
ditandai dengan mencit akan menjilati kakinya dan melompat melompat dari tabung
pembatas. Respon yang diamati adalah lamanya waktu latensi yaitu waktu yang
diperlukan sejak mencit diletakkan diatas hot plate sampai mencit menjilati kakinya
dan melompat dari tabung pembatas.
Kodein (3-metoksimorfin) merupakan opioid fenantren yang memiliki afinitas
yang sangat rendah pada reseptor. Aktivitas analgesiknya (yang lemah) muncul
sebagai akibat dari konversinya menjadi morfin. Walaupun efek analgesiknya lebih
rendah daripada morfin, namun kodein memiliki kemanjuran peroral yang lebih baik.
Opioid memperlihatkan efek utamanya dengan berinteraksi dengan reseptor opioid
pada SSP dan saluran cerna. Opioid menyebabkan hiperpolarisasi sel saraf,
menghambat peletupan saraf, dan penghambatan presinaptik pelepasan transmiter.
Kodein bekerja pada reseptor µ dalam lamina I dan lamina II dan substansia gelatinosa
medula spinalis, dan menurunkan pelepasan substansi P, yang memodulasi persepsi
nyeri dalam medula spinalis. Reseptor µ (mu): Berperan dalam analgesia supraspinal,
depresi respirasi, euforia, dan ketergantungan. Pada percobaan kali ini dilakukan
dengan membagi mencit menjadi 2 variabel yakni mencit kontrol yang berwarna hijau
dan mencit yang sebelumnya diinduksi dengan kodein yang berwarna hitam. Kodein
ini diberikan secara peroral, kemudian ditunggu selama 30 – 45 menit. Setelah itu
mencit diletakkan diatas hot plate dengan suhu 51oC. Mencit kontrol mulai merasakan
nyeri pada detik ke 10, sedangkan mencit perlakuan mulai merasakan nyeri pada detik
ke 14,1.
Mencit yang telah diberi kodein dapat bertahan pada hot plate lebih lama
daripada mencit kontrol dikarenakan kodein merupakan obat analgesik yang berperan
untuk menghambat rasa nyeri, sehingga ambang batas rasa nyeri pada mencit yang
telah diberikan kodein lebih tinggi daripada ambang batas rasa nyeri mencit kontrol.

7. KESIMPULAN
 Analgetika merupakan suatu senyawa obat yang dioergunakan untuk mengurangi
rasa sakit atau nyeri yang diakibatkan oleh berbagai rangsangan pada tubuh
misalnya, ransangan mekanis, kimiawi, dan fisis.
 Atas dasar kerja farmakologinya, analgetika dibagi dalam dua kelompok yaitu
analgetika sentral (narkotik) dan analgetika perifer (non-narkoitk)
8. DAFTAR PUSTAKA
Bahrudin, M. (2018). PATOFISIOLOGI NYERI (PAIN). Saintika Medika, 13(1), p.7.
Imananta P. Fadhila, Sulistiyaningsih.2018. PENGGUNAAN NSAIDs (NON STEROIDAL
ANTI INFLAMATION DRUGS) MENGINDUKSI PENINGKATAN TEKANAN
DARAH PADA PASIEN ARTHRITIS. Program Studi Profesi Apoteker, Fakultas
Farmasi Universitas Padjajaran Jalan Raya Bandung Sumedang KM 21 Jatinangor
45646
Meliala, L. 2004. Nyeri Keluhan yang Terabaikan : Konsep Dahulu, Sekarang, dan yang
Akan Datang, Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar, Fakultas Kedokteran
Universitas GadjahMada
Puspitasari, Ika. 2010. Jadi Dokter untuk Diri Sendiri. Yogyakarta : B First.
Veerasingam V Kogeela.2017. OPIOID UNTUK NYERI AKUT PASCA BEDAH DAN
TRAUMA. FK UNUD/RSUP SANGLAH