Anda di halaman 1dari 15

PENGARUH UKURAN PERUSAHAAN, LEVERAGE, PROFITABILITAS,

DAN KEBIJAKAN DIVIDEN TERHADAP NILAI PERUSAHAAN


DAN MANAJEMEN LABA

ARTIKEL

Diajukan sebagai bagian dari syarat-syarat untuk mencapai


kebulatan studi Program Strata Satu (S1) pada
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mataram

Oleh :

NURUL AINI
A1C 011 110

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS MATARAM
2016
PENGARUH UKURAN PERUSAHAAN, LEVERAGE, PROFITABILITAS, DAN KEBIJAKAN
DIVIDEN TERHADAP NILAI PERUSAHAAN DAN MANAJEMEN LABA

NURUL AINI
A1C 011 110

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS MATARAM
2016

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh ukuran perusahaan, leverage,


profitabilitas, dan kebijakan dividen terhadap nilai perusahaan dan manajemen laba. Sampel
yang digunakan dalam penelitian ini adalah 105 perusahaan non-keuangan yang terdaftar di
Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2011-2014. Sampel dipilih dengan menggunakan
metode purposive sampling. Penelitian ini menggunakan analisis regresi berganda untuk
menguji dua model. Model pertama digunakan untuk menguji pengaruh ukuran perusahaan,
leverage, profitabilitas, dan kebijakan dividen terhadap nilai perusahaan. Model kedua
digunakan untuk menguji pengaruh ukuran perusahaan, leverage, profitabilitas, dan
kebijakan dividen terhadap manajemen laba. Hasil uji regresi untuk model pertama
menunjukkan bahwa ukuran perusahaan, profitabilitas, dan kebijakan dividen berpengaruh
positif terhadap nilai perusahaan sedangkan variabel leverage tidak berpengaruh terhadap
nilai perusahaan. Hasil uji regresi model kedua menunjukkan bahwa ukuran perusahaan dan
kebijakan dividen berpengaruh negatif terhadap manajemen laba, profitabilitas berpengaruh
positif terhadap manajemen laba, sedangkan leverage tidak berpengaruh terhadap
manajemen laba.

Kata kunci : ukuran perusahaan, leverage, profitabilitas, kebijakan dividen, nilai


perusahaan, manajemen laba

THE INFLUENCE OF SIZE, LEVERAGE, PROFITABILITY, AND DIVIDEND POLICY ON


COMPANY VALUES AND EARNINGS MANAGEMENT

ABSTRACT

The objective of this study is to analyze the influence of company size, leverage, profitability
and dividend policy on company value and earnings management. The sample used in this
study is consisted of 105 non-financial companies listed on the Indonesian Stock Exchange
(BEI) in the period 2011-2014. Samples were selected based on purposive sampling method.
This study uses multiple regression analysis to analyze the two models proposed. The first
model is used to analyze the influence of company size, leverage, profitability and dividend
policy on company value. The second model is used to test the influence of firm size,
leverage, profitability and dividend policy to earnings management. Regression analysis
results for the first model indicated that company size, profitability, and dividend policy has
positive influence on the value of the company while the leverage variable does not affect the
value of the company. Results of regression test of the second models showed that company
size and dividend policies negatively affect earnings management, profitability management
positive effect earnings management, whereas no leverage effect on earnings management.

Keywords : company size, leverage, profitability, dividend policy, company value, earnings
management

2
1. PENDAHULUAN

Tujuan utama perusahaan adalah untuk meningkatkan nilai perusahaan melalui


peningkatan kemakmuran pemilik atau pemegang saham (Atmaja, 1999). Kemakmuran
pemilik atau pemegang saham dapat tercermin melalui harga saham di pasar modal.
Semakin tinggi harga saham berarti kemakmuran pemegang saham semakin meningkat.
Untuk dapat menarik minat investor untuk membeli saham perusahaan, maka perusahaan
harus memiliki kinerja keuangan yang baik dan memberikan keuntungan bagi pemegang
saham. Kinerja keuangan perusahaan dapat dilihat melalui laporan keuangan yang
diterbitkan perusahaan setiap tahunnya. Laporan keuangan adalah akhir dari proses
akuntansi dengan tujuan memberikan informasi keuangan yang dapat menjelaskan kondisi
perusahaan dalam suatu periode. Informasi keuangan tersebut mempunyai fungsi sebagai
sarana informasi, alat pertanggungjawaban manajemen kepeda pemilik perusahaan,
penggambaran terhadap indikator keberhasilan perusahaan dan sebagai bahan
pertimbangan dalam pengambilan keputusan. Menurut IFRS Framework tujuan laporan
keuangan adalah untuk menyediakan informasi mengenai posisi keuangan, kinerja, dan
perubahan posisi keuangan suatu entitas yang bermanfaat bagi banyak pemakai ketika
membuat keputusan ekonomi (Horngen & Harrison, 2007). Informasi dalam laporan
keuangan pada akhirnya akan mempengaruhi nilai perusahaan. Informasi tersebut dapat
berupa ukuran perusahaan, leverage, profitabilitas, dan kebijakan dividen perusahaan.
Selain ukuran perusahaan, leverage, profitabilitas, dan kebijakan dividen informasi
dalam laporan keuangan yang sering menjadi perhatian bagi para pemakai laporan
keuangan adalah informasi laba. Laba merupakan indikator yang dapat digunakan untuk
mengukur kinerja operasional perusahaan. Informasi tentang laba digunakan untuk
mengukur keberhasilan atau kegagalan bisnis dalam mencapai tujuan operasi yang telah
ditetapkan (Parawiyati 1996 dalam Siallagan, 2009). Baik kreditor maupun investor
menggunakan laba untuk mengevaluasi kinerja manajemen, memperkirakan earnings power,
dan memprediksi laba di masa yang akan datang. Karena perhatian terhadap informasi laba
yang besar maka informasi laba menjadi bagian dari laporan keuangan yang sering menjadi
target rekayasa manajemen. Salah satu cara yang dilakukan oleh manajemen dalam proses
penyusunan laporan keuangan yang dapat mempengaruhi tingkat laba yang ditampilkan
yaitu dengan manajemen laba (earnings management).
Dalam menjalankan usahanya, perusahaan yang go public dikelola dengan
memisahkan fungsi kepemilikan dengan fungsi pengelolaan atau manajerial (Sutrisno, 2010).
Pemisahan fungsi tersebut membentuk suatu hubungan keagenan yaitu suatu hubungan di
mana pemegang saham (principal) mempercayakan pengelolaan perusahaan kepada pihak
lain atau manajer (agent) sesuai dengan kepentingan pemilik dengan mendelegasikan
beberapa wewenang pengambilan keputusan kepada agent (Jensen dan Mecling,1976
dalam Weston dan Brigham, 1990). Dalam kenyataannya pihak agent atau manajer
perusahaan sering memiliki tujuan lain yang bertentangan dengan tujuan utama perusahaan.
Manajemen perusahaan mempunyai kecenderungan untuk memperoleh keuntungan
sebesar-besarnya demi kesejahteraan mereka. Perilaku ini menimbulkan konflik kepentingan
antara pemegang saham dengan manajemen. Konflik kepentingan dapat meningkat karena
pemilik tidak dapat memonitor aktivitas manajer sehari-hari untuk memastikan bahwa
manajer berkerja sesuai dengan kepentingan pemilik perusahaan. Principal tidak memiliki
informasi yang cukup tentang kinerja agent. Di lain pihak, agent mempunyai lebih banyak
informasi mengenai kapasitas diri, lingkungan kerja, dan perusahaan secara keseluruhan.
Kondisi seperti ini disebut asymmetric information (Atmaja, 1999). Infomasi yang lebih
banyak dimiliki ini dimanfaatkan oleh manajemen untuk menyembunyikan beberapa
informasi yang tidak diketahui oleh pemilik dan mendorong manajemen untuk menyajikan
informasi yang tidak benar kepada pemilik, terutama jika informasi tersebut berkaitan dengan
kinerja agent dan laporan keuangan (Sutrisno, 2010). Beberapa faktor yang dapat
mempengaruhi manajemen untuk melakukan manajemen laba adalah ukuran perusahaan ,
leverage, profitabilitas, dan kebijakan dividen. Manajemen laba dilakukan agar memberikan
keuntungan bagi manajer berupa bonus ataupun untuk melindungi diri apabila dalam kondisi

3
yang dapat merugikan manajemen ataupun perusahaan. Dengan demikian, informasi yang
terkandung dalam laporan keuangan dapat digunakan pihak luar seperti investor ataupun
kreditor untuk mengambil keputusan yang dapat mempengaruhi nilai perusahaan. Di sisi lain,
informasi yang disampaikan dapat memotivasi manajemen untuk melakukan manajemen
laba.
Hasil penelitian terdahulu tentang pengaruh ukuran perusahaan, leverage,
profitabilitas, dan kebijakan dividen terhadap nilai perusahaan dan manajemen laba antara
lain: Sujoko dan Soebiantoro (2007), Analisa (2011) dan Rizqia, et al. (2013) menunjukkan
bahwa ukuran perusahaan berhubungan positif terhadap nilai perusahaan. Hasil penelitian
Siallagan (2009) menunjukkan ukuran perusahan memiliki pengaruh yang negatif terhadap
nilai perusahaan. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Dewi dan Wirajaya (2013) tidak
menemukan pengaruh yang signifikan antara ukuran perusahaan dengan nilai perusahaan.
Penelitian Ningsaptiti (2010) dan Agustia (2013) menunjukkan ukuran perusahaan
berpengaruh negatif terhadap manajemen laba. Hasil penelitian oleh Handayani dan Rachadi
(2009) dan penelitian Guna dan Herawaty (2010) tidak menemukan pengaruh yang signifikan
antara ukuran perusahaan dengan manajemen laba. Sujoko dan Soebiantoro (2007)
membuktikan bahwa leverage berpengaruh negatif dan signifikan terhadap nilai perusahaan.
Penelitian oleh Siallagan (2009) dan Rizqia, et al. (2013) menunjukkan bahwa leverage
berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan. Penelitian Analisa (2011) tidak
menemukan pengaruh yang signifikan antara leverage dengan nilai perusahaan. Penelitian
oleh Agustia (2013) menunjukkan leverage berpengaruh positif terhadap manajemen laba.
Hasil penelitian Guna dan Herawaty (2010) menunjukkan pengaruh negatif sedangkan Elvira
(2014) tidak menemukan pengaruh leverage terhadap manajemen laba. Penelitian yang
dilakukan oleh Sujoko dan Soebiantoro (2007), Analisa (2011), Rizqia, et al. (2013) dan Dewi
dan Wirajaya (2013) memperoleh hasil yang seragam di mana profitabilitas memiliki
pengaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan. Penelitian yang dilakukan oleh
Guna dan Herawaty (2010) dan Amertha (2013) menunjukkan profitabilitas berpengaruh
positif terhadap manajemen laba sedangkan penelitian yang dilakukan Wardani (2014) tidak
menemukan pengaruh signifikan antara profitabilitas dengan manajemen laba. Hasil
penelitian yang dilakukan oleh Sujoko dan Soebiantoro (2007) dan Rizqia, et al. (2013)
menunjukkan kebijakan dividen berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan.
Analisa (2011) menunjukkan bahwa kebijakan dividen tidak berpengaruh terhadap nilai
perusahaan. Penelitian Putri (2012) menunjukkan bahwa kebijakan dividen berpengaruh
terhadap manajemen laba sedangkan penelitian Sulistiyawati (2013) menyatakan bahwa
kebijakan dividen tidak berpengaruh terhadap manajemen laba.
Berdasarkan uraian tersebut maka peneliti tertarik untuk meneliti pengaruh ukuran
perusahaan, leverage, profitabilitas, dan kebijakan dividen terhadap nilai perusahaan dan
manajemen laba.

2. METODE PENELITIAN
2.1 Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan jenis penelitian asosiatif. Penelitian asosiatif merupakan
suatu penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dua variabel atau lebih.

2.2 Lokasi Penelitian


Penelitian ini dilakukan pada perusahaan non-keuangan yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia (BEI) tahun 2011-2014 yang diperoleh dari laporan keuangan tahunan yang
diterbitkan oleh BEI melalui situs resmi yakni www.idx.ac.id.

2.3 Populasi dan Sampel


Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan non-
keuangan yang terdaftar di bursa efek indonesia (BEI) sampai dengan tahun 2014. Periode
pengamatan dalam penelitian ini yaitu tahun 2011 sampai dengan 2014.

4
Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan non-keuangan yang
terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2011-2014. Metode pengambilan sampel
menggunakan purposive sampling. Purposive sampling adalah teknik penentuan sampel
dengan menggunakan pertimbangan tertentu (Sugiyono, 2014). Kriteria yang digunakan
dalam pengambilan sampel adalah sebagai berikut:
a) Perusahaan non-keuangan yang terdaftar di BEI periode 2011-2014;.
b) Mempublikasikan laporan keuangan yang telah diaudit selama tahun 2011 sampai
2014;
c) Membayar dividen berturut-turut selama periode yang diteliti;
Tabel 3.1
Seleksi Sampel Penelitian
No. Kriteria Jumlah
1 Jumlah perusahaan non-keuangan yang terdaftar di BEI tahun 353
2011-2014
2 Perusahaan yang tidak mempublikasikan laporan keuangan (7)
tahunannya selama tahun 2011-2014
3 Perusahaan yang tidak membayar dividen selama tahun 2011- (241)
2014 berturut-turut
Jumlah Perusahaan 105
Jumlah observasi (4 tahun) 420

2.4 Teknik Pengumpulan Data


Sesuai dengan jenis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data sekunder,
maka metode pengumpulan data yang dilakukan adalah dengan metode studi kepustakaan
dan observasi. Metode studi kepustakaan yaitu suatu cara yang dilakukan untuk memperoleh
data dengan membaca dan mempelajari buku-buku yang berhubungan dengan masalah
yang dibahas dalam lingkup penelitian ini. Sedangkan metode studi obsevasi yaitu suatu
cara memperoleh data dengan menggunakan dokumentasi berupa laporan keuangan yang
dipublikasikan dalam website BEI www.idx.ac.id.

2.5 Jenis dan Sumber Data


Penelitian ini menggunakan jenis data kuantitatif. Data kuantitatif merupakan data
yang berbentuk angka-angka atau data kualitatif yang diangkakan. Data kuantitatif yang
digunakan dalam penelitian ini adalah variabel yang diperoleh dari laporan keuangan
tahunan perusahaan perusahaan publik non-keuangan yang terdaftar di BEI tahun 2011-
2014. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data dalam penelitian
ini diperoleh melalui website resmi BEI yaitu www.idx.ac.id.
2.6 Klasifikasi Variabel
Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1. Variabel independen adalah variabel yang nilainya tidak dipengaruhi/ditentukan oleh
variabel lain di dalam model (Sugiyono, 2014). Variabel independen dalam penelitian
ini adalah ukuran perusahaan, leverage, profitabilitas dan kebijakan dividen.
2. Variabel dependen adalah variabel yang nilainya dipengaruhi/ditentukan oleh
variabel lain di dalam model (Sugiyono, 2014). Variabel dependen dalam penelitian
ini adalah nilai perusahaan dan manajemen laba.

2.7 Definisi Operasional Variabel


2.7.1 Nilai Perusahaan
Nilai perusahaan merupakan persepsi investor terhadap keberhasilan perusahaan
yang sering dikaitkan dengan harga saham. Variabel nilai perusahaan dalam penelitian ini
diukur dengan menggunakan Tobin’s Q. Rumus Tobin’s Q yang digunakan dalam penelitian
ini mengikuti ukuran dalam penelitian Rizqia, et al. (2013) dan Siallagan, 2009.
(𝑃)(𝑁) + 𝐷
𝑄=
𝐵𝑉𝐴

5
Di mana:
Q : Nilai perusahaan
P : Harga pasar saham
N : Jumlah lembar saham yang beredar
D : Nilai buku utang
BVA : Nilai buku total aktiva

2.7.2 Manajemen Laba


Manajemen laba merupakan tindakan yang dilakukan manajemen untuk
memanipulasi laporan keuangan. Manajemen laba dalam penelitian ini diukur dengan
menggunakan discretionary accruals dengan menggunakan Modified Jones Model .
Discretionary accruals dihitung dengan mengikuti rumus yang digunakan dalam penelitian
yang dilakukan oleh Agustia (2013) dengan rumus sebagai berikut:
TACit = Nit − CFOit
Nilai total accruals (TA) diestimasi dengan persamaan regresi linear berganda yang berbasis
Ordinary Least Square (OLS) sebagai berikut:
TACit/ Ait-1 = β1(1/ Ait-1) + β2 (ΔREVt / Ait-1) + β3 (PPEt / Ait-1) + e
Dengan menggunakan koefisien regresi di atas nilai non discretionary accruals (NDA) dapat
dihitung dengan rumus:
NDAit = β1(1/ Ait-1) + β2 (ΔREVt / Ait-1 - ΔRECit/ Ait-1) + β3 (PPEt / Ait-1)
Selanjutnya discretionary accruals (DA) dapat dihitung sebagai beritut:
DAit = TAit / Ait − NDAit
Keterangan
TACit : Total accruals perusahaan i pada periode t
Nit : Laba bersih perusahaan i pada periode t
CFOit : Aliran kas dari aktivitas operasi perusahaan i pada periode t
Ait-1 : Total asset perusahaan i pada tahun t-1
ΔREVt : Perubahan pendapatan perusahaan i dari tahun t-1 ke tahun t
ΔRECit : Perubahan piutang perusahaan i dari tahun t-1 ke tahun t
PPEt : Aset tetap (property, plant and equipment) perusahaan i pada tahun t
DAit : Discretionary accruals perusahaan i pada tahun t
NDAit : Non discretionary accruals perusahaan i pada tahun t
β1, β2, β3 : Koefisien regresi
e : Error

2.7.3 Ukuran Perusahaan


Ukuran perusahaan adalah suatu skala di mana perusahaan dapat diklasifikasikan
menjadi perusahaan besar dan kecil. Besar kecilnya perusahaan dapat diukur dengan
berbagai cara, antara lain: total aktiva, log size, nilai pasar saham, dan lain-lain. Dalam
penelitian ini, ukuran perusahaan diukur dengan logaritma natural dari total aset mengikuti
penelitian sebelumnya oleh Siallagan (2009) dan Rizqia, et al. (2013)
𝑆𝑖𝑧𝑒 = 𝐿𝑛 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐴𝑠𝑒𝑡

2.7.4 Leverage
Leverage merupakan pengukur besar kecilnya aktiva yang dibiayai dengan utang
yang berasal dari kreditor bukan dari pemegang saham ataupun investor. Leverage dalam
penelitian ini diproksikan dengan Debt Ratio (DR) mengikuti penelitian yang dilakukan oleh
Siallagan (2009), Analisa (2011), dan Sambora, et al. (2014) yang dihitung dengan rumus
sebagai berikut: (Fraser dan Ormiston, 2001)
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐻𝑢𝑡𝑎𝑛𝑔
𝐷𝑅 =
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐴𝑘𝑡𝑖𝑣𝑎

2.7.5 Profitabilitas
Profitabilitas adalah kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba. Dalam
penelitian ini profitabilitas diukur dengan return on asset (ROA). Rumus ROA yang

6
digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan membandingkan laba bersih dan total aktiva
(Fraser dan Ormiston, 2001). Rumus ini juga digunakan dalam penelitian yang dilakukan
oleh Rizqia, et al. (2013).
𝑙𝑎𝑏𝑎 𝐵𝑒𝑟𝑠𝑖ℎ
𝑅𝑂𝐴 =
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐴𝑘𝑡𝑖𝑣𝑎
2.7.6 Kebijakan Dividen
Kebijakan dividen adalah kebijakan manajemen tentang besarnya penghasilan
bersih setelah pajak (EAT) yang dibagikan sebagai dividen.. Kebijakan dividen dapat diukur
dengan Dividend payout ratio (DPR). DPR menurut Garrison dan Noreen (2001) mengukur
posisi earnings saat ini yang dibayarkan dalam bentuk dividen. Nilai DPR dapat dihitung
dengan rumus sebagai berikut:
𝐷𝑖𝑣𝑖𝑑𝑒𝑛𝑑 𝑝𝑒𝑟 𝑠ℎ𝑎𝑟𝑒
𝐷𝑃𝑅 =
𝐸𝑎𝑟𝑛𝑖𝑛𝑔 𝑝𝑒𝑟 𝑠ℎ𝑎𝑟𝑒

2.8 Prosedur Analisis Data


2.8.1 Analisis Statistik Deskriptif
Analisis statistik deskriptif mempunyai tujuan untuk mengetahui gambaran umum
dari semua variabel yang digunakan dalam penelitian ini, dengan cara melihat tabel statistik
deskriptif yang menunjukkan hasil pengukuran mean, nilai minimal, dan maksimal, serta
standar deviasi semua variabel tersebut.

2.8.2 Uji Asumsi Klasik


Penggunaan uji asumsi klasik bertujuan untuk mengetahui dan menguji kelayakan
atas model regresi yang digunakan dala penelitian. Tujuan lainnya yaitu untuk memastikan
bahwa di dalam model regresi yang digunakan mempunyai data yang terdistribusi normal,
bebas dari autokorelasi, multikolinearitas serta heteroskedastisitas.

2.8.2.1 Uji Normalitas


Uji normalitas data bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel
bebas, dan variabel terikat memiliki distribusi normal atau tidak. Model regresi yang baik
adalah memiliki distribusi data secara normal atau mendekati normal (Ghozali, 2005). Dalam
penelitian ini, peneliti menggunakan uji statistic Kolmogorov-Smirnov untuk melakukan uji
normalitas. Dalam uji Kolmogorov-Smirov, suatu data dikatakan normal apabila nilai
Asympotic Significant lebih dari 0,05.

2.8.2.2 Uji Multikolinearitas


Tujuan dari uji multikolinearitas adalah untuk menguji apakah model regresi memiliki
korelasi antar variabel bebas. Multikolinearitas terjadi jika terdapat hubungan linear antara
independen yang dilibatkan dalam model. Jika terjadi gejala multikolinearitas yang tinggi
maka standar eror koefisien regresi akan semakin besar, akibatnya convidence interal untuk
pendugaan parameter semakin lebar. Uji multikolinearitas ini dilakukan dengan meregresikan
model analisis dan menguji korelasi antar variabel independen dengan menggunakan
variance inflantion factor (VIF). Batas (cut off) dari VIF > 0 dan nilai tolerance jika nilai VIF
lebih besar dari 10 dan nilai tolerance kurang dari 0,10 dan tingkat kolinearitas lebih dari 0,95
maka terjadi multikolinearitas (Ghozali,2005).

2.8.2.3 Uji Heterokedastisitas


Uji heterokedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam regresi terjadi
ketidaksamaan varians dari residual satu observasi yang lain. Apabila varians dari residual
satu observasi ke observasi yang lain tetap disebut homokedastisitas. Sedangkan apabila
varians dari residual satu observasi ke observasi lain berbeda maka disebut
heterokedastisitas. Model regresi yang baik adalah homokedastisitas. Untuk mendeteksi
adanya heterokedastisitas dapat lakukan dengan melihat grafik plot dan melalui uji statiskik
(Uji Park, Uji Glejser, dan Uji White) Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan uji statistik
dengan uji Park untuk mendeteksi heteroskedastisitas.
7
2.8.2.4 Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi linier terdapat
korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode tertentu dengan kesalahan pengganggu
pada periode sebelumnya. Model regresi yang baik adalah yang bebas dari autokorelasi. Uji
autokorelasi dalam penelitian ini menggunakan Uji Lagrange Multiplier (LM test). LM test
terutama digunakan untuk sampel besar di atas 100 (Ghozali, 2005) di mana dalam
penelitian ini sampel yang digunakan adalah sebanyak 420 observasi.

2.8.3 Uji Persamaan Regresi


Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan model regresi berganda.
Analisis regresi berganda digunakan untuk mengetahui pangaruh antara variabel bebas dan
variabel terikat secara bersama-sama ataupun secara parsial. Pengujian hipotesis akan
dilakukan dengan menggunakan dua model. Model 1 penelitian ini digunakan untuk melihat
pengaruh ukuran perusahaan, leverage, profitabilitas dan kebijakan dividen terhadap nilai
perusahaan. Model 2 digunakan untuk melihat hubungan antara ukuran perusahaan,
leverage, profitabilitas dan kebijakan dividen terhadap nilai perusahaan terhadap manajemen
laba.
Dalam penelitian ini model regresi berganda yang akan digunakan adalah sebagai berikut:
Q = α0 + α1SIZE + α2DR + α3ROA + α4DPR + e ………………Model 1
DACC = α0 + α1SIZE + α2DR + α3ROA + α4DPR + e ……………… Model 2
Keterangan:
Q : Nilai Perusahaan diproksikan dengan Tobin’s Q
DACC : Manajeman Laba diproksikan dengan Discretionary Accruals
SIZE : Ukuran Perusahaan diproksikan dengan Ln Total Aset
DR : Leverage diproksikan dengan Debt Ratio
ROA : Profitabilitas diproksikan dengan ROA
DPR : Kebijakan Dividen diproksikan dengan DPR

2.8.4 Uji Hipotesis


Analisis terhadap hasil regresi dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut:
a. Koefision Determinasi
Koefisien determinasi (R2) digunakan untuk menentukan kemampuan variabel
independen dalam menjelaskan variasi varibel dependen. Nilai koefisien determinasi adalah
antara 0 (nol) dan 1 (satu). Nilai R2 yang kecil berarti kemampuan variabel independen dalam
menjelaskan variabel dependen sangat terbatas. Nilai yang mendekati 1 (satu) berarti
variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk
memprediksi variasi variabel dependen (Ghozali, 2005).
b. Uji Statistik F
Uji F digunakan untuk menguji tingkat pengaruh variabel independen terhadap
variabel dependen secara bersama-sama atau simultan. Kriteria pengujian ditetapkan
berdasarkan nilai probabilitas. Apabila tingkat signifikan yang digunakan sebesar 5%, jika
probabilitas > 0,05 maka dinyatakan tidak signifikan dan jika probabilitas < 0,05 maka
dinyatakan signifikan.
c. Uji Statistik t
Uji t digunakan untuk menguji tingkat signifikan pengaruh variabel independen
terhadap variabel dependen secara parsial. Kriteria pengujian ditetapkan berdasarkan nilai
probabilitas. Apabila tingkat signifikan yang digunakan sebesar 5%, jika probabilitas > 0,05
maka dinyatakan tidak signifikan dan jika probabilitas < 0,05 maka dinyatakan signifikan.

8
3. PEMBAHASAN
Tabel 4.1
Statistik Deskriptif
N Minimum Maximum Mean Std.
Deviation

SIZE 420 25.660 33.094 29.170 1.482


DR 420 .069 .884 .441 .179
ROA 420 .003 .714 .103 .082
DPR 420 .016 1.000 .390 .374
Q 420 .426 19.57 2.100 1.957
DACC 420 -6.177 4.779 -.002 .632
Sumber: Data diolah (Output SPSS)

Tabel 4.9
Uji Statistik t
Model 1 dan Model 2
Keterangan Unstandardized Coefficients T Sig.
B Std. Error
Model 1
(Constant) .459 .417 1.099 .272
SIZE .044 .014 3.323 .001
DR .029 .037 .767 .443
ROA .404 .026 15.491 .000
DPR .170 .031 5.525 .000
Model 2
(Constant) .196 .096 2.048 .041
SIZE -.008 .003 -2.328 .020
DR .038 .030 1.295 .196
ROA .173 .078 2.222 .027
DPR -.087 .026 -3.353 .001

Sumber: Data Diolah (Lampiran 5)

3.1 Pengaruh Ukuran Perusahaan Terhadap Nilai Perusahaan


Berdasarkan hasil uji regresi pada model 1 dapat dilihat ukuran perusahaan (SIZE)
memiliki nilai thitung sebesar 3.323 dengan probabilitas signifikansi 0.001. Hal ini berarti bahwa
probabilitas signifikansinya berada di bawah 0.05 dan t hitung lebih besar dibandingkan ttabel
(3.323 > 1.965). Hasil perhitungan tersebut menunjukkan bahwa ukuran perusahaan
berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan yang berarti semakin besar
ukuran perusahaan maka semakin besar nilai perusahaan. Dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa hipotesis pertama (H1) yang menyatakan bahwa ukuran perusahaan
berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan diterima.
Hasil penelitian ini mendukung hasil penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Sujoko
dan Soebiantoro (2007) yang menyatakan bahwa ukuran perusahaan memiliki pengaruh
positif terhadap nilai perusahaan. Sujoko dan Soebiantoro (2007) menyatakan bahwa ukuran
perusahaan dapat dijadikan sebagai patokan untuk menilai kinerja perusahaan. Perusahaan
dengan total aktiva yang besar dapat dikatakan memiliki kinerja yang baik, sebaliknya
perusahaan dengan total aktiva yang kecil memiliki kinerja yang kurang baik. Dengan nilai
aktiva yang besar, maka pihak manajemen lebih leluasa dalam mempergunakan aset yang
dimiliki untuk menghasilkan return yang tinggi. Pada umumnya return yang tinggi akan
direspon positif oleh pasar sehingga meningkatkan permintaan terhadap saham perusahaan.

9
Permintaan yang tinggi terhadap saham akan menaikkan harga saham perusahaan tersebut
di pasar modal. Selain itu, hasil penelitian Rizqia et al. (2013) menyatakan bahwa semakin
besar ukuran perusahaan akan memudahkan perusahaan tersebut dalam memperoleh
pendanaan eksternal untuk membiayai operasional perusahaan.

3.2 Pengaruh Ukuran Perusahaan Terhadap Manajemen Laba


Berdasarkan hasil uji regresi pada model 2 dapat dilihat ukuran perusahaan (SIZE)
memiliki nilai thitung sebesar -2.328 dengan probabilitas signifikansi 0.020. Hal ini berarti
bahwa probabilitas signifikansinya berada di bawah 0.05 dan nilai t hitung lebih kecil
dibandingkan nilai ttabel (-2.328 < 1.965). Hasil perhitungan tersebut menunjukkan bahwa
ukuran perusahaan berpengaruh negatif dan signifikan terhadap manajemen laba. Dengan
demikian, hipotesis kedua (H2) yang menyatakan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh
negatif terhadap manajamen laba diterima.
Hasil penelitian ini mendukung hasil penelitian terdahulu yang dilakukan oleh
Ningsaptiti (2010) dan Agustia (2013). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ukuran
perusahaan berpengaruh negatif dan signifikan terhadap manajemen laba yang artinya
semakin besar ukuran perusahaan maka akan menurunkan tingkat manajemen laba yang
dilakukan perusahaan. Ningsaptiti (2010) menyatakan bahwa semakin besar ukuran
perusahaan maka manajemen labanya akan semakin rendah. Hal ini karena perusahaan
besar biasanya memiliki peran sebagai pemegang kepentingan sehingga lebih diperhatikan
oleh masyarakat. Akibatnya, perusahaan akan lebih berhati-hati dalam melakukan
pelaporan keuangan untuk menghasilkan laporan keuangan yang akurat. Hasil penelitian ini
tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Agustia (2013), Guna dan Herawaty
(2010) dan Handayani dan Rachadi (2010).

3.3 Pengaruh Leverage Terhadap Nilai Perusahaan


Berdasarkan hasil uji regresi pada model 1 dapat dilihat variabel leverage (LEV)
memiliki nilai thitung sebesar 0.767 dengan probabilitas signifikansi 0.443. Hal ini berarti bahwa
probabilitasnya berada di atas 0.05 dan nilai thitung lebih besar dibandingkan ttabel (0.767 <
1.965). Hasil perhitungan tersebut menunjukkan bahwa leverage tidak berpengaruh
signifikan terhadap nilai perusahaan. Dengan demikian hipotesis ketiga (H 3) yang
menyatakan bahwa leverage berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan ditolak.
Hasil penelitian ini mendukung penelitian Analisa (2011) yang menyatakan leverage
tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Namun, hasil penelitian ini tidak mendukung
teori yang diajukan yang menyatakan bahwa semakin tinggi rasio leverage akan menurunkan
nilai perusahaan atau leverage berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan. Hasil
penelitian menunjukkan arah yang positif yang artinya semakin tinggi rasio leverage akan
meningkatkan nilai perusahaan. Menurut Fraser dan Ormiston (2001) jumlah dan porsi utang
dalam struktur modal sangat penting bagi seorang analis keuangan karena trade-off antara
tingkat pengembalian dan risiko. Menggunakan utang menimbulkan risiko karena utang
menimbulkan komitmen tetap berupa bunga dan pelunasan pokok utang yang harus
dipenuhi. Jumlah utang yang besar akan memberikan risiko yang besar pula. Di sisi lain,
utang juga memberikan potensi perusahaan untuk memperbesar keuntungan bagi
perusahaan. Apabila utang dikelola dengan baik maka akan meningkatkan laba perusahaan
sehingga dapat digunakan untuk menutupi utang. Selain itu, pengembalian yang tinggi akan
memperbesar keuntungan bagi pemegang saham. Hasil penelitian yang tidak signifikan
dimungkinkan terjadi karena rata-rata perusahaan yang menjadi sampel penelitian memiliki
rasio leverage sebesar 44,4% di mana nilai tersebut masih dianggap aman sehingga tidak
menurunkan minat investor ataupun kreditor untuk berinvestasi. Penelitian ini sejalan dengan
penelitian yang dilakukan oleh Siallagan (2009) dan Rizqia et al. (2013) yang menyatakan
leverage berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan meskipun tidak signifikan secara
statistik. Hasil penelitian ini bertentangan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sujoko dan
Soebiantoro (2007) yang menyatakan bahwa leverage berpengaruh negatif terhadap nilai
perusahaan.

10
3.4 Pengaruh Leverage Terhadap Manajemen Laba
Berdasarkan hasil uji regresi pada model 2 dapat dilihat variabel leverage (LEV)
memiliki nilai thitung sebesar 1.295 dengan probabilitas signifikansi 0.196. Hal ini berarti bahwa
probabilitasnya berada di ats 0.05 dan thitung lebih kecil dibandingkan ttabel (1.295 < 1.965).
Hasil perhitungan tersebut menunjukkan bahwa leverage tidak berpengaruh signifikan
terhadap manajemen laba. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hipotesis keempat
(H4) yang menyatakan bahwa leverage berpengaruh positif terhadap manajemen laba
ditolak.
Debt ratio (DR) merupakan pengukur besar kecilnya aktiva yang dibiayai dengan
utang yang berasal dari kreditor. Semakin besar debt ratio suatu perusahaan menunjukkan
perusahaan tersebut memiliki leverage yang tinggi dan semakin besar pula biaya keuangan
tetap yang harus ditanggung oleh perusahaan. Penelitian ini mendukung penelitian
sebelumnya yang dilakukan oleh Elfira (2014) yang menyatakan bahwa leverage tidak
berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba. Hasil penelitian ini tidak dapat
membuktikan Debt Covenant Hypothesis yang dikemukakan oleh Watts dan Zimmerman
(1996) dalam Agustia (2013) yang menyatakan bahwa manajer termotivasi untuk melakukan
manajemen laba untuk menghindari pelanggaran perjanjian utang. Hal ini dikarenakan rata-
rata debt ratio perusahaan yang digunakan sebagai sampel adalah sebesar 44,4% artinya
dari keseluruhan modal yang dimiliki oleh perusahaan 44,4% dibiayai oleh utang sedangkan
55,6% lainnya sudah merupakan hak perusahaan. Keadaan ini dipandang sebagai kondisi
yang aman bagi perusahaan dalam artian perusahaan mampu untuk membayar utang yang
digunakan untuk membiayai aset perusahaan, sehingga manajer tidak termotivasi untuk
melakukan manajemen laba. Penelitian ini tidak mendukung penelitian sebelumnya yang
dilakukan oleh Agustia (2013) dan Guna dan Herawaty (2010) yang menyatakan bahwa
leverage berpengaruh positif terhadap manajemen laba.

3.5 Pengaruh Profitabilitas Terhadap Nilai Perusahaan


Berdasarkan hasil uji regresi pada model 1 dapat dilihat variabel profitabiliitas (ROA)
memiliki nilai thitung sebesar 15.491 dengan probabilitas signifikansi 0.000. Hal ini berarti
bahwa probabilitasnya berada di bawah 0.05 dan t hitung lebih besar dibandingkan ttabel (15.491
> 1.965). Hasil tersebut menunjukkan bahwa profitabilitas berpengaruh positif terhadap nilai
perusahaan. Dengan demikian, hipotesis kelima (H5) yang menyatakan bahwa profitabilitas
berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan diterima.
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh
Sujoko dan Soebiantoro (2007), Analisa (2011), Dewi dan Wirajaya (2013) dan Rizqia et al.
(2013). Dalam penelitian ini profitabilitas diukur dengan Return On Assets (ROA). ROA
mengukur kesuksesan perusahaan dalam menghasilkan pendapatan (Horngen & Harrison,
2007). Nilai ROA yang tinggi menandakan perusahaan mampu menghasilkan laba yang
tinggi dengan aktiva yang dimiliknya. Sementara itu, nilai ROA yang rendah menandakan
banyak aset yang menganggur dalam artian tidak memberikan pemasukan bagi
perusahaan.Dari sudut pandang investor, salah satu indikator penting untuk menilai prospek
perusahaan di masa depan adalah dengan melihat sejauhmana pertumbuhan profitabilitas
perusahaan (Tandelilin, 2001). Profitabilitas yang tinggi akan memberikan sinyal yang positif
bagi investor bahwa perusahaan berada dalam kinerja yang baik. Hal ini menjadi daya tarik
bagi investor untuk memiliki saham perusahaan, karena apabila perusahaan memiliki kinerja
yang baik akan memberikan keuntungan bagi investor. Permintaan saham yang tinggi akan
menaikkan harga saham perusahaan sehingga nilai perusahaan akan meningkat.

3.6 Pengaruh Profitabilitas Terhadap Manajemen Laba


Berdasarkan hasil uji regresi pada model 2 dapat dilihat variabel profitabilitas (ROA)
memiliki nilai thitung sebesar 2.222 dengan probabilitas signifikansi 0.027. Hal ini berarti bahwa
probabilitasnya berada di bawah 0.05 dan nilai t hitung lebih besar dibandingkan nilai ttabel
(2.222 > 1.965). Hasil tersebut menunjukkan bahwa profitabilitas memiliki pengaruh positif
dan signifikan terhadap manajemen laba. Dengan demikian, hipotesis keenam (H6) yang
menyatakan bahwa profitabilitas berpengaruh positif terhadap manajemen laba diterima.

11
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Guna dan
Herawaty (2010) dan Amertha (2013) yang menyatakan bahwa profitabilitas berpengaruh
positif terhadap manajemen laba. Artinya, semakin tinggi profitabilitas perusahaan maka
akan meningkatkan praktik manajemen laba. Profitabilitas merupakan kemampuan
perusahaan dalam menghasilkan laba. Ketika laba perusahaan dalam satu periode sangat
tinggi ada kemungkinan terjadi penurunan laba pada periode berikutnya. Perubahan drastis
yang terjadi pada nilai laba cenderung tidak disukai oleh investor. Oleh karena itu,
perusahaan akan berusaha mengatur labanya agar tetap stabil dengan melakukan
manajemen laba. Penelitian ini tidak mendukung penelitian yang dilakukan oleh Wardani
(2014) yang menyatakan bahwa profitabilitas tidak berpengaruh terhadap manajemen laba.

3.7 Pengaruh Kebijakan Dividen Terhadap Nilai Perusahaan


Berdasarkan hasil uji regresi pada model 1 dapat dilihat variabel kebijakan dividen
(DPR) memiliki nilai thitung sebesar 5.525 dengan probabilitas signifikansi 0.000. Hal ini berarti
bahwa probabilitasnya berada di bawah 0.05 dan nilai t hitung lebih besar dibandingkan nilai
ttabel (5.525 > 1.965). Hasil tersebut menunjukkan bahwa kebijakan dividen memiliki pengaruh
positif terhadap nilai perusahaan. Dengan demikian hipotesis ketujuh (H7) yang menyatakan
bahwa kebijakan dividen berpengaruh positif terhadap manajemen laba diterima.
Hasil penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Sujoko dan
Soebiantoro (2007) dan Rizqia et al. (2013). Menurut Rizqia et al. (2013) hubungan antara
kebijakan dividen dan nilai perusahaan mengacu pada asimetri informasi antara manajemen
dengan investor. Manajemen memiliki informasi mengenai kondisi perusahaan lebih banyak
dibandingkan dengan investor. Jadi, setiap kebijakan yang diambil manajemen dianggap
merefleksikan kondisi dan kinerja perusahaan. Kebijakan dividen yang tinggi menandakan
perusahaan dalam kondisi yang baik sehingga akan direspon positif oleh investor dan
menaikkan harga saham perusahaan. Penelitian ini juga mendukung Teori Relevansi Dividen
yang menyatakan bahwa investor umumnya menghindari risiko dan dividen yang diterima
saat ini mempunyai risiko yang lebih kecil dibandingkan dengan dividen yang akan diterima
di masa mendatang. Jadi semakin besar dividen yang dibayarkan perusahaan semakin
besar pula nilai perusahaan. Hasil penelitian ini tidak mendukung hasil penelitian terdahulu
yang dilakukan oleh Sulistiyawati (2013).

3.8 Pengaruh Kebijakan Dividen Terhadap Manajemen Laba


Berdasarkan hasil uji regresi pada model 2 dapat dilihat variabel kebijakan dividen
(DPR) memiliki nilai thitung sebesar -3.353 dengan probabilitas signifikansi 0.003. Hal ini
berarti probabilitasnya berada di bawah 0.05 dan nilai t hitung lebih kecil dibandingkan nilai ttabel
(-3.353 > 1.965). Hasil tersebut menunjukkan bahwa kebijakan kebijakan dividen
berpengaruh negatif dan signifikan terhadap manajemen laba. Dengan demikian, hipotesis
kedelapan (H8) yang menyatakan kebijakan dividen berpengaruh negatif terhadap
manajemen laba diterima.
Penelitian ini mendukung hasil penelitian yang dilakukan Putri (2012) menyatakan
bahwa kebijakan dividen berpengaruh terhadap manajemen laba. Kebijakan dividen dalam
penelitian ini diukur dengan Dividend Payout Ratio (DPR). DPR merupakan besaran laba
yang dibagikan dalam bentuk dividen tunai. Dalam hubungannya dengan manajemen laba,
kebijakan dividen dianggap sebagai sumber konflik antara manajemen dengan pemegang
saham Ahmad dalam Putri (2012). Hasil ini mendukung teori keagenan yang menyatakan
bahwa antara prinsipal (pemegang saham) dan agen (manajemen) memiliki kepentingan
yang berbeda dan kedua belah pihak menginginkan keuntungan yang maksimal. Dalam hal
ini kebijakan dividen merupakan sumber konflik di mana pemegang saham berharap
memperoleh keuntungan melalui pembayaran dividen sementara itu manajemen berusaha
mempertahankan laba agar dapat memberikan manfaat pada perusahaan bukan kepada
pemegang saham. Hasil penelitian ini tidak mendukung penelitian sebelumnya yang
dilakukan oleh Sulistiyawati (2013) yang menyatakan bahwa kebijakan dividen tidak
berpengaruh terhadap manajemen laba.

12
4. PENUTUP
4.1 Simpulan
Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh ukuran perusahaan, leverage,
profitabilitas, dan kebijakan dividen terhadap ukuran perusahaan dan manajemen laba.
Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan pada bab sebelumnya, maka dapat diambil
kesimpulan bahwa ukuran perusahaan, profitabilitas, dan kebijakan dividen berpengaruh
positif terhadap nilai perusahaan, sedangkan leverage tidak terbukti berpengaruh terhadap
nilai perusahaan. Sementara itu, untuk variabel yang memiliki pengaruh signifikan terhadap
manajemen laba adalah variabel ukuran perusahaan, profitabilitas, dan kebijakan dividen
sedangkan variabel leverage secara statistik tidak terbukti mempengaruhi manajemen laba.

4.2 Keterbatasan dan Saran


Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan, yaitu:
1. Penelitian ini memiliki nilai adjusted R square yang kecil yang berarti kemempuan
variabel-variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen sangat
terbatas. Oleh karena itu disarankan untuk menambah variabel penelitian dengan
menggunakan variabel Good Corporate Governance (GCG) atau Corporate Social
Responsibility (CSR).
2. Penelitian ini menggunakan periode pengamatan dari tahun 2011-2014 sehingga
rentang waktu yang digunakan relatif pendek dalam mendeteksi pengaruh ukuran
perusahaan, leverage, profitabilitas, dan kebijakan dividen terhadap nilai perusahaan
dan manajemen laba. Oleh karena itu disarankan penelitian selanjutnya
menggunakan periode pengamatan yang lebih panjang, misalnya di atas lima tahun
dan seterusnya.
3. Penelitian ini menguji pengaruh variabel independen tehadap manajemen laba
secara umum. Disarankan penelitian selanjutnya menguji pengaruh variabel
independen terhadap manajemen laba secara lebih spesifik seperti manajemen laba
dengan pola income smoothing, income decreasing, ataupun income increasing

DAFTAR PUSTAKA
Agustia, Dian. 2013. Pengaruh Faktor Good Corporate Governance, Free Cash Flow, dan
Leverage terhadap Nilai Perusahaan. Jurnal Akuntansi dan Keuangan, Vol. 15, No.
1, Mei 2013, 27-42.
Amertha, Indra Satya Prasavita. 2013. Pengaruh Return On Asset pada Praktik Manajemen
Laba dengan Moderasi Corporate Governance. E-Jurnal Akuntansi Universitas
Udayana 4.2 [2013]: 373-387.
Analisa, Yangs. 2011. Pengaruh Ukuran Perusahaan, Leverage, Profitabilitas dan Kebijakan
Dividen terhadap Nilai Perusahaan (Studi pada Perusahaan Manufaktur yang
Terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2006-2008). Fakultas Ekonomi Universitas
Diponegoro. Semarang. Skripsi tidak dipublikasikan.
Atmaja, Lukas Setia. 1999. Manajemen Keuangan. Edisi Revisi. Yogyakarta: Andi Offset.
Belkaoui, Ahmed Riahi. 2000. Teori Akuntansi. Edisi Pertama. Jakarta: Salemba Empat.
Dewi, Ayu Sri Mahatma dan Ary Wirajaya. 2013. Pengaruh Struktur Modal, Profitabilitas dan
Ukuran Perusahaan pada Nilai Perusahaan. E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana
4.2 [2013]: 358-372.
Elfira, Anisa. 2014. Pengaruh Kompensasi Bonus dan Leverage terhadap Manajemen Laba
(Studi Empiris Pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia
Tahun 2009-2012). Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Padang. Artikel Ilmiah.
13
Fraser, Lyn M dan Aileen Ormiston. 2001. Memahami Laporan Keuangan. Edisi Keenam.
Jakarta: PT. Indeks.
Garrison, Ray H. dan Eric W. Noreen. 2001. Akuntansi Manajerial. Buku Dua. Jakarta:
Salemba Empat.
Ghozali, Imam. 2005. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS. Edisi Ketiga.
Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
Guna, Welvin I dan Arleen Herawaty. 2010. Pengaruh Mekanisme Good Corporate
Governance, Independensi Auditor, Kualitas Audit dan Faktor Lainnya terhadap
Manajemen Laba. Jurnal Bisnis dan Akuntansi, Vol. 12, No. 1, April 2010, Hlm. 53-
68.
Handayani, RR. Sri dan Agustono Dwi Rachadi. 2009. Pengaruh Ukuran Perusahaan
terhadap Manajemen Laba. Jurnal Bisnis dan Akuntansi, Vol. 11, No. 1, April 2009,
Hlm. 33-56.
Herawaty, Vinola. 2008. Peran Praktek Corporate Governance sebagai Moderating Variable
dari Pengaruh Earnings Management terhadap Nilai Perusahaan. Jurnal Akuntansi
dan Keuangan, Vol. 10, No. 2, November 2008: 97-108.
Horngen, Charles T dan Walter T. Harrison Jr. 2007. Akuntansi. Edisi 7, Jilid 1. Jakarta:
Erlangga.
Husnan, Suad. 1996. Manajemen Keuangan, Teori dan Penerapan (Keputusan Jangka
Panjang). Edisi 4, Buku 1. Yogyakarta: BPFE.
Irawan, Wisnu Arwindo. 2013. Analisis Pengaruh Kepemilikan Institusional, Leverage,
Ukuran Perusahaan dan Profitabilitas terhadap Manajemen Laba. (Studi pada
Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2009-2011).
Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro. Semarang. Skripsi tidak
dipublikasikan.
Kasmir. 2012. Analisis Laporan Keuangan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Martani, et al. 2012. Akuntansi Keuangan Menengah: Berbasis PSAK. Buku 1. Jakarta:
Salemba Empat.
Ningsaptiti, Restie. 2010. Analisis Pengaruh Ukuran Perusahaan dan Mekanisme Corporate
Governance terhadap Manajemen Laba (Studi Empiris pada Perusahaan Manufaktur
yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia 2006-2008). Fakultas Ekonomi Universitas
Diponegoro. Semarang. Skripsi
Putri, IGA Made Ayu Asri Dwija. 2012. Pengaruh Kebijakan Dividen dan Good Corporate
Governance terhadap Manajemen Laba. Buletin Studi Ekonomi, Volume 17, No. 2,
Agustus 2012.
Rizqia, Dwita Ayu; Siti Aisjah; dan Sumiati. 2013. Effect of Managerial Ownership, Financial
Leverage, and Investment Opportunity on Dividend Policy and Firm Value. Research
Journal of Financial and Accounting, Vol. 4, No. 11, 2013.
Sambora, Mareta Nurjin; Siti Ragil Handayani; dan Sri Mangesti Rahayu. 2014. Pengaruh
Leverage dan Profitabilitas terhadap Nilai Perusahaan. Jurnal Administrasi Bisnis
(JAB), Vol. 8, No. 1, Februari 2014.
Scott, William R. 2003. Financial Accounting Theory. Third Edition. Canada: prentice Hall.
Siallagan, Hamonangan. 2009. Pengaruh Kualitas Laba terhadap Nilai Perusahaan. Jurnal
Akuntansi Kontemporer, Vol. 1 No. 1, Januari 2009, Hal. 21-32.
Sudiyanto, Bambang dan Elen Puspitasari. 2010. Tobin’s Q dan Altman Z-Score sebagai
Indikator Kinerja Perusahaan. Kajian Akuntansi, Vol. 2, No. 1, Pebruari 2010.
Sugiyono. 2014. Statistika untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.

14
Sujoko dan Ugy Soebiantoro. 2007. Pengaruh Struktur Kepemilikan Saham, Leverage,
Faktor Intern dan Faktor Ekstern terhadap Nilai Perusahaan (Studi Empirik pada
Perusahaan Manufaktur dan Non Manufaktur di Bursa Efek Jakarta). Jurnal
Manajemen dan Kewirausahaan, Vol. 9, No. 1, Maret 2007: 41-48.
Sulistiyawati. 2013. Pengaruh Nilai Perusahaan, Kebijakan Dividen, dan Reputasi Auditor
terhadap Perataan Laba. Accounting Analysis Journal 2 (2) (2013).
Sundjaja, Ridwan S. dan Inge Berlian. 2002. Manajemen Keuangan. Edisi 3, Buku 2. Jakarta:
Prenhallindo.
Sutrisno. 2010. Pengaruh Earnings Management terhadap Nilai Perusahaan dengan
Mekanisme Corporate Governance sebagai Moderating Variable. Fakultas Ekonomi
Universitas Diponegoro. Semarang. Skripsi tidak dipublikasikan.
Suwito, Edy dan Arleen Herawaty. 2005. Analisis Pengaruh Karakteristik Perusahaan
terhadap Tindakan Perataan Laba yang Dilakukan oleh Perusahaan yang Terdaftar
di Bursa Efek Jakarta. Simposium Nasional Akuntansi VIII, Solo, 15-16 September
2005.
Tandelilin, Eduardus. 2001. Analisa Investasi dan Manajemen Portofolio. Edisi Pertama.
Yogyakarta: BPFE.
Wardani, Katarina Rere. 2014. Pengaruh Profitabilitas, Leverage, dan Ukuran Perusahaan
terhadap Manajemen Laba. Fakultas Ekonomi Universitas Widyatama. Bandung.
Skripsi tidak dipublikasikan.
Weston, J. Fred dan Eugene F. Brigham. 1990. Dasar-dasar Manajemen Keuangan. Edisi
Kesembilan, Jilid 1. Jakarta: Erlangga.
http://www.idx.co.id diakses tanggal 21-25 Maret 201, 16 November 2015, dan 26 Oktober
2016.

15