Anda di halaman 1dari 47

PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN

INFEKSI 2019-nCoV

Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi


RSUD Dr. Soetomo
Perhimpunan Dokter Paru Indonesia ( PDPI ) Cabang Jawa Timur

1
CORONA
VIRUS

Kedaruratan dunia Internasional


kedaruratan masyarakat

2
3
Prevention
▪ There is currently no vaccine to prevent 2019-nCoV infection.
▪ he best way to prevent infection is to avoid being exposed to this
virus. However, as a reminder, CDC always recommends everyday
preventive actions to help prevent the spread of respiratory viruses,
including:
▪ Wash your hands often with soap and water for at least 20 seconds.
Use an alcohol-based hand sanitizer that contains at least 60% alcohol
if soap and water are not available.
▪ Avoid touching your eyes, nose, and mouth with unwashed hands.
▪ Avoid close contact with people who are sick.

4
Prevention
▪ Stay home when you are sick.
▪ Cover your cough or sneeze with a tissue, then throw the tissue in the
trash.
▪ Clean and disinfect frequently touched objects and surfaces.
▪ These are everyday habits that can help prevent the spread of several
viruses. CDC does have specific guidance for travelers.
▪ Info for Travelers

5
Pengendalian
Administratif

Prinsip Pencegahan
& Strategi
Pengendalian Infeksi

Pengendalian Alat Pelindung Diri


Lingkungan (APD)

6
Pengendalian Administratif

Pencegahan Infeksi
Selama perawatan
kesehatan (Mulai
Penyediaan kebijakan masuk sampai
Mendeteksi
infrastruktur & prosedur keluar dari
Fasyankes)

Pengendalian Infeksi

7
Pengendalian Administratif & Kebijakan yang Diterapkan
meliputi :
▪ Penyediaan infrastruktur & Kegiatan PPI yang berkesinambungan
▪ Pembekalan pengetahuan petugas kesehatan
▪ Mencegah kepadatan pengunjung di ruang tunggu
▪ Menyediakan ruang tunggu khusus orang sakit & penempatan pasien
rawat inap
▪ Mengorganisir pelayanan kesehatan

8
Langkah Penting dalam Pengendalian Administratif :

▪ Identifikasi dini pasien dengan ISPA/ILI ( Ringan / berat) → Triase Klinis


– Pasien ISPA yang diidentifikasi harus ditempatkan di area
terpisah dari pasien lain.
▪ Penerapan tindakan pencegahan yang cepat & tepat
▪ Pelaksanaan pengendalian sumber infeksi

9
Pengendalian Lingkungan

Memastikan
ventilasi lingkungan
cukup memadai
Tujuan
Kebersihan
lingkungan yang
memadai
10
Pengendalian Lingkungan RS
▪ Konstruksi bangunan
– Ventilasi baik,
– Dinding,
– Plafon kuat dan bersih
▪ Air (air tanah/ PAM)
– Jernih, tidak berbau
▪ Udara
– Ventilasi cukup, bersih
▪ Permukaan Lingkungan
– Bersih, tidak ada debu
– Tidak ada binatang pengganggu

11
PENGENDALIAN LINGKUNGAN
Kebersihan Permukaan
Kategori Metode

Area non-kritis Air dan deterjen


Risiko minimal, tidak kontak dengan pasien, misal:
area kantor

Area semi-kritis • Permukaan besar/ luas (lantai, dinding)


area dengan risiko infeksi sedang persyaratan • Jika ada risiko kontaminasi darah/cairan tubuh: sodium
sterilitas dan kebersihan pada area perawatan hyochlorite / klorin
biasa yang bukan perawatan pasien infeksius. • Jika tidak ada risiko kontaminasi darah/ cairan tubuh atau
pada permukaan yang tidak tahan klorin: quaternary
ammonium compounds
• Permukaan kecil yang sering tersentuh
Area kritis handle pintu, bedrail, meja pasien, pinggiran
klasifikasi clean room, sterilitas dan kebersihan korden/sketsel): dengan alkohol
lingkungan level tinggi, diantaranya: kamar
operasi, IGD, ruang isolasi, ruang perawatan kritis.

12
Penempatan Pasien
▪ Tempatkan pasien dengan jarak minimal 1 meter

▪ Tempatkan pasien infeksius, berdasarkan transmisi


infeksi

▪ Tempatkan pasien tersendiri jika tidak dapat


menjaga kebersihan diri sendiri

13
Alat Pelindung Diri ( APD )
Kewaspadaan
berdasarkan
transmisi

Airborne/ Droplet/
udara Kontak Percikan

Petugas Pasien Petugas Petugas

Masker Masker Sarung Masker bedah,


N95/Respiratorik bedah tangan, Gaun pelindung wajah
14
3 Kategori Kewaspadaan
Berbasis Transmisi
Sebagai tambahan kewaspadaan standar, sesuai
dengan cara transmisi penyakit
Contact Precaution
Airborne Precaution
Droplet Precaution

SPO
Standar Prosedur
Operasional

15
CONTACT PRECAUTIONS
▪ Kategori berikut digunakan pada pasien yang dikonfirmasi
terinfeksi atau terkolonisasi oleh mikroorganisme yang
dapat ditransmisikan dengan kontak langsung dan/atau
benda di sekitar pasien
▪ Ruang privat/ kohort
▪ Sarung tangan, gaun dan apron (bila perlu) sebelum masuk
ke ruangan
▪ Transport, batasi transpor pasien antar ruangan, batasi jika
sangat perlu saja
▪ Peralatan perawatan pasien: gunakan satu alat untuk satu
pasien, hindari penggunaan bersama. Jika tidak
memungkinkan, cuci dan disinfeksi sebelum digunakan ke
pasien lain

16
AIRBORNE PRECAUTIONS
l Dilakukan ketika pasien diketahui atau diduga menderita
penyakit yang ditularkan melalui droplet nuklei udara (<5
microns)
l Ruang Isolasi
◼ Ruangan bertekanan negatif
◼ >6 pergantian udara per jam (ACH)
◼ Outlet udara langsung ke udara luar
◼ Pintu tertutup
l Untuk petugas kesehatan: gunakan pelindung saluran napas
◼ Respirator N-95, pastikan Anda sudah melakukan FIT TEST
masker anda.
◼ Batasi transport pasien hanya pada saat mendesak saja, jika
terpaksa harus transport, pakaikan masker bedah pada
pasien

17
DROPLET PRECAUTIONS ▪ Dilakukan pada pasien dengan penyakit yang ditularkan
melalui droplet besar (>5 microns) yang bisa berisiko
tertular ketika dilakukan prosedur medis tertentu atau
ketika batuk, bersin atau bicara
▪ Ruang privat/ kohort
▪ Petugas
– Masker bedah sebelum masuk ke ruangan atau
apabila bekerja 3 meter dari pasien
Batasi transport pasien jika perlu saja, selama
transport, pakaikan masker bedah pada pasien
 Patogen terkait
N. meningitides infasif, RSV (Respiratory Synctytial Virus),
Bordetella pertussis, Rubella, Mumps, Group A
streptococcal pharyngitis, Influenza

18
KEWASPADAAN PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN
INFEKSI

19
KEWASPADAAN STANDAR

Hal-hal minimal untuk mencegah dan mengendalikan


infeksi
1. Hand Hygiene
2. Alat Pelindung Diri
3. Dekontaminasi Peralatan Perawatan SPO
Pasien
Standar
4. Pengendalian lingkungan
5. Penatalaksanaan Limbah Prosedur
6. Desinfeksi & sterilisasi linen Operasional
7. Perlindungan Petugas Kesehatan
8. Penempatan pasien
9. Hygiene Respirasi /Etika Batuk
10.Praktik menyuntik yang aman
20
Hand hygiene

Implementasi
Bila tidak kotor

Bila kotor

21
Antiseptik

Bila tidak kotor

22
Air mengalir
sabun

Bila kotor

23
Alat Pelindung Diri (APD)

▪ Alat yang digunakan untuk melindungi kulit dan selaput lendir petugas dari
risiko pajanan darah, semua jenis cairan tubuh, sekret, ekskreta dari
pasien.
▪ Melindungi pasien dari MO yang ada pada petugas kesehatan dan
sebaliknya
▪ Jenis APD: Tutup kepala,kaca mata,masker (pelindung wajah/ visor),
sarung tangan, baju pelindung, pelindung kaki (sepatu boot)

24
Alat Pelindung Diri
Sarung tangan
 SEBELUM prosedur yang melibatkan kontak dengan darah
atau cairan tubuh, luka, atau membran mukosa
 SEBELUM menyentuh benda yang berpotensi
terkontaminasi
 GANTI sarung tangan setelah menyentuh benda infektif,
misal: feses atau drainase luka. DAN sebelum keluar dari
area/lingkungan seorang pasien

Pelindung mata dan wajah (Goggle/ Face


shield)
Gunakan pelindung mata dan wajah apabila
ada risiko percikan atau semprotan cairan
tubuh
Gaun
Gunakan gaun apabila ada risiko semprotan
dan percikan darah, cairan tubuh, sekresi
atau ekskresi.
25
Alat Pelindung Diri (APD)

Pakai Melepas

26
Peralatan Perawatan Pasien
Penanganan peralatan perawatan pasien akan
mencegah kontaminasi lanjutan pada area lain dan
penyebaran mikro organisme pada pasien lain dan
lingkungan.

Buang peralatan single-use dengan benar.

Pastikan alat yang akan digunakan sudah steril dan di


desinfeksi dengan benar.

Bersihkan dan desinfeksi peralatan yang dipakai oleh


lebih dari satu pasien (contoh: stetoskop,
termometer) dengan swab alkohol.

27
ETIKA BATUK
(cough etiquette)

EDUKASI PASIEN POSTER

Promosi etika batuk pada


pasien bergejala

SATGAS BATUK

GUNAKAN TISSUE, MASKER, SAPUTANGAN, BAGIAN


DALAM LENGAN, TANGAN + HAND Hygiene
28
Hygiene Respirasi / Etika Batuk
Diterapkan kepada semua individu, dgn gejala
gangguan saluran napas harus:

Menutup mulut dan hidung saat


batuk /bersin

Pakai tissue, saputangan, masker


kain/medis bila tersedia, buang
ke tempat sampah

Lakukan cuci tangan


29
PENEMPATAN PASIEN

▪ Pastikan identifikasi risiko memiliki penyakit menular sebelum


menentukan penempatan pasien
▪ Penempatan sesuai dengan metode transmisi patogennya
(droplet, airborne, kontak)
–Droplet & kontak: ruang terpisah/ kohort
–Airborne: ruang isolasi
▪ Konsultasikan dengan Tim atau Komite PPI

30
Manajemen Limbah RS
SAMPAH DI RS

INFEKSIUS NON INFEKSIUS RADIOAKTIF CYTOTOKSIK


MEDIS NON
1. Limbah infeksius (Semua kertas, kotak, INFEKSIUS
benda yang terkontaminasi
botol, wadah plabot, flacon,
cairan tubuh); Jaringan
plastik, sisa botol infus beling
2. Safety box limbah tajam
(jarum suntik,jarum hecting, makanan, sisa
skalpel, ampul, bisturi, pembungkus
semua benda yang obat, sampah incenerator
mempunyai permukaan
tajam)
kebun, dll
Batan

incenerator
TPA Daur ulang

31
PENATALAKSANAAN LINEN
Penatalaksanaan linen harus meminimalkan risiko
◼ kontaminasi pada linen bersih
◼ Pencemaran lingkungan dari linen kotor
Buang lebih dahulu kotoran (misal: feses) dengan dibilas ke toilet
Linen kotor
◼ Dihitung dan dicatat
◼ Dipilah antara linen infeksius dan non-infeksius
◼ Dimasukkan ke dalam kantong linen sesuai jenis (infeksius &
non-infeksius) dan diberi label
◼ Tidak diperkenankan menghitung atau kembali linen yang sudah
masuk ke kantong plastik linen

32
Kewaspadaan Tambahan PPI Ketika Merawat Pasien
ISPA

Semua individu ( pengunjung & petugas kesehatan ) yang kontak


dengan pasien harus :
✓ Memakai masker bedah ketika berada dekat ( jarak ± 1 meter ) &
saat masuk ruangan pasien.
✓ Hand hygiene

33
Kewaspadaan PPI pada Prosedur/Tindakan Medik yang
Menimbulkan infeksi secara Aerosol
▪ Prosedur/tindakan yang menimbulkan aerosol → Tindakan medis yang
menghasilkan aerosol dalam berbagai ukuran, termasuk partikel kecil ( < 5 mkm)
▪ Tindakan kewaspadaan yang dilakukan yaitu :
✓ Memakai respirator partikulat (N95)
✓ Memakai pelindung mata ( kacamata/pelindung wajah)
✓ Memakai gaun lengan panjang & sarung tangan bersih, tidak steril ( beberapa
prosedur membutuhkan sarung tangan steril)
✓ Memakai celemek kedap air
✓ Melakukan prosedur di ruang berventilasi cukup
✓ Membatasi jumlah orang yang berada di ruang pasien
✓ Hand hygiene

34
Kewaspadaan PPI ketika Merawat Pasien dalam Pengawasan
& Kasus Konfirmasi 2019-nCoV

▪ Batasi jumlah petugas kesehatan, anggota keluarga & pengunjung


yang melakukan kontak dengan pasien dalam pengawasan atau
konfirmasi terinfeksi 2019-nCoV
▪ Tunjuk Tim petugas kesehatan terampil khusus yang memberi
perawatan pada pasien ( terutama kasus probabel & konfirmasi )

35
Kewaspadaan PPI ketika Merawat Pasien dalam Pengawasan
& Kasus Konfirmasi 2019-nCoV

▪ Saat melakukan kontak dekat ( jarak < 1 meter ) dengan pasien atau
setelah memasuki ruangan pasien probabel atau konfirmasi terinfeksi
harus :
✓ Memakai masker N95
✓ Memakai pelindung mata (kacamata atau pelindung wajah)
✓ Memakai gaun lengan panjang, dan sarung tangan bersih, tidak steril
(beberapa prosedur mungkin memerlukan sarung tangan steril )
✓ Hand hygiene

36
Kewaspadaan PPI ketika Merawat Pasien dalam Pengawasan
& Kasus Konfirmasi 2019-nCoV

▪ Tempatkan pasien dalam pengawasan, probabel atau konfirmasi


terinfeksi 2019-nCoV diruangan/kamar dengan ventilasi yang
memadai dengan kewaspadaan penularan airbone.

37
Kewaspadaan PPI ketika Merawat Pasien dalam Pengawasan
& Kasus Konfirmasi 2019-nCoV
Pasien dalam pengawasan, probabel atau konfirmasi terinfeksi 2019-nCoV perlu dilakukan hal
berikut :
▪ Hindari membawa & memindahkan pasien keluar dari ruangan atau daerah isolasi kecuali
diperlukan secara medis.
▪ Jika diperlukan membawa pasien → gunakan rute yang dapat meminimalisir pajanan
terhadap petugas, pasien lain & pengunjung
▪ Memberitahu daerah / unit penerima agar menyiapkan kewaspadaan pengendalian infeksi
sebelum kedatangan pasien
▪ Bersihkan & desinfeksi permukaan peralatan yang bersentuhan dengan pasien setelah
digunakan
▪ Pastikan petugas kesehatan yang membawa/mengankut pasien memakai APD yang sesuai
& melakukan hand hygiene.

38
Durasi Tindakan Isolasi pasien dalam Pengawasan & Kasus
Konfirmasi 2019-nCoV

▪ Lamanya masa infeksius 2019-nCoV masih belum diketahui


▪ Melakukan Kewaspadaan standar dan Kewaspadaan Isolasi terhadap
pasien dalam pengawasan & konfirmasi 2019-nCoV sampai hasil
laboratorium rujukan negatif

39
Perawatan di Rumah ( Isolasi Diri ) Orang dalam Pemantauan
▪ Pasien dalam kasus pengawasan 2019-nCoV → Rumah sakit
▪ Pasien dalam kasus pemantauan → Perawatan di rumah (isolasi diri),
bila terjadi perburukan gejala → segera memeriksakan ke Fasyankes
▪ Pemantauan kasus dilakukan oleh petugas kesehatan layanan primer
berkoordinasi dengan Dinas kesehatan setempat
▪ Pasien diberikan edukasi untuk menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan
Sehat (PHBS) meliputi :
✓ Hand Hygiene
✓ Menutup mulut & hidung dengan tissue ketika bersin atau batuk
✓ Bila terdapat gejala saluran napas → gunakan masker & berobat ke fasyankes

40
Perawatan Terhadap Tatalaksana Kontak

▪ Individu yang mungkin terpajan (termasuk petugas kesehatan) dengan


pasien dalam pengawasan atau konfirmasi infeksi 2019-nCoV
disarankan untuk memantau kesehatannya selama 14 hari sejak
pajanan terakhir
▪ Bila selama masa pemantauan ditemukan kasus kontak mengalami
definisi dalam pengawasan 2019-nCoV → mengunjungi fasyankes
terdekat
▪ Fasyankes yang akan menerima harus diberitahu akan datang kontak
yang memunyai gejala infeksi 2019-nCoV

41
Pemulasaran Jenazah
Langkah-langkah pemulasaran jenazah pasien terinfeksi 2019-nCoV dilakukan sebagai
berikut :
✓ Kewaspadaan standar
✓ Menggunakan APD Lengkap
✓ Jenazah harus terbungkus seluruhnya dalam kantong jenazah yang tidak mudah
tembus sebelum dipindahkan ke kamar jenazah
✓ Jangan ada kebocoran cairan tubuh yang mencemari bagian luar kantong jenazah
✓ Pindahkan sesegera mungkin ke kamar jenazah
✓ Jika keluarga pasien ingin melihat jenazah → diijinkan sebelum jenazah
dimasukkan ke dalam kantong jenazah dengan menggunakan APD
✓ Petugas harus memberikan penjelasan kepada pihak keluarga tentang
penanganan khusus bagi jenazah yang meninggal dengan penyakit menular.

42
Pemulasaran Jenazah
✓ Tidak boleh dibalsem atau disuntik pengawet
✓ Jika akan diautopsi harus dilakukan oleh petugas khusus → ijin
keluarga & Direktur RS
✓ Jenazah yang sudah dibungkus tidak boleh dibuka lagi
✓ Jenazah hendaknya diantar oleh mobil jenazah khusus
✓ Jenazah sebaiknya tdak lebih dari 4 (empat) jam disemayamkan
di pemulasaran jenazah.

43
44
45
Terima Kasih
46
47