Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Proses penuaan atau aging adalah suatu proses menghilangnya kemampuan jaringan
secara perlahan-lahan untuk memperbaiki atau mengganti diri dan mempertahankan struktur,
serta fungsi normalnya. Pada manusia, penuaan dihubungkan dengan perubahan degeneratif
pada kulit, tulang, jantung, pembuluh darah, paru-paru, saraf dan jaringan tubuh lainya.
Kemampuan regeneratif pada lansia terbatas, mereka lebih rentan terhadap berbagai penyakit.

Sistem imun secara tidak langsung dapat turut mempengaruhi terjadinya proses
penuaan. Hal ini dapat dipahami, karena sebagian besar patogenesis penyakit-penyakit adalah
akibat adanya respon imun yang tidak kuat terhadap rangsangan faktor ekstrinsik (misalnya
infeksi). Akibat kehadiran suatu penyakit akan menyebabkan perubahan atau disfungsi organ
yang terkena penyakit, hal ini dapat memicu terjadinya proses menua.

Untuk pencegahan penuaan dini, pengurangan asupan zat gizi makro (karbohidrat dan
lemak) sangat penting dilakukan. Pengurangan asupan lemak dan karbohidrat dan cukup
berolahraga akan mengurangi laju metabolisme sehingga produksi radikal bebas penyebab
penuaan dini akan berkurang dan antioksidan dalam tubuh meningkat. Antioksidan yang
sudah terbukti dapat menunda proses penuaan dini adalah Vitamin A, C dan E serta trace
element seperti selenium, molibdenum dan zink.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apakah yang dimaksud dengan penuaan?

2. Bagaimana tahapan terjadinya proses penuaan?

3. Bagaimana hubungan gizi dan imunitas terhadap proses penuaan?

1.3 Tujuan

1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan proses penuaan.

2. Untuk mengetahui mekanisme terjadinya proses penuaan.

3. Untuk mengetahui hubungan gizi dan immunitas terhadap proses penuaan.

1.4 Manfaat

1. Mahasiswa mengetahui apa yang dimaksud dengan proses penuaan.

2. Mahasiswa mengetahui mekanisme terjadinya proses penuaan.

4. Mahasiswa mengetahui hubungan gizi dan immunitas terhadap proses penuaan.

1
Dafus

Pradipta. M, Ilham. 2017. “Tiga Fase Proses Penuaan yang Akan Kita Alami”. Diakses pada link :
https://intisari.grid.id/read/0389647/ini-dia-tiga-fase-proses-penuaan-yang-akan-kita-alami.
pada tanggal 25 Januari 2020

BAB II
PEMBAHASAN

2
2.1 Pengertian, Fungsi Cairan dan Elektrolit

Cairan dan elektrolit sangat diperlukan dalam rangka menjaga kondisi tubuh tetap
sehat. Keseimbangan cairan dan elektrolit di dalam tubuh adalah merupakan salah satu
bagian dari fisiologi homeostatis. Keseimbangan cairan dan elektrolit melibatkan komposisi
dan perpindahan berbagai cairan tubuh. Cairan tubuh adalah larutan yang terdiri dari air
(pelarut) dan zat tertentu (zat terlarut). Elektrolit adalah zat kimia yang menghasilkan
partikel-partikel bermuatan listrik yang disebut ion jika berada dalam larutan.

Cairan dan elektrolit masuk ke dalam tubuh melalui makanan, minuman, dan cairan
intravena (IV) dan didistribusi ke seluruh bagian tubuh. Keseimbangan cairan dan elektrolit
berarti adanya distribusi yang normal dari air tubuh total dan elektrolit ke dalam seluruh
bagian tubuh. Keseimbangan cairan dan elektrolit saling bergantung satu dengan yang
lainnya jika salah satu terganggu maka akan berpengaruh pada yang lainnya. Cairan tubuh
dibagi dalam dua kelompok besar yaitu : cairan intraseluler dan cairan ekstraseluler.

Cairan intraseluler adalah cairan yang berada di dalam sel di seluruh tubuh, sedangkan
cairan akstraseluler adalah cairan yang berada di luar sel dan terdiri dari tiga kelompok yaitu :
cairan intravaskuler (plasma), cairan interstitial dan cairan transeluler. Cairan intravaskuler
(plasma) adalah cairan di dalam sistem vaskuler, cairan intersitial adalah cairan yang terletak
diantara sel, sedangkan cairan traseluler adalah cairan sekresi khusus seperti cairan
serebrospinal, cairan intraokuler, dan sekresi saluran cerna.

a) Distribusi Cairan Tubuh

Didistribusikan dalam dua kompartemen yang berbeda.

1. Cairan Ekstrasel, tediri dari cairan interstisial (CIS) dan Cairan Intravaaskular.
Cairan interstisial mengisi ruangan yang berada diantara sebagian besar sel tubuh dan
menyusun sebagian besar cairan tubuh. Sekitar 15% berat tubuh merupakan cairan tubuh
interstisial.

Cairan intravascular terdiri dari plasma, bagian cairan limfe yang mengandung air
tidak berwarna, dan darah mengandung suspensi leukosit, eritrosit, dan trombosit. Plasma
menyusun 5% berat tubuh.

2. Cairan Intrasel adalah cairan didalam membran sel yang berisi subtansi terlarut
atau solut yang penting untuk keseimbangan cairan dan elektrolit serta untuk metabolisme.
Cairan intrasel membentuk 40% berat tubuh. Kompartemen cairan intrasel memiliki banyak
solute yang sama dengan cairan yang berada diruang ekstrasel. Namun proporsi subtansi
subtansi tersebut berbeda. Misalnya, proporsi kalium lebih besar didalam cairan intrasel
daripada dalam cairan ekstasel.

Secara Skematis Jenis dan Jumlah Cairan Tubuh dapat digambarkan sebagai
berikut :
3
Distribusi cairan tubuh adalah relatif tergantung pada ukuran tubuh itu sendiri.

 Dewasa 60%
 Anak-anak 60 – 77%
 Infant 77%
 Embrio 97%
 Manula 40 – 50 %

Pada manula, prosentase total cairan tubuh berkurang dikarenakan sudah mengalami
kehilangan jaringan tubuh.

 Intracellular volume = total body water – extracellular volume


 Interstitial fluid volume = extracellular fluid volume – plasma volume
 Total bloods volume = plasma volume / (1 - hematocrite)

Fungsi Cairan Tubuh :

 memberi bentuk pada tubuh


 berperan dalam pengaturan suhu tubuh
 berperan dalam berbagai fungsi pelumasan
 sebagai bantalan
 sebagai pelarut dan tranfortasi berbagai unsur nutrisi dan elektrolit
 media untuk terjadinya berbagai reaksi kimia dalam tubuh
 untuk performa kerja fisik

2.2 Komposisi Cairan Tubuh

1. Cairan Ekstrasal, tediri dari cairan interstisial (CIS) dan Cairan Intravaaskular. Cairan
interstisial mengisi ruangan yang berada diantara sebagian besar sel tubuh dan menyusun
sebagian besar cairan tubuh. Sekitar 15% berat tubuh merupakan cairan tubuh interstisial.

4
2. Cairan intravascular terdiri dari plasma, bagian cairan limfe yang mengandung air tidak
berwarna, dan darah mengandung suspensi leukosit, eritrosit, dan trombosit. Plasma
menyusun 5% berat tubuh.

Cairan Intrasel adalah cairan didalam membran sel yang berisi subtansi terlarut atau solut
yang penting untuk keseimbangan cairan dan elektrolit serta untuk metabolisme. Cairan
intrasel membentuk 40% berat tubuh. Kompartemen cairan intrasel memiliki banyak solute
yang sama dengan cairan yang berada diruang ekstrasel. Namun proporsi subtansi subtansi
tersebut berbeda. Misalnya, proporsi kalium lebih besar didalam cairan intrasel daripada
dalam cairan ekstasel.

Komposisi Cairan tubuh

Cairan yang bersirkulasi diseluruh tubuh didalam ruang cairan intrasel dan ekstrasel
mengandung:

 Elektrolit merupakan sebuah unsure atau senyawa yang jika melebur atau larut
didalam air atau pelarut lain, akan pecah menjadi ion dan mampu membawta
muatan listrik. Elektrolit yang memilki muatan positif disebut kation, sedangkan
yang bermuatan negative adalah anion. Namun jumlah total anion dan kation
didalam kompartement cairan harus sama.
 Mineral yang dicerna sebgai senyawa, biasanya dikenal dengan nama logam, non
logam, radikal atau fosfat, bukan dengan nama senyawa, yang mana mineral
tersebut menjadi bagian didalamnya. Mineral merupakan unsure semua jaringan
dan cairan tubuh serta penting dalam memertahankan proses fisiologis. Mineral
juga bekerja sebagai katalis dan respon saraf, kontrasi otot, dan metabolisme zat
gizi yang terdapat dalam makanan. Mineral juga mengatur keseimbangan
elektrolit dan produksi hormone serta menguatkan struktur tulang. Contoh
mineral zat besi dan zink.
 Sel merupakan unit fungsional dasar dari semua jaringan hidup. Contoh sel yang
berada didalam cairan tubuh adalah sel darah merah dan sel darah putih.

2.3 Faktor-faktor yang Berpengaruh Terhadap Keseimbangan Cairan Tubuh

Faktor-faktor yang berpengaruh pada keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh antara
lain :

5
a. Umur :
Kebutuhan intake cairan bervariasi tergantung dari usia, karena usia akan berpengaruh
pada luas permukaan tubuh, metabolisme, dan berat badan. Infant dan anak-anak lebih
mudah mengalami gangguan keseimbangan cairan dibanding usia dewasa. Pada usia
lanjut sering terjadi gangguan keseimbangan cairan dikarenakan gangguan fungsi
ginjal atau jantung.

b. Iklim :
Orang yang tinggal di daerah yang panas (suhu tinggi) dan kelembaban udaranya
rendah memiliki peningkatan kehilangan cairan tubuh dan elektrolit melalui keringat.
Sedangkan seseorang yang beraktifitas di lingkungan yang panas dapat kehilangan
cairan sampai dengan 5 L per hari.

c. Diet :
Diet seseorag berpengaruh terhadap intake cairan dan elktrolit. Ketika intake nutrisi
tidak adekuat maka tubuh akan membakar protein dan lemak sehingga akan serum
albumin dan cadangan protein akan menurun padahal keduanya sangat diperlukan
dalam proses keseimbangan cairan sehingga hal ini akan menyebabkan edema.

d. Stress :
Stress dapat meningkatkan metabolisme sel, glukosa darah, dan pemecahan glykogen
otot. Mrekanisme ini dapat meningkatkan natrium dan retensi air sehingga bila
berkepanjangan dapat meningkatkan volume darah.

e. Kondisi Sakit :
Kondisi sakit sangat b3erpengaruh terhadap kondisi keseimbangan cairan dan
elektrolit tubuh Misalnya :
- Trauma seperti luka bakar akan meningkatkan kehilangan air melalui IWL.
- Penyakit ginjal dan kardiovaskuler sangat mempengaruhi proses regulator
keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh
- Pasien dengan penurunan tingkat kesadaran akan mengalami gangguan pemenuhan
intake
cairan karena kehilangan kemampuan untuk memenuhinya secara mandiri.

f. Tindakan Medis :
Banyak tindakan medis yang berpengaruh pada keseimbangan cairan dan elektrolit
tubuh seperti : suction, nasogastric tube dan lain-lain.

g. Pengobatan :
Pengobatan seperti pemberian deuretik, laksative dapat berpengaruh pada kondisi
cairan dan elektrolit tubuh.

h.Pembedahan :
Pasien dengan tindakan pembedahan memiliki resiko tinggi mengalami gangguan
keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh, dikarenakan kehilangan darah selama
pembedahan.

6
2.4 Keseimbangan Natrium dan Kalium

1. Keseimbangan Natrium

Natrium merupakan kation dalam tubuh yang berfungsi dalam pengaturanosmolaritas dan
volume cairan tubuh. Natrium ini paling banyak pada c:airan ekstrasel.Yengaturan
konsentrasi cairan ekstrasel diatur oleh ADH dan aldosteron. Aldosterondihasilkan oleh
korteks suprarenal dan berfungsi untuk mempertahankan keseimbangankonsentirasi
natrium dalam plasma dan prosesnya dibantu oleh ADH. ADH mengatursejumlah air yang
diserap ke;mbali ke dalam ginjal dari tubulus renalis. Aldosteron jugamengatur
keseimbangan jumlah natrium yang diserap kembali oleh darah. Natrium tidak hanya
berge:rak ke dalam atau ke luar tubuh, tetapi juga mengatur keseimbangan c;airantubuh.
Ekskresi dari natrium dapat dilakukan melalui ginjal atau sebagian kecil meelaluitinja,
keringat dan air mata.

2. Keseimbangan Kalium

Kalium merupakan kation utama yang terdapat dalam c:airan intrasel danberfungsi
mengatur keseimbangan elektrolit. Keseimbangan kalium diatur oleh ginjaldengan
mekanisme perubahan ion natrium dalam tubulus ginjal dan sekresi
aldosteron.E1ldosteron juga berfungsi mengatur keseimbangan kadar kalium dalam
plasma (c;airanekstrasel). Sistem pengaturannya melalui tiga langkah, yaitu:

1) Peningkatankonsentrasi kalium dalam cairan ekstirasel yang menyebabkan


peningkatanproduksi aldosteron.

2) Meningkatan jumlah aldosteron akan memengaruhi jumlah kalium yang


dikeluarkanmelalui ginjal.

3) Peningkatan pengeluaran kalium; konsentrasi kalium dalam cairan ekstra sea


menurun.Kalium berpengaruh terhadap fungsi sistem pernapasan. Partikel penting
dalamkalium ini berfungsi untuk menghantarkan impuls listrik ke jantung, otot lain,
jaringanparu, jaringan usus pencernaan. Ekskresi kalium dilakukan melalui urine, dan
sebagian lagimelalui tinja dan keringat.

2.5 Mekanisme Keseimbangan Cairan, Elektrolit dan Asam-Basa

2.5.1 Keseimbangan Cairan dan Elektrolit

Pengaturan keseimbangan cairan perlu memperhatikan dua parameter penting, yaitu


volume cairan ekstrasel dan osmolaritas cairan ekstrasel. Ginjal mengontrol volume cairan
ekstrasel dengan mempertahankan keseimbangan garam dan mengontrol osmolaritas

7
cairan ekstrasel dengan mempertahankan keseimbangan cairan. Ginjal mempertahankan
keseimbangan ini dengan mengatur keluaran garam dan air dalam urine sesuai kebutuhan
untuk mengkompensasi asupan dan kehilangan abnormal dari air dan garam tersebut.

1. Pengaturan volume cairan ekstrasel.

Penurunan volume cairan ekstrasel menyebabkan penurunan tekanan darah arteri dengan
menurunkan volume plasma. Sebaliknya, peningkatan volume cairan ekstrasel dapat
menyebabkan peningkatan tekanan darah arteri dengan memperbanyak volume plasma.
Pengontrolan volume cairan ekstrasel penting untuk pengaturan tekanan darah jangka
panjang.

 Mempertahankan keseimbangan asupan dan keluaran (intake dan output) air. Untuk
mempertahankan volume cairan tubuh kurang lebih tetap, maka harus ada
keseimbangan antara air yang ke luar dan yang masuk ke dalam tubuh. hal ini terjadi
karena adanya pertukaran cairan antar kompartmen dan antara tubuh dengan
lingkungan luarnya. Water turnover dibagi dalam: 1. eksternal fluid
exchange, pertukaran antara tubuh dengan lingkungan luar; dan 2. Internal fluid
exchange, pertukaran cairan antar pelbagai kompartmen, seperti proses filtrasi dan
reabsorpsi di kapiler ginjal.
 Memeperhatikan keseimbangan garam. Seperti halnya keseimbangan air,
keseimbangan garam juga perlu dipertahankan sehingga asupan garam sama dengan
keluarannya. Permasalahannya adalah seseorang hampir tidak pernah
memeprthatikan jumlah garam yang ia konsumsi sehingga sesuai dengan
kebutuhannya. Tetapi, seseorang mengkonsumsi garam sesuai dengan seleranya dan
cenderung lebih dari kebutuhan. Kelebihan garam yang dikonsumsi harus
diekskresikan dalam urine untuk mempertahankan keseimbangan garam.

ginjal mengontrol jumlah garam yang dieksresi dengan cara:

 mengontrol jumlah garam (natrium) yang difiltrasi dengan pengaturan Laju Filtrasi
Glomerulus (LFG)/ Glomerulus Filtration Rate (GFR).
 mengontrol jumlah yang direabsorbsi di tubulus ginjal

Jumlah Na+ yang direasorbsi juga bergantung pada sistem yang berperan mengontrol
tekanan darah. Sistem Renin-Angiotensin-Aldosteron mengatur reabsorbsi Na+ dan
retensi Na+ di tubulus distal dan collecting. Retensi Na+ meningkatkan retensi air
sehingga meningkatkan volume plasma dan menyebabkan peningkatan tekanan
darah arteri.Selain sistem Renin-Angiotensin-Aldosteron, Atrial Natriuretic
Peptide (ANP) atau hormon atriopeptin menurunkan reabsorbsi natrium dan air.
Hormon ini disekresi leh sel atrium jantung jika mengalami distensi peningkatan
volume plasma. Penurunan reabsorbsi natrium dan air di tubulus ginjal
meningkatkan eksresi urine sehingga mengembalikan volume darah kembali
normal.

2. Pengaturan Osmolaritas cairan ekstrasel.

Osmolaritas cairan adalah ukuran konsentrasi partikel solut (zat terlarut) dalam suatu
larutan. semakin tinggi osmolaritas, semakin tinggi konsentrasi solute atau semakin rendah

8
konsentrasi solutnya lebih rendah (konsentrasi air lebih tinggi) ke area yang konsentrasi
solutnya lebih tinggi (konsentrasi air lebih rendah).

Osmosis hanya terjadi jika terjadi perbedaan konsentrasi solut yang tidak dapat menmbus
membran plasma di intrasel dan ekstrasel. Ion natrium menrupakan solut yang banyak
ditemukan di cairan ekstrasel, dan ion utama yang berperan penting dalam menentukan
aktivitas osmotik cairan ekstrasel. sedangkan di dalam cairan intrasel, ion kalium
bertanggung jawab dalam menentukan aktivitas osmotik cairan intrasel. Distribusi yang
tidak merata dari ion natrium dan kalium ini menyebabkan perubahan kadar kedua ion ini
bertanggung jawab dalam menetukan aktivitas osmotik di kedua kompartmen ini.

pengaturan osmolaritas cairan ekstrasel oleh tubuh dilakukan dilakukan melalui:

 Perubahan osmolaritas di nefron

Di sepanjang tubulus yang membentuk nefron ginjal, terjadi perubahan osmolaritas


yang pada akhirnya akan membentuk urine yang sesuai dengan keadaan cairan tubuh
secara keseluruhan di dukstus koligen. Glomerulus menghasilkan cairan yang
isosmotik di tubulus proksimal (300 mOsm). Dinding tubulus ansa Henle pars
decending sangat permeable terhadap air, sehingga di bagian ini terjadi reabsorbsi
cairan ke kapiler peritubular atau vasa recta. Hal ini menyebabkan cairan di dalam
lumen tubulus menjadi hiperosmotik.

Dinding tubulus ansa henle pars acenden tidak permeable terhadap air dan secara aktif
memindahkan NaCl keluar tubulus. Hal ini menyebabkan reabsobsi garam tanpa
osmosis air. Sehingga cairan yang sampai ke tubulus distal dan duktus koligen
menjadi hipoosmotik. Permeabilitas dinding tubulus distal dan duktus koligen
bervariasi bergantung pada ada tidaknya vasopresin (ADH). Sehingga urine yang
dibentuk di duktus koligen dan akhirnya di keluarkan ke pelvis ginjal dan ureter juga
bergantung pada ada tidaknya vasopresis (ADH).

 Mekanisme haus dan peranan vasopresin (antidiuretic hormone/ADH)

peningkatan osmolaritas cairan ekstrasel (>280 mOsm) akan merangsang


osmoreseptor di hypotalamus. Rangsangan ini akan dihantarkan ke neuron
hypotalamus yang mensintesis vasopresin. Vasopresin akan dilepaskan oleh hipofisis
posterior ke dalam darah dan akan berikatan dengan reseptornya di duktus koligen.
ikatan vasopresin dengan reseptornya di duktus koligen memicu terbentuknya
aquaporin, yaitu kanal air di membrane bagian apeks duktus koligen. Pembentukkan
aquaporin ini memungkinkan terjadinya reabsorbsi cairan ke vasa recta. Hal ini
menyebabkan urine yang terbentuk di duktus koligen menjadi sedikit dan
hiperosmotik atau pekat, sehingga cairan di dalam tubuh tetap dipertahankan.

selain itu, rangsangan pada osmoreseptor di hypotalamus akibat peningkatan


osmolaritas cairan ekstrasel juga akan dihantarkan ke pusat haus di hypotalamus
sehingga terbentuk perilaku untuk membatasi haus, dan cairan di dalam tubuh kembali
normal.

2.5.2 Keseimbangan Asam-Basa

9
Keseimbangan asam-basa terkait dengan pengaturan konsentrasi ion H bebas dalam cairan
tubuh. pH rata-rata darah adalah 7,4; pH darah arteri 7,45 dan darah vena 7,35. Jika pH
<7,35 dikatakan asidosi, dan jika pH darah >7,45 dikatakan alkalosis. Ion H terutama
diperoleh dari aktivitas metabolik dalam tubuh. Ion H secara normal dan kontinyu akan
ditambahkan ke cairan tubuh dari 3 sumber, yaitu:

1. pembentukkan asam karbonat dan sebagian akan berdisosiasi menjadi ion H dan
bikarbonat.
2. katabolisme zat organik
3. disosiasi asam organik pada metabolisme intermedia, misalnya pada metabolisme
lemak terbentuk asam lemak dan asam laktat, sebagian asam ini akan berdisosiasi
melepaskan ion H.

Fluktuasi konsentrasi ion H dalam tubuh akan mempengaruhi fungsi normal sel, antara
lain:

1. perubahan eksitabilitas saraf dan otot; pada asidosis terjadi depresi susunan saraf
pusat, sebaliknya pada alkalosis terjadi hipereksitabilitas.
2. mempengaruhi enzim-enzim dalam tubuh
3. mempengaruhi konsentrasi ion K

bila terjadi perubahan konsentrasi ion H maka tubuh berusaha mempertahankan ion H
seperti nilai semula dengan cara:

1. mengaktifkan sistem dapar kimia


2. mekanisme pengontrolan pH oleh sistem pernafasan
3. mekasnisme pengontrolan pH oleh sistem perkemihan

Ada 4 sistem dapar:

1. Dapar bikarbonat; merupakan sistem dapar di cairan ekstrasel terutama untuk


perubahan yang disebabkan oleh non-bikarbonat
2. Dapar protein; merupakan sistem dapar di cairan ekstrasel dan intrasel
3. Dapar hemoglobin; merupakan sistem dapar di dalam eritrosit untuk perubahan asam
karbonat
4. Dapar fosfat; merupakan sistem dapar di sistem perkemihan dan cairan intrasel.

sistem dapat kimia hanya mengatasi ketidakseimbangan asam-basa sementara. Jika dengan
dapar kimia tidak cukup memperbaiki ketidakseimbangan, maka pengontrolan pH akan
dilanjutkan oleh paru-paru yang berespon secara cepat terhadap perubahan kadar ion H
dalam darah akinat rangsangan pada kemoreseptor dan pusat pernafasan, kemudian
mempertahankan kadarnya sampai ginjal menghilangkan ketidakseimbangan tersebut.
Ginjal mampu meregulasi ketidakseimbangan ion H secara lambat dengan menskresikan
ion H dan menambahkan bikarbonat baru ke dalam darah karena memiliki dapar fosfat dan
amonia.

10
BAB III
PENUTUP

11
3.1 Kesimpulan

Tubuh manusia terdiri dari cairan antara 50%-60% dari berat badan. Cairan tubuh
adalah larutan yang terdiri dari air ( pelarut ) dan zat tertentu (zat terlarut). Elektrolit adalah
zat kimia yang menghasilkan partikel-partikel bermuatan listrik yang disebut ion jika berada
di dalam larutan.

3.2 Saran

Dari makalah ini kami selaku penulis menyarankan kepada pembaca untuk selalu
memenuhi kebutuhan dan keseimbangan cairan dalam tubuh.

DAFTAR PUSTAKA

http://biobio-holic.blogspot.com/2016/05/distribusi-dan-komposisi-cairan-tubuh.html

http://evikarmilasanti.blogspot.com/p/faktor-yang-mempengaruhi-keseimbangan.html

http://jurnal.fk.unand.ac.id/index.php/jka/article/view/48

12
http://sanggarsains.blogspot.com/2010/03/cairan-tubuh.html

https://www.artikelkeperawatan.info/artikel/pengertian-cairan-tubuh-menurut-para-ahli.html

Kirnantoro, H., dan Maryana. Tanpa tahun. Anatomi Fisiologi.Yogyakarta: PUSTAKA BARU PRESS.

13