Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Belajar merupakan hal yang sangat penting bagi manusia. Baik masih bayi, anak-
anak, remaja, dewasa, hingga tua pun belajar merupakan hal yang dibutuhkan. Dalam
proses belajar tentulah seseorang membutuhkan motivasi. Maka, bukan hal yang aneh
lagi jika motivasi belajar merupakan hal yang harus ada pada diri seorang manusia
khususnya mahasiswa. Menurut Clayton Alderfer dalam Hamdhu (2011) motivasi belajar
adalah kecenderungan mahasiswa dalam melakukan segala kegiatan belajar yang
didorong oleh hasrat mencapai prestasi atau hasil belajar sebaik mungkin.
Lingkungan teman sebaya merupakan lingkungan yang setiap harinya atau karena
perkembangan teknologi yang makin canggih semakin membuat durasi pertemuan teman
sebaya ini bahkan menjadi setiap jam atau setiap menit. Karena intensitas hubungan (baik
itu secara langsung maupun melalui sosial media) maka pastinya teman sebaya ini
memiliki pengaruh yang besar terhadap suasana belajar, baik itu pengaruh positif maupun
negative. Lingkungan teman sebaya merupakan lingkungan dimana terjadinya suatu
interaksi yang intensif dan cukup teratur dengan orang-orang yang mempunyai kesamaan
usia dan status, yang memberikan dampak atau pengaruh positif maupun negative yang
dikarenakan interaksi didalamnya. Terlebih dengan kecanggihan teknologi zaman
sekarang ini yang tentunya membawa dampak positif dan negative. Fenomena yang
banyak ditemui sekarang ini adalah dengan banyaknya anak-anak hingga mahasiswa yang
lebih memilih untuk menghabiskan waktunya untuk bermain gadget dibandingkan untuk
belajar. Sehingga tak jarang juga sekarang ini lebih banyak teman sebaya yang mengajak
untuk bermain game bersama, jalan-jalan, berbelanja dibandingkan untuk belajar
bersama, bercanda disaat dosen menjelaskan, tidak mengerjakan tugas karena ikut-ikutan
temannya, dan lain sebagainya. Namun, masih ada juga teman sebaya yang masih saling
mengajak dan memotivasi satu sama lain untuk belajar.
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, terlihat adanya keterkaitan antara
motivasi belajar dengan lingkungan teman sebaya. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk

1
meneliti masalah ini dengan judul penelitian “Pengaruh Lingkungan Teman Sebaya
Terhadap Motivasi Belajar Pada Mahasiswa”.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka perumusan masalah yang dibahas oleh
peneliti adalah sebagai berikut.
1. Apakah lingkungan teman sebaya mempengaruhi motivasi belajar pada
mahasiswa?

C. Tujuan Penelitian
Untuk mengnalisis pengaruh lingkungan teman sebaya terhadap motivasi belajar
pada mahasiswa, maka tujuan penellitian ini adalah sebagai berikut.
1. Menganalisis pengaruh lingkungan teman sebaya terhadap motivasi belajar pada
mahasiswa

D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Penulis
Sebagai bahan pembelajaran dalam penulisan penelitian ilmiah sekaligus
memberikan informasi tambahan mengenai pengaruh lingkungan teman sebaya
terhadap motivasi belajar.
2. Bagi Mahasiswa
Diharapkan bisa dijadikan pedoman dan panduan untuk mengetahui faktor yang akan
berpengaruh terhadap motivasi belajar

2
BAB II

LANDASAN TEORI

A. Lingkungan Teman Sebaya

1. Pengertian Lingkungan Teman Sebaya


Lingkungan memberikan pengaruh yang penting dalam kehidupan manusia.
dalam lingkungan tersebut, seseorang mau tidak mau harus berinteraksi dengan
orang lain karena pada dasarnya manusia selalu membutuhkan bantuan orang lain.
Pergaulan merupakan proses interaksi yang dilakukan secara terus-menerus yang
terjalin secara langsung dan akan membentuk suatu jalinan pertemanan. Pertemanan
tersebut salah satunya disebut teman sebaya. Menurut Nyoman dan Olga (2014: 110)
Lingkungan Teman Sebaya merupakan suatu komunikasi yang terjalin diantara
orang-orang yang memiliki usia dan tingkat kematangan yang sama. Slavin
(2011:114) mengungkapkan bahwa “Lingkungan teman sebaya merupakan suatu
interaksi dengan orang-orang yang mempunyai kesamaan dalam usia dan status”.
Lingkungan teman sebaya bisa memberikan dampak edukatiif karena interaksi yang
dilakukan berlangsung terus menerus yang tentunya mempengaruhi motivasi belajar
seseorang. Lingkungan teman sebaya dapat diartikan sebagai pergaulan yang terjalin
karena individu tersebut memiliki kesamaan hobi, keinginan, pemikiran, visi dan
misi.
Lingkungan teman sebaya individu akan merasakan adanya persamaan satu
dengan yang baik usia, status sosial, kebutuhan, dan tujuan untuk memperkuat
kelompok itu, sehingga individu di dalam kelompok tersebut akan merasa
menemukan dirinya dan akan mengembangkan rasa sosialnya seiring dengan
perkembangan kepribadiannya (Slamet Santosa, 2009: 77). Berdasarkan uraian di
atas dapat disimpulkan bahwa terjadinya suatu interaksi yang intensif dan cukup
teratur dengan orang-orang yang mempunyai kesamaan dalam usia dan status, yang
memberikan dampak atau pengaruh positif maupun negatif yang dikarenakan
interaksi di dalamnya.

3
2. Fungsi Lingkungan Teman Sebaya
Menurut John W. Santrock (2011:101) Teman sebaya memiliki fungsi sebagai
berikut.
a. Kebersamaan
Seseorang yang bersedia meluangkan waktu bersama mereka dan melakukan
kegiatan bersama
b. Dukungan Fisik
Persahabatan memberikan sumber daya dan bantuan di saat dibutuhkan.
c. Dukungan Ego
Membantu teman agar dapat merasa bahwa mereka adalah anak yang bisa
melakukan sesuatu dan layak dihargai. Terutama adalah penerimaan sosial dari
kawannya.
d. Intimasi/ kasih sayang
Memberikan suatu hubungan yang hangat dan saling percaya.

B. Motivasi Belajar
1. Pengertian Motivasi Belajar
Motivasi belajar merupakan keadaan yang mendorong mahasiswa untuk giat
dalam belajar. Uno (2012:23) mengemukakan bahwa “motivasi belajar adalah
dorongan internal dan eksternal pada mahasiswa-mahasiswa yang sedang belajar
untuk mengadakan perubahan tingkah laku, pada umumnya dengan beberapa
indikator atau unsur yang mendukung. Di mana, hal ini mempunyai peranan besar
dalam keberhasilan seseorang dalam belajar.” Motivasi belajar merupakan dorongan
dari dalam diri dan dari eksternal dari mahasiswa-mahasiswa yang sedang belajar
dalam rangka merubah tingkah laku yang didukung oleh unsur-unsur lain yang
mendukungnya. Dari penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa motivasi
belajar adalah serangkaian usaha atau dorongan dari luar maupun dalam yang
tercermin dari ketekunan dalam belajar yang merubah tingkah laku untuk mencapai
tujuan yang dikehendaki.

4
2. Manfaat Motivasi Belajar

Menurut Sardiman (2011: 85), manfaat motivasi belajar ada 3 yaitu sebagai
berikut :

a. Mendorong manusia untuk berbuat, sebagai energi dalam melakukan


kegiatan. Motivasi ini merupakan motor penggerak dari setiap kegiatan yang
dilakukan manusia.

b. Menentukan arah perilaku perbuatan, yaitu tujuan yang ingin dicapai


seseorang. Dengan itu motivasi memberikan arah dan tujuan yang harus
dilakukan sesuai dengan keinginannya.

c. Menyeleksi perilaku, yaitu dengan menentukan perbuatan apa yang harus


dikerjakan yang cocok untuk mencapai tujuan. Dengan menyeleksi perbuatan
yang tidak mengarah ke tujuan tersebut.

Menurut Oemar Hamalik (2009: 175) manfaat motivasi belajar adalah:


a. Mendorong timbulnya kelakuan atau suatu perbuatan. Tanpa motivasi tidak
akan timbul perbuatan seperti belajar

b. Sebagai pengarah, artinya mengarahkan perbuatan kepada pencapaian tujuan


yang diinginkan.Sebagai penggerak. Ia akan berfungsi sebagai mesin bagi
mobil.

c. Besarnya motivasi akan menentukan cepat atau lambatnya suatu pekerjaan.

Dari uraian di atas dapat di katakan motivasi belajar dapat mempengaruhi atau
merubah perilaku seseorang.

5
BAB III

METODE PENELITIAN

A. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Pemilihan tempat
ini karena UIN Maulana Malik Ibrahim Malang merupakan sebuah perguruan tinggi yang
terdapat banyak mahasiswa.
B. Waktu Penelitian
Penelitian tentang pengaruh lingkungan teman sebaya terhadap motivasi belajar pada
mahasiswa ini dilakukan kurang lebih 2 minggu.
C. Bentuk Penelitian
Penelitian ini menggunakan jenis pelatihan kualitatif deskriptif. Bogdan dan Tylor
mendefinisikan penelitian kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data
deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan orang-orang atau perilaku yang diamati
(Lexy J. Moloeng, 2010:4)
Metode kualitatif deskriptif ini menyesuaikan pendapat antar peneliti dengan
informan. Pemilihan metode ini dilakukan karena analisisnya tidak bisa dalam bentuk
angka dan peneliti lebih mendeskripsikan segala fenomena yang ada di lingkungan
mahasiswa secara jelas.
D. Sumber Data Penelitian
Sumber data dalam penelitian kualitatif deskriptif yaitu melalui wawancara,
observasi, foto, dan lainnya. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu:
1. Sumber Data Primer
Sumber data primer diperoleh melalui wawancara dan pengamatan langsung di
lapangan. Sumber data primer merupakan data yang diambil langsung oleh peneliti
kepada sumbernya tanpa ada perantara dengan cara menggali sumber asli secara
langsung melalui responden. Sumber data primer dalam penelitian ini adalah
mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
2. Sumber Data Sekunder
Sumber data sekunder diperoleh melalui dokumentasi dan studi kepustakaan
dengan bantuan media cetak dan media internet serta catatan lapangan. Sumber data

6
sekunder merupakan sumber data tidak langsung yang mampu memberikan data
tambahan serta penguatan terhadap data penelitian.

E. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data merupakan suatu cara memperoleh data-data yang


diperlukan dalam penelitian. Dalam penelitian ini teknik yang digunakan antara lain
sebagai berikut:

1. Observasi

Observasi merupakan aktivitas penelitian dalam rangka mengumpulkan


data yang berkaitan dengan masalah penelitian melalui proses pengamatan
langsung di lapangan. Peneliti berada ditempat itu, untuk mendapatkan bukti-
bukti yang valid dalam laporan yang akan diajukan. Observasi adalah metode
pengumpulan data dimana peneliti mencatat informasi sebagaimana yang
mereka saksikan selama penelitian (W. Gulo, 2002: 116).

Dalam observasi ini peneliti menggunakan jenis observasi non partisipan,


yaitu peneliti hanya mengamati secara langsung keadaan objek, tetapi peneliti
tidak aktif dan ikut serta secara langsung (Husain Usman, 1995: 56).

Teknik pengumpulan data ini dilakukan dengan cara mengamati suatu


fenomena yang ada dan terjadi. Observasi yang dilakukan diharapkan dapat
memperoleh data yang sesuai atau relevan dengan topik penelitian. Hal yang
akan diamati yaitu prosesi Kirab Budaya Suran Mbah Demang di Dusun
Modinan, Desa Banyuraden. Observasi yang dilakukan, penelitian berada di
lokasi tersebut dan membawa lembar observasi yang sudah dibuat.

2. Wawancara (interview)
Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan itu
dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan
pertanyaan dan terwawancara (interview) yang memberikan jawaban atas
pertanyaan itu (Lexy J. Meleong, 2010: 186). Ciri utama wawancara adalah
kontak langsung dengan tatap muka antara pencari informasi dan sumber

7
informasi. Dalam wawancara sudah disiapkan berbagai macam pertanyaan-
pertanyaan tetapi muncul berbagai pertanyaan lain saat meneliti.
Melalui wawancara inilah peneliti menggali data, informasi, dan
kerangka keterangan dari subyek penelitian. Teknik wawancara yang dilakukan
adalah wawancara bebas terpimpin, artinya pertanyaan yang dilontarkan tidak
terpaku pada pedoman wawancara dan dapat diperdalam maupun
dikembangkan sesuai dengan situasi dan kondisi lapangan. Wawancara
dilakukan kepada Sesepuh di keturunan Mbah Demang, Lurah Desa
Banyuraden yang juga keturunan dari Mbah Demang, masyarakat sekitar dan
masyarakat pendatang.
F. Instrumen Penelitian

Instrumen merupakan alat pada waktu peneliti menggunakan suatu metode


(Suharsini, 1993: 168). Dalam penelitian ini menggunakan metode observasi,
wawancara, dan dokumentasi. Maka dari itu, instrumen yang dibutuhkan adalah
pedomen observasi, pedomen wawancara, alat perekam, kamera, serta alat tulis.

Instrumen dalam penelitian kualitatif adalah peneliti itu sendiri (human


instrument) yang disertai alat bantuan berupa handphone sebagai alat bantu rekam
dan kamera. Dalam penelitian kualitatif, peneliti memiliki kedudukan sebagai
perencana, pelaksana, pengumpulan data, analisis, penafsir data dan pada akhirnya
menjadi pelapor hasil penelitiannya (Lexy J. Moleong, 2012: 168).

8
BAB IV

PEMBAHASAN

A. Pengaruh Lingkungan Teman Sebaya terhadap Motivasi Belajar pada Mahasiswa


Kebanyakan usia mahasiswa merupakan usia masa remaja akhir dan masa dewasa
awal dimana meskipun pada usia itu seseorang itu harus sudah bisa mandiri, namun tidak
dapat dipungkiri bahwa manusia tetaplah makhluk sosial dan mahasiswa juga merupakan
makhluk sosial yang pastinya akan butuh orang lain. Dengan semakin berkembang
pesatnya teknologi, maka komunikasi menjadi sangat mudah, bisa mendekatkan yang
jauh dan tidak perlu waktu lama untuk mengirimkan pesan yang kalau dikirimkan melalui
surat akan sangat lama. Mahasiswa yang menyandang gelar “agent of change” tentulah
sangat familiar dengan teknologi masa kini. Mereka melakukan interaksi dengan teman
sebayanya menggunakan handphone kapan saja dan dimana saja sehingga lebih
merekatkan hubungan pertemanan mereka. Para mahasiswa UIN ini juga memiliki jam
kuliah dari pagi sampai jam dua dan bahkan ada yang sampai malam, sehingga bisa
memberikan suatu peluang untuk mengembangkan kemampuan kognitif serta
keterampilan sosial yang dimilikinya.
Semakin tinggi jenjang pendidikan seseorang, maka akan semakin naik juga tingkat
kesulitan tugas pada tiap individu. Sama halnya dengan mahasiswa, tugas-tugas semakin
menumpuk dan semakin rumit. Sehingga fungsi dari teman sebaya pada mahasiswa ini
adalah teman sebaya bisa memberikan informasi dan perbandingan dengan dunia luar.
Teman bisa memberikan ketenangan ketika mengalami kekhawatiran. Pencerahan ketika
otak sudah mencapai titik buntu mengenai tugas-tugas yang diberikan dosen. Tidak
jarang juga ada mahasiswa yang tadinya penakut, namun berkat temannya dia menjadi
pemberani, awalnya pemalas jadi rajin, dan lain sebagainya.
Mahasiswa yang memiliki interaksi sosial dengan teman sebaya yang tinggi
memiliki keterbukaan individu dan dapat menjalin hubungan dengan akrab yang
mengkibatkan mahasiswa tersebut mudah diterima dalam kelompok manapun.
Mahasiswa yang sulit untuk berinteraksi sosial adalah mereka yang tertutup dengan
lingkungan sekitarnya, cenderung pendiam, dan susah menjalin hubungan akrab dengan

9
orang baru. Namun, meskipun begitu mahasiswa ini tetaplah memiliki teman sebaya yang
akrab dengan dirinya.
Lingkungan teman sebaya ini berpengaruh terhadap mahasiswa baik itu mahasiswa
yang pendiam maupun mahasiswa yang cepat akrab dengan orang lain. Jika temannya
lebih memilih menunda dalam mengerjakan tugas, maka mahasiswa tersebut akan
mengikuti temannya, terlebih jika temannya tersebut mengajak mahassiswa tadi untuk
melakukan kegiatan yang lebih menyenangkan dibanding mengerjakan tugas. Ada juga
mahasiswa yang akan terus terlena dengan penundaannya atau kelalaiannya dalam
mengerjakan tugas atau belajar jika temannya tidak mengingatkannya untuk belajar
ataupun mengerjakan tugas tersebut. Namun lain halnya dengan ketika menjelang ujian,
ada juga mahasiswa yang lebih memilih untuk mengerjakan tugas atau belajar
dibandingkan mengikuti temannya untuk mengerjakan sesuatu yang lebih menyenangkan.

10
BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan
Setiap manusia tentulah memiliki kepribadian yang berbeda-beda, jadi tentunya
tidak bisa bagi kita untuk menggeneralkan hal ini. Setiap orang punya perilakunya
masing-masing, namun tetap tak bisa untuk dipungkiri bahwa teman sebaya memiliki
peran yang sangat penting bagi motivasi belajar pada mahasiswa baik itu mahasiswa yang
pendiam maupu mahasiswa yang terbuka dengan teman sebayanya.

B. Saran

Berdasarkan pembahasan dan kesimpulan yang dipaparkan, maka saran dari


peneliti adalah sebagai berikut

1. Bagi mahasiswa

Makalah ini dapat dijadikan gambaran ke depan, terutama untuk mahasiswa


jurusan Psikologi ataupun mahasiswa yang memiliki mata kuliah Psikologi
Pendidikan. Dengan adanya makalah ini mahasiswa dapat mengetahui pengaruh
lingkungan teman sebaya terhadap motivasi belajar pada mahasiswa.

2. Bagi peneliti selanjutnya

Makalah ini dapat dijadikan sebagai salah satu acuan dalam memilih teks
yang akan dijadikan referensi dalam penyusunan laporan penelitian selanjutnya.

11
DAFTAR PUSTAKA

Alderfer, Clayton. 2004. Dalam Hamdu, Ghullam dan Agustina, Lisa. 2011. Pengaruh Motivasi
Belajar Siswa Terhadap Prestasi Belajar IPA di Sekolah Dasar. Jurnal Penelitian Pendidikan.
ISSN 1412 565X. Vol. 12 No. 1. Tahun 2011. Hal 92.

Surna, I Nyoman dan Olga D. Panderiot. 2014. Psikologi Pendidikan I. Jakarta : Penerbit Erlangga

Slavin, Robert E. 2011. Cooperative Learning Teori, Riset dan Praktik. Bandung : Nusa Media

Santosa, Slamet. 2007. Dinamika Kelompok. Jakarta ; Bumi Aksara

Satrock, John W. 2011. Psikologi Pendidikan. Jakarta : Salemba Humanika

Uno, hamzah B. 2012. Assesment Pembelajaran. Jakarta : Bumi Aksaraa

Septiana Rahayu. 2017. Pengaruh Lingkungan Teman Sebaya Dan Motivasi Belajar Terhadap
Hasil Belajar Ekonomi Siswa Kelas X Iis Sma Negeri 1 Sewon Tahun Ajaran 2016/2017.
endidikan Ekonomi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Yogyakarta
Sri Utami Dewi. Pengaruh Lingkungan Teman Sebaya Terhadap Motivasi Belajar Santri Mdt At-
Taqwa Kp. Ranca Ayu Desa Maroko Kabupaten Garut. IAIC Tasikmalaya Mustagfirah,
Nunung (2017) Pengaruh Pergaulan Teman Sebaya terhadap Motivasi Belajar Siswa di
MAN 3 Banjarmasin. Skripsi, Tarbiyah
Salahudin. Moh. 2018. Pengaruh Teman Sebaya Terhadap Perkembangan Motivasi Jurnal Civic
Hukum Volume 3, Nomor 1

12