Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH MIKROBIOLOGI-VIROLOGI I

MEKANISME KERJA ANTIBIOTIK

DISUSUN OLEH :

Ananda Luthfi Azmi 11194761920286

Farah Noor Ain 11194761920295

Nada Widiasmira Oktia Amanda 11194761920311

Saridah Marhani 11194761920325

PROGRAM STUDI FARMASI

FAKULTAS KESEHATAN UNIVERSITAS SARI MULIA

BANJARMASIN

2020

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa ,atas segala
Rahmat, Hidayah, dan ridho-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan Makalah Mata
Kuliah Mikrobiologi-Virologi tentang “Mekanisme Kerja Antibiotik” Makalah ini
bertujuan untuk memberikan gambaran atau informasi mengenai konsep-konsep apa
saja yang digunakan untuk menganlisis secara kualitatif Kami mengharapkan agar
makalah yang kami buat ini dapat diterima dan bermanfaat bagi kita semua.

Banjarmasin, Februari 2020

Tim penyusun

2
DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL............................................................................................1
KATA PENGANTAR ............................................................................................ 2
DAFTAR ISI ........................................................................................................... 3
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 4
A. Latar Belakang ................................................................................................... 4
BAB II PEMBAHASAN ........................................................................................ 7
A. Mekanisme Kerja Antibiotik .............................................................................. 7
B. Penggolongan Antibiotik ................................................................................. 10
C. Kelompok Antibiotik ....................................................................................... 11
D. Mekanisme Pertahanan Bakteri Terhadap Bakteri ........................................... 18
BAB III PENUTUP .............................................................................................. 20
A. Kesimpulan ...................................................................................................... 20
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 21

3
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Mikroba merupakan kelompok yang paling tinggi keragamannya di
bumi ini. Namun sering kali diabaikan karena pengalaman yang buruk tentang
mikroba selama ini. Padahal tanpa disadari mikroba melakukan banyak hal
berguna bagi hidup, seperti keterlibatannya dalam siklus biogeokimia,
penyedia senyawa tertentu di atmosfer dan tanah. Salah satu nilai penting dari
mikroba adalah kemampuannya menghasilkan metabolit sekunder seperti
antimikroba. Banyak teknik yang dapat dilakukan untuk mendeteksi anggota
mikroba yang memproduksi metabolit yang bernilai ini. Dewasa ini pencarian
mikroba dengan kemampuan menghasilkan asam amino, antimikroba
(antibiotik), dan metabolit-metabolit lainnya gencar dilakukan (Meyers et al.
1968).
Antibiotik merupakan substansi yang dihasilkan oleh suatu organisme
dan dapat menghambat pertumbuhan organisme lain. Antibiotik juga
dimanfaatkan untuk bertahan hidup dan menghadapi organisme lain yang
mengancam keberadaannya. Antibiotik ini menunjukkan aktivitas toksisitas
selektif dan mungkin berbeda pada tiap organisme. Sebagian besar antibiotik
yang digunakan dalam beberapa decade terakhir murni berasal dari mikroba
(Pathania & Brown 2008).
Antibiotik berasal dari bahasa yunani yang terdiri dari anti(lawan) dan
bios (hidup). Antibiotik adalah segolongan senyawa, baik alami maupun
sintetik, yang mempunyai efek menekan atau menghentikan suatu proses
biokimia didalam organisme, khususnya dalam proses infeksi oleh bakteri.
Antibiotik ditemukan oleh Sir Alexander Flemming tahun 1928.
Penemuan antibiotik tersebut terjadi secara tidak sengaja ketika Alexander
lupa membersihkan sediaan bakteri pada cawan petri dan meninggalkannya di
rak cuci sepanjang akhir pekan. Ketika cawan petri tersebut akan dibersihkan,

4
ia melihat sebagian kapang telah tumbuh di media dan bagian disekitar
kapang ‘bersih’ dari bakteri yang sebelumnya memenuhi media. Karena
tertarik dengan kenyataan ini, ia melakukan penelitian lebih lanjut terhadap
kapang tersebut yang ternyata adalah Penicillium chrysogenum syn P.
notatum (kapang berwarna biru muda ini mudah ditemukan pada roti yang
dibiarkan lembab beberapa hari). Ia lalu mendapat hasil positif dalam
pengujian pengaruh ekstrak kapang terhadap bakteri koleksinya. Dari ekstrak
itu ia diakui menemukan antibiotik alami pertama yaitu Penecillin G.
Ada bermacam-macam antibiotik yang berpotensi untuk terapi
penyakit infeksi. Mereka berbeda satu sama lain dalam beberapa hal, seperti
sifat fisika, kimia, farmakologis, spektrum antibakteri atau mekanisme
kegiatannya. Berdasarkan toksisitasnya, antibiotik dibagi dalam 2 kelompok,
yaitu antibiotik dengan aktivitas bakteriostatik bersifat menghambat
pertumbuhan mikroba dan aktivitas bakterisida bersifat membinasakan
mikroba lain. Antibiotik tertentu aktivitasnya dapat ditingkatkan dari
bakteriostatik menjadi bakterisida bila konsentrasinya ditingkatkan (Suwandi
1992).
Antibiotik telah terbukti bermanfaat bagi kehidupan manusia sejak
mulai awal ditemukannya sampai sekarang. Namun penggunaannya yang
terus menerus meningkat dapat menimbulkan berbagai masalah. Masalah
terpenting adalah timbulnya galur bakteri resisten terhadap berbagai jenis
antibiotik yang dapat menyebabkan pengobatan penyakit infeksi dengan
antibiotik tidak lagi efisien atau bahkan menjadi lebih mahal. Selain hal
tersebut di atas masalah lain yang timbul adalah efek samping obat yang
cukup serius dan dampak yang paling buruk adalah bila kemudian tidak ada
lagi antibiotik yang dapat digunakan dan mampu untuk eradikasi bakteri
penyebab infeksi sehingga dapat mengancam jiwa penderita (Sudarmono,
1986).
Antibiotik tidak saja digunakan untuk keperluan terapi pada manusia,
namun juga digunakan pada berbagai bidang seperti pada bidang peternakan

5
yaitu dalam hal profilaksis infeksi pada hewan di berbagai peternakan hewan
atau penggunaan pada tanaman. Akibat dari hal tersebut maka timbul
pemaparan yang terus menerus dan berlebihan dari flora tubuh manusia dan
hewan terhadap antibiotik sehingga menyebabkan terjadinya proses seleksi
bakteri yang resisten terhadap antibiotik pada suatu populasi bakteri dan
terjadi transfer dari satu jenis bakteri ke bakteri yang lain (Parker, 1982).
Pemberian antibiotik berspektrum luas serta kombinasinya yang secara rutin
merupakan penatalaksanaan penyakit infeksi oleh para klinisi, merupakan
salah satu faktor penunjang terjadinya perubahan pola bakteri penyebab
infeksi dan pola resistensi terhadap berbagai antibiotik. Mortalitas dan
morbiditas yang tinggi pada penderita dengan infeksi serius yang dirawat di
rumahsakit adalah tantangan terbesar yang dihadapi para klinisi di rumahsakit
dalam mengobati penyakit infeksi (Jones, 1996).

6
BAB II
PEMBAHASAN

A. Mekanisme Kerja Antibiotik


Antibiotik adalah zat-zat kimia yang dihasilkan oleh fungi dan bakteri,
yang memiliki khasiat memastikan atau menghambat pertumbuhan kuman,
sedangkan, toksisitasnya bagi manusia relative kecil (Tjay dan Raharja, 2007).
Obat antimikroba yang ideal memperlihatkan toksisitas selstif. Isitilah
berate bahwa obat ini merugikan parasite tanpa merugikan inang. Dalam
banyak hal, toksisitas selektif relative daripada absolut, berarti bahwa obat
dapay merusak parasit dalam konsentrasi yang dapat ditoleransi oleh inang
(Katzung, 1994).
Berdasarkan spectrum atau kisaran terjadinya, antibiotik dapat
dibedakan menjadi dua kelompok yaitu ( Pratiwi, 2008).
1. Antibiotik spectrum sempit (narrow spectrum), yaitu antibiotik
yang dapat menghambat segolongan jenis bakteri saja, contohnya
hanya mampu menghambat atau membunuh bakteri gram negatif
saja. Yang termasuk adalah golongan penisilin, streptomisin,
neomisin, dan basitrasin.
2. Antibiotik spectrum luas (broad spectrum) yaitu antibiotik dapat
menghambat atau membunuh bakteri dari golongan gram positif
maupun negatif. Yang termasuk golongan ini adalah tetrasiklin dan
derivatnya, kloramfenicol, ampisilin, sefalosporin, karbapenem,
dan lain-lain.

Penggunaan antibiotik khususnya berkaitan dengan pengobatan


penyakit infeksi, antibiotika bekerja seperti pestisida dengan menekan atau
memutus satu mata rantai metabolisme, hanya saja targetnya adalah bakteri.
Antibiotik berbeda dengan desinfektan karena cara kerjanya, desinfektan

7
membunuh kuman dengan menciptakan lingkungan yang tidak wajar bagi
kuman untuk hidup.

Mekanisme kerja antibiotik yaitu:


1. Menghambat metabolisme sel, seperti sulfonamide dan trimethoprim.
2. Menghambat sintesa dinding sel, akibatnya pembentukan dinding sel
tidak sempurna dan tidak dapat menahan tekanan osmosa dari plasma,
akhirnya sel akan seperti fenicillin, vankomisin, dan sefalosporin.
3. Menghambat sintesa membran sel, molekul lipoprotein dari membran sel
dikacaukan pembentukannya hingga bersifat permeabel akibatnya zat-zat
penting dari isi sel keluar, seperti polimiksin.
4. Menghambat sintesa protein sel dengan melekatkan diri ke ribosom
akibatnya sel terbentuknya tidak sempurna, seperti tetrasiklin,
kloramfenikol, streptomosin, dan aminoglikosida.
5. Menghambat pembentukan asam-asam inti (DNA dan RNA) akibatnya
sel tidak dapat berkembang, seperti rifampisin.

Gambar 1 Mekanisme kerja antibiotik

Antibiotik memiliki cara kerja sebagai bakterisidal (membunuh bakteri


secara langsung) atau bakteriostatik (menghambat pertumbuhan bakteri). Pada

8
kondisi bakteriostasis, mekanisme pertahanan tubuh inang seperti fagositosis
dan produksi antibodi biasanya akan merusak mikroorganisme.
Ada beberapa cara kerja antibiotik terhadap bakteri sebagai targetnya,
yaitu menghambat sintesis dinding sel, menghambat sintesis protein, merusak
membran plasma, menghambat sintesis asam nukleat, dan menghambat
sintesis metabolit esensial.
Dinding sel bakteri terdiri atas jaringan makromolekuler yang disebut
peptidoglikan. Penisilin dan beberapa antibiotik lainnya mencegah sintesis
peptidoglikan yang utuh sehingga dinding sel akan melemah dan akibatnya sel
bakteri akan mengalami lisis. Riboson merupakan mesin untuk menyintesis
protein. Sel eukariot memiliki ribosom 80S, sedangkan sel prokariot 70S
(terdiri atas unit 50S dan 30S). Perbedaan dalam struktur ribosom akan
mempengaruhi toksisitas selektif antibiotik yang akan mempengaruhi sintesis
protein.
Di antara antibiotik yang mempengaruhi sintesis protein adalah kloram
fenikol,eritromisi,streptomisin, dan tetrasiklin. Kloramfenikol akan bereaksi
dengan unit 50S ribosom dan akan menghambat pembentukan ikatan peptida
pada rantai polipeptida yang sedang terbentuk. Kebanyakan antibiotik yang
menghambat protein sintesis memiliki aktivitas spektrum yang luas.
Tetrasiklin menghambat perlekatan tRNA yang membawa asam amino ke
ribosom sehingga penambahan asam amino ke rantai polipeptida yang sedang
dibentuk terhambat.
Antibiotik aminoglikosida, seperti streptomisin dan gentamisin,
mempengaruhi tahap awal dari sintesis protein dengan mengubah bentuk unit
30S ribosom yang akan mengakibatkan kode genetik pada mRNA tidak
terbaca dengan baik.
Antibiotik tertentu, terutama antibiotik polipeptida, menyebabkan
perubahan permeabilitas membran plasma yang akan mengakibatkan
kehilangan metabolit penting dari sel bakteri. Sebagai contoh adalah

9
polimiksin B yang menyebabkan kerusakan membran plasma dengan melekat
pada fosfolipid membran.
Sejumlah antibiotik mempengaruhi proses replikasi DNA/RNA dan
transkripsi pada bakteri. Contoh dari golongan ini adalah rifampin dan
quinolon. Rifampin menghambat sintesis mRNA, sedangkan quinolon
menghambat sintesis DNA

B. Penggolongan Antibiotik
Ada banyak penggolongan antibiotik, setidaknya ada 3 golongan
antibiotik yang perlu kita ketahui yaitu :

1. Penggolongan berdasarkan daya bunuh terhadap bakteri:


a. Bakterisid, antibiotik yang bakterisid secara aktif membasmi kuman.
b. Bakteriostatik, antibiotika bakteriostatik bekerja dengan mencegah
atau menghambat pertumbuhan kuman, tidak membunuhnya sehingga
pembasmian kuman sangat tergantung pada daya tahan tubuh.
2. Penggolongan berdasarkan spektrum kerja antibiotik.
a. Spektrum luas (broad spectrum), Antibiotik yang besifat aktif terhadap
bakteri gram positif dan gram negatif. Membunuh semua jenis bakteri
didalam tubuh. Dianjurkan untuk menghindari mengkonsumsi
antibiotik jenis ini karena akan membunuh jenis bakteri lainnya yang
sngat berguna untuk tubuh kita. Antibiotik yang termasuk kategori ini
adalah cephalosporin.
b. Spektrum sempit (narrow spectrum), Antibiotik yang bersifat aktif
hanya terhadap bakteri gram positif atau gram negatif saja. Contoh :
Penisilin G, streptomisin.
3. Penggolongan berdasarkan cara kerjanya.
Antibiotik golongan ini dibedakan berdasarkan sasaran kerja
senyawa tersebut dan susunan kimianya. Ada enam kelompok antibiotik
dilihat dari target atau sasaran kerjanya.

10
a. Inhibitor sintesis dinding sel bakteri.
b. Inhibitor transkripsi dan replikasi.
c. Inhibitor sintesis protein.
d. Inhibitor fungsi membran sel.
e. Inhibitor fungsi sel lainnya.
f. Antimetabolit.

C. Kelompok Antibiotik
1. Golongan β-laktam
a. Penisilin
Penisilin merupakan antibacterial yang pertama digunakan untuk terapi
dan termasuk dalam kelas beta-laktam. Semua obat golongan penisilin
memiliki struktur cincin kimia yang sama dan asam mono-basic yang
terbentuk dari garam dan ester.
Dihasilkan oleh fungi Penicillinum chrysognum, memiliki cincin β-
laktam yang diinaktifkan oleh enzim β-laktam bakteri. Aktif terutama
pada bakteri gram (+) dan beberapa gram (-) contoh: amoksisilin dan
ampisilin.
Untuk meningkatkan ketahanan terhadap β-laktamase →
penambahan senyawa untuk memblokir dan menginaktivasi β-laktamase.
Misal: Amoksisilin + asam klavulanat, ampisilin + sulbaktam, piperasilin
+ tazobaktam.
Efek samping: reaksi alergi → syok anafilaksis → kematian,
gangguan lambunng dan usus. Pada dosis amat tinggi dapat menimbulkan
reaksi nefrotoksik dan neurotoksik.

11
Gambar 2 Mekanisme antibiotik β-laktam

b. Monobaktam
Dihasilkan oleh chromobacterium violaceum bersifat bakterisid,
dengan mekanisme yang sama dengan golongan β-laktam lainnya.
Bekerja khusus pada kuman gram negatif aerob misal Pseudomonas, H.
Influenza yang resisten terhadap penisilinase contoh: aztreonam.

Gambar 3 Struktur antibiotic Monobaktam

2. Sefalosporin
Sefalosporin merupakan antibacterial semi sintesis yang berasal
dari antibacterial alami yaitu Cephalosporin acremonium. golongan ini
bersifat bakterisda dan menghambat sintesis dari dinding sel, sama seperti
penisilin.
Dihasilkan oleh jamur Cephalosporium acremonium. Spektrum
kerjanya luas meliputi bakteri gram positif dan negatif termasuk E. Coli,
klebsiella dan proteus.

12
Gambar 4 Struktur antibiotic Sefalosforin

Penggolongan sefalosporinberdasarkan aktivitas dan resistensinya


terhadap β-laktamase:
Generasi I → aktif pada bakteri gram positif. Pada umumnya tidak
tahan pada β-laktamase Misal: sefalotin, sefazolin, sefradin, sefalexin,
sefadroksil. Digunakan secara oral pada infeksi saluran kemih ringan,
infeksi saluran pernafasan yang tidak serius.
Generasi II → lebih aktif terhadap kuman gram negatif, lebih kuat
terhadap β-laktamase. Misal: sefaklor, sefamandol, sefmetazol,
sefuroksim.
Generasi III → lebih aktif terhadap bakteri gram negatif, meliputi
P. Aeruginosa dan bacteroides. Misal: sefoperazone, sefotaksim,
seftizoksim, sefotiam, sefiksim. Digunakan secara parenteral.
Generasi IV → sangat resisten terhadap laktamase. Misal:
sefpirome dan sefepim.

3. Aminoglikosid
Obat gologan ini mengahambat bakteri aerob gram negatif. Obat ini
mempunyai indeks terapi sempit, dengan toksisitas serius pada ginjal dan
pendengaran, khususnya pada pasien anak dan usia lanjut. Efek samping
nya adalah toksisitas ginjal, ototoksisitas ( auditorik maupun vestibular),
blockade neuro muscular(lebih jarang).

13
Dihasilkan oleh fungi Streptomyces dan micromonospora.
Mekanisme kerjanya: bekterisid, berpenetrasi pada dinding bakteri dan
mengikatkan diri pada ribosom dalam sel. Contoh: streptomicin,
kanamicin, gentamicin, amikasin, neomisin.
Penggunaan aminoglikosida streptomicin dan kanamicin → injeksi
pada TBC juga pada endocarditis. Gentamicin, tobramisin, neomisin juga
sering diberikan secara topikal sebagai salep atau tetes mata/telinga. Efek
samping: kerusakan pada organ pendengar dan keseimbangan serta
nefrotoksik.

4. Tetrasiklin
Golongan ini mempunyai spectrum luas dan dapat menghambat
berbagai bakteri gram positif, gram negatif, baik yang bersifat aerob
maupun ananerob, serta mikroorganisme lain seperti Ricketsia,
Miklosplasma, Klamida, dan beberapa sintesis mikrobakteria.
Diperoleh dari streptomyces aureofaciens dan streptomyces rimosus
meliputi: tetrasiklin, oksitetrasiklin, doksisiklin dan minosiklin (long
acting). Khasiatnya bersifat bakteriostatik. Pada pemberian iv dapat
dicapai kadar plasma yang bersifat bakterisid lemah. Mekanisme kerja:
mengganggu sintesis protein kuman. Spektrum kerjanya luas kecuali
terhadap Pseudomonas dan proteus. Juga aktif terhadap chlamydia
trachomatis (penyebab penyakit mata).
5. Sulfonamida
Merupakan antibiotik spektrum luas terhadap bakteri gram positif
dan negatif. Bersifat bakteriostatik. Mekanisme kerja: mencegah sintesis
asam folat dalam bekteri yang dibutuhkan oleh bakteri untuk membentuk
DNA dan RNA bakteri. Kombinasi sulfonamida antara lain trisulfa
(sulfadiazin, sulfamerazin dann sulfamezatin dengan perbandingan sama),
kotrimoksazol (sulfametaksazol + trimetoprim dengan perbandingan 5:1),
sulfadoksin + pirimetamin.

14
Penggunaan untuk infeksi saluran kemih, infeksi mata, radang usus,
malaria tropikana, mencegah infeksi pada luka bakar, tifus. Sebaiknya
tidak digunakan pada kehamilan terutama trisemester akhir → icterus,
hiperbilirubinemia.
6. Quinolon
Berkhasiat bakterisid pada fase pertumbuhan kuman dengan
menghambat enzim DNA gyrase bakteri sehingga menghambat sintesa
DNA.

Penggolongan:
Generasi I → asam nalidiksat dan pipemidat digunakan pada ISK tanpa
komplikasi.
Generasi II → senyawa fluorkuinolon misal siprofloksasin, norfloksasin,
pefloksasin, ofloksasin. Spektrum kerja lebih luas dan dapat digunakan
untuk infeksi sistemik.
Zat-zat long acting → misal sparfloksasin, trovafloksasin dan
grepafloksasin. Spektrum kerja sangat luas dan meliputi gram positif.
7. Makrolida
Makrolida aktif terhadap bakteri gram positif, tetapi juga dapat
menghambat beberapa Enterococcus dan basil gram positif. Sebagian
besar gram-negatif aerob resisten terhadap makrolida, namun azitromisin
dapat menghambat salmonella. Aztromisin dan klaritromisin dapat
menghambat H. influenza, tapi azitromisin mempunyai aktivitas yang
terbesar. Keduanya juga aktif terhadap H.pylori. makrolida
mempengaruhi sintesis protein bakteri dengan cara berikatan dengan
subunit 50s ribosom bakteri, sehingga menghambat translokasi peptida.
Meliputi: eritromisin, klaritomisin, roxitromisin, azitromisin,
diritromisin serta spiramisin. Bersifat bakteriostatik, mekanisme kerja:
pengikatan reversible pada ribosom kuman, sehingga mengganggu

15
sintesis protein. Penggunaan: merupakan pilihan pertama pada infeksi
paru-paru.

8. Linkomisin
Dihasilkan oleh streptomyces lincolnensis. Sifatnya: bakteriostatis
meliputi: linkomisin dan klindamisin. Spektrum kerjanya lebih sempit
dari makrolida terutama terhadap gram positif dan anaerob. Penggunaan:
aktif terhadap propionibacter acnes sehingga digunakan secara topikal
pada acne.

9. Polipeptida
Berasal dari Bacillus polymixa. Bersifat bakterisid berdasarkan
kemampuannya melekatkan diri pada membran sel bakteri sehingga
permeabilitas meningkat dan akhirnya sel meletus. Meliputi: polimiksin B
dan polimiksin E (colistin), basitrasin dan gramisidin. Spektrumnya
sempit polimiksin hanya aktif terhadap bakteri gram negatif. Sebaliknya
basitrasin dan gramisidin aktif terhadap kuman gram positif. Penggunaan:
karena sangat toksis pada ginjal dan organ pendengaran, maka
penggunaan secara sistemik sudah digantikan lebih banyak digunakan
sebagai sediaan topikal (sebagai tetes telinga yang berisi polimiksin
sulfat, neomisin sulfat, salep mata, tetes mata yang berisi basitrasin,
neomisin.

10. Antibiotik lainnya


Kloramfenikol → bersifat bakteriostatik terhadap enterobacter dan
S. aureus berdasarkan perintangan sintesis polipeptida kuman bersifat
bakterisid terhadap S pneumoniae N meningitidis dan H. Influenza.
Penggunaannya secara oral dilarang dinegara barat sejak tahun 1970-an
karena menyebabkan anemia aplastis, sehingga hanya dianjurkan pada

16
infeksi tifus (salmonella typhi) dan meningitis (khusus akibat H.
Influenza). Kloramfenikol digunakan sebagai salep 3% tetes/salep mata
0,25%-1%. Turunannya yaitu tiamfenikol.
Vankomisin → dihasilkan oleh streptomyces orientalis, bersifat
bakterisid terhadap kuman gram positif aerob dan anaerob. Merupakan
antibiotik terakhir jika obat-obat lain tidak ampuh lagi.
Antibiotik juga dikenal ada 2 tipe, yaitu antibiotik yang bersifat
bakteriostatik dengan aktivitas menghambat perkembangan bakteri dan
memungkinkan sistem kekebalan inangnya mengambil alih sel bakteri
yang dihambat, contohnya berdasarkan mekanisme kerjanya terhadap
bakteri, antibiotik dikelompokkan sebagai berikut. (Stringer, 2006).
a. Inhibitor sintesis dinding sel bakteri yang memiliki efek bakterisidal
dengan cara memecah enzim dinding sel dan menghambat enzim
dalam sintesis dinding sel. Contohnya antara laingolongan β-laktam
seperti penisilin, sefalosporin, karbapenem, monobaktam,
sertainhibitor sintesis dinding sel lainnya seperti vancomysin,
basitrasin, fosfomysin, dan daptomysin.
b. Inhibitor sintesis protein bakteri memiliki efek bakterisidal atau
bakteriostatik dengan cara menganggu sintesis protein tanpa
mengganggu sel-sel normal dan menghambat tahap-tahap sintesis
protein. Diantaranya aminoglikosida, makrolida, tetrasiklin,
streptogamin, klindamisin, oksazolidinon, dan kloramfenikol.
c. Mengubah permeabilitas membran sel dan memiliki efek
bakteriostatik dengan caramenghilangkan permeabilitas membran oleh
karena hilangnya substansi seluler sehingga menyebabkan sel menjadi
lisis. Obat-obat yang memiliki aktivitas ini antara lain polimiksin,
amfoterisin B, gramisidin, nistatin, dan kolistin.
d. Menghambat sintesa folat.Mekanisme kerja ini terdapat pada obat-
obatan seperti sulfonamida dan trimetoprim. Bakteri tidak dapat
mengabsorbsi asam folat, tetapi harus membuat asam folat dari PABA

17
(asam para amino benzoat) dan glutamat.Asam folat merupakan
vitamin namunpada manusia tidak dapat mensintesis asam folat. Hal
ini menjadi suatu target yang baik dan selektif untuk senyawa-
senyawa antimikroba.
e. Mengganggu sintesis DNA.Mekanisme kerja tersebutterdapat pada
obat-obatan seperti metronidasol, kinolon, dan novobiosin. Obat-
obatanini dapat menghambat asam deoksiribonukleat (DNA) girase
sehingga menghambat sintesis DNA. DNA girase adalah enzim yang
terdapat pada bakteri dengan cara menyebabkan terbuka dan
terbentuknya superheliks pada DNA sehingga menghambat replikasi
DNA.
Obat anti metabolit yang menghambat enzim-enzim esensial
dalam metabolism folat, Sulfonamide dan trimetopri sulfonamide
bersifat bakteriostatik.trimetropin dalamkombinasi dengan
sulfametaksazol, maupun menghambat sebagian besar patogen saluran
kemih, kecuali kecuali P. aeruginosa dan Neressia sp . kombinasi ini
menghambat S.aerus, Staphylococcus hemoliticus, H influenza, Neisseria
sp, bakteri gram-negatif aerob (E.coli dan Klebsiella sp,) Enterobacter,
salmonella shigella, Yersinia, dan P.carinii.

D. Mekanisme Pertahanan Bakteri Terhadap Bakteri


Resistensi dapat diartikan sebaga tidak terhambatnya pertumbuhan
mikroorganisme, dalam hal ini bakteri dengan pemberian antibiotik secara
sistemik pada kadar hambat minimalnya atau dosis normal yang seharusnya
(Hamilton-Miller,2002), sedangkan multiple drugsresistancediartikan sebagai
resistensi terhadap dua atau lebih obat maupun klasifikasi obat(Walsh,2003).
Jadi, resistensi antibiotik adalah kemampuan mikroorganisme untuk
bertahan terhadap efek antibiotik, diantaranya dengan memperoleh gen
resisten melalui mutasi atau perubahan/ pertukaran plasmid (transfer gen)
antar spesies bakteri yang sama, contohnya methiciline-resistant

18
Staphylococcus aureus (MRSA) atau vancomycin-resistant Staphylococcus
aureus(VRSA) (Tripathi,2003).

19
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Antibiotik merupakan substansi yang dihasilkan oleh suatu organisme
dan dapat menghambat pertumbuhan organisme lain.
Penggunaan antibiotik khususnya berkaitan dengan pengobatan
penyakit infeksi, antibiotika bekerja seperti pestisida dengan menekan atau
memutus satu mata rantai metabolisme, hanya saja targetnya adalah bakteri.
Antibiotik memiliki cara kerja sebagai bakterisidal (membunuh bakteri
secara langsung) atau bakteriostatik (menghambat pertumbuhan bakteri). Pada
kondisi bakteriostasis, mekanisme pertahanan tubuh inang seperti fagositosis
dan produksi antibodi biasanya akan merusak mikroorganisme.
Ada beberapa cara kerja antibiotik terhadap bakteri sebagai targetnya,
yaitu menghambat sintesis dinding sel, menghambat sintesis protein, merusak
membran plasma, menghambat sintesis asam nukleat, dan menghambat
sintesis metabolit esensial.
Antibiotik dapat terjadi berdasarkan salah satu atau lebih
mekanisme,diantaranya mikroba mensintesis suatu enzim inaktivator atau
penghancur antibiotika, mikroba mengubahpermeabilitasnya terhadap obat,
mikroba mengembangkan suatu perubahan struktur sasaran bagi obat,
mikroba mengembangkan perubahan jalur metabolik yang langsung dihambat
oleh obat, dan mikroba mengembangkan perubahan enzim yang tetap dapat
melakukan fungsi metabolismenya tetapi lebih sedikit

20
DAFTAR PUSTAKA

Anonimus,2013.mekanisme kerja antibiotik.http://ilmuantibiotik.blogspot.com/2013/


05/mekanisme-kerja-antibiotik-dan.html
Anonimus,2013.antibiotik.http://www.fkuisu.ac.id/2081/antibiotik/
Mekanisme Pertahanan Bakteri Patogenterhadap Antibiotik
Rina Hidayati Pratiwi

21