Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PENDAHULUAN COR (CEDERA OTAK RINGAN)

DI IGD RSU DR. MOEWARDI

I. Konsep Teori
A. Definisi
Trauma atatu cidera kepala dapat dikenal juga sebagai cidera otak adalah
gangguan fungs normal otak karea trauma baik trauma tumpul ataupun
trauma tajam (Batticaca, 2010). Cedera kepala adalah cedera yang dapat
mengakibatkan kerusakan otak akibat perdarahan dan pembengkakan otak
sebagai respon terhadap cedera dan penyebab peningkatan tekanan intra
kranial (TIK) (Brunner & Suddarth, 2010).
Cidera otak ringan merupakan suatu kondisi dimana terjadi kehilangan
fungsi neurologis sementara dan tanpa adanya kerusakan struktur
(Batticaca, 2010).

B. Klasifikasi
George Dewanto (2014) mengklasifikasikan cidera kepala akut sebagai
berikut:
1. Cedera Otak Ringan (COR)
a. GCS 13-15
b. Tidak terdapat kelainan pada CT Scan otak
c. Tidak emmerlukan tindakan operasi
d. Lama dirawat di rumah sakit < 48 jam
2. Cedera Otak Sedang (COS)
a. GCS 9-12
b. Ditemukan kelainan pada CT Scan otak
c. Memerlukan tindakan operasi untuk lesi intracranial
d. Dirawat di rumah sakit setidaknya 48 jam
3. Cedera Otak Berat (COB)
a. Nilai GCS <8
b. Memerlukan tindakan operasi untuk lesi intracranial.
c. Bila dalam waktu 48 jam setelah trauma, nilai GCS <8

C. Etiologi
Corwin (2011) mengatakan penyebab dari cedera kepala adalah kecelakaan
lalu lintas, perkelahian, jatuh dan cedera olah raga. Cedera kepala terbuka
sering disebabkan oleh peluru atau pisau.
Kecelakaan, jatuh, kecelakaan kendaraan motor atau sepeda, dan mobil.
Kecelakaan pada saat olah raga, anak dengan ketergantungan, dan dapat
terjadi pada anak yang cedera akibat kekerasan.
Cidera kepala tumpul dapat terjadi karena adanya kecelakaan dengan
kecepatan tinggi misalnya kecelakaan bemotor, kecepatan rendah biasanya
terjadi akibat jatuh dari ketinggian, dipukul dengan benda tumpul. Cidera
kepala tembus dapat disebabkan oleh peluru, tusukan.
Adanya penetrasi selaput dura menentukan apakan suatu cedera termasuh
cidera tembus ataupun cidera tumpul.

D. Manifestasi
Konkusio otak setelah cidera kepala adalah kehilangan fungsi neurologis
sementara tanpa adanya kerusakan struktural, umumnya terjadi periode
ketidaksadaran yang bersangsung beberapa detik sampai beberapa menit.
Getaran otak mungkin sangat ringan sehingga hanya manyababakan pusing
dan mata berkunang-kunang. Jika mengenai lobus frontalis pasien mungkin
menunjukkan perilaku kacau (bizare) irasional. Jika terkena lobus
temporalis, pasien akan menunjukkan amnesia temporee atau disorientasi
(Baughman & Hackley, 2010).
Pada cidera kepala ringan terdapat tanda dan gejala yang mungkin muncul,
antara lain (Muttaqin, 2012) :
1. Disfungsi neurologis sementara dan dapat pulih kembal
2. Hilang kesadaran sementara, krang lebih 10-20 menit, beberapa
literatur menyebutkan sampai 30 menit
3. Nteri kepala
4. Pusing
5. Muntah
6. Disorientasi sementara
7. Tidak ada gejala sisa

E. Pemeriksaan Penunjang
1. Radiograf tengkorak dapat mengidentifikasi lokasi fraktur atau
perdarahan atau bekuan darah yang terjadi.
2. CT Scan dan MRI dapat dengan tapat menentukan letak dan luas
cedera. CT Scan biasanya merupakan perangkat diagnostik pilihan
diruang kedaruratan walaupun hasil CT Scan mungkin normal yang
menyesatkan. MRI adalah perangkat yang leboh sensitif dan akurat,
dapat mendiagnosis cedera akson difus, namun mahal dan kurang dapat
diakses disebagian besar fasilitas (Corwin, 2011).

F. Komplikasi
Komplikasi yang muncul dari CKR yaitu dapat menyebabkan kemunduran
pada kondisi pasien karena perluasan hematoma intrakranial, edema
serebral progressif dan herniasi otak. Edema serebral adalah penyebab
paling umum dari peningkatan tekanan intrakranial pada pasien yang
mendapat cedera kepala.
Komplikasi lain yaitu defisit neurologi dan psikologi (tidak dapat mencium
bau-bauan, abnormalitas gerakan mata, afasia, defek memori dan epilepsi)
(Brunner & Suddarth, 2012).

G. Patofisiologi dan Pathway


Pada cedera kepala, kerusakan otak dapat terjadi dalam dua tahap yaitu
cedera primer dan cedera sekunder. Cedera primer merupakan cedera pada
kepala sebagai akibat langsung dari trauma, dapat disebabkan benturan
langsung kepala dengan suatu benda keras maupun oleh proses akselarasi-
deselarasi gerakan kepala. Dalam mekanisme cedera kepala dapat terjadi
peristiwa coup dan contrecoup. Cedera primer yang diakibatkan oleh
adanya benturan pada tulang tengkorak dan daerah sekitarnya disebut lesi
coup. Pada daerah yang berlawanan dengan tempat benturan akan terjadi
lesi yang disebut contrecoup (Perdosi, 2016).
Akselarasi-deselarasi terjadi karena kepala bergerak dan berhenti secara
mendadak dan kasar saat terjadi trauma. Perbedaan densitas antara tulang
tengkorak (substansi solid) dan otak (substansi semisolid) menyebabkan
tengkorak bergerak lebih cepat dari muatan intrakranialnya. Bergeraknya
isi dalam tengkorak memaksa otak membentur permukaan dalam tengkorak
pada tempat yang berlawanan dari benturan (contrecoup) (Hickey, 2012).
Cedera sekunder merupakan cedera yang terjadi akibat berbagai proses
patologis yang timbul sebagai tahap lanjutan dari kerusakan otak primer,
berupa perdarahan, edema otak, kerusakan neuron berkelanjutan, iskemia,
peningkatan tekanan intrakranial dan perubahan neurokimiawi.

Pathway
H. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan cedera otak ringan menurut Corwin (2011) sebagai
berikut:
1. Penatalaksanaan Non Medis
a. Cedera otak ringan biasanya diterapi dengan observasi dan
tirah baring.
b. Observasi tanda-tanda vital dan tingkat kesadaran.
c. Meningkatan/menaiikkan kepala tempat tidur
2. Penatalaksanaan Medis
a. Dekompresi melalui pengeboran lebang didalam otak, yang
disebut burr hole, mungkin diperlukan.
b. Antibiotik diperlukan untuk cedera kepala terbuka guna
mencegah infeksi.
c. Metode untuk menurunkan tekanan intrakranial dapat
mencakup pemberian diuretik dan obat anti inflamasi.
d. Mungkin diperlukan ligasi pembuluh darah yang pecah
melalui pembedahan ( pengeluaran benda asing dan sel yang mati ),
terutama pada cedera kepala terbuka.
e. Mungkin dibutuhkan ventilasi mekanik.

II. Konsep Asuhan Keperawatan


A. Pengkajian
1. Pengkajian Primer
a. Airway:
Cara bernafas pasien, ada sumbatan benda asing atau tidak, adanya
darah dalam saluran pernafasan atau tidak, ada/tidak cairan dalam
saluran pernafasan, ada/tidak lidah terbalik, ada/tidak
pembengkakan.
b. Breathing:
Pergerakan dada, ada bekas trauma dikepala pasien atau tidak, pola
nafas, pengunaan otot bantu pernafasan, reaksi dinding dada, posisi
trakea, auskultasi lapang paru terdengar, suara jantung tambahan,
palpasi dada, terpasang oksigen nasal
c. Circulation:
Tanda-tanda perdarahan eksternal, warna kulit tidak, elastisitas kulit,
caipllary refill time, palpasi nadi, frekuensi nadi.
d. Disability:
Tingkat kesadaran, ukuran pupil, ukuran pupil kedua mata sama
besar/tidak
e. Exposure:
Suhu pasien, Trauma ada/tidak, luka ada/tidak, lokasi, Nyeri/ tidak
2. Pengkajian Sekunder
a. Full Set of Vital Sign
Tanda – tanda vital :
1) Tekanan Darah
2) Nadi
a) Frekuensi
b) Irama
c) Kekuatan/isi

3) Respirasi
a) Frekuensi
b) Irama
c) Suhu
4) Keadaan/penampilan umum
5) Kesadaran
b. Five Intervention:
1) Pemasangan EKG/Bed Side Monitor
2) Pemasangan NGT
3) Pemasangan Folley Chateter
4) Pengambilan darah untuk cek lab/pemeriksaan radiologi
bila curiga fraktur
5) Pemasangan pulse oximetry
c. Give Comfort
d. History (SAMPLE)
1) Subjektif : Keluhan utama pasien
2) Alergi : Keluhan klien mengatakan bahwa klien
mempunyai riwayat alergi baik riwayat alergi terhadap makanan
ataupun riwayat alergi terhadap obat-obatan
3) Medikasi : obat yang dikomsumsi klien
4) past Medikal History : riwayat penyakit tertentu
5) Last Meal : terahir makan
6) Event Leading :
- Berisi Kronologi kejadian
- Lamanya gejala yang dirasakan
- Penangana yang telah dilakukan
- Gejala lain yang dirasakan
- Lokasi nyeri atau keluhan lain yang di rasakan
e. Head to Toe
1) Kepala
2) Mata
3) Hidung
4) Mulut
5) Telinga
6) Leher
7) Dada
a) Paru-paru
b) Jantung
8) Abdomen
9) Genetalia
10) Rektum
11) Ekstremitas

B. Diagnosa Keperawatan
No Diagnosa
1 Resiko ketidakefektifan perfusi jaringan otak

Faktor resiko:
1. Perubahan status mental
2. Perubahan perilaku
3. Perubahan respon motorik
4. Perubahan reaksi pupil
5. Kesulitan menelan
6. Kelemahan atau paralisis ekstremitas
7. Paralisis
8. Ketidaknormalan dalam berbicara
2 Ketidakefektifan bersihan jalan nafas nafas

Faktor berhubungan:
1. Lingkungan; merokok, menghisap asap rokok, perokok pasif
2. Obstruksi jalan napas; terdapat benda asing dijalan napas,
spasme jalan napas
3. Fisiologis; kelainan dan penyakit
Batasan karakteristik:
Subjektif
1.Dispnea
Objektif
1. Suara napas tambahan
2. Perubahan pada irama dan frekuensi pernapasan
3. Batuk tidak ada atau tidak efektif
4. Sianosis
5. Kesulitan untuk berbicara
6. Penurunan suara napas
7. Ortopnea
8. Gelisah
9. Sputum berlebihan
10. Mata terbelalak

3 Ketidakefektifan pola nafas

Faktor berhubungan:
1. Lingkungan; merokok, menghisap asap rokok, perokok pasif
2. Obstruksi jalan napas; terdapat benda asing dijalan napas,
spasme jalan napas
3. Fisiologis; kelainan dan penyakit

Batasan karakteristik:
Subjektif
1.Dispnea
Objektif
1. Suara napas tambahan
2. Perubahan pada irama dan frekuensi pernapasan
3. Batuk tidak ada atau tidak efektif
4. Sianosis
5. Kesulitan untuk berbicara
6. Penurunan suara napas
7. Ortopnea
8. Gelisah
9. Sputum berlebihan
10. Mata terbelalak

C. Intervensi Keperawatan
No Diagnosa Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
1 Ketidakefektifan NOC: perfusi jaringan: cerebral NIC: Monitor tekanan intra
perfusi jaringan kranial
otak Setelah dilakukan tindakan
selama 1 x 24 jam masalah 1. berikan informasi
Faktor resiko: teratasi dengan kriteria hasil: kepada keluarga/
9. Perubahan No Skala Aw Ak orang penting
status mental al hir lainnya
10. Per 1 TD sistolik 2. monitor status
ubahan dan diastolik neurologis
perilaku 2 Bruit
11. Per pembuluh 3. periksa pasien terkait
ubahan darah besar ada tidaknya kaku
respon 3 Hipotensi kuduk
motorik ortostatik
12. Per 4 Berkomunikas 4. bberikan antibiotik
ubahan reaksi i dengan jelas
pupil dan sesuai 5. sesuaikan kepala
13. Kes dengan usia tempat tidur untuk
ulitan serta mengoptimalkan
menelan kemampuan perfusi serebral.
14. Kel 5 Menunjukkan
emahan atau perhatian, 6. Beritahu dokter
paralisis konsentrasi untuk peningkatan
ekstremitas dan orientasi TIK yang tidak
15. Par kognitif bereaksi sesuai
alisis 6 Menunjukkan peraturan perawatan.
16. Ket memori
idaknormalan jangkan
dalam panjang dan
berbicara saat ini
7 Mengolah
informasi
8 Membuat
keputusan
yang tepat
Indikator:
1. gangguan eksterm
2. berat
3. sedang
4. ringan
5. tidak ada gangguan
2 Ketidakefektifan NOC: status pernapasan: NIC: manajemen jalan napas
bersihan jalan ventilasi
nafas nafas
Setelah dilakukan tindakan 1. posisiskan klien
Faktor selama 1x 24 jam masalah untuk
berhubungan: teratasi dengan kriteria hasil: memaksimalkan
4. Lin ventilasi
gkungan; No Skala Aw Ak
merokok, al hir 2. lakukan penyedotan
menghisap 1 Kemudahan melalui endotrakea
asap rokok, bernapas dan nasotrakea
perokok 2 Frekuensi dan
pasif irama 3. kelola nebulizer
5. Obs pernapasan ultrasonik
truksi jalan 3 Pergerakan
napas; sputum keluar 4. posisikan untuk
terdapat dari jalan napas meringankan sesak
benda 4 Pergerakan napas
asing sumbatan
keluar dari jalan 5. monitor status
dijalan
napas pernapasan dan
napas,
Indikator: oksigenasi
spasme
jalan napas 1. gangguan eksterm
6. Fisi 2. berat
ologis; 3. sedang
kelainan 4. ringan
dan 5. tidak ada gangguan
penyakit

Batasan
karakteristik:
Subjektif
1.Dispnea
Objektif
11. Sua
ra napas
tambahan
12. Per
ubahan pada
irama dan
frekuensi
pernapasan
13. Bat
uk tidak ada
atau tidak
efektif
14. Sia
nosis
15. Kes
ulitan untuk
berbicara
16. Pen
urunan suara
napas
17. Ort
opnea
18. Gel
isah
19. Spu
tum
berlebihan
20. Mat
a terbelalak

3 Ketidakefektifan NOC: status pernapasan: NIC: manajemen jalan napas


pola nafas ventilasi
1. posisiskan klien
Faktor Setelah dilakukan tindakan untuk
berhubungan: selama 1x 24 jam masalah memaksimalkan
4. Lin teratasi dengan kriteria hasil: ventilasi
gkungan;
merokok, No Skala Aw Ak 2. lakukan penyedotan
menghisap al hir melalui endotrakea
asap rokok, 1 Kemudahan dan nasotrakea
perokok bernapas
pasif 2 Frekuensi dan 3. kelola nebulizer
5. Obs irama ultrasonik
truksi jalan pernapasan
napas; 3 Pergerakan 4. posisikan untuk
terdapat sputum keluar meringankan sesak
benda dari jalan napas
asing napas
4 Pergerakan 5. monitor status
dijalan
sumbatan pernapasan dan
napas, keluar dari
spasme jalan napas oksigenasi
jalan napas Indikator:
6. Fisi 1. gangguan eksterm
ologis; 2. berat
kelainan 3. sedang
dan 4. ringan
penyakit 5. tidak ada gangguan

Batasan
karakteristik:
Subjektif
1.Dispnea
Objektif
11. Sua
ra
napas
tambah
an
12. Per
ubahan pada
irama dan
frekuensi
pernapasan
13. Bat
uk tidak ada
atau tidak
efektif
14. Sia
nosis
15. Kes
ulitan untuk
berbicara
16. Pen
urunan suara
napas
17. Ort
opnea
18. Gel
isah
19. Spu
tum
berlebihan
20. Mat
a terbelalak

4 Kerusakan NOC: intergritas jaringan: kulit NIC: perawatan luka tekan


integritas jaringan dan membran mukosa
kulit 1. monitor warna, suhu,
Setelah dilakukan tindakan udem, kelembaban
Faktor selama 1x24 jam masalah dan kondisi area
berhubungan: teratasi dengan kriteria hasil: sekitar luka
1.Cedera jaringan
2.Jaringan rusak No Skala Awa Akhi 2. lakukan pembalutan
l r dengan tepat
Batasan 1 Suhu,
karakteristik: elastisitas, 3. berikan obat-obat
1. Kerusakan hidrasi oral
pada lapisan dan
4. monitor adanya
kulit sensasi
2. Kerusakan 2 Perfusi gejala infeksi di area
pada jaringan luka
permukaan 3 Keutuhan
kulit 5. ubah posisi setiap 1-2
kulit
3. Invasi 4 Eritema jam sekali untuk
struktur tubuh kulit mencegah penekanan
sekitar
5 Luka 6. gunakan tempat tidur
berbau khusus anti dekubitus
busuk
6 Granulasi 7. monitor status nutrisi
7 Pembentu
kan 8. pastikan bahwa
jaringan pasien mendapat diet
parut tinggi kalori tinggi
8 Penyusuta protein.
n luka
Indikator:
1. gangguan eksterm
2. berat
3. sedang
4. ringan

5. tidak ada gangguan

D. Evaluasi
Evaluasi merupakan langkah terakhir dalam proses keperawatan,
dimana evaluasi adalah kegiatan yang dilakukan secara terus menerus
dengan melibatkan pasien, perawat dan anggota tim kesehatan lainnya.
Tujuan dari evaluasi ini adalah untuk menilai apakah tujuan dalam
rencana keperawatan tercapai dengan baik atau tidak dan untuk
melakukan pengkajian ulang

DAFTAR PUSTAKA

Baticaca, Fransisca B. 2010. Asuhan Keperawatan Pada Klian Dengan


Gangguan Sistem Persyarafan. Jakarta: Salemba Medika.

Bauhgman, Diane C., & Hackley. Joann C. 2010. Keperawatan Medikal Bedah,
Buku Saku Untuk Brunner Dan Suddarth. Jakarta: EGC.

Brunner & Suddarth, 2010. Buku Ajar keperawatan Medikal Bedah. Jakarta:EGC.

Corwin, J. Elzabeth. 2011. Buku Saku Patofisiologis. Edisi revisi 3. Jakarta. EGC

Dewanto, George. 2014. Panduan Praktis Diagnosis dan Tata Laksana Penyakit
Saraf. Jakarta. EGC

Muttaqin, Arif. 2012. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan
Sistem Persarafan. Jakarta: Salmeba Medika.
PERDOSSI cabang Pekan baru. 2016. Simposium trauma kranio-serebral tanggal
3 November. Pekanbaru.

Hickey JV. 2012. Craniocerebral Trauma. Dalam: The Clinical Practice of


Neurological and Neurosurgical Nursing 5th edition. Philadelphia :
lippincot William & Wilkins.

Nurarif, Amin H. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa


medis dan Nanda. Jogjakarta: MediAction.

LAPORAN PENDAHULUAN COR (CEDERA OTAK RINGAN)


DI IGD RSU DR. MOEWARDI

Disusun untuk Memenuhi Penugasan Stase Keperawatan Gadar &Kritis


Program Profesi Ners 10
Disusun Oleh :

Listya Aryanti SN182058

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


STIKES KUSUMA HUSADA SURAKARTA
2019/2020