Anda di halaman 1dari 3

Ada yang Senantiansa Menunggumu Tumbuh

Dering ponsel berbunyi, memecah kesunyian penghujung malam yang hampir pergi.
“Kamu harus menjadi seperti bunga yang tetap mekar nak, tidak layu meski diterpa angin dan
terik matahari” kalimat ibu selalu terngiang dikepalaku, dalam sebuah ruang chat hijau yang
dikirimkan kala ba’da subuh. Entahlah, bagaimana bisa ibu menuliskan kalimat bermajas itu.
Yang kutahu ibu tak pernah membaca apalagi menyukai sebuah karya sastra. Sebuah kalimat
yang sengaja ibu kirimkan untuk membesarkan jiwa buah hatinya yang kini tengah berada di
kota peraduan, tempat menuntut ilmu. Setelah semalam tadi ku utarakan keluh kesahku pada
ibu, tentang hari hari yang begitu berat membuat dadaku sesak. Tentang berbagai kejadian yang
begitu menguji kesabaran. Tentang kepercayaan diriku yang tiba tiba terjun bebas seolah tak
bersisa. Tentang aku yang tengah lelah mengejar harapan dan cita.
Seketika aku tersontak. Ahh, bagaimana bisa aku menjadi sosok yang sangat pelupa.
Aku lupa, alasan alasan mengapa harus bertahan, menjalani konsekuensi dari sebuah pilihan.
Ya, bukankah setiap orang pernah dihadapkan pada pilihan ? Kemudian pasti ada konsekuensi
dari apa apa yang telah ia putuskan.
Hidup adalah perjuangan mewujudkan harapan. Apa yang membuat seseorang memilih
bertahan dalam berbagai keadaan? Apa yang menjadikan sesorang mampu berdiri di tengah
badai yang menerpa diri? Tetap menjejakkan kaki meski disapa duri. Harapan. Adalah tujuh
huruf penuh makna yang ada di dalam benak setiap insan. Sejengkal ruh yang menjadikan
seseorang tetap memilih untuk melanjutkan kehidupan. “ Kita boleh kehilangan apa saja, asal
tidak dengan kehilangan harapan”, Dr. Anwar Harjono.
Aku mulai meyakinkan pada diri sendiri, bahwa dengan memiliki harapan kita mampu
merenda mimpi. Seperti ungkapan imam Hasan al Banna, “Kenyataan hari ini adalah mimpi
hari kemarin. Dan mimpi hari ini adalah kenyataan hari esok”. Dengan bermimpi, kita mampu
melipatgandakan energi yang menjelma menjadi sebuah semangat untuk tetap mengepakkan
sayap. Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah pernah mengatakan, “Semangat itu laksana seekor burung
yang terbang melayang cukup tinggi. Ia tak mau turun sebelum sampai pada tujuan nya.
Semakin tinggi, ia akan jauh dari hal hal yang menghalanginya. Tetapi jika ia memilih untuk
terbang rendah, maka akan lebih banyak rintangan menghampirinya”.
Tak dipungkiri memang, sesekali jalan tempat kita menuju mimpi dipenuhi dengan
berbagai rintangan. Sebatang kayu yang kuat tidak tumbuh dari proses yang mudah. Ada
terpaan angin, yang memaksa akar mencengkram lebih kuat agar batang tidak tumbang.
Semakin keras terpaan dan terjangan anginnya, semakin kokoh pula akar dan pohonnya.
Bahkan tak jarang batang kayu dipangkas, mencipta luka dan mengeluarkan getahnya. Namun
siapa yang menyangka, dari luka itu akan menumbuhkan tunas tunas baru.
Seperti intan berlian yang sejatinya ia hanyalah arang. Yang kemudian ia menerima
tekanan begitu dahsyat, terkubur sangat dalam di perut bumi, terpanggang oleh panas yang
begitu tinggi, dan melalui proses yang sangat panjang. Hingga akhirnya ia menjelma menjadi
batu yang paling kokoh, mendispersikan cahaya yang berkilauan nan berharga. Begitu pula
sejatinya perjalanan hidup, kita hanya diminta bersabar menikmati prosesnya. Menerima
takdirNya, berikhtiar atas ujian, Bahwa dengan ujian itu adalah Tarbiyah dari sang Pencipta
untuk me-naik kelas-kan hambanya.
Teruntuk jiwa yang tak pernah lepas dari genggamanNya, Jangan pernah berhenti
melangkah. Sebab meskipun kamu memutuskan berhenti, semesta ini tak akan pernah
menyetujui. Ia akan terus tetap dalam pergerakannya. Air akan tetap mengalir, angin akan tetap
berhembus, dan bumi akan tetap berputar. Teruslah melangkah. Kehidupan laksana air, jika
mengalir maka airnya bertambah jernih, Jika berhenti maka akan berbau busuk (Imam Syafi’i).
Begitu kutipan kalimat yang kerap kali diucapkan seorang dosen pada perkuliahan Fisika
Statistika.
Life must go on. Jangan memilih menjadi kunci yang tak pernah di buka, ia akan lebih
mudah serat. Jangan memilih menjadi mesin yang tak dinyalakan, ia kelak akan berkarat.
Jangan memilih menjadi patung yang diam, sebab ia akan terikikis oleh debu jalanan. Jangan
pernah memilih menjadi pipa yang kosong, karena kelak ia pasti akan tersumbat. Isilah pipa
itu dengan sesuatu yang mesti tetap mengalir, ia adalah ilmu.
Begitu banyak cita yang mesti kau raih. Menggantung di langit langit asa, mengantri
untuk kau gapai satu persatu. Wahai diriku, ada wanita yang menunggu untuk dapat menatap
wajah dengan penuh bangga. Topi toga yang bertengger di kepala, sementara tepuk tangan riuh
menyorakinya. Bukankah setiap orang memiliki perjuangan nya masing masing. Sepasang
manusia yang saling berkolaborasi, menggapai kata serasi untuk menciptakan dayungan perahu
yang satu frekuensi. Saling menguatkan, bahwa diseberang sana akan ada daratan. Bahwa apa
yang diusahakan tidak akan berujung ke sia-sia an.
Atau bahkan seorang anak muda yang masih berikhtiar mencari partner terbaik.
Perempuan yang menunggu, pun juga merupakan bentuk perjuangan. Adalah perjuangan
menahan diri dari apa apa yang belum pasti. Perjuangan membentuk diri untuk menjadi
perhiasan yang paling berharga. Layaknya mutiara, adalah buah hasil kerang yang berasal dari
sulitnya menghadapi kotoran kotoran yang berdatangan. Cairan atau enzim adalah ikhtiar sang
kerang untuk menghalau sesuatu yang tidak baik bagi dirinya. Hingga ikhtiar itu menggumpal.
Berwujud sebentuk mutiara didalam cangkang nan kokoh. Laki laki yang berjuang
mempersiapkan, menata ilmu, jiwa, pun juga finansial. Bahwa akan ada tanggung jawab besar
yang akan di alih tangankan, setelah adanya pejanjian yang amat kukuh (mitsaqan ghalidza).
Bahwa saat ini adalah saat yang paling sempurna untuk kita mewjudkannya. Mengapa
tidak nanti? Sebab “nanti” adalah kesempatan yang belum tentu ada. Saat ini adalah saat saling
sempurna untuk mewujudkan mimpi, karena tidak ada waktu yang lebih tepat dari pada saat
ini. Do it now. Sebab ada simpul yang mesti segera kau buat tersenyum. Ada peluh yang mesti
kau bayar dengan sejuta pencapaian. Ada madrasah yang mesti dibangun sejak dalam
penantian. Ada wanita yang menunggu untuk sosok yang penuh keberanian. Mohonkan
padaNya apa apa yang sedang kamu perjuangkan. Barangkali apa apa yang kamu cari sudah
berjarak yang tak jauh lagi.
Jatuh. Bangkit. Jatuh lagi. Bangun. Gagal. Bangkit lagi. Proses yang saat ini kita lalui
hanyalah obstacle sementara, yang sengaja Allah berikan sebagai tempaan diri. Tugas kita
adalah bangkit. Sebab bangkit dari kegagalan adalah sebagian dari rukum iman. Rukun Iman
yang ke berapa?
Jangan pernah merasa lelah, sebab ada yang senantiasa menunggumu tumbuh. Dia
sosok yang tetap memberikan cinta meski harus terjaga, demi meredakan tangismu karena
dahaga. Dia yang senantiasa mendoakan kebaikan untukmu, agamamu, karirmu, hingga
pendamping hidupmu. Dia yang terjaga di sepertiga malamnya, tak lain dan tak bukan adalah
namamu yang terucap dilisannya. Dia, Ibu.