Anda di halaman 1dari 5

MODUL PRAKTIK SISTEM INFORMASI PERTANAHAN

ACARA 1

ANALISIS KEBUTUHAN PENGGUNA

Capaian Pembelajaran:

 Taruna mampu mendeskripsikan kebutuhan system informasi pertanahan untuk


berbagai kepentingan.
 Taruna mampu membuat analisa kebutuhan system sederhana untuk keperluan desain
system informasi pertanahan.

Pendahuluan:

Evolusi desain system informasi spasial mulai bergerak kearah berbagi-pakai data yang
diwujudkan dalam kebijakan one map policy. Dengan semakin meluasnya era keterbukaan,
kebutuhan akses data spasial yang mudah merupakan sebuah kebutuhan mutlak dalam
mendukung pengambilan keputusan berbasis spasial dan sustainable development. Untuk itu,
diperlukan suatu desain sistem yang dapat memenuhi siklus system informasi: perencanaan,
analisis, perancangan, implementasi, pemeliharaan.

Dalam modul ini, taruna akan mempraktikkan penyusunan dokumen untuk analisis kebutuhan
pengguna dalam pembangunan system informasi. Analisis kebutuhan pengguna dilakukan agar
system informasi yang dirancang sesuai dengan kebutuhan pengguna, dan mampu menjawab
permasalahan yang dihadapi oleh pengguna.

Alat dan bahan:

1. Kertas
2. Spidol, gunting

Pelaksanaan.

1. Kelas dibagi menjadi 4 kelompok.


2. Setiap kelompok akan berperan sebagai organisasi wali data yang akan merancang
sebuah system informasi pertanahan untuk keperluan masing-masing.
3. Setiap kelompok membuat analisis kebutuhan pengguna sesuai dengan skenario yang
telah ditetapkan/disepakati.
4. Analisis kebutuhan pengguna dapat dikembangkan berdasarkan template yang telah
disediakan.
5. Setiap kelompok mempresentasikan hasil analisis masing-masing.

Catatan: mahasiswa dapat menggunakan berbagai metode diskusi untuk analisis supaya diskusi
dapat berjalan efektif.
Lampiran.

FORMULIR
ANALISIS KEBUTUHAN PENGGUNA
SISTEM INFORMASI ….

BAGIAN I – IDENTIFIKASI KEBUTUHAN

Permasalahan utama yang dihadapi : Tidak adanya data spasial yang terintegrasi antara
organisasi Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan,
Kementrian Agraria dan Tata Ruang/Badan
Pertanahan Nasional, Pemerintah Provisi/Daerah
dan Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral
berkaitan dengan Izin Usaha Pemanfaatan Hasil
Hutan Kayu dalam Hutan Alam (IUPHHK-HA)
dan izin lokasi yang lain juga hak atas tanah.Yang
mana bisa saja timbul adanya overlap antara Izin
Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu dalam
Hutan Alam (IUPHHK-HA) dengan izin lokasi
untuk perkebunan maupun untuk pertambangan.
Seperti halnya kasus yang terjadi di Kabupaten
Kutai Kartanegara di mana terjadi overlap antara
izin lokasi untuk perkebunan kelapa sawit dengan
IUPHHK-HA.

Tujuan pembangunan system : Dengan adanya sistem ini diharapkan tidak terjadi
informasi lagi overlap IUPHHK-HA dengan izin lokasi
untuk pertambangan maupun perkebunan atau
usaha lain dan juga dengan Hak Guna Usaha dan
hak lain yang dimiliki oleh masyarakat.

Siapa pengguna utama system : Pegawai Kementrian Lingkungan Hidup dan


informasi Kehutanan.

Stake holder yang terlibat (bisa lintas : 1. Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan
sektor) 2. Kementrian Agraria dan Tata Ruang/BPN
3. Pemerintah Daerah
4. Kementrian Energi dan Sumber daya Mineral

Manfaat system informasi : 1. Bisa mendeteksi jika terjadi overlap antara


IUPHHK-HA dengan perizinan yang lain dan juga
penerbitan hak atas tanah (HGU).
2. Bisa memberi informasi tentang wilayah mana yang
kiranya bisa diberikan IUPHHK-HA.

Penerima manfaat : 1. Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan


2. Kementrian Agraria dan Tata Ruang/BPN
3. Pemerintah Daerah
4. Kementrian Energi dan Sumber daya Mineral

Isu utama dalam pengembangan : Berkaitan dengan pemanfaatan lahan,


pemanfaatan hasil hutan dan juga pemanfaatan
Sumber Daya Agraria tentu harus memandang
dari segi membawa dampak kepada kesejahteraan
masyarakat. Tapi pada kenyataannya terdakang
pemodal besar lebih diutamakan dan
menyingkirkan kepentingan pihak yang lain.
Sebagian masyarakat ada yang mempunyai mata
pencaharian dari memanfaatkan hasil hutan yang
mana juga di wilayah hutan terkadang ada kawasan
hutan adat yang diperuntukan bagi masyarakat
hukum adat. Pemodal besar yang mangajukan izin
lokasi baik untuk perkebunan maupun
pertambangan terkadang tidak mengetahui jika di
tempat tersebut ternyata sudah ada izin-izin yang
lain yang sudah diberikan dan dengan kekuatan
ekonomi bisa memaksa penentu kebijakan untuk
mengeluarkan keputusan sesuai yang mereka mau.
Seperti halnya kasus di Kabupaten Kutai
Kartanegara dimana terdapat overlaping (tumpang
tindih) atas permohonan izin lokasi, karena pada
lokasi tersebut sudah pernah diterbitkan
pertimbangan teknis pertanahan oleh Kantor
Pertanahan Kabupaten Kutai Kartanegara atas
nama PT Gunung Surya dan PT Mangulai Prima
Energi untuk kebun kelapa sawit. Selain itu,
sebagian dari lokasi yang diajukan tersebut telah
dibebani Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan
Kayu dalam Hutan Alam (IUPHHK-HA) PT
Kartika Kapuas Sari. Tentu hal ini tidak boleh
terjadi lagi dan perlu juga adanya upaya preventif
supaya nantinya tidak ada kawasan hutan adat yang
di keluarkan izin untuk kepentingan komersil.

BAGIAN II – IDENTIFIKASI FUNGSI APLIKASI

Identifikasi kemampuan utama : Pada Sistem Informasi ini dibutuhkan suatu basis
system informasi yang dibutuhkan data (One Map Policy) antara berbagai stake
oleh pengguna holder terkait. Di mana dengan adanya basis data
tersebut nantinya bisa mencegah adanya overlap
terhadap pemberian perizinan maupun haknya.
Kemudian untuk untuk masing-masing pihak agar
selalu meng-update data terkait basis data yang
berkaitan dengan peta izin lokasi yang sudah
diterbitkan maupun peta hak atas tanah yang
sudah dikeluarkan.

Identifikasi apa saja yang bisa : 1. Penyebaran lokasi yang sudah diterbitkan izin
dilakukan oleh system informasi lokasi pemanfaatan hasil hutan.
2. Penyebaran lokasi yang sudah diterbitkan izin
lokasi perkebunan.
3. Penyebaran lokasi yang sudah diterbitkan izin
lokasi pertambangan.
4. Penyebaran lokasi yang sudah diterbitkan hak
atas tanah.
5. Penyebaran lokasi yang sudah ditetapkan
sebagai hutan adat.
6. Mengetahui lokasi mana yang belum ada izin
pemanfaatan, izin lokasi, hak atas tanah dan
hutan adat.
Identifikasi siapa saja yang terlibat : 1. Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan
dalam fungsi tersebut 2. Kementrian Agraria dan Tata Ruang/BPN
3. Pemerintah Daerah
4. Kementrian Energi dan Sumber daya Mineral

Identifikasi ketersediaan data (yang : 1. Peta kawasan hutan


sudah ada pada instansi yang 2. Peta pemberian izin pemanfaatan hasil hutan
bersangkutan) 3. Peta hutan adat

Identifikasi data yang dibutuhkan, : 1. Peta GeoKKP yang memuat persil hak atas
dan dari mana akan memperoleh tanah (Kementrian Agraria dan Tata
data tersebut Ruang/BPN)
2. Peta izin lokasi perkebunan (Pemerintah
Daerah)
3. Peta izin lokasi pertambangan (Kementraian
Energi dan Sumber Daya Mineral)
Identifikasi siapa yang bertanggung : Direktorat Jenderal Planologi Kehutanan dan Tata
jawab dalam pengelolaan system Lingkungan
informasi ini

BAGIAN III – KEBIJAKAN DAN PENGATURAN

Apakah saat ini sudah ada : Belum ada. Sampai saat ini terkait perizinan antar
kebijakan/pengaturan mengenai isu instansi masih menggunakan peta sendiri-sendiri
utama yang akan diselesaikan yang mana sangat riskan ada overlap wilayah
menggunakan system informasi ini? perizinan.

Apakah perlu menyusun kebijakan : Tentu saja. Dengan adanya sistem peta tunggal
baru terkait system informasi dan (One Map Policy) diharapkan bisa mencegah
isu yang akan diselesaikan? adanya overlap wilayah yang diberikan izin dan
juga bisa mendeteksi dan menghitung berapa luas
wilayah yang masih tersedia untuk melakukan
pemanfaat lahan dan dapat diajukan perizinan
komersil.