Anda di halaman 1dari 17

A.

Judul Percobaan : KOLOID


B. Tanggal Percobaan : Senin, 25 Maret 2019 Pukul 09.30 WIB
C. Selesai Percobaan : Senin, 25 Maret 2019 Pukul 12.00 WIB
D. Tujuan :
1. Mengetahui cara pembuatan koloid.
2. Mengetahui sifat-sifat koloid.
E. DASAR TEORI

Koloid adalah suatu suspensi partikel-partikel kecil yang memiliki ukuran


tertentu dalam suatu medium kontinyu. sistem koloid terdiri dari fase terdispersi
dengan ukuran tertentu dalam medium pendispersi. (Tim Kimia Dasar.2018)

Koloid adalah suatu campuran zat heterogen (dua fase) antara dua zat atau
lebih partikel-partikel zat yang berukuran koloid(fase terdispersi/yang dipecah)
tersebar secara merata didalam zat (medium pendispersi/pemecah). Ukuran
partikel koloid berkisarantara 1-100 nm. Ukuran yang dimaksud dapat
berupadiameter, Panjang,lebar, maupun tebal dari suatu partikel. Keadaan
koloid merupakan suatu keadaan antara suatu larutan dan suatu suspense. Bila
suatu bahan berada dalam keadaan subdifisi ini. Bahan itu memperagakan sifat-
sifat menarik dan penting yang tidak merupakan ciri dari bahan dalam agregat
yang lebih besar. (Keenan. 1992)

Partikel-partikel dalam suatu koloid terlalu kecil untuk dilihat dengan mata
atau dengan mikroskop biasa. Walaupun demikian, partikel ini dapat
mempengaruhi cahaya tampak, ukuran partikelnya cocok untuk menyebabkan
cahaya tersebar dengan sudut-sudut yang besar. Bila konsentrasi koloidnya
besar, penyebaran cahayanya ini akan menyebabkan larutan koloid kelihatan
jenuh. Jadi, cahayanya ini akan menyebabkan larutan koloid kelihatan jenuh.
Sehingga cahaya tak diteruskan. Contohnya susu. Sinar yang dating pada susu
disebarkan oleh partikel-partikel koloid. kemudian susu diadsorpsi. Sehingga,
tak diteruskan. Bila konsentrasi lebih kecil, dispersi koloidnya kelihatan seperti
awan dan bila diencerkan lagi bisa lebih terang(transparan) misalnya saja
larutan kanji yang encer akan terlihat terang. (Syukri.1999)

Campuran koloid mengandung partikel-partikel yang ukurannya brada di


antara partikel zat terlarut dalam larutan murni dan campuran heterogen
(Petrucci.1987)

Ciri penting dari partikel koloid adalahtingginya nisbah antara luas


permukaan dengan volumenya. Telah diketahui bahwa atom, ion, atau molekul
pada permukaan zat agak berbeda dengan di bagian dalamnya mempunyai
gaya-gaya yang berbeda dalam spesies di bagian dalam. Untuk bahan biasa
perbandingan atom, ion, atau molekul pada permukaan sangat kecil
dibandingkan di bagian dalam. Sehingga, gejala istimewa yang terdapat di
permukaan tidak menonjol. (Petrucci.1987)

Baik zat terdispersi maupun pendispersi dapat berbentuk gas, caian, ataupun
padatan(kecuali keduanya berbentuk gas). Berikut adalah jenis-jenis koloid:

1. Sol (fase terdispersi padat)


a. Sol padat adalah sol dalam medium pendispersi padat.
Contoh: paduan logam, gelas warna, intan hitam.
b. Sol cair adalah sol dalam medium pendispersi cair.
Contoh: cat, tinta, tepung dalam air.
c. Sol gas adalah sol dalam medium pendispersi gas.
Contoh: debu di udara, asap pembakaran.
2. Emulsi(Fase terdispersi cair)
a. Emulsi padat adalah emulsi dalam medim pendispersi padat.
Contoh: jelly, keju, mentega, dan nasi.
b. Emulsi cair adalah emulsi dalam medium pendispersi cair.
Contoh: susu, mayonaise
c. Emulsi gas adalah emulsi dalam medium pendispersi gas..
Contoh: hairspray, obat nyamuk semprot.
3. Buih (fase terdispersi gas)
a. Buih padat adalah buih dalam medium pendispersi padat.
Contoh: batu apung, kerupuk, marshmallow
b. Buih cair adalah buih dalam medium pendispersi cair.
Contoh: putih telur yang dikocok, busa sabun.

(Brady.2000)

Sifat-sifat koloid antara lain adalah sebagai berikut:

1. Efek Tyndall
Untuk melakukan apakah suatu campuran merupakan larutan sejati
atau koloid. Sering digunsksn metode efektyndall jika cahaya melewati
larutan sejati. Pengamat yang melihatnya dari arah tegak lurusterhadap sinar
tidak melihat cahaya. Tetapi dalam suspensi koloid cahayanya dibaurkan ke
segala arah dan dapat dilihat dengan mudah yang dikelan dengan efek
tyndall. Contoh lain mengenai pembauran ialah oleh partikel debu dalam
cahaya dari proyektor film dalam ruang gelap. (Petrucci.1987)
2. Gerak Brown
Partikel-partikel koloid hanya dapat bergerak dengan sedikit, tetapi
karena adanya tumbukan dengan molekul-molekul fasa pendispersinya
gerakannya akan berbentuk zig-zag yang disebut dengan gerak brown.
(Petrucci.1987)
3. Adsorbsi
Adsorbsi adalah peristiwa dimana suatu zat menempel pada
permukaan zat lain, seperti ion H+ dan OH- dari medium pendispersi.
Adsorpsi ini merupakan peristiwa dimana partikel koloid menyerap partikel
bermuatan dari fase pendispersinya. Sehingga partikel koloid menjadi
bermuatan. Jnenis muatannya tergantung pada jenis partikel bermuatan
yang diserap apakah kation atau anion.sifat adsorbs koloid digunakan dalam
berbagai proses: penjernihan air, penghilang bau badan, penyembuh sakit
perut.
4. Koagulasi
Koagulasi adalah peristiwa pengendapan atau penggumpalan
koloid. Koloid distabilkan oleh muatannya jika muatannya dilucuti atau
dihilangkan maka kestabilan akan berkurang dan terjadi penggumpalan.
Dengan adanya koagulasi, zat terdispersi tidak lagi membentuk koloid.
Koagulasi terjadi karena pemanasan, penambahan elektrolit dan
pencampuran dua koloid yang berbeda muatan.
5. Elekroforesis
Sistem koloid bersifat stabil. Hal ini disebabkan adanya muatan
listrik pada permukaan partikel koloid yang berasal dari zat asing yang
teradsorbsi di permukaan koloid. Untuk membuktikan bahwa partikel
koloid bermuatan listrik, dapat dilakukan dengan proses atau sejak
elektroforesis, berupa pergerakan partikel atau zatyang bermuatan listrik
pada kondisi pH tertentu ke arah kutub listrik yang berlawanan.

Penetralan partikel koloid dapat dilakukan dengan tiga cara:

1. Penambahan koloid lain dengan muatan yang berlawanan


2. Penambahan elektrolit
3. Pendidihan

F. ALAT DAN BAHAN


Alat :
No. Nama Alat Jumlah
1. Gelas Kimia 100 mL 1
2. Mortar dan alu 1
3. Tabung reaksi 3
4. Rak tabung reaksi 1
5. Sendok 1
6. Spatula 1
7. Corong 1
8. Pembakar spiritus 1
9. Pipet tetes 5
10. Kertas saring 1
11. Penjepit kayu 1
12. Kertas label 4

Bahan :
No. Nama Bahan Jumlah
1. Aquades 30 mL
2. Amilum (tepung kanji) 2 sendok
3. Larutan Iod 2 tetes
4. FeCl3 jenuh Secukupnya
5. Larutan Benzena 1 mL
6. Na-Oleat 1 mL
7. Gula Pasir 1 sendok
8. Norit ½ sendok

G. ALUR PERCOBAAN
1. Pembuatan Koloid Fe(OH)3

10 mL Aquades

- Dimasukkan ke dalam gelas kimia


- Dipanaskan hingga mendidih
- Ditambah setetes demi setetes larutan
FeCl3 (dihitung tetesannya)
- Diaduk sampai warna berubah
menjadi warna merah kecoklatan

Hasil

Fe(OH)3(aq)+ H2O(aq) → Fe(OH)3(aq) + HCl (aq)

2. Dispersi
Satu Sendok Amilum

− Digerus dalam mortar


− Dimasukkan ke dalam 10 mL
− Dimasukkan ke dalam 10 mL
aquades
aquades
− Diaduk dan disaring
− Diaduk dan disaring

Filtrat A Filtrat B
Filtrat B

− Ditambahkan larutan Iod 2


tetes
− Dibandingkan sebelum dan
sesudah ditetesi larutan Iod

Hasil
Reaksi :

1.) C6H10O5(s) + H2O(l) → C6H10O5 (aq)


2.) C6H10O5 (aq) + I2(l) →C6H10O4I + I2O
3. Emulsi

1 mL Benzena

− Dimasukan ke dalam tabung reaksi


− Ditambahkan 2 mL aquades
− Dikocok dan diletakkan pada rak tabung reaksi

Larutan Terpisah

− Ditambahkan 15 tetes Na-oleat


− Dikocok dan ditunggu 10 – 15 menit

Hasil
4. Adsorbsi
½ Sendok Gula Pasir

− Dimasukkan ke dalam tabung reaksi


− Dilarutkan dalam 10 mL aquades
− Ditambahkan ½ sendok norit yang sudah digerus
− Diaduk dan diletakan tabung reaksi ke dalam gelas kimia yang berisi
air mendidih
− Dikoocok menggunakan penjepit selama 10 menit
− Disaring menggunakan kertas saring

Hasil Pengamatan

C12H22O11(s) + H2O(l) → 2C6H12O6(aq)


H. HASIL PENGAMATAN

No. Hasil Pengamatan


Prosedur Percobaan Dugaan/Reaksi Kesimpulan
Perc Sebelum Sesudah
1 Pembuatan Koloid Fe(OH)3 −Aquades tak −FeCl3 10 tetes + Fe(OH)3(aq)+ H2O(aq) → Berdasarkan percobaan
berwarna aquades panas Fe(OH)3(aq) + HCl (aq) pembuatan koloid oleh
10 mL Aquades berwujud cair menghasilkan −Larutan FeCl3 diubah FeCl3 menggunakan
- Dimasukkan ke dalam gelas −FeCl3 berwarna larutan berwarna menjadi koloid teknik kondensasi melalui
kimia jingga berwujud merah kecoklatan menggunakan teknik reaksi hidrolisis
- Dipanaskan hingga mendidih cair dan berwujud cair kondensasi yaitu
hidrolisis.
- Ditambah setetes demi setetes
larutan FeCl3 (dihitung −Aquades yang mendidih
tetesannya) ditambahkan dengan
- Diaduk sampai warna berubah FeCl3 menghasilkan
menjadi warna merah kecoklatan larutan berwarna merah
kecoklatan
Hasil (Hutagalung, 2012)
2 −Aquades tak −Filtrat B = 1.) C6H10O5(s) + H2O(l) → Berdasarkan percobaan
Satu Sendok Amilum berwarna putih
berwarna C6H10O5 (aq) pembuatan koloid dengan
− Digerus dalam berwujud cair keruh berwujud cara disperse dapat
− Dimasukkan larutan 2.) C6H10O5 (aq) + I2(l) →
mortar −Amilum dibuktikan dengan cara
ke dalam 10 −Residu B
C6H10O4I + I2O
mL aquades − Dimasukkan ke
berwarna putih berwarna putih+ penggerusan dari partikel
dalam 10 mL berwujud −Filtrat A −Filtrat B lebih keruh besar menjadi partikel
− Diaduk dan
aquades serbuk berwarna putih kecil.
disaring disbanding filtrate A
− Diaduk dan −Iod berwarna keruh
disaring kuning+ −Residu A −Fiiltrat B tanpa ditetesi iod
berwujud cair berwarna putih+
berwarna keruh
−Filtrat B + Iod
Filtrat Filtrat berwarna ungu
A B berwujud cair
−Filtrat B ditetesi larutan
Filtrat B Iod berwarna biru
kehitaman
− Ditambahkan larutan Iod 2
tetes (Hutagalung, 2012)
− Dibandingkan sebelum dan
sesudah ditetesi larutan Iod

Hasil

3 −Benzena tak −Benzena + −Benzena tidak menyatu Berdasarkan percobaan


1 mL berwarna aquades larutan dengan aquades pembuatan koloid dengan
Benzena berwujud cair terpisah tak −Benzena menyatu dengan cara emulsi yaitu system
−Aquades tak berwarna Na-oleat karena sama
koloid dari zat cair yang
−Dimasukan ke dalam tabung berwarna berwujud cair sama senyawa polar
berwujud cair −Benzena + −Benzena dan Na-oleat terdispersi oleh zat cair
reaksi
−Na-oleat tak aquades+ Na- tidak menyatu dengan lain tetapi tidak saling
−Ditambahkan 2 mL aquades
berwarna oleat larutan aquades karena massa melarutkan yang terbukti
−Dikocok dan diletakkan pada
berwujud cair terpisah berwujud jenisnya lebih besar dengan larutan menjadi
rak tabung reaksi
cair tak berwarna daripada massa jenis terpisah
aquades
Larutan Terpisah
(Hutagalung, 2012)
− Ditambahkan 15 tetes Na-
oleat
− Dikocok dan ditunggu 10 –
15 menit

Hasil
4 −Gula berwujud −Gula pasir + C12H22O11(s) + H2O(l) → Berdasarkan percobaan,
½ Sendok kristal putih aquades menjadi 2C6H12O6(aq) pembuatan koloid dengan
Gula Pasir −Aquades larutan gula −Gula pasir + aquades + salah satu sifat koloid
berwujud cair berwujud cair tak norit jika dicampur
yaitu adsorbs meruapakn
tak berwarna berwarna mengahasilkan filtrate
− Dimasukkan ke dalam tabung −Norit berwarna −Gula pasir + penyerapan yang terjadi
tidak berwarna
reaksi hitam berwujud aquades + norit = pada permukaannya saja
− Dilarutkan dalam 10 mL serbuk tak berwarna (Hutagalung, 2012) dan menghasilkan filtrate
aquades berwujud cair dan tidak berwarna
terdapat endapan
− Ditambahkan ½ sendok norit
hitam
yang sudah digerus −Setelah
− Diaduk dan diletakan tabung dipanaskan, filtrat
reaksi ke dalam gelas kimia tak berwarna
yang berisi air mendidih berwujud cair.
− Dikoocok menggunakan Residu berwarna
penjepit selama 10 menit hitam
− Disaring menggunakan kertas
saring

Hasil
Pengamatan
I. PEMBAHASAN

Percobaan 1

Pada percobaan ini 10 ml aquades yang berwujud cair dan tak berwarna
dimasukkan ke dalam gelas kimia lalu dipanaskan sampai mendidih. Fungsi
mendidihkan aquades adalah untuk memercepat kondensasi. Selanjutnya
ditambahkan 10 tetes larutan FeCl3 jenuh yang berwarna jingga dan berwujud
cair sambil diaduk sampai muncul larutan yang warnanya merah kecoklatan.
Jenis koloid yang terbentuk adalah jenis koloid sol cair yang koloid Fe(OH)3.
Zat terdispersi percobaan ini adalah zat padat (FeCl3) dan zat pendispersinya
adalah zat cair (aquades). Berdasarkan percobaan pembuaan koloid oleh FeCl3
menggunakan teknik kondensasi melalui reaksi hidrolisis yaitu penguraian
H2O menjadi H+ dan OH- kemudian OH- berikatan dengan Fe3+ membentuk
Fe(OH)3. Kondensasi yaitu mengubah partikel kecil (FeCl3) menjadi partikel
koloid berupa Fe(OH)3. Endapan merah kecoklatan Fe(OH)3 memiliki fasa
solid dan akan larut dalam asam (Svehla, 1985).

FeCl3(aq) + 3H2O(l) → Fe(OH)3(koloid) + 3HCl(aq)

Percobaan 2

Percobaan ini satu sendok amilum yang berwujud serbuk dan berwarna putih
dimasukkan ke dalam 10 ml aquades yang tak berwarna dan berwujud cair di
gelas kimia lalu diaduk dan disaring sehingga menghasilkan filtrate A yang
berwarna putih keruh dan berwujud cair sera residu berwarna putih. Satu
sendok amilum yang berwujud serbuk dan berwarna putih digerus dalam
mortar kemudian dimasukkan ke dalam 10 ml aquades yang tak berwarna dan
berwujud cair di dalam gelas kimia lalu diaduk dan disaring sehingga akan
menghasilkan filtrate B yang berwujud cair dan berwarna putih keruh+.
Selajutnya filtrat A dan filtrate B dibandingkan. Filtrate A lebih keruh daripada
filtrate B. Hal ini tidak sesuai dengan teori seharusnya filtrate B lebih keruh
daripada filtrate A karena pada filtrate B amilum digerus terlebih dahulu
sehingga partikelnya akan lebih kecil yang mana akan lebih mudah untuk
melewati kertas saring. Lalu filtrat B dibagi ke dalam 2 tabung reaksi, tabung
reaksi pertama berisi filtrate B dan tabung reaksi kedua berisi filtrate B yang
ditambahkan iod 2 tetes. Fungsi penambahan iod adalah untuk mendeteksi
adanya amilum. Pada filtrate B yang ditambahkan iod berubah warna menjadi
biru kehitaman dan berwujud cair, hal ini menunjukkan filtrate B tersebut
terdapat kandungan amilum. Percobaan ini zat yang terdispersi adalah zat padat
(amilum) dan zat yang pendispersi adalah zat cair (aquades). Koloid yang
terbentuk adalah jenis koloid sol cair. Berdasarkan percobaan ini pembuatan
koloid dengan cara dispersi dapat dibuktikan dari cara penggerusan amilum
untuk mengubah partikel besar menjadi partikel kecil.
Percobaan 3

Pada percobaan ini 1 ml benzena yang tak berwarna dan berwujud cair
dimasukkan ke dalam tabung reaksi kemudian ditambahkan 2 ml aquades yang
tak berwarna dan berwujud cair lalu dikocok dan diletakkan di rak tabung
reaksi. Setelah larutan terpisah ditambahkan 15 tetes Na-oleat yang tak
berwarna dan berwujud cair kemudian dikocok dan ditunggu 10-15 menit.
Setelah penambahan benzena larutan terpisah menjadi 2 lapisan dan ketika
ditambahkan Na-oleat larutan tetap terpisah menjadi 2 lapisan. Benzene tidak
menyatu dengan aquades karena benzene merupakan senyawa nonpolar
sedangkan aquades merupakan senyawa polar tetapi benzene dapat menyatu
dengan Na-oleat karena keduanya merupakan senyawa nonpolar. Fungsi Na-
oleat pada percobaan ini adalah sebagai emulgator. Emulgator haruslah
semipolar yaitu terdapat gugus polar dan gugus nonpolar jadi penggunaan Na-
oleat sebagai emolgator kurang tepat karena Na-oleat bersifat nonpolar
sehingga air dan minyak tidak menyatu. Seharusnya menggunakan sabun
sebagai emulgator karena sabun terbuat dari gliserol yang bersifat nonpolar dan
NaOH atau KOH yang bersifat polar. Jadi ketika minyak dan air ditambahkan
dengan sabun maka minyak dan air dapat menyatu. Pada percobaan ini zat yang
terdispersi adalah zat cair (benzene) dan zat pendispersi adalah zat cair
(aquades). Berdasarkan percobaan ini pembuatan koloid dengan cara emulsi
yaitu system koloid dari zat cair yang terdispersi oleh zat cair yang lan tetapi
tidak saling melarutkan. Hal ini dibuktikan dengan larutan yang terpisah.

Percobaan 4

Percobaan ini setengah sendok gula yang berwujud Kristal dan berwarna putih
kekuningan dimasukkan ke tabung reaksi lalu dilarutkan ke dalam 10 ml
aquades yang tak berwarna dan berwujud cair kemudian ditambahkan setengah
sendok norit yang berwarna hitam dan berwujud serbuk yang sudah digerus,
selanjutnya diaduk dan dimasukkan ke dalam gelas kimia yang berisi air
mendidih lalu dikocok dengan penjepit selama 10 menit kemudian disaring
dengan kertas saring maka akan menghasilkan filtrate yang tak berwarna dan
berwujud cair dan residu berwarna hitam. Zat terdispersinya adalah norit dan
zat pedispersnya adalah larutan gula. Norit berfungsi sebagai adsorben karena
norit memiliki pori yang besar. Percobaan ini norit menyerap warna gula
sehingga menghasilkan filtrate yang jernih. Alasan norit digerus terlebih
dahulu adalah untuk memperluas permukaan norit. Selain itu, norit yang
dicampurkan dengan larutan gula dididihkan untuk mengaktifkan karbon
sekaligus untuk mempercepat penyerapan hal ini dikarenakan norit termasuk
karbon aktif. Berdasarkan percobaan ini, pembuatan koloid dengan salah satu
sifat koloid yaitu adsorbs merupakan penyerapan yang terjadi pada
permukaannya saja dan menghasilkan filtrate yang tak berwarna.
C12H22O11(s) + H2O(l) → 2C6H12O6(aq)

J. DISKUSI
Pada percobaan kedua tidak sesuai dengan teori karena filtrate A lebih
keruh daripada filtrate B. Hal ini dikarenakan kesalahan dari praktikan yang
kurang hati-hati dan teliti dalam melakukan penyaringan.

K. KESIMPULAN
1. Pada percobaan pertama pembuatan koloid dengan cara kondensasi yaitu
cara pembuatan koloid dari partikel larutan sejati, dengan kata lain
pembentukan agregat berukuran koloid dari partikel kecil. Cara kondensasi
yang dilakukan melalui reaksi hidrolisis yaitu penguraian H2O menjadi ion
H+ dan ion OH-.
Pada percobaan kedua pembuatan koloid dengan cara dispersi yaitu cara
pembuatan partikel koloid dari partikel yang lebih besar. Metode yang
digunakan dengan cara dispersi adalah cara mekanik yaitu zat yang akan
didispersikan dalam medium pendispersi digiling sampai ukurannya berada
pada rentang partikel koloid.
Pada percobaan ketiga pembuatan koloid dengan cara emulsi yaitu system
koloid dari zat cair yang terdispersi oleh zat cair lain tetapi tidak saling
melarutkan yang dibuktikan dengan larutan menjadi terpisah.
2. Pada percobaan keempat pembuatan koloid dengan salah satu sifat koloid
yaitu adsorbsi merupakan penyerapan yang terjadi pada permukaannya saja
dan menghasilkan filtrat yang tak berwarna.

L. DAFTAR PUSTAKA
Brady, James E. 2000.Kimia Universitas Asas dan Struktur. Jakarta : Bina
Rupa Aksara
Keenan, Charles, dkk. 1980. Ilmu Kimia untuk Universitas. Diterjemahkan
Aloysius Hadyana Pudjaatmaka. Jakarta : Erlangga
Petrucci, Ralph H. (1985). Kimia Dasar: Prinsip dan Terapan Modern.
Jakarta: Erlangga.
Sugiarto, Bambang. 2014. Kimia Dasar. Surabaya: Fakultas MIPA.
Syukri,S.1999.Kimia Dasar. Bandung : Penerbit ITB.
Tim Kimia Dasar. 2018. Penuntun Praktikum Kimia Dasar II. Surabaya:
Jurusan Kimia FMIPA UNESA
M. LAMPIRAN

DOKUMENTASI

Percobaan Pertama

Aquades 10 mL dipanaskan dengan


spiritus hingga mendidih

Aquades panas ditambahkan 10 tetes


FeCl3 menjadi berwarna merah
kecoklatan

Percobaan 2

1 sendok amilum dimasukkan kedalam


gelas kimia yang berisi 10 mL aquades
kemudian diaduk
Tepung kanji yang sudah dilarutkan
dalam aquades disaring menggunakan
kertas saring

Setelah disaring, filtrat A menjadi


berwarna keruh+

1 sendok tepung kanji digerus dalam


mortar
Dilarutkan dalam gelas kimia yang
berisi 10 mL aquades

Setelah tercampur larutan disaring


menggunakan kertas saring

Menghasilkan filtrat B berwarna putih


keruh
Filtrat B dibagi kedalam 2 tabung
reaksi. Salah satu tabung ditambah
dengan 2 tetes larutan iod dan
dibandingkan. Filtrat B yang
ditambahkan iod menjadi berwarna
biru kehitaman

Percobaan 3
1 mL benzena dimasukkan kedalam
tabung reaksi dan ditambahkan 2 mL
aquades lalu dikocok
Larutan memisah

Larutan yang memisah antara benzena


dengan aquades ditetesi dengan
minyak kelapa dan ditunggu selama 15
menit dan diamati.
Percobaan 4
½ sendok gula dilarutkan dalam 10 mL
aquades

½ sendok norit digerus dengan mortar

Norit yang sudah digerus dimasukkan


ke dalam larutan gula
Larutan gula yang telah dicampur
dengan norit dimasukkan ke dalam
gelas kimia yang berisi aquades
mendidih selama 10 menit.

Kemudian disaring dengan kertas


saring dan menghasilkan larutan tak
berwarna