Anda di halaman 1dari 13

Jurnal

Pengaruh Faktor Genetik dan Faktor Diet terhadap

Perkembangan Katarak Nuklear

Abstrak

Tujuan: Untuk menentukan sifat herediter dari katarak nuklear dan untuk mengetahui
efek dari diet mikronutrient pada perkembangan katarak nuklear.
Participants: Secara Cross-sectional pada penderita katarak nuklear dengan
mengukur diet dari 2054 kembar berkulit putih dari TwinsUK cohort. Kemudian fase Follow-up
katarak diukur dari 324 peserta kembar (151 monozygotic dan 173 dizygotic).
Metode: Katarak nuklear diukur dengan menggunakan pengukuran secara kuantitatif
dari pengukuran nuclear density obtained dengan Scheimpflug images. Data diet diperoleh
dari EPIC food frequency questionaires. Sifat herediter diukur dengan maximum likehood
structural equation twin modeling. Hubungan antara perubahan katarak nuklear dan
mikronutrien diteliti dengan linear and multinominal regression analysis. Rata-rata interval
pengukuran antar baseline dan follow up adalah 9,4 tahun.
Main Outcome Measures: Perkembangan dari Katarak Nuklear

Latar Belakang
Aged-related cataract merupakan penyebab utama kebutaan di dunia, terjadi
pada ±20 juta orang, terutama di sub-Sahara Afrika. Prevalensinya meningkat
2,9% kelompok usia 43-54 tahun dan sekitar 40% pada usia >75 tahun. Pada usia
lanjut, katarak merupakan masalah kesehatan yang serius dan masalah sosial
ekonomi di negara berkembang.
Salah satu jenis aged-related cataract adalah katarak nuklear, merupakan
katarak yang paling umum terjadi. Selain usia, faktor lain yang berhubungan dengan
katarak nuklear antara lain adalah merokok, stres oksidatif, dan asupan diet
antioksidan. Penelitian mengenai efek dari diet terhadap katarak nuklear bervariasi,
salah satunya penelitian pengaruh dari suplemen vitamin C terhadap katarak nuklear,
penelitian-penelitian yang telah dilakukan memberikan hasil yang berbeda-beda.

1
Beberapa penelitian menemukan efek protektif dari vitamin C , tetapi penelitian lainnya
tidak menemukan adanya efek protektif maupun efek lainnya dari vitamin C terhadap
katarak. Beberapa uji klinis juga menunjukan bahwa pemberian suplemen
vitamin C dan vitamin E dengan atau tanpa kombinasi dengan vitamin lainnya tidak
meberikan efek pada katarak nuklear. Sementara untuk vitamin A karena memiliki
kandungan lutein dan zeaxanthin,dikaitkan dengan penurunan risiko katarak nuklir,
namun, sebagian besar uji klinis tidak menemukan efek dari suplemen vitamin
tersebut. Sedangkan untuk penelitian pengaruh mineral dalam pembentukan katarak
jarang ditemukan.
Faktor epidemiologi dan faktor genetik juga berperan dalam
pembentukan katarak. Penelitian sebelumnya melaporkan bahwa faktor genetik
berpengaruh 48% dari varians cross-sectional untuk aged-related cataract. Dalam
meta-analisis genome baru-baru ini, varian di 2 gen, CRYAA dan KCNAB1, ditemukan
berkaitan dengan katarak nuklear pada populasi Asia, tapi tidak ditemukan pengaruh
populasi asli Eropa. Sedangkan untuk faktor epidemologi, sedikit yang diketahui
mengenai pengaruhnya terhadap aged-related cataract. Oleh karena itu, untuk
menentukan pengaruh genetik pada perkembangan katarak nuklear penelitian ini
menggunakan populasi orang kembar, serta penelitian mengenai bagaimana
pengaruh asupan mikronutrien dan suplemen pada katarak nuklear dalam kurun
waktu lebih dari satu dekade (10 tahun).

Metode
Subjek Penelitian
Penelitian katarak nuklear dilakukan pada 2.515 perempuan kulit putih kembar
(usia rata-rata, 62,3 tahun, range: 50,1 – 83,1 tahun), populasi diperoleh dari
TwinsUKcohort, 2054 dari mereka telah mengisi food frequency questionnaire (FFQ)
pada waktu dilakukan pemeriksaan mata. Waktu antara pemeriksaan mata dan FFQ
berkisar ±2 tahun. Sedangkan 461 kembar dengan data katarak tetapi tanpa
data FFQ adalah memiliki rata-rata usia 2,5 tahun lebih muda usianya.
Studi Twins UK dimulai di 1992, namun pemeriksaan pada mata hanya
dilakukan pada usia >50 tahun pada kisaran tahun 1998-1999 dan kemudian
dilanjutkan dari tahun 2006. Hal itu berarti bahwa individu (umur >50 tahun) yang

2
masuk dalam penelitian HATS adalah kelompok yang sudah menjalani pemeriksaan
mata dan yang mengalami perkembangan katarak nuklear yaitu hanya individu tahun
1998-1999.
Waktu rata-rata antara waktu pertama (baseline penelitian) dan kedua (follow
up) adalah 9,4 tahun (kisaran, 7-12 tahun). Hasil data follow up menunjukkan jumlah
yang lebih kecil dikarenakan penelitian HATS tidak secara spesifik memfollow-up data
dari pasien katarak dan memiliki kriteria seleksi yang berbeda.
Selama masa perkembangan katarak terdapat beberapa alasan sehingga
terjadi pengurangan data antara lain: meninggal (N=52), mengundurkan diri (N=169),
tidak dapat dihubungi (N=30), menolak lebih lanjut phenotyping (N=82), operasi
katarak (N=11) dan menolak test ophthalmic (N=344).
Data akhir perkembangan katarak dikumpulkan dari 324 kembar (151
monozigot [MZ] dan 173 dizigot [DZ]) dengan usia rata-rata 69,8 ±5,4 tahun (kisaran,
58.3-83.6 tahun) bagian dari penelitian Healthy Ageing in Twins (HATS) antara tahun
2006 - 2010.

Figure 1. Consort diagram of the study showing the number of individuals who participated in the different parts of the study and
reasons for no participation at follow-up. FFQ ¼ food frequency questionnaire; HATS ¼ Healthy Ageing in Twins

3
Phenotyping
Nuclear Catract Score
Scheimpflug camera digunakan untuk digital black & white lensa photographs
dan kamera jenis ini juga digunakan untuk mengukur baseline dan follow up. Katarak
nuklear diukur secara kuantitatif dengan nuclear dip score (NDS). Sedangkan
perkembangan katarak nuklear ΔNDS= NDS at follow up- NDS at baseline, NDS dan
ΔNDS tidak berdistribusi normal, sehingga sebelum dianalisis ditransformasikan
dengan natural logarithm.

Nutrient Intake
Intake dari mikronutrient ( vitamin & mineral) dan suplemen lainnya diperkirakan
dengan menggunakan FFQ. Kuisioner yang digunakan dengan frekuensi rata-rata
dari asupan 131 makanan dan suplemen selama periode 1 tahun. Asupan nutrisi
dikalkulasikan dengan menggunakan data nutrisi yang ditetapkan, dan variabel dari
diet untuk asupan kalori, satuannya adalah mg/ µg setiap nutrient per orang per hari.
Mikronutriens yang dianalisis antara lain: sodium, potassium, calcium,
magnesium, phosphorus, iron, copper, zinc, chloride, manganese, iodene, retinol,
carotene, vitamin D, vitamin E, thiamine, riboflavin, niacinm trypthopan, vitamin B6,
vitamin B12, folate, pantothenate, biotin, and vitamin C.

Hasil
Cross sectional data dari 2054 wanita kembar berkulit putih (827 MZ san 916
DZ),dan follow up dari 324 (151 MZ dan 173 DZ) menunjukkan hasil sifat herediter
dari katarak nuklear sebesar 35%.
Untuk diet vitamin C memberikan efek proktektif baik terhadap katarak nuklear
dan perkembangan katarak nuklear, sedangkan manganese dan intake suplemen
mikronutrient memberikan efek protektif hanya terhadap keadaan awal katarak nuklear
saja.

4
Diskusi
Anatomi Lensa
Lensa adalah struktur bikonveks yang transparan yang dibungkus oleh capsula
transparan. Lensa terletak di belakang iris dan di depan corpus vitreus, serta dikelilingi
oleh processus siliaris.
Lensa terdiri atas (1) capsula lentis (2)ephithelium cuboid (3) fibrae lentis.
Capsula lentis dalam keadaan tegang, menyebabkan lensa berada tetap dalam
keadaaan tegang, menyebabkan lensa berada tetap dalam bentuk bulat dan bukan
berbentuk discus. Tarikan dari serabu-serabut ligamentum suspensorium yang
tersusun radial cenderung memipihkan lensa yang elastis ini, sehingga mata dapat
difokuskan pada objek-objek yang jauh. Tidak ada serat nyeri, pembuluh darah, atau
saraf pada lensa.

Histologi Lensa
Lensa mata adalah struktur transparan bikonveks yang ditahan ditempatnya
oleh suatu sistem serabut sirkular, yaitu zonula yang terbentang antara lensa dan
suatu penebalan lapisan tengah, yaitu corpus siliaris dan pada bagian posteriornya
dengan corpus vitreous. Lapisan lensa:
1.Kapsul lensa : lensa dibungkus suatu simpai tebal (10-20µm), homogen, refraktil dan
kaya akan karbohidrat, yang meliputi permukaan luar sel-sel epitel. Kapsul ini
merupakan suatu membran basal yang sangat tebal dan terutama terdiri atas kolagen
tipe IV dan glikoprotein.
2.Epitel Subskapular : terdiri atas selapis sel epitel kuboid yang hanya terdapat pada
permukaan anterior lensa. Lensa bertambah besar dan tumbuh seumur hidup dangan
terbentuknya serat lensa baru dari sel-sel yang terdapat di daerah ekuator lensa. Sel-
sel epitel ini memiliki banyak interdigitasi dengan serat-serat lensa.
3. Fibrae Lensa / Serat Lensa : tersusun memanjang dan tampak sebagai struktur tipis
san gepeng. Serat-serat ini merupakan sel-sel yang terdiferensiasi dan berasal dari
sel-sel subskapular, Serat lensa akhirnya kehilangan inti serta organel lainnya dan
menjadi sangat panjang, dan mencapai panjang 7-10 mm, lebar 8-10µm, dan tebal
2µm. Sel-sel ini berisikan sekelompok protein yang disebut kristalin. Fibrae lensa
dihasilan seumur hidup, tetapi produksinya berkurang seiring bertambahnya usia.

5
Fisiologi Lensa
Lensa terdiri dari 65% air dan 35% protein dan sedikit sekali mineral.
Kandungan kalium lebih tinggi pada lensa dibanding area tubuh lainnya. Asam
askorbat dan glutation terdapat dalam bentuk teroksidasi maupun tereduksi. Nutrisinya
berasal dari cairan intra-okuler.
Fungsi utama lensa adalah memfokuskan berkas cahaya ke retina. Untuk
memfokuskan cahaya yang datang dari jauh m. ciliaris berelaksasi, menegangkan
serat zonula dan memperkecil diameter anteroposterior lensa sampai ukuran terkecil,
dalam posisi ini daya refraksi lensa diperkecil sehingga berkas cahaya akan terfokus
pada retina. Sementara untuk cahaya yang berjarak dekat m.ciliaris berkontrasi
sehingga tegangan zonula berkurang, artinya lensa yang elastis menjadi lebih sferis
diiringi oleh peningkatan daya biasnya. Kerja sama fisiologis antara korpus siliaris,
zonula dan lensa untuk memfokuskan benda jatuh pada retina dikenal dengan
akomodasi. Hal ini berkurang seiring dengan bertambahnya usia.

Katarak
Definisi : katarak adalah kekeruhan lensa yang mengarah kepada penurunan
ketajaman visual.
Epidemologi : Berdasarkan data dari World Health Organization (WHO), katarak
merupakan kelainan mata yang menyebabkan kebutaan dan gangguan penglihatan
yang paling sering ditemukan.
Etiologi :
 Usia lanjut (di atas 60 tahun)
 Cedera mata
 Sinar ultraviolet
 Trauma listrik
 Kurang gizi, diare, malnutrisi
 Diabetes melitus
 Pemakaian kortison
 Ruda paksa
 Rokok, alkohol

6
 Sindrom down-rushing
Klasifikasi:
Klasifikasi katarak berdasarkan etiologi:
Tipe Katarak Kausa Penderita
Katarak Senil Proses Usia lanjut (60 tahun)
penuaan/degeneratif
Katarak Trauma Kerusakan lensa akibat Bekerja di tempat
trauma pada kapsul lensa berbahaya/ kecelakaan
Katarak Komplikata Penyulit penyakit khusus Pasien diabetes, asma,
sistemik menahun emfisema
Katarak Kongenital Kehamilan ibu kelainan bayi baru lahir
herediter
Katarak Toksik Pemakaian obat lama atau Pemakaian steroid tetes
bahan kimia bersifat racun mata atau perokok

Klasifikasi katarak berdasarkan stadium:


Katarak ini dibagai ke dalam 4 stadium, yaitu:
1.Insipien
Kekeruhan biasanya dimulai sebagai garis-garis, diawali dari bagian perifer korteks
yang melebar dan makin ke tengah, menyerupai ruji sebuah roda.
2.Imatur
Lensa menyerap cairan menjadi bengkak kemudian mendorong iris ke depan
mengakibatkan kamera okuli anterior menjadi dangkal. Iris shadow masih positif
karena bagian superficial lensa masih transparan,
3.Matur
Lensa kehilangan cairan menjadi kerut menyebabkan kamera okuli anterior menjadi
normal kembali.
Kekeruhan lensa sudah menyeluruh, warna seluruhnya menjadi keabu-abuan
sehingga pada pemeriksaan ditemukan iris shadow (-), fundus refleks (-).
Baik untuk melakukan operasi karena lensa dengan mudah dapat dilepas.
4.Hipermatur

7
Merupakan katarak yang telah mengalami proses degenerasi lanjut, dapat menjadi
keras, lembek dan mencair. Massa lensa yang berdegenerasi keluar dari kapsul lensa,
sehingga lensa menjadi kecil, berwarna kuning dan kering. Pada pemeriksaan terlihat
bilik mata dalam dan terlihat lipatan kapsul lensa. Kadang pengkerutan berjalan terus
sehingga hubungan dengan zonula zinii menjadi kendur. Bila proses katarak berlanjut
disertai dengan penebalan kapsul, maka korteks yang berdegenerasi dan cair tidak
dapat keluar, maka korteks akan memperlihatkan bentuk sebagai sekantong susu
disertai dengan nukleus yang terbenam didalam korteks lensa karena lebih berat,
keadaan tersebut dinamakan katarak morgagni.

Katarak Senilis, diklasifikasikan menjadi:


a.Katarak Nuklear
Merupakan katarak yang terjadi di tengah (nukleus) lensa mata, pada awal mulanya
timbul gejala adanya perubahan fokus mata terhadap cahaya. Akan tetapi katarak
jenis ini akan mengalami peningkatan dalam pembiasan cahaya dan penglihatan
masih berjalan normal ketika sedang mebaca, namun tak berlangsung lama karena
kemudian penglihatan akan menjadi kuning dan lambat laun akan terbentuk noda pitih
pada lensa mata dan penglihatan akan semakin memburuk sehingga cahaya yang
dilihat seperti warna cokelat. Pada kondisi yang lebih parah katarak jenis ini akan sulit
membedakan warna misalnya warna biru tampak seperti warna ungu
b.Katarak kortikal : kekeruhan terbentuk pada korteks lensa
c.Katarak subkapsular : kekeruhan biasa mulai bagian belakang lensa. Penglihatan
dekat biasa lebih terganggu daripada penglihatan jauh. Katarak ini menyebabkan
silau, pandangan kabur pada kondisi cahaya terang.

Patofisiologi Katarak Senilis


Penyebab pasti hingga saat ini belum diketahui. Terjadi perubahan kimia dan
protein lensa dan agregasi menjadi protein dengan berat molekul tinggi. Agregasi
protein ini mengakibatkan fluktuasi indeks refraksi lensa dan mengurangi kejernihan
lensa. Perubahan kimia pada protein inti lensa mengakibatkan pigmentasi progresif
menjadi kuning atau kecokelatan dengan bertambahnya usia, juga penurunan
konsentrasi glutation dan kalium, peningkatan konsentrasi natrium dan kalsium serta

8
peningkatan hidrasi lensa. Faktor yang berperan pada pembentukan katarak antara
lain proses oksidasi dari radikal bebas, paparan sinar ultraviolet dan malnutrisi.

Gejala Klinis
Seorang pasien dengan katarak senilis biasanya datang dengan riwayat
kemunduran progesif dan gangguan dari penglihatan. Penyimpangan penglihatan
bervariasi, tergantung pada jenis dari katarak ketika pasien datang.
a). Penurunan visus, merupakan keluhan yang paling sering dikeluhkan pasien
dengan katarak senilis.
b). Silau, penurunan sensitivitas kontras terhadap cahaya terang lingkungan atau silau
pada siang hari hingga silau ketika endekat ke lampu pada malam hari.
c). Penderita merasa lebih enak mebaca dekat tanpa kacamata karena miopisasi,
keadaan ini disebut dengan second sight.
d). Diplopia monocular.
e). Noda, berkabut pada lapangan pandang.
f). Ukuran kaca mata sering berubah

Diagnosis
 Optotip Snellen : untuk mengetahui tajam penglihatan penderita. Pada stadium
insipiens dan imatur bisa dicoba koreksi dengan lensa kacamata yang terbaik
 Lampu senter : refleks pupil terhadap cahaya pada katarak masih normal.
Tampak kekeruhan pada lensa terutama bila pupil dilebarkan, berwarna putih
keabu-abuan yang harus deibedakan dengan refleks senill. Diperiksa proyeksi
iluminasi dari segala arah pada katarak matur untuk mengetahui fungsi retina
secara garis besar
 Oftalmoskopi : untuk pemeriksaan ini sebaiknya pupil dilebarkan. Pada stadium
insipiens dan imatur tampak kekeruhan kehitam-hitaman dengan latar belakang
jingga sedangkan pada stadium matur hanya didapatkan warna kehitaman
tanpa latar belakang jingga atau refleks findus negatif
 Slit lamp biomikroskopi : dengan alat ini dapat dievaluasi luas, tebal dan lokasi
kekeruhan lensa

9
Diagnosa Banding Katarak Senile
 Refleks senil : pada orang tua dengan lampu senter tampak warna pupil keabu-
abuan mirip katarak, tetapi pada pemeriksaan redleks fundus positif
 Katarak komplikata : katarak terjadi sebagai penyulit dari penyakit mata atau
penyakit sistemik
 Katark karena penyebab lain: obat-obatan (kortikosteroid), radiasi,rudapaksa dll
 Kekeruhan badan kaca
 Ablasi retina

Penatalaksanaan
 Katarak hanya dapat diatasi melalui prosedur operasi. Akan tetapi jika gejala
katarak tidak mengganggu, tindakan operasi tidak diperlukan. Kadang kala
cukup dengan mengganti kacamata. Sejauh ini tidak ada obat-obatan yang
dapat menjernihkan lensa yang keruh. Namun, aldose reductase inhibitor,
diketahui dapat menghambat konversi glukosa menjadi sorbitol, sudah
memperlihatkan hasil yang menjanjikan dalam pencegahan katarak gula pada
hewan. Obat anti katarak lainnya sedang diteliti termasuk diantaranya agen
yang menurunkan kadar sorbitol, aspirin, agen glutathione-raising, dan
antioksidan vitamin C dan E.
 Penatalaksanaan definitif untuk katarak senilis adalah ekstraksi lensa. Lebih
dari bertahun-tahun, tehnik bedah yang bervariasi sudah berkembang dari
metode yang kuno hingga tehnik hari ini phacoemulsifikasi. Hampir bersamaan
dengan evolusi intraocular Lens (IOL) yang digunakan, yang bervariasi dengan
lokasi, material, dan bahan implantasi. Bergantung pada integritas kapsul lensa
posterior, ada 2 tipe bedah lensa yaitu intra capsuler cataract ekstraksi (ICCE)
dan ekstra capsuler cataract ekstraksi (ECCE).

Prognosis
Dengan tehnik bedah yang mutakhir, komplikasi atau penyulit menjadi sangat
jarang. Hasil pembedahan yang baik dapat mencapai 95%.

10
Diskusi Penelitian
Penelitian ini menemukan bahwa perkembangan katarak nuklear selama
periode 10 tahun pada kelompok perempuan kembar UK dipengaruhi oleh faktor
genetik sebesar 35% dari varians. Perkiraan sifat herediter dari perkembangan
katarak ini lebih rendah dari cross-sectional sebelumnya. Selain perbedaan
perkembangan awal katarak dan respon tubuh terhadap faktor lingkungan pada waktu
dewasa,juga didorong oleh beberapa faktor seperti somatik gen mutasi yang mungkin
berpengaruh besar dalam menentukan perubahan selama proses penuaan dari pada
faktor genetik.
Penelitian ini juga mengidentifikasi bahwa vitamin C sebagai mikronutrient
berpengaruh terhadap perkembangan dari katarak nuklear. Vitamin C diketahui
memilki L-enantiomer of ascorbate. Dimana apabila konsentrasi ascorbate signifikan
akan menambah aquous humor yang akan membasahi lensa dan akan mereduksi
produk oksidasi di lensa yang akan mereduksi stress oksidative. Penelitian dari The
Blue Mountains Eye Study juga menemukan bahwa diet dan suplemen memberikan
efek turunnya insiden dari katarak nuklear selama 10 tahun, penelitian tersebut
merupakan penelitian pertama yang membuktikan bahwa diet vitamin C memberikan
efek protektif terhadap progres dari nuclear lens opacity.
Penelitian juga membuktikan bahwa diet manganese memberikan efek protektif
terhadap cross-sectional nuclear cataract independent of vitamin C. Manganese
merupakan antioksidan penting yang terdapat dalam lensa, dan diketahui bahwa
konsentrasi dari manganese pada penderita katarak lebih rendah dari keadaan
normal.Fungsi manganese adalah:

 Berikatan dengan ascorbatemanganascorbate


 Menyerap beberapa jenis vitamin (mis :vit E)
 Sebagai antioksidan
 Mengatur aktifitas yang masuk ke dalam tubuh manusia

Penelitian ini tidak dibuat untuk menjelaskan hubungan antara cataract


dengan satu jenis micronutrient dikarenakan banyak individu dari populasi penelitian
mengkonsumsi lebih dari satu jenis suplemen, diketahui bahwa hanya 10% atau
kurang individu yang mengkonsumsi single suplemen.

11
Figure 2. Black-and-white Scheimpflug lens images of a healthy lens (left) and a lens with nuclear cataract (right). The center of
the lens (lens nucleus) onthe right is much whiter than the one on the left.

Keterbatasan Penelitian
Keterbatasan dari penelitian ini adalah kelompok penelitian ini lebih
berdasarkan pada populasi kembar dibandingkan populasi umum , populasi kembar
tidak dipilih berdasarkan kriteria dan berasal dari seluruh United Kingdom serta tidak
mempunyai variasi yang signifikan dari populasi umum di United Kingdom.
Penelitian terhadap kembar ini menggunakan “asumsi penyamarataan
lingkungan” dimana derajat penyebaran lingkungan keluarga dianggap sama baik
untuk pasangan kembar.

Kesimpulan
Secara keseluruhan penelitian ini menunjukkan perkembangan dari katarak
nuklear selama periode 10 tahun dipengaruhi oleh faktor genetik dengan sifat
herediter 35%. Diet vitamin C dan manganese, sama-sama berkaitan dengan stres
oksidatif dan dari penelitian cross sectional mempengaruhi keadaan awal (baseline)
katarak nuklear. Asupan vitamin C juga secara signifikan mempengaruhi
perkembangan (follow up) dari katarak nuklear.

12
Tinjauan Pustaka

Ilyas S. (2007). Ilmu Penyakit Mata. Tajam penglihatan, kelainan refraksi dan
penglihatan warna hal 72-75. Edisi 3. Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia : Jakarta.
Junqueira, LC., 2007, Histologi Dasar: teks dan atlas. Edisi 10. Jakarta: ECG.
Patologi dan Penatalaksanaan pada Katarak senilis Edited by Said Alfin
Khalilullah Version 1, December 2010 alfinzone@gmail.com
Pedoman Diagnosis dan Terapi Bag/SMF Ilmu penyakit Mata. Edisi III. 2006.
Surabaya
Snell R.S. 2011, Anatomi Klinik Untuk Mahasiswa Kedokteran. Edisi 6.
Jakarta: ECG

13