Anda di halaman 1dari 33

LABORATORIUM FARMAKOGNOSI I

PROGRAM STUDI S1 FARMASI


UNIVERSITAS MEGAREZKY MAKASSAR
PERCOBAAN I & II
PENGENALAN SIMPLISIA DAN ALAT PRAKTIKUM, PEMBUATAN
SIMPLISIA

OLEH :

KELOMPOK III ( TIGA)

KELAS D/ 2018

INDAH LESTARI SUBAYIR 18 3145 201 132


MULIADIN MAUKUITUIN 18 3145 201 148
NURUL AZIZAH 18 3145 201 130
RISKA FAJRINA SHARI 18 3145 201 140
WIDYA IRDAYANTI M. 18 3145 201 133

ASISTEN : MULYADIN

FAKULTAS FARMASI TEKNOLOGI RUMAH SAKIT DAN INFORMATIKA


PROGRAM STUDI S1 FARMASI
UNIVERSITAS MEGAREZKY MAKASSAR
2019
BAB I

PENDAHULUAN

I. 1 Latar Belakang

Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, kini telah

banyak ditemukan alat bantu untuk menyelesaikan permasalahan. Salah satu

penemuan itu adalah Mikroskop. Mikroskop merupakan salah satu alat yang

penting dalam kegiatan biologi. Dengan menggunakan Mikroskrop kita dapat

mengamati dengan jelas benda– benda yang sangat kecil yang tidak dapat

dilihat dengan mata telanjang (kurang dari 0.1 mm), Misalnya bagian – bagian

dari sebuah sel,ketrampilan menggunakan mikroskop dapat membantu kita

mengamati dan membandingkan struktur sel hewan dan sel tumbuhan.

Mikroskop bahasa Yunani micros (kecil) dan scopein (melihat) adalah

sebuah alat untuk melihat objek yang terlalu kecil untuk dilihat dengan mata

kasar. Ilmu yang mempelajari benda kecil dengan menggunakan alat ini disebut

mikroskopi, dan kata mikroskopik berarti sangat kecil, tidak mudah terlihat

oleh mata. Dalam perkembangannya mikroskop mampu mempelajari

organisme hidup yang berukuran sangat kecil yang tidak dapat dilihat dengan

mata telanjang, sehingga mikroskop memberikan kontribusi penting dalam

penemuan mikroorganisme dan perkembangan sejarah mikrobiologi.

Tumbuhan adalah salah satu makhluk hidup yang tumbuh di bumi ini.

Ilmu tumbuhan pada saat ini telah mengalami kemajuan yang demikian pesat

sehingga bidang-bidang pengetahuan yang semula merupakan cabang-cabang

ilmu tumbuhan saja sekarang ini telah menjadi ilmu yang telah berdiri sendiri.
Pemanfaatan tanaman obat sebagai obat tradisional merupakan suatu

produk pelayanan kesehatan yang strategis karena berdampak positif terhadap

tingkat kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Tanaman obat dapat

memberikan nilai tambah apabila diolah lebih lanjut menjadi berbagai jenis

produk. Tanaman obat tersebut dapat diolah menjadi berbagai macam produk

seperti simplisia (rajangan), serbuk, minyak atsiri, ekstrak kental, ekstrak

kering, instan, sirup, permen, kapsul maupun tablet.

Simplisia merupakan bahan alami yang digunakan sebagai bahan baku

obat yang mengalami pengolahan atau baru dirajang saja, tetapi sudah

dikeringkan. Permintaan bahan baku simplisia ebagai bahan baku obat-obatan

semakin meningkat dengan bertambahnya industri jamu. Selain itu, efek

samping penggunaan tanaman obat untuk mengobati suatu penyakit lebih kecil

dibandingkan obat sintesis.

I.2 Maksud Percobaan

Mengetahui berbagai macam contoh simplisia dan mngetahui alat-alat

yang digunakan dalam praktikum serta memahami prinsip pembuatan simplisia.

I.3 Tujuan Percobaaan

I.3.1 Untuk mengetahui berbagai macam contoh simplisia dan juga

mengetahui alat-alat praktikum yang digunakan dalam praktikum

farmakognosi.

I.3.2 Untuk dapat memahami prinsip dan melakukan pembuatan simplisia


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II. 1 Teori Umum


Simplisia adalah bahan alamiah yang dipergunakan sebagai obat yang

belum mengalami pengolahan apapun juga dan kecuali dinyatakan lain,

berupa bahan yang telah dikeringkan. Simplisia dibedakan menjadi : simpisia

nabati, simplisia hewani dan simplisia pelikan (mineral).(FI Edisi III. 1979)

Perkembangan instrumen yang berkemampuan melebihi indra manusia

berjalan seiring kemajuan sains. Penemuan dan penelitian awal tenteng sel

menjadi maju berkat penciptaan mikroskop pada tahun 1590 dan peningkatan

mutu alat tersebut selama tahun 1600-an (Campbell, 2010).

Macam macam simplisia yaitu sebagai beriku : (Agoes, 2007)

1. Simplisia nabati

Simplisia nabati adalah simplisia yang dapat berupa tanaman utuh,

bagian tanaman, eksudat tanaman, atau gabungan antara ketiganya,

misalnya Datura Folium dan Piperis nigri Fructus. Eksudat tanaman adalah

isi sel yang secara spontan keluar dari tanaman atau dengan cara tertentu

sengaja dikeluarkan dari selnya. Eksudat tanaman dapat berupa zat-zat atau

bahan-bahan nabati lainnya yang dengan cara tertentu dipisahkan/diisolasi

dari tanamannya.

2. Simplisia hewani

Simplisia hewani adalah simplisia yang dapat berupa hewan utuh

atau zat-zat berguna yang dihasilkan oleh hewan dan belum berupa bahan
kimia murni, misalnya minyak ikan (Oleum iecoris asselli) dan madu (Mel

depuratum).

3. Simplisia pelikan atau mineral

Simplisia pelikan atau mineral adalah simplisia berupa bahan

pelikan atau mineral yang belum diolah atau telah diolah dengan cara

sederhana dan belum berupa bahan kimia murni, contoh serbuk seng dan

serbuktembaga.

Untuk menjamin keseragaman senyawa aktif, keamanan maupun

kegunaanya, maka simplisia harus memenuhi persyaratan minimal. Untuk

dapat memenuhi persyaratan minimal tersebut, ada beberapa faktor yang

berpengaruh antara lain bahan baku simplisia, proses pembuatan, serta cara

pengepakan dan penyimpanan (Agoes, 2007).

Pemilihan sumber tanaman sebagai bahan baku simplisia nabati

merupakan salah satu faktor yang sangat berpengaruh pada mutu simplisia,

termasuk didalamnya pemilihan bibit (untuk tumbuhan hasil budidaya) dan

pengolahan maupun jenis tanah tempat tumbuh tanaman obat (Laksana, 2010).

Proses pemanenan dan preparasi simplisia merupakan proses yang

dapat memenuhi mutu simplisia dalam berbagai artian, yaitu komposisi

senyawa kandungan, kontaminasi dan stabilitas bahan. Namun demikian,

simplisia sebagai produk olahan, fariasi senyawa kandungan dapat diperkecil,

diatur atau diajegkan. Hal ini karena penerapan (aplikasi) IPTEK pertanian

pasca panen yang terstandar (Laksana, 2010).


Tahap-tahap pembuatan simplisia secara garis besar adalah sebai

berikut: (Laksana, 2010).

1. Pengolahan bahan baku

2. Sortasi basah

3. Pencucian

4. Perajangan

5. Pengeringan

6. Sortasi kering

7. Pengepakan dan penyimpanan.

Obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan

tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (galenik), atau

campuran dari bahan tersebut yang secara turun-temurun telah digunakan

untuk pengobatan berdasarkan pengalaman (Yuliarti, Nurheti. Hal 2).

Menurut Departemen Kesehatan, pada dasarnya jamu dapat

digolongkan menjadi tiga jenis yaitu :

1. Jamu

Inilah jamu tradisional yang diwariskan oleh nenek moyang kita.

Dipasaran, kita bisa menjumpainya dalam bentuk herbal kering siap seduh

atau siap rebus, juga dalam bentuk segar rebusan (jamu godhok) sebagaimana
dijajakan para penjual jamu gendong. Demi alasan kepraktisan, kini jamul

juga diproduksi dalam bentuk kapsul dan pil siap minum.

Pada umumnya, jamu dalam kelompok ini diracik berdasarkan resep

peninggalan leluhur, yang belum diteliti secara ilmiah. Khasiat dan

keamanannya dikenal secara empiris (berdasarkan pengalaman turun-

temurun).

2. Obat Herbal Berstandar (OHT) Sedikit berbeda dengan jamu, herbal

berstandar umumnya sudah mengalami pemrosesan, misalnya berupa

ekstrak atau kapsul. Herbal yang sudah di ekstrak tersebut sudah diteliti

khasiat dan keamanannya melalui uji praklinis (terhadap hewan) di

laboratorium.

Disebut herbal berstandar karena standar kandungan bahan, proses

pembuatan ekstrak, higienis, serta uji toksisitas (untuk mengetahui ada atau

tidaknya kandungan racun dalam herbal tersebut) telah diterapkan dalam

proses pengujiannya.

3. Fitofarmaka
Fitofarmaka merupakan jamu dengan “kasta” tertinggi karena khasiat,

keamanan, serta standar proses pembuatan dan bahannya telah diuji secara

klinis. Jamu berstatus sebagai fitofarmaka juga dijual di apotek dan sering

diresepkan oleh dokter.

Mikroskop (bahasa Yunani : micros = kecil dan scopein = melihat)

adalah sebuah alat untuk melihat objek yang terlalu kecil untuk dilihat dengan

mata kasar. Ilmu yang mempelajari benda kecil dengan menggunakan alat ini

disebut mikroskopi, dan kata mikroskopik berarti sangat kecil, tidak mudah

terlihat oleh mata (campbell. 2000).

Mikroskop merupakan salah satu alat yang penting pada kegiatan

laboratorium yang memungkinkan kita dapat mengamati objek yang

mikroskopis (Oxlade, 1989).

Mikroskop pertama kali dikembangkan pada abad ke-16

menggunakan lensa sederhana untuk mengatur cahaya biasa. Pertama kali

perbesaran terbatas kira – kira 10 kali dari ukuran objek sebenarnya. Setelah

mengakami perbaikan,akhirnya perbesaran bisa mencapai 270 sampai 400

kali. Penemu sel dalam susunan mikroorganisme adalah bersamaan dengan

munculnya pemakaian mikroskop,yaitu mikroskop cahaya okuler baik


berlensa tunggal atau disebut mikroskop monokuler ataupun yang ganda atau

mikroskop Binokuler. Dapat disimpulkan bahwa penemuan alat–alat optik

yang pertama adalah sudah merupakan pangkal penemuan dari mikroskop.

Penggunaan sifat – sifat optik permukaan yang melengkung sudah dilakukan

oleh Euclid (3.000sm), Ptolemy (127-151), dan oleh Alhazan pada awal abad

ke-11,tetapi pemakaian praktis alat pembesaran optik belum dilakukan.Baru

pada abad ke-16 Leonardo da Vinci dan Maurolyco mempergunakan lensa

untuk melihat benda – benda yang kecil (Nuryadi,Ratna.2008).

Kakak beradik pembuat kaca mata bangsa Belanda yang bernama

Zachry dan Francis Jansen pada tahun 1590 menemukan pemakaian dua buah

lensa cembung dalam sebuah tabung, penemuan ini dianggap sebagai prototip

dari mikroskop. Tahun 1610 Galiteo dengan kombinasi beberapa lensa yang

dipasang dalam sebuah tabung timah untuk pertama kalinya berhasil

digunakan sebagai sebuah mikroskop sederhana. Tahun 1632 1723, Antloni

Van Lau wentoek dapat membuat lensa–lensa dengan perbesaran yang

memuaskan untuk melihat benda–benda yang kecil. Walaupun demikian

terdapat keterbatasan kemampuan sebuah mikroskop dalam daya uraianya.

Hal tersebut terlihat jelas dalam sebuah rumus yang ditemukan oleh Abbe

pada abad yang lalu. Dari keterbatasan kemampuan sebuah

mikroskop,apabila di analisis dengan menggunakan rumus Abbe, ternyata

tidak dipengaruhi oleh lensa mikroskop, melainkan dipengaruhi oleh panjang

gelombang cahaya yang dipakai. Pada awal abad ke-17 telah ditemukan

mikroskop dengan lensa tunggal (Levin,Shar.1997).


Mikroskop optik terdiri atas 2 yaitu, mikroskop biologi dan

mikroskop stereo. Mikroskop biologi digunakan untuk pengamatan benda

tipis transparan. Penyinaran diberikan dari bawah dengan sinar alam atau

lampu. Sedangkan Mikroskop stereo merupakan jenis mikroskop yang hanya

bisa digunakan untuk benda yang berukuran relative besar. Mikroskop stereo

memiliki perbesasaran 7 hingga 30 kali. Benda yang diamati dengan

mikroskop ini dapat dilihat secara 3 dimensi (Tim pengajar, 2012).

Jenis paling umum dari mikroskop, dan yang pertama diciptakan

adalah mikroskop optis. Mikroskop ini merupakan alat optik yang terdiri dari

satu atau lebih lensa yang memproduksi gambar yang diperbesar dari sebuah

benda yang ditaruh di bidang fokal dari lensa tersebut. Berdasarkan sumber

cahayanya, mikroskop dibagi menjadi dua, yaitu, mikroskop

cahaya dan mikroskop elektron. Mikroskop cahaya sendiri dibagi lagi

menjadi dua kelompok besar, yaitu berdasarkan kegiatan pengamatan dan

kerumitan kegiatan pengamatan yang dilakukan. Berdasarkan kegiatan

pengamatannya, mikroskop cahaya dibedakan menjadi mikroskop diseksi

untuk mengamati bagian permukaan dan mikroskop monokuler

dan binokuler untuk mengamati bagian dalam sel. Mikroskop monokuler

merupakan mikroskop yang hanya memiliki 1 lensa okuler dan binokuler

memiliki 2 lensa okuler. Berdasarkan kerumitan kegiatan pengamatan yang

dilakukan, mikroskop dibagi menjadi 2 bagian, yaitu mikroskop sederhana

dan mikroskop riset (campbell. 2000).


Cara pencahayaan terhadap benda objek pada mikroskop yang

mempergunakan dua lensa objektif (stereo) berbeda dengan cara

pencahayaan pada mikroskop-mikroskop yang mempergunakan satu lensa

objektif. Pada mikroskop yang mempergunakan satu lensa

objektif pencahayaan terhadap objek dilakukan dengan cara tranmisi (Nono

Sutarno, 2001).

Menurut Nono Sutarno (2001) mikroskop biologi ini umumnya

memiliki lensa okuler dan lensa objektif dengan kekuatan perbesaran objektif

sebagai berikut :

a. Objektif 4x dengan okuler 10x, perbesaran 40x

b. Objektif 10x dengan okuler 10x, perbesaran 40x

c. Objektif 40x dengan okuler 10x, perbesaran 400x

d. Objektif 100x dengan okuler 10x, perbesaran 1000x

Objektif yang paling kuat pada mikroskop optic 100x disebut objek

imersi. Hal ini karena penggunaannya harus dengan minyak emersi, dan cara

memakainya dengan khusus pula.

Mikroskop binokuler atau stereo digunakan untuk pengamatan benda-

benda yang tidak terlalu besar, transparan atau tidak. Penyinaran dapat diatur

dari atas maupun dari bawah dengan sinar alam atau lampu. Memiliki dua

buah objektif dan dua buah okuler, sehingga diperoleh bayangan tiga dimensi

dengan pengamatan kedua belah mata. Kekuatan pembesaran lensa tidak

terlalu kuat, umumnya sebagai berikut: objektif 1x atau 2x dengan okuler 10x

atau 15x (Tim Pengajar, 2012).


Macam-macam mikroskop yaitu : (campbell. 2000)

a. Mikroskop cahaya

Mikroskop cahaya mempunyai perbesaran maksimal 1000 kali.

Mikroskop cahaya memiliki kaki yang berat dan kokoh agar dapat berdiri

dengan stabil. Mikroskop cahaya memiliki 3 dimensi lensa yaitu objektif,

lensa okuler dan lensa kondensor.

b. Mikroskop stereo

Mikroskop stereo merupakan jenis mikroskop yang hanya bisa

digunakan untuk benda yang berukuran relatif besar. Mikroskop stereo

memiliki besaran 7 hingga 30 kali. Komponen utamanya hamper sama

dengan mikroskop cahaya. Lensa terdiri dari lensa okuler dan lensa

objektif.

c. Mikroskop electron

Mikroskop electron merupakan electron yang mampu melakukan

pembesaran objek sampai 2 juta kali, yang menggunakan elektro statik dan

elektro maknetik untuk mengontrol pencahayaan dan tampilan gambar serta

memiliki kemampuan pembesaran objek serta resolusi yang jauh lebih

bagus dari pada mikroskop cahaya.


II.2 Uraian Sampel

1. Daun Nangka

a. Klasifikasi Daun nangka (Laksana, 2010)

Kingdom : Plantae

Divisi : Magnoliophyta

Class : Magnoliopsida

Ordo : Urticales

Familia : Moraceae

Genus : Artocarpus

Spesies : Artocarpus heterophyllus

b. Morfologi

Tanaman nangka dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik di

daerah yang beriklim panas dan tropis. Pohon buah ini menghasilkan

buahnya sekali setahun, pohon buahnya dapat mencapai sampai 90 cm dan

besarnya 50 cm. Di indonesia, daerah yang ideal bagi penanaman nangka

adalah daerah dataran rendah dengan ketinggian 700 m dpl. Tanaman ini

membutuhkan kondisi suhu minimum antara 16°C-21°C dan maksimum

31°C-32°C, curah hujan 1.500 mm-2.400 mm per tahun, dan kelembaban

udara (RH) antara 50%-80%. Untuk memperoleh pertumbuhan dan

produksi yang optimum, tanaman nangka membutuhkan tanah yang liat

berpasir, subur gembur, banyak mengandung bahan organik, memiliki

aerasi dan drainase yang baik, kondisi PH tanah 5-7,5 dan kedalaman air

antara 1 m-200 m dari permukaan tanah (Suhardi. 2002)


c. Khasiat

Daun nangka dapat digunakan sebagai pelancar ASI, borok (obat

luar), dan luka (obat luar), daun tanaman ini juga di rekomendasikan oleh

pengobatan ayurveda sebagai obat antidiabetes. Sementara biji nangka

dapat digunakan sebagai obat batuk dan tonik. Khasiat kayu sebagai anti

spasmodic dan sedative, daging buah sebagai ekspektoran, Getah kulit kayu

juga telah digunakan sebagai obat demam, obat cacing dan sebagai

antiinflamasi. Selain itu, dikulit kayunya secara empiric sebagai antikanker,

antivirus, antiinflamasi, diuretil, dan antihipertensi (Schmieg, Sebastian

2009). Rebusan akar yang ditumbuk halus digunakan untuk mengobati sakit

demam (Heyne 1987).

d. Kandungan Kimia

Daging buah nangka muda (tewel) dimanfaatkan sebagai makanan

sayuran yang mengandung albuminoid dan karbohidrat. Kandungan kimia

dalam kayu adalah morin, sianomaklurin (zat samak), flavon, dan tanin.

Selain itu, dikulit kayunya juga terdapat senyawa flavonoid yang baru, yakni

morusin, artonin E, sikloartobilosanton, dan artonol B (Schmieg, Sebastian

2009).

2. Daun Kedondong

a. Klasifikasi Daun Kedondong (United States Department of Agriculture,

1994)

Kingdom : Plantae

Sub kingdom : Tracheobionta


Divisio : Magnoliophtya

Super divisio : Spermatophyta

Class : Dicotyledons

Sub class : Rosidae

Ordo : Sapindales

Family : Anacardiaceae

Genus : Spondias

Species : Spondias dulcis Parkinson

b. Morfologi

1. Daun

Tumbuhan ini termasuk ke dalam tanaman berdaun majemuk,

menyirip, anak daun lima sampai lima belas, pangkal daun dan ujung

daun meruncing, warna daun hijau, panjang daun 5-8 cm dan lebar 3-6

cm, tepi daunnya rata, tata letak daun tersebar, permukaan daun licin dan

mengkilat (Depkes RI, 1994).

2. Batang

Tumbuhan ini mempunyai batang yang berkayu yang biasanya keras

dan kuat karena sebagian besar terdiri dari kayu tumbuh tegak, dan

bercabang, permukaan batang halus dan berwarna putih kehijauan

(Depkes RI, 1994).

3. Akar

Tumbuhan ini berakar tunggang dan berwarna coklat tua (Depkes

RI, 1994).
4. Bunga

Tumbuhan ini termasuk bunga majemuk, panjang 2 cm, panjang

kelopak bunganya lebih kurang 5 cm, jumlah benang sari delapan

berwarna kuning, mahkota bunga berjumlah 4-5, warna bunganya

berwarna putih kekuningan (Depkes RI, 1994).

5. Buah

Berbuah bulat, mempunyai dinding lapisan luar yang tipis seperti

kulit, lapisan dalam yang tebal, lunak, dan berair seringkali dimakan,

buah lonjong, berdaging dan berserat, warna buah hijau kekuningan

(Depkes RI, 1994).

6. Biji

Berbiji bulat, berserat kasar, warna biji putih kekuningan (Depkes,

RI 1994)

c. Khasiat

Kedondong sangat berguna untuk memelihara kesehatan saluran

pencernaan dan dehidrasi. Selain itu, manfaat buah kedondong lainnya

adalah dari rendahnya kandungan lemak, sehingga buah ini cocok sebagai

makanan cemilan diet yang menyegarkan. Apalagi kandungan karbohidrat

maupun proteinnya juga termasuk rendah dan sebagian masyarakat juga ada

yang memanfaatkan buah kedondong untuk mengobati luka bakar pada kulit

(Hakimah, 2010).

Manfaat buah kedondong lainnya adalah dapat dimakan dalam

keadaan segar, tetapi sebagian buah matangnya bisa juga diolah menjadi
selai, jeli dan sari buah. Buah yang masih mentah dapat juga dibuat untuk

rujak dan dibuat acar (Anonim, 2011).

d. Kandungan Kimia

Daun kedondong (Spondias dulcis) mengandung senyawa

flavonoid, saponin, alkaloid, dan tanin (Inayati, 2007; Harmanto, 2002).

Flavonoid merupakan senyawa polifenol yang berfungsi sebagai

antioksidan. Sumber terbesar polifenol dan vitamin C yaitu terdapat pada 11

bagian daun kedondong, lalu ditranslokasikan ke bagian yang

membutuhkan yaitu umbi, buah, batang dan bunga (Harjanti, 2012). Oleh

karena itu, daun kedondong saat ini mulai banyak dimanfaatkan sebagai

tanaman obat yaitu untuk mencegah kanker, penuaan dini, penyakit jantung,

diabetes dan kolestrol karena mengandung antioksidan(Andriani, 2007; Sie,

2013).

Flavonoid adalah substansi yang mengandung senyawa polifenolik

yang berasal dari tumbuh-tumbuhan (herbal). Flavonoid merupakan

antioksidan yang potensialuntuk menangkal radikal bebas.Fungsi flavonoid

sebagai antioksidan yang kuat sehingga dimanfaatkan sebagai pencegah

kanker maupun pengobatan kanker (Miryanti dkk., 2011). Mekanisme kerja

flavonoid sebagai pencegah kanker yaitu antara lain inaktivasi karsinogen,

antiproliferasi, dan penghambatan siklus sel (Subroto, 2008). Flavonoid

mempunyai aktivitas antioksidan yang kuat yang merupakan pendonor

hidrogen yang sangat baik. Flavonoid mempunyai aktivitas antioksidan


lebih baik daripada vitamin C (asam askorbat) vitamin E (tokoferol) yang

merupakan antioksidan mayor dalam tubuh (Prakash dan Gupta, 2009).

Kelompok hidroksil yang dimiliki flavonoid tidak muncul saat

reaksi redoks kimia, tetapi sangat berperan dalam mendonorkan atau

menerima hidrogen. Flavonoid juga berikatan dengan logam-logam seperti

besi dan tembaga, kemudian menghambat pembentukan radikal bebas

melalui katalis logam tersebut (besi dan 12 tembaga). Peran-peran krusial

yang dimiliki flavonoid ini menunjukkan bahwa flavonoid mempunyai

aktivitas antioksidan yang kuat (Prakash dan Gupta, 2009). Mekanisme

kerja flavonoid ini dapat dilihat pada Gambar 2 di bawah ini. Gambar 2.

Mekanisme kerja flavonoid menghambat pembentukan radikal bebas

melalui katalis logam (Men+ adalah perubahan dari ion besi seperti Fe2+

dan Cu2+) (Prakash dan Gupta, 2009).

3. Daun Sirsak

a. Klasifikasi Daun Sirsak (Sunarjono, 2005).

Kingdom : Plantae

Divisi : Spermatophyta

Sub divisi : Angiospermae

Kelas : Dicotyledonae

Ordo : Polycarpiceae

Familia : Annonaceae

Genus : Annona

Spesies : Annona muricata L.


b. Morfologi

Morfologi dari daun sirsak adalah berbentuk bulat dan panjang,

dengan bentuk daun menyirip dengan ujung daun meruncing, permukaan

daun mengkilap, serta berwarna hijau muda sampai hijau tua. Terdapat

banyak putik di dalam satu bunga sehingga diberi nama bunga berpistil

majemuk. Sebagian bunga terdapat dalam lingkaran, dan sebagian lagi

membentuk spiral atau terpencar, tersusun secara hemisiklis. Mahkota

bunga yang berjumlah 6 sepalum yang terdiri dari dua lingkaran,

bentuknya hampir segitiga, tebal, dan kaku, berwarna kuning keputih-

putiham, dan setelah tua mekar dan lepas dari dasar bunganya. Bunga

umumnya keluar dari ketiak daun, cabang, ranting, atau pohon bentuknya

sempurna (hermaprodit) (Sunarjono, 2005).

c. Manfaat

Daun sirsak dimanfaatkan sebagai pengobatan alternatif untuk

pengobatan kanker, yakni dengan mengkonsumsi air rebusan daun

sirsak. Selain untuk pengobatan kanker, tanaman sirsak juga

dimanfaatkan untuk pengobatan demam, diare, anti kejang, anti jamur,

anti parasit, anti mikroba, sakit pinggang, asam urat, gatal-gatal, bisul,

flu, dan lain lain (Mardiana, 2011).

d. Kandungan Kimia

Daun sirsak mengandung alkaloid, tanin, dan beberapa

kandungan kimia lainnya termasuk Annonaceous acetogenins.

Acetogenins merupakan senyawa yang memiliki potensi sitotoksik.


Senyawa sitotoksik adalah senyawa yang dapat bersifat toksik untuk

menghambat dan menghentikan pertumbuhan sel kanker (Mardiana,

2011). Acetogenins merupakan inhibitor kuat dari kompleks I

mitokondria atau NADH dehidrogenase. Zat ini akan mengakibatkan

penurunan produksi ATP yang akan menyebabkan kematian sel

kanker, lalu kemudian memicu terjadinya aktivasi jalur apoptosis serta

mengaktifkan p53 yang dapat menghentikan siklus sel untuk

mencegah terjadinya proliferasi tak terkendali (Retnani, 2011).


BAB III

METODE KERJA

III.1 Alat dan Bahan


III.1.1 Alat
Adapun alat-alat yang di gunakan dalam percobaan ini yaitu
gunting, kamera, kantong plastik, kardus, karung, kompas, koran
bekas lakban coklat dan bening, mikroskop, papan siklik, parang,
spidol permanen dan non permanen serta tali rapia.
III.1.2 Bahan
Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini yaitu
daun nangka, daun kedondong, dan daun sirsak.
III.1.3 Cara Kerja

Adapun cara kerja yang dilakukan pada percobaan ini yaitu :

1. Disiapkan alat yang akan digunakan

2. Dikumpulkan bahan baku yang ingin dibuat simplisia dengan cara

dipetik

3. Dilakukan sortasi basah agar terhindar bahan asing

4. Dicuci simplisia agar memisahkan bahan simplia dari zat asing yang

masih menempel

5. Dilakukan perajangan agar mempercepat proses pengeringan

6. Dikeringkan simplisia tetapi tidak dibawaah matahari langsung agar

tidak merusak senyawa yang terkandung dalam simplisia

7. Dilakukan sortasi keing agar terhindar dari zat asing yang tertempel

pada saat pengeringan

8. Dikemas simpilisia agar simplisia tidak rusak


9. Disimpan dalam wadah agar terhindar dari cemaran mikroba
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. Hasil pengamatan


A. Alat

NO Nama Alat Fungsi

1 Alat bantu untuk melihat benda


Mikroskop
bahkan makhluk hidup dengan

ukuran terkecil atau mikro. Benda-

benda tersebut dilihat dengan cara

memperbesar ukuran

B. Nama Tanaman

NO Nama tanaman Fungsi

Daun nangka  Toleransi Glukosa

 Rawat Luka Diabetes

 Merawat Kesehatan Kulit


1
 Mencegah Penyakit Kronis

 Meningkatkan Produksi Asi


sebagai pengobatan alternatif

untuk pengobatan kanker, yakni

dengn mengomsumsi air rebusan


Sirsak
daun sirsak. Tanaman sisrak juga di

2 manfaatkan untuk pengobatan

demam , diare, anti kejang, anti

jamur, anti parasit, anti mikroba,

sakit pinggang, asam urat, gatal-

gatal, bisul, flu

Kedondong Menjaga kesehatan mata.

Ilustrasi mata sehat dan Mengatasi

berbagai penyakit di perut,

3 Mencegah penuaan. Menurunkan

berat badan. Mempercepat

penyembuhan luka. Mengatasi

kemandulan. Pengempuk daging.

IV. 2 Pembahasan

Prinsip kerja mikroskop adalah obyek ditempatkan diruang dua lensa

obyektif sehinggaterbentuk bayangan nyata terbalik dan diperbesar. Lensa

okuler mempunyai peran seperti lup, sehinnga pengamat dapat melakukan

dua jenis pegamatan yaitu dengan mata tak berakomodasi atau dengan mata

berakomodasi maksimum.
Tanaman nangkan memiliki daun tunggal, bertangkai 1-4 cm, memiliki

bagian tepi rata dan memiliki bentuk bulat telur memanjang, serta memiliki

ujung pangkal pendek meruncing. Daun pada nangka ini memiliki permukaan

atas berwarna hijau tua mengkilap, kaku dan juga permukaan bagian bawah

memiliki warna hijau muda.

Daun nangka dapat digunakan sebagai pelancar ASI, borok (obat luar),

dan luka (obat luar), daun tanaman ini juga di rekomendasikan oleh

pengobatan ayurveda sebagai obat antidiabetes. Sementara biji nangka dapat

digunakan sebagai obat batuk dan tonik. Khasiat kayu sebagai anti spasmodic

dan sedative, daging buah sebagai ekspektoran, Getah kulit kayu juga telah

digunakan sebagai obat demam, obat cacing dan sebagai antiinflamasi. Selain

itu, dikulit kayunya secara empiric sebagai antikanker, antivirus,

antiinflamasi, diuretil, dan antihipertensi

Adapun tanaman yang digunakan pada praktikum kali ini yaitu

tanaman daun sirsak yang mengandung alkaloid, tanain, dan beberapa

kandungan kimia lainnya termasuk annonaceous acetogenin merupakan

senyawa yang memilki potensi sistotoksik. Senyawa sitotoksik adalah

senyawa yang dapat bersifat toksik untuk menghambat dan menghentikan

pertumbuhan sel kanker

Kedondong (Spondias dulcis) merupakan tanaman buah yang berasal

dari famili Anacardiaceae. Tanaman ini berasal dari Asia Selatan dan Asia

Tenggara dan tersebar di daerah tropis Tanaman ini tumbuh dengan cepat,

tingginya dapat mencapai 18 m Daun kedondong berbentuk jorong (ovalis),


pangkal daun runcing (acutus), ujung daun meruncing (acuminatus), warna

hijau, panjang daun lebih kurang 5-8 cm, lebar daun lebih kurang 3-6 cm,

tulang daun menyirip, jumlah anak daun gasal dan berpasang-pasangan, tepi

daun rata, tata letak daun tersebar (folia sparsa), permukaan daun licin (leavis)

dan mengkilat (nitidus) Daunnya mudah berganti (rontok) di musim kemarau


BAB V

PENUTUP

V.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil percoban dapat disimpulkan bahwa :

1. mikroskop adalah sebuahalat untuk melihat objek yang terlalu kecil untuk

dilihat dengan mata kasar. Adapun bagian-bagian mikroskop yaitu lensa

okuler, lensa objektif, tubus okuler, lengan mikroskop, revolver, meja

benda, kondensor, diafragma, sumber cahaya, penjepit, makrometer,

mikrometer, penyangga, dan kaki mikrosskop.

2. Cara pembuatan simplisia, yaitu pengumpulan bahan baku atau panen

sortasi basah, pencucian, peracangan, pengeringan, sortasi kering,

pengepakan, dan penyimpanan simplisia

V.2 saran
1. saran untuk laboratorium

Sebaiknya alat-alat harus di lengkapi supaya pada saat praktikum

tidak di pinjam di laboraturium lain.

2. Saran untuk asisten

Sebaiknya asisten lebih memperjelas cara menjelaskan dalam proseS

praktikum.
DAFTAR PUSTAKA

Agoes. G . 2007. Teknologi Bahan Alam. ITB Press: Bandung

Andriani, Y. 2007. Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Betaglukan dari


Saccaromyces cerevisiae. Jurnal Gradien 3 (1) : 226-230.

Campbell, A. Neil. dkk. 2010. Biologi .Penerbit Erlangga: Jakarta

Ditjen POM. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Depkes RI ; Jakarta

Harjanti, R. 2012. Isolasi dan Identifikasi Senyawa Penangkap Radikal Bebas 2,2-
difenil1-pikrilhidrazil dari Daun Kedondong (Spondias dulcis. Ex Park.)
Tesis. Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Harmanto, N. 2002. Sehat dengan Ramuan Tradisional Cetakan keempat. PT


Agromedia Pustaka, Tangerang.

Heyne K. 1987. Tumbuhan berguna indonesia. Terjemahan badan litbag.


Kehutanan jakarta. Jilid I dan II.: jakarta

Inayati, H. 2007. Potensi Antibakteri Daun Kedondong Bangkok (Spondias dulcis


Forst.). Skripsi. IPB, Bogor.

Laksana.Toga Dkk. 2010. Pembuatan Simplisia dan Standarisasi Simplisia. UGM


: Yogyakarta.

Miryanti, A., Sapei, L., Budiono, K. dan Indra, S. 2011. Ekstraksi Antioksidan dari
Kulit Buah Manggis. Laporan Penelitian. Lembaga Penelitian dan
Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Katolik Parahyangan,
Bandung.

Prakash, D., dan Gupta, K.R. 2009. The Antioxidant Phytochemicals of


Nutraceutical Importance. The Open Nutraceuticals Journal 2 : 20-35.
Sie, J. O. 2013. Daya Antioksidan Ekstrak Etanol Kulit Buah Manggis (Garcinia
Mangostana, Linn) Hasil Pengadukan dan Reflux. Jurnal Ilmiah
Mahasiswa Universitas Surabaya(1) :2.

Subroto, M.A. 2008. Real Food True Health : Makanan Sehat untuk Hidup Lebih
Sehat. AgroMedia, Jakarta.

Suhardi. 2002. Hutan Dan Kebun Sebagai Sumber Pangan Nasional. Kanisius:
Malang.

Sutarno, nono. 2011. Biologi Umum Lanjutan I. Universitas Terbuka: Jakarta

Tim Pengajar. 2012. Penuntun Biologi dasar. Jurusan Biologi FMIPA UNM:
Makassar.
LAMPIRAN

LABORATORIUM FARMAKOGNOSI I

PROGRAM STUDI SI FARMASI

UNIVERSITAS MEGAREZKY

MAKASSAR

Gambar 1. Mikroskop

LABORATORIUM FARMAKOGNOSI I

PROGRAM STUDI SI FARMASI

UNIVERSITAS MEGAREZKY

MAKASSAR

Gambar 1. Daun Nangka


LABORATORIUM FARMAKOGNOSI I

PROGRAM STUDI SI FARMASI

UNIVERSITAS MEGAREZKY

MAKASSAR

Gambar 2. Daun sirsak

LABORATORIUM FARMAKOGNOSI I

PROGRAM STUDI SI FARMASI

UNIVERSITAS MEGAREZKY

MAKASSAR

Gambar 3. Daun Kedondong