Anda di halaman 1dari 35

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

AQIDAH, IBADAH, AKHLAK, MUAMALAH

Disusun Oleh :
Kelompok 2
Revita Sabilla
Rohmah Saniyah
Suci Triyas Ramadani
Syifa Kamila

D-III KESEHATAN LINGKUNGAN


POLITEKNIK KESEHATAN JAKARTA II
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas berkat rahmat
dan hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul
“AQIDAH, IBADAH, AKHLAK, MUAMALAH” dan tidak lupa pula kami
sampaikan salam dan salawat serta kepada Nabi Muhammad SAW yang telah
membawa kita dari alam yang tak mengetahui pengetahuan menjadi alam yang
penuh dengan pengetahuan. Berkat bantuan bimbingan dan petunjuk yang kami
dapat akhirnya makalah ini dapat diselesaikan sesuai dengan waktu yang telah di
tentukan.

Segala kemampuan dan usaha telah kami usahakan semaksimal mungkin,


namun kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh
karena itu, kami mengharapkan kritikan dan saran yang sifatnya membangun
demi berkembangnya kualitas ilmu dari pembimbing dan teman-teman yang turut
membaca makalah ini. Dan akhirnya dengan segala kerendahan hati, terimalah
hasil makalah yang kami buat.

Jakarta, 15 September 2019

Kelompok 2

ii
DAFTAR ISI

Kata Pengantar .................................................................................................. ii

Daftar Isi ........................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ..................................................................................... iv


B. Rumusan Masalah ................................................................................ iv
C. Tujuan Penulisan .................................................................................. iv
BAB II PEMBAHASAN
 Aqidah ................................................................................................... 1
 Ibadah ..................................................................................................... 3
 Akhlak ................................................................................................... 10
 Muamalah ............................................................................................. 23
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan ......................................................................................... 30
Daftar Pustaka ................................................................................................. 31

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Sebagai seorang yang beragama Islam wajiblah memiliki aqidah yang kuat.
Pengertian Aqidah itu sendiri secara etimologi berasal dari kata ‘aqada- ya’qidu-
‘aqdan yang berarti simpul, ikatan, dan perjanjian yang kokoh dan kuat. Setelah
terbentuk menjadi ‘aqidatan (aqidah) berarti kepercayaan atau keyakinan. Kaitan
antara aqdan dan aqidatan adalah bahwa keyakinan itu tersimpul dan tertambat
dengan kokoh dalam hati, bersifat mengikat dan mengandung perjanjian. Makna
aqidah secara etimologi ini akan lebih jelas apabila dikaitkan dengan pengertian
terminologinya, seperti yang diungkapkan Hasan Al-Banna dalam Majmu’Ar-
Rasaail : “aqaid (bentuk jamak dari ‘aqidah) adalah beberapa perkara yang wajib
diyakini kebenarannya oleh hati, mendatangkan ketentraman jiwa, menjadi
keyakinan yang tidak tercampur sedikitpun dengan keragu-raguan. ” (dalam Azra
Azyumardi dkk, 2002 : 115) Dari pengertian aqidah di atas belumlah cukup untuk
menjadikan aqidah kita kuat sebagai seorang muslim.

B. Rumusan Masalah
1) Pengertian aqidah
2) Pengertian ibadah
3) Pengertian akhlak
4) Pengertian muamalah

C. Tujuan

Pada dasarnya tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi
kewajiban kami sebagai mahasiswa yang harus menyelesaikan salah satu tugas
dari dosen pembimbing kami dalam mata kuliah Aqidah Akhlak.

iv
BAB II

PEMBAHASAN

 AQIDAH

 Pengertian Aqidah Secara Etimologi (Bahasa)


Menurut kbbi, akidah/aki-dah berarti kepercayaan dasar atau
keyakinan pokok
Aqidah berasal dari bahasa arab

(ُ‫ )ا ْل َع ْقد‬al-'aqdu yang berarti ikatan

(ُ‫ )التَّ ْوثِيْق‬at-tautsiiqu yang berarti kepercayaan atau keyakinan yang


kuat

(ُ‫الربْط‬
َّ ُ‫ ) ِبق َّوة‬ar-rabthu biquw-wah yang berarti mengikat dengan kuat

(ُ‫ )اْ ِإلحْ كَام‬al-ihkaamu yang artinya mengokohkan (menetapkan)

Dari pengertian aqidah berdasarkan kata di atas, dapat


ditarik benang merah bahwa, aqidah menurut bahasa adalah
kepercayaan/keyakinan yang kuat yang terdapat di dalam hati
seseorang. Entah apakah yang ada dalam keyakinan orang tersebut
benar atau justru salah
Dapat disimpulkan bahwa, aqidah merupakan keyakinan yangterdapat
di dalam hati yang tidak dapat terlihat. Namun kebenarannya sudahlah
pasti
 Pengertian Aqidah secara Terminologi (Istilah)
a) Menurut Hasan al-Banna,

Aqidah adalah beberapa perkara yang wajib diyakini keberadaannya oleh


hatimu, mendatangkan ketentraman jiwa,menjadi keyakinan yang tidak
bercampur sedikitpun dengankeragu-raguan”.

1
b) Menurut Abu Bakar Jabir al-Jazairy,

Aqidah adalah sejumlah kebenaran yang dapat diterima secaraumum oleh


manusia berdasarkan akal, wahyu dan fitrah.(Kebenaran) itu dipatrikan oleh
manusia di dalam hati sertadiyakini kesahihan dan kebenarannya secara
pasti dan ditolaksegala sesuatu yang ber tentangan dengan kebenaran itu”

c) Imam Ghazali,

Jika dalam diri seseorang telah tumbuh Aqidah pada hatinya,maka mereka
akan menganggap hanya Allah Subhanahu Wata'alasajalah yang memiliki
kuasa atas segala sesuatu. Sementarasegala yang ada hanyalah mahluk.”

d) Menurut Abdullah Azzam,

Aqidah adalah meyakini dengan sepenuh hati bahwasanya "beriman" berarti


tidak mengingkari adanya enam rukun Iman.Diantaranya adalah Iman
kepada; Allah, Malaikat, Kitab, Rasul, Hari Kiamat serta Qada' dan Qadar”.

e) Menurut Ibnu Tarmiyah

Aqidah adalah sesuatu yang tertanam dalam hati. Akan merasa tenang orang
yang memilikinya, dan di dalam jiwanya tidak sedikitpun menaruh
prasangka ataupun keraguan”

f) Menurut Abu Bakar Jabir Al-Jazairy,

Adalah kebenaran logis yang mampu diterima manusia melalui akal, wahyu
dan juga fitrahnya. Dan kebenaran tersebut
terletak pada hati yang senantiasa akan menolak dengan tegas jika adayang
bertentangan dengannya.”

a. Aqidah adalah Sebuah perkara yang sifatnya wajib untuk dibenarkan


oleh hati dan jiwa, sehingga orang yang memilikikebenaran tersebut
akan merasa damai karenanya.
2
Kemudianmenjadi suatu kenyataan yang teguh serta kokoh, yang
tidaktercampuri oleh keraguan dan kebimbangan.
b. Aqidah bisa dikatakan sebagai keimanan yang terdapat di
dalam jiwa. Keberadaannya terikat dan sangat kokoh. Dan apabila
terdapat keraguan atau prasangka, maka tidak dapat dikatakansebagai
aqidah
Implementasi dari keberadaannya (iman/aqidah) yang terdapatdalam
hati atau jiwa, muncul dalam bentuk ucapan/lisan, dandiwujudkan
dalam bentuk perbuatan
c. Singkatnya, aqidah adalah iman yang teguh dan pasti, yang tidakada
keraguan sedikitpun bagi orang yang meyakininya.

 IBADAH

Ibadah secara etimologi berasal dari kata bahasa arab yaitu abida-ya`budu-`abdan-
`ibadatan, yang berarti taat, tunduk, patuh,dan merendahkan diri. Kesemua
pengertian itu mempunyai makna yang berdekatan. Seseorang yang tunduk, patuh
dan merendahkan diri dihadapan yang disembah disebut “abid” (yang beribadah).

Pengertian ibadah secara terminology Menurut ahli fikih ibadah adalah:

“Segala bentuk ketaatan yang dikerjakan untuk mencapai keridhaan Allah SWT
dan mengharapkan pahala-Nya di akhirat.”

Jadi dari pengertian, Ibadah adalah semua yang mencakup segala perbuatan yang
disukai dan diridhai oleh Allah SWT, baik berupa perkataan maupun perbuatan,
baik terang-terangan maupun tersembunyi dalam rangka mengagungkan Allah
SWT dan mengharapkan pahala-Nya.”

56 ‫الذريات‬ ‫ليعبدون‬
ِ ‫وما خلقت الجن واالنس اال‬

Tidak Aku ciptakan Jin dan Manusia kecuali hanya untuk beribadah kepadaKu
(QS. 51(al-Dzariyat ): 56).

3
Jenis-jenis Ibadah

a. Ibadah Secara Umum (ghairu mahdhah)

Ibadah umum atau ghairu mahdhah adalah segala amalan yang diizinkan oleh
Allah, misalnya; belajar, dzikir, dakwah, tolong menolong dan lain sebagainya.

B. Ibadah Secara Khusus (mahdhah)

Ibadah khusus atau mahdhah adalah ibadah yang apa saja yang telah ditetapkan
Allah akan tingkat, tata cara dan perincian-perinciannya. Jenis ibadah yang
termasuk mahdhah misalnya adalah Thaharah, Shalat, Puasa, Zakat dan Haji.

Rukun Ibadah

Berdasarkan dalil-dalil yang ada di Al-Qur’an maupun Hadits ibadah memiliki


rukun-rukun yang ia terbangun diatasnya. Tidaklah suatu amalan yang
diperintahkan menjadi sebuah ibadah bila ia tidak dibangun diatas rukun-
rukunnya. Rukun-rukun ibadah menurut manhaj ( jalan ) Ahlus Sunnah wal
Jama’ah ada tiga, yaitu :

a) Al-Hubb ( Cinta )

Ibadah dari asal maknanya bisa berarti menghinakan diri. Dan ia selain
mengandung makna penghinaan diri dihadapan Allah SWT juga mengandung Al-
Hubb ( cinta ) yang tinggi kepada-Nya. Dengan kecintaan yang tinggi disertai
penghinaan yang sempurna kepada Allah SWT, seorang hamba akan sampai pada
penghambaan diri kepada-Nya SWT, sebab puncak dari Al-Hubb adalah At-
Tayyamum ( penghambaan ). Sehingga tidak akan tebangun penghambaan diri
kepada Allah SWT kecuali dengan terkumpulnya keduanya sekaligus, yaitu cinta
dan penghinaan diri.

4
b) Al-Khouf ( Takut )

Ia merupakan peribadahan hati dan rukun ibadah yang agung yang mana
keikhlasan seseorang dalam beragama bagi Allah SWT. Sebagaimana yang telah
Allah perintahkan kepada hamba-Nya tidak akan lurus kecuali dengan bantuan-
Nya. Khouf ialah kegundahan hati akan terjadinya sesuatu yang tidak disuka
berupa hukuman dan adzab Allah SWT yang mneimbulkan sikap penghambaan
dan ketundukan seorang hamba kepada-Nya.

c) Ar-Roja ( Berharap )

Ia juga merupakan peribadahan hati dan rukun ibadah yang sangat agung.
Ialah harapan yang kuat atas rahmat dan balasan berupa pahala dari Allah SWT
yang menyertai ketundukan dan penghinaan diri kepada-Nya.

Maka, ibadah yang telah Allah fardhukan kepada hamba-Nya harus terdapat
tiga rukun tersebut agar menjadi ibadah yang sempurna. Peribadahan kepada
Allah SWT harus disertai ketundukan dan kecintaan yang sempurna serta rasa
takut dan harapan yang tinggi. Bila ketiganya terdapat dalam sebuah amalan maka
ia benar-benar bermakna ibadah. Didalam Al-Qur’an Allah telah menyebutkan

rukun-rukun ibadah itu ketika menyifati peribadahan para Nabi dengan firman-
Nya yang artinya sebagai berikut :

“...Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (


mengerjakan ) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdo’a kepada kami
dengan harap ( atas rahmat Allah ) dan cemas ( akan adzab-Nya ). Dan mereka
adalah orang-orang yang khusyu kepada kami.” ( Q.S Al-Anbiya : 90 )

5
Fungsi dan Hikmah Ibadah

1. Fungsi Ibadah

Ada tiga aspek fungsi ibadah dalam Islam :

a) Mewujudkan hubungan antara hamba dengan Tuhannya. Mewujudkan


hubungan antara manusia dengan Tuhannya dapat dilakukan melalui
“muqorobah” dan “khudlu”. Orang yang beriman dirinya akan selalu merasa
diawasi oleh Allah. Ia akan selalu berupaya menyesuaikan segala perilakunya
dengan ketentuan Allah SWT. Dengan sikap itu seseorang muslim tidak akan
melupakan kewajibannya untuk beribadah, bertaubat, serta menyandarkan segala
kebutuhannya pada pertolongan Allah SWT. Demikianlah ikrar seorang muslim
seperti tertera dalam Al-Qur’an surat Al-Fatihah ayat 5

“Hanya Engkaulah yang Kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah Kami
meminta pertolongan.” Atas landasan itulah manusia akan terbebas dari
penghambaan terhadap manusia, harta benda dan hawa nafsu.

b) Mendidik mental dan menjadikan manusia ingat akan kewajibannya. Dengan


sikap ini, setiap manusia tidak akan lupa bahwa dia adalah anggota masyarakat
yang mempunyai hak dan kewajiban untuk menerima dan memberi nasihat. Oleh
karena itu, banyak ayat Al-Qur’an ketika berbicara tentang fungsi ibadah
menyebutkan juga dampaknya terhadap kehidupan pribadi dan masyarakat.
Contohnya: ketika Al-Qur’an berbicara tentang shalat, ia menjelaskan fungsinya:
“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Qur’an dan dirikanlah
shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan
mungkar. Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar
keutamannya dari ibadah-ibadah yang lain, dan Allah mengetahui apa yang kamu
kerjakan.”

6
Ketika Al-Qur’an berbicara tentang zakat, Al-Qur’an juga menjelaskan
fungsinya:

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu
membersihkan dan mensucikan mereka serta mendoalah untuk mereka.
Sesungguhnya doa kamu itu menjadi ketentraman jiwa bagi mereka, dan Allah
Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” Dan masih banyak ibadah-ibadah lain
yang tujuannya tidak hanya baik bagi diri pelakunya tetapi juga membawa
dampak sosial yang baik bagi masyarakat. Karena itu Allah tidak akan menerima
semua bentuk ibadah, kecuali ibadah tersebut membawa kebaikan bagi dirinya
dan orang lain. Dalam hal ini Nabi SAW bersabda:

“Barang siapa yang sholatnya tidak mencegah dirinya dari perbuatan keji dan
munkar, maka dia hanya akan bertambah jauh dari Allah” (HR. Thabrani)

c) Melatih diri untuk berdisiplin adalah suatu kenyataan bahwa segala bentuk
ibadah menuntut kita untuk berdisiplin. Kenyataan itu dapat dilihat dengan jelas
dalam pelaksanaan shalat, mulai dari wudhu, ketentuan waktunya, berdiri, ruku,
sujud dan aturan-aturan lainnya, mengajarkan kita untuk berdisiplin. Apabila kita
menganiaya sesama muslim, menyakiti manusia baik dengan perkataan maupun
perbuatan, tidak mau membantu kesulitan sesama manusia, menumpuk harta dan
tidak menyalurkannya kepada yang berhak. Tidak mau melakukan “amar ma’ruf
nahi munkar”, maka ibadahnya tidak bermanfaat dan tidak bisa
menyelamatkannya dari siksa Allah SWT.

2. Hikmah Ibadah

a) Tidak syirik

Seorang hamba yang sudah berketetapan hati untuk senantiasa beribadah


menyembah kepada Nya, maka ia harus meninggalkan segala bentuk syirik. Ia
telah mengetahui segala sifat-sifat yang dimiliki Nya adalah lebih besar dari
segala yang ada, sehingga tidak ada wujud lain yang dapat mengungguli-Nya.

7
b) Memiliki ketakwaan

Ketakwaan yang di landasi cinta timbul karena ibadah yang di lakukan


manusia setelah merasakan kemurahan dan keindahan Nya muncullah dorongan
untuk beribadah kepada-Nya. Sedangkan ketakwaan yang di landasi rasa takut
timbl karena manusia menjalankan ibadah dianggap sebagai suatu kewajiban
bukan sebagai kebutuhan. Ketika manusia menjalankan ibadah sebagai suatu
kewajiban ada kalanya muncul ketidak ikhlasan, terpaksa dan ketakutan akan
balasan dari pelanggaran karena tidak menjalankan kewajiban.

c) Terhindar dari kemaksiatan

Ibadah memiliki daya pensucian yang kuat sehingga dapat menjadi tameng
dari pengaruh kemaksiatan, tetapi keadaan ini hanya bisa dikuasai jika ibadah
yang dilakukan berkualitas. Ibadah ibarat sebuah baju yang harus selalu dipakai
dimanapun manusia berada.

d) Berjiwa sosial, artinya ibadah menjadikan seorang hamba menjadi lebih peka
dengan keadaan lingkungan sekitarnya, karena dia mendapat pengalaman
langsung dari ibadah yang dikerjakannya. Sebagaimana ketika melakukan ibadah
puasa, ia merasakan rasanya lapar yang biasa dirasakan oleh orang-orang yang
kekurangan. Sehingga mendorong hamba tersebut lebih memperhatikan orang
lain.

e) Tidak kikir, harta ang dimiliki manusia pada dasarnya bukan muliknya tetapi
milik Allah SWT yang seharusnya diperuntukan untuk kemaslahatan umat. Tetapi
karena kecintaan manusia yang begitu besar terhadap keduniawian menjadikan dia
lupa dan kikir akan hartanya. Berbeda dengan hamba yang mencintai Allah SWT,
senantiasa menafkahi hartanya di jalan Allah SWT. Ia menyadari bahwa miliknya
adalah bukan haknya tetapi ia hanya memanfaatkan untuk keperluannya semata-
mata sebagai bekal di akhirat yang di wujudkan dalam bentuk pengorbanan harta
untuk keperluan umat.

8
Ibadah terbagi menjadi ibadah hati, lisan, dan anggota badan. Rasa khauf
(takut), raja’ (mengharap), mahabbah (cinta), tawakkal (ketergantungan), raghbah
(senang), dan rahbah (takut) adalah ibadah qalbiyah (yang berkaitan dengan hati).
Sedangkan tasbih, tahlil, takbir, tahmid dan syukur dengan lisan dan hati adalah
ibadah lisaniyah qalbiyah (lisan dan hati). Sedangkan shalat, zakat, haji, dan jihad
adalah ibadah badaniyah qalbiyah (fisik dan hati). Serta masih banyak lagi
macam-macam ibadah yang berkaitan dengan amalan hati, lisan dan badan.

Ibadah inilah yang menjadi tujuan penciptaan manusia. Allah berfirman:

ِ‫اق ذُو ْالقُ َّوة‬


ُ ‫الر َّز‬ َّ ‫ون ِإ َّن‬
َّ ‫َّللاَ ه َُو‬ ْ ‫ق َو َما أ ُ ِريد ُ أَن ي‬
ِ ‫ُط ِع ُم‬ ٍ ‫ُون َما أ ُ ِريد ُ ِم ْن ُهم ِِّمن ِ ِّر ْز‬
ِ ‫نس ِإ َّال ِليَ ْعبُد‬ ِ ْ ‫َو َما َخلَ ْقتُ ْال ِج َّن َو‬
َ ‫اْل‬
ُ‫ْال َمتِين‬

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka
beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rizki sedikit pun dari mereka dan
Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi makan kepada-Ku.
Sesungguhnya Allah Dia-lah Maha Pemberi rizki Yang mempunyai kekuatan lagi
sangat kokoh.” [Adz-Dzaariyaat: 56-58]

Allah Azza wa Jalla memberitahukan bahwa hikmah penciptaan jin dan


manusia adalah agar mereka melaksanakan ibadah hanya kepada Allah Azza wa
Jalla. Dan Allah Mahakaya, tidak membutuhkan ibadah mereka, akan tetapi
merekalah yang membutuhkan-Nya, karena ketergantungan mereka kepada Allah,
maka barangsiapa yang menolak beribadah kepada Allah, ia adalah sombong.
Siapa yang beribadah kepada-Nya tetapi dengan selain apa yang disyari’atkan-
Nya, maka ia adalah mubtadi’ (pelaku bid’ah). Dan barangsiapa yang beribadah
kepada-Nya hanya dengan apa yang disyari’atkan-Nya, maka ia adalah mukmin
muwahhid (yang mengesakan Allah).

9
 AKHLAK

1. Akhlak

Akhlak secara terminologi berarti tingkah laku seseorang yang didorong oleh
suatu keinginan secara sadar untuk melakukan suatu perbuatan yang baik.

Akhlak merupakan bentuk jamak dari kata khuluk, berasal dari bahasa Arab
yang berarti perangai, tingkah laku, atau tabiat.Cara membedakan akhlak, moral,
dan etika, yaitu dalam etika, untuk menentukan nilai perbuatan manusia baik atau
buruk menggunakan tolok ukur akal pikiran atau rasio, sedangkan dalam moral
dan susila menggunakan tolok ukur norma-norma yang tumbuh dan berkembang
dan berlangsung dalam masyarakat (adat istiadat), dan dalam akhlaq
menggunakan ukuran Al Qur’an dan Al Hadis untuk menentukan baik-buruknya.

Kata akhlak diartikan sebagai suatu tingkah laku, tetapi tingkah laku tersebut
harus dilakukan secara berulang-ulang tidak cukup hanya sekali melakukan
perbuatan baik, atau hanya sewaktu-waktu saja. Seseorang dapat dikatakan
berakhlak jika timbul dengan sendirinya didorong oleh motivasi dari dalam diri
dan dilakukan tanpa banyak pertimbangan pemikiran apalagi pertimbangan yang
sering diulang-ulang, sehingga terkesan sebagai keterpaksaan untuk
berbuat.Apabila perbuatan tersebut dilakukan dengan terpaksa bukanlah
pencerminan dari akhlak.

Ada empat hal yang harus ada apabila seseorang ingin dikatakan berakhlak.

1. Perbuatan yang baik atau buruk.


2. Kemampuan melakukan perbuatan.
3. Kesadaran akan perbuatan itu
4. Kondisi jiwa yang membuat cenderung melakukan perbuatan baik
atau buruk

10
Beberapa akhlak-akhlak yang disyariatkan dalam Islam, tapi beliau tidak
membatasi akhlak-akhlak ini dari apa yang beliau Sebutkan saja.

 JUJUR

Beliau mengatakan bahwa diantaranya adalah jujur. Jujur adalah salah satu akhlak
yang paling agung dalam Islam. Dan disebutkan dalam banyak ayat keutamaan
orang-orang yang jujur. Diantaranya firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu:

َّ ‫يَا أَيُّ َها الَّذِينَ آ َمنُوا اتَّقُوا اللَّـهَ َو ُكونُوا َم َع ال‬


﴾١١٩﴿ َ‫صا ِدقِين‬

“Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan jadilah kalian
bersama dengan orang-orang yang jujur.” (QS. At-Taubah[9]: 119)

 AMANAH

Berkata Syaikh bin Baz Rahimahullah bahwa diantara akhlak yang disyariatkan
dalam Islam yaitu amanah -bertanggung jawab-. Amanah mempunyai kedudukan
yang sangat tinggi di agama kita. Allah ‘Azza wa Jalla menawarkan amanah
tersebut kepada langit dan bumi. Maka semuanya merasa khawatir untuk
memikulnya dikarenakan besarnya perkara itu. Allah berfirman:

َ‫سانُ ۖ إِنَّهُ َكان‬ ِ ْ ‫ض َو ْال ِجبَا ِل فَأَبَيْنَ أَن يَح ِْم ْلنَ َها َوأ َ ْشفَ ْقنَ ِم ْن َها َو َح َم َل َها‬
َ ‫اْلن‬ ِ ‫ت َو ْاْل َ ْر‬ َّ ‫ضنَا ْاْل َ َمانَةَ َعلَى ال‬
ِ ‫س َم َاوا‬ ْ ‫إِنَّا َع َر‬
﴾٧٢﴿ ‫وال‬ ً ‫ظلُو ًما َج ُه‬
َ

“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi dan gunung-
gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir
akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya
manusia itu amat zalim dan amat bodoh,” (QS. Al-Ahzab[33]: 73)

11
2. KAJIAN ILMIAH TENTANG PENGERTIAN AKHLAK, MACAM-
MACAM AKHLAK DAN DALIL TENTANG AKHLAK

Berakhlak dengan akhlak yang disyariatkan dalam Islam diantaranya; jujur,


amanah, bertanggung jawab, menjaga kesucian, malu, berani, darmawan,
menepati janji, menjauhi semua yang diharamkan oleh Allah Subhanahu wa
Ta’ala, berbuat baik kepada tetangga, membantu orang yang membutuhkan sesuai
kemampuan, dan selainnya dari akhlak-akhlak yang tertera dalam Al-Qur’an dan
sunnah yang dijelaskan tentang disyariatkannya akhlak-akhlak tersebut.

Akhlak yang baik adalah tanda kebahagiaan seseorang di dunia dan di akhirat.
Tidaklah kebaikan-kebaikan datang atau didapatkan di dunia dan di akhirat
kecuali dengan berakhlak dengan akhlak yang baik. Dan tidaklah keburukan-
keburukan ditolak kecuali dengan cara berakhlak dengan akhlak yang baik.

Maka kedudukan akhlak dalam agama ini sangat tinggi sekali. Bahkan Nabi
kita Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika ditanya tentang apa yang paling banyak
memasukkan seseorang ke dalam surga, beliau mengatakan:

ِ ُ‫َّللاِ َو ُح ْسنُ ْال ُخل‬


‫ق‬ َّ ‫ت َ ْقوى‬

“Bertaqwa kepada Allah dan berakhlak dengan akhlak yang baik.” (HR. Ahmad,
Tirmidzi, Ibnu Majah)

Juga beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

َ ْ‫سا َي ْو َم ْال ِق َيا َم ِة أَح‬


‫سنُ ُك ْم أَ ْخ ََلقًا‬ ً ‫ي َوأ َ ْق َر ِب ُك ْم ِمنِِّي َمجْ ِل‬
َّ َ‫ِإ َّن ِم ْن أَ ِح ِبِّ ُك ْم ِإل‬

“Sesungguhnya di antara orang-orang yang paling aku cintai dan paling dekat
tempat duduknya pada hari kiamat denganku yaitu orang-orang yang paling baik
akhlaknya.” (HR. Tirmidzi)

12
Juga Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

َ ‫إِنَّ َما ب ُِعثْتُ ِْلُتَ ِ ِّم َم‬


ِ ‫صا ِل َح ْاْل َ ْخ ََل‬
‫ق‬

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik.” (HR.


Ahmad, Bukhari)

Juga ada banyak sekali hadits-hadits yang menjelaskan tentang keutamaan


akhlak yang baik, juga tingginya kedudukan akhlak dalam agama ini, serta
baiknya buah yang akan didapatkan oleh orang yang berakhlak dengan akhlak
yang baik ketika di dunia dan di akhirat.

Allah Tabaraka wa Ta’ala telah mensifati NabiNya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam


dalam Al-Qur’anul Karim dengan akhlak yang sempurna, akhlak yang agung dan
akhlak yang baik. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

Zakat Ada Hubungan dengan Harta

ٍ ُ‫َوإِنَّكَ لَعَلَ ٰى ُخل‬


﴾٤﴿ ‫ق َع ِظ ٍيم‬

“Dan sesungguhnya engkau berada di atas akhlak yang agung.” (QS. Al-
Qalam[68]: 4)

Dan dahulu Nabi kita ‘Alaihish Shalatu was Salam adalah manusia yang
paling baik akhlaknya, paling sempurna adabnya, paling baik pergaulannya,
paling indah muamalahnya, semoga shalawat dan salam senantiasa tercurahkan
kepada beliau. Beliau adalah contoh bagi seluruh hamba dalam segala akhlak
yang baik, segala adab yang indah dan segala muamalah yang baik. Allah ‘Azza
wa Jalla berfirman:

﴾٢١﴿ ‫يرا‬ َ ‫سو ِل اللَّـ ِه أُس َْوة ٌ َح‬


ً ِ‫سنَةٌ ِلِّ َمن َكانَ يَ ْر ُجو اللَّـهَ َو ْاليَ ْو َم ْاْل ِخ َر َوذَك ََر اللَّـهَ َكث‬ ُ ‫لَّقَدْ َكانَ لَ ُك ْم فِي َر‬

13
“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah bagi kalian contoh yang baik bagi
orang yang mengharap pertemuan dengan Allah dan hari akhir dan mengingat
Allah dengan dzikir yang banyak.” (QS. Al-Ahzab[33]: 21)

Bab akhlak dalam syariat Islam adalah bab yang sangat luas, tidak khusus
dalam pergaulan sesama makhluk. Akan tetapi akhlak dan adab juga antara
seorang hamba dan Tuhannya. Juga dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa
Sallam dan akhlak juga di antara sesama manusia.

Maka dari itu seluruh orang yang beribadah menyembah kepada selain
Allah Subhanahu wa Ta’ala, berarti dia adalah orang yang paling buruk
akhlaknya. Dimana akhlak orang yang Allah Subhanahu wa Ta’ala ciptakan,
Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan dia rizki, Allah karuniakan kepadanya begitu
banyak nikmat, kemudian dia berdo’a kepada selain Allah, memalingkan ibadah
kepada selain Allah.

Maka orang musyrik adalah orang yang paling buruk akhlaknya, karena
kesyirikan adalah bagian dari akhlak yang buruk. Bahkan kesyirikan adalah
seburuk-buruknya akhlak. Maka seseorang tidak boleh tertipu dengan pergaulan
baik yang dilakukan oleh sebagian orang kafir. Karena hal itu mereka lakukan
demi maslahat dunia dan tujuan-tujuan dunia. Mereka sama sekali tidak
mengharapkan sesuatu di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala dan pahala pada hari
pertemuan denganNya.

Akhlak yang bermanfaat adalah akhlak yang dilakukan seseorang dengan


mengharapkan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala agar ia mendapatkan surga
dan derajat yang tinggi di akhirat nanti. Allah Ta’ala berfirman:

ً ‫ش ُك‬
﴾٩﴿ ‫ورا‬ ْ ُ‫إِنَّ َما ن‬
ُ ‫ط ِع ُم ُك ْم ِل َوجْ ِه اللَّـ ِه َال نُ ِريدُ ِمن ُك ْم َجزَ ا ًء َو َال‬

“Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk


mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan
tidak pula (ucapan) terima kasih.” (QS. Al-Insan[76]: 9)

14
Bukan seorang yang berakhlak tapi mengharapkan balasan di dunia. Oleh
karena itu Nabi kita ‘Alaihish Shalatu was Salam pernah bersabda:

‫اص ُل ِبال ُمكَا ِف ِئ‬


ِ ‫الو‬ َ ‫لَي‬
َ ‫ْس‬

“Bukanlah orang yang menyambung silaturahmi jika sekedar membalas orang


lain.” (HR. Bukhari)

Adapun orang-orang yang bergaul dengan manusia dengan akhlak yang


baik akan tetapi dengan tujuan dunia, dia tidak akan mendapatkan dari dunianya
kecuali apa yang telah dituliskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuknya. Dan
dia tidak akan mendapatkan balasan di akhirat.

Bahkan dia akan menemukan hal yang buruk disebabkan dia hanya menginginkan
balasan dari orang lain. Karena diantara manusia banyak yang tidak mampu untuk
membalas kebaikan bahkan tidak mampu membalas kebaikan dengan kebaikan.
Diantara mereka ada yang akhlaknya sangat buruk. Apabila seseorang berbuat
baik kepadanya, sebaliknya dia berbuat buruk kepada orang tersebut. Seorang
yang baik adalah orang yang tidak menunggu balasan dari manusia jika dia
berbuat baik kepada mereka. Akan tapi dia hanya mengharapkan pahala dari Allah
Subhanahu wa Ta’ala.

Oleh karena itu hadits-hadits yang menjelaskan atau menganjurkan untuk


berakhlak dengan akhlak yang baik menyebutkan balasan akhlak tersebut akan
didapatkan pada hari kiamat. Yaitu dengan dimasukkannya ke dalam surga atau
mendapatkan derajat yang tinggi di akhirat nanti. Dan semakin baik akhlak
seseorang karena ia mengharapkan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka
akan semakin besar balasan dan pahala yang akan dia dapatkan dari Allah
Subhanahu wa Ta’ala.

15
Maka apabila seorang berakhlak tidak mengharapkan pahala dari Allah
Subhanahu wa Ta’ala akan tetapi hanya mengharapkan tujuan-tujuan dunia,
amalan tersebut tidak termasuk dalam amal shalih yang dia lakukan. Karena
diantara syarat diterimanya suatu amalan adalah seorang mengharapkan balasan
dan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Intinya, bahwasanya akhlak mempunyai kedudukan yang sangat tinggi di


agama kita dan Syaikh bin Baz Rahimahullah dalam kitab ini hanya ini
menyebutkan sebagian dari akhlak-akhlak yang baik yang sebaiknya atau
seharusnya seorang Muslim bersifat dengan akhlak-akhlak tersebut.

Berkata Syaikh bin Baz Rahimahullah bahwa berakhlak dengan akhlak


yang disyariatkan dalam Islam. Kemudian beliau mulai menyebutkan beberapa
akhlak-akhlak yang disyariatkan dalam Islam, tapi beliau tidak membatasi akhlak-
akhlak ini dari apa yang beliau Sebutkan saja.

 JUJUR

Beliau mengatakan bahwa diantaranya adalah jujur. Jujur adalah salah satu akhlak
yang paling agung dalam Islam. Dan disebutkan dalam banyak ayat keutamaan
orang-orang yang jujur. Diantaranya firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu:

َّ ‫يَا أَيُّ َها الَّذِينَ آ َمنُوا اتَّقُوا اللَّـهَ َو ُكونُوا َم َع ال‬


﴾١١٩﴿ َ‫صا ِدقِين‬

“Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan jadilah kalian
bersama dengan orang-orang yang jujur.” (QS. At-Taubah[9]: 119)

Juga dalam hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam beliau bersabda:

‫ َويَتَ َح َّرى‬،‫صد ُُق‬ ْ َ‫ َو َما يَزَ ا ُل ال َّر ُج ُل ي‬،‫ َو ِإ َّن ْالبِ َّر يَ ْهدِي إِلَى ْال َجنَّ ِة‬،‫صدْقَ يَ ْهدِي إِلَى ْالبِ ِ ِّر‬
ِّ ِ ‫ فَإ ِ َّن ال‬،‫ق‬ ِّ ِ ‫َعلَ ْي ُك ْم بِال‬
ِ ْ‫صد‬
‫صدِِّيقًا‬ َ ‫ َحتَّى يُ ْكت‬، َ‫صدْق‬
َّ َ‫َب ِع ْند‬
ِ ِ‫َّللا‬ ِّ ِ ‫ال‬

16
“Hendaklah kalian selalu jujur karena kejujuran menghantarkan kepada kebaikan
dan sesungguhnya kebaikan mengantarkan kepada surga dan senantiasa seorang
berjujur dan berusaha untuk jujur sampai ditulis di sisi Allah sebagai orang yang
sangat jujur.”

Dan kejujuran yang paling tinggi kedudukannya adalah kejujuran dengan


Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

َ ‫ِ ِّمنَ ْال ُمؤْ ِمنِينَ ِر َجا ٌل‬


َ َ‫صدَقُوا َما َعا َهدُوا اللَّـه‬
‫علَ ْي ِه‬

“Di antara orang-orang beriman ada orang-orang yang mereka jujur melaksanakan
apa yang mereka janjikan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (QS. Al-
Ahzab[33]: 23)

Dia jujur kepada Allah dalam tauhidnya, dalam imannya, dalam ibadahnya
kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Nabi kita ‘Alaihish Shalatu was Salam
bersabda:

َّ ُ‫صدْقًا ِم ْن قَ ْل ِب ِه ِإالَّ َح َّر َمه‬


ِ َّ‫َّللاُ َعلَى الن‬
‫ار‬ ُ ‫َّللاُ َوأ َ َّن ُم َح َّمدًا َر‬
َّ ‫سو ُل‬
ِ ِ‫َّللا‬ َّ َّ‫َما ِم ْن أَ َح ٍد يَ ْش َهدُ أ َ ْن الَ ِإلَهَ ِإال‬

“Tidaklah seorang menyaksikan bahwasanya tidak ada Ilah yang berhak disembah
kecuali Allah dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah jujur dari hatinya
kecuali Allah mengharamkan atasnya neraka.” (HR. Bukhari)

Maka laa ilaha illallah yang merupakan cabang keimanan yang paling
tinggi dan rukun Islam yang paling agung tidak akan diterima kecuali dengan
kejujuran. Dalam hadits disebutkan:

‫صدْقًا ِم ْن قَ ْلبِ ِه‬


ِ

“Jujur dari hatinya.”

17
Yang dimaksud dengan jujur yaitu sesuai apa yang diucapkan dengan
dengan apa yang ada di dalam hati. Ketika seseorang mengucapkan dengan
lisannya, maka hal tersebut sesuai dengan apa yang ada di hatinya. Adapun jika
berbeda antara yang dia tampakkan dan dia sembunyikan, maka ini adalah
kemunafikan. Dan kemunafikan bisa jadi kemunafikan yang besar atau juga
kemunafikan yang kecil tergantung dengan perbedaan antara yang dia tampakkan
dan dia sembunyikan. Jika dia menampakkan keimanan dan menyembunyikan
kekufuran, maka ia adalah kemunafikan yang besar. Namun apabila dia
menampakan bahwasanya ia menepati janji akan tetapi ia menyembunyikan
kebohongan atau menyembunyikan khianat, maka ini termasuk nifaq asghar. Nabi
kita ‘Alaihish Shalatu was Salam pernah bersabda:

َ َ‫ َوإِذَا َو َعدَ أ َ ْخل‬،‫ب‬


َ‫ َوإِذَا اؤْ ت ُ ِمنَ خَان‬،‫ف‬ َ َ‫َّث َكذ‬
َ ‫ إِذَا َحد‬:‫ث‬ ِ ِ‫آيَةُ ْال ُمنَاف‬
ٌ ‫ق ث َ ََل‬

“Tanda-tanda kemunafikan ada tiga; jika ia berbicara ia berdusta, jika ia berjanji


ia mengingkari dan apabila dia diberi amanah ia berkhianat.” (HR. Bukhari,
Muslim)

Jika kebohongan adalah tanda-tanda kemunafikan, maka kejujuran adalah


tanda-tanda keimanan. Maka wajib bagi setiap Muslim untuk menjadi orang yang
jujur dan hendaklah kejujuran itu menjadi sifat yang selalu berada pada dirinya
agar ia mendapatkan janji Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Allah janjikan kepada
hamba-hambaNya yang selalu berbuat jujur.

 AMANAH

Berkata Syaikh bin Baz Rahimahullah bahwa diantara akhlak yang disyariatkan
dalam Islam yaitu amanah -bertanggung jawab-. Amanah mempunyai kedudukan
yang sangat tinggi di agama kita. Allah ‘Azza wa Jalla menawarkan amanah
tersebut kepada langit dan bumi. Maka semuanya merasa khawatir untuk
memikulnya dikarenakan besarnya perkara itu. Allah berfirman:

18
َ‫سانُ ۖ إِنَّهُ َكان‬ ِ ْ ‫ض َو ْال ِجبَا ِل فَأَبَيْنَ أَن يَحْ ِم ْلنَ َها َوأَ ْشفَ ْقنَ ِم ْن َها َو َح َملَ َها‬
َ ‫اْلن‬ ِ ‫ت َو ْاْل َ ْر‬ َّ ‫ضنَا ْاْل َ َمانَةَ َعلَى ال‬
ِ ‫س َم َاوا‬ ْ ‫إِنَّا َع َر‬
﴾٧٢﴿ ‫وال‬ ً ‫ظلُو ًما َج ُه‬
َ

“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi dan gunung-
gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir
akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya
manusia itu amat zalim dan amat bodoh,” (QS. Al-Ahzab[33]: 73)

Makna dari amanah secara umum adalah mencakup seluruh perkara


agama. Karena Allah ‘Azza wa Jalla telah menciptakan hamba-hambaNya agar
mereka beribadah kepadaNya dan Allah menciptakan mereka agar mereka taat
kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dan amanah ini wajib dilakukan oleh setiap manusia, wajib untuk dijaga, wajib
untuk diperhatikan. Dan manusia terbagi menjadi tiga bagian dalam memikul
amanah ini. Allah ‘Azza wa Jalla menjelaskan dalam lanjutan ayat tadi:

ِ ‫علَى ْال ُمؤْ ِمنِينَ َو ْال ُمؤْ ِمنَا‬


ُ‫ت ۗ َو َكانَ اللَّـه‬ َ ُ‫وب اللَّـه‬ ِ ‫ت َو ْال ُم ْش ِركِينَ َو ْال ُم ْش ِركَا‬
َ ُ ‫ت َويَت‬ ِ ‫ب اللَّـهُ ْال ُمنَافِقِينَ َو ْال ُمنَافِقَا‬
َ ِّ‫ِلِّيُعَ ِذ‬
﴾٧٣﴿ ‫ورا َّر ِحي ًما‬ ً ُ‫َغف‬

“sehingga Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan


orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan; dan sehingga Allah menerima
taubat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan adalah Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab[33]: 74)

Tiga bagian tersebut adalah:

 orang yang mengaku menjaga amanah dalam apa yang mereka


tampakkan akan tetapi mereka menyembunyikan kemunafikan

19
 orang-orang yang menyia-nyiakan amanah secara lahir maupun batin,
baik ia nampakkan maupun ia sembunyikan. Dan mereka adalah
orang-orang musyrik
 orang-orang yang menjaga amanah secara lahir dan batin baik ketika
sembunyi maupun ketika kelihatan dan mereka adalah orang-orang
yang beriman.

Diantara bentuk amanah adalah menjaga hak-hak hamba Allah Subhanahu


wa Ta’ala, menepati janji mereka, dan hal-hal yang lain. Kemudian, panca indra
manusia semuanya adalah amanah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah akan
bertanya tentang panca indera tersebut pada hari kiamat. Allah ‘Azza wa Jalla
berfirman:

ً ُ ‫ص َر َو ْالفُ َؤادَ ُك ُّل أُولَ ٰـئِكَ َكانَ َع ْنهُ َم ْسئ‬


﴾٣٦﴿ ‫وال‬ َ َ‫س ْم َع َو ْالب‬
َّ ‫إِ َّن ال‬

“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semua akan ditanya oleh


Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (QS. Al-Isra'[17]: 36)

Harta juga adalah amanah yang akan ditanyakan pada hari kiamat nanti.
Anak-anak adalah amanah. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

‫﴾ َوا ْعلَ ُموا أَنَّ َما أ َ ْم َوالُ ُك ْم‬٢٧﴿ َ‫سو َل َوت َ ُخونُوا أَ َمانَاتِ ُك ْم َوأَنت ُ ْم تَ ْعلَ ُمون‬ َّ ‫يَا أَيُّ َها الَّذِينَ آ َمنُوا َال ت َ ُخونُوا اللَّـهَ َو‬
ُ ‫الر‬
﴾٢٨﴿ ‫َوأ َ ْو َالد ُ ُك ْم فِتْنَةٌ َوأ َ َّن اللَّـهَ ِعندَهُ أَجْ ٌر َع ِظي ٌم‬

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan


RasulNya dan janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan
kepadamu, sedang kamu mengetahui. Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-
anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala
yang besar.” (QS. An-Anfal[8]: 28)

20
 MENJAGA KESUCIAN

Menjaga kesucian yaitu dengan cara meninggalkan yang diharamkan, menjaga


diri dari perbuatan dosa-dosa dan maksiat. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

ِ ‫َو ْل َي ْست َ ْع ِف‬


ْ َ‫ف الَّذِينَ َال َي ِجد ُونَ نِكَا ًحا َحت َّ ٰى يُ ْغ ِن َي ُه ُم اللَّـهُ ِمن ف‬
‫ض ِل ِه‬

“Hendaklah menjaga diri orang-orang yang belum mampu untuk menikah sampai
Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan karunia kepadanya.” (QS. An-Nur[24]:
33)

Dan barangsiapa yang belum mampu untuk menikah hendaklah dia menjaga
kesuciannya dan menjauhi perbuatan-perbuatan haram dengan niat ketaatan
kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan karena bertakwa kepadaNya.

3. Ruang Lingkup Akhlak

Secara umum, ada lima hal yang termasuk di dalam ruang lingkup akhlak
seseorang di masyarakat.

1. Akhlak Pribadi; yaitu perilaku pribadi seseorang dalam menyikapi


segala hal yang menyangkut dengan dirinya sendiri. Misalnya
motivasi, etika, kreativitas, emosi, dan lain sebagainya.
2. Akhlak Berkeluarga; yaitu perilaku seseorang dalam menyikapi
hubungan dengan keluarganya, meliputi kewajiban orang tua, anak,
dan kerabat. Misalnya etika kepada orang tua, tanggungjawab orang
tua terhadap anak-anaknya, dan lain-lain.
3. Akhlak Bermasyarakat; yaitu perilaku seseorang dalam menyikapi
hubungannya dengan anggota masyarakat yang ada di sekitarnya.
Misalnya kehidupan masyarakat yang saling membantu, saling
menghargai antar tetangga di sekitarnya, dan lain sebagainya.

21
4. Akhlak Bernegara; yaitu tingkah laku dan tindakan seseorang dalam
menyikapi hubungannya dengan negara dan bangsanya. Misalnya
membayar pajak demi pembangunan, menjaga kerukunan dan
keutuhan bangsa, dan lain sebagainya.
5. Akhlak Beragama; yaitu tingkah laku dan tindakan seseorang dalam
melaksakanan kewajibannya terhadap kepercayaannya, baik itu
kepada Tuhan maupun kepada sesama manusia.

Akhlak dapat digolongkan menjadi dua bagian, yaitu akhlak terpuji dan
akhlak tercela. Mengacu pada pengertian akhlak di atas, adapun penggolongan
akhlak adalah sebagai berikut:

1. Akhlak Terpuji

Akhlak terpuji adalah sifat dan perilaku seseorang kepada orang lain yang
dilakukan sesuai dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat.

Beberapa yang termasuk dalam kategori akhlak terpuji:

 Sikap jujur; yaitu perilaku di dalam diri seseorang yang mau


mengungkapkan sesuatu yang sebenarnya dengan tujuan tidak
mendatangkan kerugian bagi dirinya dan orang lain.
 Perilaku baik; yaitu reaksi psikis seseorang dalam merespon hal-hal yang
berada di sekitarnya dengan cara yang terpuji.
 Rasa malu; yaitu bentuk emosi negatif di dalam diri seseorang sehingga
membuat orang tersebut meninggalkan perbuatan-perbuatan tercela yang
dapat membuatnya malu.
 Rendah hati; yaitu sifat pribadi seseorang yang selalu memposisikan
dirinya sederajat dengan orang lain dan tidak merasa lebih tinggi dari
orang lain.
 Murah hati; yaitu sifat seseorang yang mudah memberi kepada orang lain
tanpa ada keinginan untuk pamer atau pamrih.
22
2. Akhlak Tercela

Akhlak tercela adalah sifat dan perilaku seseorang kepada orang lain yang
cenderung melanggar norma-norma yang berlaku di masyarakat. Beberapa yang
termasuk dalam kategori akhlak tercela:

 Suka mencuri; yaitu sifat dan perbuatan seseorang yang mengambil hak
milik orang lain tanpa seijin dari pemiliknya.
 Pemarah; sifat seseorang yang mudah marah ketika sesuatu tidak sesuai
dengan keinginannya.
 Pembohong; sifat seseorang yang suka berbohong kepada orang lain
dengan tujuan tertentu.
 Fitnah; komunikasi kepada satu orang atau lebih yang bertujuan untuk
memberikan stigma negatif terhadap pihak lain berdasarkan atas fakta
palsu yang dapat memengaruhi penghormatan.

 MUAMALAH

A. Pengertian Muamalah

Secara bahasa kata muamalah berasal dari kata bahasa arab ‘amala –yu’amilu
– mu’amalatan. Kata tersebut memiliki arti saling bertindak, saling berbuat atau
saling mengamalkan. Kata “saling” dalam kamus besar bahasa indonesia
merupakan kata yang menerangkan perbuatan yang berbalas-balasan. Sehingga
secara bahasa pengertian muamalah menunjukkan dimensi sosial ajaran islam,
melalui interaksi antar individu.

Sedangkan, pengertian muamalah secara istilah tidak berbeda jauh dengan


pengertian muamalah secara bahasa. Namun, saat ini terdapat pergeseran
pengertian mumalah dalam kehidupan sehari-hari. Yaitu, definisi umum dan
definisi khusus muamalah.

23
 Definisi umum – merupakan pengertian muamalah yang lebih luas.
Muamalah adalah peraturan-peraturan Allah subhanahu wa ta’ala
yang harus diikuti dan ditaati dalam hidup bermasyarakat. Contoh
muamalah dalam kehidupan sehari-hari berdasarkan definisi ini
meliputi interaksi hidup bertetangga atau berteman.
 Definisi khusus – merupakan pengertian muamalah yang lebih
spesifik, yaitu aturan-aturan Allah yang mengatur hubungan manusia
dengan manusia dalam memperoleh dan mengembangkan harta. Atau
secara sederhananya, muamalah merupakan serangkaian aturan dalam
kegiatan ekonomi yang dilakukan manusia.
B. Prinsip muamalah

Berikut ini adalah beberapa prinsip muamalah yang perlu diperhatikan agar
tujuan muamalah dapat tercapai.

1 Hukum muamalah mubah – pada dasarnya segala bentuk muamalah


hukumnya adalah boleh. Kecuuali aktivitas atau perbuatan muamalah
yang dilarang dalam Al-quran dan Al-hadist. Hal ini memberikan
kesempatan dan peluang untuk terciptanya aneka muamalah baru
sesuai perkembangan zaman.
2 Atas dasar sukarela – pengertian muamalah dalam islam bermakna
saling berbuat, dengan ketentuan tidak ada paksaan diantara pihak
yang saling melakukan perbuatan muamalah tersebut. Hal ini
menjamin kebebasan para pihak dalam memilih meneruskan atau
menghentikan transaksi, salah satu contohnya adalah praktek macam-
macam khiyar dalam jual beli.
3 Mendatangkan manfaat, menghindari mudharat – hal ini mengarahkan
para pihak yang bermuamalah unutk menghindari perbuatan yang sia-
sia dan mubazir. Serta mewaspadai potensi risiko yang akan terjadi.

24
4 Memelihara nilai keadilan – muamalah yang dilakukan adalah
perbuatan yang menghindari unsur-unsur penganiayaan dan
penindasan. Dan juga mengambil kesempatan dalam kesulitan orang
lain.
C. Hukum Muamalah
a). Hukum Keluarga (Ahkam Al Ahwal Al-Syakhiyyah)

Merupakan hukum yang berkaitan dengan urusan keluarga yang bertujuan untuk
membangun dan memelihara keluarga sebagai bagian terkecil. Meliputi hukum
tentang hak maupun kewajiban suami, istri, dan anak

b). Hukum Perdata (Al Ahkam Al Maliyah)

Merupakan hukum yang mengatur hubungan individu-individu dalam


bermuamalah serta bentuk-bentuk hubungannya, seperti jual beli, sewa-menyewa,
hutang piutang, perjanjian, dan lain sebagainya. Jadi hukum perdata berkaitan
dengan kekayaan dan hak-hak atas pemeliharaannya

c). Hukum Pidana (Al-Ahkam Al-Jinaiyyah)

Merupakan hukum yang berkaitan dengan segala bentuk kejahatan, pelanggaran


hukum dan ketentuan sanksi-sanksi hukumnya. Tujuannya adalah untuk menjaga
ketentraman dan keamanan hidup umat manusia termasuk harta kekayaannya,
kehormatannya, dan membatasi hubungan antara pelaku tindak pidana kejahatan
dengan masyarakat maupun korban.

d). Hukum Acara (Al-Ahkam Al-Murafa’at)

Definisi hukum acara adalah hukum yang berkaitan dengan sumpah, persaksian,
tata cara mempertahankan hak dan memutuskan siapa yang terbukti bersalah,
sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku. Pada hukum ini bertujuan untuk
mengatur dan merealisasikan keadilan di dalam kehidupan masyarakat.

25
e). Hukum Perundang-Undangan (Al-Ahkam Al-Dusturiyyah)

Merupakan hukum yang berkaitan dengan perundang-undangan yang berlaku


untuk membatasi hubungan hakim dengan terhukum serta menetapkan hak-hak
perorangan dan kelompok.

f). Hukum Kenegaraan (Al-Ahkam Al-Duwaliyyah)

Merupakan hukum yang berkaitan dengan hubungan antara penguasa


(pemerintah) dengan rakyatnya, hubungan antar kelompok masyarakat dalam
suatu negara maupun antar negara. Hukum ini bertujuan untuk mengatur
mengatur hubungan di antara umat Islam dengan yang lainnya yang ada dalam
suatu Negara, hubungan pemerintah dan rakyatnya serta hubungan yang terjadi
antar negara pada masa damai dan masa perang.

g). Hukum Keuangan dan Ekonomi (Al-Ahkam Al-Iqtishadiyyah Wa Al-


Maliyyah)

Merupakan hukum yang berkaitan dengan hak-hak dari fakir miskin di dalam
harta orang kaya, mengatur sumber keuangan negara, pendistribusian serta
permasalahan pembelanjaan negara dalam rangka untuk kepentingan
kesejahteraan rakyatnya.

D. Menurut Alqur’an

Ayat Alquran tentang muamalah yang sesuai kondisi ini, yaitu :

َ ُ‫اض ِم ْن ُك ْم ۚ َو َال ت َ ْقتُلُوا أَ ْنف‬


‫س ُك ْم ۚ إِ َّن‬ ِ َ‫يَا أَيُّ َها الَّذِينَ آ َمنُوا َال ت َأ ْ ُكلُوا أ َ ْم َوالَ ُك ْم بَ ْي َن ُك ْم بِ ْالب‬
َ ‫اط ِل إِ َّال أ َ ْن تَ ُكونَ تِ َج‬
ٍ ‫ارة ً َع ْن ت ََر‬
‫َّللاَ َكانَ ِب ُك ْم َر ِحي ًما‬ َّ

Arti: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta
sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku
dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu;
sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.

26
E. Berdasarkan Ilmu Fiqih

Sedangkan pengertian fiqih muamalah adalah ilmu yang berkaitan dengan


muamalah, yaitu kegiatan atau transaksi yang berdasarkan aturan-aturan dan
hukum-hukum syariat, yang berkaitan dengan perilaku manusia dalam
kehidupannya dan didasari oleh dalil-dalil Islam secara rinci. Ruang lingkup fiqh
muamalah adalah meliputi seluruh kegiatan muamalah manusia yang berupa
perintah-perintah maupun larangan-larangan dalam bermuamalah, berdasarkan
hukum-hukum Islam seperti wajib, sunnah, halal, haram, makruh dan mubah.

F. Hal-hal yang di perintahkan untuk dilakukan.


1 Objek perniagaan halal
2 Adanya kerelaan (arridhaiyyah)
3 Pengurusan yang amanah
G. Hal-hal yang Dilarang untuk Dilakukan
1 Riba

Riba Menurut Imam Hambali riba adalah tambahan pada sesuatu yang
dikhususkan. Abu hanifah mendefinisikan, melebihkan harta dalam suatu
transaksi dengan tanpa pengganti atau imbalan.

2 Gharar atau Taghrir

Gharar atau Taghrir Merupakan suatu keadaan atau situasi dimana tidak jelas
mengenai objek atau transaksi yang dijalankan dalam kegiatan usaha

3 Tadlis (penipuan)

Tadlis (Penipuan) Merupakan penipuan atas adanya kecacatan dari barang yang
diperjual belikan. Bentuk tadlis bisa terjadi pada kuantitas dan kualitas barang

27
4 Ghabn (penipuan pada harga barang)

Ghabn (Penipuan pada Harga Barang) • Ghabn adalah membeli sesuatu dengan
harga yang lebih tinggi dari harga rata-rata atau dengan harga yang lebih rendah
dari harga rata-rata

5 Risywah (suap)

Risywah (suap) • Yaitu memberikan sesuatu kepada orang lain untuk memberikan
pelayanan dan bantuan ekstra yang seharusnya menjadi tugas, tanggungjawab,
dan kewajiban pemberi pelayanan tersebut

H. Ruang Lingkup Muamalah

Pada ruang lingkup fiqih muamalah meliputi seluruh kegiatan muamalah manusia
berdasarkan hukum-hukum Islam, baik berupa perintah maupun larangan-
larangannya yang terkait dengan hubungan manusia dengan manusia lainnya.

Muamalah dibagi menjadi dua jenis, yaitu muamalah adabiyah dan madiyah.

1 Muamalah Adabiyah

Penjelasan muamalah adabiyah adalah muamalah yang berkaitan dengan


bagaimana cara tukar menukar benda ditinjau dari segi subjeknya, yaitu manusia.
Muamalah adabiyah mengatur tentang batasan-batasan yang boleh dilakukan atau
tidak boleh dilakukan oleh manusia terhadap benda yang berkaitan dengan adab
dan akhlak, seperti kejujuran, kesopanan, menghargai sesama, saling meridhoi,
dengki, dendam, penipuan dan segala sesuatu yang berkaitan dengan aktivitas
manusia dalam hidup bermasyarakat dalam mengelola suatu benda

Pada muamalah adabiyah memberikan panduan yang syara’ bagi perilaku


manusia untuk melakukan tindakan hukum terhadap sebuah benda. Semua
perilaku manusia harus memenuhi prasyarat etis normatif sehingga perilaku
tersebut dianggap layak untuk dilakukan.

28
2 Muamalah Madiyah

Sedangkan muamalah madiyah adalah muamalah yang berkaitan dengan objek


muamalah atau bendanya. Muamalah madiyah menetapkan aturan secara syara’
terkait dengan objek bendanya. Apakah suatu benda halal, haram, dan syubhat
untuk dimiliki, diupayakan dan diperjualbelikan, apakah suatu benda bisa
menyebabkan kemaslahatan atau kemudharatan bagi manusia, dan beberapa segi
lainnya.

Dengan kata lain, muamalah madiyah bertujuan untuk memberikan panduan


kepada manusia bahwa dalam memenuhi kebutuhan hidupnya yang bersifat
kebendaan dan bersifat sementara bukan sekedar memperoleh keuntungan semata,
tetapi juga bertujuan untuk memperoleh ridha Allah SWT, dengan cara
melakukan muamalah sesuai dengan aturan main yang sesuai dengan aturan-
aturan yang ditetapkan secara syara’.

Ruang lingkup muamalah yang bersifat madiyah antara lain adalah sebagai
berikut:

 Jual-beli ( bai’ )
 Gadai ( rahn )
 Sewa menyewa tanah (mukhabarah)
 Upah (ujral al-amah)
 Gugatan (asy syuf’ah)
 Sayembara (al ji’alah)
 Pemberian (al hibbah)
 Pembebasan (al ibra’), damai (ash shulhu)

29
BAB III

PENUTUP

Sumber aqidah islam adalah Al-Qur’an dan As Sunnah artinya informasi apa saja
yang wajib diyakini hanya diperoleh melalui Al-Qur’an dan As Sunnah. Al-
Qur’an memberikan penjelasan kepada manusia tentang segala sesuatu.
Sedangkan akal fikiran bukanlah merupakan sumber aqidah, dia hanya berfungsi
untuk memahami nash-nash (teks) yang terdapat dalam kedua sumber tersebut dan
mencoba membuktikan secara ilmiah kebenaran yang disampaikan oleh Al-
Qur’an dan As Sunnah (jika diperlukan). Itupun harus didasari oleh semua
kesadaran bahwa kemampuan akal manusia sangat terbatas. Dalam ajaran Islam,
aqidah memiliki kedudukan yang sangat penting. Ibarat suatu bangunan, aqidah
adalah pondasinya, sedangkan ajaran Islam yang lain, seperti ibadah dan akhlaq,
adalah sesuatu yang dibangun di atasnya. Rumah yang dibangun tanpa pondasi
adalah suatu bangunan yang sangat rapuh. Tidak usah ada gempa bumi atau badai,
bahkan untuk sekedar menahan atau menanggung beban atap saja, bangunan
tersebut akan runtuh dan hancur berantakan. Hubungan Aqidah dengan semua
ibadah yang kita lakukan tidak akan ada gunanya jika tidak dilandasi dengan
aqidah yang kuat dan kokoh. Ibarat sebuah bangunan, tidak ada gunanya kita
membangun bangunan yang megah jika pondasi yang kita bangun tidak kokoh,
pastinya bangunan itu akan roboh.

30
DAFTAR PUSTAKA

Read more https://almanhaj.or.id/2267-pengertian-ibadah-dalam-islam.html

Telegram Rodja OfficialPELAJARAN PENTING UNTUK UMATPengertian Akhlak, Macam-


Macam Akhlak dan Dalil Tentang Akhlak

https://www.slideshare.net/yusvaferdi/konsep-muamalah-dalam-islam

31