Anda di halaman 1dari 2

Nama : R.

Muhammad Herdian Rosnawanto


NIM : 01689190007
Tugas : Filsafat dan Etika Komunikasi

Menjamurnya Sarana Komunikasi

Terbentuknya sistem media yang beragam dan kompetitif mempengaruhi media


komunikasi politik. Sistem media komunikasi politik ini diwarnai oleh tiga hal: pertama,
kelahiran berbagai bentuk jurnalistik. Kedua, teknologi ini memungkinkan tersedianya
setiap saat berita baru melalui sistem penyebaran internet dan sumber informasi
lainnya. Ketiga, sistem komunikasi, organisasi, dan aliran komunikasi massa tidak lagi
didefenisikan oleh batas-batas negara. Teknologi satelit memperluas dan
mempercepat penayangan kejadian ke seluruh penjuru dunia.

Tersedia informasi, semakin mudahnya akses, luasnya sumber informasi, mudahnya


mekanisme pertukaran pendapat/informasi mengubah harapan masyarakat dan
meningkatkan kesadaran kritis mereka. Semakin banyak pula saluran yang memberi
banyak pilihan kepada masyarakat untuk mengikuti politik, tidak hanya pemerintah
saja. Politik harus bersaing pula dengan proglam lainyang tidak kalah menariknya,
seperti hiburan, olahraga, selebriti, dan mode.

Jurnalisme politik harus mampu bersaing untuk merebut hati para audiencenya.
Karena semakin luasnya ranah jurnalisme, bentuk persaingan itu memacu semakin
banyak pemain yang terlibat atau para pembuat berita dalam jurnalisme politik:
narasumber, wartawan investigatif, tabloid, website, dan rakyat biasa.

Betapapun prioritas pada orientasi keuntungan, suatu media masih tetap


membutuhkan legitimasi yang hanya bisa didapat jika ada manfaat publik. Jika tidak
sepenuhnya benar pernyataan yang mengatakan bahwa media di bawah kontrol
pemerintah hanya melayani pemerintah dan media swasta hanya melayani
kepentingan pemodal.

Pelayanan publik adalah semua kegiatan yang pemenuhannya harus dijamin, diatur,
dan diawasi oleh pemerintah karena pemenuhannya diperlukan untuk pewujudan dan
perkembangan saling ketergantungan sosial, dan pada hakikatnya, perwujudan sulit
terlaksana tanpa campur tangan kekuatan pemerintah (B. Libois, 2002: 139).
Pelayanan publik dapat dimengerti sebagai pengambilalihan tanggung-jawab oleh
kolektivitas atas sejumlah kekayaan, kegiatan atau pelayanan yang harus lepas dari
logika kepemilikan pribadi atau swasta dan harus dihindarkan dari tujuan melulu
mencari keuntungan.
Etika Komunikasi di Dalam Situasi Konflik

Orang sering menyembunyikan dan protes terhadap media massa tertentu karena
dianggap memanipulasi berita. Para pemimpin redaksi dan wartawan dihadapkan
dengan masalah pada situasi konflik. Mereka sering dituduh, disatu pihak, ikut
mengobarkan kebencian dan konflik melalui media, di lain pihak, berkat wartawan.
Orang mendapat informasi mengenai suatu kejadian.

Semua orang tahu peran media adalah mempunyai dan membentuk opini.
Membentuk opini dalam situasi konflik perlu diterjemahkan dalam perannya
meredakan ketegangan. Berita seharusnya mencerminkan peran juru bicara derita
kemanusiaan. Maka, toleransi perlu diciptakan. Toleransi dalam situasi konflik harus
lebih konkrit yaitu berpihak pada korban. Siapa pun korban itu kalau demi korban
harus dibela. Jika sudah amplop yang sudah berperan dalam pembusukan wartawan
atau redaksi. Pada situasi seperti ini, integritas moral dan sikap kritis jajaran redaksi
dan wartawan sedang di uji.

Salah satu kenyataan yang harus diperhitungkan adalah bahwa pers adalah
perusahaan. Koran, majalah atau informasi audiovisual yang memiliki, di satu pihak,
pemegang saham, dilain pihak, redaksi yang terdiri dari wartawan profesional. Cukup
sering kepentingan utama pemegang saham tidak sesuai dengan deontologi yang
mengatur profesi wartawan. Lebih-lebih kepentingan pemegang saham sangat
beragam. Ada yang lebih menekankan keberhasilan ekonomi, ada yang memberi
prioritas pada kepentingan politik, ada yang menekankan humanisme.

Ketegangan bisa mewarnai hubungan antara tim manajemen dan tim redaksi.
Orientasi pasar makin memperparah ketegangan dan merugikan upaya untuk
memberi prioritas pada kebenaran. Terjadi destabilisasi keseimbangan hubungan
antara penguasa keuangan dan intelektual. Media yang berkelangsungannya
dipertaruhkan dengan demikian akan mudah dikontrol. Media selain menghadapi
konflik intern juga mneghadapi tekanan dari berbagai institusi dan organisasi yang
merasa terancam dengan sikap kemandirian dan sikap kritisnya.

Sering kali opini sangat dipengaruhi oleh opini pembaca atau pemirsa, tidak hanya
pemilik saham. Pandangan ini ditegaskan oleh James Curran dengan alasan pemilik
media perlu mempertahankan kepentingan pembaca agar tetap diminati. Selanjutnya,
pemilik dan staf redaksi ingin mendapatkan legitimasi publik untuk menghindari sanksi
masyarakat. Alasan terakhir, media sangat dipengaruhi oleh kepribadian profesional
dari stagnya. Ketiga pertimbangan ini menunjukkan adanya kekuatan yang bisa
melawan subordinasi media oleh komitmen politik dan kepentingan ekonomi
pemegang saham.