Anda di halaman 1dari 25

LABORATORIUM MIKROBIOLOGI TERAPAN

PROGRAM STUDI S1 FARMASI


UNIVERSITAS MEGAREZKY MAKASSAR

LAPORAN LENGKAP
PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI TERAPAN

OLEH

KELOMPOK III
KELAS D/2018

PENANGGUNG JAWAB : NURFIDDIN FARID., S.Farm., M.Si

PROGRAM STUDI S1 FARMASI


FAKULTAS FARMASI TEKNOLOGI RUMAH SAKIT DAN INFORMATIKA
UNIVERSITAS MEGAREZKY
MAKASSAR
2019
LABORATORIUM MIKROBIOLOGI TERAPAN
PROGRAM STUDI S1 FARMASI
UNIVERSITAS MEGAREZKY MAKASSAR

LAPORAN LENGKAP
PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI TERAPAN

OLEH

KELOMPOK III
KELAS D/2018

PENANGGUNG JAWAB : NURFIDDIN FARID., S.Farm., M.Si

PROGRAM STUDI S1 FARMASI


FAKULTAS FARMASI TEKNOLOGI RUMAH SAKIT DAN INFORMATIKA
UNIVERSITAS MEGAREZKY
MAKASSAR
2019
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Sterilisasi adalah proses dengan metode tertentu dapat memberikan hasil akhir,

yaitu suatu bentuk keadaan yang tidak dapat ditunjukkan lagi adanya mikroorganisme

sterilisasi yang cukup banyak (Kaudah, dkk. 2017).

Prinsip faktor pelaksanaan dalam uji sterilisasi adalah bahwa bagian bahan yang

akan diuji ditempatkan dalam lingkungan yang dirancang sedemikian rupa, sehingga

tiap mikroorganisme yang ada dan hidup akan tumbuh. Tetapi dikrtahui bahwa

mikroorganisme tidak selalu berproduksi atau bervegetasi baik (spora) hanya dengan

menempatkannya dilingkungan yang diperkirakan baik (Leon, Lachman. 2012).

Uji sterilisasi dilakukan terhadap produk dari bahan yang sebelumnya telah

mengalami proses pensterilan yang tidak diberlakukan. Hasilnya membuktikan bahwa

prosedur sterilisasi dapat diulang secara efektif tetapi umumnya disetujui bahwa kontrol

yang dilaksanakan selama proses validasi memberikan jaminan lebih efektifnya proses

sterilisasi. Uji ini dilakukan terhadap sampel yang dipilih untuk memiliki keseluruhan

lot bahan tersebut. Sampel bisa diambil dari kemasan atau mudah akhir suatu produk,

atau sebagai bagian dari tangkibulk lainnya (Leon, Lachman. 2012).

Adapun uji sterilisasi adalah salah satu metode untuk melakukan uji terhadap

produk atau bahan yang sebelumnya telah mengalami proses pengsterilan yang telah

diberlakukan.

B. Maksud Percobaan

Untuk mengetahui ada tidaknya mikroorganisme pada alat-alat dan bahan yang

digunakan.
C. Tujuan Percobaan

Untuk mengetahui ada tidaknya mikroorganisme pada alat-alat dan bahan yang

akan digunakan pada pengujian sterilisasi.

D. Prinsip Percobaan

Untuk menentukan uji sterilisasi pada ruangan UV (Ultra Violet), LAF

(Laminary Air Flow) dan LAB secara aktif dan tidak aktif dengan menggunakan

pengujian sterilisasi.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Teori Umum

Sterilisasi dalam pengertian medis merupakan proses dengan metode tertentu

dapat memberikan hasil akhir, yaitu suatu bentuk keadaan yang tidak dapat ditunjukkan

lagi adanya mikroorganisme sterilisasi cukup banyak (Raudah, dkk. 2017).

Uji sterilisasi dilakukan terhadap produk dari bahan yang sebelumnya

mengalami proses pensterilan yang diberlakukan. Hasilnya membuktikan bahwa

prosedur sterilisasi dapat diulang secara efektif. Tetapi umumnya disetujui bahwa

kontrol yang dilaksanakan selama proses validasi memberikan jaminan lebih efektifnya

proses sterilisasi. Uji ini dilakukan terhadap sampel yang dipilih untuk memiliki

keseluruhan lot bahan tersebut. Sampel bisa diambil dari kemasan atau wadah akhir

suatu produk, atau sebagai bagian dari tangki bulk cairan atau dari bahan baik lainnya

(Leon, Lachman. 2008).

Uji sterilitas digunakan untuk menetapkan apakah suatu bahan/sediaan farmasi

yang diharuskan steril memenuhi syarat sesuai dengan uji sterilitas seperti yang tertera

pada masing-masing monografi, dimana untuk penggunaannya sesuai dengan prosedur

pengujian sterilitas sebagai bahan dari pengawasan suatu pabrik, seperti yang tertera

dalam sterilisasi da jaminan sterilitas bahan (Ditjen POM. 1995).

Steril adalah suatu keadaan dimana suatu zat bebas dari mikroba hidup, baik

yang patogen (menimbulkan penyakit) maupun apatogen/non patogen (tidak

menimbulkan penyakit), baik dalam bentuk vegetatif (siap untuk berkembang biak)

maupun dalam bentuk spora (dalam keadaan statis, tidak dapat berkembang biak, tetapi
melindungi diri dengan lapisan pelindung yang kuat) (Rahmadhani, Herlambang.

2015).

Syarat-syarat ruangan steril yaitu sebagai berikut : (Oetani.R.A. 2008).

1. Jumlah partikel berukuran 0,5 mikron tidak lebih dari 350.000 partikel.

2. Jumlah jasad renik tidak lebih dari 100 per meter kubik udara.

3. Suhu 18 - 22° C.

4. Kelembapan 35 - 5%.

5. Dilengkapi Hight Efficiency Porticulate Air (HEPA) filter 10.

6. Tekanan udara didalam ruangan lebih positif daripada tekanan udara diluar ruangan.

7. Pass box adalah tempat masuk dari keluarnya alat kesehatan dan bahan obat

sebelum dan sesudah dilakukan pencampuran. Pass box terletak diantara ruang

persiapan dan ruang steril.

Adapun beberapa metode sterilisasi yaitu : (Darmadi. 2008).

1. Metode uap panas bertekanan tinggi

a. Prinsip dasar

Uap panas pada suhu, tekanan, dan waktu pernapasan tertentu mampu

membunuh mikroba patogen dengan cara denaturasi protein dari enzim dan

membran sel.

b. Teknik pelaksanaan

Alat yang digunakan adalah sebuah bejana tertutup yang dilengkapi dengan

monometer, termosfat dan pengatur tekanan. Dengan demikian suhu dan

tekanan uap panas dapat diatur.

2. Metode panas kering

a. Prinsip dasar
Melalui mekanisme konduksi, proses akan diabsorbsi oleh permukaan luar dari

peralatan yang steril. Lalu merambat ke bagian yang lebih dalam dari peralatan

tersebut sampai suhu untuk sterilisasi tercapai secara rata. Mikroba terbunuh

dengan cara oksidasi, dimana protein mikroba akan mengalami koagulasi.

b. Teknik pelaksaan

Sterilisasi ini menggunakan udara panas pada sebuah alat yang disebut oven,

sebuah bejana yang udara didalamnya harus dipanaskan.

B. Uraian Bahan

1. Alkohol (Ditjen POM, 1979)

Nama resmi : AETHANOLUM

Nama lain : Etanol

RM/BM : C6H6O/ 47,06

Pemerian : Cairan mudah menguap, jernih tidak berbau, bau khas

dan menyebabkan rasa terbakar pada lidah, mudah

menguap, walaupun pada suhu rendah dan mendidih

pada suhu 78℃, mudah terbakar.

Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, dalam kloroform P dan

eter P.

Kegunaan : Sebagai pelarut dan juga dapat membunuh kuman.

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat, jauh dari api.

2. Aquadest (Ditjen POM, 1979)

Nama resmi : AQUADESTILLATA


Nama lain : Air ssuling

RM/BM : H2O/ 18,02

Rumus struktur : H-O-H

Pemerian : Cairan jernih tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak

mempunyai rasa.

Kelarutan : Sangat mudah larut dengan semua jenis larutan.

Kegunaan : Sebagai pelarut

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.

3. NA (Nutrient Agar)

a. Agar (Ditjen POM, 1979)

Nama resmi : AGAR

Nama lain : Agar-agar

Pemerian : Berkas potongan memanjang, tipis seperti selaput dan

perlekatan, atau bentuk keeping, serpihan atau butiran.

Jingga lemah kekuningan, abu-abu kekuningan

sampai kuning pucat atau tidak berwarna, tidak berbau

lemah, rasa lendir jika limbah liat, jika kering rapuh.

Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air, larut dalam air mendidih.

Kegunaan : Sebagai bahan pembuatan medium.

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.

Produksi : Difco TM, Bocton, Dickinson and company sparks,

MD 21152 USA.
b. Dextrose (Ditjen POM, 1979)

Nama resmi : DEXTRONUM

Nama lain : Glukosa, Dekstrosa

RM/BM : C6H2O6/ 180,06.

Pemerian : Hablu tidak berwarna, serbuk halus atau butiran putih,

tidak berbau, rasa manis.

Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, sangat mudah larut

dalam air mendidih, agak sukar larut dalam etanol

(95%).

Kegunaan : Sebagai sumber nutrient, yang spesifik untuk mikroba

jamur.

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.

Produksi : Difco TM, Bocton, Dickinson and company sparks,

MD 21152 USA.
BAB III

METODOLOGI PERCOBAAN

A. Alat dan Bahan

1. Alat

Adapun alat-alat yang digunakan pada percobaan ini adalah autoklaf, botol

semprot, benang godam, cawan petri, coloni counter, corong, erlenmeyer, gunting,

handscoon, inkubator, kapas kesehatan, kertas HVS, LAF (Laminary Air Flow),

lampu spiritus, lap kasar, lap halus, spoit 12 ml, UV (Ultra Violet).

2. Bahan

Adapun bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah alkohol 70 %,

aquadest, NA (Nutrient Agar) dan PDA (Potato Dextrosa Agar).

B. Cara Kerja

1. Pengujian pertama pada sterilisasi ruangan (lampu UV, LAF dan ruangan LAB)

tidak aktif.

a. Disediakan alat dan bahan yang akan digunakan.

b. Dimasukkan medium NA (Nutrient Agar) dan PDA (Potato Dextrosa Agar)

didalam masing-masing cawan petri yang sudah disiapkan.

c. Diambil masing-masing medium yang telah disiapkan, kemudian dimasukkan

didalam ruangan LAB, UV (Ultra Violet), dan LAF (Laminary Air Flow)

dengan keadaan cawan petri dibuka 1/3 bagian.

d. Didiamkan selama 15 menit.

e. Diambil cawan petri yang sudah didiamkan, dan dimasukkan kedalam inkubator

dengan suhu 37℃ selama 1 × 24 jam.

f. Diamti ada tidaknya koloni mikroba.


2. Pengujian kedua pada sterilisasi ruangan (lampu UV, LAF dan ruangan LAB) aktif.

a. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.

b. Dimasukkan medium NA (Nutrient Agar) dan PDA (Potato Dextrosa Agar)

didalam masing-masing cawan petri yang sudah disiapkan.

c. Diberikan ruang LAB, UV dan LAF dengan disemprotkan alkohol 70% didalam

ruang UV (Ultra Violet), dinyalakan lampu 254 nm an 366 nm selama 15 menit,

dan pada LAF (Laminary Air Flow) dinyalakan laampu selama 5 menit

selanjutya dialirkan udara steril selama 15 menit, dan pada ruangan LAB lampu

dimatikan selama 15 menit.

d. Didalam cawan petri yang berisi medium NA (Nutrient Agar) dan PDA (Potato

Dexrosa Agar) tutupnya dalam keadaan dibuka 1/3 bagian.

e. Diinkubasi selama 1 × 24 jam dengan suhu 37℃

f. Diamati ada tidaknya koloni mikroba.


BAB IV

HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan

B. Lampiran Pengamatan

LABORATORIUM MIKROBIOLOGI LABORATORIUM MIKROBIOLOGI


TERAPAN TERAPAN
PROGRAM STUDI S1 FARMASI PROGRAM STUDI S1 FARMASI
UNIVERSITAS MEGAREZKY UNIVERSITAS MEGAREZKY
MAKASSAR MAKASSAR

Keterangan : Sebelum Keterangan : Sebelum


Medium : NA Medium : PDA
Tempat : UV Tempat : UV
Kelompok : Tidak aktif Kelompok : Tidak aktif
LABORATORIUM MIKROBIOLOGI LABORATORIUM MIKROBIOLOGI
TERAPAN TERAPAN
PROGRAM STUDI S1 FARMASI PROGRAM STUDI S1 FARMASI
UNIVERSITAS MEGAREZKY UNIVERSITAS MEGAREZKY
MAKASSAR MAKASSAR

Keterangan : Sebelum Keterangan : Sebelum


Medium : NA Medium : PDA
Tempat : LAF Tempat : LAF
Kelompok : Tidak aktif Kelompok : Tidak aktif

LABORATORIUM MIKROBIOLOGI LABORATORIUM MIKROBIOLOGI


TERAPAN TERAPAN
PROGRAM STUDI S1 FARMASI PROGRAM STUDI S1 FARMASI
UNIVERSITAS MEGAREZKY UNIVERSITAS MEGAREZKY
MAKASSAR MAKASSAR

Keterangan : Sebelum Keterangan : Sebelum


Medium : NA Medium : PDA
Tempat : Ruang LAB Tempat : Ruang LAB
Kelompok : Tidak aktif Kelompok : Tidak aktif
LABORATORIUM MIKROBIOLOGI LABORATORIUM MIKROBIOLOGI
TERAPAN TERAPAN
PROGRAM STUDI S1 FARMASI PROGRAM STUDI S1 FARMASI
UNIVERSITAS MEGAREZKY UNIVERSITAS MEGAREZKY
MAKASSAR MAKASSAR

Keterangan : Sebelum Keterangan : Sebelum


Medium : NA Medium : PDA
Tempat : UV Tempat : UV
Kelompok : Aktif Kelompok : Aktif

LABORATORIUM MIKROBIOLOGI LABORATORIUM MIKROBIOLOGI


TERAPAN TERAPAN
PROGRAM STUDI S1 FARMASI PROGRAM STUDI S1 FARMASI
UNIVERSITAS MEGAREZKY UNIVERSITAS MEGAREZKY
MAKASSAR MAKASSAR

Keterangan : Sebelum Keterangan : Sebelum


Medium : NA Medium : PDA
Tempat : LAF Tempat : LAF
Kelompok : Aktif Kelompok : Aktif
LABORATORIUM MIKROBIOLOGI LABORATORIUM MIKROBIOLOGI
TERAPAN TERAPAN
PROGRAM STUDI S1 FARMASI PROGRAM STUDI S1 FARMASI
UNIVERSITAS MEGAREZKY UNIVERSITAS MEGAREZKY
MAKASSAR MAKASSAR

Keterangan : Sebelum Keterangan : Sebelum


Medium : NA Medium : PDA
Tempat : Ruang LAB Tempat : Ruang LAB
Kelompok : Aktif Kelompok : Aktif

LABORATORIUM MIKROBIOLOGI LABORATORIUM MIKROBIOLOGI


TERAPAN TERAPAN
PROGRAM STUDI S1 FARMASI PROGRAM STUDI S1 FARMASI
UNIVERSITAS MEGAREZKY UNIVERSITAS MEGAREZKY
MAKASSAR MAKASSAR

Keterangan : Sesudah Keterangan : Sesudah


Medium : NA Medium : NA
Tempat : UV Tempat : UV
Kelompok : Tidak aktif Kelompok : Tidak aktif
LABORATORIUM MIKROBIOLOGI LABORATORIUM MIKROBIOLOGI
TERAPAN TERAPAN
PROGRAM STUDI S1 FARMASI PROGRAM STUDI S1 FARMASI
UNIVERSITAS MEGAREZKY UNIVERSITAS MEGAREZKY
MAKASSAR MAKASSAR

Keterangan : Sesudah Keterangan : Sesudah


Medium : NA Medium : PDA
Tempat : LAF Tempat : LAF
Kelompok : Tidak aktif Kelompok : Tidak aktif

LABORATORIUM MIKROBIOLOGI LABORATORIUM MIKROBIOLOGI


TERAPAN TERAPAN
PROGRAM STUDI S1 FARMASI PROGRAM STUDI S1 FARMASI
UNIVERSITAS MEGAREZKY UNIVERSITAS MEGAREZKY
MAKASSAR MAKASSAR

Keterangan : Sesudah Keterangan : Sesudah


Medium : NA Medium : PDA
Tempat : Ruang LAB Tempat : Ruang LAB
Kelompok : Tidak aktif Kelompok : Tidak aktif
LABORATORIUM MIKROBIOLOGI LABORATORIUM MIKROBIOLOGI
TERAPAN TERAPAN
PROGRAM STUDI S1 FARMASI PROGRAM STUDI S1 FARMASI
UNIVERSITAS MEGAREZKY UNIVERSITAS MEGAREZKY
MAKASSAR MAKASSAR

Keterangan : Sesudah Keterangan : Sesudah


Medium : NA Medium : PDA
Tempat : UV Tempat : UV
Kelompok : Aktif Kelompok : Aktif

LABORATORIUM MIKROBIOLOGI LABORATORIUM MIKROBIOLOGI


TERAPAN TERAPAN
PROGRAM STUDI S1 FARMASI PROGRAM STUDI S1 FARMASI
UNIVERSITAS MEGAREZKY UNIVERSITAS MEGAREZKY
MAKASSAR MAKASSAR

Keterangan : Sesudah Keterangan : Sesudah


Medium : NA Medium : NA
Tempat : LAF Tempat : LAF
Kelompok : Aktif Kelompok : Aktif
LABORATORIUM MIKROBIOLOGI LABORATORIUM MIKROBIOLOGI
TERAPAN TERAPAN
PROGRAM STUDI S1 FARMASI PROGRAM STUDI S1 FARMASI
UNIVERSITAS MEGAREZKY UNIVERSITAS MEGAREZKY
MAKASSAR MAKASSAR

Keterangan : Sesudah Keterangan : Sesudah


Medium : NA Medium : PDA
Tempat : Ruang LAB Tempat : Ruang LAB
Kelompok : Aktif Kelompok : Aktif
C. Pembahasan

Sterilisasi adalah suatu proses untuk membunuh jasad renik yang ada, sehingga juga

ditambahkan kedalam suatu medium tidak ada lagi jasad renik yang dapat berkembang

biak. Sterilisasi dilakukan untuk menetapkan apakah suatu bahan atau sediaan farmasi harus

steril memenuhi syarat dengan memenuhi uji sterilisasi seperti yang tertera pada masing-

masing monografi, dimana untuk penggunaanya sesuai dengan prosedur pengujian

sterilisasi sebagai bagian dari pengamatan mutu pabrik, seperti yang tertera dalam sterilisasi

dan jaminan sterilisasi bahan.

Pada pengamatan yang dilakukan pengujian pada ruang uji (UV, LAF, LAB) secara

aktif dan kurang aktif. Pada pengujian pertama ( tidak aktif ), pertama sediakan alat dan

bahan yang digunakan, kemudian dimasukkan medium Na (Nutrient Agar) dan PDA (Potato

Dextrosa Agar) didalam masing-masing cawan petri yang disiapkan. Setelah itu diambil

masing masing medium yang telah disiapkan kemudian dimasukkan dalam ruangan dalam

ruangan LAB, UV (Ultra Violet ) dan LAF (Laminary Air Flow ) dengan keadaan cawan

petri dibuka 1/3 bagian, dan didiamkan selama 15 menit, diambil cawan petri yang sudah

didiamkan dan dimasukkan kedalam inkubator dengan suhu 37℃ selama 1x 24 jam. Setelah

itu diamati ada tidakanya koloni bakteri pada cawan petri. Dan pada saat pengamatan kaloni

yang di dapat pada uji ruangan tidak aktif yaitu pada ruangan UV (Ultra Violet) pada

medium Na (Nutrient Agar) didapat 31 kaloni dan pada PDA (Potato Dextrasa Agar) kaloni

yang didapat 1 koloni. Pada ruangan LAF (Laminary Air Flaw) pada medium Na (Nutrient

Agar) 11 kalori dan PDA (Potato Dextrasa Agar) didapat 8 koloni, sedangkan pada ruang

LAB koloni pada medium Na (Nutrient Agar) dan PDA (Potato Dextrasa Agar) memiliki

koloni tak terhingga.


Pada pengujian kedua ( aktif), pertama siapkan alat dan bahan, kemudian dimasukkan

medium NA (Nutrient Agar) dan PDA (Potato Dextrosa Agar) didalam masing-masing

cawan petri yang sudah disiapkan. Dibersihkan ruangan LAB , UV (Ultra Violet) dan, LAF

(Laminary Air Flow) dengan disemprotkan alkohol 70% pada ruangan UV (Ultra Violet)

dinyalakan lampu 254 nm an 366 nm selama 15 menit dan pada LAF (Laminary Air Flaw)

dinyalakan lampu selama 5 menit selanjutnya dialiran udara steril selama 15 menit. Dan

pada ruangan lab lampu dimatikan selama 15 menit setelah itu. Didalam cawan petri yang

berisi medium NA (Nutrient Agar) dan PDA (Potato Dextrosa Agar) tutupnya dalam

keadaan dibuka 1/3 bagian, dan diinkubasi selama 1x24 jam dengan suhu 37℃. Setelah itu

diamati ada tidaknya coloni dalam cawan petri, dan diperoleh koloni pada ruangan dalam

pengujian kedua (aktif) yaitu pada ruangan UV (Ultra Violet) pada medium NA (Nutrient

Agar) diperoleh 25 koloni, dan pada PDA (Potato Dextrosa Agar) diperoleh 23 koloni, dan

pada ruangan LAF (Lominary Air Flow) diperoleh koloni pada medium NA (Nutrient Agar)

46 koloni, dan pada PDA (Potato Dextrosa Agar) diperoleh 7 koloni dan pada PDA (Potato

Dextrosa Agar) yaitu 25 koloni.

Adapun faktor kesalahan yang dapat mempengaruhi praktikum uji sterilisasi adalah

proses sterilisasi yang kurang baik menyebabkan kontraminasi bakteri lain yang tidak

diinginkan sterilkan harus benar dan baik pada alat-alat maupun bahan.
BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dapat disimpulkan bahwa dalam pengujian ada tidaknya mikroorganisme pada

alat dan bahan yang digunakan yaitu :

1. Uji pertama pada ruangan tidak aktif pada ruangan UV (Ultra Violet) pada medium

NA (Nutrient Agar) terdapat 31 koloni dan PDA (Potato Dextrosa Agar) terdapat 1

koloni. Pada ruangan LAF (Laminary Air Flaw) pada medium NA ( Nutrient Agar

) terdapat 11 koloni, PDA (Potato Dextrosa Agar) 8 koloni, dan pada ruangan LAB

pada medium NA (Nutrient Agar) dan PDA (Potato Dextrosa Agar) memiliki koloni

tak terhingga.

2. Uji kedua pada ruangan aktif pada ruangan UV (Ultra Violet) pada medium Na

(Nutrient Agar) terdapat 25 koloni dan pada ruangan PDA (Potato Dextrosa Agar)

terdapat 23 koloni, pada ruangan LAF (Laminary Air Flaw) pada medium NA

(Nutrient Agar) terdapat uji 46 koloni, dan pada PDA (Potato Dextrosa Agar)

terdapat 32 koloni, dan pada ruangan LAB pada medium NA (Nutrient Agar) dan

PDA (Potato Dextosa Agar) memiliki koloni 7 dan 25.

B. Saran

1. Untuk Asisten (Penanggung Jawab)

Diharapkan kakak agar dapat mendampingi dan mengawasi kami selama

praktikum agar tidak terjadi kesalahan dalam melakukan praktikum.

2. Untuk Laboratorium
Diharapkan agar peralatan dan bahan-bahan yang ada di laboratorium supaya

dilengkapi agar mempermudah dan tidak menghambat kelancaran pada saat

praktium.
DAFTAR PUSTAKA

Darmadi. 2008. Infeksi Mosokamial Problematika dan Penelananga. Jakarta :

Jalamba Medika.

Ditjen POM. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Jakarta : Depkes RI.

Leon, Lachman. 2012. Teori dan Praktek Farmasi Industri. Jakarta : UI Press.

Oetani. R. A. 2008. Teknik Aseptik. Yogyakarta : UGM Press.

Rahmadhani, Herlambang. 2015. Ilmu Resep Teori II. Yogyakarta : CV. Budi

Utama.

Raudah, dkk. 2017. Efektifitas Sterilisasi Metode Panas Kering pada Alat Medis

Ruang Perawatan Luka Rumah Sakit Dr. H. Soemarno Sosroatmodjo

Kuala Kapuas. Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol 14 No. 1.


SKEMA KERJA

1. Pengujian pertama pada sterilisasi ruangan tidak aktif

Siapkan alat dan bahan

Dimasukkan medium NA (Nutrient Agar) dan PDA (Potato

Dextrosa Agar) dalam cawan petri

Masukkan medium dalam ruangan UV (Ultra Violet), LAF (Laminary Air Flow)

dan ruangan LAB dibuka 1/3 bagian

Didiamkan medium sampai memadat selama 15 menit

Dimasukkan medium yang sudah memadat dalam inkubator

dengan suhu 37℃ selama 1 × 24 jam

Diamati ada tidaknya koloni


2. Pengujian kedua pada sterilisasi ruangan aktif

Siapkan dan bahan

Masukkan medium NA (Nutrient Agar) dan PDA (Potato Dextrosa Agar)

kedalam masing-masing cawan petri.

Dibersihkan ruang LAB, UV dan LAF disemprotkan dengan alkohol 70%

Dinyalakan lampu 254 nm an 366 nm selama 15 menit, pada LAF dinyalakan

lampu selama 5 menit dan aliran udara steril selama 15 menit dan pada ruang

LAB lampu dimatikan selama 15 menit

Cawan petri yang berisi medium NA (Nutrient Agar) dan PDA (Potato Dextrosa

Agar) tutupnya dibuka 1/3 bagian

Diinkubasi cawan petri yang berisi sampel dengan suhu 37℃ selama 1 × 24 jam

Diamati ada tidaknya koloni mikroba