Anda di halaman 1dari 14

Bagian 1

A. LATAR BELAKANG

Dalam kehidupan kita sehari hari kita sering mendengar “psikologi”. Sebuah
kata yang asing tetapi bila ditelaah lebih dalam mengandung makna yang kuat berkaitan
dengan hubungan antara manusia dan lingkungan nya.

Psikologi berasal dari bahasa yunani yaitu psyche yang artinya jiwa dan logos
artinya ilmu. jadi secara etimologi psikologi artinya ilmu yang mempelajari jiwa, baik
mengenai macam macam gejalanya, proses maupun latar belakangnya.

Oleh karna jiwa itu merupakan pengertian yang abstrak, tidak bisa dilihat dan
belum bisa diungkapkan secara lengkap dan jelas, maka orang lebih cenderung
mempelajari jiwa yang memateri atau gejala atau jiwa yang meraga/menjasmani,yaitu
bentuk tingkah laku manusia (segala aktivitas, perbuatan, penampilan diri) sepanjang
hidupnya.

Oleh karna itu,psikologi butuh berabad- abad lamanya untuk memisahkan diri
dari ilmu filsafat. Perkataan tingkah laku/perbuatan mempunyai pengertian yang luas
sekali. Yaitu tidak hanya mencakup kegiatan motoris saja seperti berbicara,
berjalan,berlari-lari, berolahraga, bergerak dll, akan tetapi juga membahas macam
macam fungsi seperti melihat, mendengar, mengingat, berpikir, fantasi, pengenalan
kembali, penampilan emosi emosi dalam bentuk tanis, senyum dan lain lain.

Kegiatan berfikir dan berjalan adalah sebuah kegiatan yang aktif. Setiap
penampilan dari kehidupan bisa disebut sebagai aktivitas. Seseorang yang diam dan
mendengarkan musik atau tengah melihat televisi tidak bisa dikatakan pasif. Maka situasi
dimana sama sekali sudah tidak ada unsur keaktivan, disebut dengan mati.

Pengertian psikologi menurut Muhibbin Syah (2001) ,psikologi adalah ilmu


pengetahuan yang mempelajari tingkah laku terbuka dan tertutub pada manusia baik
selaku individu atau kelompok, dalam hubungannya dengan lingkungan. Tingkah laku
terbuka adalah yang bersifat psikomotor yang meliputi perbuatan, berbicara, duduk ,
berjalan dll, sedangkan tingkah laku tertutup meliputi berfikir, berkeyakinan, berperasaan
dan sebagainya.

1
B. TUJUAN
1. Mempelajari sifat-sifat umum aktivitas manusia.
2. Mampu menganalisis sifat-sifat umum aktivitas manusia.
3. Mampu menerapkan sifat-sifat umumaktivitas manusia dalam melaksanakan
pendidikan.

C. PERMASALAHAN
1. Seorang guru harus mampu memahami sifat-sifat umum aktivitas manusia.
2. Seorang guru harus bisa menerapkan sifat-sifat umum aktivitas manusia dalam
pelaksanaan pendidikan.

2
Bagian II

A. LANDASAN TEORI
1. Perhatian
 Pengertian Perhatian
Kata “perhatian“ tidaklah selalu digunakan dalam arti yang sama. Beberapa
contoh dapat menjelaskan hal ini :
a. Dia sedang memperhatikan contoh yang diberikan oleh gurunya.
b. Dengan penuh perhatian dia mengikuti kuliah yang diberikan oleh dosen baru
itu.

Kedua contoh diatas mempergunakan kata perhatian. arti kata tersebut, baik di
masyarakat dalam hidup sehari hari maupun dalam bidang psikologi kira-kira sama.
Karna itulah maka defenisi mengenai perhatian itu yang diberikan oleh para ahli
psikologi juga dua macam, yaitu kalau diambil intinya saja dapat dirumuskan
sebagai berikut:

a. Perhatian adalah pemusatan tenaga psikis tertentu kepada suatu objek. (lihat
Stern, 1950, p. 653, dan Bigot, 1950, hlm. 163)
b. Perhatian adalah banyak sedikitnya kesadaran yang menyertai suatu aktifitas
yang dilakukan.

Dalam tulisan ini kedua pengertian (arti) itu dipakai keduanya secara bertukar-
tukar. Untuk dapat menagkap maksudnya hendaklah pengertian tersebut tidak
dilepaskan dari konteksnya (kalimatnya).

 Macam-macam Perhatian
a) Macam-macam perhatian menurut cara kerjanya:
(1) Perhatian spontan; yaitu pethatian yang tidak sengaja atau tidak
sekehendak subjek,
(2) Perhatian refleksif; yaitu perhatian yang disengaja atau sekehendak
subjek.

3
 Macam-macam perhatian menurut intensitasnya
(1) Perhatian intensif, yaitu perhatian yang banyak dikuatkan oleh
banyaknya rangsang adau keadaan yang menyertai aktivitas atau
pengalaman batin.
(2) Perhatian tidak intensif, yaitu perhatian yang kurang diperkuat oleh
rangsangan atau beberapa keadaan yang menyertai aktivitas atau
pengalaman batin.
 Macam-macam perhatian menurut luasnya:
(1) Perhatian terpusat; yaitu perhatian yang tertuju kepada lingkup objek
yang sangat terbatas. Perhatian yang demikian ini sering pula disebut
sebagai perhatian konsentratif. Jadi, orang yang mengadakan konsentrasi
pikiran berarti berfikir dengan perhatian terpusat.
(2) Perhatian terpencar; yaitu perhatian yang pada suatu saat tertentu kepada
lingkungan objek yang luas atau tertentu kepada bermacam-macam
objek. Perhatian yang demikian dapat di lakukan oleh seorang guru di
depan kelas yang pada suatu saat ia harus menunjukan perhatian kepada
tujuan pelajaran, materi pelajaran, buku pelajaran, alat pelajaran, metode
belajar mengajar, lingkungan fisik kelas, dan tingkah laku anak didik
yang cukup banyak jumlahnya.

Ditinjau dari segi kepentingan pendidikan dan belajar, pemilihan jenis


perhatian yang paling efektif untuk memperoleh pengalaman belajar adalah hal yang
penting bagi subjek yang belajar. Pemilihan cara kerja perhatian oleh anak didik ini
dapat dibimbing oleh pihak pendidik atau lingkungan belajarnya. Salah satu usaha
untuk membimbing perhatian anak didik yaitu melalui pemberian rangsangan atau
stimuli yang menarik perhatian anak didik. Hal-hal yang menarik perhatian yangdapat
ditunjukkan melalui tiga segi, yaitu:

(1) Segi objek; hal-hal yang menarik perhatian yaitu hal-hal yang keluar dari
konteknya, misalnya:
- benda yang bergerak dalam situasi lingkungan yang diam atau tenang,
- warna benda yang lain dari warna benda-benda di sekitarnya,
- stimuli yang beraksi berbeda dari aksi lingkungannya,
- keadaan, sifat, sikap dan cara yang berbebeda dari biasanya,

4
- hal yang muncul mendadak dan hilang mendadak.
(2) Segi subjek; hal-hal yang menarik perhatian adalah hal-hal yang sangat
bersangkut-paut dengan pribadi subjek, misalnya:
- hal-hal yang bersangkut-paut dengan kebutuhan subjek,
- hal-hal yang bersangkut-paut dengan minat dan kesenangan subjek,
- hal-hal yang bersangkut-paut dengan profesi dan keahlian subjek,
- hal-hal yang bersangkut-paut dengan sejarah atau pengalaman subjek,
- hal-hal yang bersangkut-paut dengan tujuan dan cita-cita subjek.

(3) Segi komunikator; komunikator yang membawa subjek ke dalam posisi yang
sesuai dengan lingkungannya, misalnya:
- guru/komunikator yang memberikan pelayanan/perhatian khusus kepada subjek,
- guru/komunikator yang menampilkan dirinya di luar konteks lingkungannya,
- guru/komunikator yang memiliki sangkut-paut dengan subjek.

2. Pengamatan
1. Pengertian
Manusia mengenal dunia wadag atau dunia real baik dirinya sendiri
maupun dunia sekitar tempatnya berada dengan melihat, mendengar, membau
atau mencecap.cara mengenal objek dengan yang demikian itu disebut
mengamati ,modalitas pengamatan. Hal yang diamati itu dialami dengan sifat
sifat disini, kini, sendiri dan bermateri.
Dunia pengamatan biasanya dilukiskan menurut aspek pengaturannya
supaya memungkinkan subjek melakukan orientasi. Adapun pengaturan tersebut
adalah sebagai berikut:
a. Pengaturan menurut sudut pandang ruang.sudut pandang ruang .menurut
sudut pandang ruang ini dunia pengamatan dilukiskan dalam pengertian
pengertian atas bawah,kiri kanan,jauh dekat,tinggi rendah dan sebagainya.
b. Pengaturan menurut sudut pandang waktu : atas bawah, kiri kanan, jauh
dekat, tinggi rendah, dan sebagainya.
c. Pengaturan menurut sudut pandang gestalt.suatu gestalt adalah sesuatu yang
merupakan kebulatan dan dapat berdiri sendiri lepas dari yang lain misalnya
rumah, orang, meja, kursi, gambar, dan sebagainya.

5
d. Pengaturan menurut sudut pandangan arti. Objek objek yang diamati kita
beri arti atau kita amati menurut artinya. Seperti pula bunyi lonceng
pabrik,dan bunyi lonceng gereja menurit bunyinya banyak persamaannya,
tetapi menurit artinya sangat berbeda satu sama lain.

2. Penglihatan
Telah disebutkan bahwa modalitas pengamatan itu dibedakan menurut
pancaindra yang dipergunakan untuk mengamati, yaitu penglihatan, pedengaran,
rabaan, pembauan, atau penciuman,dan pencecapan. Menurut objeknya masalah
penglihatan digolongkan menjadi tiga golongan yaitu (1) melihat bentuk (2)
melihat dalam (3) melihat warna.

(1) Melihat bentuk


Yang dimaksud dengan melihat bentuk disini ialah melihat objek yang
berdimensi dua, baik dalam pengalaman kita sehari hari maupun dari
eksperimen- eksperimen yang telah dilakukan oleh para ahli kita belajar,
bahwa objek objek penglihatan tidak kita lihat lepas satu dari pada yang
lain.
(2) Hubungan objek pokok dan latar belakang :
Masalah hubungan antara objek pokok dan latar belakang ini telah
banyak di teliti oleh para ahli ,dan hasil hasilnya dapat disimpulkan sebagai
berikut :
a. Objek pokok lebih berbentuk, latar belakang kurang berbentuk.
b. Objek pokok didepan, latar belakang di belakang.
c. Latar belakang cenderung untuk meluas dibelakang objek pokok, bukan
pada latar belakang.
d. Batas batas (countour) termasuk pada daerah objek pokok,bykan pada
latar belakang.
e. Objek pokok lebih berkesan, lebih mudah diingat, lebih cenderung untuk
punya arti.
(3) Hukum-hukum gestalt penglihatan
Ahli ahli psikologi gestalt (terutama mazhab berlin) telah mengadakan
penelitian secara luas dalam bidang penglihatan bentuk itu, dan akhirnya
menemukan, bahwa objek objek penglihatan itu membentuk diri menjadi

6
gestalt- gestalt menurut prinsip prinsip tersebut, yang dapat kita sebut
hukum hukum gestalt adalah sebagai berikut.
a. Hukum keterdekatan artinya yang terdekat merupakan gestalt.
b. Hukum ketertutupan artinya yang tertutup merupkan gestalt.
c. Hukum kesamaan artinya yang sama merupakan gestalt.
(4) Peranan sikap batin subjek.
Penglihatan itu merupakan kesan yang diterima oleh sisubjek yang
melihat itu, ternyata merupakan kesan yang diterima oleh sisubjek yang
melihat itu.
(5) Konstansi bentuk
Dapat diketahui objek dari berbagai sudut sehingga bentuk
perspektifnya berlainan pula, akan tetapi ketika dirasa ( tahu, mengerti )
bahwa bentuk bendanya itu tetap dan satu saja.

3. Melihat Dalam
Maksud melihat dalam adalah melihat objek berdimensi tiga. Salah satu gejala
yang terpenting disini ialah konstansi besar,misalnya tapak tangan yang
ditempatkan dalam jarak 20 cm dan 40 cm dari mata dilihat sama besarnya.hal
ini disebab kan oleh :
(1) Objek-objek yang dihadapi tidak dilihat sebagai fenomena fenomena yang
berdiri sendiri,melainkan selalu dalam hubungan satu bsama lain dalam
konteks tertentu.
(2) Prinsip proporsionalitas yaitu proporsi benda satu terhadap benda yang lain
serta terhadap tempatnya adalah sama.

4. Melihat warna
(1) Nilai Efektif Warna
Bagaimanapun dinding didalam rumah rumah kediaman tidak akan
dicat merah tua atau hitam berselang selang dengan warna yang mencolok
melainkan di cat putih, atau hijau muda, atau warna warna lain yang sejuk,
tenang, lunak, hal yang demikian disebabkan karena warna warna tersebut
sangat mempengaruhi tingkah laku si penghuni rumah tersebut.
(2) Nilai Lambang Warna

7
Warna mempunyai sifat sifat potensional dalam abstracto yang dapat
memberi kesan tertentu terhadap seseorang, misalnya:
- Warna hitam melambangkan kegelapan, kesedihan
- Putih melambangkan kesuvian, cahaya.
- Merah melambangkan hal hal atau benda benda yang bersifat cahaya,
ringan, riang.
- Biru melambangkan hal hal atau benda tak terhingga tenang, kesosialan.
- Hijau melambangkan keseimbangan, keselarasan , ketenangan , harapan.

3. Tanggapan dan Variasinya


1. Pengertian Tanggapan
Tanggapan biasanya didefinisikan sebagai bayangan yang tinggal
dalam ingatan setelah kita melakukan pengamatan(Bigot dkk, 1950: 72).
Akan tetapi definisi ini sebenarnya kurang menggambarkan materinya,
sebab hanya menunjuk kepada sebagian saja dari tanggapan itu. Linschoten
mencoba memberikan definisi yang lebih memadai, walaupun
perumusannyaagak suka dipahami. Dia mengemukakan bahwa “menanggap
adalah melakukan kembali sesuatu perbuatan tanpa hadirnya objek fungsi
primer yang merupakan dasar dari modalitas tanggapan itu”.(Kohnstamm,
dkk., 1955: 106).
Memang dalam tanggapan tidak hanya dapa menghidupkan kembali
apa yang telah diamati(di masa lampau), akan tetapi juga dapat
mengantisipasikan yang akan datang, atau mewakili yang sekarang. Dalam
hubungan dengan hal ini maka dapat dikemukakan adanya tiga macam
tanggapan, yaitu:
a) tanggapan masa lampau atau tanggapan ingatan,
b) tanggapan masa datang atau tanggapan representatif (tanggapan
mengimajinasikan).

2. Bayangan Pengiring
Biasanya orang mengemukakan deretan gejala dari yang paling
berperaga, dengan berpangkal kepada pengamatan, sampai ke palin yang

8
kurang berperaga, yaitu berpikir, adapun deretan tersebut adalah sebagai
berikut:
a) Pengamatan
b) Bayangan pengiring
c) Bayangan eidetik
d) Tanggapan dan,
e) Pengertian
Bayangan pengiring adalah bayangan yang timbul setelah kita melihat
sesuatu warna. Bayangan pengiring itu ada dua macam, yaitu yang positif dan
yang negatif.
a) Bayangan pengiring positif, yaitu bayangan pengiring yang sama dengan
warna objeknya. Misalnya setela kita mengalihkan pandangan dari
bendera palang merah ke tembok putih, terlihatlah pada tembok tersebut
(walaupun tidak jelas benar) palang merah.
b) Bayangan pengiring negatif, yaitu bayangan pengiring yang tak
samadengan warna objeknya, melainkan seperti warna komplemen dari
warna objek, mislanya setelah kita mengalihkan pandangan dari bendera
palang merah ke tembok putih, kita lihat warna pada tembok tersebut
adalah hijau.

3. Bayangan Eidetik
Bayangan eidetik adalah bayangan yang sangat jelas dan hidup,
sehingga menyerupai pengamatan. Bayangan eidetik itu diketemukan oleh
Urbanschnitsch dan diselidiki secara luas oleh E. Jaensch dan W. Jaensch.
Atas hasil penyelidikan mereka, maka kedua ahli itu (kakak beradik)
membedakan adanya dua macam tipe, yaitu:
a) Tipe tetanoide atau Type T, dan
b) Tipe basedoide atau Type B.
Bayangan eidetik ini terutama terdapat pada anak-anak dan
menghilang dengan datangnya masa pubertas.

4. Beberapa Catatan Praktis.


Tanggapan memainkan peranan penting dalam belajarnya atau
berkembangnya anak didik. Karena itu seyogianyalah tanggapan tersebut

9
dikembangkan dan dikontrol sebaik-baiknya. Sebagai fungsi yang bahannya
diasalkan dari fungsi lain, maka macam tanggapan sering pula digolong-
golongkan menurut fungsi yang mendasarinya. Hal yang banyak
dikemukakan orang ialah penggolongan sesuai dengan indera yang mendasari
tanggapan itu, dan berhubung dengan itu maka manusia dapat digolongkan ke
dalam tipe-tipe:
a) Visual
b) Auditif
c) Taktil
d) Gustatif, dan
e) Olfaktoris.
Dalam memberikan pendidikan hendaklah perbedaan individual itu
diperhatikan, supaya dapat dicapai hal yang lebih memuaskan.

4. Fantasi
Fantasi adalah kemampuan jiwa untuk membentuk tanggapan-tanggapan
baru. Dengan kekuatan fantasi manusia dapat melepaskan diri dari keadaan yang
dihadapinya dan menjangkau ke depan, ke keadaan-keadaan yang akan
mendatang.
Dapat pula fantasi digambarkan sebagai fungsi yang memungkinkan
manusia untuk berorientasi dalam alam imajinair, melampaui dunia rill. Fantasi
sebagai kemampuan jiwa manusia dapat terjadi:
1. Secara disadari, yaitu apabila individu betul-betul menyadari akan fantasinya.
Misalnya, seorang pelukis yang sedang menciptakan lukisan dengan
kemampuan fantasinya.
2. Secara tidak disadari, yaitu bila individu tidak sadar telah dituntut oleh
fantasinya. Keadaan semacam ini banyak dijumpai pada anak-anak.

 Macam-macam fantasi
Fantasi yang menciptakan, merupakan jenis fantasi yang mencipatakan
sesuatu. Misalnya seorang ahli metode pakaian menciptakan model pakaian
atas dasar daya fantasinya.

10
Fantasi yang dipimpin, merupakan jenis fantasi yang dipimpin oleh pihak
lain. Misalnya seseorang yang melihat film, orang ini dapat mengikuti apa
yang dilihatnya dan dapat berfantasi tentang keadaan atau tempat lain dengan
perantara Film itu, dengan demikian fantasinya dituntun oleh film tersebut.

Fantasi yang mengabtraksi, yaitu cara orang berfantasi dengan


mengabtraksikan beberapa bagian, sehingga ada bagian-bagian. Contoh anak
yang belum pernah melihat salju maka untuk menjelaskan dipakailah
bayangan persepsi dipakai butiran gabus untuk menjelaskan salju. Dalam
anak berfantasi salju, banyak bagian-bagian gabus yang diabtraksikan.

Fantasi yang mendeterminasi, yaitu cara orang orang berfantasi dengan


mendeterminasi terlebih dahulu. Contoh anak belum pernah melihat harimau,
yamg telah mereka lihat kucing, maka kucing sebagai bahan untuk
memberikan pengertian tentang harimau. Dalam berfantasi harimau, dalam
bayangan seperti kucing, tetapi bentuknya besar.

Fantasi yang mengkombinasi, yaitu cara orang berfantasi dengan


mengkombinasi pengertian-pengertian atau bayangan-bayangan yang ada
pada individu yang bersangkutan. Oleh karena dengan kekuatan fantasi orang
dapat menjangkau ke depan. Maka fantasi mempunyai arti penting dalam
kehidupan manusia. Dengan fantasi pula orang dapat menambah bayangan-
bayangan atau tanggapan-tanggapan, sehingga dengan demikian akan
menambah bayangan yang ada pada individu. Namun demikian, ini tidak
berarti bahwa fantasi tidak mempunyai kelemahan.

B. METODE
a) Metode Perhatian

Usaha-usaha lainnya yang dapat dilakukan dalam membimbing perhatian anak


didik, yaitu penggunaan metode penyajian efektif apabila pelajaran sesuai dengan
minat, kebutuhan, dan kemampuan anak didik. Adapun macam-macam perhatian
yang tepat dilakukan dalam belajar yairtu:

11
(1) Perhatian intensif perlu digunakan, karena kegiatan yang disertai dengan perhatian
intensif akan lebih terarah.
(2) Perhatian yang disengaja perlu digunakan, karena kesengajaan dalam kegiatan
akan mengembangkan pribadi anak didik.
(3) Perhatian spontan perlu dilakukan, karena perhatian yang spontan cenderung
dapat berlangsung lebih lama dan intensif dari pada perhatian yang disengaja.

b) Metode Fantasi
Untuk mengetahui sampai sejauh mana kemampuan individu untuk berfantasi,
pada umumnya digunakanlah tes fantasi. Tes yang sering digunakan untuk mengetes
fantasi ialah:
1. Tes TAT, yaitu tes yang berwujud gambar-gambar, dan testee disuruh bercerita
tentang gambar itu.
2. Tes kemustahilan, yaitu tes yang berbentuk gambar atau cerita yang mustahil terjadi.
Dan testee disuruh mencari kemustahilan itu.
3. Heilbronner Wirsma Test, yaitu tes yang berwujud suatu seri gambar yang makin
lam makin sempurna.
4. Tes rorchach, yaitu tes yang berwujud gambar dan testee disuruh menginterpretasi
gambar tersebut.

12
Bagian III

A. Kesimpulan

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dalam proses pendidikan,


individu tidak dapat berdiri sendiri tetapi bergantung terhadap individu-individu lainnya.
Individu-individu yang berperan dalam pendidikan baik formal maupun non formal antara
lain: pendidik, peserta didik, orang tua atau keluarga, teman sebaya atau sahabat.

Peranan mereka antara lain,


Orang tua: Sebagai contoh pertama pendidikan anak
Pendidik: memberikan pendidikan formal kepada anak didik
Peserta didik: Sebagai penerima pendidikan
Teman sebaya: Sebagai tempat pengenalan proses sosialisasi

Sifat-sifat individu yang berperan dalam pendidikan yaitu, perhatian, pengamatan,


tanggapan, fantasi. Semua sifat-sifat individu memberikan pengaruh besar terhadap proses
pendidikan tetapi di antara sifat-sifat yang ada hanya intelegensilah yang memiliki pengaruh
yang dominan terhadap proses pendidikan.

B. Rekomendasi

Saran yang dapat disampaikan dari paparan di atas yaitu sebaiknya individu-individu
yang berperan dalam proses pendidikan lebih mengembangkan sifat-sifat dan peran yang
positif agar lebih memajukan serta mengoptimalkan pendidikan yang telah ada yang untuk
proses pendidikan kedepan.

Seorang guru atau pendidik harus memahami betul psikologi pendidikan terutama
sifat-sifat umum aktivitas manusia agar dapat memahami betul karakter peserta didik yang di
ajarnya. Dengan memahami konsep sifat-sifat umum aktivitas manusia ini guru atau pendidik
tidak akan mengalami kesulitan saat mengajar kepada muridnya yang tentu setiap murid
berbeda-beda sikap dan sifatnya.

13
Daftar Pustaka

Danarjati, Dwi Prasetia, dkk. 2014. PSIKOLOGI PENDIDIKAN. Yogyakarta: GRAHA


ILMU

Irham, Muhammad, dkk. 2016. PSIKOLOGI PENDIDIKAN. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

Jaali, Haji. 2011. PSIKOLOGI PENDIDIKAN. Jakarta: Bumi Aksara.

Soemanto, Wasty. 1998. PSIKOLOGI PENDIDIKAN. Jakarta: PT.RINEKA CIPTA.

Suryabrata, Sumadi. 2004. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT.RajaGrafindo Persada.

Wuryani Djiwandono, Sri Esti. 2002. PSIKOLOGI PENDIDIKAN. Jakarta: PT.Gramedia


Widiasarana Indonesia.

14