Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Farmakologi bersaral dari kata pharmacon (obat) dan logos (ilmu pengetahuan).
Farmakologi didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari obat dan cara kerjanya pada
system biologis.
Farmakologi Klinik adalah ilmu farmakologi yang mempelajari pengaruh kondisi klinis
pasien terhadap efikasi obat, misalkan kondisi hamil dan menyusui, neonates dan anak,
geriatric, inefisiensi ginjal dan hepar.

Seringkali, kejadian efek samping obat ini pada seorang pasien tidak dengan mudah
dikenali, kecuali kalau efek samping yang terjadi adalah bentuk yang berat dan menyolok.
Mahasiswa perlu mengenali bentuk-bentuk efek samping obat, faktor-faktor penyebab
atau yang mendorong terjadinya, upaya pencegahan dan penanganannya.
Setiap obat mempunyai kemungkinan untuk menyebabkan efek samping, oleh
karena seperti halnya efek farmakologik, efek samping obat juga merupakan hasil
interaksi yang kompleks antara molekul obat dengan tempat kerja spesifik dalam sistem
biologik tubuh. Kalau suatu efek farmakologik terjadi secara ekstrim, inipun akan
menimbulkan pengaruh buruk terhadap sistem biologik tubuh

B. Rumusan Masalah

1. Apa Pengertian Farmakokinetik?

2. Apa saja fase-fase Farmakokinetik?

3. Bagaimana analisis farmakokinetik obat braxidin ?

C. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui tentang konsep dasar
farmakologi secara umum.

D. Metode Penulisan

1
Metode yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah menggunakan metode
pustaka yaitu penulis menggunakan media pustaka dalam penyusunan makalah ini.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Farmakokinetik

Farmakokinetik berasal dari bahasa Yunani ‘Farmako’ yang artinya obat dan
‘Kinesis’ yang artinya perjalanan. Farmakokinetik menjelaskan tentang apa yang terjadi
dengan suatu zat di dalam organisme, misalnya bagaimana perjalanan obat dalam tubuh.
Farmakokinetik mengamati jenis-jebis proses seperti absorbsi, distribusi,
biotransformation atau metabolisme dan ekskretion.

B. Fase-fase Farmakokinetik :

1. Absorbsi

Absorbsi adalah proses masuknya obat dari tempat obat kedalam sirkulasi sistemik
(pembuluh darah). kecepatan absorbsi obat tergantung pada :

a. Kelarutan, obat harus dapat melarut atau obat sudah dalam bentuk terlarut. Sehingga
dari kecepatan melarut mempengaruhi kecepatan absori

b. pH, obat yang bersifat asam lemah akan mudah menembus membran sel pada
suasana asam. Jika pH obat berubah (ditambah buffer) maka absorbsi akan
melambat.

2
c. Sirkulasi darah, pemberian obat melalui sublingual akan lebih cepat diabsorbsi
dibanding subkutan, karena umumnya sirkulasi darah disebutkan disubkutan lebih
sedikit (jelek) dibandingkan disublingual

d. Tempat absorbsi, obat dalam diabsorbsi misalnya di kulit, membran mukosa dan
usus halus. Obat yang oral, absorbsi terjadi di usus halus karena luas permukaannya.
Jika obat inhalasi, diabsorbsi sangat cepat karena epitelium paru-paru juga sangat
luas.

e. Absorbsi melalui saluran cerna, pemberian peroral merupakan cara yang paling
lazim karena merupakan cara yang paling mudah, ekonpmis dan aman. Namun
memiliki kerugian yaitu obat dalam merangsang mukosa lambung dan menimbulkan
emasis, misalnya aminoilin. Selain itu, obat akan membentuk kompleks dengan
makanan sehingga sukar untuk diabsorbsi dan akan mengalami biotransformasi
sebelum memasuki ke bagian organ. Umumnya, obat dalam bentuk non polar yang
larut dalam lemak cepat di absorbsi, sedangkan obat yang bersifat polar tidak larut
dalam lemak seperti zat alumunium kuaterner, lambat diabsorbsi. Obat yang tidak
larut dalam air tidak di absorbsi melalui saluran cerna. Pemberian secara sublingual,
dapat diberikan untuk menghindari perusakan oleh enzim lambung dan usus, dan
menghindari biotrasformasi dihepar. Pemberian obat secara rektal, diberikan pada
pasien yang muntah-muntah untuk menghindari pengrusakan oleh enzim pencernaan
dan biotransformasi dihepar

2. Distribusi

Setelah diabsorbsi, obat akan di distribusi ke seluruh tubuh melalui sirkulasi darah.
Selain tergantung dari aliran darah, distribusi obat juga ditentukan oleh sifat
fisikokimianya. Distribusi obat di bedakan atas 2 fase berdasarkan penyebarannya di
dalam tubuh. Distribusi fase pertama terjadi segera setelah penyerapan yaitu ke organ
yang perfusinya sangat baik misalnya jantung, hati, otak dan ginjal. Selanjutnya distribusi
fase kedua jauh lebih luas yaitu mencakup jaringan yang perfusinya tidak sebaik organ
diatas misalnya otot, visera, kulit dan jaringan lemak. Distribusi ini baru mencapai
keseimbangan setelah waktu yang lebih lama. Difusi ke ruang interstisial jaringan
terjadi karena celah antar sel endotel kapiler mampu melewatkan semua molekul obat
bebas, kecuali di otak. Obat yang mudah larut dalam lemak akan melintasi membran sel

3
dan terdistribusi ke dalam otak, sedangkan obat yang tidak larut dalam lemak akan sulit
menembus membran sel sehingga distribusinya terbatas, terutama di cairan ekstrasel.
Distribusi juga dibatasi oleh ikatan obat pada protein plasma, hanya obat bebas yang
dapat berdifusi dan mencapai keseimbangan. Derajat ikatan obat dengan protein plasma
ditentukan oleh avinitas obat terhadap protein, kada obat, dan kadar proteinnya sendiri.
Pengikatan obat oleh protein akan berkurang pada malnutrisi berat karena adanya
defisiensi protein.

3. Metabolisme / Biotransformasi

Metabolisme / Biotransformasi obat ialah proses perubahan struktur kimia obat yang
terjadi dalam tubuh dan dikatalis oleh enzim khususnya CYT 45. pada proses inimolekul
obat diubah menjadi lebih polar, artinya lebih mudah larut dalam air dan kurang larut
dalam lemak sehingga lebih mudah di ekskresi melalui ginjal. Selain itu, pada umumnya
obat menjadi inaktif, sehingga biotransformasi sangat berperan dalam mengakhiri kerja
obat. Tetapi ada obat yang metabolitnya sama aktif, lebih aktif atau tidak toxic. Ada obat
yang merupakan calon obat (produg) justru diaktifkan oleh enzim biotransformasi ini.
Metabolit aktif akan mengalami biotransformasi lebih lanjut dan atau diekskresi sehingga
kerjanya berahir. Enzim yang berperan dalam biotransformasi obat dapat dibedakan
berdasarkan letaknya dalam sel yakni enzim mikrosom yang terdapat dalam retikulum
endoplasma halus (yang pada isolasi infitro membentuk mikrosom), dn enzim non
mikrosom. Kedua macam enzim metabolisme ini terutama terdapat dalam sel hati, tetapi
juga terdapat di sel jaringan lain misalnya ginjal, paru, epitel, saluran cerna dan plasma.

4. Ekskresi

Obat dikeluarkan tubuh melalui berbagai organ ekskresi dalam bentuk metabolit
hasil biotransformasi atau dalam bentuk asalnya. Obat atau metabolit polar di ekskresi
lebih cepat daripada obat larut lemak, kecuali pada ekskresi melalui paru. Ginjal
merupakan organ ekskresi yang terpenting. Ekskresi ini merupakan resultante dari 3
proses yakni filtrasi di glomerulus, sekresi aktif di tubuli proksimal dan reabsorbsi pasif
di tubuli proksimal dan distal. Ekskresi obat melalui obat menurun pada gangguan fungsi

4
ginjal sehingga dosis perlu diturunkan atau intercal pemberian terpanjang. Bersihan
kreatinin dapat dijadikan patokan dalam menyesuaikan dosis atau interfal pemberian obat.

C. Analisis Farmakokinetik Obat Braxidin

Bradixin adalah obat dengan kandungan Chlordiazepoxide Hydrochlotide dan


Clidinium Bromide. Obat ini digunakan untuk mengatasi gangguan kecemasan dan juga
gangguan pencernaan terutama pada bagian usus. Kelas obat ini adalah Antispasmodi.
Manfaat obat ini untuk mengatasi gangguan saraf yang menyebabkan kecemasan dan
masalah pencernaan.

Cara kerja Braxidin dalam meredakan anxietas yaitu dengan mempengaruhi sistem
limbik di otak tempat persepsi emosi. Obat ini juga memberikan efek antikolinergik yang
mampu menekan sekresi berlebihan di saluran pencernaan sehingga juga digunakan untuk
mengobati tukak lambung serta perawatan sebelum operasi.

Braxidin digunakan untuk mengatasi gangguan kecemasan serta efek gangguan


kecemasan yang meningkatkan sekresi pada saluran pencernaan. Karena itu obat ini
digunakan pada beberapa kondisi berikut:

1. Mengobati gangguan kecemasan atau anxietes yang memicu gangguan pada


saraf otonom maupun saraf somatik.

2. Pengobatan tukak saluran cerna.

3. Terapi untuk hipersekretori dan hipermotilitas saluran cerna.

4. Mengatasi dispepsia nervosa.

5. Mengatasi gejala iritasi usus.

6. Meringankan iritasi dan spame kolon.

5
7. Meringankan gejala kolitis.

8. Meringankan nyeri dismenore.

Informasi Obat Braxidin

Nama Obat Braxidin

Kandungan Chlordiazepoxide hydrochloride 5 mg, clidinium bromide 2,5 mg (setiap


Obat tablet)

Kelas Obat Antispasmodik

Kategori Obat Keras

Mengatasi gangguan saraf yang menyebabkan kecemasan dan masalah


Manfaat Obat
pencernaan.

Kontraindikasi Hipersensitif

Sediaan Obat Tablet

Harga Obat Braxidin per strip isi 10 tablet Rp 60.000

Adapun fase-fase farmakokinetik obat Braxidin :


1. Absorbsi obat Braxidin dengan cara pemberian obat per oral, dengan cara ini tempat
absorpsi utama adalah usus halus karena memiliki permukaan absorpsi yang sangat luas,
yakni 88 meter persegi.

Obat yang diserap oleh usus halus ditransport ke hepar sebelum beredar ke
seluruhtubuh. Hepar memetabolisme banyak obat sebelum masuk ke sirkulasi. Hal ini
yang disebutdengan efek first pass. Metabolisme hepar dapat menyebabkan obat menjadi
inaktif sehinggamenurunkan jumlah obat yang sampai ke sirkulasi sistemik, jadi dosis
obat yang diberikan harus banyak.

2. Distribusi obat Braxidin proses obat dihantarkan dari sirkulasi sistemik ke jaringan dan
cairan tubuh, meliputi aliran darah, permiabilitas kapiler, dan ikatan kovalen

3. Metabolisme atau biotransformasi obat adalah proses tubuh merubah komposisi obat
sehinggamenjadi lebih larut air untuk dapat dibuang keluar tubuh.

6
Metabolisme obat Braxidin dapat dimetabolisme melalui beberapa cara yaitu
metabolisme inaktif kemudian diekskresikan dan metabolisme aktif yangmemiliki kerja
farmakologi tersendiri dan dimetabolisme lanjutan.

4. Ekskresi obat artinya eliminasi obat dari tubuh.

Eksresi obat Braxidin sebagian besar obat dibuang dari tubuh olehginjal dan melalui
urin. Obat ini juga dapat dibuang melalui paru-paru, eksokrin (keringat, ludah, payudara),
kulit dan taraktusintestinal.

7
BAB III

PENUTUP

A.Kesimpulan

Bradixin adalah obat dengan kandungan Chlordiazepoxide Hydrochlotide dan


Clidinium Bromide. Kelas obat ini adalah Antispasmodi. Manfaat obat untuk mengatasi
gangguan saraf yang menyebabkan kecemasan dan masalah pencernaan. Braxidin
digunakan untuk mengatasi gangguan kecemasan. Karena itu obat ini digunakan pada
beberapa kondisi berikut: Mengobati gangguan kecemasan atau anxietes yang memicu
gangguan pada saraf otonom maupun saraf somatik. Pengobatan tukak saluran cerna.
Terapi untuk hipersekretori dan hipermotilitas saluran cerna. Mengatasi dispepsia nervosa.
Mengatasi gejala iritasi usus. Meringankan iritasi dan spame kolon. Meringankan gejala
kolitis. Meringankan nyeri dismenore. Kontraindikasi.

B. Saran
Karena kurangnya buku pegangan yang kami miliki maupun keterbatasan
kemampuan, kami menyadari bahwa makalah ini masih perlu diperbaiki lagi. Oleh karena
itu, kritik dan saran yang membangun dari pembaca sangat kami butuhkan demi
penulisan yang lebih baik untuk kedepannya.

8
DAFTAR PUSTAKA

Anief M, 2007, Apa Itu Farmakologi. Yogyakarta: GADJAH MADA


UNIVERSITY PRESS.

Dwi, F.Y. 2010. Farmakokinetik. Jakarta: Hilal Ahmar.

http://Doktersehat.com/obat-braxidin/

http://Aladokter.com/obat/braxidin/

http://Academia.edu/

http://Id.scribd.com