Anda di halaman 1dari 37

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Hal yang paling penting dalam kehidupan manusia adalah meningkatkan


perhatian terhadap kesehatan guna mencegah terjadinya mallnutrisi (Gizi salah) dan
resiko untuk menjadi gizi kurang. Status gizi menjadi penting karena merupakan salah
satu factor resiko untuk terjadi kesakitan atau kematian. Status gizi yang baik pada
seseorang akan berkontribusi terhadap kesehatannya dan juga terhadap kemmampuan
dalamproses pemulihan.

Peran dan kedudukan penilaian status gizi (PSG) didalam ilmu gizi adalah untuk
mengetahui status gizi, yaitu ada tidaknya malnutrisi pada individu dan masyarakat.
PSG adalah interprestasi dari data yang dikumpulakan dengan menggunakan berbagai
merode untuk mengidentifikasi populasi atau individu ang beresiko atau dengan status
gizi kurang/ buruk. Metode PSG ini dibagi dalam tiga kelompok, Yaitu kelompok
pertama: metode secara langsung yang terdiri dari penilaia dengan melihat tanda klinis,
tes laboratorium, metode biofisik, dan antropometri. Kelompok kedua: prnilaian
dengan melihat statistic kesehatan yang biasa disebut dengan PSG tidak langsung
karenatidak menilai individu secara langsung. Kelompok ketiga: penilaian dengan
melihat variable ekologi.

Data penilaian status gizi dapat dikumpulkan dengan bebagai cara. Pengumpulan data
ini akan menjadi penting kedudukannya dalam PSg karena akan sangat mempengaruhi
hasil yang didapat yang akhirnya akan mempengaruhi juga informasi yang disampaikan.

B. Rumusan Masalah
1. Apa sajakah iztilah yang berhubungan dengan status gizi?
2. Bagaimanakah penilaian status gizi secara langsung dengan perhitungan
Antropometri, Klinis, Biokimia, dan Biofisik?
3. Bagaimanakah Penilaian status gizi secara tidak langsung dengan perhitungan
survey konsumsi makanan, statistic vital, dan faktor ekologi?

1
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui istilah yang berhubungan dengan status gizi
2. Untuk mengetahui penilaian status gizi secara langsung dengan perhitungan
Antropometri, Klinis, Biokimia, dan Biofisik
3. Untuk mengetahui Penilaian status gizi secara tidak langsung dengan
perhitungan survey konsumsi makanan, statistic vital, dan faktor ekologi

D. Metode
Mahasiswa dibagi menjadi 6 kelompok, setiap kelompok menetapkan ketua dan
sekretaris kelompok, lalu setiap kelompok mendiskusikan materi sesuai topik yang
telah ditentukan, hasil diskusi kelompok dibuat dalam bentuk laporan tertulis.

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Istilah yang Berhubungan Dengan Status Gizi


1. Istilah yang Berhubungan Dengan Status Gizi
Deswarni Idrus dan Gatot Kunanto (1990), mengungkapkan bahwa ada
beberapa istilah yang berhubungan dengan status gizi. Istilah-istilah tersebut
akan diuraikan di bawah ini.
a) Gizi (Nutrition)
Gizi adalah suatu proses organisme menggunakan makanan yang
dikonsumsi secara normal melalui proses digesti, absorpsi, transportasi,
penyimpanan, metabolisme dan pengeluaran zat-zat yang tidak
digunakan untuk mempertahankan kehidupan, pertumbuhan dan fungsi
normal dari organ-organ, serta menghasilkan energi.
b) Keadaan Gizi
Keadaan akibat dari keseimbangan antara konsumsi dan
penyerapan zat gizi dan penggunaan zat-zat gizi tersebut, atau keadaan
fisiologik akibat dari tersedianya zat gizi dalam seluler tubuh.
c) Status Gizi (Nutrition Status)
Ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam bentuk variabel
tertentu, atau perwujudan dari nutriture dalam bentuk variabel terntentu.
Contoh : Gondok endemic merupakan keadaan tidak seimbangnya
pemasukan dan pengeluaran yodium dalam tubuh.
d) Malnutrition (Gizi Salah, Malnutrisi)
Keadaan patologis akibat kekurangan atau kelebihan secara
relatif maupun absolut satu atau lebih zat gizi.
Ada empat bentuk malnutrisi :
(1) Under Nutrition : Kekurangan konsumsi pangan secara relatif atau
absolut untuk periode tertentu.
(2) Specific Defisiency : Kekurangan zat gizi tertentu, misalnya
kekurangan vitamin A, yodium, Fe, dan lain-lain.

3
(3) Over Nutrition : Kelebihan konsumsi pangan untuk periode tertentu.
(4) Imbalance : karena disproporsi zat gizi, misalnya : kolesterol terjadi
karena tidak seimbangnya LDL (Low Density Lipoprotein), HDL
(High Density Lipoprotein) dan VLDL (Very Low Density
Lipoprotein).
e) Kurang Energi Protein (KEP)
Kurang Energi Protein (KEP) adalah seseorang yang kurang gizi
yang disebabkan oleh rendahnya konsumsi energi dan protein dalam
makanan sehari-hari dan/atau gangguan penyakit tertentu. KEP
merupakan defisiensi gizi (energi dan protein) yang paling berat dan
meluas terutama pada balita. Pada umumnya penderita KEP berasal dari
keluarga yang berpenghasilan rendah.

B. Metode/Cara Penilaian Status Gizi


1. Penilaian Status Gizi Secara Langsung
Penilaian status gizi secara langsung dapat dibagi menjadi empat
penilaian yaitu antropometri, klinis, biokimia, dan biofisik yang akan
dibahas sebagai berikut.
a) Antropometri
(1) Pengertian Antropometri
Antropometri berasal dari kata anthropos dan metros. Anthropos
artinya tubuh dan metros artinya ukuran. Jadi antropometri adalah ukuran
dari tubuh. Pengertian dari sudut pandang gizi, telah banyak
diungkapkan oleh para ahli. Jelliffe (1966) mengungkapkan bahwa:
“Nutritional Anthropometry is Measurement of the Variations of the
Physical Dimensions and the Gross Composition of the Human Body at
Different Age Levels and Degree of Nutrition ”.
Dari definisi tersebut diatas dapat ditarik pengertian bahwa
antropometri gizi adalah berhubungan dengan berbagai macam
pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat

4
umur dan tingkat gizi. Berbagai jenis ukuran tubuh antara lain: berat
badan, tinggi badan, lingkar lengan atas dan tebal lemak dibawah kulit.
Secara umum antropometri artinya ukuran tubuh manusia. Dan
secara umum digunakan untuk mengukur status gizi dari berbagai
ketidak seimbangan antara asupan protein dan energi. Ditinjau dari sudut
pandang gizi, maka antropometri gizi berhubungan dengan berbagai
macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai
tingkat umur dan tingkat gizi. Gangguan ini biasanya terlihat dari pola
pertumbahan fisik dan proporsi jaringan tubuh seperti lemak, otot dan
jumlah air dalam tubuh.

(2) Keunggulan Antropometri


Sebelum menguraikan tentang keunggulan antropometri ada
baiknya mengenal apa yang mendasari penggunaan antropometri.
Beberapa syarat yang mendasari penggunaan antropometri adalah:
(a) Alatnya mudah didapat dan digunakan, seperti dacin, pita lingkar
lengan atas, mikrotoa, dan alat pengukur panjang bayi yang dapat
dibuat sendiri dirumah.
(b) Pengukuran dapat dilakukan berulang-ulang dengan mudah dan
objektif. Contohnya, apabila terjadi kesalahan pada pengukuran
lingkar lengan atas pada anak balita, maka dapat dilakukan
pengukuran kembali tanpa harus persiapan alat yang rumit.
Berbeda dengan pengukuran status gizi dengan metode biokimia,
apabila terjadi kesalahan maka harus mempersiapkan alat dan
bahan terlebih dahulu yang relatif mahal dan rumit.
(c) Pengukuran bukan hanya dilakukan dengan tenaga khusus
professional, juga oleh tenaga lain setelah dilatih untuk itu.
(d) Biaya relatif murah, karena alat mudah didapat dan tidak
memerlukan bahan-bahan lainnya.
(e) Hasilnya mudah disimpulkan, Karena mempunyai ambang batas
(cut off points) dan baku rujukan yang sudah pasti.

5
(f) Secara ilmiah diakui kebenarannya. Hampir semua negara
menggunakan antropometri sebagai metode untuk mengukur
status gizi masyarakat, khususnya untuk penapisan (screening)
status gizi. Hal ini dikarenakan antropometri diakui kebenarannya
secara ilmiah.

Memperhatikan faktor diatas, maka dibawah ini akan diuraikan


keunggulan antropometri gizi sebagai berikut:

(a) Prosedurnya sederhana, aman dan dapat dilakukan dalam jumlah


sampel yang besar.
(b) Relatif tidak membutuhkan tenaga ahli, tetapi cukup dilakukan
oleh tenaga yang sudah dilatih dalam waktu singkat dapat
melakukan pengukuran antropometri.
(c) Alatnya murah, mudah dibawa, tahan lama, dapat dipesan dan
dibuat di daerah setempat.
(d) Metode ini tepat dan akurat, karena dapat dibakukan.
(e) Dapat mendeteksi atau menggambarkan riwayat gizi di masa
lampau.
(f) Umumnya dapat mengidentifikasi status gizi sedang, kurang, dan
gizi buruk, karena sudah ada ambang batas yang jelas.
(g) Metode antropometri dapat mengevaluasi perubahan status gizi
pada periode tertentu, atau dari suatu generasi ke generasi
berikutnya.
(h) Metode antropometri gizi dapat digunakan untuk penapisan
kelompok yang rawan terhadap gizi.

(3) Kelemahan Antropometri


Disamping keunggulan metode penentuan status gizi secara
antropometri, terdapat pula beberapa kelemahan.
(a) Tidak sensitif. Metode ini tidak dapat mendeteksi status gizi
dalam waktu singkat. Disamping itu tidak dapat membedakan
kekurangan zat gizi tertentu seperti Zink dan Fe.

6
(b) Faktor di luar gizi (penyakit, genetik, dan penurunan penggunaan
energi) dapat menurunkan spesifikasi dan sensitivitas pengukuran
antropometri.
(c) Kesalahan yang terjadi pada saat pengukuran dapat
mempengaruhi presisi, akurasi, dan validitas pengukuran
antropometri gizi.
(d) Kesalahan ini terjadi karena:
 Pengukuran
 Perubahan hasil pengukuran baik fisik maupun komposisi
jaringan
 Analisis dan asumsi yang keliru
(e) Sumber kesalahan, biasanya berhubungan dengan:
 Latihan petugas yang tidak cukup
 Kesalahan alat atau alat tidak ditera
 Kesulitan pengukuran

(4) Jenis Parameter


Antropomentri sebagai indikator status gizi dapat dilakukan
dengan mengukur beberapa parameter. Parameter adalah ukuran
tunggal dari tubuh manusia, antara lain: umur, berat badan, tinggi
badan, lingkar lengan atas, lingkar kepala, lingkar dada, lingkar
pinggul, dan tebal lemak dibawah kulit. Di bawah ini akan diuraikan
parameter itu.
(a) Umur
Faktor umur sangat penting dalam status gizi. Kesalahan
penentuan umur akan menyebabkan interpretasi status gizi
menjadi salah. Hasil pengukuran tinggi badan dan berat badan
yang akurat, menjadi tidak berarti bila tidak disertai dengan
penentuan umur yang tepat.
Menurut Puslitbang Gizi Bogot (1980), batasan umur
digunakan adalah tahun umur penuh (Completed Year) dan untuk

7
anak umur 0-2 tahun digunakan bulan usia penuh (Completed
Year).
Contoh: Tahun usia penuh (completed year)
Umur: 7 tahun 2 bulan, dihitung 7 tahun
6 tahun 11 bulan, dihitung 6 tahun

(b) Berat Badan


Berat badan merupakan ukuran antropometri yang
terpenting dan paling sering digunakan pada bayi baru lahir
(neonatis). Berat badan menggambarkan jumlah dari protein,
lemak, air dan mineral pada tulang. Pada remaja, lemak tubuh
cenderung meningkat, dan protein otot menurun. Pada orang yang
edema dana sites terjadi penambahan cairan dalam tubuh adanya
tumor dapat menurunkan jaringan lemak dan otot khususnya
terjadi pada orang kekurangan gizi.
(c) Tinggi Badan
Tinggi badan merupakan parameter yang penting bagi
keadaan yang telah lalu dan keadaan sekarang, jika umur tidak
diketahui dengan tepat. Di samping itu tinggi badan merupakan
ukuran badan kedua yang penting, karena dengan
menghubungkan berat badan dan tinggi badan, faktor umum
dapat dikesampingkan.
(d) Lingkar Lengan Atas
Lingkar lengan atas (LLA) dewasa ini memang
merupakan salah satu pilihan untuk penentuan status gizi, karena
mudah dilakukan dan tidak memerlukan alat-alat yang sulit
diperoleh dengan harga yang lebih murah. Akan tetapi ada
beberapa hal yang perlu mendapat perhatia, terutama, jika
digunakan sebagai pilihan tunggal untuk indeks status gizi.
(e) Lingkar Dada
Biasanya dilakukan pada anak yang berumur 2 sampai 3
tahun, karena rasio lingkar kepala dan lingkar dada sama pada

8
umur 6 bulan. Setelah umur ini, tulang tengkorak tumbuh secara
lambat dan pertumbuhan lebih cepat. Umur antara 6 bulan dan 5
tahun, rasio lingkar kepala dan dada adalah kurang dari satu, hal
ini dikarenakan akibat kegagalan perkembangan dan
pertumbuhan, atau kelemahan otot dan lemak pada dinding dada.
Ini dapat digunakan sebagai indikator dalam menentukan KEP
pada anak balita.
(f) Jaringan Lunak
Otak, hati, jantung, dan organ dalam lainnya merupakan
bagian yang cukup besar dari berat badan, tetapi relative tidak
berubah beratnya pada anak malnutrisi. Otot dan lemak
merupakan jaringan lunak yang sangat bervariasi pada penderita
KEP. Antropometri jaringan dapat dilakukan pada kedua jaringan
tersebut dalam pengukuran status gizi masyarakat.
b) Klinis
(1) Pengertian
Pemeriksan klinis adalah metode yang sangat penting untuk
menilai status gizi masyarakat. Metode ini didasarkan atas perubahab
perubahan yang terjadi dihubungkan dengan ketidakcukupan zat gizi.
Hal ini dapat dilihat pada jaringan epitel seperti kulit, mata, rambut,
dan mukosa oral atau atau pada organ organ yang dekat dengan
permukaan tubuh seperti kelenjar tiroid.
(2) Penggunaan
Penggunaan metode ini umumnya untuk survey klinis secara
cepat. Survey ini dirancang untuk mendeteksi secara cepat tanda
tanda klinis umum dari kekurangan salah satu atau lebih zat gizi.
Disamping itu digunakan untuk mengetahui tingkat status gizi
seseorang dengan melakukan pemeriksaan fisik yaitu tanda (sign)
dan gejala (symptom) atau riwayat penyakit.
(3) Riwayat medis
Dalam riwayat medis, kita mencatat semua kejadian kejadian
yang berhubungan dengan gejala yang timbul pada penderita beserta

9
faktor faktor yang mempengaruhinya timbulnya penyakit tersebut.
Catatan itu meliputi :
(a) Identitas penderita : umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan,
suku, dan sebagainya
(b) Lingkungan fisik dan social budaya yang berkaitan dengan
timbulnya penyakit tersebut(malnutrisi), antara lain lingkungan
fisik (keadaan kesuburan tanah dan kandungan mineral tanh)
dan lingkungan social budaya (adat istiadat, kepercayaan, dan
kebiasaan kebiasaan, serta pola kehidupan masyarakat
sekitarnya)
(c) Sejarah timbulnya gejala penyakit. Beberapa hal yang perlu
diketahui adalah : kapan berat badan menurun, kapan ada gejala
anoreksia atau nafsu makan menurun, kapan ada gejala muntah,
apakah ada mencret atau tidak, kalau ada kapan mulai terjadi
(d) Data data tambahan yang oerlu diketahui antara lain:
 Apakah penderita juga menderita anemia
 Apakah penderita juga pernah operasi usus
 Apakah penderita pernah menderita penyakit infeksi
 Apakah penderita pernah menderita penyakit kronis, seperti:
o Luka pada lambung
o Luka pada duodenum
 Apakah ada kelainan bawaan
 Apakah ada aergi makanan
 Apa macam diet dan obat obatan yang sebelumnya dipakai

Data data tersebut dapat dikumpulkan dengan cara


wawancara dengan penderita keluarga, atau dengan observasi
langsung pada rumah dan lingkungan penderita. Semua
informasi tersebut perlu dikimpulkan untuk mengetahui lebih
lanjut apakah gizi kurang disebbkan oleh penyebab primer,
yaitu konsumsi makanan atau sebab lain seperti penyakit
menahun, obat obatan yang lama, keturunan (dalam hal ini
mungkin disebabkan tidak terbentuknya enzim pencernaan)

10
sehingga menyebabkan terganggunya prosese pencernaan
makanan.

(4) Pemeriksaan fisik


Pada pemeriksaan fisik kita melakukan pengamatan terhadap
perubahan fisik, yaitu semua perubahan yang ada kaitannya dengan
kekurangan gizi. Perubbahan-perubahan tersebut dapat dilihat pada
kulit auat jaringan epitel, yaitu jaringan yang memebungkus
permukaan tubuh kita seperti rambut, mata, muka, mulut, lidah, dan
gigi serta kelenjar tiroid. Komisi ahli WHO yang dikutip oleh Jellife
(1966) dan Jellife (1989) mengelompokkan tanda tanda klinis
menjadi tiga kelompok besar, yaitu :
Kelompok 1 : tanda tanda (sign) yang memang benar berhubugan
dengan kurang gizi bisa karena kekurangan salah satu zat gizi atau
lebih yang dibutuhkan tubuh
Kelompok 2 : tanda tanda (Sign) yang membutuhkan investigasi
(penyelidikan) lebih lanju. Tanda tanda ini mungkin karena gizi salah
atau mungkin oleh faktor lain seperti kehidupan di bawah standar
(miskin), buta huruf, dll
Kelompok 3: tanda tanda (sign) yang tidak berkaitan dengan gizi
salah walaupun hamper mirip. Tanda tanda ini dalam diagnosis untuk
membedakannya memerlukan keahlian khusus.

(5) Keunggulan dan keterbatasan pemeriksaan klinis


Keunggulan pemeriksaan:
(a) Pemeriksaan klinis relative murah tidak memerlukan biaya terlalu
besar
(b) Dalam pelaksanaanya, pemeriksaan tidak memerlukan tenaga
khusus terapi, tenaga para medis bisa dilatih
(c) Sederhana, cepat, dan mudah diinterpretasikan
(d) Tidak memerlukan peralatan yang rumit

11
Keterbatasan pemeriksaan:

(a) Beberapa gejala klinis tidak mudah dideteksi, sehingga perlu


orang orang yang ahli dalam menentukan gejala klinis tersebut.
Namun demikian, para tenaga medis dapat dilatih untuk
melakukan pemeriksaan klinis
(b) Gejala klinis tidak bersifat spesifik, terutama pada penderita KEP
ringan atau sedang. Hal ini dikarenakan ada gejala klinik penyakit
yang disebabkan kekurangan gizi lebih dari satu zat gizi. Gejala
klinis yang sama adakalanya disebabkan bukan hanya disebabkan
oleh satu macam zat gizi saja, contoh :
 Glosstis (luka pada lidah) bisa disebabkan oleh karena
kekurangan riboflavin, niasin, asam folat, atau karena
kekuranagn vitamin B12
 Nasolabial seboroik dapat disebabkan karena defisiensi
vitamin B6, B12, atau niasin

Beberapa gejala klinis adakalanya disebabkan bukan karena


faktor gizi, seperti bercak bitotyang dapat pula disebabkan karena
udara atau heriditer

(c) Adanya gejala klinis yang bersigat multiple. Penyakit klit akibat
defisiensi macam vitamin biasanya tidak berdiri sendiri, tetapi
merupakan bagian defisiensi vitamin dan mineral serta zat gizi
lainnya
(d) Gejala klinis dapat terjadi pada waktu permulaan kekurangan zat
gizi dan dapat juga terjadi pada saat akan sembuh. Heepatomegali
(pembesaran hati), sebagai contoh dapat terjadi pada keadaan
malnutrisi awal dan terjadi juga pada masa penyembuhannya
(e) Adanya variasi dalam gejala klinis yang timbul. Hal ini karena
satu gejala klinis bisa dipengaruhi beberapa faktor seperti genetic,
lingkungan , kebiasaan, dan lain lain

12
c) Biokomia
(1) Pengertian
Penilaian suatu gizi dengan biokimia adalah pemeriksaan
specimen yang diuji secara laboratoris yang dilakukan pada berbagai
macam jaringan tubuh. Jaringan tubuh yang digunakan antara lain :
darah, urine,tinja, dan juga beberapa jaringan tubuh seperti otot.
(2) Penggunaan
Metode ini digunakan untuk suatu peringatan bahwa
kemungkinan akan terjadi keadaan malnutrisi yang lebih parah lagi.
Banyak gejala klinis yang kurang spesifik, maka penentuan kimia
faali dapat lebih banyak menolong untuk menentukan kekurangan
gizi yang spesifik.
(3) Penilaian Status Zat Besi
Ada beberapa indikator laboratorium untuk menentukan status zat
besi, yaitu :
(a) Hemoglobin (Hb)
Hemoglobin adalah parameter yang digunakan secara luas
untuk menetapkan prevelensi anemia. Hb merupakan senyawa
pembawa oksigen pada sel darah merah. Hb dapat diukur secara
kimia dan jumlah Hb/100 ml darah dapat digunakan sebagai
indeks kapasitas pembawa oksigen pada darah.
Metode yang sering digunakan adalah Metode Sahli,
hemoglobin dihidrolisis dengan HCl menjadi globin ferroheme.
Ferroheme oleh oksigen yang ada di udara dioksidasi menjadi
ferriheme yang segera bereaksi dengan ion Cl membentuk
ferrihemechlorid yang juga disebut hematin atau hemin yang
berwarna coklat.
Metode yang lebih canggih adalah metode
cyanmethemoglobin. Pada metode ini hemoglobin dioksidasi oleh
kalium ferrosianida menjadi methemoglobin yang kemudian
beraksi dengan ion sianida (CN2) membentuk sian-
methemoglobin yang berwarna merah.

13
(b) Hematocrit (HCT)
Hematocrit adalah volume eritrosit yang dipisahkan dari
plasma dengan cara memutarnya didalam tabung khusus yang
nilainya dinyatakan dalam persen (%).
Prosedur penentuan hematocrit haruslah dilakukan secara
duplikat dengan menggunakan darah kapiler atau darah vena
yang diantikoagulasikan dengan EDTA. Pada saat menggunakan
proses dengan EDTA ini, akan digunakan tabung kapiler
bluebanded yang berisi antikoagulan.
Nyatakan hasil dalam persentase darah penuh (panjang sel
terbungkus/panjang total). Ini merupakan volume sel darah
terbungkus (PCV).

𝑡𝑖𝑛𝑔𝑔𝑖 𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑒𝑟𝑖𝑡𝑟𝑜𝑠𝑖𝑡 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑚𝑎𝑚𝑝𝑎𝑡𝑘𝑎𝑛


Hm = 𝑥 100 % = ⋯ %
𝑡𝑖𝑛𝑔𝑔𝑖 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑑𝑎𝑟𝑎ℎ
Contoh :
1) Tinggi kolom volume eritrosit yang dimampatkan adalah 4,5 mm
2) Tinggi total kolom volume darah adalah 10 mm

Jadi :

4,5
Hm = 𝑥 100 % = 45%
10

(c) Serum Besi


Prosedur serum Iron. Darah harus dikumpulkan menggunakan
tabung terevakuasi bebas elemen tembusan. Hanya air
terdeionisasi terdistilasi yang harus digunakan.
Jika standar besi berisi 500 μg/dl, konsentrasi besi serum (μg/dl)
dari sempel dihitung dengan menggunakan rumus beikut:

𝒕𝒆𝒔𝒕 𝒇𝒊𝒏𝒂𝒍 − 𝒕𝒆𝒔𝒕 𝑨 𝒊𝒏𝒊𝒕𝒊𝒂𝒍


𝟓𝟎𝟎 𝒙 ( )
𝒔𝒕𝒂𝒏𝒅𝒂𝒓 𝑨 𝒇𝒊𝒏𝒂𝒍 − 𝒔𝒕𝒂𝒏𝒅𝒂𝒓 𝑨 𝒊𝒏𝒊𝒕𝒊𝒂𝒍
Faktor konversi pada satuan SI ( μmol/L) = x0,179

14
(d) Transferrin Saturation (TS)
Penentuan kadar zat besi dalam serum merupakan satu
cara menentukan status besi. Salah satu indikator lainnya Total
Iron Binding Capacity (TIBC) dalam serum. Kadar TIBC ini
meningkat pada penderita anemia karena kadar besi dalam serum
menurun dan TIBC meningkat pada keadaan desifiensi besi maka
rasio dari keduanya (transferri saturation) lebih sensitive. Rumus
tersebut adalah sebagai berikut :
𝑘𝑎𝑑𝑎𝑟 𝑏𝑒𝑠𝑖 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑠𝑒𝑟𝑢𝑚
𝑇𝑆 = 𝑥 100 %
𝑇𝐼𝐵𝐶
Apabila TS >16%, pembentukan sel-sel darah merah dalam
sumsum tulang berkurang dan keadaan ini disebut defisiensi besi
untuk eritropoiesis.
(e) Free erythrocyte protophorphyrin (FEP)
Apabila penyediaan zat besi tidak cukup untuk
pembentukan sel-sel darah mrah disumsum tulang sirkulasi FEP
didarah meningkat walaupun belum Nampak anemia. Dengan
menggunakan flouorometric assay, maka penentuan FEP lebih
cepat digunakan. Satuan FEP dinyatakan dalam μg/dl darah atau
μg/dl darah merah. Dalam keadaan normal kadar FEP berkisar 35
± 50 μg/dl RBC tetapi apabila kadar FEP dalam darah lebih besar
dari 100 μg/dl RBC menunjukan individu ini menderita
kekurangan besi.
Perhitungan hasil :
Konsentrasi zink protoporphyrin yang dinyatakan dengan μmol/L
RBC’s dapat dihitung menggunakan rumus berikut, yang dalam
hal ini hematocrit dinyatakan sebagai fraksi volume dari paket sel
darah merah :

𝑍𝑛 protoporphyrin dalam darah penuh (μmol/L)


ℎ𝑒𝑚𝑎𝑡𝑜𝑘𝑟𝑖𝑡 (𝑣𝑜𝑙. 𝑓𝑟𝑎𝑘𝑡𝑖𝑜𝑛)

15
Konsentrasi Zink protoporphyrin juga dapat dinyatakan dalam
μg/dL darah penuh : faktor konversi pada satuan SI (mmol/L) =
X0,0177.

(f) Serum ferritin (SF)


Untuk menilai status besi dalam hati perlu mengukur
kadar ferritin. Menurut Cook banyaknya ferritin yang
diikeluarkan ke dalam darah secara proporsional menggambarkan
banyaknya simpanan zat besi di dalam hati. Apabila didapatkan
serum ferritin sebanyak 30 mg/dl RBC berarti didalam hati
terdapat 30 x 10 mg = 300 mg ferritin. Untuk menentukan kadar
ferritin dalam darah dilakukan dengan beberapa metode, yaitu
cara immunoradiometric assay (IRMA) atau dengan cara radio
immune assay ( RIA) atau dengan cara enzyme-linked immune
assays (ELISA) yang tidak menggunakan isotope, tetapi enzim.
(g) Serum Unsaturated Iron Binding Capacity (UIBC)
Prosedur penentuan serum unsaturated iron binding capacity :
 Berilah label pada tabung uji dengan blangko, standar,
referensi, pool, dan subjek tes masing-masing.
 Tambahkan 2,0 ml reagen penyangga UIBC pada masing-
masing tabung
 Pada yang blangko tambahkan 1,0 ml air bebas besi.
 Campurkan masing-masing sempel pada sebuah cuvet
 Pasang pada panjang gelombang 560 nm.
 Baca dan catat penyerapan awal sempel blangko, standar,
refernsi, dan uji.
 Tambahkan 0,05 ml reagen warna besi pada masing-masing
tabung.
 Pindahkan isi masing-masing tabung pada cuvet.
 Bacalah lagi dan catat penyerapan sempel blangko, standar,
referensi, pool, dan uji, menggunakan blangko untuk
membuat nol penunjukan spektrofotometer.

16
Jika standar besi berisi 500 mg/dl, kapasitas pengikat besi tidak
jenuh dari serum (mg/dl) sama dengan :

𝟓𝟎𝟎 𝒙 (𝒕𝒆𝒔𝒕 𝐀 𝐟𝐢𝐧𝐚𝐥 − 𝐭𝐞𝐬𝐭 𝐀 𝐢𝐧𝐢𝐭𝐢𝐚𝐥)


𝟓𝟎𝟎 − ( )
𝒔𝒕𝒂𝒏𝒅𝒂𝒓 𝑨 𝒇𝒊𝒏𝒂𝒍 − 𝒕𝒆𝒔𝒕 𝑨 𝒊𝒏𝒊𝒕𝒊𝒂𝒍
Kapasitas pengikat besi total (TIBC) (μg/dl) = besi total pada
serum (μg/dl) + kapasitas pengikat besi tidak jenuh dari serum
(μg/dl). Faktor konversi pada satuan SI (μmol/L) = x0.179

(4) Penilaian Status Protein


Protein dalam darah mempunyai peranan fisiologis yang penting
bagi tubuh anatara lain:
(a) Untuk mengatur tekanan air, dengan adanya tekanan osmose dari
plasma protein.
(b) Sebagai cadangan protein tubuh.
(c) Untuk mengontrol perdarahan ( terutama dari fibrinogen).
(d) Sebagai transport yang paling penting untuk zat-zat tertentu.
(e) Sebagai antibody dari berbagai penyakit terutama dari gamma
globulin.
(f) Untuk mengatur aliran darah, dalam membantu bekerjanya
jantung.

Pemeriksaan biokimia terhadap status protein dibagi menjadi 2


bagian pokok, yaotu penilaian terhadap somatic protein dan visceral
protein. Perbandingan somatic dan visceral dalam tubuh antara 75%
dan 25%. Somatic protein terdapat pada otot skeletal, sedangkan
visceral protein terdapat di dalam rongga/visceral tubuh yaitu hati,
ginjal, pancreas, jantung, erytrocyt, granulocyte, dan lympocyt.
Penentuan serum protein dalam tubuh meliputi : Albumin, Transferin,
Prealbumin (yang dikenal juga dengan transthyertin dan thyroxine-
binding prealbumin), Retinol binding protein (RBP), Insulin-Like
Growth Factor-1 dan fibronectin.

17
(5) Penilaian Status Vitamin
Penilaian status vitamin yang terkait dengan status gizi meliputi
penentuan kadar vitamin A, vitamin D, vitamin E, vitamin C, tiamin,
riboflavin, vitamin B6, vitamin B12.
(a) Vitamin A
Deplesi vitamin A dalam tubuh merupakan proses yang
berlangsung lama, dimuali dengan habisnya persendiaan vitamin
A dalam hati, kemudian menurunnya kadar vitamin A plasma, dan
baru kemudian timbul disfungsi retina, disusul dengan perubahan
jaringan epitel.
(b) Vitamin D
Kekurangan vitamin ini dapat mengakibatkan penyakit rakhitis
dan kadang-kadang tetani. Apabila kekurangan terjadi pada masa
pertumbuhan akan timbul osteoma-lasia. Sangat jarang ditemukan
rakhitis bawaan, insiden tertinggi terdapat pada umur 18 tahun.
(c) Vitamin E
Defisiensi vitamin E jarang sekali ditemukan oleh sebab makanan
sehari-hari mengandung vitamin E. Gangguan yang dapat dilihat
akibat kekurangan vitamin E adalah hemolysis dan mengurangnya
umur hidup eritrosit penelitian pada binatang percobaan
didapatkan bahwa defisiensi vitamin E menyebabkan kemandulan
baik pada jantan dan betina. Gangguan lain adalah distrofi otot dan
kelainan saraf pusat (ensefalomalasia).
(d) Vitamin C
Vitamin C diperlukan pada pembentukan zat kolagen oleh
fibroblast hingga merupakan bagian dalam pembentukan zat
intersel. Kekurangan vitamin C akan mengganggu integrasi dinding
kapiler. Vitamin C dipelukan juga pada proses pematangan eritrosit
dan pada pembentukan tulang dan dentin. Vitamin C mempunyai
peranan penting pada respirasi jaringan.

18
(e) Tiamin (B1)
Kekurangan tiamin merupakan penyebab penyakit beri-beri.
Bilaman diet wanita hamil tidak cukup mengandung vitamin B1,
maka akan yang dilahirkan dapat menderita penyakit beri-beri
bawaan atau gejala beri-beri dapat timbul pada anak yang sedang
disusui penyakit demikian dapat pula timbul pada anak dengan
gastro-enteritis menahun. Gejala beri-beri pada bayi, anak dan
orang dewasa pada umumnya sama. Manifestasi penting berupa
kelainan saraf, mental, dan jantung. Kadang-kadang ditemukan
kasus beri-beri bawaan dan jika gejala klinisnya timbul pada umur
triwulan pertama.

(6) Penilaian Status Mineral


(a) Iodine
Yodium adalah salah satu mineral penting bagi kehidupan
manusia karena yodium sangat diperlukan untuk pertumbuhan,
perkembangan serta fungsi otak. Kebutuhan rata-rata perorang
dewasa perhari sangat sedikit yaitu 0,15 μg atau 150 μg (1 mg =
1/106 g). Meskipun jumlahnya sangat sedikit tubuh memerlukan
yodium secara teratur setiap hari. Kekurangan yodium akan
mengalami gangguan fisik antara lain dari yang ringan sampai yang
berat. Gangguan pertumbuhan fisik antara lain mencakup penyakit
gondok, badan kerdil, gangguan motorik seperti kesulitan untuk
berdiri atau berjalan normal, bisu tuli atau mata juling. Sedangkan
gangguan mental termasuk berkurangnya kecerdasan.
(b) Zink
Zink adalah metaloenzim dan bekerja sebagai koenzim pada
berbagai sistem enzim. Lebih dari 80 enzim dan protein yang
mengandung zink telah ditemukan. Tubuh mengandung 1-2 zink.
Tulang, gigi, rambut, kulit, dan testis mengandung banyak zink.
Dalam darah seng terdapat di plasma terkait pada albumin dan
globulin. Sumber utama seng terdapat pada makanan bersumber

19
dari hewan. Kebutuhan yang dianjurkan untuk zink bagi bayi 3-5
mg, bagi anak 1-10 tahun 10 mg, dan bagi pertumnuhan yang
terlambat, dermatosis, hypogonadisme, oligispermi, adaptasi gelap
yang menurun, gangguan imunitas, rambut rontok, nafsu makan
berkurang. Batasan dan interpretasi pemeriksan kadar zink dalam
plasma adalah 12-17 mmol/liter dikatakan normal.
(c) Kalsium
Kalsium adalah mineral yang berada dalam tubuh ±2 % dan lebih
dari 99 % terdapat di dalam tulang. Kadar kalsium darah
dipertahankan agak konstan anatara 10-15 mg/100 ml oleh berbagai
faktor. Penurunan kadar kalsium akan mengandung hormone
paratiroid untuk bereaksi pada tulang dan melepaskan sebagian
kalsiumnya agar kadar dalam darah dipertahankan atau sebaliknya.
Kalsium dalam darah memiliki 2 fungsi esensial yaitu untuk proses
pembekuan dan efek terhadap jaringan saraf.
(d) Fosfor
Fofor adalah suatu unsur yang penting bagi seluruh sel-sel hidup.
Disamping itu mineral tulang rangka sebaian besar terdiri dri
kalsium fosfat. Tingginya kadar fosfat selama masa pertumbuhan
penting untuk menjamin kelangsungan proses mineralisasi pada
tulang-tulang dan tulang rawan yang sedang tumbuh. Sedangkan
kebutuhan normal dalam darah adalah 2,5-4,5 μg/100 μl.
(e) Magnesium
Magnesium adalah ion intrasel dan bekerja sebagi kofator pada
fosforilasi oksidatif dan juga didepositokan pada tulang.
Konsentrasi magnesium dalam serum mempengaruhi transmisi saraf
dan kontraksi otot. Batasan dan interpretasi pemeriksaan kadar
magnesium dalam darah 1,8-2,4 μg/100 ml (normal)
(f) Krom (Chromium)
Krom berperan penting pada metabolisme karbohidrat dan
glukosa. Mineral tersebut menstimulir sintesis asam lemak dan
kolestrol dalam hepar. Kekurangan krom mengakibatkan

20
pertumbuhan yang berkurang dan sindroma yang menyerupai
diabetes mellitus. Krom terdapat pada minyak jagung, serealia, dan
daging. Kadar krom dalam darah normal berkisar 0,14 – 0,15 μg/ml
untuk serum atau 0,26 – 0,28 μg/ml untuk plasma.
(g) Tembaga (Copper)
Tembaga adalah komponen berbagai sistem enzimdalam plasma
kuranglebih 80% tembaga terikat dengan protein seruloplasmin,
suatuenzim transpor besi. Sebaliknya tembaga terikat pada albumin.
Kekurangan tembaga sangat jarang terjadi terkecuali pada penderita
KEP berat atau diare menahun. Batasan dan klasifikasi pemeriksaan
kadar tembaga dalam darah dalam keadaan normal = 80-150 μg/100
ml.
(h) Selenium
Penyakit jantung endemic yang terdapat di daerah tertentu di
negeri China dan menghinggapi terutama anak dan wanita muda
dan dikenal sebagai Keshan disease yang dianggap sebagai penyakit
kekurangan selenium. Dikatakan bahwa selenium dapat melindungi
sel tubuh dari kehancuran hingga memperlambat proses menua.

d) Biofisik
(1) Pengertian
Penilaian status gizi dengan biofisik termasuk penilaian status
gizi secara langsung. Penentuan status gizi dengan biofisik adalah
melihat dari kemampuan fungsi jaringan dan perubahan struktur. Tes
kemampuan fungsi jaringan meliputi kemampuan kerja dan energi
exspenditure serta adaptasi sikap. Tes perubahan struktur dapat
dilihat secara klinis maupun tidak. Perubahan yang dapat dilihat
secara klinis seperti pengerasan kuku, pertumbuhan rambut tidak
normal dan menurunnya elastisitas kartilago.
Pemeriksaan yang tidak dapat dilihat secara klinis biasanya
dilakukan dengan pemeriksaan radiologi. Penilaian status gizi secara
biofisik sangat mahal, memerlukan tenaga yang profesional dan

21
dapat diterapkan dalam keadaan tertentu saja. Penilaian secara
biofisik dapat dilakukan melalui 3 cara yaitu uji radiologi, tes fungsi
fisik, dan sitologi.
(2) Pemeriksaan Radiologi (Radiographic Examination)
Cara ini umumnya jarang dilakukan di lapangan. Metode ini
dilakukan dengan melihat tanda – tanda fisik dan keadaan – keadaan
tertentu seperti riketsia, osteomalasia, fluorosis, dan beri – beri.
Penggunaam metoda ini adalah survei yang sifatnya retrospektifdari
pengukuran kurang gizi seperti riketsia dan KEP dini.
(3) Tes Fungsi Fisik (Test of Physical Function)
Tujuan utama dari tes biofisik adalah untuk mengukur perubahan
fungsi yang dihubungkan dengan ketidakcukupan gizi. Beberapa tes
yang digunakan adalah; ketajaman penglihatan, adaptasi mata pada
suasana gelap, penampilan fisik, koordinasi otot, dan lain – lainnya.
Metode ini tidak praktis digunakan di lapangan. Pada tes tersebut,
yang paling sering digunakan adalah tes adaptasi pada ruangan gelap.
Tes ini untuk mengukur kelainan buta senja yang diakibatkan oleh
kekurangan vitamin A. Metode ini akan lebih berguna apabila
dilakukan di daerah epidermis kekurangan vitamin A (buta senja).
Metode ini mempunyai beberapa kelemahan sebagai berikut:
 Tidak spesifik untuk mengukur kekurangan vitamin A, karena
ada faktor lain yang ikut mempengaruhinya.
 Sulit dilakukan.
 Tidak objektif.
(4) Tes Sitologi (Cytological Test)
Tes ini digunakan untuk menilai keadaan KEP berat. Seperti yang
disarankan oleh Sguires (1965), pemeriksaan ini dilakukan dengan
melihat noda pada epitel (stainned epithetial smears) dari mukosa
oral. Hasil dari penelitian pada binatang dan anak KEP menunjukkan
bahwa presentase perubahan sel meningkat pada tingkatan KEP dini.

22
2. Penilaian Status Gizi Secara Tidak Langsung
Penilaian status gizi secara tidak langsung dapat dibagi tiga yaitu : survey
konsumsi makanan, statistik vital dan faktor ekologi yang akan diuraikan
sebagai berikut.
a) Survei Konsumsi Makanan
Survei konsumsi makanan adalah metode penentuan status gizi
secara tidak langsung dengan melihat jumlah dan jenis zat gizi yang
dikonsumsi.
(1) Penggunaan
Pengumpulan data konsumsi makanan dapat memberikan
gambaran tentang konsumsi berbagai zat gizi pada masyarakat,
keluarga dan individu. Survei ini dapat mengidentifikasikan
kelebihan dan kekurangan zat gizi
(2) Tujuan Umum
Secara umum survey konsumsi makanan dimaksudkan untuk
mengetahui kabiasaan makan dan gambaran tingkat kecukupan bahan
makanan dan zat gizi pada tingkat kelompok, rumah tangga, dan
perorangan serta factor-faktor yang berpengaruh terhadap konsumsi
makanan tersebut.
(3) Tujuan Khusus
Secara lebih khusus, survey konsumsi digunakan untuk berbagai
macam tujuan antara lain:
 Menentukan tingkat kecukupan konsumsi pangan nasional dan
kelompok masyarakat
 Menentukan status kesehatan dan gizi keluarga dan individu
 Menentukan pedoman kecukupan makanan dan program
pengadaan pangan
 Sebagai dasar perencanaan dan program pengembangan gizi
 Sebagai sarana pendidikan gizi masyarakat, khususnya golongan
yang berisiko tinggi mengalami kekurangan gizi

23
(4) Metode Pengukuran Konsumsi Makanan Berdasarkan Jenis Data
Yang Diperoleh
(a) Metode Kualitatif
Metode yang bersifat kualitatif biasanya untuk
mengetahui frekuensi makan, frekuensi konsumsi menurut jenis
bahan makanan dan menggali informasi tentang kebiasaan
makanan (food habits) serta cara-cara memperoleh bahan
makanan tersebut. Metode-metode pengukuran konsumsi
makanan bersifat kualitatif antara lain:
 Metode frekuensi makanan (food frequency)
 Metode dietary history
 Metode telepon
 Metode pendaftaran makanan (food list)
(b) Metode Kuantitatif
Metode secara kuantitatif dimaksudkan untuk mengetahui
jumlah makanan yang dikonsumsi sehingga dapat dihitung
konsumsi zat gizi dengan menggunakan Daftar Komposisi Bahan
Makanan (DKBM) atau daftar lain yang diperlukan seperti
Daftar Ukuran Rumah Tangga (URT), Daftar Konversi Masak-
Masak (DKMM) dan Daftar Penyerapan Minyak. Metode-metode
untuk pengukuran konsumsi secara kuantitatif antara lain:
 Metode recall 24 jam
 Perkiraan makanan ( estimated food records )
 Penimbanagan makanan ( food weighing )
 Metode food account
(c) Metode Kualitatif dan Kuantitatif
Beberapa metode pengukuran bahkan dapat menghasilkan data
yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif. Metode tersebut
antara lain:
 Metode recall 24 jam
 Metode riwayat makan (dietary history)

24
(5) Metode Pengukuran Konsumsi Makanan Berdasarkan Sasaran
Pengamatan Atau Pengguna
(a) Tingkat Nasional
Untuk menghitung tingkat konsumsi masyarakat dan perkiraaan
kecukupan persediaan makanan secara nasional pada suatu
wilayah atau Negara dilakukan dengan cara Food Balance Sheet
(FBS).
(b) Tingkat Rumah Tangga
Konsumsi makanan rumah tangga adalah makanan dan
minuman yang tersedia untuk dikonsumsi oleh anggota keluarga
atau institusi. Metode pengukuran konsumsi makanan untuk
keluarga atau rumah tangga adalah sebagai berikut:
 Pencatatan (food account)
Metode pencatatan dilakukan dengan cara keluarga
mencatat setiap hari semua makanan yang dibeli, diterima
dari orang lain ataupun dari hasil produksi sendiri. Jumlah
makanan dicatat dalam URT, termasuk harga eceran bahan
makanan tersebut.
 Metode pendaftaran (food list)
Metode pendaftaran ini dilakukan dengan menanyakan
dan mencatat seluruh bahan makanan yang digunakan
keluarga selama periode survey dilakukan (biasanya 1-7
hari). Pencatatan dilakukan berdasarkan jumlah bahan
makanan yang dibeli, harga dan nilai pembeliannya. Jadi data
yang diperoleh merupakan taksiran/perkiraan dari responden.
Metode ini tidak memperhitungkan bahan makanan yang
terbuang, rusak, dll.
 Metode inventaris (inventory method)
Metode inventaris ini juga sering disebut log book
method. Prinsipnya dengan caranya menghitung/mengukur
semua persediaan makanan di rumah tangga (berat dan
jenisnya) mulai dari awal sampai akhir survey.

25
 Pencatatan makanan rumah tangga (household food record)
Pengukuran dengan metode household food record ini
dilakukan sedikitnya dalam periode satu minggu oleh
responden sendiri. Dilaksanakan dengan menimbang atau
mengukur dengan URT seluruh makanan yang ada di rumah,
termasuk cara pengolahannya. Metode ini dianjurkan untuk
tempat/daerah, dimana tidak banyak variasi penggunaan
bahan makanan dalam keluarga dan masyarakatnya sudah
bisa membaca dan menulis.
 Metode Telepon
Dewasa ini survey konsumsi dengan metode telepon
semakin banyak digunakan terutama untuk daerah perkotaan
dimana sarana komunikasi telepon sudah cukup tersedia.
Untuk negara berkembang metode ini belum banyak
dipergunakan karena membutuhkan biaya yang cukup mahal
untuk jasa telepon.
(c) Tingkat Individu atau Perorangan
Metode pengukuran konsumsi makanan untuk individu, antara
lain:
 Metode recall 24 jam
Prinsip dari metode recall 24 jam, dilakukan dengan
mencatat jenis dan jumlah bahan makanan yang di konsumsi
pada periode 24 jam yang lalu. Hal penting yang perlu
diketahui adalah bahwa dengan recall 24 jam data yang
diperoleh cenderung lebih bersifat kualitatif. Oleh karena itu,
untuk mendapatkan data kuantitatif, maka jumlah konsumsi
makanan individu ditanyakan secara teliti dengan
menggunakan alat URT (sendok,gelas,piring, dll) atau ukuran
lainnya yang biasa dipergunakan sahri-hari. Karena
keberhasilan metode recall 24 jam ini sangat ditentukan oleh
daya ingat responden dan kesungguhan serta kesabaran dari
pewawancara, maka untuk dapat meningkatkan mutu data

26
recall 24 jam dilakukan selama beberapa kali pada hari yang
berbeda, tergantung dari variasi menu keluarga dari hari ke
hari.
 Metode estimated food records
Metode ini disebut juga food records atau diary records,
yang digunakan untuk mencatat jumlah yang dikonsumsi.
Pada metode ini responden diminta untuk mencatat semua
yang ia makan dan minum setiap kali sebelum makan dalam
URT atau menimbang dalam ukuran berat (gram) dalam
perode tertentu (2-4) hari berturut-turut), termasuk cara
persipan dan pengolahan makanan tersebut. Metode ini juga
dapat memberikan informasi konsumsi yang mendekati
sebenarnya tentang jumlah energy dan zat gizi yang
dikonsumsi oleh individu.
 Metode penimbangan makanan (food weighing)
Pada metode penimbangan makanan, responden atau
petugas menimbang dan mencatat seluruh makanan yang
dikonsumsi responden selama 1 hari. Penimbangan makanan
ini biasanya berlangsung bebrapa hari tergantung dari tujuan,
dana penelitian dan tenaga yang tersedia.
 Metode Riwayat Makan (dietary history)
Metode ini bersifat kualitatif karena memberikan
gambaran pola konsumsi berdasarkan pengamatan dalam
waktu yang cukup lama. Burke (1947) menyatakan bahwa
metode ini terdiri dari 3 komponen, yaitu:
- Komponen pertama adalah wawancara, yang
mengumpulkan data tentang apa saja yang dimakan
responden selama 24 jam terakhir
- Komponen kedua adalah tentang frekuensi penggunaan
dari sejumlah bahan makanan dengan memberikan daftar
yg sudah disiapkan, untuk mengecek kebenaran dari
recall 24 jam tadi

27
- Komponen ketiga adalah pencatatan konsumsi selama 2-
3 hari sebagai cek ulang
 Metode frekuensi makanan (food frequency)
Metode frekuensi makanan adalah untuk memperoleh data
tentang frekuensi konsumsi sejumlah bahan makanan atau
makanan jadi selama periode tertentu.
Selain itu dengan metode ini dapat memperoleh gambaran
pola konsumsi bahan makanan secara kualitatif, tapi karena
periode pengamatannya lebih lama dan dapat membedakan
individu berdasarkan ranking tingkat konsumsi zat gizi, maka
cara ini paling sering digunakan dalam penelitian
epidemiologi gizi.

b) Statistik Vital
Salah satu cara untuk mengetahui gambaran keadaan gizi disuatu
wilayah adalah dengan cara menganalisis statistik kesehatan. Dengan
menggunakan statistik kesehatan, dapat dipertimbangkan
penggunaannya sebagai bagian dari indikator tidak langsung pengukuran
status gizi masyarakat. Beberapa statistik vital yang berhubungan dengan
keadaan kesehatan dan gizi antara lain angka kesehatan,angka kematian,
pelayanan kesehatan, dan penyakit infeksi yang berhubungan dengan
gizi.
(1) Angka Kematian Berdasarkan Umur
Angka kematian berdasarkan umur adalah jumlah kematian pada
kelompok umur tertentu terhadap jumlah rata-rata penduduk pada
kelompok umur tersebut. Biasanya disajikan sebagai per 1.000
penduduk. Manfaat data ini adalah untuk mengetahui tingkat dan
pola kematian menurut golongan umur dan penyebabnya.
Beberapa keadaan kurang gizi mempunyai insidens yang tinggi
pada umur tertentu, sehingga tingginya angka kematian pada umur
tersebut dapat dihubungkan dengan kemungkinan tinggi nya angka
keadaan kurang gizi.

28
(a) Angka Kematian Umur 2-5 Bulan
Angka kematian pada umur-umur ini dibanding dengan
daerah yang mengalami defisieni thiamin (vitamin B) relatif
lebih tinggi di bandingkan dengan daerah yang tidak
mengalami defisiensi thamin. Terdapat kesulitan mengukur
angka kematian akibat beri-beri pada anak, karena kematian
tersebut mungkin juga disebabkan oleh penyakit lainnya
seperti pneumonia dan diare. Angka kelahiran pada kelompok
umur 2-5 bulan tetap merupakan indeks kesehatan yang baik.
Periode umur ini merpakan periode dengan status gizi
seseorang anak yang dapat tergantung pada praktik pemberian
makanan, terutama apakah disusui atau tidak.
(b) Angka Kematian Umur 1-4 Tahun
Angka kematian bayi (infant mortality rates) telah cukup
banyak digunakan sebagai indikator kesehatan masyarakat.
Angka kematian bayi adalah jumlah kematian anak umur
kurang dari satu tahun tertentu terhadap jumlah kelahiran
hidup pada tahun yang sama yang disajikan sebagai per 1.000
kelahiran hidup.
Periode umur ini, sering disebut sebagai umur prasekolah.
Keadaan pra sekolah adalah masa yang rawan terhadap
masalah gizi, penyakit infeksi, dan tekanan emosi atau stres.
Pada umur itu, sering terjadi asupan makanan anak yang tidak
mencukupi, dan anak sering terkena infeksi karena praktik
pemberian makanan dan kontak yang lebih luas dengan dunia
yang lebih luas dengan dunia luar dan stres emosional yang
dihubungkan dengan masa penyapihan.
(c) Angka Kematian Umur 13-24 Bulan
Angka kejadian KEP pada umur ini sering terjadi, karena
pada periode umur ini merupakan umur periode penyapihan.
Anak yang disapih emiliki masa transisi pada pola makannya.
Keadaan ini mengakibatkan asupan makanan berkurang.

29
Masa ini disebut masa transisi pada tahun kedua (secuntrant)
yaitu second year tradisional.
(2) Angka Kesakitan Dan Kematian Akibat Penyebab Tertentu
Angka penyebab penyakit dan kematian pada umur 1-4 tahun
merupakan informasi yang paling bagus untuk meggambarkan
keadaan gizi disuatu msyarakat. Perlu disadari bahwa angka tersebut
terkadang kurang menggambarkan masalah gizi yang sebenarnya.
Besarnya proporsi kematian balita dapat disebabkan oleh penyakit
diare, parasit, pneumonia, atau penyakit-penyakit infeksi lainnya
seperti campak dan batuk rejan.
(3) Statistik Layanan Kesehatan
Berbagai statistik layanan kesehatan dapat dilihat dari tempat
layanan kesehatan itu berada. Tempat layanan kesehatan yang bisa
dijangkau antara lain Posyandu, Puskesmad, dan Rumah Sakit.
Statistik layanan keehatan ditingkat desa dapat dilihat dari Bidan
Desa. Di bawah ini akan diuraikan data layanan kesehatan di
Puskesmas dan Rumah Sakit.
(4) Infeksi Yang Relevan Dengan Keadaan Gizi
Kaitan penyakit infeksi dengan keadaan gizi kurang merupakan
hubungan timbal balik, yaitu hubungan sebab akibat. Penyakit infeksi
dapat memperburuk keadaan gizi dan keadaan yang jelek dapat
mempermudah terkena infeksi. Penyakit yang umumnya terkait
dengan masalah gizi antara lain diare, tuberkulosis, campak, dan
batuk rejan (whooping cough).
Hubungan penyakit infeksi dengan penyakit gizi salah sudah
banyak dijelaskan oleh para ahli salah satu contoh adalah interelasi
antara kekurangan vitamin A dengan penyakit infeksi seperti terlihat
pada bagan di bawah ini.

30
INFEKSI

Panas Perubahan Integritas


Epitel
Gangguan Nafsu Makan Jaringan Limfoid
Gangguan Absorpsi Imunitas Spesifik
gangguan utilinasi Mekanisme non Spesifik

dll dll

KEKURANGAN
VITAMIN A

Bagan 9-1.Iinterelasi antara KVA dengan Infeksi.

(5) Kelemahan Statistik Vital Untuk Menggambarkan Keadaan Gizi


Kelemahan-kelemahan tersebut antara lain.
(a) Data tidak akurat
Tidak akuratnya data disebabkan oleh karena kesulitan dalam
mengumpulkan data, khususnya di negara-negara yang sedang
berkembang.
(b) Kemampuan untuk melakukan interpretasi secara tepat, terutama
pada saat terdapat faktor-faktor lain yang yng memengaruhi
keberadaan gizi seperti tingginya kejadian penyakit infeksi, dan
faktor sosial ekonomik lainnya.

Dengan melakukan kelemahan tersebut, statistik vital tetap dapat


digunakan secara tidak langsung untuk menilai keadaan gizi disuatu
masyarakat. Menilai keadaan gizi dengan statistik vital ini
membutuhkan tenaga proffesional, terutama dalam hal interpretasi
data dan pemahaman konsep-konsep yang berhubungan dengan
masalah gizi.

31
c) Pengukuran Faktor Ekologi
Bengoa (dikutip oleh Jelliffe, 1966), mengungkapkan bahwa
malnutrisi merupakan masalah ekologi sebagai hasil yang saling
mempengaruhi (multiple overlapping) dan interaksi beberapa faktor fisik,
biologis dan lingkungan budaya. Jadi jumlah makanan dan zat-zat gizi
yang tersedia sangat bergantung pada keadaan ekologi/lingkungan
seperti iklim, tanah, irigasi, penyimpanan, transportasi, transportasi dan
tingkat ekonomi dari penduduk. Di samping itu, budaya juga
berpengaruh seperti kebiasaan memasak, prioritas makanan dalam
keluarga, distribusi dan pantangan makan bagi golongan rawan gizi.
(1) Penggunaan
Pengukuran faktor ekologi dipandang sangat penting untuk
melakukan pengukuran ekologi yang dapat menyebabkan malnutrisi
di suatu masyarakat sebagai dasar untuk melakukan program
intervensi gizi (Schrimshaw, 1964).
Program yang bersifat preventif sebaiknya diarahkan pada semua
faktor yang terlibat dalam kesehatan masyarakat di suatu daerah
tertentu. Menurut Jelliffe (1966), faktor ekologi yang berhubungan
dengan penyebab malnutrisi dibagi dalam enam kelompok, yaitu
keadaan infeksi, konsumsi makanan, pengaruh budaya, sosial
ekonomi, produksi pangan, serta kesehatan dan pendidikan.
(2) Keadaan Infeksi
Schrimshaw et.al, (1959) menyatakan bahwa ada hubungan yang
sangat erat antara infeksi (bakteri, virus dan parasit) dengan
malnutrisi. Mereka menekankan interaksi yang sinergis antara
malnutrisi dengan penyakit infeksi, dan juga infeksi akan
mempengaruhi status gizi dan mempercepat malnutrisi.
Mekanisme patologisnya dapat bermacam-macam, baik secara
sendiri-sendiri maupun bersamaan, yaitu :
(a) Penurunan asupan zat gizi akibat kurangnya nafsu makan,
menurunnya absorpsi, dan kebiasaan mengurangi makan pada
saat sakit.

32
(b) Peningkatan kehilangan cairan/zat gizi akibat penyakit diare,
mual/muntah dan perdarahan yang terus menerus.
(c) Meningkatnya kebutuhan, baik dari peningkatan kebutuhan
akibat sakit (human host) dan parasite yang terdapat dalam
tubuh.
(3) Konsumsi Makanan
Pengukuran konsumsi makanan sangat penting untuk mengetahui
kenyataan apa yang dimakan oleh masyarakat dan hal ini dapat
berguna untuk mengukur status gizi dan menemukan faktor diet yang
dapat menyebabkan malnutrisi.
(4) Pengaruh Budaya
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengaruh budaya antara
lain sikap terhadap makanan, penyebab penyakit, kelahiran anak, dan
produksi pangan. Dalam hal sikap terhadap makanan, masih banyak
terdapat pantangan, tahayul, tabu dalam masyarakat yang
menyebabkan konsumsi makanan menjadi rendah. Konsumsi
makanan yang rendah juga disebabkan oleh adanya penyakit,
terutama penyakit infeksi saluran pencernaan. Di samping itu juga
jarak kelahiran anak yang terlalu dekat dan jumlah anak yang terlalu
banyak akan mempengaruhi asupan zat gizi dalam keluarga.
Konsumsi zat gizi keluarga yang rendah, juga dipengaruhi oleh
produksi pangan. Rendahnya produksi pangan disebabkan karena
para petani masih menggunakan teknologi yang bersifat tradisional.
(5) Faktor Sosial Ekonomi
(a) Data Sosial
Data sosial yang perlu dipertimbangkan adalah :
 Keadaan penduduk di suatu masyarakat (jumlah, umur,
distribusi seks, dan geografis).
 Keadaan keluarga (besarnya, hubungan, jarak kelahiran)
 Pendidikan
- Tingkat pendidikan ibu/bapak
- Keberadaan buku-buku

33
- Usia anak sekolah
 Perumahan (tipe, lantai, atap, dinding, listrik, ventilasi,
perabotan, jumlah kamar, pemilikan, dan lain-lain).
 Dapur (bangunan, lokasi, kompor, bahan bakar, alat masak,
pembuangan sampah).
 Penyimpanan makanan (ukuran, isi, penutup serangga).
 Air (sumber, jarak dari rumah).
 Kakus (tipe jika ada, keadaannya).
(b) Data Ekonomi
Data ekonomi meliputi :
 Pekerjaan (pekerjaan utama, misalnya pekerjaan pertanian,
dan pekerjaan tambahan, misalnya pekerjaan musiman).
 Pendapatan keluarga (gaji, industri rumah tangga, pertanian
pangan/non pangan, hutang).
 Kekayaan yang terlihat seperti tanah, jumlah ternak, perahu,
mesin jahit, kendaraan, radio, TV, dan lain-lain.
 Pengeluaran/anggaran (pengeluaran untuk makan, pakaian,
menyewa, minyak/bahan bakar, listrik, pendidikan,
transportasi, rekreasi, hadiah/persembahan).
 Harga makanan yang tergantung pada pasar dan variasi
musim.

(6) Produksi Pangan
Data yang relevan untuk produksi pangan adalah :
(a) Penyediaan makanan keluarga (produksi sendiri, membeli,
barter, dll).
(b) Sistem pertanian (alat pertanian, irigasi, pembuangan air, pupuk,
pengontrolan serangga, dan penyuluhan pertanian).
(c) Tanah (kepemilikan tanah, luas per keluarga, kecocokan tanah,
tanah yang digunakan, jumlah tenaga kerja).
(d) Peternakan dan perikanan (jumlah ternak seperti kambing,
bebek, dll), dan alat penangkap ikan, dll.

34
(e) Keuangan (modal yang tersedia dan fasilitas untuk kredit).

(7) Pelayanan Kesehatan dan Pendidikan


Walaupun pelayanan kesehatan dan pendidikan tidak merupakan
faktor ekologi, tetapi infirmasi ini sangat berguna untuk
meningkatkan pelayanan. Beberapa data penting tentang pelayanan
kesehatan/pendidikan adalah :
(a) Rumah sakit dan pusat-pusat kesehatan (Puskesmas), jumlah
rumah sakit, jumlah tempat tidur pasien, staf, dan lain-lain.
(b) Fasilitas dan pendidikan yang meliputi anak sekolah (jumlah,
pendidikan gizi/kurikulum, dan lain-lain). Remaja yang meliputi
organisasi karang taruna dan organisasi lainnya. Orang dewasa,
yang meliputi buta huruf. Media massa seperti radio, televise,
dan lain-lain.

Pengukuran faktor ekologi sangat kompleks. Hal ini tergantung


pada tipe dan jumlah staff, waktu yang tersedia, dan tujuan survei. Yang
penting adalah data yang dikumpulkan dapat menggambarkan situasi
sekarang dan berguna untuk pengembangan program. Meskipun
demikian untuk mendapatkan gambaran pevalensi malnutrisi secara
langsung, dapat dilakukan metode klinis dan antropometri. Caliendo
M.A, (1979) membuat kaitan antara faktor agens, pejamu dan status gizi
dengan lingkungan mikro dan makro. Contoh faktor agens adalah
kekurangan zat gizi spesifik; faktor pejamu yang berhubungan dengan
individu, seperti jenis kelamin, fisiologi dan psikologi; dan status gizi,
terkait dengan agens dan pejamu. Faktor lingkungan mempengaruhi
persediaan pangan, dan asupan zat-zat gizi. Faktor lingkungan tersebut
meliputi biologi, sosial, ekonomi, politik, ideologi, dan lingkungan fisik.

35
BAB III

PENUTUP

A. Simpulan
Ada beberapa istilah yang perlu diketahui sebelum mempelajari lebih
lanjut tentang status gizi. Istilah tersebut yaitu: gizi, keadaan gizi, malnutrisi,
status gizi, dan KEP. Pengertian istilah tersebut sangat berkaitan satu dengan
yang lainnya.
Pada dasarnya penilaian status gizi dapat dibagi menjadi dua yaitu secara
langsung dan tidak langsung. Penilaian secara langsung meliputi: antropometri,
biokimia, klinis, dan biofisik. Penilaian secara tidak langsung meliputi: survei
konsumsi makanan, statistik vital, dan faktor ekologi. Penilaian status gizi
tersebut mempunyai keunggulan dan kelemahan.

B. Saran
Dalam pemilihan metode penilaian status gizi harus memperhatikan
secara keseluruhan dan mencermati keunggulan dan kelemahan metode-metode
tersebut agar tercapai tujuan melakukan penilaian terhadap status gizi. Kami
berharap laporan tertulis yang kami buat ini dapat bermanfaat bagi para
pembaca, kritik dan saran sangat berguna bagi kami untuk memperbaiki
kekurangan yang ada pada laporan ini dan laporan-laporan selanjutnya.

36
DAFTAR PUSTAKA

Nyoman Supriasa, I Dewa, Bachyar Bakri, Ibnu Fajar. 2001. Penilaian Status
Gizi. Jakarta: EGC.

Arisman. 2009. Buku Ajar Ilmu Gizi Edisi 2, Gizi Dalam Daur Kehidupan.
Jakarta: EGC.

Arisman. 2009. Buku Ajar Ilmu Gizi, Gizi Dalam Daur Kehidupan. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC.

37