Anda di halaman 1dari 19

BAB 1

TINJAUAN PUSTAKA KASUS

1.1 Pengertian Asfiksia


Asfiksia adalah keadaan janin yang tidak dapat bernapas spontan dan
teratur sehingga dapat menurunkan oksigen dan makin meningkatnya
karbondioksida yang menimbulkan akibat buruk dalam kehidupan yang berlanjut
(Manuaba 2010). Menurut Hary Oxorn (2010) asfiksia pada bayi baru lahir
merupakan sindrom dengan gejala apnea sebagai manifestasi klinis yang utama.
Asifiksia Neonatorium adalah keadaan dimana bayi tidak dapat segera bernafas
secara spontan dan teratur setelah lahir (Ai yeyeh & Lia, 2013:249). Asfiksia
adalah kegagalan untuk memulai dan melanjutkan pernafasan secara spontan dan
teratur pada saat bayi baru lahir atau beberapa saat sesudah lahir. Bayi mungkin
lahir dalam kondisi asfiksia (asfiksia primer) atau mungkin (asfiksia sekunder)
dapat bernafas tetapi kemudian mengalami asfiksia beberapa saat setelah lahir
(Icesmi & Sudarti, 2014:158).

Menurut Saifuddin (2009: 347) ada 2 macam asfiksia yaitu asfiksia primer
dan asfiksia sekunder.
1. Asfiksia primer ialah bayi lahir tidak menangis, pernafasan bayi berhenti,
denyut jantung juga mulai menurun dan tonus neuromuscular berkurang
secara berangsur-angsur.
2. Asfiksia sekunder ialah bayi lahir langsung menangis tetapi semakin lama
bayi akan bernafas megap-megap, denyut jantung terus menurun, dan tekanan
darah bayi mulai menurun serta bayi menjadi lemas.

Menurut Saifuddin (2009:347) klasifikasi asfiksia yaitu:


1. Asfiksia berat (Nilai APGAR 0-3)
Pemeriksaan fisik ditemukan frekuensi jantung tidak ada atau < 100 x/menit,
tonus otot buruk/lemas, sianosis berat, tidak ada reaksi, respirasi tidak ada.
2. Asfiksia sedang (Nilai APGAR 4-6)
Pemeriksaan fisik ditemukan frekuensi jantung < 100 x/menit, tonus otot
kurang baik atau baik, sianosis (badan merah, anggota badan biru), menangis
respirasi lambat, tidak teratur.
3. Asfiksia ringan ( Nilai APGAR 7-8)
Pemeriksaan fisik ditemukan frekuensi jantung > 100 x/menit, tonus otot
baik/ pergerakan aktif, seluruh badan merah, menangis kuat, respirasi baik.
Nilai APGAR menurut Manuaba (2012: 421) yaitu
Skor 0 1 2
A: Appearence Pucat Badan merah, Seluruh tubuh
(warna kulit) ekstremitas biru kemerah-merahan
P: Pulse Tidak ada < 100 >100
(frekuensi jantung)
G: Grimance Tidak ada Sedikit gerakan mimik Menangis, batuk/
(reaksi terhadap bersin
rangsangan)
A: Activity (tonus Lumpuh Ekstremitas dalam Gerakan aktif
otot) fleksi sedikit
R: Respiration Tidak ada Lemah, tidak teratur Menangis kuat
(usaha nafas)
Sumber: Manuaba. 2012. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan KB. Jakarta:
EGC

1.2 Patofisiologi
Menurut Anik & Eka (2013:298), patofisiologi asfiksia neonatorum, dapat
dijelaskan dalam dua tahap yaitu dengan mengetahui cara bayi memperoleh
oksigen sebelum dan setelah lahir, dan dengan mengetahui reaksi bayi terhadap
kesulitan selama masa transisi normal, yang dijelaskan sebagai berikut:
1. Cara bayi memperoleh oksigen sebelum dan setelah lahir :
a. Sebelum lahir, paru janin tidak berfungsi sebagai sumber oksigen atau
jalan untuk mengeluarkan karbondioksida.
(1) Pembuluh arteriol yang ada di dalam paru janin dalam keadaan
konstriksi sehingga tekanan oksigen (pO2) parsial rendah.
(2) Hampir seluruh darah dari jantung kanan tidak dapat melalui paru
karena konstriksi pembuluh darah janin, sehingga darah dialirkan
melalui pembuluh yang bertekanan lebih rendah yaitu duktus
arteriosus kemudian masuk ke aorta.
b. Setelah lahir, bayi akan segera bergantung pada paru-paru sebagai
sumber utama oksigen.
(1) Cairan yang mengisi alveoli akan diserap kedalam jaringan paru,
dan alveoli akan berisi udara.
(2) Pengisian alveoli oleh udara akan memungkinkan oksigen mengalir
kedalam pembuluh darah disekitar alveoli.
c. Arteri dan vena umbikalis akan menutup sehingga menurunkan tahanan
pada sirkulasi plasenta dan meningkatkan tekanan darah sistemik.
Akibat tekanan udara dan peningkatan kadar oksigen di alveoli,
pembuluh darah paru akan mengalami relaksasi sehingga tahanan
terhadap aliran darah berkurang.
d. Keadaan relaksasi tersebut dan peningkatan tekanan darah sistemik,
menyebabkan tekanan pada arteri pulmonalis lebih rendah
dibandingkan tekanan sistemik sehingga aliran darah paru meningkat
sedangkan aliran pada duktus arteriosus menurun.
(1) Oksigen yang diabsorbsi dialveoli oleh pembuluh darah divena
pulmonalis dan darah yang banyak mengandung oksigen kembali
ke bagian jantung kiri, kemudian dipompakan keseluruh tubuh bayi
baru lahir.
(2) Pada kebanyakan keadaan, udara menyediakan oksigen (21%)
untuk menginisiasi relaksasi pembuluh darah paru.
(3) Pada saat kadar oksigen meningkat dan pembuluh paru mengalami
relaksasi, duktus arteriosus mulai menyempit.
(4) Darah yang sebelumnya melalui duktus arteriosus sekarang melalui
paru-paru, akan mengambil banyak oksigen untuk dialirkan
keseluruh jaringan tubuh.
e. Pada akhir masa transisi normal, bayi menghirup udara dan
menggunakan paru-parunya untuk mendapatkan oksigen.
(1) Tangisan pertama dan tarikan nafas yang dalam akan mendorong
cairan dari jalan nafasnya.
(2) Oksigen dan pengembangan paru merupakan rangsang utama
relaksasi pembuluh darah paru.
(3) Pada saat oksigen masuk adekuat dalam pembuluh darah, warna
kulit bayi akan berubah dari abu-abu/biru menjadi kemerahan.
2. Reaksi bayi terhadap kesulitan selama masa transisi normal :
a. Bayi baru lahir akan melakukan usaha untuk menghirup udara kedalam
paru-parunya.
1) Hal ini mengakibatkan cairan paru keluar dari alveoli ke jaringan
insterstitial di paru sehingga oksigen dapat dihantarkan ke arteriol
pulmonal dan menyebabkan arteriol berelaksasi.
2) Jika keadaan ini terganggu maka arteriol pulmonal akan tetap
kontriksi, alveoli tetap terisi cairan dan pembuluh darah arteri
sistemik tidak mendapat oksigen.
b. Pada saat pasokan oksigen berkurang, akan terjadi kontriksi arteriol
pada organ seperti usus, ginjal, otot dan kulit, namun demikian aliran
darah ke jantung dan otak tetap stabil atau meningkat untuk
mempertahankan pasokan oksigen.
1) Penyesuaian distribusi aliran darah akan menolong kelangsungan
fungsi organ-organ vital.
2) Walaupun demikian jika kekurangan oksigen berlangsung terus
maka terjadi kegagalan peningkatan curah jantung, penurunan
tekanan darah, yang mengakibatkan aliran darah ke seluruh organ
berkurang.
c. Sebagai akibat dari kekurangan perfusi oksigen dan oksigenasi jaringan,
akan menimbulkan kerusakan jaringan otak yang irreversible,
kerusakan organ tubuh lain, atau kematian.
Secara garis besar pelaksanaan resusitasi mengikuti algoritma resusitasi

neonatal, seperti berikut :

Algoritma Resusitasi Neonatal.

Sumber: New algorithm for 6th.edition (Prambudi, 2013)


BAB 2
KONSEP DASAR ASUHAN KEBIDANAN

2.1 Pengkajian
1. Data subyektif
a. Identitas Bayi
Diperlukan sebagai alat pengenal yang efektif harus untuk memudahkan
identifikasi bayi meliputi nama bayi, tanggal lahir, jenis kelamin, alamat, nama
orang tua, umur orang tua, pendidikan orang tua, pekerjaan orang tua, agama.
(Saifuddin, 2014 : N-35).
b. Riwayat antenatal
Faktor penyebab asfiksia: gangguan his (tetania uteri-hipertoni), turunnya tekanan
darah dapat mendadak : perdarahan pada plasenta previa dan solusio plasenta,
asokontriksi arterial : hipertensi pada hamil dan gestosis preeklampsia-eklampsia
dan gangguan pertukaran nutrisi/O2 : solusio plasenta (Manuaba, 2012:421).
c. Riwayat natal
Bayi dilahirkan dengan jenis partus biasa(normal/spontan) yaitu bayi lahir dengan
presentasi belakang kepala tanpa memakai alat-alat atau pertolongan istimewa
serta tidak melukai ibu dan bayi, dan umumnya berlangsung dalam waktu kurang
dari 24 jam (Wiknjosastro, 2008:180).
d. Pola kebiasaan sehari-hari
1) Nutrisi
Kebutuhan minum BBLC:
60 𝑥 𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝐵𝑎𝑑𝑎𝑛
Hari pertama : 8
(60−30)𝑥 𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝐵𝑎𝑑𝑎𝑛
Hari kedua :
8
150 𝑥 𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝐵𝑎𝑑𝑎𝑛
Begitu seterusnya sampai maksimal :
8

Bayi akan lapar setiap 2-4 jam sepanjang hari. Bayi hanya memerlukan ASI
atau susu formula selama 6 bulan pertama (Varney, 2011:897).
2) Tidur/istirahat
Bayi perlu banyak tidur (Varney, 2011:897). Dalam 2 minggu pertama setelah
lahir, bayi normalnya sering tidur, bayi baru lahir sampai usia 3 bulan rata-rata
tidur 16 jam sehari (Marmi, 2012: 81)
3) Eliminasi
BAB : Bayi mempunyai feces lengket berwarna hitam kehijauan
selama dua hari pertama, ini disebut mekoneum. Feces
bayi yang diberi ASI akan berubah warna jadi hijau-
emas, lunak dan terlihat seperti bibit (seedy). Bayi yang
diberi susu formula memiliki feces berwarna coklat
gelap, seperti pasta atau padat. Bayi akan BAB 1 sampai
4 kali per hari (Varney, 2001:897).
BAK : Bayi BAK 4-5 kali/hari (Varney, 2011:897).
Bayi baru lahir cenderung sering BAK yaitu 7-10 x
sehari.
4) Personal hygiene
Untuk menjaga bayi tetap bersih, hangat dan kering, maka setelah BAK harus
diganti popoknya minimal 4- 5 kali/ hari (Marmi, 2012: 80). Bungkus bayi
dengan kain lunak, kering dan selimuti dan pakai topi untuk menghindari
kehilangan panas (Saifuddin, 2014:M-122).
2. Data Objektif
a. Keadaan umum
Pada asfiksia, bayi tidak bernafas spontan dan teratur segera setelah lahir.
(Winkjosastro, 2008: 144)
b. Tanda-tanda vital menurut Varney (2011:891) :
Dalam keadaan asfiksia diketahui:
Suhu : < 36oC
Nadi : < 100 x/menit
Pernafasan : frekuensi <30 atau >60 xper menit, tarikan dinding dada
ke dalam atau merintih (Saifuddin, 2014:M-121).
c. Pengukuran antropometri
1) Lingkar kepala 33-38 cm.Pengukuran dilakukan dari dahi kemudian
melingkari kepala kembali ke dahi (Marmi, 2012: 55)
2) Sirkumferensia suboccipito bregmatika 32 cm.
3) Sirkumferensia mento occipito 34 cm (Wiknjosastro,2007:119).
4) Lingkar dada 30-38 cm.Ukur lingkar dada dari daerah dada ke punggung
kembali ke dada (pengukuran dilakukan melalui kedua putting susu) (Marmi,
2012: 55)
5) Lingkar lengan ± 11 cm.
6) Panjang badan 48-52 cm.
7) Berat badan 2500-4000 gram.
Berat badan janin kecil dari usia kehamilannya dapat menimbulkan asfiksia
sedang sampai berat (Manuaba, 2012:440).
d. Pemeriksaan fisik
Kepala : Bentuk, molding, sutura tertutup/melebar, kaput, hematoma
(Winkjosastro, 2008)
Hidung : Adanya pernafasan cuping hidung.
Mulut : Sianosis (Saifuddin, 2006: M-120).
Leher : kerusakan persendian tulang leher (Manuaba, 2012:493).
Dada : frekuensi <30 atau >60 x per menit, tarikan dinding dada ke dalam
atau merintih (Saifuddin, 2014:M-121).Apneu(sukar bernafas)
(Saifuddin, 2014:P-88).
Jantung : frekuensi denyut jantung krang dari 100x/menit bahkan detak
jantung tidak dapat terdeteksi (Saifuddin, 2014:P-88).
Integumen : sianosis sentral atau sianosis perifer (Saifuddin, 2014:P-88).
e. Keadaan neuromuskuler
Berdasarkan criteria neurologic pada bayi normal adalah; a) posisi bayi frog
psotion (fleksi pada ekstremitas atas dan bawah), b) Reflek moro positif dan
harus simetris, c) reflek hisap positif pada sentuhan palatum mole, d) refleks
menggenggam positif (Marmi, 2011: 70).
Refleks : gerakan naluriah untuk melindungi bayi.
1) Refleks gabella
Ketuk daerah pangkal hidung secara pelan-pelan dengan menggunakan jari
telunjuk pada saat mata terbuka. Bayi akan mengedipkan mata pada 4 samapi
5 ketukan pertama.
2) Refleks hisap
Benda menyentuh bibir bayi disertai refleks menelan.Tekanan pada mulut bayi
pada langit bagian dalam gusi atas timbul isapan yang kuat dan cepat.Dilihat
pada waktu bayi menyusu.
3) Refleks mencari (rooting)
Bayi menoleh ke arah benda yang menyentuh pipi. Misalnya mengusap pipi
bayi dengan lembut: bayi menolehkan kepalanya ke arah jari kita dan
membuka mulutnya.
4) Refleks genggam (Palmar gasp)
Dengan meletakkan jari telunjuk pada palmar, tekanan dengan gentle,
normalnya bayi akan menggenggam dengan kuat. Jika telapak tangan bayi
ditekan : bayi akan mengepalkan tinjunya.
5) Refleks Babinski
Gores telapak kaki ke arah atas kemudian gerakan jari sepanjang telapak kaki.
Bayi akan menunjukkan respon berupa semua jari kaki hyperekstensi dengan
ibu jari dorsifleksi.
6) Refleks moro
Timbulnya pergerakan tangan yang simetris apabila kepala tiba-tiba
digerakkan atau dikejutkan dengan cara bertepuk tangan.
7) Refleks melangkah
Bayi menggerak-gerakkan tungkainya dalam satu gerakan bejalan atau
melangkah jika diberikan dengan cara memegang lengannya sedangkan
kakinya dibiarkan menyentuh permukaan yang rata dan keras.
8) Refleks merangkak
Bayi akan berusaha untuk merangkak ke depan dengan kedua tangan dan kaki
bila diletakkan telungkup pada permukaan datar.
9) Refleks toning leher atau “fencing”
Ekstremitas pada satu sisi dimana kepala ditolehkan akan ekstensi, dan
ekstremitas yang berlawanan akan fleksi bial kepala bayi ditolehkan ke satu
sisi selagi istirahat. Respon ini dapat tidak ada atau tidak lengkap segera
setelah lahir.
10) Refleks ekstruksi
Bayi baru lahir menjulurkan lidahnya keluar bila ujung lidah disentuh dengan
jari atau putting (Marmi, 2011: 70-72).Jika kekuatan menghisap kurang baik,
rujuk ke kamar bayi atau ke tempat pelayanan yang dituju (Saifuddin,
2014:M-121).
2.2 Diagnosis Kebidanan
Bayi baru lahir, usia < 5 menit, jenis kelamin laki-laki/perempuan, lahir
spontan/dengan tindakan, aterm/prematur/postmatur, dengan AS 0-3 (asfiksia berat), AS
4-6 (asfiksia sedang), keadaan umum lemah.
Dengan kemungkinan masalah :
1. Potensial terjadinya gangguan pemenuhan O2 sehubungan dengan post asfiksia.
2. Potensial terjadinya hipotermi sehubungan dengan adanya perpindahan intra uterin
ke ekstra uterin.
3. Potensial terjadinya gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi sehubungan dengan
reflek menghisap lemah.
4. Potensial terjadinya infeksi sehubungan dengan penurunan daya tahan tubuh bayi.
5. Potensial terjadinya hipoglikemi sehubungan dengan metabolisme yang meningkat.
6. Potensial terjadinya gangguan interpersonal antara bayi dan ibu sehubungan
dengan tidak dilakukannya IMD.
Prognosa baik/ buruk.

2.3 Perencanaan
Diagnosa :Bayi baru lahir, usia < 5 menit, jenis kelamin laki-laki/perempuan,
lahir spontan/dengan tindakan, aterm/prematur/postmatur, dengan
AS 0-3 (asfiksia berat), AS 4-6 (asfiksia sedang), keadaan umum
lemah.
Tujuan : keadaan bayi menjadi lebih baik dan asfiksia teratasi.
Kriteria : -TTV normal
a. Bayi bergaerak aktif
b. Bayi menangis kuat
c. Bernafas spontan dan teratur (30-60 x/menit)
d. Warna kulit kemerahan
e. Denyut nadi > 100 kali/menit
f. Ada respon batuk/bersin terhadap refleks
Intervensi menurut (Wiknjosastro, 2008: 144):
a. Beritahu ibu bahwa bayi telah lahir namun harus dilakukan tindakan yaitu
resusitasi awal / HAIKAP.
R/ ibu mengerti tindakan yang akan dilakukan.
b. Hangatkan bayi dengan menyelimuti dengan handuk/ kain dan nyalakan
lampu 60 watt dengan jarak 60 cm.
R/ mencegah hipotermi
c. Atur posisi kepala bayi sedikit ekstensi dengan mengganjal bahu.
R/ jalan nafas tidak terganggu
d. Isap atau bersihkan jalan nafas dengan penghisap lender delee.
R/ Membersihkan jalan nafas
e. Keringkan bayi (dengan sedikit tekanan) dan gosok muka / dada/ perut/
punggung.
R/ memberikan rangsangan supaya dapat berusaha bernafas.
f. Atur posisi kepala bayi dengan ekstensi ringan.
R/ jalan nafas tidak terganggu
g. Lakukan penilaian,
1) Bila menangis spontan dan pernafasannya 30-60 x/ menit lakukan
perawatan BBL pasca resusitasi
2) Bila tidak menagis spontan, lakukan ventilasi percobaan 2x lalu
dilanjutkan dengan ventilasi definitive sebanyak 20x/ 30 detik selama 2
menit menggunakan tabung dan sungkup atau balon dan sungkup.Bila
berhasil lakukan perawatan BBL pasca resusitasi. Bila tidak berhasi
atau bayi belum menangis maka rujuk untuk dilakukan pijat jantung.
R/ deteksi dini untuk intervensi lebih lanjut.
1. Masalah I : Gangguan pemenuhan O2 sehubungan dengan post asfiksia.
Tujuan : Neonatus dapat bernafas normal
Kriteria :- Pernafasan normal 40-60 x/menit
- Irama nafas teratur
- Bayi menangis kuat
Intervensi menurut Winkjosastro (2008:144) adalah
a. Letakkan bayi telentang dengan alas yang datar, kepala lurus, dan leher sedikit
tenengadah / ekstensi dengan meletakkan bantal atau selimut diatas bahu bayi
sehingga bahu terangkat 2-3 cm.
R/ jalan nafas tidak terganggu
b. Bersihkan jalan nafas, mulut, hidung bila perlu.
R/ jalan nafas tidak terganggu
c. Observasi gejala kardinal dan tanda-tanda cyanosis tiap 4 jam.
R/ deteksi dini untuk intervensi lebih lanjut.
d. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian O2 dan pemeriksaan kadar gas
darah arteri.
R/ Kebutuhan O2 terpenuhi
2. Masalah II : Resiko terjadi hipotermi sehubungan dengan adanya proses
persalinan yang lama ditandai suhu tubuh dibawah 36ºC
Tujuan : Neonatus dalam kondisi hangat
Kriteria : - Tubuh bayi kemerahan
- Akral dan tubuh bayi hangat
- Suhu tubuh normal 365ºC - 375ºC
Intervensi menurut Winkjosastro (2008:144) adalah
a. Letakkan bayi telentang diatas pemancar panas.
R/ mencegah hipotermi
b. Singkirkan kain yang sudah dipakai untuk mengeringkan tubuh, letakkan bayi
diatas handuk / kain yang kering dan hangat.
R/ kondisi neonatus tetap hangat
c. Observasi suhu bayi tiap 6 jam.
R/ deteksi dini untuk intervensi lebih lanjut.
d. Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian infus glukosa 5% bila ASI tidak
mungkin diberikan.
R/ pemenuhan kebutuhan nutrisi
3. Masalah III : Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi sehubungan dengan
reflek menghisap lemah.
Tujuan : Neonatus dapat memenuhi kebutuhan nutrisi secara adekuat
Kriteria : - Reflek rooting, sucking, swallowing baik
- Kebutuhan cairan (susu) dapat di konsumsi
- Peristaltik usus (+) 6-12 kali /menit
Intervensi menurut Winkjosastro (2008:144) adalah
a. Lakukan observasi BAB dan BAK (jumlah, frekuensi, dan konsistensi).
R/ deteksi dini untuk intervensi lebih lanjut.
b. Monitor turgor dan mukosa mulut.
R/ deteksi dini untuk intervensi lebih lanjut.
c. Monitor intake dan output.
R/ deteksi dini untuk intervensi lebih lanjut.
d. Beri PASI atau ASI sesuai kebutuhan.
R/ pemenuhan kebutuhan nutrisi
e. Lakukan control berat badan setiap hari.
R/ deteksi dini untuk intervensi lebih lanjut
(Wiknjosastro, 2008: 144)
4. Masalah IV : Resiko terjadinya infeksi sehubungan dengan penurunan daya
tahan tubuh bayi.
Tujuan : Neonatus dalam kondisi sehat
Kriteria : - Suhu tubuh tidak meningkat (normal 365ºC - 375ºC)
- Gerak aktif
Intervensi menurut Winkjosastro (2008:144) adalah
a. Lakukan tehnik aseptik dan antiseptik dalam memberikan asuhan kebidanan
R/ Mencegah infeksi
b. Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan.
R/ menghindarkan dari kuman dan bakteri
c. Pakai baju khusus / skort waktu masuk ruang isolasi (kamar bayi).
R/ Mencegah infeksi
d. Lakukan perawatan tali pusat minimal 2 kali sehari.
R/ Mencegah infeksi dan menghindari perdarahan
e. Jaga kebersihan (badan, pakaian, dan lingkungan bayi)
R/ bayi nyaman dan terlindungi dari infeksi
f. Observasi tanda-tanda infeksi dan gejala cardinal.
R/ deteksi dini untuk intervensi lebih lanjut
g. Hindarkan bayi kontak dengan sakit.
R/ bayi nyaman dan terlindungi dari infeksi
h. Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian antibiotic.
R/ mencegah terjadinya infeksi
5. Masalah V :Resiko terjadi hipoglikemia sehubungan dengan metabolisme
yang meningkat.
Tujuan : Bayi tidak hipotermi
Kriteria : - Bayi dalam kondisi hangat
- TTV dalam batas normal
- Nutrisi terpenuhi sesuai kebutuhan
Intervensi menurut Winkjosastro (2008:144) adalah
a. Berikan nutrisi secara adekuat dan catat serta monitor setiap pemberian nutrisi.
R/ pemenuhan kebutuhan nutrisi
b. Beri selimut dan bungkus bayi serta perhatikan suhu lingkungan.
R/ mencegah hipotermi
c. Observasi gejala cardinal (suhu, nadi,respirasi).
R/ deteksi dini untuk intervensi lebih lanjut
6. Masalah VI :Gangguan hubungan interpersonal antara bayi dan ibu sehubungan
dengan perawatan intensif.
Tujuan : Ibu tetap dekat dengan bayinya tanpa rawat gabung
Kriteria : - Ibu mengerti penjelasan tenaga medis
- Ibu memahami kondisis bayinya
Intervensi menurut Winkjosastro (2008:144) adalah
a. Jelaskan pada ibu / keluarga tentang keadaan bayinya sekarang.
R/ keluarga / ibu mengerti keadaan bayinya
b. Bantu orang tua / ibu untuk mengungkapkan perasaannya.
R/ keadaan psikologis lebih baik
c. Orientasi ibu pada lingkungan rumah sakit.
R/ ibu lebih paham dan lebih nyaman
d. Tunjukkan bayi pada saat ibu berkunjung (batasi dengan kaca)
R/ hubungan interpersonal antara ibu dan bayi menjadi lebih baik
e. Lakukan rawat gabung jika keadaan ibu dan bayi sehat.
R/ Bounding attachment terlaksana

2.4 Pelaksanaan
Standar implementasi menurut Kepmenkes RI
No.938/Menkes/SK/VIII/2007/Tentang Asuhan Kebidanan, adalah sebagai Bidan
melaksanakan rencana asuhan kebidanan secara komprehensif, efektif, efesien dan
aman berdasarkan evidance base kepada klieb/pasien, dalam bentuk upayapromotif,
preventif, kuratif dan rehabilitatif, dilaksanakan secara mandiri, kolaborasi dan
rujukan.

2.5 Evaluasi
Pada langkah ini dilakukan evaluasi, keefektifan dan asuhan yang sudah
diberikan meliputi pemenuhan kebutuhan akan bantuan apakah benar-benar telah
terpenuhi sesuai dengan kebutuhan sebagaimana telah diidentifikasi didalam
diagnosa dan masalah.Langkah evaluasi dalam asuhan kebidanan didokumentasikan
dalam bentuk SOAP :
S : Data Subjektif
Menggambarkan pendokumentasian hasil pengumpulan data
melalui anamnese.
O : Data Objektif
Menggambarkan pendokumentasian hasil lab dan tes diagnostic
lain yang dirumuskan dalam data fokus untuk mendukung
assessment
A : Assessment
Menggambarkan pendukomentasian hasil analisa data dan
interprestasi S dan O dalam suatu identifikasi .Diagnosa masalah
dan Antisipasi diagnosa lain/masalah potensial
P : Penatalaksanaan
Menggambarkan pendokumentasian dari perencanaan dan evaluasi
berdasarkan assessment
BAB 3
TINJAUAN KASUS

3.1 Pengkajian data


Tanggal 01-08-2018 pukul 09.15 WIB
Ruang bersalin RSUD dr.Soeroto Ngawi
3.1.1 Data Subjektif
1. Biodata
Nama : Ny.I Tn.N By.Ny.I
Usia : 43 tahun 44 tahun 0 jam
Jenis kelamin : perempuan laki-laki laki-laki
Agama : islam islam islam
Suku/bangsa : jawa/indonesia jawa/indonesia jawa/indonesia
Pendidikan : SMP SMA
Pekerjaan : IRT Swasta
Alamat : Geneng, Ngawi
2. Keluhan utama
Ibu mengatakan bayi ketika lahir tidak menangis dan begerak lemah
3. Riwayat kesehatan
Bayi lahir sungsang, ketika lahir tidak menangis, tidak bergerak. Setelah dilakukan
tindakan oleh bidan, bayi mulai menangis dan bergerak. Kemudian bayi langsung
dibawa ke rung NICU RSUD Soeroto Ngawi
4. Riwayat kesehatan keluarga
Ibu dan keluarga bayi sehat, tidak ada yang menderita penyakit menular, menurun
dan menahun
5. Riwayat kebidanan
a. Hamil
Ibu selama hamil sehat, rutin periksa ke bidan sebanyak 11 kali, dari bidan
mendapat terapi vitamin C, kalsium dan Fe, diminum teratur sesuai anjuran
sampai menjelang persalinan. Selama hamil ibu tidak pernah menderita demam,
batuk/pilek, atau keluhan yang serius, selama dalam kandungan, bayi mulai
bergerak saat usia 5 bulan.
b. Persalinan
Ibu melahirkan tanggal 01-08-2018 pukul 09.15 WIB saat Uk 37-38 minggu,
secara sungsang di RSUD Soeroto, ditolong bidan,laki-laki, BB lahir 2300
gram, PB lahir 47 cm, baru lahir tidak menangis dan tidak bergerak aktif.
3.1.2 Data objektif
Bayi kurang bulan, lahir tidak menangis, bergerak lemah, ketuban mekoneal.

3.2 Diagnosa Kebidanan


By.Ny.I bayi baru lahir usia 0 jam, riwayat persalinan sungsang dengan asfiksia
sedang, keadaan umum lemah, prognosa buruk.

3.3 Perencanaan
Diagnosa : By.Ny.I bayi baru lahir usia 0 jam, riwayat persalinan sungsang
dengan asfiksia sedang, keadaan umum lemah, prognosa buruk.
Tujuan : setelah dilakukan asuhan, masalah asfiksia dapat teratasi dan bayi dapat
bernafas spontan, teratur, masa transisi terlewati dengan baik.
Kriteria :
1. Keadaan umum baik
2. TTV normal
N:>100 kali/menit, S:36,5-37,5ºC, RR:40-60 kali/menit
3. Warna kulit kemerahan
4. Bayi bernafas spontan dan teratur
5. Bayi menangis kuat, bergerak aktif
6. Apgar skor 7-10
Intervensi :
1. Beritahu ibu dan keluarga tentang keadaan bayi bahwa bayi memerlukan
tindakan segera agar dapat bernafas spontan
R/ibu dan keluarga mengerti
2. Lakukan jepit, potong tali pusat tanpa diikat
R/tali pusat tidak diikat dahulu karena untuk memasukkan obat jika
diperlukan
3. Keringkan tubuh bayi dan hangatkan dengan kain bersih dan kering dan
menggunakan lampu 60watt berjarak 60 cm
R/mencegah terjadinya hipotermi
4. Atur posisi kepala agar ekstensi dengan mengganjal 3 cm
R/posisi ekstensi untuk membuka jalan nafas agar tidak terganggu
5. Isap lendir dari mulut kemudian hidung bayi dengan penghisap lendir dee lee
R/mengeluarkan lendir yang menyumbat jalan nafas dan merangsang bayi
agar bernafas
6. Keringkan bayi dengan kain bersih dan kering sambil melakukan rangang
taktil
R/rangsangan taktil dapat memulai pernapasan bayi agar bayi dapat bernapas
lebih baik
7. Atur posisi kepala bayi dengan ekstensi ringan
R/posisi ekstensi efektif untuk membuka jalan nafas
8. Pasang O2 dengan nasal kanul
R/pemberian O2 pada paru-paru merupakan rangsangan untuk relaksasi
darah pulmonal dan merangsang bayi untuk bernafas spontan dan teratur
9. Lakukan pemantauan tanda bahaya bayi selama 15 menit pertama dengan
observasi tanda cyanosis dan suhu tubuh bayi tiap 2 jam
R/apabila terjadi tanda bahaya dapat segera teratasi

3.4 Pelaksanaan
Tanggal 01-08-2018 pukul 09.20 WIB
Diagnosa : By.Ny.I bayi baru lahir usia 0 jam, riwayat persalinan sungsang
dengan asfiksia sedang, keadaan umum lemah, prognosa buruk

3.5 Evaluasi
Tanggal 01-08-2018 pukul 11.00 wib
S : Bayi bergerak aktif, nafas normal
O:- KU baik
- Bayi menangis kuat, bergerak aktif
- S : 36,7ºC, N : 120 x/menit, R : 45 x/menit
A : Bayi baru lahir usia 0 jam dengan asfiksia, masalah teratasi.KU baik,
prognosa baik.
P : Lakukan observasi pasca resusitasi
- Pemantauan tanda bahaya bayi (megap-megap, merintih, demam,
kebiruan, kuning, kejang)
- Menjaga bayi agar tetap hangat
- Memberikan injeksi Vit.K dan salep mata tetrasiklin dan imunisasi HB0
- Perawatan tali pusat
- Pemeriksaan fisik BBL