Anda di halaman 1dari 30

MACAM-MACAM MODEL KEPERAWATAN

OLEH:
RAHMAD
SITI HARDIANTI
RONALANT
SYARIF
MACAM-MACAM MODEL KEPERAWATAN
Konsep merupakan suatu ide dimana terdapat suatu kesan yang abstrak yang dapat diorganisir menjadi
simbol-simbol yang nyata, sedangkan konsep keperawatan merupakan ide untuk menyusun suatu
kerangka konseptual atau model keperawatan. Teori itu sendiri merupakan sekelompok konsep yang
membentuk sebuah pola yang nyata atau suatu pernyataan yang menjelaskan suatu proses, peristiwa
atau kejadian yang didasari oleh fakta-fakta yang telah diobservasi tetapi kurang absolute atau bukti
secara langsung.

Macam-Macam Model Konsep dan Teori Keperawatan

1. Model Konsep dan Teori Keperawatan Florence Nightingale

Model konsep ini memposisikan lingkungan adalah sebagai fokus asuhan keperawatan, dan perawat
tidak perlu memahami seluruh proses penyakit model konsep ini dalam upaya memisahkan antara
profesi keperawatan dan kedokteran. Orientasi pemberian asuhan keperawatan atau tindakan
keperawatan lebih diorientasikan pada pemberian udara, lampu, kenyamanan.

Lingkungan, kebersihan, ketenangan, dan nutrisi yang adequate, dengan dimulai dari pengumpulan data
dibandingkan dengan tindakan pengobatan semata, upaya teori tersebut dalam rangka perawat mampu
menjalankan praktik keperawatan mandiri tanpa tergantung dengan profesi lain.

2. Model Konsep dan Teori Keperawatan Faye Abdellah

Model konsep ini difokuskan dalam pemberian asuhan keperawatan bagi manusia pada intinya adalah
memberikan kebutuhan secara fisik, emosi, intelektual, sosial dan spiritual bagi para pasien maupun
keluarga. Sehingga perawat perlu pendekatan dengan hubungan interpersonal, psikologi , pertumbuhan
dan perkembangan manusia, komunikasi dan sosiologi.

4 Kategori Kebutuhan Manusia menurut Teori Abdellah :

1. Kenyamanan

2. Kebersihan

3. Keamanan

4. Keseimbangan fisiologi

3. Model Konsep dan Teori Keperawatan Peplau


Model konsep dan teori keperawatan peplau ini menjelaskan tentang kemampuan dalam memahami diri
sendiri dan orang lain yang menggunakan dasar hubungan antar manusia yang mencakup proses
interpersonal, perawat-klien, dan masalah kecemasan yang terjadi akibat sakit.

Proses interpersonal yang di maksud antara perawat dengan klien ini memiliki empat tahap yaitu :

1. Fase Orientasi

2. Fase identifikasi

3. Fase eksplorasi

4. Fase resolusi

Pada model Papplau ini dapat dilihat adanya tindakan keperawatan yang di arahkan kepada hubungan
interpersonal atau psikoterapi

Model Konsep dan Teori Keperawatan Ida Orlando ( Teori Orlando)

Teori Orlando difokuskan pada perilaku klien menurut kebutuhan.


3 Konsep Penting menurut Orlando:

1. Perilaku klien

2. Reaksi perawat

3. Tindakan keperawatan

4. Model Konsep dan Teori Keperawatan Myra Levine ( Teori Levine)

Model konsep ini memandang klien sebagai makhluk hidup terintegrasi yang saling berinteraksi dan
beradapat lingkungannya. Dan intervensi keperawatan adalah suatu aktivitas konservasi, dan konvervasi
energi adalah bagian yang menjadi pertimbangan. Kemudian sehat menurut Levine itu dilihat dari sudut
pandang konvervasi energi, sedangkan dalam keperawatan terhadap empat konservasi diantaranya
energi klien, struktur integritas, integritas personal dan itegritas sosial, sehingga pendekatan asuhan
keperawatan ditunjukan pada penggunaan sumber-simber kekuatan klien secara optimal (Potter dan
Perty, 1997).

5. Model Konsep dan Teori Keperawatan Dorothea Orem (Teori Orem)

Dorothea Orem (Model Self Care) ialah pengertian bahwa bentuk pelayanan keperawatan dipandang
dari suatu pelaksanaan kegiatan dapat dilakukan individu dalam memenuhi kebutuhan dasar dengan
tujuan mempertahankan kehidupan, kesehatan, kesejahteraan sesuai dengan keadaan sehat dan sakit,
yang ditekankan pada kebutuhan klien tentang perawatan diri sendiri, mengatasai masalah keterbatasan
serta mempertahankan dan menjaga kemampuan pasien dalam perawatan diri.

6. Model konsep dan teori keperawatan sister calista roy.

Merupakan model dalam keprawatan yang menguraikan bagaimana individu mampu meningkatkan
kesehatannya dengan cara mempertahankan perilaku secara adaptif serta mampu merubah perilaku
yang mal adaptif.

Calista roy mengemukakan konsep keperawatan dengan model adaptasi yang memiliki beberapa
pandangan atau keyakinan serta nilai yang dimilikinya antara lain:

1. Manusia sebagai makhluk biologi,psikologi,dan sosial yang selalu berinteraksi dengan


lingkungannya.

2. Untuk mencapai suatu homeostatis atau terintegrasi, seseorang harus beradaptasi sesuai dengan
perubahan yang terjadi.

3. Terdapat tiga tingkatan adaptasi pada manusia.

4. Sistem adaptasi memiliki empat mode adaptasi yaitu, fungsi fisiologis, konsep diri,fungsi peran,
dan interdependent.

5. Proses penyesuaian diri individu harus meningkatkan energi untuk kelangsungan kehidupan,
perkembangan, reproduksi dan ke unggulan sehingga akan meningkatkan respon adaptif

7. Model Konsep dan teori keperawatan Betty Neuman (teori Neuman)

Model konsep ini adalah model konsep health care system yaitu model konsep yang menggambarkan
aktivitas keperawatan yang ditujukan kepada penekanan penurunan stres dengan memperkuat garis
pertahanan diri secara fleksibel atau normal maupun resistan dengan sasaran pelayanan adalah
komunitas

Betty Neuman dalam memahami konsep keperawatan ini memiliki dasar pemikiran yang terkait dengan
komponen paradigma yaitu memandang manusia sebagai suatu sistem terbuka yang selalu mencari
keseimbangan dan merupakan satu kesatuan dari variabel yang utuh diantaranya fisiologis, psikologis,
sosiokultural dan spiritual

Secara umum fokus dari model keperawatan menurut neuman ini berfokus pada respons terhadap
stesor serta faktor-faktor yang mempengaruhi proses adaptasi pada pasien

8. Model Konsep dan Teori Keperawatan King (Teori King)


Teori King memahami model konsep dan teori keperawatan dengan menggunakan pendekatan sistem
terbuka dalam hubungan interaksi yang konstan dengan lingkungan, sehingga King mengemukakan
dalam model konsep interaksi.

Konsep kerja dalam teori King menurut teori King meliputi :

1. Sistem personal

2. Sistem Interpersonal

3. Sistem Sosial

Konsep hubungan manusia menurut konsep King :

1. Aksi merupakan proses awal hubungan dua individu dalam berperilaku, dalam memahami atau
mengenali kondisi yang ada dalam keperawatan dengan digambarkan hubungan perawat dan
klien untuk melakukan kontrak yang diharapkan

2. Reaksi adalah suatu bentuk tindakan yang terjadi akibat dari adanya aksi dan merupakan respon
dari individu

3. Interaksi yaitu suatu bentuk kerjasama yang saling mempengaruhi antara perawat dan klien
sehingga terwujud komunikasi

4. Transaksi adalah antara perawat dan klien terjadi suatu persetujuan dalam merencana tindakan
keperawatan yang akan dilakukan

9. Model Konsep dan Teori Keperawatan Martha E Rogers (Teori Rogers)

Model konsep dan teori keperawatan menurut Martha E Rogers dikenal dengan nama konsep manusia
sebagai unit. Dalam memahami konsep model dan teori ini, Martha berasumsi bahwa manusia
merupakan satu kesatuan yang utuh, yang memiliki sifat dan karakter yang berbeda-beda.

Asumsi tersebut didasarkan pada kekuatan yang berkembang secara alamiah.

10. Model Konsep dan Teori Keperawatan Jean Waston (Teori Waston)

Jean waston dalam memahami konsep keperawatan terkenal memahami pengetahuan manusia dan
merawat. Tolak ukur pandangan waston ini didasari pada unsur teori kemanusiaan. Pandangan teori
waston memahami bahwa manusia memiliki empat cabang kebutuhan manusia yang saling
berhubungan yaitu :

1. Kebutuhan dasar biofisikial atau kebutuhan untuk beraksi

2. Kebutuhan psikofisikal atau kebutuhan fungsional

3. Kebutuhan psikososial atau kebutuhan untuk integrasi

4. Kebutuhan Intra dan interpersonal

11. Model Konsep dan Teori Keperawatan Jhonson (Teori Jhonson)

Model konsep dan teori ini adalah dengan pendekatan sistem perilaku, dimana individu dipandang
sebagai sistem perilaku yang selalu ingin mencapai keseimbangan dan stabilitas. Baik dilingkungan
internal maupun eksternal.
Sebagai suatu sistem, didalamnya terdapat komponen subsistem yang membentuk sistem tersebut,
diantara komponen subsistem yang membentuk sistem perilaku menurut jhonson adalah:

1. Ingestif

2. Achievement

3. Agresif

4. Eliminasi

5. Sekkksual

6. Gabungan atau Tambahan

7. Ketergantungan

12. Model Konsep dan Teori Keperawatan Virginia Henderson (Teori Henderson)

Model konsep keperawatan ini adalah model konsep aktifitas sehari-hari dengan memberikan gambaran
tugas perawat yaitu mengkaji individu baik yang sakit atau sehat dengan memberikan dukungan.

Pemahaman konsep tersebut dengan didasari kepada keyakinan dan nilai yang dimilikinya diantaranya :

Manusia akan mengalami perkembangan mulai dari pertumbuhan dan perkembangan dalam rentang
hidupnya
Dalam melaksanakan aktifitas sehari-hari individu akan mengalami ketergantungan sejak lahir hingga
menjadi mandiri pada dewasa
Dalam melaksanakan aktifitas sehari-hari individu dapat dikelompokan menjadi 3 kelompok.
Jadi, pada dasarnya keperawatan menurut henderson adalah membantu individu yang sakit dan yang
sehat dalam melaksanakan aktifitas yang memiliki kontribusi terhadap kesehatan dan penyembuhannya.
TEORI, KONSEP & MODEL KEPERAWATAN

TEORI – KONSEP & MODEL KEPERAWATAN

1. Pengertian Teori, Konsep Dan Model keperawatan

Teori adalah hubungan beberapa konsep atau suatu kerangka konsep, atau definisi yang memberikan
suatu pandangan sistematis terhadap gejala-gejala atau fenomena-fenomena dengan menentukan
hubungan spesifik antara konsep-konsep tersebut dengan maksud untuk menguraikan, menerangkan,
meramalkan dan atau mengendalikan suatu fenomena. Teori dapat diuji, diubah atau digunakan sebagai
suatu pedoman dalam penelitian.

Teori keperawatan didefinisikan oleh Steven (1984), sebagai usaha untuk menguraikan dan menjelaskan
berbagai fenomena dalam keperawatan. Teori keperawatan berperan dalam membedakan keperawatan
dengan disiplin ilmu lain dan bertujuan untuk menggambarkan,menjelaskan, memperkirakan dan
mengontrol hasil asuhan atau pelayanan keperawatan yang dilakukan.

Konsep adalah suatu keyakinan yang kompleks terhadap suatu objek, benda, suatu peristiwa atau
fenomena berdasarkan pengalaman dan persepsi seseorang berupa ide, pandangan atau keyakinan.
Kumpulan beberapa konsep ke dalam suatu kerangka yang dapat dipahami membentuk suatu model
atau kerangka konsep. Konsep dapat dianalogikan sebagai batu bata dan papan untuk membangun
sebuah rumah dimana rumah yang dibangun diibaratkan sebagai kerangka konsep.

2. Tujuan Teori Dan Model Keperawatan

Teori keperawatan sebagai salah satu bagian kunci perkembangan ilmu keperawatan dan pengembangan
profesi keperawatan memiliki tujuan yang ingin dicapai diantaranya :

1. Adanya teori keperawatan diharapkan dapat memberikan alasan-alasan tentang kenyataan-


kenyataan yang dihadapi dalam pelayanan keperawatan, baik bentuk tindakan atau bentuk
model praktek keperawatan sehingga berbagai permasalahan dapat teratasi.

2. Adanya teori keperawatan membantu para anggota profesi perawat untuk memahami berbagai
pengetahuan dalam pemberian asuhan keperawatan kemudian dapat memberikan dasar dalam
penyelesaian berbagai masalah keperawatan.

3. Adanya teori keperawatan membantu proses penyelesaian masalah dalam keperawatan dengan
memberikan arah yang jelas bagi tujuan tindakan keperawatan sehingga segala bentuk dan
tindakan dapat dipertimbangkan.

4. Adanya teori keperawatan juga dapat memberikan dasar dari asumsi dan filosofi keperawatan
sehingga pengetahuan dan pemahaman dalam tindakan keperawatan dapat terus bertambah
dan berkembang.

3. Karakteristik Teori Dan Model Keperawatan

Torrest (1985) dan Chinn & Jacob (1983) menegaskan terdapat lima karakteristik dasar teori keperawatan
:
1. Teori keperawatan mengidentifikasikan dan mendefinisikan sebagai hubungan yang spesifik dari
konsep-konsep keperawatan seperti hubungan antara konsep manusia, konsep sehat-sakit,
konsep lingkungan dan keperawatan

2. Teori keperawatan bersifat ilmiah, artinya teori keperawatan digunakan dengan alasan atau
rasional yang jelas dan dikembangkan dengan menggunakan cara berpikir yang logis

3. Teori keperawatan bersifat sederhana dan umum, artinya teori keperawatan dapat digunakan
pada masalah sederhana maupun masalah kesehatan yang kompleks sesuai dengan situasi
praktek keperawatan

4. Teori keperawatan berperan dalam memperkaya body of knowledge keperawatan yang


dilakukan melalui penelitian

5. Teori keperawatan menjadi pedoman dan berperan dalam memperbaiki kualitas praktek
keperawatan

4. Macam-Macam Model Teori Menurut Beberapa Ahli Keperawatan

A. Model Konsep dan Teori Keperawatan Florence Nigtingale

Florence merupakan salah satu pendiri yang meletakkan dasar-dasar teori keperawatan yang melalui
filosofi keperawatan yaitu dengan mengidentifikasi peran perawat dalam menemukan kebutuhan dasar
manusia pada klien serta pentingnya pengaruh lingkungan di dalam perawatan orang sakit yang dikenal
teori lingkungannya.

Model konsep Florence Nigtingale memposisikan lingkungan adalah sebagai focus asuhan keperawatan,
dan perawat tidak perlu memahami seluruh proses penyakit model konsep ini dalam upaya memisahkan
antara profesi keperawatan dan kedokteran. Orientasi pemberian asuhan keperawatan/tindakan
keperawatan lebih di orientasikan pada yang adequate, dengan dimulai dari pengumpulan data
dibandingkan dengan tindakan pengobatan semata, upaya teori tersebut dalam rangka perawat mampu
menjalankan praktik keperawatan mandiri tanpa tergantung dengan profesi lain.

B. Model Konsep dan Teori Keperawatan Marta E. Rogers

Model konsep dan teori keperawatan menurut Martha E. Rogers dikenal dengan nama konsep manusia
sebagai unit. Dalam memahami konsep model dan teori ini, Martha berasumsi bahwa manusia
merupakan satu kesatuan yang utuh, yang memiliki sifat dan karakter yang berbeda-beda. Dalam proses
kehidupan manusia yang dinamis, manusia selalu berinteraksi dengan lingkungan yang saling
mempengaruhi dan dipengaruhi, serta dalam proses kehidupan manusia setiap individu akan berbeda
satu dengan yang lain dan manusia diciptakan dengan karakteristik dan keunikan tersendiri.

Asumsi tersebut didasarkan pada kekuatan yang berkembang secara alamiah yaitu keutuhan manusia
dan lingkungan, kemudian system ketersediaan sebagai satu kesatuan yang utuh serta proses kehidupan
manusia berdasarkan konsep homeodinamik yang terdiri dari :

a. Integritas : Individu sebagai satu kesatuan dengan lingkungan yang tidak dapat dipisahkan dan saling
mempengaruhi satu dengan yang lain.
b. Resonansi : Proses kehidupan antara individu dengan lingkungan berlangsung dengan berirama
dengan frekuensi yang bervariasi.

c. Helicy : terjadinya proses interaksi antara manusia dengan lingkungan akan terjadi perubahan baik
perlahan-lahan maupun berlangsung dengan cepat.

C. Model Konsep dan Teori Keperawatan Myra Levine

Model konsep Myra Levine memandang klien sebagai makhluk hidup terintegrasi yang saling berinteraksi
dan beradaptasi terhadap lingkungannya. Dan intervensi keperawatan adalah suatu aktivitas konservasi
dan konservasi energi adalah bagian yang menjadi pertimbangan. Kemudian sehat menurut Levine itu
dilihat dari sudut pandang konservasi energi, sedangkan dalam keperawatan terdapat empat konservasi
di antaranya energi klien, struktur integritas, integritas personal dan integritas social, sehingga
pendekatan asuhan keperawatan ditunjukkan pada pengguanaan sumber-sumber kekuatan klien secara
optimal.

D. Virginia Henderson (Teori Henderson)

Virginia henderson memperkenalkan defenition of nursing (defenisi keperawatan). Defenisinya mengenai


keperawatan dipengaruhi oleh latar belakang pendidikannya.Ia menyatakan bahwa defenisi keperawatan
harus menyertakan prinsip kesetimbangan fisiologis. Henderson sendiri kemudian mengemukakan
sebuah defenisi keperawatan yang ditinjau dari sisi fungsional. Menurutnya, tugas unik perawat adalah
membantu individu, baik dalam keadaan sakit maupun sehat, melalui upayanya melaksanakan berbagai
aktivitas guna mendukung kesehatan dan penyembuhan individu atau proses meninggal dengan damai,
yang dapat dilakukan secara mandiri oleh individu saat ia memiliki kekuatan, kemampuan, kemauan,
atau pengetahuan untk itu. Di samping itu, Henderson juga mengembangkan sebuah model
keperawatan yang dikenal dengan “The Activities of Living”.Model tersebut menjelaskan bahwa tugas
perawat adalah membantu individu dalam meningkatkan kemandiriannya secepat mungkin. Perawat
menjalankan tugasnya secara mandiri, tidak tergantung pada dokter.Akan tetapi perawat tetap
menyampaikan rencananya pada dokter sewaktu mengunjungi pasien.

1. Konsep Utama Teori Henderson

Konsep utama teori Henderson mencakup manusia, keperawatan, kesehatan, dan lingkungan.

Henderson melihat manusia sebagai individu yang membutuhkan bantuan untuk meraih kesehatan,
kebebasan, atau kematian yang damai, serta bantuan untuk meraih kemandirian. Menurut Henderson,
kebutuhan dasar manusia terdiri atas 14 komponen yang merupakan komponen penanganan perawatan.
Keempat belas kebutuhan tersebut adalah sebagai berikut.

1) Bernapas secara normal

2) Makan dan minum dengan cukup

3) Membuang kotoran tubuh

4) Bergerak dan menjaga posisi yang diinginkan

5) Tidur dan istirahat

6) Memilih pakaian yang sesuai


7) Menjaga suhu tubuh tetap dalam batas normal dengan menyesuaikan pakaian dan mengubah
lingkungan

8) Menjaga tubuh tetap bersih dan terawat serta melindungi integumen

9) Menghindari bahaya lingkungan yang bisa melukai

10) Berkomunikasi dengan orang lain dalam menungkapkan emosi, kebutuhan, rasa takut, atau
pendapat

11) Beribadah sesuai dengan keyakinan

12) Bekerja dengan tata cara yang mengandung prestasi

13) Bermain atau terlibat dalam berbagai kegiatan rekreasi

14) Belajar mengetahui atau memuaskan atau rasa penasaran yang menuntun pada perkembangan
normal dan kesehatan serta menggunakan fasilitas kesehatan yang tersedia.

Henderson juga menyatakan bahwa pikiran dan tubuh manusia tidak dapat dipisahkan satu sama lain
(inseparable). Sama halnya dengan klien dan keluarga, mereka merupakan satu kesatuan (unit)

Dalam pemberian layanan kepada klien, terjalin hubungan antara perawat dengan klien. Menurut
henderson, hubungan perawat-klien terbagi dalam tiga tingkatan, mulai dari hubungan sangat
bergantung hingga hubungan sangat mandiri.

1. Perawat sebagai pengganti (substitute) bagi pasien

2. Perawat sebagai penolong (helper) bagi pasien

3. Perawat sebagai mitra (partner) bagi pasien.

Pada situasi pasien yang gawat, perawat berperan sebagai pengganti di dalam memenuhi kebutuhan
pasien akibat kekuatan fisik, kemampuan, atau kemampuan pasien yang berkurang.Di sini perawat
berfungsi untuk “melengkapinya”.Setelah kondisi gawat berlalu dan pasien berada fase pemulihan,
perawat berperan sebagai penolong untuk menolong atau membantu pasien mendapatkan kembali
kemandiriannya. Kemandirin ini sifatnya relatif, sebab tidak ada satu pun manusia yang tidak bergantung
pada orang lain. Meskipun demikian, perawat berusaha keras saling bergantung demi mewujudkan
kesehatan pasien.Sebagai mitra, perawat dan pasien bersama-sama merumuskan rencana perawatan
bagi pasien.Meski diagnosisnya berbeda, setiap pasien tetap memiliki kebutuhan dasar yang harus
dipenuhi. Hanya saja, kebutuhan dasar tersebut dimodifikasi berdasarkan kondisi patologis dan faktor
lainnya, seperti usia, tabiat, kondisi emosional, status sosial atau budaya, serta kekuatan fisik dan
intelektual.

Kaitannya dengan hubungan perawat-dokter, Henderson berpendapat bahwa perawat tidak boleh selalu
tunduk mengikuti perintah dokter. Henderson sendiri mempertanyakan filosofi yang membolehkan
seorang dokter memberi perintah kepada pasien atau tenaga kesehatan lainnya.

E. Imogene King (Teori King)


King memahami model konsep dan teori keperawatan dengan menggunakan pendekatan sistem terbuka
dalam hubungan interaksi yang konstan dengan lingkungan, sehingga King mengemukakan dalam model
konsep interaksi.

Dalam mencapai hubungan interaksi, King mengemukakan konsep kerjanya yang meliputi adanya system
personal, system interpersonal dan system social yang saling berhubungan satu dengan yang lain.

Menurut King system personal merupakan system terbuka dimana didalamnya terdapat persepsi, adanya
pola tumbuh kembang, gambaran tubuh, ruang dan waktu dari individu dan lingkungan, kemudian
hubungan interpersonal merupakan suatu hubungan antara perawat dan pasien serta hubungan social
yang mengandung arti bahwa suatu interaksi perawat dan pasien dalam menegakkan system social,
sesuai dengan situasi yang ada. Melalui dasar sistem tersebut, maka King memandang manusia
merupakan individu yang reaktif yakni bereaksi terhadap situasi, orang dan objek. Manusia sebagai
makhluk yang berorientasi terhadap waktu tidak lepas dari masa lalu dan sekarang yang dapat
mempengaruhi masa yang akan datang dan sebagai makhluk social manusia akan hidup bersama orang
lain yang akan berinteraksi satu dengan yang lain.

Berdasarkan hal tersebut, maka manusia memiliki tiga kebutuhan dasar yaitu:

1. Informasi kesehatan

2. Pencegah penyakit

3. Kebutuhan terhadap perawat ketika sakit

F. Dorothe E. Orem (Teori Orem)

Pandangan Teori Orem dalam tatanan pelayanan keperawatan ditujukan kepada kebutuhan individu
dalam melakukan tindakan keperewatan mandiri serta mengatur dalam kebutuhannya. Dalam konsep
keperawatan Orem mengembangkan tiga bentuk teori self care diantaranya :

1. Perawatan Diri Sendiri (self care)

Dalam teori self care, Orem mengemukakan bahwa self care meliputi : pertama, self care itu sendiri,
yang merupakan aktivitas dan inisiatif dari individu serta dilaksanakan oleh individu itun sendiri dalam
memenuhi serta mempertahankan kehidupan, keshatan serta kesejahteraan

kedua, self care agency, merupakan suatu kemampuan inidividu dalam melakukan perawatan diri sendiri,
yang dapat dipengaruhi oleh usia, perkembangan, sosiokultural, kesehatan dan lain-lain.

ketiga, adanya tuntutan atau permintaan dalam perawatan diri sendiri yang merupakan tindakan
mandiri yang dilakukan dalam waktu tertentu untuk perawatn diri sendiri dengan menggunakan metode
dan alat dalam tindakan yang tepat ; keempat, kebutuhan self care merupakan suatu tindakan yang
ditujukan pada penyediaan dan perawatan diri sendiri yang bersifat universal dan berhubungan dengan
prises kehidupan manusia serta dalam upaya mempertahankan fungsi tubuh, self care yang bersifat
universal itu adalah aktivitas sehari-hari (ADL) dengan mengelompokkan kedalamkebutuhan dasar
manusianya.

2. Self Care Defisit


Merupakan bagian penting dalam perawatan secara umum dimana segala perencanaan kepereawatan
diberikan pada saat perawatan dibutuhkan yang dapat diterapkan pada anak yang belum dewasa, atau
kebutuhan yang melebihi kemampuan serta adanya perkiraan penurunan kemampuan dalam perawatan
dan tuntutan dalam peningkatan self care, baik secara kualitas maupun kuantitas.

3. Teori Sistem Keperawatan

Merupakan teori yang menguraikan secara jelas bagaimana kebutuhan perawatan diri pasien terpenuhi
oleh perawat atau pasien sendiri yang didasari pada Orem yang mengemukakan tentang pemenuhan
kebutuhan diri sendiri,kebutuhan pasien dan kemampuan pasien dalam melakukan perawatan mandiri.

G. Jean Watson (Teori Watson)

` Jean Watson dalam memahami konsep keperawatan terkenal dengan teori pengetahuan
manusia dan merawat manusia.Tolak ukur pandangan Watson ini didasari pada unsure teori
kemanusiaan. Pandangan teori Jean Watson ini memahami bahwa manusia memiliki empat cabang
kebutuhan manusia yang saling berhubungan diantaranya kebutuhan dasar biofisikal (kebutuhan untuk
hidup) yang meliputi kebutuhan makanan dan cairan, kebutuhan eliminasi dan kebutuhan ventilasi,
kebutuhan psikofisikal (kebutuhan fungsional) yang meliputi kebutuhan aktifitas dan istirahat, kebutuhan
seksual, kebutuhan psikososial (kebutuhan untuk integrasi) yang meliputi kebutuhan untuk berprestasi,
kebutuhan organisasi, dan kebutuhan intra dan interpersonal (kebutuhan untuk pengembangan) yaitu
kebutuhan aktualisasi diri.

Teori human caring

Teori Jean Watson yang telah dipublikasikan dalam keperawatan adalah “human science and
humancare”. Watson percaya bahwa focus utama dalam keperawatan adalah pada carative factor yang
bermula dari perspektif himanistik yang dikombinasikan dengan dasar poengetahuan ilmiah. Oleh karena
itu, perawat perlu mengembangkan filososfi humanistic dan system nilai serta seni yang kuat.Filosofi
humanistic dan system nilai ini member fondasi yang kokoh bagi ilmu keperawatan, sedangkan dasar
seni dapat membantu perawat menbgembangkan vidsi mereka serta nilai-nilai dunia dan keterampilan
berpikir kritis.Pengembangan keterampilan berpikir kritis.Pengembangan keterampilan berpikir kritis
dibutuhkan dalam asuhan keperawatan, namun fokusnya lebih pada peningkatan kesehatan, bukan
pengobatan penyakit.

Asumsi dasar tentang ilmu keperawatan Watson

Beberapa asumsi dasar tentang teori Watson adalah sebagai berikut:

1. Asuhan keperawatan dapat dilakukan dan diperaktikkan secara interpersonal.

2. Asuhan keperawatterlaksana oleh adanya factor carative yang menghasilkan kepuasan pada
kebutuhan manusia.

3. Asuhan keperawatan yang efektif dapat meningkatkan kesehatan dan perkembangan individu dan
keluarga.

4. Respons asuhan keperawatan tidak ahanya menerima seseorang sebagaimana mereka sekarang,
tetapi juga hal-hal yang mungkin terjadi padanya nantinya.
5. Lingkungan asuhan keperawatan adalah sesuatu yang menawarkan kemungkinan perkembangan
potensi dan member keleluasaan bagi seseorang untuk memilih kegiatan yang tebaik bagi dirinya dalam
waktu yang telah ditentukan.

H. Sister Calista Roy (Teori Roy)

Model Adaptasi Roy

ROY berpendapat bahwa ada empat elemen penting dalam model adaptasi keperawatan, yakni
keperawatan, tenaga kesehatan, lingkungan, dan sehat.

1. Elemen keperawatan

Keperawatan adalah suatu disiplin ilmu dan ilmu tersebut menjadi landasan dalam melaksanakan praktik
keperawatan (Roy, 1983).

Lebih spesifik Roy (1986) berpendapat bahwa keperawatan sebagai ilmu dan praktik berperan dalam
meningkatkan adaptasi individu dan kelompok terhadap kesehatan sehingga sikap yang muncul semakin
positif.

Keperawatan memberi perbaikan pada manusia sebagai sutu kesatuan yang utuh untuk beradaptasi
dengan perubahan yang terjadi pada lingkungan dan berespons terhadap stimulus internal yang
mempengaruhi adaptasi.Jika stressor terjadi dan individu tidak dapat menggunakan “koping” secara
efektif maka individu tersebut memerlukan perawatan.

Tujuan keperawatan adalah meningkatkan interaksi individu dengan lingkungan, sehingga adaptasi dalam
setiap aspek semakin meningkat.Komponen-komponen adaptasi mencakup fungsi fisiologis, konsep diri,
fungsi peran, dan saling ketergantungan.

2. Elemen manusia

Manusia merupakan bagian dari sistem adaptasi, yaitu suatu kumpulan unit yang saling berhubungan
mempunyai masukan, proses kontrol, keluaran dan umpan balik (Roy, 1986). Proses kontrol adalah
mekanisme koping yang dimanifestasikan dengan adaptasi secara spesifik. Manusia dalam sistem ini
berperan sebagai kognator dan regulator (pengaturan) untuk mempertahankan adaptasi.

Terdapat empat cara adaptasi, mencakup adaptasi terhadap fungsi fisologis, konsep diri, fungsi peran
dan terhadap kebutuhan saling ketergantungan.

Pada model adaptasi keperawatan, manusia dilihat dari sistem kehidupan yang terbuka, adaptif,
melakukan pertukaran energi dengan zat/benda dan lingkungan.

Manusia sebagai masukan dalam sistem adaptif, terdiri dari lingkungan eksternal dan internal. Proses
kontrol manusia adalah mekanisme koping yakni sistem regulator dan kognator. Keluaran dari sistem ini
dapat berupa respons adaptif atau respons tidak efektif.

3. Elemen lingkungan

Lingkungan didefenisikan sebagai semua kondisi, keadaan, dan faktor lain yang mempengaruhi
perkembangan dan perilaku individu atau kelompok.

4. Elemen sehat
Kesehatan didefenisikan sebagai keadaan yang muncul atau proses yang terjadi pada mahluk hidup dan
terintegrasi dalam individu seutuhnya (Roy, 1984).

Proses adaptasi

Proses adaptasi melibatkan seluruh fungsi secara holistik, mencakup semua interaksi individu dengan
lingkungannya dan dibagi menjadi dua proses, seperti yang berikut.

1. Proses yang ditimbulkan oleh perubahan lingkungan internal dan eksternal. Perubahan ini merupakan
stresor atau stimulus fokal. Apabila stresor atau stimulus tersebut mendapat dukungan dari faktor-faktor
konseptual dan resitual maka akanmuncul interaksi yang biasa disebut stres. Dengan demikian adaptasi
sangat diperlukan untuk mengatasi stres.

2. Proses mekanisme koping yang dirangsang untuk menghasilkan respons adaptif atau tidak efektif.
Hasil dari proses adaptasi adalah suatu kondisi yang dapat meningkatkan pencapaian tujuan individu
mencakup kelangsungan hidup, pertumbuhan, reproduksi, dan integritas.

KONSEP DASAR KEPERAWATAN


MACAM-MACAM MODEL KEPERAWATAN

DISUSUN OLEH:
KELOMPOK III
RAHMAD
SITI HARDIANTI
RONALANT
SYARIF
MACAM-MACAM MODEL KONSEP KEPERAWATAN

DEFINISI :
Model : gambr Deskriftif dr sebuah praktik yg bermutu yg mewakili sesuatu yang nyata.
Model konseftual keperawatan : suatu bentuk yangmemadukan cara pikir dan cara pandang yang
merupakan sintesa dari konsep dan pernyataan tentang keperawatan yang terintegrasi dan
menyeluruh (Ali z.2000)
Ada tiga komponen dasar dari praktek :
1. Keyakinan dan nilai yang mendasari sebuah model.
2. Tujuan praktek. ---memberian pelayanan sesuai kebutuhan klien
3. Pengetahuan dan ketrampilan.----ut mengembangkan upaya tercapai tujuan
A.Macam –macam Model Konseptual (MK) keperawatan antara lain :
1. MK Florence Nightingale`s ( 1859)—Environmental Model.
2. MK H.E Peplau ( 1952 )—Interpersonal Relation in Nursing Model
3. MK Virginia Hederson ( 1966)—Need Based Model
4. MK I.J Orlando ( 1972)—The Dynamic Nurse-Patient Relationship .
5. MK Madeleine Leinenger ( 1978)—Cultural Care Theory
6. Mk Jean Watson ( 1979) –Theory of Nursing
7. MK Nola Pender ( 1982)—Health Promotion Model
8. MK Martha Rogers ( 1970)—The Science of Unitary Human Beings
9. MK Dorothea Orem ( 1971)—Self Care Model
10. 10 MK Imogene M. King`s (1971) --- Model Sistem
11. 11 .MK Betty Neuman ( 1972 )---Health Care System Model
12. 12 .MK Sr. Callista Roy ( 1976)—Adaptation Model or Nursing
13. 13. MK Dorothy Johnson (1968)—Model Sistem Tingkah Laku
Diantara model-model yang paling besar aplikasinya pada perawatan kesehatan masyarakat
adalah : Model Orem, King, Roy, Neuman,Roger dan Jonhson

MODEL KONSEPTUAL DOROTHEA OREM ( SELF CARE MODEL)


Model perawatan diri sendiri / self care ---tdr dr aktivitas dimana seorang individu melakukan
sesuatu utk dirinya dlm mempertahankan hidup, kesehatan dan kesejahteraan.
Kebutuhan dasar menurut Orem :
1. Pemeliharaan dengan cukup pengambilan udara,
2. air,
3. Makanan
4. Pemeliharaan proses eliminasi
5. Pemeliharaan dengan keseimbangan antara aktivitas dan istirahat.
6. Pemeliharaan dengan keseimbangan antara kesendirian dengan interaksi sosial
7. Pencegahan resiko pada kehidupan manusia dan keadaan sehat manusia
8. Perkembangan dalam kelompok sosial sesuai dgn potensi, pengtahuan dan
keinginan
- Self care / pelayanan diri ----- self care agency / fasilitas pelayanan diri
- Self care dificit / kurang pelayanan diri

“ Jika permintaan Pelayanan diri lebih besar dibandingkan dengan fasilitas pelayanan diri, maka
akan timbul deficit pelayanan diri “

Ada tiga macam kebutuhan self care :


1. Universal---self care utk kebut. Fisiologis dan psikososial.
2. Developmental--- self care utk pemenuhan kebut. Perkembangannya
3. Health Deviation---self care yg dibutuhkan saat individu mengalami
penyimpangan dari keadaan sehat
Kategori bantuan self care adalah :
1. Wholly Compensatory—Bantuan scr keseluruhan bagi klien .
2. Partially Compensatory—Bantuan sebagian yg dibutuhkan klien
3. Supportive Educative---Dukungan pendidian kesehatan.
Ciri Khas Dorothea orem:
- Self care / pelayanan diri ----- self care agency / fasilitas pelayanan diri
- Self care dificit / kurang pelayanan diri
Kelebihan :1.teori orem sudah oprasional diginakan dalam riset,praktik dan
admistrasi.2.digunakan sebagai pedoman dalam pembuatan kurikulum
pendidikan diploma dan sarjana keperawatan.3.digunakan dalam mengatasi
masalah pasien dengan sakit akut dan kronik seperti penderita
kanker,diabetes.
Kekurangan:1.teori dan model Orem lebih condongkepada perawatan bagi
orang dewasa di banding kelompok yang lain misalnya bayi dan anak kecil.
MODEL KONSEPTUAL IMOGENE M. KING ( SYSTEM MODEL)
o Komunitas mrupakan suatu sistem yg terdiri dari sub sistem keluarga dan supra sistemnya
adalah sistem sosial yang lebih luas .
o Keluarga sebagai sub sistem komunitas mrp sistem terbuka dimana terjadi hubungan Timbal
balik antara kalangan dengan komunitas, yg sekaligus sebagai umpan balik.

King--Kerangka kerja konseptualnya terdiri dari tiga Sub Sistem :


1. Sistem Personal – Terdiri atas konsep mengenai persepsi dirinya, pertumbuhan &
Perkembangan, body image, jarak dan waktu.
2. Sistem Interpersonal—Mengenai interaksi manusia, masyarakat., transaksi, peran dan stress.
3. Sistem Sosial –-Organisasi, otoritas, kekuatan, status & pembuatan keputusan
Tujuan akhir perawatan (King`1981)
” manusia berinteraksi dengan lingkungan. Yang mengantarkan pada suatu keadaan sehat bagi
individu yg memiliki kemampuan uuntuk berfungsi didalam peran-peran sosial ”
Ciri khas King:teori interpersonal system dengan sembilan
konsep:interakasi,persepsi,komunikasi,transakasi,peran,sres,tumbuh kembang,waktu dan
ruang.

Kelebihan:
1.Teori ini dapat menyesuaikan pada setiap perubahan, teori dapat dipergunakan dan
menjelaskan atau memprediksi sebagian besar fenomena dalam keperawatan.
2.Teori King dapat dipakai pada semua tatanan pelayanan keperawatan.
Kekuranagan:
1.Teori ini berfokus pada sistem interpersonal.sehingga tujuan yang akan dicapai sangat
bergantung pada persepsi perawat dan klien yang terlibat dalam hubungan interpersonal dan
haya pada saat itu saja.

MODEL KONSEPTUAL CALLISTA ROY (ADAPTATION MODEL )


Adalah “ Bagaimana individu mampu meningkatkan kesehatan dgn cara mempertahankan
perilaku adaptif dan mengubah perilaku mal adaptif.”
Empat cara mengefektifkan adaptasi adalah (1) kebutuhan fisiologis, (2) konsep diri, (3) fungsi
peran dan (4) saling ketergantungan .
Proses keperawatan terdiri dari : pengkajian tingkat pertama, dan kedua, identifikasi masalah,
diagnosa keperawatan, menyusun prioritas, menetapkan tujuan, intervensi dan evaluasi.
(Roy, 1984)
Pengkajian tingkat pertama : tingkah laku klien pada tiap –tiap cara adaptif diobservasi dan
diuraikan
Pengkajian tingkat kedua : perawat mengidentifikasi faktor – faktor fokal, kontekstual dan
residual yang mempengaruhi tingah laku klien
Rangsangan Fokal –menimbulkan situasi seperti stress, perlukaan atau kesakitan yang
mengenai individu
Rangsangan Kontekstual faktor lain yang ada seperti pergaulan keluarga atau lingkungan
keluarga.
Rangsangan Residual – faktor yg mempengaruhi yg berasal dari latar belakang klien
;kepercayaan, sikap, pengalaman dan pembawaan .
Kelebihan dari model ini adalah :
1. Kebanyakan dari terminologi sudah dikenal
2. Proses perawatan serupa dgn standart dr pengkajian s.d. evaluasi
3. fokusnya pada tingkah laku yang adaptaif
4. Ditekankan pada pengkajian thd kebutuhan psikososial
5. Sudah diterapkan dalam praktik, pendidikan dan riset.
Kekurangan dari model ini adalah :
1. Jenis adaptasi yang tumpang tindih ( konsep diri,fungsi peran saling ketergantungan)
2. Penentuan tingkah laku adaptif dan mal adaptif sangat ditentukan oleh sistem nilai yang ada
MODEL KONSEPTUAL BETTY NEUMAN (HEALTH CARE SISTEM MODEL )
NUEMAN memberikan penekanan pada penurunan stress dgn cara memperkuat garis
pertahanan diri yang bersifat fleksibel; normal dan resisten
Sehat adalah Suatu keseimbangan bio-psiko-sosio kultural dan spritual pada tiga garis
pertahanan klien yaitu fleksibel, normal dan resisten
Askep ditujukan untuk mempertahanan keseimbangan tersebut dengan fokus pada empat
intervensi yaitu : Intervensi yang bersifat promosi, prevensi, kuratif dan rehabilitatif.
Ciri Khas : menggambarkan aktifitas Penekanan penurunan stres dengan memperkuat garis
pertahanan diri secara fleksibel atau normal atau normal.
Kelebihan:
1.Neuman mengunakan diagram yang jelas ,diagram ini digunakan dalam semua penjelasan
tentang teori sehingga membuat teori terlihat mudah dimengerti.
2.Model neuman lebih fleksibel biasa digunakan pada area keperawatan,pendidikan dan
pelatihan keperawatan.
Kekurangan:
1.Model Neuman dapat digunakan oleh semua profesi,sehingga unruk profesi keperawatan
kurang spesifik.
2.Penjelasan tentang perbedaan stressor interpersonal dan ekstrapersonal masih dirasa belum
ada perbedaan yang jelas.
.

MODEL KONSEPTUAL MARTHA ROGERS (MANUSIA SBG UNIT/KESATUAN


MODEL )
Manusia merupakan satu kesatuan yang utuh yang memiliki sifat dan karakter yang berbeda.
Manusia selalu berinteraksi dengan lingkungan. Yg saling memepengaruhi dan dipengaruhi,
yang berbeda antara individu satu dgn yg lain.
Proses kehidupan manusia berdasarkan konsep homeodinamik yang terdiri dari Integritas /
manusia dengan lingkungan merupakan satu kesatuan , Resonansi / manusia dengan
lingkungan seirama yg bervariasi, Helicy / interaksi manusia dengan lingkungan akan
terjadi perubahan baik secara perlahan maupun cepat.
Pengkajian keluarga meliputi kategori : sub sistem individu, pola interaksi, karakteristik unik
dari keseluruhan dan kesesuaian antar lingkungan.
Kelebihan model ini adalah
1. Penekanan pada konteks total dari jagat raya
2. Penekanan pada efek lingkungan terhadap kesehatan.Seseorang
Kekurangan model ini :
1.pada teori homeodinamik masih sulit di terapakn.
MODEL DOROTHY JONHSON (MODEL TINGKAH LAKU )
Seseorang dpt dipandang sebagai sebuah sistem tingkah laku seperti tubuh manusia dipandang
sebagai sebuah sistem biologis
Sistem tingkah laku terdiri dari tujuh subsistem ;
(1) Pencapaian, merupakan tingkat pencapaian prestasi melalui ketrampilan yang kreatif
(2) Perhubungan(afiliasi), pencapaian hubungan dengan lingkungan yang adekuat
(3) Penyerangan(agresi), Koping terhadap ancaman di lingkungan
(4) Ketergantungan, sistem perilaku dalam medapatkan bantuan, kedamaian, keamanan
serta kepercayaan
(5) Eliminasi,pengeluaran sampah yang tidak berguna secara biologis
(6) Ingesti, sumber dalam memelihara integritas serta mencapai kesenangan pencapaian
pengakuan lingkungan.
(7) Seksualitas, pemenuhan kebutuhan. Dicintai dan mencintai

Tujuan tindakan keperawatan


Untuk memperbaiki, mempertahankan, atau mencapai keseimbangan dan stabilitas sistem
tingkah laku pada tingkatan setinggi mungkin pada individu.

Variabel yg perlu diidentifikasi dari ketidakadekuatan tingkah laku a.l:


1. Insuffisiensi ( ketidakcukupan)----menandakan sub sistem tidak berfungsi
2. DisCrepancy ( Ketidaksesuaian) –Tingkah laku tidak mencapai tujuan yang ditetapkan
3. InCompatibilitas (ketidakcocokan)—Tingkah laku dari dua subsistem terjadi konflik
4. Dominance ( kekuasaan)—Tingkah laku pada subsistem digunakan lebih banyak dari
sub sistem yg lain.

Empat cara intervensi keperawatan agar TL adekuat :


1. Membatasi atau memberi batasan TL
2. Mempertahankan atau melindungi dari stressor negatif
3. Menghambat atau menekan respons yd tdk efektif
4. Memudahkan atau memberi pemeliharaan dan rangsangan
Ciri khas: dengan melakukan pendekatan kepada klien dgn sistem prilaku.
Kelebihan:
1.Model ini sangat berguna dalam proses keperawatan unruk individu
yang sakit
2.model ini mencakup aspek biopsikososial kesehatan
Kekurangan:
1.Model ini hanya dapat diterapkan untuk individu yang system
perilakunya terancam atau potensial terancam oleh
ketidakstabilan.
MODEL FLORENCE NIGHTINGALE(ENVIRIMENTAL MODEL)
Model konsep ini memposisikan lingkungan adalah sebagai fokus asuhan keperawatan,
dan perawat tidak perlu memahami seluruh proses penyakit model konsep ini dalam upaya
memisahkan antara profesi keperawatan dan kedokteran. Orientasi pemberian asuhan
keperawatan atau tindakan keperawatan lebih diorientasikan pada pemberian udara, lampu,
kenyamanan.

Model konsep ini memberikan inspirasi dalam perkembangan praktik keperawatan, sehingga
akhirnya dikembangkan secara luas, paradigma perawat dalam tindakan keperawatan hanya
memberikan kebersihan lingkungan adalah kurang benar, akan tetapi lingkungan dapat mempengarui
proses perawatan pada pasien, sehingga perlu diperhatikan. Inti konsep Florence Nightingale, pasien
dipandang dalam konteks lingkungan secara keseluruhan, terdiri dari lingkungan fisik, lingkungan
psiklologis dan lingkungan sosial.

a) Lingkungan fisik (Physical environment)

Merupakan lingkungan dasar/alami yang berhubungan dengan ventilasi dan udara. Faktor tersebut
mempunyai efek terhadap lingkungan fisik yang bersih yang selalu akan mempengaruhi pasien
dimanapun dia berada didalam ruangan harus bebas dari debu, asap, bau-bauan. Tempat tidur pasien
harus bersih, ruangan hangat, udara bersih, tidak lembab, bebas dari bau-bauan. Lingkungan dibuat
sedemikian rupa sehingga memudahkan perawatan baik bagi oranglain maupun dirinya sendiri. Luas,
tinggi penempatan tempat tidur harus memberikan keleluasaan pasien untuk beraktivitas. Tempat tidur
harus mendapatkanpenerangan yang cukup, jauh dari kebisingan dan bau limbah. Posisi pasien ditempat
tidur harus diatur sedemikian rupa supaya mendapat ventilasi.

b) Lingkungan psikologi (Psychology environment)

Florence Nightingale melihat bahwa kondisi lingkungan yang negatif dapat menyebabkan stress fisik dan
berpengaruh buruk terhadap emosi pasien. Oleh karena itu, ditekankan kepada pasien menjaga
rangsangan fisiknya. Mendapatkan sinar matahari, makanan yang cukup dan aktivitas manual dapat
merangsang semua faktor untuk dapat mempertahankan emosinya. Komunikasi dengan pasien
dipandang dalam suatu konteks lingkungan secara menyeluruh, komunikasi jangan dilakukan secara
terburu-buru atau terputus-putus.

Komunikasi tentang pasien yang dilakukan dokter dan keluarganya sebaiknya dilakukan dilingkungan
pasien dan kurang baik bila dilakukan diluar lingkungan pasien atau jauh dari pendengaran pasien. Tidak
boleh memberikan harapan yang terlalu muluk muluk, menasehati yang berlebihan tentang kondisi
penyakitnya. Selain itu, membicarakan kondisi-kondisi lingkungan dimana dia berada atau cerita hal-hal
yang menyenangkan dan para pengunjung yang baik dapat memberikan rasa nyaman.
c ) Lingkungan Sosial (Social environment)

Observasi (pengamatan) dari lingkungan sosial terutama hubungan spesifik (khusus), kumpulan data-
data yang spesifik dihubungkan dengan keadaan penyakit, sangat penting untuk pencegahan penyakit.
Dengan demikian setiap perawat harus menggunakan kemampuan observasi (pengamatan) dalam
hubungan dengan kasus-kasus secara spesifik lebih sekadar data-data yang ditunjukan pasien pada
umumnya.

Seperti juga hubungan komunitas dengan lingkungan sosial dugaannya selalu dibicarakan dalam hubungan
individu pasien yaitu lingkungan pasien secara menyeluruh tidak hanya meliputi lingkungan rumah atau
lingkungan rumah sakit tetapi juga keseluruhan komunitas yang berpengaruh terhadap lingkungan secara khusus.

MODEL HILDEGRAD PEPLAU(Interpersonal Relations In Nursing)


Model konsep dan teori keperawatan yang dijelaskan oleh Peplau menjelaskan tentang
kemampuan dalam memahami diri sendiri dan orang lain yang menggunakan dasar hubungan
antar manusia yang mencakup 4 komponen sentral yaitu klien, perawat, masalah kecemasan
yang terjadi akibat sakit (sumberkesulitan) dan proses interpersonal.

Peplau melihat antara perawat dan pasien “berpartisipasi & berkontribusi ke dalam
hubungan, dimana hubungan itu sendiri menjadi terapeutik. Pandangan tersebut yang dibuat
formula “Psychodynamic nursing” pada tahun 1952 dan selanjutnya disebut “a theory of
interpersonal relations” pada tahun 1952.
o Fase - fase dalam Keperawatan menurut Peplau
Hubungan perawat-pasien menurut Peplau dideskripsikan sebagai empat fase, meskipun
terpisah, fase – fase tersebut overlap/tumpang tindih dan terjadi terus menerus selama hubungan
itu terjalin.
1. Orientasi
Pada tahap awal orientasi, perawat dan pasien bertemu sebagai dua orang asing. Pasien
dengan keluarga memiliki "felt need” (kebutuhan yang dirasakan), oleh karena itu bantuan
profesional akan dicari. Namun, kebutuhan ini tidak dapat dengan mudah diidentifikasi atau
dipahami oleh individu-individu yang terlibat.Ini sangat penting bahwa perawat bekerja sama
dengan pasien dan keluarga dalam menganalisis situasi, sehingga mereka bersama-sama
dapat mengenali, memperjelas, dan mendefinisikan masalah yang ada. Contoh: Perawat dalam
peran konselor membantu gadis remaja yang merasa "sangat down". Untuk menyadari bahwa
perasaan ini adalah hasil dari sebuah pertengkaran dengan ibunya kemarin malam. Sebagai
seorang perawat terus mendengarkan, ada faktor yang membuat gadis itu berdebat dengan
ibunya dan perasaan tertekan. Karena perasaan ini dibahas, gadis itu mengakui berdebat sebagai
faktor pencetus yang menyebabkan depr
.
2. Identifikasi
Tahap berikutnya identifikasi, adalah dimana pasien merespon selektif terhadap orang-
orang yang dapat memenuhi kebutuhannya. Perawat membiarkan pasien mengeksplorasi
perasaannya untuk membantu kondisinya yang sedang sakit sebagai pengalaman yang me-
reorientasi perasaan dan kekuatan positif pada individu tersebut (Tomey & Alligood,1998).
3. Eksploitasi
Setelah identifikasi, pasien bergerak ke tahap eksploitasi, di mana pasien dapat menilai keuntungan
- keuntungan dari semua layanan kesehatan yang tersedia. Tingkat dimana layanan ini
digunakan berdasarkan pada kepentingan dan kebutuhan pasien (George,1995). Sedangkan pada
buku yang ditulis oleh Tomey & Alligood (1998) disebutkan bahwa selama tahap eksploitasi,
pasien berusaha untuk memperoleh nilai penuh dari apa saja yang ditawarkan saat melakukan
relasi (relationship).
4. Resolusi
Tahap terakhir dari proses antarpribadi Peplau adalah resolusi. Kebutuhan pasien telah
dipenuhi oleh upaya kolaboratif dari perawat dan pasien. Pasien dan perawat sekarang perlu
untuk mengakhiri hubungan terapi mereka dan membubarkan hubungan antara mereka. Secara
bertahap klien melepaskan diri dari perawat. Resolusi ini memungkinkan penguatan kemampuan
untuk memenuhi kebutuhannya sendiri dan menyalurkan energi ke arah realisasi potensi.

MODEL J.ORLANDO(The Dynamic Nurse-Patient Relationship)


Menurut Orlando, keperawatan bersifat unik dan independent karena berhubungan
langsung dengan kebutuhan pasien yang harus dibantu, nyata atau potensial serta pada situasi
langsung. Teori Orlando berfokus pada pasien sebagai individu, artinya masing – masing orang
berada pada situasi yang berbeda. Orlando mendefinisikan kebutuhan sebagai
permintaan/kebutuhan pasien dimana bila disuplai, dikurangi, atau menurunkan distress secara
langsung atau bahkan meningkatkan perasaan tercukupi/wellbeing.
Orlando menggambarkan model teorinya dengan lima konsep utama yaitu fungsi perawat
profesional, mengenal perilaku pasien, respon internal atau kesegeraan, disiplin proses
keperawatan serta kemajuan.
Orlando (1972) menyampaikan 3 kriteria untuk memastikan keberhasilan perawat dalam
mengeksplor dan bereaksi dengan pasien, yaitu :
1. Perawat harus menemuainya dan konsisten terhadap apa yang dikatakanya dan mengatakan
perilaku nonverbalnya kepada pasien.
2. Perawat harus dapat mengkomunikasikanya dengan jelas terhadap apa yang akan
diekspresikanya.
3. Perawat harus menanyakan kembali kepada pasien langsung utnuk perbaikam atau
klarifikasi.
Dalam teorinya Orlando mengemukakan tentang beberapa konsep utama, diantaranya
adalah konsep disiplin proses keperawatan (nursing process discipline) yang juga dikenal dengan
sebutan proses disiplin atau prosesi keperawatan. Disiplin proses keperawatan meliputi
komunikasi perawat kepada pasiennya yang sifatnya segera, mengidentifikasi permasalahan
klien yangdisampaikan kepada perawat, menanyakan untuk validasi atau perbaikan.

MODEL MADELEINE LEINENGER ( 1978)—Cultural Care Theory


Teori ini berasal dari disiplin ilmu antropologi dan oleh Dr. M. Leininger dikembangkan dalam
konteks keperawatan. Leininger mendefinsikan keperawatan transkultural sebagai bagian utama
dari keperawatan yang berfokus pada studi perbandingan dan analisa perbedaan budaya serta
bagian budaya di dunia dengan tetap menghargai nilai-nilai asuhan, pengalaman sehat sakit dan
juga kepercayaan yang dimiliki oleh masyarakat.
Transkultural Nursing adalah suatu area/wilayah keilmuwan budaya pada proses belajar dan
praktek keperawatan yang fokus memandang perbedaan dan kesamaan diantara budaya dengan
menghargai asuhan, sehat dan sakit didasarkan pada nilai budaya manusia, kepercayaan dan
tindakan, dan ilmu ini digunakan untuk memberikan asuhan keperawatan khususnya budaya atau
keutuhan budayakepada manusia.
Tujuan keperawatan Transkultural ialah penggunaan keperawatan transkultural adalah untuk
mengembangkan sains dan pohon keilmuan yang humanis sehingga tercipta praktik keperawatan
pada kultur yang spesifik dan universal. Kultur yang spesifik adalah kultur dengan nilai-nilai
norma spesifik yang tidak dimiliki oleh kelompok lain, seperti bahasa. Sedangkan kultur yang
universal adalah nilai atau norma yang diyakini dan dilakukan hampir oleh semua kultur seperti
budaya berolahraga membuat badan sehat, bugar; budaya minum teh dapat membuat tubuh sehat.
Leininger beranggapan bahwa sangatlah penting memperhatikan keanekaragaman budaya dan
nilai-nilai dalam penerapan asuhan keperawatan kepada klien. Bila hal tersebut diabaikan oleh
perawat, akan mengakibatkan terjadinya cultural shock. Cultural shock akan dialami oleh klien
pada suatu kondisi dimana perawat tidak mampu beradaptasi dengan perbedaan nilai budaya dan
kepercayaan. Hal ini dapat menyebabkan munculnya rasa ketidaknyamanan, ketidakberdayaan
dan beberapa mengalami disorientasi. Kebutaan budaya yang dialami oleh perawat ini akan
berakibat pada penurunan kualitas pelayanan keperawatan yang diberikan.
Dalam melaksanakan praktik keperawatan yang bersifat humanis, perawat perlu memahami
landasan teori dan praktik keperawatan yang berdasarkan budaya. Budaya yang telah menjadi
kebiasaan tersebut diterapkan dalam asuhan keperawatan transkultural, melalui tiga strategi
intervensi yaitu mempertahankan, bernegosiasi dan merestrukturisasi budaya.
Konsep utama dan definisi teori Leininger:
1) “Care” mengacu kepeada suatu fenomena abstrak dan konkrit yang berhubungan dengan
pemberian bantuan, dukungan, atau memungkinkan pemberian pengalaman maupun perilaku
kepada orang lain sesuai dengan kebutuhannya dan bertujuan untuk memperbaiki kondisi
maupun cara hidup manusia.
2) ”Caring”, mengacu kepada suatu tindakan dan aktivitas yang ditujukan secara langsung
dalam pemberian bantuan, dukungan, atau memungkinkan individu lain dan kelompok didalam
memenuhi kebutuhannya untuk memperbaiki kondisi kehidupan manusia atau dalam
menghadapi kematian.
3) “Culture” Kebudayaan merupakan suatu pembelajaran, pembagian dan transmisis nilai,
keyakinan, norma-norma, dan gaya hidup dalam suatu kelompok tertentu yang memberikan
arahan kepada cara berfikir mereka, pengambilan keputusan, dan tindakkan dalam pola hidup.
4) “Culture Care” (Perawatan kultural) mengacu kepada pembelajaran subjektif dan objektif
dan transmisi nilai, keyakinan, pola hidup yang membantu, mendukung, memfasilitasi atau
memungkinkan ndividu lain maupun kelompok untuk mempertahankan kesjahteraan mereka,
kesehatan, serta untuk memperbaiki kondisi kehidupan manusia atau untuk memampukan
manusia dalam menghadapi penyakit, rintangan dan juga kematian.
5) “Cultural Care Diversity” (keragaman perawatan kultural) mengacu kepada variabel-
variabel, perbedaan-perbedaan, pola, nilai, gaya hidup, ataupun simbol perawatan di dalam
maupun diantara suatu perkumpulan yang dihubungkan terhadap pemberian bantuan, dukungan
atau memampukan manusia dalam melakukan suatu perawatan.
6) “Cultural care universality” (Kesatuan perawatan kultural) mengacu kepada suatu
pengertian umum yang memiliki kesamaan ataupun pemahaman yang paling dominan, pola-pola,
nilai - nilai, gaya hidup atau symbol - simbol yang dimanifestasikan diantara banyak kebudayaan
serta mereflesikan pemberian bantuan, dukungan, fasilitas atau memperoleh suatu cara yang
memungkinkan untuk menolong orang lain (Terminlogy universality) tidak digunakan pada suatu
cara yang absolut atau suatu temuan statistik yang signifikan.
7) Keperawatan mengacu kepada suatu pembelajaran humanistik dan profesi keilmuan serta
disiplin yang difokuskan pada aktivitas dan fenomena perawatan manusia yang bertujuan untuk
membantu, memberikan dukungan, menfasilitasi, atau memampukan individu maupun kelompok
untuk memperoleh kesehatan mereka dalam suatu cara yang menguntungkan yang berdasarkan
pada kebudayaan atau untuk menolong orang-orang agar mampu menghadapi rintangan dan
kematian.
8) “World View” (Pandangan dunia) mengacu kepada cara pandang manusia dalam
memelihara dunia atau alam semesta untuk menampilkan suatu gambaran atau nilai yang
ditegakkan tentang hidup mereka atau lingkungan di sekitarnya.
9) “Culture and Social Struktere Demensions” (Dimensi struktur sosial dan budaya) mengacu
pada suatu pola dinamis dan gambaran hubungan struktural serta faktor-faktor organisasi dari
suatu bentuk kebudayaan yang meliputi keagamaan, kebudayaan, politik, ekonomi, pendidikan,
teknologi, nilai budaya dan faktor-faktor etnohistory serta bagaimana faktor-faktor ini
dihubungkan dan berfungsi untuk mempengaruhi perilaku manusia dalam lingkungan yang
berbeda.
10) Lingkungan mengacu pada totalitas dari suatu keadaan, situasi, atau pengalaman-
pengalaman yang memberikan arti bagi perilaku manusia, interpretasi, dan interaksi sosial dalam
lingkungan fisik, ekologi, sosial politik, dan atau susunan kebudayaan.
11) “Enviromental Contect, Languange & Etnohistory” mengacu kepada keseluruhan fakta-
fakta pada waktu yang lampau, kejadian-kejadian, dan pengalaman individu, kelompok,
kebudayaan serta suatu institusi yang difokuskan kepada manusia/masyarakat yang
menggambarkan, menjelaskan dan menginterpretasikan cara hidup manusia dalam suatu bentuk
kebudayaan tertentu dalam jangka waktu yang panjang maupun pendek.
12) “Generic Care System” Sistem perawatan pada masyarakat tradisional mengacu kepada
pembelajaran kultural dan transmisi dalam masyarakat tradisional (awam) dengan menggunakan
pengetahuan dan keterampilan tradisonal yang diwariskan untuk memberikan bantuan, dukungan
atau memfasilitasi tindakan untuk individu lain, kelompok maupun suatu institusi dengan
kebutuhan yang lebih jelas untuk memperbaiki cara hidup manusia atau kondisi kesehatan
ataupun untuk menghadapi rintangan dan situasi kematian.
13) “Profesional Sistem” perawatan profesional mengacu kepada pemikiran formal,
pembelajaran, transmisi perawatan profesional, kesehatan, penyakit, kesejahteraan dan
dihubungkan dalam pengetahuan dan keterampilan praktek yang berlaku dalam institusi
profesional biasanya personil multi disiplin untuk melayani konsumen.
14) Kesehatan mengacu pada keadaan kesejahteraan yang didefinisikan secara kultural memiliki
nilai dan praktek serta merefleksikan kemampuan individu maupun kelompok untuk
menampilkan kegiatan budaya mereka sehari-hari, keuntungan dan pola hidup
15) “Culture Care Preservation/maintenance” Mempertahankan perawatan kultural mengacu
kepada semua bantuan, dukungan, fasilitas atau pengambilan keputusan dan tindakan profesional
yang memungkinkan yang dapat menolong orang lain dalam suatu kebudayaan tertentu dan
mempertahankan nilai perawatan sehingga mereka dapat memperthanakan kesejahteraannya,
pulih dari penyakit atau menghadapi rintangan mapun kematian.
16) “Culture Care Acomodation/negotiation” tehnik negosiasi atau akomodasi perawatan
kultural mengacu pada semua bantuan, dukungan, fasilitas, atau pembuatan keputusan dan
tindakan kreatifitas profesional yang memungkinkan yang menolong masyarakat sesuai dengan
adaptasi kebudayaan mereka atau untuk bernegosiasi dengan fihak lain untuk mencapai hasil
kesehatan yang menguntungkan dan memuaskan melalui petugas perawatan yang professional
17) Culture Care Repattering/restructuring Restrukturisasi perawatan transkultural mengacu
pada seluruh bantuan, dukungan, fasilitas atau keputusan dan tindakan profesional yang dapat
menolong klien untuk mengubah atau memodifikasi cara hidup mereka agar lebih baik dan
memperoleh pola perawatan yang lebih menguntungkan dengan menghargai keyakinan dan nilai
yang dimiliki klien sesuai dengan budayanya.
18) Culturally Congruent Care for Health, Well-being or Dying Perawatan kultural yang
konggruen mengacu kepada kemampuan kognitif untuk membantu, mendukung, menfasilitasi
atau membuat suatu keputusan dan tindakan yang dapat memperbaiki kondisi individu, atau
kelompok dengan nilai budaya, keyakinan dan cara hidup yang berbeda, yang bertujuan untuk
memperoleh kesejahteraan dan kesehatan.
JEAN WATSON( 1979) –Theory of Nursing

Jean Watson dalam memahami konsep keperawatan terkenal dengan teori pengetahuan
manusia dan merawat manusia.Tolak ukur pandangan Watson ini didasari pada unsure teori
kemanusiaan. Pandangan teori Jean Watson ini memahami bahwa manusia memiliki empat
cabang kebutuhan manusia yang saling berhubungan diantaranya kebutuhan dasar biofisikal
(kebutuhan untuk hidup) yang meliputi kebutuhan makanan dan cairan, kebutuhan eliminasi dan
kebutuhan ventilasi, kebutuhan psikofisikal (kebutuhan fungsional) yang meliputi kebutuhan
aktifitas dan istirahat, kebutuhan seksual, kebutuhan psikososial (kebutuhan untuk integrasi)
yang meliputi kebutuhan untuk berprestasi, kebutuhan organisasi, dan kebutuhan intra dan
interpersonal (kebutuhan untuk pengembangan) yaitu kebutuhan aktualisasi diri.
Teori human caring
Teori Jean Watson yang telah dipublikasikan dalam keperawatan adalah “human science
and humancare”. Watson percaya bahwa focus utama dalam keperawatan adalah pada carative
factor yang bermula dari perspektif himanistik yang dikombinasikan dengan dasar poengetahuan
ilmiah. Oleh karena itu, perawat perlu mengembangkan filososfi humanistic dan system nilai
serta seni yang kuat.Filosofi humanistic dan system nilai ini member fondasi yang kokoh bagi
ilmu keperawatan, sedangkan dasar seni dapat membantu perawat menbgembangkan vidsi
mereka serta nilai-nilai dunia dan keterampilan berpikir kritis.Pengembangan keterampilan
berpikir kritis.Pengembangan keterampilan berpikir kritis dibutuhkan dalam asuhan
keperawatan, namun fokusnya lebih pada peningkatan kesehatan, bukan pengobatan penyakit.
Asumsi dasar tentang ilmu keperawatan Watson
Beberapa asumsi dasar tentang teori Watson adalah sebagai berikut:
1. Asuhan keperawatan dapat dilakukan dan diperaktikkan secara interpersonal.
2. Asuhan keperawatterlaksana oleh adanya factor carative yang menghasilkan kepuasan pada
kebutuhan manusia.
3. Asuhan keperawatan yang efektif dapat meningkatkan kesehatan dan perkembangan individu
dan keluarga.
4. Respons asuhan keperawatan tidak ahanya menerima seseorang sebagaimana mereka
sekarang, tetapi juga hal-hal yang mungkin terjadi padanya nantinya.
5. Lingkungan asuhan keperawatan adalah sesuatu yang menawarkan kemungkinan
perkembangan potensi dan member keleluasaan bagi seseorang untuk memilih kegiatan yang
tebaik bagi dirinya dalam waktu yang telah ditentukan.

MODEL NOLA PENDER ( 1982)—Health Promotion Model


Konsep pelayanan keperawatan dari model kuratif ke arah promotif dan peventif
mendorong lahirnya tentang Health Promotion Model oleh Pendder. Melalui 2 teori yaitu
mengenai teori nilai harapan dan teori kognitif sosial. Teori nilai harapan (expectancy
value) adalah pemahaman bahwa perilaku sehat bersifat rasional dan ekonomis, ada dua hal
pokok yaitu: hasil tindakan bersifat rasional dan ekonomis dan pengambilan tindakan untuk
menyempurnakan hasil yang diinginkan. Teori Kognitif Sosial (Social Cognitive Theory) teori
ini menekankan pengarahan diri, pengaturan diri, dan persepsi terhadap kemajuan diri. Teori ini
mengemukakan bahwa manusia memiliki kemampuan dasar antara lain: pengalaman sebagai
petunjuk dimasa akan datang, berpikiran ke depan, belajar dari pengalaman orang lain,
pengaturan diri dan refleksi diri.
REVISI MODEL PROMOSI KESEHATAN
Terdapat 3 landasan HPM yaitu: sikap yang berhubungan dengan aktivitas, komitmen
pada rencana tindakan, dan adanya kebutuhan yang mendesak. Pertama sikap yang berhubungan
dengan aktifitas meliputi karakteristik individu dan pengalaman individu diketahui bahwasannya
manusia itu bersifat unik dan selalu belajar dari setiap pengalaman baik pribadi maupun orang
lain. Faktor yang mempengaruhi antara lain faktor biologi seperti usia, body mass indeks, status
pubertas, status menopause, kapasitas aerobik, kekuatan, ketangkasan atau kesimbangan, faktor
psikologi mengenai self esteem, motivasi diri dan status kesehatan dan sosiokultural yang
meliputi suku, etnis, akulturasi, pendidikan dan status sosio ekonomi.
Kedua tentang kognitif behaviour spesifik dan sikap, pada tahap ini dibagi 6 kategori
yaitu mengenai penilaian terhadap manfaat tindakan secara langsung dapat memotivasi perilaku
kearah positif. Hambatan tindakan adalah sikap yang langsung menghalangi kegiatan melalui
pengurangan komitmen terhadap rencana kegiatan. Kemajuan diri yaitu kemampuan seseorang
dalam mengorganisasi dan melakukan tindakan yang tidak menyangkut skill yang dimiliki. Sikap
yang berhubungan dengan aktivitas seperti tindakan yang diambil, emosi yang timbul pada
kegiatan serta lingkungan di mana kegiatan itu berlangsung. Pengaruh interpersonal mengenai
perilaku, kepercayaan atau sikap kepada orang lain. Sumber utama interpersonal dari keluarga
kelompok dan pemberi pengaruh pelayanan kesehatan. Pengaruh interpersonal terdiri dari norma,
sosial support dan model (belajar dari pengalaman orang lain). Pengaruh situasional yaitu situasi
yang dapat mempengaruhi perilaku dengan mengubah lingkungan.
Terakhir yang ketiga mengenai perilaku yang diharapkan, tahapan ketiga ini
dikategorikan dalam 3 tahapan yaitu mengenai komitmen terhadap rencana tindakan dengan
komitmen untuk melaksanakan tindakan sesuai waktu dan tempat dengan orang-orang tertentu
atau sendiri tanpa persaingan, pengaturan strategi tertentu untuk mendapatkan tujuan dan rencana
kegiatan yang dikembangkan oleh perawat dan klien untuk mencapai tujuan. Kebutuhan yang
mendesak merupakan perilaku alternatif sehingga tindakan yang mungkin dilakukan segera
sebelum kejadian terjadi suatu rencana perilaku promosi kesehatan. Hasil perilaku yaitu efek
pencapaian tujuan secara langsung ditujukan pada pencapaian hasil kesehatan positif untuk klien.
Perilaku promosi kesehatan terutama sekali terintegrasi dalam gaya hidup sehat yang menyerap
pada semua aspek kehidupan seharusnya mengakibatkan peningkatan kesehatan, fungsional dan
kualitas hidup yang lebih baik pada semua tingkat perkembangan