Anda di halaman 1dari 9

Latar Belakang Historis

Perang Korea

Wilayah Korea
Korea merupakan sebuah wilayah yang tidak terlalu
luas, karena hanya menempati lahan seluas 85.246
mil persegi. Wilayah Korea lebih merupakan wilayah
kepulauan, dengan garis pantai sepanjang 5.400 mil
dan sangat dipengaruhi oleh laut.

Sebelum tahun 1945, Korea adalah satu kesatuan.


Kerajaan Korea kuno disatukan oleh Dinasti Tang
pada 668 masehi. Korea yang bersatu ini bertahan
selama 1300 tahun sebelum akhirnya pecah.

Korea pecah menjadi dua bagian setelah manuver


yang dilakukan oleh Sekutu menjelang akhir Perang
Dunia II. Selama perang, Korea merupakan wilayah
yang dikuasai oleh Jepang. Namun, setelah
kekalahan Jepang pada PD II, Korea dibagi menjadi
dua bagian pada parallel ke-38. Soviet menduduki
Korea Utara, sementara Amerika Serikat menduduki
bagian selatan.
Pararel 38 yang
menjadi batas Korea Utara dan Selatan
Setelah Korea dipisahkan, dua negara superpower
itu saling menanamkan pengaruh mereka di daratan
Korea. Dengan semakin intensifnya Perang Dunia
antara Soviet dan Amerika Serikat, garis pemisah
Korea Utara dan Selatan menjadi tirai besi baru yang
memisahkan orang Korea satu dengan lainnya.
Meskipun dipisahkan kedua bagian wilayah itu
menjadi ajang unjuk kekuatan Uni Soviet dan
Amerika Serikat. Sehingga, konflik antar keduanya
pun sangat mungkin untuk terjadi.

Pemimpin Korea Utara, Kim II Sung sangat


berambisi untuk menyatukan Korea. Oleh karena itu,
ia meminta dukungan pemimpin Uni Soviet, Joseph
Stalin pada April 1950. Stalin akhirnya setuju untuk
mendukung invasi Korea Utara terhadap Korea
Selatan. Ia hanya meminta Kim memastikan bahwa
kemenangan itu dapat dicapai dan Soviet tidak akan
melakukan intervensi secara langsung.

Setelah memperoleh dukungan Stalin, Kim kemudian


mengunjungi pemimpin Partai Komunis Cina, Mao
Zedong di Beijing. Mao setuju hanya kekuatan militer
yang bisa menyatukan Korea.Ia juga meragukan
Amerika Serikat akan memperhatikan perang di
Korea.

Sementara Kim dengan percaya diri mengatakan


kepada Mao bahwa tentaranya akan menguasai
seluruh Korea dalam waktu tiga minggu, jauh
sebelum intervensi Amerika mungkin terjadi.

Dimulainya Perang Korea


Tentara Rakyat
Korea Utara bergerak ke selatan
Perang dimulai pada hari Minggu pagi, 25 Juni 1950,
setelah Tentara Rakyat Korea Utara (NKPA)
melintasi paralel ketiga puluh delapan, didukung oleh
tank T-34 buatan Soviet. Serangan itu tak terduga
baik dalam waktu maupun intensitas.

Sementara itu, Pasukan Republik Korea (Selatan)


yang belum cukup terlatih atau mempunyai
persenjataan untuk memenuhi tantangan tersebut
memilih mundur. NKPA bergerak cepat, mengambil
alih ibukota Korea di Seoul, dan kemudian
menyeberangi Sungai Han dan pergi ke barat ke
Sungai Kum, lalu ke selatan menuju Taejon dan
Taegu. Korea Utara di bawah dukungan Uni Soviet,
berkeinginan menjadikan seluruh Korea sebagai
rezim komunis.

Presiden AS, Harry S. Truman, memerintahkan


pasukan darat dan udara AS untuk mengevakuasi
penduduk. Ia juga memerintahkan Armada Ketujuh
AS menuju Selat Taiwan untuk mencegah
konfrontasi antara Komunis dan Nasionalis China.

Dalam dua hari, PBB mengadopsi sebuah resolusi


yang diusulkan oleh Amerika Serikat, yang meminta
pasukan Republik Rakyat Demokratik Korea untuk
menarik diri.

Meskipun dihimbau untuk menarik diri, Tentara


Rakyat Korea Utara justru bergerak lebih jauh ke
selatan. Truman yang cemas akan kekuatan Korea
Utara memberi wewenang kepada Jenderal Douglas
MacArthur untuk mengirim pasukan darat. Terlepas
dari kehadiran pasukan Amerika, pasukan Korea
Utara terus bergerak ke selatan.

Divisi Infanteri ke-24, pimpinan Jenderal William


Dean, menjadi yang pertama bereaksi untuk
menghambat laju tentara Korea Utara. Divisi ini
kemudian dibantu oleh Angkatan Udara Kelima yang
dipindahkan ke Korea, meskipun pada akhirnya
tetap tidak bisa menghentikan kekuatan NKPA.

Pada akhir bulan Juli 1950, Perserikatan Bangsa-


Bangsa mengambil sebuah posisi di sepanjang
Perimeter Naktong untuk mengkonsolidasikan
pasukannya yang terdiri dari: Divisi Kavaleri Pertama
Amerika, Divisi Infanteri Kedua, Divisi Infanteri ke-24,
Divisi Infanteri ke-25, dan Brigade Marinir Pertama,
dan lima Divisi infanteri Korea Selatan.

Segera setelah seruan dari Perserikatan Bangsa-


Bangsa, negara-negara anggota mulai mengirim
pasukan dan pasokan. Inggris adalah negara
pertama yang merespon, dengan menempatkan
kapal mereka yang berada di perairan Jepang di
bawah komando Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Sebagian besar negara tidak dapat mengirim banyak
tentara, namun 17 negara berhasil memberikan
setidaknya kekuatan finansial untuk Komando
Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Pertempuran di Inchon dan Yalu

Pada tanggal 15 September 1950, setelah


memperbanyak pasukan dan membangun jalur
pasokan, Jenderal MacArthur mulai merencanakan
sebuah rencana yang telah ia pertimbangkan sejak
awal. Operasi tersebut bernama Operasi Chromite,
yakni pendaratan pasukan amfibi di pelabuhan
pantai barat Inchon.

Sebagai persiapan, ia membentuk X Corps di bawah


komando General Edward (Ned) Almond. Pasukan
itu terdiri dari Divisi Infanteri Ketujuh (Angkatan
Darat) dan Divisi Marinir Pertama. X Corps bergerak
mengelilingi ujung selatan Korea. Pasukan amfibi
kemudian mendarat pada pagi hari tanggal 15
September 1950 dan dalam beberapa hari telah
menguasai Inchon dan Lapangan Terbang Kimpo.
Pada bulan Oktober, Seoul telah berhasil dikuasai
kembali dan dikembalikan ke Presiden Syngman
Rhee.

Sementara itu, Angkatan Darat Kedelapan di bawah


pimpinan Lieutenant General Walton H. Walker telah
keluar dari batas dan bergerak ke utara dengan
cepat. Mereka memotong jalur suplai dan
komunikasi, sehingga NKPA terpaksa harus mundur.
Dua kesuksesan operasi itu membuat pasukan PBB
menguasai paralel ketiga puluh delapan pada awal
Oktober. Dalam banyak hal perang mungkin telah
berakhir pada saat ini.

Akan tetapi, situasi menguntungkan itu justru


dianggap sebagai waktu yang tepat bagi Amerika
Serikat untuk menduduki seluruh Korea dan
mengembalikannya sebagai negara
kesatuan.Setelah memperoleh izin dari Kepala Staf
Gabungan dan Perserikatan Bangsa-Bangsa,
pasukan PBB dan Republik Korea menyeberang
paralel tiga puluh delapan dan bergerak ke utara.

Sementara itu Tentara Kedelapan menuju ke sisi


barat pegunungan, dan X Corps yang telah
dipindahkan melalui laut ke pelabuhan Wonsan,
bergerak ke sisi timur. Komunikasi antara kedua
kekuatan itu sulit. Pada hari Thanksgiving, Resimen
Infanteri ke-17 di AS mencapai Sungai Yalu. Pada
titik inilah serangan balik dari Korea Selatan dan
pendukungnya dimulai.

Bergabungnya Cina ke dalam Perang

Republik Rakyat Cina telah memperingatkan bahwa


jika pasukan PBB menyeberangi paralel ketiga puluh
delapan, maka meraka akan memasuki perang.
Akan tetapi Jenderal MacArthur meyakinkan
Presiden Harry S. Truman bahwa ancaman itu tidak
akan terjadi.
Kedatangan
Pasukan Cina di Sungai Yalu
Pada pertengahan Oktober 1950, terjadi bentrokan
dengan tentara China. Kemudian, pada tanggal 23
November, hampir 200.000 pasukan Cina
menyerang. Mereka telah melewati Sungai Yalu
yang beku dan menghimpun kekuatan selama bulan
November. Komando PBB terkena pukulan keras
dari Cina, sehingga Walker mulai menarik diri dan
mengevakuasi pasukan melalui laut sebisa mungkin.

Di sebelah timur, X Corps juga mengalami


kekalahan. Tentara dan personil Marinir ditarik keluar
di bawah tekanan besar dari serangan China dan
cuaca yang turun hampir 40 derajat di bawah nol
Fahrenheit. Ketika tentara dan marinir mundur ke
pelabuhan Hungnam, angkatan laut mulai melakukan
evakuasi pada malam Natal.

Seorang tentara
Cina dan bangkai tank AS
Hampir 100.000 tentara PBB dan Republik Korea,
serta sebagian besar pengungsi dievakuasi. Pada 25
Desember, pelabuhan tersebut telah hancur, dan
sebagian besar pasukan PBB menuju Pusan dan
pelabuhan lainnya di sepanjang pantai. Seoul sekali
lagi ditinggalkan pada tanggal 3 Januari 1951.

Sejak saat itu sampai akhir perang, Cina memainkan


peran yang dominan, tidak hanya dalam pengadaan
peralatan dan perlengkapan militer serta sipil, tetapi
juga dalam arah strategi. Meskipun tentara Korea
Utara terus memainkan peran penting, baik otoritas
militer maupun sejarawan sipil mengidentifikasi
serangan Cina ini menandai fase konflik baru. Selain
itu, Cina juga akan memainkan peran utama dalam
negosiasi yang dimulai pada tahun 1952.

Perang di Perbukitan dan Dimulainya Perdebatan Panjang

Jenderal Walton Walker meninggal dalam


kecelakaan jip menjelang akhir Desember 1950.
Penggantinya, Jenderal Matthew B. Ridgway, tiba
pada hari Natal dan memulai proses pembangunan
kembali Angkatan Darat Kedelapan yang moralnya
hancur setelah kalah.

Usaha itu berhasil, Seoul berhasil direbut kembali


dan pada tanggal 27 Maret 1951. Angkatan Darat
Kedelapan terus bergerak hingga mencapai paralel
ke tiga puluh delapan. Dalam Operasi Rugged,
pasukan Ridgway mendirikan Garis Wyoming dan
Kansas, yang akan menjadi jalur utama perlawanan
untuk keseluruhan perang.

Pada awal tahun 1952, sebagian besar hak teritorial


telah diputuskan, dan pada awal November 1952
Komando Perserikatan Bangsa-Bangsa mengadopsi
sebuah kebijakan defensif dan mulai mengajak pihak
komunis untuk berunding.

Pada masa ini tidak dilakukan operasi militer dalam


jumlah besar, tetapi perang difokuskan pada
perbukitan, pos terdepan, dan bunker kecil. Hal ini
karena jumlah pasukan dan suplai yang semakin
berkurang di kedua belah pihak. Tentara dan mesin
dibatasi oleh ruang lingkup tugas, seperti
menghancurkan sebuah benteng, membongkar
sebuah bunker atau mengganggu jalur pasokan.
Pertempuran itu terbatas pada bukit-bukit, dan unit-
unit yang terlibat seringkali tidak lebih dari satu
kompi pasukan. Kesuksesan atau kegagalan di meja
konferensi tercermin dalam keberhasilan atau
kegagalan di lapangan. Perundingan perdamaian
berlanjut, saat pertempuran di bukit-bukit itu masih
berlangsung dengan sengit.

Perserikatan Bangsa-Bangsa dan negara-negara


komunis memasuki perundingan dengan konsep dan
keinginan yang jauh berbeda. Selain itu, muncul
permasalahan seputar tahanan perang antara kedua
belah pihak. Proses negosiasi berjalan
sangatlamban dan membuat frustrasi, pembicaraan
dihentikan berkali-kali, dan akibatnya lebih
mencerminkan atmosfer politik daripada militer.

Akhir Perang Korea:


Genjatan Senjata
Sesaat setelah kematian Joseph Stalin pada tanggal
5 Maret 1953, komunis kembali ke meja perundingan
dan menyetujui pertukaran narapidana.Perubahan
lingkungan internasional tercermin dalam berbagai
proposal perdamaian yang ditawarkan. Akan tetapi
genjatan senjata tergantung pada kesepakatan
tentang pertukaran tahanan perang..

Apapun yang mempengaruhi tercapainya


kesepakatan akhir sulit untuk dipastikan. Pastinya
termasuk kematian Joseph Stalin dan masalah
domestik Soviet. Gencatan senjata ditandatangani
oleh Jenderal William K. Harrison dan Jenderal Mark
Clark untuk PBB, Marsekal Peng The-huai untuk
Republik China, dan Marshall Kim Il Sung dan
Jenderal Nam Il untuk Korea Utara. Republik Korea
tidak menandatangani kesepakatan tersebut.

Meskipun telah mencapai genjatan senjata, masih


ada penduduk Korea Utara dalam jumlah besar dan
penduduk Korea Selatan dalam jumlah yang jauh
lebih kecil menolak untuk dipulangkan. Sehingga
menciptakan perselisihan baru di masa depan
antara kedua Korea.

Perang Korea membawa kerugian yang sangat


besar bagi kedua belah pihak. Setidaknya 33.741
pasukan Amerika Serikat terbunuh dalam aksi militer,
2.827 tewas dalam situasi yang berkaitan dengan
perang, dan 103.284 terluka. Sementara korban jiwa
untuk Republik Korea Selatan sendiri mencapai
59.000 tewas dan 290.000 pasukan terluka,
ditambah korban sipil yang cukup untuk membawa
angka korban ke hampir tiga juta orang.

Korban yang lebih banyak berada di pihak Korea


Utara dan Cina, setidaknya 500.000 pasukan
menjadi korban dan satu juta terluka.

Untuk kerugian materi, Korea Selatan menjadi yang


paling dirugikan. Beberapa desa lenyap akibat
perang dan Seoul, ibu kota negara tersebut,
sebagian besar rata dengan tananh. Jalur kereta api,
komunikasi, keseluruhan infrastruktur negara,
pembangkit listrik tenaga air, pabrik, bangunan sipil,
bahkan peternakan dan sawah hancur.

Sumber sejarah konflik tiongkok dan jepang