Anda di halaman 1dari 13

Geologi Scale Time

Aplikasi paleontologi
1. Menentukan Umur Relatif Batuan
Kemunculan fosil dari zaman ke zaman selalu berbeda, sehingga fosil dapatdigunakan untuk menentukan
umur relatif suatu batuan sedimen. Fosil Indeks: fosil yang kemunculannya sangat spesifik mewakili suatu
zaman, contoh:Ammonit pada Trias. Syarat-syarat fosil indeks: Memiliki penyebaran lateral yang luas,
kisaran umurnya pendek dan mudah dikenali.
2. Melakukan Korelasi
Korelasi:menghubungkan dua atau lebih satuan batuan berdasarkan kesamaan umur. Biostratigrafi adalah
menyusun suatu satuan batuan berdasarkan kesamaan kandungan fosilnya. Dalam perkembangannya
satuan biostratigrafi sering identik dengan umur dari batuan itu sendiri.
3. Menentukan Lingkungan Pengendapan
Organisme dalam hidupnya dibatasi oleh suatu lingkungan, dimana organismetersebut dapat beradaptasi.
Dengan demikian fosil dapat dipergunakan untukmenentukan lingkungan pengendapan. Syarat: fosil
terendapkan pada lingkungan dimana dia hidup (bioconoese ), lingkungan hidupnya sempit dan mudah
dikenali. Lingkungan Pengendapan : Darat, meliputi gurun, sungai, danau, dan sebagainya.
Sedangkan laut, meliputi: pantai, rawa, laut dangkal (neritik) dsb.
4. Mengetahui Paleoklimatologi
Selain lingkungan hidup, organisme juga dipengaruhi oleh iklim sebagai salah satu unsur lingkungan.
Contoh: Koral biasanya hidup pada iklim tropis - sub tropis.

Giovani Ardunio (1713-17950 membagi lapisan batuan menjadi 3 berdasarkan ada-tidaknya fosil, disebut
:
Primer = sekis, mika, terobosan, tidak mengandung fosil
Sekunder = napal, batugamping , mengandung fosil
Tersier = batugamping, napal, batulempung, mengandung fosil yang melimpah.
Fosil, dari bahasa Latin fossa yang berarti "menggali keluar dari dalam tanah”. Fosil adalah semua
sisa, jejak, ataupun cetakan dari manusia, binatang, dan tumbuh-tumbuhan yang telah terawetkan dalam
suatu endapan batuan dari masa geologis atau prasejarah yang telah berlalu.
Fosil mahluk hidup terbentuk ketika mahluk hidup pada zaman dahulu (lebih dari 11.000 tahun)
terjebak dalam lumpur atau pasir dan kemudian jasadnya tertutup oleh endapan lumpur. Endapan lumpur
tersebut akan mengeras menjadi batu di sekeliling mahluk hidup yang terkubur tersebut.
Dari fosil yang ditemukan, yang paling banyak jumlahnya adalah yang sangat lembut ukurannya
seperti serbuk sari, misalnnya foraminifera, ostracoda dan radiolarian. Sedangkan, hewan yang besar
biasanya hancur bercerai-cerai dan bagian tertentu yang ditemukan sebagai fosil.
Bentuk fosil ada dua macam yaitu fosil cetakan dan jejak fosil. Fosil cetakan terjadi jika kerangka
mahluk hidup yang terjebak di endapan lumpur meninggalkan bekas (misalnya tulang) pada endapan
tersebut yang membentuk cetakan. Jika cetakan tersebut berisi lagi dengan endapan lumpur maka akan
terbentuk jejak fosil persis seperti kerangka aslinya.
Berdasarkan ukurannya, jenis fosil dibagi menjadi :
a. Macrofossil (Fosil Besar) , dipelajari tanpa menggunakan alat bantu
b. Microfossil (Fosil Kecil), dipelajari dengan alat bantu mikroskop
c. Nannofossil (Fosil Sangat kecil), dipelajari menggunakan batuan mikroskop khusus (dengan
pembesaran hingga 1000x)

Persyaratan terbentuknya fosil:


1. adanya badan air
2. adanya sumber sedimen anorganik dalam bentuk partikel atau senyawa terlarut
3. adanya bahan tumbuhan atau hewan (yang akan menjadi fosil)
B. Proses Pemfosilan atau Fosilisasi
Fosilisasi merupakan proses penimbunan sisa-sisa hewan atau tumbuhan yang terakumulasi dalam
sedimen atau endapan-endapan baik yang mengalami pengawetan secara menyeluruh, sebagian ataupun
jejaknya saja. Terdapat beberapa syarat terjadinya pemfosilan yaitu antara lain:
Organisme mempunyai bagian tubuh yang keras
Mengalami pengawetan
Terbebas dari bakteri pembusuk
Terjadi secara alamiah
Mengandung kadar oksigen dalam jumlah yang sedikit
Umurnya lebih dari 10.000 tahun yang lalu.
Kendala pemfosilan yaitu saat organism mati (bangkai) dimakan oleh organism lain atau terjadi
pembusukan oleh bakteri pengurai.
Suatu contoh tempat yang mendukung terjadinya proses fosilisasi adalah delta sungai, dasar danau,
atau danau tapal kuda (oxbow lake) yang terjadi dari putusnya suatu meander.
Bahan -bahan yang berperan dalam fosilisasi, diantaranya :
1. Pertrifaksi, berubah menjadi batu oleh adanya bahan-bahan : silika, kalsiumkarbonat, FeO, MnO dan
FeS. Bahan itu masuk dan mengisi lubang serta pori dari hewan atau tumbuhan yang telah mati sehingga
menjadi keras/membatu menjadi fosil.
2. Proses Destilasi, tumbuhan atau bahan organik lainnya yang telah mati dengan cepat tertutup oleh
lapisan tanah.
3. Proses Kompresi, tumbuhan tertimbun dalam lapisan tanah, maka air dan gas yang terkandung dalam
bahan organic dari tumbuhan itu tertekan keluar oleh beratnya lapisan tanah yang menimbunnya.
Akibatnya, karbon dari tumbuhan itu tertinggal dan lama kelamaan akan menjadi batubara, lignit dan
bahan bakar lainnya.
4. Impresi, tanda fosil yang terdapat di dalam lapisan tanah sedangkan fosilnya sendiri hilang.
5. Bekas gigi, kadang-kadang fosil tulang menunjukan bekas gigitan hewan carnivore atau hewan
pengerat.
6. Koprolit, bekas kotoran hewan yang menjadi fosil.
7. Gastrolit, batu yang halus permukaannya ditemukan di dalam badan hewan yang telah menjadi fosil.
8. Liang di dalam tanah, dapat terisi oleh batuan dan berubah sebagai fosil, merupakan cetakan.
9. Pembentukan Kerak, hewan dan tumbuhan terbungkus oleh kalsiumkarbonat yang berasal dari travertine
ataupun talaktit.
10. Pemfosilan di dalam Tuff, pemfosilan ini jarang terjadi kecuali di daerah yang berudara kering sehingga
bakteri pembusuk tidak dapat terjadi.
11. Pemfosilan dengan cara pembekuan, hewan yang mati tertutup serta terlindung lapisan es dapat membeku
dengan segera. Oleh karena dinginnya es maka tidak ada bakteri pembusuk yang hidup dalam bangkai
tersebut.
C. Fosil hidup
Istilah “fosil hidup” adalah istilah yang digunakan suatu spesies hidup yang menyerupai sebuah
spesies yang hanya diketahui dari fosil. Beberapa fosil hidup antara lain ikan coelacanth dan pohon ginkgo.
Fosil hidup juga dapat mengacu kepada sebuah spesies hidup yang tidak memiliki spesies dekat lainnya
atau sebuah kelompok kecil spesies dekat yang tidak memiliki spesies dekat lainnya. Contoh dari kriteria
terakhir ini adalah nautilus.
D. Jenis Fosil
1. Organisme itu sendiri (Fosil yang dihasilkan dari organisme itu sendiri) (BoodyFossil)
Tipe pertama ini adalah binatangnya itu sendiri yang terawetkan/tersimpan.
Dapat beruba tulangnya, daun-nya, cangkangnya, dan hampir semua yang
tersimpan ini adalah bagian dari tubuhnya yang “keras”. Dapat juga berupa
binatangnya yang secara lengkap (utuh) tersipan. misalnya Fosil Mammoth
yang terawetkan karena es, ataupun serangga yang terjebak dalam amber (getah
tumbuhan).
Petrified wood atau fosil kayu dan juga mammoths yang terbekukan, and juga mungkin anda pernah
lihat dalam filem berupa binatang serangga yang tersimpan dalam amber atau getah tumbuhan. Semua ini
biasa saja berupa asli binatang yang tersimpan.
2. Sisa-sisa aktifitasnya (Trace Fossil)
Secara mudah pembentukan fosil ini dapat melalui beberapa jalan, antara
lain seperti yang terlihat dibawah ini. Fosil sisa aktifitasnya sering juga disebut
dengan Trace Fosil (Fosil jejak), karena yang terlihat hanyalah sisa-sisa
aktifitasnya. Jadi ada kemungkinan fosil itu bukan bagian dari tubuh binatang atau
tumbuhan itu sendiri.
Penyimpanan atau pengawetan fosil cangkang ini dapat berupa cetakan.
Namun cetakan tersebut dapat pula berupa cetakan bagian dalam (internal mould)
dicirikan bentuk permukaan yang halus, atau external mould dengan ciri
permukaan yang kasar. Keduanya bukan binatangnya yang tersiman, tetapi
hanyalah cetakan dari binatang atau organisme itu.
Trace fossil adalah suatu struktur berupa track, trall, burrow, tube, borring,
yang terawaetkan sebagai fosil organisme.
Kelebihan trace fossil dengan fosil kerangka :
1. Trace fossil biasanya terawetkan pada lingkungan yang berlawanan dengan pengendapan fosil kerangka
misalnya perairan dangkal dengan energy tinggi, batu pasir laut dangkal dan batu lanau laut.
2. Trace fossil tidak dipengaruhi oleh diagenesa bahkan diperjelas secara visual oleh proses diagenesa.

E. PROSES YANG MEMPENGARUHI TERBENTUKNYA FOSIL

1. Histometabasis, Penggantian sebagian tubuh fosil tumbuhan dengan pengisian mineral lain (cth : silika)
dimana fosil tersebut diendapkan
2. Permineralisasi , Histometabasis pada binatang
3. Rekristalisasi, Berubahnya seluruh/sebagian tubuh fosil akibat P & T yang tinggi, sehingga molekul-
molekul dari tubuh fosil (non-kristalin) akan mengikat agregat tubuh fosil itu sendiri menjadi kristalin
4. Replacement/Mineralisasi/Petrifikasi, Penggantian seluruh bagian fosil dengan mineral lain
5. Dehydrasi/Leaching/Pelarutan
6. Mold/Depression, Fosil berongga dan terisi mineral lempung
7. Trail & Track
Trail : cetakan/jejak-jejak kehidupan binatang purba yang menimbulkan kenampakan yang lebih
halus
Track : sama dengan trail, namun ukurannya lebih besar
Burrow : lubang-lubang tempat tinggal yang ditinggalkan binatang purba.
Borring : lubang pemboran
Tube : struktur fosil berupa pipa

Daftar nama Fosil

Ammonita

Blastoid

Echidormarta
Apa Itu Fosil?
Fosil dapat berumur semuda 10.000 tahun, atau setua 3,5 miliar tahun. Fosil dapat sebesar Seismosaurus,
atau sekecil amoeba. Fosil bisa berupa mamut beku Siberia yang ditemukan lengkap dengan rambut, atau
hanya berupa jejak. Fosil dapat berisi material dari organisme aslinya, atau tidak sama sekali. Jadi apa itu
fosil?

Fosil adalah sisa-sisa atau bukti kehidupan dari waktu geologi sebelumnya / purba. Pada umumnya semua
fosil memberi kita petunjuk tentang dunia lampau. Berkat fosil, kita tahu bahwa berbagai bentuk kehidupan
telah menduduki planet ini. Fosil menceritakan kita bahwa kehidupan telah berkembang dari waktu ke
waktu. Fosil telah berkontribusi dalam penyusunan skala waktu geologi.

Dua Jenis Umum Fosil


Fosil tubuh / body fossils - ahli paleontologi mendefinisikan sebagai fosil-fosil yang terdiri dari sisa-sisa
material organisme aslinya, seperti; cangkang, tulang, dan gigi. Dimana tulang sebagai bagian keras dan
jaringan organik sebagai bagian lunak. Mereka juga mendefinisikan hewan tanpa tulang sebagai organisme
bertubuh lunak. Istilah-istilah ini adalah cara yang berguna untuk membedakan tulang dan jaringan hewan.

Fosil jejak / trace fossils - ahli paleontologi mendefinisikan sebagai fosil-fosil yang dibentuk oleh aktivitas
atau perilaku organisme pada jaman dulu, seperti; jejak, jalur, liang, pengerekan, sarang, dan koprolit (fosil
kotoran). Setiap sisa-sisa organisme dan segala macam jalur atau jejak, bahkan jika ahli paleontologi tidak
dapat mengidentifikasinya sebagai tanaman atau aktivitas hewan, akan memenuhi syarat sebagai fosil jika
itu dibentuk oleh suatu bentuk kehidupan dari waktu geologi sebelumnya.

Pada umumnya fosil berumur sangat tua, jutaan dan kadang-kadang lebih dari satu miliar tahun, namun
secara teknis setiap sisa-sisa atau bukti kehidupan yang berumur lebih dari sekitar 10.000 tahun adalah
fosil.

Yang jauh lebih penting adalah bagaimana cara objek dipelajari. Tidak peduli berapa umur sebuah objek,
jika dipelajari dengan cara yang sama sebagai fosil yang berumur tua, sebagai sesuatu yang berasal dari
batuan, maka sering dianggap sebagai fosil. Dengan demikian, dikarenakan jasad beku manusia es yang
ditemukan beberapa tahun lalu di Pegunungan Alpen dipelajari dengan metode biologi dan antropologi,
sebagian besar ahli paleontologi tidak akan menganggap manusia es tersebut sebagai fosil. Di sisi lain,
seorang ahli paleontologi tertarik menafsirkan interaksi antara organisme dan lingkungan tempat tinggal
mereka, mungkin dengan mempelajari cangkang modern seolah-olah sebagai fosil, bahkan jika suatu
organisme mati hanya beberapa hari yang lalu. Subfossil adalah istilah yang kadang-kadang digunakan
untuk sisa-sisa organisme yang baru saja mati jika ingin dipelajari seolah-olah sebagai fosil.

Mahluk Hidup / Organisme yang Terfosilkan


 Fosil Invertebrata
Sejauh ini jumlah terbesar ahli paleontologi adalah mereka yang mempelajari fosil invertebrata, fosil
organisme yang tidak memiliki tulang belakang. Hal ini dikarenakan jenis-jenis fosil invertebrata yang
melimpah dan terawetkan dengan baik di berbagai jenis batuan, berasal dari berbagai jenis organisme,
kebanyakan hidup dalam rentang waktu geologi yang panjang; dan karena jenis fosil ini sering terawetkan
secara keseluruhan (bukan sebagai fragmen).

 Fosil Vertebrata
Fosil-fosil hewan bertulang belakang, seperti; ikan, amfibi, berbagai kelompok reptil, burung, dan mamalia
- adalah contoh dari fosil vertebrata. Tulang dan gigi organisme jenis ini adalah bagian terkeras dari
beberapa bagian tubuh lainnya, dan dengan demikian bagian tersebut cenderung tahan terhadap erosi,
sehingga fosil vertebrata sering ditemukan hanya berupa tulang-tulang dan gigi-gigi nya saja. Seorang ahli
paleontologi vertebrata akan mendapatkan informasi lebih banyak dari kerangka yang terawetkan secara
utuh dibandingkan dari tulang-belulang dan gigi-gigi yang terpisah.
 Fosil Mikro
Ahli paleontologi menggunakan
mikroskop untuk mempelajari segala macam fosil, bahkan tulang-tulang dinosaurus raksasa yang mungkin
berukuran lebih dari beberapa meter dan memiliki berat puluhan kilogram. Sebuah mikrofosil adalah salah
satu yang dapat dipelajari dengan mikroskop karena ukurannya yang sangat kecil. Mereka yang
mempelajari fosil mikro disebut micropaleontologists, dan banyak dari mereka bekerja untuk perusahaan
minyak karena fosil mikro berguna untuk menentukan usia batuan, dan cenderung menjadi satu-satunya
jenis fosil yang menjadi alasan ketika sumur minyak dibor.

Bakteri yang terawetkan sebagai fosil jauh lebih banyak daripada yang diharapkan, mungkin karena bakteri
begitu berlimpah, keras dan karena mereka dapat mengubah lingkungan mereka dengan cara yang
signifikan. Studi tentang interaksi bakteri dengan batuan disebut geobiologi - merupakan salah satu bagian
dari ilmu geologi yang menjanjikan dan sedang berkembang pesat saat ini.
 Fosil Tanaman
Sebagian besar jenis tanaman tidak memiliki cangkang apapun seperti yang dimiliki hewan, meskipun
beberapa jenis rumput memiliki butiran opal kecil yang kadang dapat merusak gigi hewan pemakan
rumput. Kemungkinan tanaman terfosilkan sangatlah tipis, tetapi jika berada pada kondisi yang tepat,
sebuah tanaman bisa terfosilkan. Ukuran batang pohon dan kelimpahan daun sangat berkontribusi terhadap
kelimpahan catatan fosil tanaman. Batang pohon yang berukuran besar dapat memfosil sebelum
membusuk; begitu pula halnya daun, jika terakumulasi dalam jumlah banyak pada satu lingkungan, daun-
daun tersebut dapat mengubah lingkungan sehingga dapat meningkatkan kemungkinan fosilisasi mereka.
Satu fakta yang mengejutkan adalah bahwa meskipun organisme vertebrata dan tanaman saling
ketergantungan dalam banyak hal, merupakan hal yang sedikit tidak lazim jika menemukan kedua fosil
vertebrata dan tanaman terawetkan bersama dalam jenis batuan yang sama. Kondisi yang diperlukan untuk
fosilisasi keduanya cukup berbeda, oleh karena itu tidak mungkin terjadi bersamaan. Meskipun kita tahu
bahwa mereka umumnya tinggal bersama, di tempat yang sama.
 Palynomorphs
Bagian ini lebih fokus mempelajari apa pun yang berukuran kecil sebagai spora atau butiran serbuk sari
yang terawetkan pada batuan dalam jangka waktu geologi yang lama, disebut Palynology. Fosil serbuk sari
cukup melimpah dan cukup resisten, ahli paleontologi membedakan fosil serbuk sari dari "fosil tanaman"
meskipun keduanya tentu saja merupakan satu bagian. Berbagai jenis tanaman memiliki berbagai jenis
spora dan serbuk sari yang dapat dibedakan dengan mempelajarinya dibawah mikroskop. Fosil spora dan
serbuk sari memberikan banyak informasi tentang sejarah evolusi tanaman dan lingkungan pengendapan.
Bagaimana Fosil Terbentuk?
Ahli paleontologi sering berhubungan dengan orang-orang yang menemukan fosil dan ingin tahu lebih
banyak tentang fosil. Salah satu pertanyaan pertama yang mereka tanyakan adalah, "Has it been
fossilized?" Ingat bahwa fosil adalah sisa-sisa atau bukti kehidupan dari waktu geologi
sebelumnya. Anything that keeps the remains from being destroyed by geological processes is a type of
fossilization.
 Permineralisasi
Pada umumnya tulang memiliki pori dengan derajat yang beda-beda. Tulang yang berpori adalah tulang
manusia dan cangkang-cangkang dari berbagai jenis hewan invertebrata. Ketika air tanah merembes masuk
ke dalam fosil berpori, biasanya air akan mengendapkan material mineral ke dalam pori-pori, proses ini
disebut sebagai permineralization. Material endapan dari proses ini dapat berkomposisi sama seperti tulang
yang ditempatinya, atau dapat sangat berbeda.
 Petrifikasi
Secara harfiah, petrifikasi berarti pembatuan (beralih ke batu). Penggunaan kata ini menyiratkan bahwa
suatu zat yang membatu harus dimulai tanpa mineral yang keras. Artinya, organisme yang terpetrifikasi
adalah organisme yang bertubuh lunak. Petrifikasi adalah proses dimana bagain lunak dari objek terubah
dengan mineral, contohnya mineral silika dalam bentuk mikrokristalin kuarsa, kalsit atau kadang-kadang
apatit - mineral kalsium fosfat dengan campuran beberapa elemen lain, terutama fluorine. Contoh fosil
yang mengalami petrifikasi adalah fosil kayu / petrified wood - kayu yang membatu.
 Rekristalisasi
Rekristalisasi adalah proses fosilisasi dimana satu jenis mineral mengkristal ke berbagai jenis mineral
lainnya. Contohnya pada cangkang yang tersusun dari mineral aragonit, dalam proses fosilisasinya mineral
tersebut akan merekristalisasikan mineral kalsit. Kebanyakan keong, kerang, kelompok cumi, dan koral
dari era Mesozoikum dan Kenozoikum memiliki kerangka yang tersusun dari mineral aragonit. Aragonit
dan kalsit memiliki komposisi kimia yang sama (CaCO3), akan tetapi kalsit memiliki struktur kristal yang
stabil.
 Casts dan Molds
Cast dan mold adalah bentuk tiga dimensi dari hasil pengawetan suatu organisme. Proses fosilisasi ini
dimulai ketika suatu cangkang/kerangka organisme terperangkap dalam batuan sedimen. Sebagian besar
dari kerangka ini terdiri dari zat-zat yang mudah larut dalam air berkarbonasi. Pada umumnya proses
fosilisasi ini terjadi pada batuan yang berpori, contohnya batupasir. Sifat batuan yang berpori memudahkan
air berkarbonasi untuk melarutkan cangkang dan jaringan asli dari organisme. Cast adalah bentuk cetakan
bagian eksternal organisme, sedangkan mold adalah bentuk negative imprint dari permukaan organisme.
 Karbonisasi
Terkadang suatu jasad organisme terkubur dengan cepat sebelum membusuk. Suksesi lapisan sedimen
terendapkan dengan cepat di atasnya, membuat jasad organisme terkubur lebih dalam. Kemudian, semua
material yang mudah menguap terpanaskan oleh panas bumi, dan menyisahkan carbon film. Fosil daun
merupakan contoh terbaik dari proses ini.
 Mumi
Mumi Firaun Mesir yang terawetkan dalam piramida tidak dianggap sebagai fosil biasanya, meskipun
proses fosilisasinya sama dengan sisa-sisa organisme kuno lainnya. Ahli paleontologi beranggapan bahwa
mumi terbentuk karena proses pengeringan yang cepat sebelum jasad mumi tersebut membusuk. Proses
fosilisasi seperti ini jarang ditemukan, dan hanya terjadi pada daerah dengan kondisi yang sangat kering
(mis; gurun atau goa). Mumi tidak bertahan lama, maka dari itu tidak ada mumi yang berumur sangat tua.
Perubahan iklim, goa yang runtuh, dan serangan bakteri dapat menghancurkan mumi.
 Frozen Mammoth
Pembekuan adalah jenis khusus dari proses mumifikasi. Lebih spektakuler lagi, fosil yang dihasilkan dari
pembekuan tidak mengalami pengeringan. Pada tahun 1900 beberapa orang berburu fosil gading dari taring
mammoth di Siberia Utara, dan mereka menemukan fosil mammoth yang tertanam dalam permafrost
(lapisan es abadi) di tepi sungai. Dalam beberapa tahun terakhir para ilmuwan melakukan projek untuk
menghasilkan mammonth hidup dengan cara mengumpulkan DNA mammoth beku dan
menggabungkannya dengan DNA gajah. Sejauh ini projek tersebut tidak menghasilkan banyak kemajuan,
para ahli masih optimis, projek ini masih dianggap sesuatu yang menarik, yang suatu saat akan
menghasilkan penemuan-penemuan baru.
 Fosil Amber
Amber adalah fosil getah pohon. Beberapa jenis pohon, bila kulit atau batangnya terkupas, pohon tersebut
akan mengeluarkan cairan getah. Mekanisme tersebut yang membuat serangga terperangkap dalam getah.
Amber tertua adalah yang pernah ditemukan di midcontinent Amerika Utara yang berumur sekitar 300 juta
tahun.
 Phosphatic fossilization
Mineral yang kaya akan fosfat, terutama mineral kalsium fosfat, terkadang menembus masuk ke ruang pori
pada batuan, dan membentuk nodul fosfat. Ketika hal tersebut terjadi, pengawetan bisa terjadi dengan
sangat baik. Serat otot ikan, larva invertebrata, dan bahkan semua individual bakteri bisa terawetkan
dengan proses ini.