Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PEMBUKA

1.1 Latar Belakang


Makalah ini dibuat sehubungan dengan tugas sejarah yang diberikan Bapak Fajar. Makalah
ini juga dibuat dengan tujuan menghidupkan kembali suasana kerajaan, khusunya Kerajaan
Kalingga pada masa itu. Ini diperlukan guna mengingatkan kembali betapa pentingnya
sejarah dan hal yang terkait di dalamnya. Bukan hanya mengulas bagaimana kronologi
terbentuknya Kalingga dan sistem yang ada di dalamnya, namun juga membahas makna apa
yang bisa dipetik di balik megahnya Kalingga.

1.2 Rumusan Masalah


a. Apa itu Kerajaan Kalingga?
b. Di mana letak Kerajaan Kalingga?
c. Bagaimana kehidupan di dalam kerajaan?
d. Bagaimana dengan keadaan politik, sosial, ekonomi, dan agama di Kerajaan Kalingga?
e. Apa saja benda-benda peninggalan Kerajaan Kalinga?

1.3 Tujuan
a. Menambah pengetahuan sejarah tentang Kerajaan Kalingga
b. Mengingatkan pentingnya mengetahui sejarah di hari kemudian
c. Melestarikan budaya yang telah ada di Indonesia
d. Mengambil hikmah yang ada di balik Kerajaan Kalingga
Bab II

ISI

1.1 Pembahasan Rumusan Masalah


a. Apa itu Kerajaan Kalingga?
Kalingga atau Ho-ling (sebutan dari sumber Tiongkok) adalah
sebuah kerajaan bercorak Hindu yang muncul di Jawa Tengah sekitar abad ke-6 masehi.
b. Di mana letak Kerajaan Kalingga?
Salah satu tempat yang dicurigai menjadi lokasi ibu kota dari kerajaan ini ialah
Pekalongan dan Jepara. Jepara dicurigai karena adanya kabupaten Keling di pantai utara
Jepara, sementara Pekalongan dicurigai karena masa lalunya pada saat awal dibangunnya
kerajaan ini ialah sebuah pelabuhan kuno
c. Bagaimana kehidupan di dalam Kerajaan Kalingga?
Kami mengambil beberapa cerita dari sudut pandang yang berbeda :
Cerita Lokal
Pada tahun 674, kerajaan Kalingga dipimpin oleh Ratu Shima yang terkenal akan
peraturan kejamnya terhadap pencurian, dimana hal tersebut memaksa orang-orang
Kalingga menjadi jujur dan selalu memihak pada kebenaran. Menurut cerita-cerita yang
berkembang di masyarakat, pada suatu hari seorang raja dari negara yang asing datang
dan meletakkan sebuah kantung yang terisi dengan emas pada persimpangan jalan di
Kalingga untuk menguji kejujuran dan kebenaran dari orang-orang Kalingga yang
terkenal. Dalam sejarahnya tercatat bahwa tidak ada yang berani menyentuh kantung
emas yang bukan milik mereka, paling tidak selama tiga tahun hingga akhirnya anak dari
Shima, sang putra mahkota secara tidak sengaja menyentuh kantung tersebut dengan
kakinya. Mendengar hal tersebut, Shima segera menjatuhkan hukuman mati kepada
anaknya sendiri. Mendengar hukuman yang dijatuhkan oleh Shima, beberapa orang
memohon agar Shima hanya memotong kakinya karena kakinya lah yang bersalah.
Dalam beberapa cerita, orang-orang tadi bahkan meminta Shima hanya memotong jari
dari anaknya.

Dalam salah satu kejadian pada sejarah kerajaan Kalingga, terdapat sebuah titik balik
dimana kerajaan ini terislamkan. Pada tahun 651, Ustman bin Affan mengirimkan beberapa
utusan menuju Tiongkok sambil mengemban misi untuk memperkenalkan Islam kepada
daerah yang asing tersebut. Selain ke Tiongkok, Ustman juga mengirim beberapa orang
utusannya menuju Jepara yang dulu bernama Kalingga. Kedatangan utusan yang terjadi
pada masa setelah Ratu Shima turun dan digantikan oleh Jay Shima ini menyebabkan sang
raja memeluk agama Islam dan juga diikuti jejaknya oleh beberapa bangsawan Jawa yang
mulai meninggalkan agama asli mereka dan menganut Islam.

Seperti kebanyakan kerajaan lainnya di Indonesia, kerajaan Kalingga juga mengalami


ketertinggalan saat kerajaan tersebut runtuh. Dari seluruh peninggalan yang berhasil
ditemukan adalah 2 candi bernama candi Angin dan candi Bubrah. Candi Angin dan Candi
Bubrah merupakan dua candi yang ditemukan di Keling, tepatnya di desa Tempur. Candi
Angin mendapatkan namanya karena memiliki letak yang tinggi dan berumur lebih tua
dari Candi Borobudur. Candi Bubrah, di lain sisi, merupakan sebuah candi yang baru
setengah jadi, tapi umurnya sama dengan candi Angin.

Cerita Parahyangan

Berdasarkan naskah Carita Parahyangan yang berasal dari abad ke-16, putri Maharani
Shima, Parwati, menikah dengan putera mahkota Kerajaan Galuh yang bernama
Mandiminyak, yang kemudian menjadi raja kedua dari Kerajaan Galuh. Maharani Shima
memiliki cucu yang bernama Sanaha yang menikah dengan raja ketiga dari Kerajaan
Galuh, yaitu Brantasenawa. Sanaha dan Bratasenawa memiliki anak yang bernama
Sanjaya yang kelak menjadi raja Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh (723-732 M).
Setelah Maharani Shima meninggal pada tahun 732 M, Sanjaya menggantikan buyutnya
dan menjadi raja Kerajaan Kalingga Utara yang kemudian disebut Bumi Mataram, dan
kemudian mendirikan Dinasti/Wangsa Sanjaya di Kerajaan Mataram Kuno.
Kekuasaan di Jawa Barat diserahkannya kepada putranya dari Tejakencana, yaitu
Tamperan Barmawijaya alias Rakeyan Panaraban. Kemudian Raja Sanjaya menikahi
Sudiwara puteri Dewasinga, Raja Kalingga Selatan atau Bumi Sambara, dan memiliki
putra yaitu Rakai Panangkaran.
Pada abad ke-5 muncul Kerajaan Ho-ling (atau Kalingga) yang diperkirakan terletak di
utara Jawa Tengah. Keterangan tentang Kerajaan Ho-ling didapat dari prasasti dan
catatan dari negeri Cina. Pada tahun 752, Kerajaan Ho-ling menjadi wilayah taklukan
Sriwijaya dikarenakan kerajaan ini menjadi bagian jaringan perdagangan Hindu, bersama
Malayu dan Tarumanagara yang sebelumnya telah ditaklukan Sriwijaya. Ketiga kerajaan
tersebut menjadi pesaing kuat jaringan perdagangan Sriwijaya-Buddha.

Berita Cina

Berita keberadaan Ho-ling juga dapat diperoleh dari berita yang berasal dari zaman
Dinasti Tang dan catatan I-Tsing. Catatan dari zaman Dinasti Tang. Cerita Cina pada
zaman Dinasti Tang (618 M - 906 M) memberikan tentang keterangan Ho-ling sebagai
berikut :
Ho-ling atau disebut Jawa terletak di Lautan Selatan. Di sebelah utaranya terletak Ta Hen
La (Kamboja), di sebelah timurnya terletak Po-Li (Pulau Bali) dan di sebelah barat
terletak Pulau Sumatera.
Ibukota Ho-ling dikelilingi oleh tembok yang terbuat dari tonggak kayu.
Raja tinggal di suatu bangunan besar bertingkat, beratap daun palem, dan singgasananya
terbuat dari gading.
Penduduk Kerajaan Ho-ling sudah pandai membuat minuman keras dari bunga kelapa
Daerah Ho-ling menghasilkan kulit penyu, emas, perak, cula badak dan gading gajah.
Catatan dari berita Cina ini juga menyebutkan bahwa sejak tahun 674, rakyat Ho-ling
diperintah oleh Ratu Hsi-mo (Shima). Ia adalah seorang ratu yang sangat adil dan
bijaksana. Pada masa pemerintahannya Kerajaan Ho-ling sangat aman dan tentram.

Catatan I-Tsing

Catatan I-Tsing (tahun 664/665 M) menyebutkan bahwa pada abad ke-7 tanah Jawa telah
menjadi salah satu pusat pengetahuan agama Buddha Hinayana. Di Ho-ling ada pendeta
Cina bernama Hwining, yang menerjemahkan salah satu kitab agama Buddha ke dalam
Bahasa Cina. Ia bekerjasama dengan pendeta Jawa bernama Janabadra. Kitab terjemahan
itu antara lain memuat cerita tentang Nirwana, tetapi cerita ini berbeda dengan cerita
Nirwana dalam agama Buddha Hinayana.

d. Bagaimana dengan keadaan politik, sosial, ekonomi, dan agama di Kerajaan Kalingga
1. Keadaan dan Kehidupan Politik di Kerajaan Kalingga
Kerajaan Holing diperintah oleh seorang raja putri yang bernama Ratu Sima.
Pemerintahan Ratu Sima sangat keras, namun adil dan bijaksana. Kepada setiap
pelanggar, selalu diberikan sangsi tegas. Rakyat tunduk dan taat terhadap segala
perintah Ratu Sima. Ratu Shima yang mendidik rakyatnya agar selalu berlaku jujur
dan menindak keras kejahatan pencurian.
Pada suatu ketika seorang raja dari seberang lautan mendengar mengenai
kemashuran rakyat kerajaan Kalingga yang terkenal jujur dan taat hukum. Untuk
mengujinya ia meletakkan sekantung uang emas di persimpangan jalan dekat pasar.
Tak ada sorang pun rakyat Kalingga yang berani menyentuh apalagi mengambil
barang yang bukan miliknya. Hingga tiga tahun kemudian kantung itu disentuh oleh
putra mahkota dengan kakinya. Ratu Shima demi menjunjung hukum menjatuhkan
hukuman mati kepada putranya. Karena kaki sang pangeranlah yang menyentuh
barang yang bukan miliknya, akhirnya ratu memerintahkan agar jari-jari kaki putra
mahkota itu yang dipotong. Mendengar itu raja Ta-shih takut dan mengurungkan
niatnya untuk menyerang kerajaan Ratu Shima.
2. Keadaan dan Kehidupan Ekonomi di Kerajaan Kalingga
Masyarakat Kerajaan Holing telah mengenal hubungan perdagangan. Mereka
menjalin hubungan perdagangan pada suatu tempat yang disebut dengan pasar.
Pada pasar itu, mereka mengadakan hubungan perdagangan dengan teratur.
Kegiatan ekonomi masyarakat lainnya diantaranya bercocok tanam, menghasilkan
kulit penyu, emas, perak, cula badak dan gading. Ada sumber air asin yang
dimanfaatkan untuk membuat garam. Rakyat Ho-ling sangat memperhatikan
pendidikan. Buktinya rakyat Holing sudah mengenal tulisan. Rakyat dari kerajaan
tersebut hidupnya makmur dari hasil bercocok tanam.
Kegiatan ekonomi Kalingga adalah perdagangan dan pelayaran karena letak
kerajaan di Semenanjung Melayu. Jadi perdagangan sangatlah lancar dan
terkendali, perdagangannya amat maju dan pelayaran disana sebagai alat
transportasi yang mudah juga cepat.
Holing sendiri banyak ditemukan barang-barang yang bercirikan kebudayaan
Dongsong dan India. Hal ini menunjukkan adanya pola jaringan yang sudah
terbentuk antar Holing dengan bangsa luar.
Sementara itu, sebagian masyarakat yang tinggal di pedalaman yang subur,
memanfaatkan kondisi tanah yang subur tersebut untuk mengembangkan sektor
pertanian. Hasil-hasil pertanian yang diperdagangkan antara lain beras dan
minuman. Penduduk Kalingga dikenal pandai membuat minuman berasal dari
bunga kelapa dan bunga aren.
3. Kehidupan Sosial di Kerajaan Kalingga
Kehidupan sosial masyarakat Kerajaan Holing sudah teratur rapi. Hal ini
disebabkan karena sistem pemerintahan yang keras dari Ratu Sima. Ratu sima tidak
pernah memihak dalam sosialnya, ia hanya membina dan sebagai penguasa
kerajaan. Ratu Sima mendirikan lembaga masyarakat untuk membantu dirinnya
dalam mengatasi rakyatnya. Lembaga yang sudah terbentuk sudah memberlakukan
sistem perundang-undangan. Hadirnya sistem perundang-undangan
tersebut berjalan dengan baik .
4. Kehidupan Beragama di Kerajaan Kalingga
Kerajaan Kalingga merupakan kerajaan yang sangat terpengaruh oleh ajaran
Budha. Oleh karena itu, Holing menjadi pusat pendidikan agama Budha. Holing
memiliki seorang pendeta yang bernama Jnanabhadra.
Pendeta Hou-ei-Ning dari Cina pergi ke Holing untuk menerjemahkan kitab
Hinayana dari bahasa sansekerta ke bahasa Cina. Pada 664-667 M, pendeta Budha
Cina bernama Hwu-ning dengan pembantunya Yun-ki datang ke Ho-ling. Di sana
kedua pendeta tersebut bersama-sama dengan Joh-na po-t’o-lo menerjemahkan
Kitab Budha bagian Nirwana. Ho-ling tidak menganut agama Budha aliran
Mahayana, tetapi menganut agama Budha Hinayana aliran Mulasarastiwada.
Kronik Dinasti Sung juga menyebutkan bahwa yang memimpin dan mentahbiskan
Yun-ki menjadi pendeta Budha adalah Njnanabhadra.

e. Apa saja benda-benda peninggalan Kerajaan Kalingga?


Prasasti Tukmas
Ditemukan di lereng barat Gunung Merapi, tepatnya di Dusun Dakawu, Desa Lebak,
Kecamatan Grabag, Magelang di Jawa Tengah. Bertuliskan huruf Pallawa yang
berbahasa Sanskerta. Isi prasasti menceritakan tentang mata air yang bersih dan jernih.
Sungai yang mengalir dari sumber air tersebut disamakan dengan Sungai Gangga di
India. Pada prasasti itu ada gambar-gambar seperti trisula, kendi, kapak, kelasangka,
cakra dan bunga teratai yang merupakan lambang keeratan hubungan manusia dengan
dewa-dewa Hindu.

Prasasti Sojomerto
Ditemukan di Desa Sojomerto, Kecamatan Reban, Kabupaten Batang, Jawa Tengah.
Prasasti ini beraksara Kawi dan berbahasa Melayu Kuno. Berasal dari sekitar abad ke-7
masehi. Bersifat keagamaan Siwais. Isi prasasti memuat keluarga dari tokoh utamanya,
Dapunta Selendra, yaitu ayahnya bernama Santanu, ibunya bernama Bhadrawati,
sedangkan istrinya bernama Sampula. Prof. Drs. Boechari berpendapat bahwa tokoh yang
bernama Dapunta Selendra adalah cikal-bakal raja-raja keturunan Wangsa Sailendra yang
berkuasa di Kerajaan Mataram Hindu. Bahan prasasti ini adalah batu andesit dengan
panjang 43 cm, tebal 7 cm, dan tinggi 78 cm. Tulisannya terdiri dari 11 baris yang sebagian
barisnya rusak terkikis usia.

Candi Angin
Candi Angin terdapat di desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara. Karena
letaknya yang tinggi tapi tidak roboh terkena angin, maka dinamakan “Candi Angin”.
Menurut para penelitian Candi Angin lebih tua dari pada Candi Borobudur. Bahkan ada
yang beranggapan kalau candi ini buatan manusia purba di karenakan tidak terdapat
ornamen-ornamen Hindu-Budha.

Candi Bubrah, Jepara


Candi Bubrah ditemukan di Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, Jawa
Tengah. Candi Bubrah adalah salah satu candi Buddha yang berada di dalam kompleks
Taman Wisata Candi Prambanan, yaitu di antara Percandian Rara Jonggrang dan Candi
Sewu. Secara administratif, candi ini terletak di Dukuh Bener, Desa Bugisan, Kecamatan
Prambanan, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah. Dinamakan ‘Bubrah’ karena
keadaan candi ini rusak (bubrah dalam bahasa Jawa) sejak ditemukan. Menurut perkiraan,
candi ini dibangun pada abad ke-9 pada zaman Kerajaan Mataram Kuno, satu periode
dengan Candi Sewu. Candi ini mempunyai ukuran 12 m x 12 m terbuat dari jenis batu
andesit, dengan sisa reruntuhan setinggi 2 meter saja. Saat ditemukan masih terdapat
beberapa arca Buddha, walaupun tidak utuh lagi.
Bab III

PENUTUP

1.1 Kesimpulan
Kesimpulan dari makalah yang kami buat ini adalah Kerajaan Kalingga memiliki pengaruh
terhadap agama hindu budha
1.2 Saran