Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN MATERNITAS ANTENATAL PADA Ny. I


UMUR 24 TAHUN G2 P1 A0 DI RUANG WALIDAH
RS PKU MUHAMMADIYAH MAYONG

Disusun Oleh :
Nama : Aris Seftiawan Nugroho
NIM : 1020183102
Program Studi : S1 Ilmu Keperawatan
Fakultas : Kesehatan

UNIVERSITAS MUHAMMDIYAH KUDUS

TAHUN AJARAN 2018/2019


A. PENGERTIAN
Asma bronchial merupakan penyakit pernapasan akut,yang disebabkan oleh allergen, oleh
perubahan mencolok pada suhu lingkungan atau oleh ketegangan emosi. Pada banyak kasus,
penyebab actual mungkin diketahui. Suatu riwayat alergi dalam keluarga dimiliki oleh sekitar
50 % individu dengan asma. Sebagai respons reaktivitas terhadap stimulus, jalan napas
menyempit, sehingga mempersulit pernafasan. Manifestasi klinisnya adalah mengi pada
ekspirasi, batuk, sputum yang kental dan dispneu.
Penyakit asma pada kehamilan kadang-kadang berat atau malah berkurang. Dalam batas
wajar penyakit asma yang berat dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan janin
dalam rahim melalui gangguan pertukaran gas oksigen dan carbondioksida. Pengawasan
hamil dan pertolongan persalinan dapat dilakukan dengan operasi.
Asma bronkial merupakan salah satu penyakit saluran pernapasan yang sering dijumpai
pada kehamilan, mempengaruhi 1-4% wanita hamil. Pengaruh keamilan terhadap timbulnya
asma tidak selalu sama pada setiap penderita, bahkan pada seorang penderita asma
serangannya tidak selalu sama pada kehamilan pertama dan berikutnya. Kurag dari 1/3
penderita asma kurang membaik dalam kehamilan lebih dari 1/3 akan menetap, kurang 1/3
lagi akan bertambah buruk pada serangan bertambah berat. Biasanya serangan akan timbul
pada usia 24-26 minggu dan pada akhir kehamilan jarang terjadi.
Asma Bronchial adalah suatu gangguan pada saluran bronchial dengan ciri bronkospasme
periodik (kontraksi spasme pada saluran nafas). Asma merupakan penyakit kompleks yang
diakibatkan oleh faktor biokimia, endokrin, infeksi, otonomik dan psikologi. (Irman
Somantri, 2008 : 43)

B. Etiologi
Sampai saat ini patogenesis maupun etiologi asma belum diketahui dengan pasti.
Berbagai teori tentang patogenesis telah diajukan, tetapi yang paling disepakati oleh para
ahli adalah yang berdasarkan gangguan saraf autonom dan sistem imun.
Asma saat ini dipandang sebagai penyakit inflamasi saluran napas. Adanya inflamasi
hiperaktivitas saluran napas dijumpai pada asma baik pada asma alergi maupun non-alergi. Oleh
karena itu dikenal dua jalur untuk mencapai keadaan tersebut. Jalur imunologi utama
didominasi oleh IgE dan jalur saraf otonom. Pada jalur IgE , masuknya allergen kedalam tubuh
akan diolah oleh APC (Antigen Presenting Cells), untuk selanjutnya hasil olahan alergen akan
dikomunikasikan kepada sel T helper (T penolong). Sel ini akan memberikan instruksi
melalui interleukin atau sitokin agar sel-sel plasma membentuk serta sel- sel radang lain
seperti mastosit, makrofag, sel epitel, eosinifil, neotrofil, trombosit, serta limfosit untuk
mengeluarkan mediator-mediator inflamasi seperti histamin prostaglandin (PG), leukotrin
(LT), platelet activating factor (PAF), bradikinin, tromboksin (TX) dan lain-lain akan
mempengaruhi organ sasaran menyebabkan peningkatan permeabilitas dinding vaskuler,
edema saluran napas, infiltrasi sel-sel radang, sekresi mukus, dan fibrosis sub epitel
sehingga menimbulkan hiperreaktivitas saluran napas (HSN). Jalur non- alergi selain
merangsang sel inflamasi, juga merangsang sistem saraf otonom dengan hasil akhir
berupa inflamasi dan hiperreaktivitas saluran napas. Hiperreaktivitas saluran napas diduga
sebagian didapat sejak lahir. Berbagai keadaan dapat meningkatkan hiperreaktivitas
saluran napas yaitu : inflamasi saluran napas, kerusakan epitel, mekanisme neurologis,
gangguan intrinsik, dan obstruksi saluran napas.
Penyebab asma pada kehamilan antara lain :
1. Zat-zat alergi contohnya tepung, debu, bulu, dll.
2. Infeksi saluran pernapasan.
3. Pengaruh udara misalnya terlalu dingin, terlalu panas.
4. Factor psikis misalnya kelelahan, stress.

C. Tanda-tanda dan gejala Kehamilan


1) Presumtif / Tanda-tanda dugaan hamil
a. Amenore ( terlambat datang bulan)
 Konsepsi dan nidasi menyebabkan tidak terjadi pembentukan folikel
degraaf dan ovulasi.
 Mengetahiu tanggal haid terakhir dengan perhitungan rumus naegle
dapat ditentukan perkiraan persalinan
b. Mual (nausea) dan muntah
 Pengaruh estrogen dan progesteron terjadi pengeluaran asam lambung
yang berlebihan.
 Menimbulkan mual muntah terutama pagi hari yang disebutkan morning
sickness.
 Dalam batas yang fisiologis keadaan ini dapat diatasi.
 Akibat mual dan muntah nafsu makan berkurang
c. Ngidam
 Wanita hamil sering menginginkan makanan tertentu, keinginan yang
demikian disebut ngidam.
d. Sinkope atau pingsan
 Terjadinya gangguan sirkulasi ke daerah kepala (sentral) menyebabkan
iskemia susunan syaraf pusat dan menimbulkan sinkope atau pingsan.
 Keadaan ini menghilang setelah umur kehamilan 16 minggu.
e. Payudara tegang
 Pengaruh estrogen-progesteron dan somatomamotropin menimbulkan
deposit lemak air, dan garam pada payudara.
 Payudara membesar dan tegang
 Ujung syaraf tertekan menyebabkan rasa sakit terutama pada hamil
pertama.
f. Sering miksi
 Desakan rahim ke depan menyebabkan kandung kemih cepat terasa
penuh dan sering miksi.
 Pada triwulan kedua sudah menghilang
g. Konstipasi atau obstipasi
 Pengaruh progesteron dapat menghambat peristaltik usus
menyebabkan kesulitan untuk buang air besar.
h. Pingmentasi kulit
 Sekitar pipi : cloasma gravidarum
 Keluarnya melanophore stimulating hormone hipofisis anterior
menyebabkan pigmentasi kulit pada muka.
 Dinding perut
 Strie lividae
 Strie nigra
 Linea alba makin hitam
i. Perubahan sekitar payudara
 Hiperpigmentasi areola mamae
 Puting susu makin menonjol
 Kelenjar montgomery menonjol
 Pembuluh darah menifes sekitar payudara
j. Epulis
 Hipertropi gusi disebut epulis bisa terjadi bila hamil
k. Varices atau penampakan pembuluh darah vena
 Karena pengaruh dari estrogen dan progesteron terjadi penampakan pembuluh
darah vena.
 Penampakan pembuluh darah itu terjadi di sekitar genetalia eksterna, kaki dan
betis, dan payudara.
 Penampakan pembuluh darah ini dapat menghilang setelah persalinan.

D. Patofisiologi

Pemeriksaan yang dilakukan oleh tim ahli asma kalifornia tahun 1983 pada 120 kasus asma pada ibu hamil
yang terkontrol baik, tedapat 90% dari penderita yag tidak pernah mendapat serangan dalam persalinan, 2,2%
menderita seragan ringan dan hanya 0,2% yang menderita asma berat yang dapat diatasi dengan obat-obatan
intravena. Pengaruh asma pada ibu hamil dan janin sangat tergantung dari sering dan beratnya serangan,
karena ibu dan janin akan kekurangan oksigen dan hipoksia. Keadaan hipoksia bila tidak segera diatasi tentu
akan berpengaruh pada janin yang sering terjadi keguguran, persalinan premature dan berat janin tidak sesuai
dengan usia kehamilan atau gangguan perumbuhan janin.

Obstruksi saluran napas pada asma merupakan kombinasi spasme otot bronkus, penyumbatan mukus, edema
dan inflamasi dinding bronkus. Obstruksi bertambah berat selama ekspirasi karena secara fisioiogis saluran
napas menyempit pada fase tersebut. Hal ini menyebabkan udara distal tempat terjadinya obstruksi terjebak
tidak bisa diekspirasi. Selanjutnya terjadi peningkatan volume residu, kapasitas residu fungsional (KRF), dan
pasien akan bernapas pada volume yang tinggi mendekati kapasitas paru total (KPT). Keadaan hiperinflasi ini
bertujuan agar saluran napas tetap terbuka dan pertukaran gas berjalan lancar. Untuk mempertahankan
hiperinflasi ini diperlukan otot bantu napas.

Gangguan yang berupa obstruksi saluran napas dapat dinilai secara obyektif dengan VEP1 (Volume Ekspirasi
Paksa detik pertama) atau APE (Arus Puncak Ekspirasi), sedang penurunan KVP (Kapasitas Vital Paksa)
menggambarkan derajat hiperinflasi paru. Penyempitan saluran napas dapat terjadi, baik pada saluran napas
besar, sedang maupun kecil.
Gejala mengi (wheezing) menandakan adanya penyempitan disaluran napas besar, sedangkan
penyempitan pada saluran napas kecil gejala batuk dan sesak lebih dominan dibanding mengi.

Perubahan fungsi paru pada kehamilan meliputi 20% karena peningkatan kebutuhan oksigen dan
metabolisme ibu, 40% peningkatan ventilasi semenit dan peningkatan tidal volume. Terdapat
sejumlah perubahan fisiologik dan struktural terhadap fungsi paru selama kehamilan. Hiperemia,
hipersekresi dan edema mukosa dan saluran pernapasan merupakan akibat dari meningkatnya kadar
estrogen. Pada uterus gravid terjadi peningkatan ukuran lingkar perut, diafragma meninggi, dan
semakin dalamnya sudut antar kosta. Wanita hamil mengalami peningkatan tidal volume, volume
residu, serta kapasitas residu fungsional, penurunan volume balik ekspirasi, sementara kapasitas vital
tidak berubah. Hiperventilasi alveolar terjadi bila PCO2 menurun dari 34-40 mmHg menjadi 27-34
mmHg, yang biasanya terlihat pada umur kehamilan 12 minggu. Seperti yang diperkirakan, frekuensi
terjadinya serangan eksaserbasi asma puncaknya pada umur kehamilan sekitar enam bulan, gejala
yang berat biasanya terjadi antara umur kehamilan 24 minggu - 36 minggu.

Jelasnya patofisiologi asma adalah sebagai berikut:

1. Kontraksi otot pada saluran napas meningkatkan resistensi jalan napas

2. Peningkatan sekresi mukosa dan obstruksi saluran napas

3. Hiperinflasi paru dengan peningkatan volume residu

4. Hiperaktivitas bronkial, yang diakibatkan oleh histamin, prostaglandin dan leukotrin.

Degranulasi sel mast menyebabkan terjadinya asma dengan cara pelepasan mediator kimia, yang
memicu peningkatan resistensi jalan napas dan spasme bronkus. Pada kasus kehamilan alkalosis
respiratori tidak bisa dipertahankan diawal berkurangnya ventilasi, dan terjadilah asidosis. Akibat
perubahan nilai gas darah arteri pada kehamilan (penurunan PCO2 dan peningkatan pH). Pasien
dengan perubahan nilai gas darah arteri secara signifikan merupakan faktor risiko terjadinya
hipoksemia maternal, hipoksia janin yang berkelanjutan. dan gagal napas.

E. Pathoflow

Kehamilan
(konsepsi dan nidasi)
Pereubahan hormon
(peningkatan hormon estrogen progesteron)

Pembesaran uterus

Diagfragma tertekan

Pengembangan diagfragman tidak optimal

Ekspansi paru menurun

Pola nafas tidak efektif

F. Pemeriksaan Penunjang.
a. Pemeriksaan laboratorium
Wanita hamil diperiksa urinnya untuk mengetahui kadar protein glukosanya,
diperiksa darah untuk mengetahui faktor rhesus, golongan darah, Hb dan penyakit
rubella
Tes Lab Nilai Normal Nilai Tidak Diagnosis
Normal Masalah Terkait
Hemoglobin 10,5-14,0 <10,5 Anemia

Protein Urin Terlacak/negatif Protein urine


Bening/negatif
Glukosa dalam Warna hijau Kuning, Diabetes
urin orange, coklat
VDRL/RPR Negatif Positif Syphilis
Faktor rhesus Rh + Rh- Rh sensitization
Golongan Darah A B O AB - Ketidakcocokan
ABO
HIV - + AIDS
Rubella Negatif Positif Anomali pada
janin jika ibu
terinfeksi
Feses untuk Negatif Positif Anemia akibat
ova/telur cacing cacing
dan parasit

b. Pemeriksaan Rontgen
Dilakukan pada kehamilan yang sudah agak lanjut karena sebelum buan ke IV
rangka janin belum tampak. Pemeriksaan rontgen dilakukan pada kondisi –
kondisi
 Diperlukan tanda pasti hamil
 Letak anak tidak dapat ditentukan dengan jelas dengan palpasi
 Mencari sebab dari hidraamnion
 Untuk menentukan kelainan anak
c. Pemeriksaan USG
Kegunaannya:
 Diagnosis dan konfirmasi awal kehamilan
 Penentuan umur gestasi dan penafsiran ukuran fetal
 Mengetahui posisi plasenta
 Mengetahui adanya IUFD
 Mengetahui pergerakan janin dan detak jantung janin. (Marjati dkk, 2010;95-97)

G. Penatalaksanaan Medis

Panatalaksanaan pada penderita asma antara lain :


1. Mencegah adanya strees.
2. Menghindari factor pencetus yang sudah diketahui secara intensif.
3. Mencegah penggunaan aspirin karena dapat menimbulkan serangan.
4. Pada serangan ringan dapat digunakan obat inhalan.
5. Pada keadaan yang lebih berat penderita harus dirawat dan serangan dapat dihilangkan
seperti efinefrin/sc, oksigen, isoproerenol/Inhalasi, aminoplin/infuse,
glukosa,Hidrokortison/ infuse dektrose 10%.
Terapi asma bronchial memiliki dua tujuan : 1. Meredakan serangan yang akut dan 2.
Mencegah atau membatasi serangan yang dating. Pada semua individu yang menderita
asma, allergen yang diketahui harus dieliminasi dan suhu harus dipertahankan nyaman
didalam rumah. Infeksi pernafasan harus diobati dan inhalasi uap atau kabut diterapkan
untuk mengencerkan.lendir. terapi asma bronchial diberikan. Episode akut
membutuhkan steroid, aminofilin, oksigen, dan koreksi ketidakseimbangan cairan-
elektrolit. Tindakan pencegahan khusus untuk obstetric meliputi hal-hal berikut :
 Jangan gunakan morfin dalam persalinan karena obat ini dapat menyebabkan
 bronkospasme. Meperidin (Demerol) biasanya akan meredakan bronkospasme.
 Hindari atau batasi penggunaan efedrin dan kortikosteroid (obat-obatan penekan)
 pada klien dengan preeklamsi dan eklamsia.
 Pilih kelahiran per vaginam serta penggunaan anestesi local atau anestesi regional
setiap kali ada kesempatan

H. Pengkajian
1) Identitas
 Nama suami dan istri
Agar dalam melakukan komunikasi dengan pasien keluarga dapat terjalin
komunikasi dengan baik.
 Usia
Penyulit dalam kehamilan remaja lebih tinggi dibanding umur 20 sampai 30
tahun.
 Alamat
Ditanyakan untuk maksud mempermudah hubungan / informasi bila
diperlukan. Bila keadaan mendesak, dengan diketahuinya alamat tersebut bidan
dapat mengetahui tempat tinggal pasien/klien dan lingkungannya.
 Pekerjaan
Ditanyakan untuk mengetahui kemungkinan pengaruh pekerjaan terhadap
permasalahan kesehatan pasien.
 Agama
Ditanyakan untuk mengetahui kemungkinan pengaruhnya terhadap kebiasaan
kesehatan pasien/klien.
 Pendidikan
Ditanyakan untuk mengetahui tingkat intelektualnya tingkat pendidikan
mempengaruhi sikap perilaku kesehatan seseorang.
 Status perkawinan
Ditanyakan kepada ibu atau calon ibu, untuk mengetahui kemungkinan
pengaruh status perkawinan terhadap masalah kesehatan, bila diperlukan
ditanyakan tentang keberapa kalinya.
 Lama Perkawinan
Kalau orang hamil suda lama kawin, nilai anak tentu besar sekali dan ini harus
diperhitungkan dalam pimpinan (anak mahal)
2) Riwayat Kesehatan
1. Keluhan utama
 Ditanyakan untuk mengetahui perihal yang mendorong pasien/klien datang
mencari pertolongan.

 Riwayat keluhan utama


 P : Provokasi / palatif (penyebab)
 Q : Quality / bagaimana gejala dirasakan
 R : Region / dimana gejala dirasakan
 S : Skala keadaan / seberapa parah yang dialami pasien
 T : Time / sejak kapan keluhan terjadi dan sampai kapan

2. Riwayat kesehatan sekarang


Yang perlu dikaji : sejak kapan ibu merasakan pergerakan anak, umur
kehamilan, ANC berapa kali, dimana imunisasi TT didapatkan, teraphie yang
didapatkan, penyuluhan yang didapatkan, bila mulai didapatkan gerakan
anak,kalau kehamilan masih muda adalah mual, muntah, sakit kepala,
perdarahan.kalau kehamilan tua adalah bengkak di kaki/muka, sakit kepala,
perdarahan, sakit pinggang dan lain-lain.
3. Riwayat kesehatan dahulu
a) Riwayat kesehatan klien
Menarche pada usia berapa, haid teratur atau tidak, siklus haid berapa
hari, lama haid, warna darah haid, HPHT kapan, terdapat sakit waktu haid
atau tidak.
b) Riwayat kehamilan, persalinan dan nipas yang lalu
Hamil dan persalinan berapa kali, anak hidup atau mati, usia, sehat atau
tidak, penolong siapa, nifas normal atau tidak.
c) Riwayat pemakaian alat kontrasepsi
Perlu dicatat bagi ibu yang mengikuti atau pernah mengikuti KB. Hal
ini penting diketahui apakah kehamilan sekarang direncanakan atau tidak.
4. Riwayat kesehatan keluarga
Penyakit keturunan dalam keluarga, anak kembar atau penyakit menular
yang dapat mempengaruhi persalinan.
c. Pemeriksaan fisik dan pengkajian fungsional

a) Inspeksi
1) Muka : adakah cloasma gravidarum,keadaan selaput mata pucat atau
merah adakah oedema pada muka,bagaimana keadaan lidah, gigi.
2) Leher : apakah vena terbendung dileher, apakah ada pembesaran kelenjar
gondok dan limpe.
3) Dada : bentuk buah dada, pigmentasi puting susu dan gelanggang susu,
keadaan puting susu, adakah kolostrum
4) Abdomen GIT : bentuk abdomen,warna, adakah luka bekas operasi
apendeksitis, terbagi 9 regio hipokondria kanan (pembesaran hepar),
epigastrik (gastritis), hipokondria kiri (pembesaran lien), lumbal kanan dan
kiri (ginjal), umbilikus, iliaka kanan (apendiksitis), hipokondria, iliaka kiri
(scibala).
5) Abdomen obstetrik : perut membesar ke depan atau ke samping, keadaan
pucat, pigmentasi linia alba, nampakkah gerakan anak atau kontraksi
uterus, adakah strie gravidarum atau bekas luka.
6) Vulva : keadaan perineum, carilah varises, tanda chadwick, condyloma
akuminata, flour albus..
7) Anggota bawah : cari varises, oedema, luka, cicatrix pada lipat paha, CRT
kembali ≤ 1 detik untuk mengetahui kemungkinan dehidrasi.
b) Palpasi
1) Tujuan :
 Menentukan besarnya rahim dan dengan ini menentukan usia
kehamilan.
 Menentukan letaknya anak dalam rahim
2) Menentukan usia kehamilan menurut Mc.Donald
 Umur kehamilan dalam bulan di ukur dari panjang antara simfisis pubis
dan puncak fundus uteri dalam sentimeter dibagi 3 ½ cm.
3) Menentukan usia kehamilan menurut perhitungan TFU secara
internasional
1) Kurang dari 12 minggu – belum dapat diraba di atas simpisis.
2) 12 minggu – 1-2 jari di atas sisfisis.
3) 16 minggu – pertengahan antara sisfisis dan pusat
4) 24 minggu – setinggi pusat
5) 28 minggu – 3 jari diatas pusat
6) 32 minggu – pertengahan antara pusat dan px
7) 36 minggu – 3 jari dibawah px
8) 40 minggu – pertengahan px dan pusat (3 jari diatas pusat)
4) Menurut leopold
1) Leopold I
 Kaki penderita di bengkokan pada lutut dan lipatan paha
 Pemeriksa berdiri sebelah kakan penderita dan melihat ke arah
muka penderita.
 Rahim dibawa ke tengah
 Tingginya fundus uteri ditentukan dan bagian apa dari anak yang
terdapat dalam fundus
 Tujuan : untuk mengetahui usia kehamilan dan TFU dan bagian apa
yang di fundus.
2) Leopold II
 Keadaan tangan pindah ke samping
 Tentukan dimama punggung anak , punggung anak terdapat di pihak
yang memberikan rintangan yang terbesar, carilah bagian- bagian
kecil, yang biasanya terletak bertentangan dengan pihak yang
memberi rintangan terbesar.
 Kadang-kadang di samping terdapat kepala/bokong ialah letak
lintang.
 Tujuan : untuk menentukan dimana letaknya punggung anak dan
dimana letaknya bagian-bagian kecil.
3) Leopold III
 Dipergunakan satu tangan saja.
 Bagian bawah di tentukan antara ibu jari dan jari lainya
 Cobalah apakah bagian bawah masih dapat digoyangkan.
 Tujuanya : menentukan apa yang terdapat di bagian bawah dan
apakah bagian bawah anak ini sudah/belum terpegang oleh pintu atas
panggul.
4) Leopold IV
 Pemeriksa berubah sikapnya ialah melihat ke arah kaki si penderita
 Dengan kedua tangan di tentukan apa yang menjadi bagian bawah
 Ditentukan apakah bagian bawah sudah masuk ke dalam pintu atas
panggul dan berapa masuknya bagian bawah.
 Jika kita rapatkan ke dua tangan pada permukaan dari bagian
terbawah dari kepala yang masih teraba diluar :
 Convergent → bagian kecil dari kepala turun ke rongga panggul
 Sejajar → separuh dari kepala masuk ke dalam rongga panggul
 Divergent → sebagian besar dari kepala masuk kedalam rongga
panggul
 Tujuan : menentukan apa yang menjadi bagian bawah dan berapa
masuknya bagian bawah kedalam rongga panggul.
c. Auskultasi
 Djj terdengar dimana,frekwensi, irama, dengan cara 5 detik berselang, 30
menit dikalikan 2/dihitung selama 1 menit penuh.
 Kalau bunyi jantung janin kurang dari 120/menit atau lebih dari 160/menit
atau tidak teratur,maka anak dalam keadaan asphyxial (kekurangan O2)
d. Pemeriksaan panggul
 Pengukuran Ukuran-ukuran panggul luar, meliputi :
 Distantia spinarum (N = 23-26 cm)
 Distantia cristarum (N = 26-29 cm)
 Conjungtiva externa/boudelogue ( N = 18-20 cm)
 Lingkar panggul ( N = 80-90 cm)
 Distantia spina illiaca posterior superior ( N = 8-10 cm)
 Distantia tuberum (N = 10,5-11 cm)
 Pengukuran panggul dalam, meliputi :
 Promotorium (N = tidak teraba)
 Linea inominata ( N = teraba 2/3 bagian)
 Sacrum ( N = cekung)
 Spina ischiadica (N = menonjol)
 Arcus pubis ( N = > 900)
e. Pemeriksaan laboratorium
 Urine Albumin
Untuk mengetahui kemungkinan adanya kelainan pada air kemih, missal :
gejala pre-eklampsia, penyakit ginjal, radang kandung kencing.
 Urine Reduksi
Untuk mengetahui kadar glukosa dalam urine, sehingga dapat mendeteksi
penyakit DM pada ibu hamil yang merupakan faktor risiko dalam kehamilan
maupun persalinan.
 Haemoglobin
Untuk mendeteksi adanya anemia, bila Hb kurang dari 10 gr%. (normalnya
: 11 gr%)
f. USG
Untuk mengetahui keadaan janin, letak janin, usia kehamilan dan perkiraan
persalinan.
g. Pola kebiasaan sehari-hari
 Nutrisi
Perlu disampaikan bagaimana pemenuhan nutrisi selama hamil, apakah
sudah selesai kebutuhan ibu hamil.
 Eliminasi
Bagaimana pola BABnya, konstipasi merupakan hal yang umum selama
kehamilan karena aksi hormonal yang mengurangi gerakan peristaltik usus
dan pembesaran uterus yang menahannya. Sering kencing merupakan hal
umum yang terjadi selama bulan pertama dan terakhir masa kehamilan
karena rongga perut dipenuhi oleh pembesaran uterus.
 Istirahat
Waktu istirahat lebih lama ± 10-11 jam untuk wanita hamil.Istirahat
hendaknya diadakan pula waktu siang hari
 Aktivitas
Bagi ibu hamil pekerjaan rumah tangga dapat dilaksanakan, bekerja sesuai
kemampuan dan makin dikurangi semakin tuanya kehamilan.
 Personal hygiene
Kebersihan tubuh merupakan salah satu pokok-pokok yang perlu
diperhatikan dalam hygiene kehamilan meliputi : kebersihan mulut,
pemeliharan gigi, kebersihan tubuh, kulit, muka dan kebersihan pakaian
luar dan dalam.
 SexualPerlu ditanyakan untuk mengetahui masalah yang terjadi selama
kehamilan, berapa kali dalam seminggu melakukannya.
I. Diagnosa

Ketidak efektifan pola nafas berhubungan dengan hiperventilasi

J. Intervensi Keperawatan

Diagnosa Tujuan dan Kriteria hasil Intervensi Rasional


Keperawatan
Ketidakefektifan Tujuan : menunjukkan 1. Posisikan pasien 1. Posisi yang nyaman
bersihan jalan nafas pembersihan jalan nafas senyaman dapat mengurangi
berhubungan dengan yang efektif, yang mungkin. keluhan pasien.
broncospasme, dibuktikan oleh
peningkatan sekresi pencegahan aspirasi status 2. Observasi tanda-
2. untuk mengetahui
pulmoner pernafasan, kepatenan jalan tanda vital pasien.
perubahan tanda-
nafas, dan status
tanda vital pasien.
pernafasan : ventilasi tidak
terganggu. 3. Ajarkan pasien
Kriteria hasil : batuk efektif. 3. Batuk efektif dapat
Pencegahan aspirasi : membantu
tindakan personal untuk mengeluarkan
mencegah masuknya cairan secret.
dan partikel padat kedalam
paru.
4. Kolaborasi 4. Kolaborasi dengan
.
dengan tim medis tim medis dapat
mempercepat
proses
penyembuhan.
DAFTAR PUSTAKA

Bobak, dkk.2004.Buku Ajar Keperawatan Maternitas Edisi : 4.Jakarta : EGC

Noer, Sjaifoellah. 1996. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid Kesatu. Jakarta : Balai

Penerbit FKUI

Purwaningsih, Wahyu dan Siti fatmawati.2010.Asuhan Keperawatan

Maternitas.Yogyakarta : Nuha Media

Wilkinson, Judith M dan Nancy R. Ahern.2011.Buku Saku Diagnosis Keperawatan Edisi 9.

Jakarta : EGC.