Anda di halaman 1dari 5

JAKARTA - Kapal Indonesia Brahma 12 dibajak kelompok teroris asal Filipina pimpinan

Abu Sayyaf di Perairan Filipina. Ada 10 WNI yang ditawan kelompok tersebut dengan
permintaan tebusan Rp15 miliar.

Kepala Divisi Hubungan Internasional Polri Irjen Ketut Untung Yoga mengaku informasi
pembajakan kapal Indonesia itu berasal dari pihak Filipina.

"Dari mereka lah informasi tersebut," kata Untung saat dihubungi di Jakarta, Selasa
(26/3/2016).

Menurut keterangan Yoga, pihak otoritas Filipina tengah berusaha menelusuri keberadaan 10
orang WNI ini. "Sekarang semua sedang berusaha mencari akses untuk mengetahui
keberadaan mereka (10 WNI). Kita juga berkoordinasi dengan pihak Kementrian Luar Negeri
di Kemenlu kan ada Direktur Bidang Perlindungan WNI, ya kita koordinasi untuk
mengetahui. Setelah kita tahu baru diambil langkah-langkah yang akan dilakukan," kata
Untung Yoga.

Sementara itu hingga saat ini pihaknya belum mengetahui keberadaan 10 WNI tersebut.
"Kalau berada di wilayah Filipina, otoritas Filipina. Kita kan bukan negara sendiri. Jadi harus
ada komunikasi dan koordinasi," pungkasnya.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu


mengatakan, kasus pembajakan kapal di Filipina yang untuk pertama kalinya ini sedikit
berbeda dengan yang terjadi di Somalia pada 2011. Ia mengaku sudah berkoordinasi dengan
Menteri Pertahanan Filipina terkait pembajakan tersebut.

Ryamizard mengatakan Indonesia terus memantau setiap yang terjadi pada penyanderaan
tersebut. Purnawirawan jenderal TNI tersebut menegaskan agar pembebasan 10 WNI yang
disandera tidak perlu dengan memenuhi tuntutan perompak dengan tebusan sebesar 50 juta
peso atau Rp 15 miliar apabila memungkinkan pembebasan tanpa membayar.

Berdasarkan informasi dari Kementerian Luar Negeri, pembajakan terhadap kapal tunda
Brahma 12 dan kapal tongkang Anand 12 yang berbendera Indonesia itu terjadi saat dalam
perjalanan dari Sungai Puting Kalimantan Selatan menuju Batangas, Filipina Selatan.

"Tidak diketahui persis kapan kapal dibajak. Pihak pemilik kapal baru mengetahui terjadi
pembajakan pada tanggal 26 Maret 2016, pada saat menerima telepon dari seseorang yang
mengaku dari kelompok Abu Sayyaf," ujar Jubir Kemlu Arrmanatha Nasir.

Saat ini, Kapal Brahma 12 sudah dilepaskan dan sudah di tangan otoritas Filipina. Sementara
kapal Anand 12 dan 10 awak kapal masih berada di tangan pembajak, namun belum
diketahui persis posisinya.

Dalam komunikasi Kemlu melalui telepon kepada perusahaan pemilik kapal, pembajak dan
penyandera menyampaikan tuntutan sejumlah uang tebusan. Diketahui sejak 26 Maret, pihak
pembajak sudah dua kali menghubungi pemilik kapal.
Merdeka.com - Penculikan anak buah kapal asal Indonesia di perairan Filipina kembali
terjadi. Dalam insiden terkini, empat anak buah kapal berstatus WNI disandera kelompok
diduga Abu Sayyaf. Kejadian ini dibenarkan oleh Kementerian Luar Negeri melalui pesan
singkat kepada merdeka.com, Sabtu (16/4) dini hari.

"Benar (ada penyanderaan)," ujar Lalu Muhammad Iqbal, Direktur Perlindungan WNI dan
Badan Hukum Indonesia (PWNI dan BHI).

Dikonfirmasi terpisah, juru bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia Arrmanatha Nasir
mengatakan dua kapal yang dirompak itu berbendera Indonesia membawa 10 ABK asal
Tanah Air.

"Hari Jumat (15/6) pukul 18.31 telah terjadi pembajakan kapal berbendera Indonesia, yaitu
kapal tunda TB Henry dan Kapal Tongkang Cristi di perairan perbatasan Malaysia-Filipina.
Kapal tersebut dalam perjalanan kembali dari Cebu, Filipina menuju Tarakan. Kapal
membawa 10 orang ABK WNI," seru pria akrab disapa Tata ini.

Lebih lanjut Tata menjelaskan, dalam pembajakan kali ini, seorang ABK tertembak.
Sementara itu, lima orang berhasil selamat, sedangkan empat lainnya diculik oleh kelompok
tersebut.

Kepada Badan Administrasi Menteri (BAM) Kemlu itu menuturkan satu ABK yang
tertembak telah diselamatkan oleh Polisi Maritim Malaysia guna mendapatkan perawatan
lebih lanjut. Sementara lima ABK lain yang selamat bersama kedua kapal sudah dibawa
Polisi Maritim Negeri Jiran ke Pelabuhan Lahat Datu, Malaysia.

"Informasi terakhir yang diperoleh, meski mengalami luka tembak, namun yang
bersangkutan dalam kondisi stabil. Sementara itu, lima ABK lain yang selamat bersama
kedua kapal dibawa oleh Polisi Maritim Malaysia ke Pelabuhan Lahat Datu, Malaysia,"
pungkasnya.

Insiden penculikan ABK di wilayah perairan perbatasan Malaysia dengan Filipina makin
marak terjadi. Pada akhir Maret lalu, sebanyak 10 ABK WNI juga ditawan pihak yang
mengaku berasal dari kelompok garis keras Abu Sayyaf. Artinya sekarang ada 14 WNI yang
ditawan oleh militan berafiliasi dengan ISIS itu.

Hingga saat ini, keberadaan para sandera masih belum diketahui. Upaya pembebasan 10 WNI
yang sudah disandera lebih dulu masih berjalan, prosesnya diserahkan pemerintah RI kepada
otoritas keamanan Filipina.

Kelompok Abu Sayyaf Eksekusi WN


Kanada, Bagaimana Nasib 14 WNI yang
Disandera?
Jakarta - Kelompok Abu Sayyaf baru saja mengeksekusi seorang tawanan Warga Negara
Kanada setelah masa tenggang pembayaran tebusan habis. Kelompok ekstrimis itu rupanya
tidak main-main dengan ancaman yang disampaikan.

Seperti diketahui, saat ini ada 14 WNI yang menjadi sandera Abu Sayyaf. 10 di antaranya
sudah sekitar sebulan ditawan.

Posisi terakhir, pemerintah Indonesia masih terus melakukan negosiasi dengan kelompok
yang dikenal sadis itu. Menko Polhukam Luhut Binsar Pandjaitan memastikan pihak
perusahaan yang memperkerjakan para WNI yang ditawan kelompok Abu Sayyaf itu akan
membayar tebusan sebesar 50 juta peso atau setara Rp 15 miliar.

"Kita masih omong (masih negosiasi)," kata Luhut, Senin (25/4).

Sebenarnya, untuk 10 sandera yang diculik lebih dulu, kelompok Abu Sayyaf memberikan
tenggat waktu sampai 8 April 2016. Namun, setelah masa tenggat lewat, belum ada kejelasan
dari pihak perusahaan soal kapan akan membayar tebusan.

Pemerintah pun makin dipusingkan dengan tambahan 4 WNI yang diculik kelompok
ekstrimis di Filipina itu. Belum ada informasi pasti terkait keempat orang ABK Kapal Tunda
TB Henry dan Kapal Tongkang Cristi. Informasi menyebut mereka disandera di Tawi-Tawi.

Indonesia dalam posisi sulit, tawaran bantuan militer yang ditawarkan ke Filipina ditolak.
Padahal, TNI sudah menyiapkan pasukan terbaiknya di Tarakan, Kalimantan Utara untuk
pembebasan sandera. Tetapi, pengerahan pasukan itu hingga kini masih terkendala izin dari
pemerintah Filipina.

Filipina sebenarnya tidak diam, mereka sempat mengerahkan kekuatan militer untuk
membebaskan sandera. Tetapi yang terjadi justru pasukan militer mereka kalah telak dari
kelompok Abu Sayyaf. Alih-alih menyelematkan sandera, 18 tentara Filipina malah tewas
dalam operasi militer itu.

Setelah tanggal 8 April, belum ada lagi kabar sampai kapan kelompok Abu Sayyaf memberi
waktu. Namun di beberapa kasus, para ekstrimis itu menyekap korbannya hingga berbulan-
bulan. Mereka terus menunggu uang tebusan.

Sementara itu, banyak pihak yang menentang pembayaran tebusan untuk Abu Sayyaf.
Pemerintah pun terus mengusahakan upaya negosiasi, terutama melobi Filipina agar TNI bisa
diterjunkan.

"Dari waktu ke waktu saya terus memantau. Terus komunikasi khususnya konstan terus saya
lakukan dengan Menlu Filipina," ujar Menlu Retno Marsudi.

Seperti diketahui, kelompok militan yang berbasis di selatan Filipina itu baru saja
mengeksekusi satu sanderanya. John Ridsdel, sandera asal Kanada dieksekusi lima jam
setelah tenggat waktu pembayaran tebusan habis.
Upaya pembebasan 10 WNI yang ditawan sebuah kelompok di Filipina belum menemui titik
terang. Apalagi Kementerian Luar Negeri RI menyatakan tenggat pembayaran uang tebusan
yang disebut berakhir pada 8 April 2016 “tidak pernah ada” dalam negosiasi.

Kepada BBC Indonesia, Lalu Muhamad Iqbal selaku Direktur Perlindungan WNI dari
Kementerian Luar Negeri mengaku baru mendengar bahwa tenggat pembayaran uang tebusan
untuk membebaskan ke-10 WNI yang ditawan di Filipina jatuh pada Jumat, 8 April 2016.

‘Kalau soal tanggal 8 sejauh ini tidak pernah ada dalam komunikasi’, sebut Iqbal saat
dihubungi wartawan BBC Indonesia, Jerome Wirawan.

Ketika ditanya mengenai kepastian pembayaran tebusan pada 8 April, Iqbal menjawab:
‘Yang jelas itu bukan timeframe yang kita tahu’.

 Pemerintah Indonesia siapkan uang tebusan demi bebaskan 10 WNI di Filipina


 DPR tolak bayar uang tebusan untuk WNI di Filipina
 Filipina tak anjurkan RI bayar tebusan guna bebaskan sandera

Tenggat

Informasi tenggat pembayaran uang tebusan sebanyak 50 juta peso atau sekitar Rp15 miliar
dikabarkan surat kabar Filipina, the Inquirer.

Image copyright Ocky Anugrah Mahesa Image caption Aidil, 55, ayah dari Wendi Rakhadian,
salah satu awak kapal Anand 12.

Harian itu merujuk sebuah video yang diunggah ke Facebook oleh akun terkait kelompok
milisi. Dalam video tersebut, beberapa milisi bersenjata yang mengklaim diri sebagai
kelompok Abu Sayyaf mengatakan bakal membunuh para tawanan apabila uang tebusan
tidak dibayar hingga 8 April 2016.

Soal tenggat waktu juga pernah disebutkan keluarga salah satu tawanan kepada Kompas.com.
Menurut Sam Barahama, kakak nahkoda Peter Tonsen Barahama, para penyandera meminta
tebusan 50 juta peso dan memberi batas waktu hingga 26 Maret 2015.

Polisi dan militer Filipina mengaku belum bisa memberi informasi terperinci soal 10 warga
Indonesia yang diculik di perairan Tambulian, lepas pantai Pulau Tapul, Kepulauan Sulu,
Filipina.

Namun, militer Filipina tak menganjurkan pembayaran uang tebusan.

"Kami menganut kebijakan tidak membayar uang tebusan," kata Filemon Tan Jr, juru bicara
Komando Mindanao Barat dari militer Filipina.
Tidak menyerah

Sejauh ini, menurut Menlu RI Retno Marsudi, 10 WNI yang diduga diculik oleh kelompok
Abu Sayyaf 'masih dalam keadaan baik'.

"Kemarin (Selasa), saya kembali berkoordinasi dengan otoritas Filipina, dan berdasarkan
informasi yang saya peroleh, semua pergerakan is well monitored. Dan berdasarkan
koordinasi di lapangan, dari Manila, Jakarta, kita juga mendapatkan informasi bahwa 10
ABK WNI masih dalam keadaan baik," ungkapnya.

Menlu mengaku situasinya tidak mudah tetapi menegaskan pemerintah Indonesia tidak akan
menyerah.