Anda di halaman 1dari 109

PEMBAHARUAN SISTEM PENDIDIKAN

PESANTREN MENURUT
KH. ABDUL WAHID HASYIM

SKRIPSI
Diajukan untuk Memperoleh Gelar
Sarjana Pendidikan Islam

Oleh :
NURHUDA
NIM : 11107078

JURUSAN TARBIYAH
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
SALATIGA
2011
ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Setelah dikoreksi dan di perbaiki, maka skripsi Saudara:

Nama : Nurhuda

Program Studi : Pendidikan Agama Islam (PAI)

Judul Skripsi : PEMBAHARUAN SISTEM PENDIDIKAN PESANTREN

MENURUT KH. ABDUL WAHID HASYIM

Telah kami setujui untuk di munaqosahkan.

Salatiga, 10 Agustus 2011

Pembimbing

NIP : 197009221994031002
iii
iv

DEKLARASI

Ϣѧ
ѧ
ѧ
ѧѧ
ѧ
δΑ‫ اﷲ‬ϦϤΣήѧ
ѧ
ѧ
ϟ΍Ϣϴ
Σήѧ
ѧ
ѧ
ѧѧ
ѧ
ϟ΍
Dengan penuh kejujuran dan tanggung jawab, peneliti menyatakan
bahwa skripsi ini tidak berisi materi yang pernah ditulis oleh orang lain
atau jiplak. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi
ini dikutip atau dirujuk berdasarkan kote etik ilmiah.
Apabila di kemudian hari ternyata terdapat materi atau pikiran-
pikiran orang lain di luar referensi yang peneliti cantumkan, maka peneliti
sanggup mempertanggung jawabkan kembali keaslian skripsi ini di
hadapan sidang munaqosah skripsi.
Demikian deklarasi ini dibuat oleh penulis untuk dapat dimaklumi.

Salatiga, 10 Agustus 2011


Penulis,

NURHUDA
NIM : 11107078
v

MOTTO

1. ‫ـﺎ‬
‫ﺍﻻﺻـﻠﺢ ﺑﺎﳉﻴــﺪ ﻭﺍﻻﺧﺪ ﺍﻟﺼــﺎﱀ ﺍﻟﻘــﺪﱘ ﻋ ﻠ ﻲ ﻓ ﻈ ﺔ ﺍﶈـ‬

“mempertahankan tradisi yang lama yang masih relavan dan mengambil


hal terbaru yang lebih baik”
2. Mencegah kerusakan harus didahulukan daripada berniat kebaikan

PERSEMBAHAN

Karya tulis ilmiah yang berbentuk skripisi ini penulis persembahkan kepada:

1. Ayah dan ibu tercinta, yang telah memberikan motivasi, mendoakan, dan

mengorbankan jiwa, raga maupun material dalam jenjang pendidikan yang

telah saya lalui.

2. Keluarga besar bani Nawawi yang selalu mendukung untuk menjelajahi

pendidikan.

3. M. Gufron sekeluarga selaku orang tuaku yang kedua

4. Sahabat-sahabatiku PMII Kota Salatiga yang tak pernah bosan untuk di

ajak berdiskusi.

5. Dan tak lupa kepada calon istriku tercinta yang selalu memberi motivasi

dan mendampingi dalam segala hal.


vi

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT Yang Maha Pengasih dan Penyayang.

Segala puji bagi Allah semesta alam, atas limpahan rahmat, taufiq dan hidayahnya

sehingga penulis dapat menyelersaikan skripsi ini. Sholawat serta salam semoga

tetap tercurahkan pada junjungan kita nabi Muhammad Saw, sanak kerabat dan

para sahabat yang telah menunjukkan jalan yang benar dengan perantara Islam.

Penulisan skripsi ini dimaksudkan guna memenuhi kewajiban sebagi syarat untuk

memperoleh gelar sarjana dalam ilmu tarbiyah.

Penulis perlu sampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang

telah membantu terselesaikannya penulisan skripsi ini, serta perhargaan setinggi-

tingginya penulis sampaikan kepada:

1. Bapak Dr. Imam Sutomo, M.Ag selaku ketua Sekolah Tinggi Agama Islam

(STAIN) Salatiga

2. Bapak Drs. Miftahuddin, M.Ag selaku dosen pembimbing yang dengan

penuh kesabaran telah meluangkan waktunya untuk memberikan

pengarahan dan bimbingan dalam penulisan skripsi ini.

3. Bapak Suwardi, M.Pd, selaku Ketua Jurusan Tarbiyah STAIN Salatiga.

4. Ibu Siti Asdiqoh, M.Si selaku Ketua Program Studi Pendidikan Agama

Islam (PAI) STAIN Salatiga

5. Ayah dan ibu tercinta, yang telah memberikan motivasi, mendoakan, dan

mengorbankan jiwa, raga maupun material dalam jenjang pendidikan yang

telah saya lalui.

6. Keluarga besar bani Nawawi yang selalu mendukung untuk menjelajahi

pendidikan.
vii

7. M. Gufron sekeluarga selaku orang tuaku yang kedua

8. Sahabat-sahabatiku PMII Kota Salatiga yang tak pernah bosan untuk di ajak

berdiskusi.

9. Ana Rahmatul Lailia yang selalu memberi motivasi dan mendampingi

dalam segala hal

10. Sahabat-sahabati PAI C, kenangan-kenangan bersamamu tidak mungkin

saya lupakan.

11. Siapapun yang pernah memberikan sedikit ilmunya kepadaku, semoga

Allah membalasnya dengan menempatkan kalian ditempat yang layak dan

dibalas dengan segala kebaikannya.

Dalam penulisan skripsi ini apabila banyak kekeliruan, kekurangan dan

kesalahan, itu semua keterbatasan kemampuan penulis, untuk itu pula kritik dan

saran yang konstruktif akan penulis terima dengan baik hati.

Akhirnya penulis berharap dan berdoa semoga skripsi ini memberikan manfaat

umumnya bagi pengembangan pendidikan, khususnya bagi pendidikan pesantren

Salatiga, 10 Agustus 2011

Peniliti

Nurhuda
NIM: 111 070 78
viii

ABSTRAK
Nurhuda, 2011. Pembaharuan Sistem Pendidikan Pesantren Menurut KH.Abdul
Wahid Hasyim. Skripsi. Jurusan Tarbiyah. Program Studi Pendidikan
Agama Islam. Sekolah Tinggi Islam Negeri Salatiga. Pembimbing Drs.
Miftahuddin, M.Ag
Kata Kunci : Pembaharuan, Pendidikan, dan Pesantren

Skripsi ini merupakan upaya untuk mengetahui: Pertama, Bagaimana


biografi K.H. Abdul. Wahid Hasyim? Kedua, Bagaimana pembaharuan sistem
pendidikan pesantren menurut KH. Abdul Wahid Hasyim?Ketiga, Bagaimana
relevansi pembaharuan sistem pendidikan pesantren menurut KH. Abdul Wahid
Hasyim terhadap pendidikan pesantren di Indonesia masa sekarang?

Untuk menjawab rumusan tersebut maka penelitian ini menggunakan


beberapa pendekatan kualitatif. Data penelitian ini keseluruhannya diperoleh dan
dihimpun melelui pembacaan dan kajian kepustakaan teks dan kemudian
dianalisis dengan menggunakan metode deskriptif kemudian kesimpulannya
diambil melalui teknik analisis, dengan pola pikir deduktif, hermeneutik, dan
fenomenologi.

Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa KH. Abdul Wahid Hasyim


merupakan pemikir progresif dan dinamis. Sebagai agamawan, ia konsisten dalam
pemikiran keislaman. Sebagai negarawan, ia mengutamakan persatuan dan
kesatuan bangsa. Dalam khazanah keilmuan pendidikan, ia tergolong pemikir
pembaharuan dalam dunia pesantren. Tetapi dalam sejarah pendidikan Islam
Indonesia belum banyak peneliti yang menyatakan bahwa KH Wahid Hasyim
pembaharu pendidikan Islam Indonesia. Hingga kini, pemikiran beliau selama
puluhan tahun lalu tetap relevan diimplementasikan dalam konteks pendidikan
masa sekarang. Dalam penelitian ini pembacaan pembaharuan pendidikan KH.
Abdul Wahid Hasyim diletakkan dalam konteks zamannya. KH. Abdul Wahid
Hasyim melakukan pembaharuan pendidikan khususnya dilingkungan pesantren.
Ada tiga hal pokok yang beliau lakukan yaitu : Pertama, pembaharuan metode
pembelajaran, Kedua mendirikan institusi Madrasah, Ketiga, menerapkan sistem
klasikal di pondok pesantren.
ix

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL........................................................................................ .......i

PERSETUJUAN PEMBIMBING.................................................................... ...... ii

PENGESAHAN KELULUSAN ...................................................................... ......iii

DEKLARASI..........................................................................................................iv

MOTTO DAN PERSEMBAHAN ..........................................................................v

KATA PENGANTAR ..................................................................................... ......vi

ABSTRAK ...................................................................................................... .....vii

DAFTAR ISI ................................................................................................... ....viii

BAB I : PENDAHULUAN ......................................................................... .......1

A. Latar Belakang Masalah.............................................................1

B. Rumusan Masalah ............................................................. .......6

C. Tujuan Penelitan................................................................. .......7

D. Manfaat Hasil Penilitian..................................................... .......7

E. Kajian Pustaka............................................................................7

F. Metode Penelitian.....................................................................10

G. Penegasan Istilah......................................................................14

H. Sistematika Penulisan...............................................................18

BAB II : RIWAYAT HIDUP KH. ABDUL WAHID HASYIM........................20

A. Keluarga KH.Abdul Wahid Hasyim........................................20

1. Kelahiran KH. Abdul Wahid Hasyim.................................20

2. Silsilah Keluarga........................................................... .....22

3. Kiprah Masuk Organisasi Sosial Kemasyarakatan.............25

4. Mendirikan Partai Masyumi...............................................27


x

5. Pengabdian Kepada Negara................................................27

6. Diangkat Sebagai Pahlawan Nasional.............................. 35

B. Latar belakang Pendidikan KH.A.Wahid Hasyim.................. 35

C. Karya-karya KH.Abdul Wahid Hasyim..................................38

BAB III : MENGENAL PONDOK PESANTREN DAN PEMIKIRAN

PEMBAHARUAN SISTEM PENDIDIKAN PESANTREN

MENURUT KH. WAHID HASYIM............................................. .....44

A. Sejarah Pondok Pesantren .......................................................44

B. Pemikiran KH. Abdul Wahid Hasyim di Bidang

Pembaharuan Sistem Pendidikan Pesantren............................57


BAB IV : ANALISIS RELAVANSI PEMBAHARUAN SISTEM
PENDIDIKAN PESANTREN MENURUT KH. ABDUL WAHID
HASYIM TERHADAP PENDIDIKAN PESANTREN DI
INDONESIA MASA SEKARANG.....................................................71
A. Tinjauan Tentang Pendidikan Pesantren..................................71
B. Relavansi Pembaharuan Sistem Pendidikan Pesantren Menurut
KH. Abdul Wahid Hasyim Terhadap Pendidikan Pesantren Di
Indonesia Masa Sekarang.........................................................80
1) Relevansi Tujuan Pendidikan Pesantren............................80
2) Relavansi Pembaharuan Metode Pembelajaran.................84
3) Relavansi Pembaharuan.....................................................86
BAB V : PENUTUP...........................................................................................93
A. Kesimpulan..............................................................................93
B. Saran.........................................................................................94
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
DAFTAR PUSTAKA
1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan Islam memiliki peran yang penting dalam membentuk

generasi, karena dengan pendidikan dapat menghasilkan manusia yang

berkualitas, kreatif, dan bertanggung jawab serta memiliki kemampuan

mengantisipasi permasalahan masa depan. Pendidikan Islam senantiasa

menjadi sebuah kajian yang menarik bukan hanya karena memiliki kekhasan

tersendiri, namun juga karena kaya akan konsep-konsep yang tidak kalah

bermutu dibandingkan dengan pendidikan modern. Dalam khasanah

pemikiran pendidikan Islam, ditemukan tokoh-tokoh besar dengan ide-idenya

yang cerdas dan kreatif yang menjadi inspirasi dan memberi kontribusi yang

besar bagi dinamika pendidikan Islam di Indonesia.

Salah satu peran ulama sebagai tokoh Islam yang patut dicatat adalah

posisi mereka sebagai kelompok terpelajar yang membawa pencerahan kepada

masyarakat sekitarnya. Berbagai lembaga pendidikan telah dilahirkan oleh

mereka baik dalam bentuk sekolah maupun pondok pesantren. Semua itu

adalah lembaga yang ikut mengantarkan bangsa Indonesia menjadi bangsa

yang maju dan berpendidikan. Mereka telah berperan dalam memajukan ilmu

pengetahuan, khususnya Islam lewat karya-karya yang telah ditulis atau

melalui jalur dakwah mereka.

Adapun tantangan yang dihadapi pendidikan Islam di masa awal

masuknya Islam ke Indonesia barangkali adalah kurangnya pemahaman

pemeluk Islam baru akan pengetahuan agama Islam.

1
2

Tersebarnya agama Islam ke Nusantara menimbulkan kebutuhan akan

guru-guru, juru dakwah untuk menganjurkan prinsip-prinsip agama baru

tersebut. Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Islam itu muncullah pusat-

pusat pembelajaran agama Islam, dalam bentuk pengajaran individual maupun

secara kelompok semisal pondok pesantren.

Pendidikan Islam dalam bentuk pondok pesantren berlangsung cukup

lama sampai akhirnya timbul tantangan baru yaitu berdirinya sekolah Belanda.

Sekolah Belanda ini dikembangkan oleh pemerintah kolonial untuk

menghasilkan tenaga kantor tingkat rendah, dengan gaji jauh lebih murah.

Akhirnya muncul pendidikan model sekuler yaitu Sekolah Rakyat, sekolah

Belanda, sedangkan umat Islam mendirikan Madrasah sebagai respon

pembaharuan pendidikan dengan model sekuler Belanda. Modernisasi

pendidikan ini terus berlanjut hingga akhirnya ada sekelompok Muslim yang

mendirikan sekolah Islam, suatu bentuk pendidikan Islam yang sepenuhnya

mengadopsi bentuk dan kurikulum sekolah kolonial Belanda.

Munculnya model ini bukan berarti bentuk pendidikan Islam yang lama

menjadi hilang. Yang lama masih tetap ada dan berdampingan dengan bentuk

pendidikan Islam yang baru. Sehingga di kalangan masyarakat Muslim ada

tiga bentuk lembaga pendidikan Islam yaitu pesantren, Madrasah (kurikulum

lebih berat ke pendidikan agama) dan sekolah Islam, yang ketiganya bertahan

sampai sekarang.

Dewasa ini semakin diyakini, tantangan dunia pesantren semakin besar

dan berat di masa kini dan mendatang. Fenomena demikian mengharuskan


3

para pengelola pesantren untuk menjawab tantangan zaman dengan tetap

berpedoman pada prinsip:

‫ـﺎ‬
‫ﺍﻻﺻـﻠﺢ ﻳ ﺪ ﺑﺎﳉــﺪ ﻭﺍﻻﺧﺪ ﺍﻟﺼــﺎﱀ ﺍﻟﻘــﺪﱘ ﻋ ﻠ ﻲ ﻓ ﻈ ﺔ ﺍﶈـ‬

Artinya “mempertahankan tradisi yang lama yang masih relavan dan


mengambil hal terbaru yang lebih baik” (Ma’shum,2008:8)

Kaidah di atas benar-benar penting untuk dikaji ulang. Mengapa penting?

Pertama, dunia pesantren tidak bisa hanya mempertahankan tradisi yang lama

belaka, sebab tradisi yang lama tak mesti relavan untuk zaman sekarang ini.

Kedua, hal yang tidak kalah penting untuk direnungkan dalam rangka

“mengambil hal yang terbaru yang lebih baik” adalah mengungkap secara

cerdas permasalahan kekinian dengan pendekatan-pendekatan kontemporer.

Tak bisa disangkal bahwa modernitas telah “menawarkan” banyak hal untuk

difikirkan dan direnungkan, terutama bagi insan-insan pesantren. Dalam

konteks ini, pilihan terbaik bagi insan-insan pesantren adalah

mendialogkannya dengan paradigma dan pandangan dunia yang telah

diwariskan oleh generasi pencerahan Islam. Dari dialog sehat ini diharapkan

akan muncul sintesis-sintesis baru yang lebih segar dan menggairahkan (Abd

A’la, 2006:vi)

KH. Abdul Wahid Hasyim adalah seorang pembaharu gerakan Nahdlatul

Ulama. Tokoh NU ini melakukan sebuah terobosan “pembaharuan sistem

pendidikan” dikalangan kaum Nahdliyyin dengan memperbaharui sistem

pendidikan di pesantren milik ayahnya, Tebu Ireng pimpinan KH. Hasyim

Asyari. Hal ini menarik untuk ditelaah lebih jauh, sebenarnya hal apa yang

mendorong beliau sehingga muncul ide besar untuk ‘menggerakkan’


4

pesantren? Beliau bermaksud untuk mempersiapkan kader-kader santri (NU)

untuk menghadapi tantangan dan perubahan zaman.

Mencoba mencari dan menemukan kembali khasanah pemikiran beliau

khususnya terkait strategi pendidikan adalah sangat penting. Analisis ini harus

disesuaikan dengan apa yang telah dilakukannya sebagai seorang tokoh

nasional yang dibesarkan oleh pesantren dan bahkan tidak pernah mengenyam

pendidikan formal. Substansi pemikirannya sangat jauh melampai zamannya,

khususnya dalam pergerakan dunia santri.

Pada tahun 1935, KH. Abdul Wahid Hasyim mendirikan Madrasah

Nidzamiyah, dimana 70% kurikulumnya berisi materi pelajaran umum, 30%

untuk pendidikan agama. Madrasah Nidzamiyah bertempat di serambi masjid

Tebuireng dengan siswa pertamanya berjumlah 29 orang, termasuk adiknya

sendiri, Abdul Karim Hasyim. Dalam bidang bahasa, selain materi pelajaran

Bahasa Arab, di Madrasah Nidzamiyah juga diberi pelajaran Bahasa Inggris

dan Belanda. (Rifai, 2009:30-31). Menurut Mujamil Qomar pendirian

Madrasah ini mendapat pengaruh Madrasah Nizhamiyyah yang dibangun oleh

Nizham al-Mulk yang mana Imam al-Ghazali sempat menjadi guru besar pada

lembaga tersebut (Mujazamil Qomar, 2010:93), apa yang di lakukan KH.

Abdul Wahid Hasyim, meminjam istilahnya Karel Steenbrink “menolak dan

mencotoh”. Tetapi penting di catat, adopsi ini dilakukan tanpa mengubah

secara signifikan isi pendidikan pesantren itu sendiri. Karena itulah pesantren

melakukan sejumlah akomodasi dan penyesuaian yang mereka anggap tidak

hanya mendukung kontinuitas pesantren itu sendiri, tetapi juga bermanfaat


5

bagi para santri, seperti sistem penjenjangan, kurikulum yang lebih jelas, dan

sistem klasikal (Azyumardi Azra, dalam Nurcholish Madjid, 1997: xv).

Usaha yang dilakukan oleh KH. Abdul Wahid Hasyim adalah sebuah

upaya untuk mempersiapkan ‘tempat’ khusus bagi para kader muda NU untuk

mengisi kemerdekaan Indonesia. Konsepsi inilah yang menurut penulis

penting untuk kemudian dimunculkan kembali dalam konteks melanjutkan

cita-cita perjuangan beliau. Menemukan kembali ruh pemikiran KH. Abdul

Wahid Hasyim terkait pendidikan menjadi sebuah keharusan agar gerakan

yang dibangun NU dan badan otonomnya tidak tercerabut dari akar sejarah

promotornya. Proses ‘penyiapan’ tempat bagi kader NU ini lalu kemudian

penulis rumuskan sebagai pembaharuan sistem pendidikan pesantren

khususnya di lingkungan pesantren, sebab pada tahun 1950-an KH. Abdul

Wahid Hasyim pernah berseloroh bahwa mencari “orang pandai” di

lingkungan NU ibarat mencari tukang es pada pukul 01.00 dini hari

(Surahno,dalam Binhad Nurrahmat, 2010:202). Saat itu KH. Abdul Wahid

Hasyim merasakan sulitnya menemukan “orang pandai” di lingkungan NU.

KH. Abdul Wahid Hasyim adalah seorang tokoh NU yang brilian dan

berjasa besar tidak hanya bagi kepentingan pendidikan Islam, pesantren, NU

dan pergerakan Islam tetapi juga bagi bangsa dan Negara Indonesia. Membaca

pola pembaharuan yang dilakukan beliau adalah penting untuk menemukan

sebuah alur pemikiran yang sebenarnya telah disiapkan olehnya. Sebagai

seorang kader pergerakan tentunya beliau mempunyai kerangka pikir yang

jelas sebelum bertindak.


6

Berangkat dari latar belakang di atas, maka secara garis besar yang

menjadi tujuan utama penulis dalam penyusunan skripsi ini adalah: Pertama,

mengeksplorasi gagasan-gagasan tokoh-tokoh Islam. Kedua, menganalisa ide-

ide dan pemikiran tokoh lokal KH. Abdul Wahid Hasyim. Ketiga,

mempresentasikan ide-ide dan pemikiran-pemikiran penulis dalam sebuah

metodologi tertentu, yang mampu membangkitkan pendidikan pesantren untuk

senantiasa siap menghadapi tantangan zaman, dan melakukan kompetisi yang

sehat di tengah-tengah masyarakat. Harapannya, hasil dari penelitian ini bisa

dijadikan sebuah rujukan arah oleh insan-insan pesantren. Berangkat dari

permasalahan di atas, maka peneliti, bermaksud mengadakan penelitian ilmiah

dengan judul Pembaharuan Sistem Pendidikan Pesantren Menurut KH. Abdul

Wahid Hasyim.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang pemikiran di atas, maka selanjutnya penulis

mengemukakan pokok-pokok permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian

ini, supaya dapat mempermudah dalam proses penelitian ini. Adapun rumusan

masalah akan penulis paparkan sebagai berikut :

1. Bagaimana biografi KH. Abdul Wahid Hasyim?

2. Bagaimana pembaharuan sistem pendidikan pesantren menurut KH. Abdul

Wahid Hasyim?

3. Bagaimana relevansi pembaharuan sistem pendidikan pesantren menurut

KH. Abdul Wahid Hasyim terhadap pendidikan pesantren di Indonesia

masa sekarang?
7

C. Tujuan Penelitian

Berkaitan dengan permasalahan di atas, maka yang menjadi tujuan dalam

penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui biografi KH. Abdul Wahid Hasyim.

2. Mengetahui pembaharuan sistem pendidikan pesantren menurut KH. Abdul

Wahid Hasyim.

3. Mengatahui relevansi pembaharuan sistem pendidikan pesantren menurut

KH. Abdul Wahid Hasyim terhadap pendidikan pesantren di Indonesia

masa sekarang.

D. Manfaat Hasil Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan memberikan manfaat umumnya bagi dunia

pendidikan khususnya bagi pesantren, serta dapat memberikan motivasi bagi

praktisi pendidikan pesantren agar lebih meningkatkan institusinya, dan

memperkaya khazanah pemikiran Islam tentang KH. AbdulWahid Hasyim.

E. Kajian Pustaka

Saat ini buku yang secara khusus membahas tentang pemikiran KH.

Abdul Wahid Hasyim masih sedikit apabila dibandingkan dengan pemikir-

pemikir lainnya. Penulis menemukan penelitian yang secara khusus membahas

tentang biografi KH. Abdul Wahid Hasyim dan pemiikirannya tentang

pendidikan pesantren karya Muhammad Rifa’i dengan judul “ Wahid Hasyim

Biografi Singkat 1914-1953” telah diterbitkan oleh AR-RUZZ Yogyakarta


8

pada tahun 2010. Di antara isi karya tersebut ada yang mengandung tentang

seorang nasionalis-tradisionalis, sosok pejuang yang brilian, muda, progresif

dan pemikiran-pemikiran KH. Abdul Wahid Hasyim tentang pemikiran

agama, politik, pergerakan, pengajaran dan pendidikan.

Sedangkan buku Sedjarah Hidup KH.A. Wahid Hasyim dan Karangan

Tersiar, karya Aboe Bakar Atjeh yang diterbitkan panitia buku peringatan alm

KH.Abdul Wasyim Hasyim, menjadi satu-satunya buku yang terbaik yang

mengupas biografi KH. Abdul Wahid Hasyim. Buku ini menjadi buku paling

utama untuk dijadikan referensi, akan tetapi buku ini sudah lama dan

menggunakan ejaan kuno.

KH. Saifuddin Zuhri, Guruku Orang-Orang Pesantren, ia mencatat

pergulatan KH. Abdul Wahid Hasyim dan dunia pesantren dalam mengiringi

revolusi, tapi fakta ini sering diabaikan, KH. Saifuddin Zuhri ingin merubah

image dunia pesantren yang sering dipandang sebagai sarang kejumudan dan

keterbelakangan, ia dianggap tidak memiliki peran dalam membangun

nasionalisme, dan mengisi kemerdekaan dengan nation building. Itulah

bagian-bagian dari “salah pengertian” yang hendak dicairkan oleh KH.

Saifuddin Zuhri.

Sementara studi Zamakhsari Dhofier dalam Tradisi Pesantren: Studi

Tentang Pandangan Hidup Kyai, memfokuskan diri pada peranan kyai dalam

memelihara dan mengembangkan faham Islam ahlu sunnah wal jama’ah di

Jawa. Dhofier membandingkan Pesantren Tebu Ireng Jombang dengan

Tegalsari dekat Kota Madya Salatiga. Dalam penelitian ini, ia menjelaskan

tradisi pesantren, seperti metode pembelajaran di pesantren, kitab-kitab yang


9

di anggap mu’tabar di pesantren, hubungan pesantren dan tarekat serta

geneologi kyai dan jaringan intelektualnya. Peneliti juga berkesimpulan bahwa

para kyai mengambil sikap yang lapang dalam menyelenggarakan

pembaharuan lembaga-lembaga pesantren di tengah-tengah perubahan

masyarakat, dan tanpa menggalkan aspek-aspek positif dari sistem pendidikan

tradisional Islam.

Sedangkan studi Steenbrink dengan judul penelitian Recente

Ontwikkelingen in Indonesich Islamonderricht yang kemudian diterjemahkan

menjadi Pesantren, Madrasah, Sekolah: Pendidikan Islam dalam Kurun

Modern. Isinya tentang sikap orang Islam Indonesia dalam menyikapi

pembaharuan ada yang menerima, ada yang menolak tetapi mencontohnya,

dan yang kesimpulanya diperbandingkan dengan perkembangan dalam agama

Kristen.

Penelitian Ali Anwar, Pembaharuan pendidikan di pesantren Lirboyo

berusaha mengungkap pembaharuan yang di lakukan pesantren Lirboyo

dimana pesantren Lirboyo mengadakan pembaharuan dan akhirnya dapat

survive. Kesimpulan penelitian ini ternyata berbeda dengan temuan Karel A.

Steenbrink bahwa ketika diperkenalkan lembaga pendidikan yang lebih teratur

dan modern, lembaga pendidikan tradisional ternyata tidak begitu laku dan

banyak ditinggalkan siswannya.

Keseluruhan penelitian tersebut menurut hemat penulis, belum ada yang

secara spesifik dan fokus membahas tentang pembaharuan sistem pendidikan

pesantren yang di lakukan KH. Abdul Wahid Hasyim. Dengan demikian,

posisi kajian ini di antara karya-karya yang telah mengkaji tersebut jelas
10

berbeda. Penelitian ini berusaha untuk mengetahui apa yang melatarbelakangi

terjadi pembaharuan, bagaimana proses terjadinya pembaharuan, dan

implikasi pembaharuan sistem pendidikan itu bagi pesantren sekarang.

F. Metode Penelitian

Proses dalam penelitian ini, penulis menggunakan beberapa metode dan

pendekatan sebagai acuan dalam penulisan karya tulis ini. Secara jelas penulis

paparkan sebagai berikut:

1. Pendekatan

Pendekatan yang digunakan dalam penulisan ini adalah

a. Pendekatan Historis (historical approach)

Pendekatan yang menguraikan fakta-fakta pemikiran yang

dilakukan oleh KH. Abdul Wahid Hasyim. Pengembangan aspek

historis dalam tulisan ini adalah sebuah analisis diskriptif yang akan

membawa pada kesimpulan bahwa ada pola pemikiran yang dilakukan

oleh KH. Abdul Wahid hasyim. Melalu pendekatan sejarah, peneliti

dapat melakukan periodisasi atau derivasi sebuah fakta, dan melakukan

proses genesis: perubahan dan perkembangan. Melalui sejarah dapat

diketahui asal-usul pemikiran dari seseorang tokoh. (Suprayogo dan

Tobroni, 2003:65-66).

b. Pendekatan Hermeneutika

Menurut Imam Suprayogo (2003:73) Hermeneutika merupakan

metode bahkan aliran dalam penelitian kualitatif, khususnya dalam

memahami makna teks (kitab suci, buku, undang-undang, dan lain-lain)


11

sebagai sebuah fenomena sosial budaya. Fungsi metode hermeneutika

adalah agar tidak terjadi distorsi pesan atau informasi antara teks,

penulis teks, dan pembaca teks. Dan tujuan spesifiknya adalah

mengembangkan pengetahuan yang memberikan pemahaman dan

penjelasan yang menyuluruh dan mendalam. Arti hermeneutik disini

adalah analisis yang mengarah pada pembacaan teks-teks atas fakta

yang terjadi dan relasi dengan konteks kesejarahannya. Pendekatan ini

hanya mampu sedikit memotret dari pemikiran KH. Abdul Wahid

Hasyim. Namun kemudian penulis akan berusaha menyajikan dengan

data dan analisa yang mendetail agar mudah difahami.

c. Pendekatan Fenomenologi

Fenomenologi bisa diartikan sebagai pengalaman subyektif atau

studi tentang kesadaran dari perspektif pokok dari seseorang.

Fenomenologi kadang-kadang digunakan sebagai perspektif filosofi dan

juga digunakan sebagai pendekatan penelitian kualitatif (Lexy

J.Meleong, 2008:15). Metode ini digunakan untuk menghindari

pembahasan yang terjebak pada aspek historis-faktual saja namun

mampu menghadiran sebuah konsep pemikiran yang integral dengan

konteks yang terjadi waktu itu.

2. Sumber Data

Data yang dibutuhkan dalam penyusunan skripsi ini diperoleh dari

research kepustakaan (library research) yaitu hasil dari penelitian berbagai

buku dan karya ilmiah yang ada relevansinya dengan pemikiran KH.

Abdul Wahid Hasyim. Dalam penelitan kualitatif menempatkan sumber


12

data sebagai subjek yang memiliki kedudukan penting. Jenis sumber data

dalam penelitian kualitatif dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

a. Narasumber

Dalam penelitian kualitatif sumber data sangat penting, bukan

hanya sebagai respons, melainkan juga sebagai pemilik informasi.

Karena itu, ia disebut sebagai subyek yang diteliti, karena ia bukan saja

sebagai sumber data, melainkan juga aktor atau pelaku yang ikut

menentukan berhasil tidaknya sebuah penelitian.

b. Peristiwa atau Aktivitas

Data atau informasi juga diperoleh melalui pengamatan terhadap

periswa atau aktivitas yang berkaitan dengan sasaran atau

permasalahan penelitian.

c. Dokumen atau Arsip

Dokumen merupakan bahan tertulis atau benda yang berkaitan

dengan suatu peristiwa atau aktivitas tertentu. Banyak peristiwa yang

telah lama terjadi bisa di teliti dan dipahami atas dasar dokumen atau

arsip (Imam Suprayogo, Tobroni, 2003:162-164).

3. Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling penting

dalam penelitian, karena tujuan penelitian adalah mendapatkan data.

Dalam penyusunan skripsi ini, data diperoleh dari berbagai sumber,

dengan menggunakan teknik pengumpulan data:


13

a. Teknik Pengumpulan Data dengan Dokumen

Dukumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu.

Dukumen bisa berupa tulisan, gambar, atau karya-karya monumental

dari seseorang.

b. Triangulasi

Dalam hal ini Triangulasi diartikan sebagai teknik pengecekan

kredibilitas data dengan berbagai teknik pengumpulan data dan

berbagai sumber data (Sugiono, 2008:329-330).

4. Analisa Data

Data yang terkumpul selanjutnya akan penulis analisa dengan

menggunakan teknik analisa data dengan cara:

a. Reduksi Data

Menurut Miles dan Huberman, reduksi data diartikan sebagai

proses pemilahan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan,

pengabstrakan, transformasi data kasar, yang muncul dari catatan-

catanan lapangan.

b. Penyajian Data

Alur penting selanjutnya penyajian data, yang dimaksud penyajian

data adalah menyajikan sekumpulan informasi yang tersusun yang

memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan

tindakan.

c. Menarik Kesimpulan

Kegiatan analisa yang terakhir adalah menarik kesimpulan. Dari

permulaan pengumpulan data, seorang mengalisis kualitatif mulai


14

mencari arti benda-benda mencatat keteraturan, pola-pola, penjelasan,

konfigurasi-konfigurasi yang mungkin, alur sebab-akibat, dan

proposisi (Miles and Huberman, 1992:16-19).

Dari komponen analisa di atas, prosesnya saling berhubungan dan

berlangsung terus-menerus selama penelitian berlangsung.

G. Penegasan Istilah

Penegasan istilah adalah untuk mendapatkan kejelasan tentang

judul skripsi di atas, supaya tidak terjadi salah kesalahpahaman maka penulis

perlu memberikan batasan-batasan dan penegasan beberapa istilah yang ada di

dalamnya, yaitu:

1. Pembaharuan

Pembaharuan menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia secara

etimologis artinya proses, perbuatan, cara membaharui (Poerwadarminta,

2006:103). Pembaharuan juga disebut tajdîd, secara harfiah tajdîd berarti

pembaharuan dan pelakunya disebut mujaddid.

2. Sistem Pendidikan

Sistem merupakan himpunan komponen atau bagian yang saling

berkaitan yang bersama-sama berfungsi untuk mencapai tujuan (Ridlwan

Nasir, 2005:28). Sedangkan pendidikan menurut Nasrudin (2008-11).

Pendidikan adalah upaya mencerdaskan pikiran, menghaluskan budi

pekerti, memperluas cakrawala pengetahuan serta memimpin dan

membiasakan anak-anak menuju arah kesehatan badan dan kesehatan

ruhani bangsanya. Pendidikan meliputi pengajaran keahlian khusus, dan


15

juga sesuatu yang tidak dapat dilihat tetapi lebih mendalam yaitu

pemberian pengetahuan, pertimbangan dan kebijaksanaan. Salah satu dasar

utama pendidikan adalah untuk mengajar kebudayaan melewati generasi.

Sedangkan dalam kamus besar bahasa Indonesia, pendidikan berarti proses

pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok dalam usaha

mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Melihat

paparan di atas, maka yang di maksud dengan sistem pendidikan dapat

diartikan sebagai suatu keseluruhan dari unsur-unsur pendidikan yang

berkaitan dan hubungan satu sama lain serta saling mempengaruhi, dalam

satu kesatuan (Ridlwan Nasir, 2005:28).

3. Pesantren

Pondok secara etimologis bisa diartikan asrama tempat santri.

Sedangkan kata Pondok secara terminologis berarti tempat tinggal santri di

pesantren (Abdul Mughits, 2008:153). Untuk menyebutkan asrama tempat

belajar agama Islam. Sebenarnya bukan istilah asli Indonesia, tetapi

merupakan hasil penyerapan dari bahasa Arab funduk yang berarti

pesanggrahan atau penginapan orang berpergian (Karel A.Steen Brink,

1986:22).

Sedangkan Pesantren secara etimologis berasal dari santri yang

mempunyai awalan pe dan akhiran an berarti tempat tinggal para santri,

Tempat pendidikan Islam ini juga berfungsi sebagai lembaga sosial

keaagamaan. Menurut KH. Zamakhsari Dhofier terdapat lima elemen

dasar suatu lembaga pengajian dapat dikatakan sebagai pesantren yaitu,


16

kiai, santri, pondok, masjid, dan pengajaran kitab-kitab klasik (Dhofier,

1983:44).

Secara umum pesantren atau pondok didefinisikan sebagai “lembaga

pendidikan Islam dengan sistem asrama, kyai sebagai sentral figurnya dan

masjid sebagai titik pusat yang menjiwainya.” Sebagai lembaga yang

mengintegrasikan seluruh pusat pendidikan, pendidikan pesantren bersifat

total, mencakup seluruh bidang kecakapan anak didik; baik spiritual

intelektual, maupun moral-emosional.

4. KH. Abdul Wahid Hasyim (1914-1953)

KH. Abdul Wahid Hasyim adalah putra dari pasangan KH. M.

Hasyim Asy’ari-Nyai Nafiqah binti Kiai Ilyas (Madiun) yang dilahirkan

pada Jum’at legi, 5 Rabi’ul Awal 1333 H./1 Juni 1914 M. Tahun 1929 saat

umurnya 15 tahun beliau baru mengenal huruf latin. Dengan mengenal

huruf latin, semangat belajarnya semakin bertambah. Dia juga

berlangganan koran dan majalah, baik yang berbahasa Indonesia maupun

Arab. Wahid Hasyim mulai belajar Bahasa Belanda ketika berlangganan

majalah tiga bahasa, ”Sumber Pengetahuan” Bandung. Tetapi dia hanya

mengambil dua bahasa saja, yaitu Bahasa Arab dan Belanda.

Pada tahun 1932, ketika umurnya baru 18 tahun, Wahid Hasyim pergi

ke tanah suci Mekkah bersama sepupunya, Muhammad Ilyas. Sepulang

dari tanah suci, KH. Wahid Hasyim membantu ayahnya mengajar di

pesantren dan terjun ke tengah-tengah masyarakat. Pada tahun 1936, Kiai

Wahid mendirikan Ikatan Pelajar Islam yang kemudian diikuti dengan

pendirian taman bacaan (perpustakaan) yang menyediakan lebih dari


17

seribu judul buku. Perpustakaan Tebuireng juga berlangganan majalah

seperti Panji Islam, Dewan Islam, Berita Nahdlatul Ulama, Adil, Nurul

Iman, Penyebar Semangat, Panji Pustaka, Pujangga Baru, dan lain

sebagainya. Langkah ini merupakan terobosan besar yang-saat itu-belum

pernah dilakukan pesantren manapun di Indonesia. Pada tahun 1947,

ketika sang ayah meningal dunia, Kiai Wahid terpilih secara aklamasi

sebagai pengasuh Tebuireng. Pilihan ini berdasarkan kesepakatan

musyawarah keluarga Bani Hasyim dan Ulama NU Kabupaten Jombang.

Pada bulan November 1947, Wahid Hasyim bersama M. Natsir

menjadi pelopor pelaksanaan Kongres Umat Islam Indonesia yang

diselenggarakan di Yogyakarta. Dalam kongres itu diputuskan pendirian

Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi), sebagai satu-satunya partai

politik Islam di Indonesia. Ketua umumnya adalah ayahnya sendiri, Kiai

Hasyim Asy’ari. Namun Kiai Hasyim melimpahkan semua tugasnya

kepada Wahid Hasyim. Dia dalam Masyumi tergabung tokoh-tokoh Islam

nasional, seperti KH. Wahab Hasbullah, KH. Bagus Hadikusumo, KH.

Abdul Halim, KH. Ahmad Sanusi, KH. Zainul Arifin, M. Roem, dr.

Sukiman, H. Agus Salim, Prawoto Mangkusasmito, Anwar Cokroaminoto,

Mohammad Natsir, dan lain-lain.

Setelah terjadi penyerahan kedaulatan RI dan berdirinya RIS, dalam

Kabinet Hatta tahun 1950 dia diangkat menjadi Menteri Agama. Jabatan

Menteri Agama selalu dipercayakan kepadanya selama tiga kali kabinet,

yakni Kabinet Hatta, Natsir, dan Sukiman. Selama menjabat sebagai

Menteri Agama RI, Kiai Wahid mengeluarkan tiga keputusan yang sangat
18

mepengaruhi sistem pendidikan Indonesia di masa kini. Kiai Wahid juga

memberikan ide kepada Presiden Soekarno untuk mendirikan masjid

Istiqlal sebagai masjid Negara (http://majelis-alumni-ipnu.:masjid-istiqlal-

jakarta&catid=7:wisata-religi&Itemid=14)

H. Sistematika Penulisan

Dalam penulisan skripsi ini, akan penulis bahas masalah-masalah sebagai

berikut:

Bab I Pendahuluan. Dalam bab ini meliputi: latar belakang masalah,

rumusan masalah, tujuan penelitian, kajian pustaka, metode dan pendekatan

penelitian, penegasan istilah, sistematika penulisan skripsi.

Bab II Biografi KH Wahid Hasyim. Pembahasannya meliputi biografi

Wahid Hasyim yang membahas tentang riwayat hidup Wahid Hasyim, mulai

dari keluaraga, kelahiran, silsilah keluarga, pengabdian dalam masyarakat dan

Negara, serta latarbelakang pendidikan dan karyanya.

Bab III Mengenal Pondok Pesantren Dan Pemikiran Pembaharuan Sistem

Pendidikan Pesantren Menurut KH. Abdul Wahid Hasyim . Berisi Tentang

sejarah pondok pesantren, keadaan pesantren sebelum kemerdekaan, keadaan

pesantren paska kemerdekaan, pemikiran-pemikiran KH. Abdul Wahid

Hasyim.

Bab IV Analisis Relavansi Pembaharuan Sistem Pendidikan Pesantren

Menurut KH. Abdul Wahid Hasyim Terhadap Pendidikan Pesantren Di

Indonesia Masa Sekarang: Tinjaun sistem pendidikan pesantren, Analisis


19

sistem pendidikan pesantren menurut pemikiran KH. Abdul Wahid Hasyim

dengan relevansi pendidikan pesantren Indonesia masa sekarang.

Bab V Penutup. Dalam bab ini meliputi: Kesimpulan, Saran-saran,

Penutup
20

BAB II

RIWAYAT HIDUP KH. ABDUL WAHID HASYIM

A. Keluarga KH. Abdul Wahid Hasyim

1. Kelahiran KH. Abdul Wahid Hasyim

Nama KH. Abdul Wahid Hasyim barangkali identik dengan tokoh-

tokoh muda yang mempunyai prestasi yang luar biasa, dimana pada masa

peralihan penjajahan Jepang menuju kemerdekaan Indonesia mempunyai

posisi yang sangat vital, ketika itu gonjang-ganjing perselisihan antara

kekuatan muda dan kekuatan kaum tua yang di wakili Soekarno,

sementara semangat untuk mendirikan ideologi Negara masih menjadi

perselisihan antara golongan nasionalis dan agama, yang pada akhirnya di

menangkan golongan nasionalis, dalam hal ini KH. Abdul wahid Hasyim

termasuk kelompok yang menghendaki agar negara yang dibentuk

berdasarkan Islam mengingat Islam agama mayoritas penduduk Indonesia,

tetapi Islam bukan harga mati bagi Wahid Hasyim, ia terbukti menerima

setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia KH. Abdul Wahid Hasyim

salah satu perwakilan dari golongan Islam menerima.

KH. Abdul Wahid Hasyim adalah salah satu dari sedikit tokoh NU

yang menonjol dan ketokohannya tidak hanya diakui kalangan NU, tetapi

juga kalangan diluar NU. Ada beberapa faktor yang menyebabkan ia

menjadi seperti itu, selain karena putra KH Hasyim Asyari, ia juga lebih

dikenal-sangat cerdas dan gemar sekali membaca. Berkat kecerdasan dan

kegemarannya tersebut ia mempunyai pemikiran yang maju terlebih jika

20
21

dibandingkan dengan tokoh-tokoh NU pada masa itu. Ia mampu mengikuti

perkembangan yang terjadi sehingga dapat “duduk sejajar” dengan tokoh-

tokoh nasional yang mendapat kesempatan belajar di bangku sekolah

modern (Yanto dan Retno, 2009:409).

KH. Abdul Wahid Hasyim di lahirkan pada hari jum’at pada tanggal 1

Juni 1914 M (5 Rabi’al Awwal 1333 H) di desa Diwek Kecamatan Cukir

Kab Jombang Jawa Timur. Ketika ada pengajian rutin yang di gelar setiap

jum’at sesudah sholat isya. KH. Abdul Wahid Hasyim adalah putra kelima

dari pasangan KH. Hasyim Asy’ari dengan Nyai Nafiqah binti Kyai Ilyas.

Anak lelaki pertama dari 10 bersaudara:

a. Hannah

b. Khairiyah

c. Aisyah

d. Izzah

e. Abdul Wahid

f. A. Khaliq

g. Abdul Karim

h. Ubaidillah

i. Masrurah

j. Muhammad Yusuf

Menurut Gusdur dalam Greg Barton (2010:31), Nyai Hasyim Asyari,

yang tidak lain adalah nenek Gusdur sendiri, menderita sakit keras ketika

sedang mengandung KH. Abdul Wahid Hasyim. Nyai Hasyim bernazar

apabila anaknya yang dikandungnya ini dapat lahir dengan selamat maka
22

ia akan membawanya ke Kiai Cholil di Madura. Nyai Hasyim Asy’ari pun

akhirnya berangsur-angsur sembuh dan kemudian dapat melahirkan

Wahid Hasyim tanpa kesulitan. Sesuai dengan sumpahnya, ia pun

membawa anaknya ke Madura agar bisa di berkati oleh guru suaminya.

Oleh banyak orang, kejadian ini di anggap sebagai bertanda bahwa si anak

(Wahid Hasyim) akan menjadi orang besar.

KH. Abdul Wahid Hasyim yang akrab di sapa dengan Gus Wahid

Oleh ayahnya Hadratus Syeh KH. Hasyim Asy’ari beliau diberi nama

Muhammad Asy’ari, di ambil dari nama kakeknya. Tetapi nama ini tidak

terlalu lama, Asy’ari kecil sering sakit hingga tubuhnya makin kurus,

maka nama ini diganti. Karena dianggap nama tersebut tidak cocok dan

berat maka namanya diganti Abdul Wahid Hasyim, pengambilan dari

nama seorang datuknya. Namun ibunya kerap kali memanggil dengan

nama “Mudin” (KPG Tempo, 2011:11). Sedangkan para santri dan

masyarakat sekitar sering memanggil dengan sebutan Gus Wahid, sebuah

panggilan yang kerap ditujukan untuk menyebut putra seorang Kyai di

Jawa.

2. Silsilah Keluarga

KH. Abdul Wahid Hasyim merupakan salah seorang dari sepuluh

keturunan langsung KH. Hasyim Asy’ari. Ulama yang termasyhur dan

pendiri Nahdlatul Ulama, organisasi keagamaan yang terbesar di

Indonesia. Silsilah dari jalur ayah ini bersambung hingga Joko Tingkir,

tokoh yang kemudian lebih dikenal dengan Sultan Hadiwijaya yang

berasal dari kerajaan Demak. Sedangkan dari pihak ibu, silsilah itu betemu
23

pada satu titik, yaitu Sultan Brawijaya V, yang menjadi salah satu raja

Kerajaan Majapahit. Sultan Brawijaya V ini juga dikenal dengan sebutan

Lembu Peteng (Amin, 2010:65).

Ketika menginjak usia 25 tahun, KH. Abdul Wahid mempersunting

gadis bernama Solichah, putri KH. Bisri Syansuri, yang pada waktu itu

baru berusia 15 tahun. Pasangan ini dikarunai enam anak putra, Putra-putri

KH.Abdul Wahid Hasyim kemudian tumbuh dan berkembang menjadi

tokoh dan miniatur dari Indonesia dengan lingkungan yang berbeda-beda,

putra Pertama, Abdurrahman Wahid (Gus Dur) adalah salah satu mantan

presiden RI yang ke-4, sosoknya yang penuh kontroversi. Kedua, Aisyah

Hamid Baidlowi menjadi politisi Partai Golkar. Ketiga, KH Salahuddin

Wahid penjelajah lintas ilmu disiplin ilmu dan aktivis HAM dan kini

menjadi pengasuh pondok pesantren Tebuireng. Keempat dr. umar Wahid

seorang dokter professional murni. Kelima, Lily Chotijah Wahid kini

menjadi anggota legeislatif dari PKB (Risalah, 1430 H:77).


24

Silsilah KH.Wahid Hasyim (KPG Tempo, 2011:35, Bakar,2011, Zuhri,2010:181)


BRAWIJAYA VI (1478-1498)

Jaka Tingkir (1578) Jaka Tarub I

Pengeran Benawa Jaka Tarub II

Kiai Ageng Ketis


Pangeran Sambo
Kiai Ageng Saba
Ahmad
Kiai Ageng Solo
Abdul Jabar
Kiai Ageng Pemanahan
Sichah
Penembahan Senopati

Fatimah Lajjinah K. Usman


Pangeran Kajuran

Kh.Hasbullah
Kiai Ilyas Markinah

Nyai Halimah (1851) K.Asya’ri

Kh. Abdul Wahab (1888-1971)

Kh.Hasyim Asya’ri (1871-1947) Nafiqoh1939

Siti Khotijah Kh.Bisri Samsuri (1887-1980) M.Qolyubi

Sholihah (1924-1994) Kh A.Wahid Hasyim(1914-1953)

Abdurrahman (1939-2009) Zahro M. Ilyas (1911-1970)

Aisyah
Maftuh Basyumi Wiwiek Zakiah
Salahuddin

Umar Hasyim

Lily Wahid

M. Hasyim
25

3. Kiprah Masuk Organisasi Sosial Kemasyarakatan

a. Membentuk Ikatan Pelajar-Pelajar Islam

Pada tahun 1936, KH. Abdul Wahid Hasyim mendirikan IKPI

(Ikatan Pelajar-Pelajar Islam) dengan dia sendiri sebagai pimpinannya.

Dalam organisasi ini dia menyediakan taman bacaan dengan lebih dari

500 kitab bacaan untuk anak-anak dan pemuda, yang berbahasa

Indonesia, Jawa, Sunda, Madura, Belanda dan Inggris. Organisasi ini

juga berlangganan majalah dan surat kabar. Perlu dicatat, organisasi ini

tidak hanya berisi santri tetapi juga pelajarnya pernah belajar di HIS

dan MULO (Bakar, 2011:172-173).

KH. Abdul Wahid Hasyim juga melakukan gerakan ’terpelajar’

yakni melakukan perjuangan yang sesuai dengan zaman yaitu dengan

melakukan mogok, agitasi, menerbitkan surat kabar, berorganisasi dan

propaganda. KH. Abdul Wahid Hasyim melihat, kelompok mahasiswa,

pelajar, santri dan pemuda sangat penting dalam memerankan

perjuangan. Kharakter ’terpelajar’ sangat penting untuk dijadikan alat

perjuangan. Apalagi dalam era global sekarang ini, perjuangan yang

dilakukan tidak lagi menggunakan senjata, namun menggunakan

ideologi, pengetahuan dan strategi.

b. Nahdlatul Ulama

Nahdlatul Ulama merupakan organisasi sosial keagamaan yang

didirikan pada bulan januari, tanggal 31 tahun 1826 oleh beberapa Kiai

tradisional dan usahawan Jawa timur. Pembentukannya sering kali

dijelaskan sebagai reaksi defensif terhadap berbagai aktivitas kelompok


26

reformis (Bruinessen, 2004:13) salah satu pendirinya adalah KH.

Hasyim Asya’ri bapaknya KH. Abdul Wahid Hasyim, secara tidak

langsung KH. Abdul Wahid Hasyim punya tiket istimewa kalau ingin

masuk Nahdlatul Ulama, sebab secara langsung KH. Abdul Wahid

Hasyim punya hubungan emosional dan kekerabatan. Akan tetapi KH.

Abdul Wahid Hasyim tidak serta merta langsung masuk organisasi. Ia

tinggalkan perasaan dan pertimbangan keturunan, sebab ia punya

pandangan lain, yaitu :

1) Keberhasilan NU mengembangkan organisasi dalam singkat dan

meliputi daerah secara luas.

2) Anggotanya punya mentalitas tinggi, meski tidak punya kaum

pelajar yang banyak.

3) NU memperhatikan pelaksaan ajaran-ajaran Islam.

4) Adanya ulama yang terus menjaga ajaran Islam.

Faktor kiai yang dulunya dianggap sebagai penghambat

keberhasilan NU, justru menjadi kunci keberhasilanya. Pada tahun 1938

Wahid Hasyim banyak mencurahkan waktunya untuk kegiatan-kegiatan

NU. Jabatan pertama Wahid Hasyim ditunjuk sebagai sekretaris

pengurus Ranting Cukir Tebuireng, lalu menjadi anggota pengurus

Cabang Jombang. Kemudian untuk selanjutnya Wahid Hasyim dipilih

sebagai anggota Pengurus Besar NU di wilayah Surabaya (Bakar,

2011:173). Hingga kemudian pada tahun 1940 dipilih menjadi anggota

PBNU bagian Ma’arif (pendidikan). Dari sinilah, perjuangan di NU

mulai banyak peningkatan sampai akhirnya pada tahun 1946 KH.


27

Abdul Wahid Hasyim diberikan amanah sebagai Ketua Tanfidziyah

PBNU menggantikan Kiai Ahmad Shiddiq. Setelah NU berubah

menjadi partai politik, ia pun dipilih sebagai ketua Biro Politik NU

tahun 1950.

4. Mendirikan Partai Masyumi

Pada bulan november 1947, KH Abdul Wahid hasyim bersama M.

Natsir menjadi pelopor pelaksanaan kongres umat Islam Indonesia yang

diselenggarakan di Yogyakarta. Dalam kongres ini diputuskan pendirian

Majelis Syura Muslimin Indonesia, sebagai satu-satunya partai politik

Islam Indonesia. Ketua umumnya adalah KH Hasyim Asy’ari, namun kiai

Hasyim melimpahkan semua tugasnya kepada KH Wahid Hasyim. Tetapi

sejak tahun 1950-an, NU keluar dari Masyumi dan berdiri sebagai partai

politik. Secara pribadi, KH. Abdul Wahid Tidak setuju NU keluar dari

Masyumi, akan tetapi sudah menjadi keputusan bersama, maka KH. Abdul

Wahid Hasyim menghormatinya. Hubungan KH. Abdul Wahid Hasyim

dengan tokoh-tokoh Masyumi masih tetap terjalin dengan baik.

5. Pengabdian Kepada Negara

Kerasnya politik pada zaman kolonial Belanda dan semakin suramnya

kondisi politik, ekonomi, sosial, dan budaya menyebabkan kebangkitan

Islam di Indonesia. Ini mendorong penduduk pribumi untuk mengubah

perjuangan melawan Belanda dari strategi perjuangan fisik ke perlawanan

yang damai dan terorganisir. Maka terbentuklah beberapa organisasi yang

bertujuan meningkatkan kondisi ekonomi, pendidikan, dan tentunya

kemerdekaan Indonesia. Salah satunya organisasi MIAI (Majlis Islam


28

A’ala Indonesia) organisasi ini didirikan pada tanggal 18-21 September

1937 (Lathiful Khuluq, 2009:116). Federasi ini terdiri dari Nahdlatul

Ulama, Muhamadiyah, dan Sarekat Islam. Yang mana KH. Hasyim Asyari

sebagai ketuanya. Akan tetapi kedudukan sebagai ketua hanya simbolik

sebab beliau mendelegasikan semua tugas ketua diserahkan kepada putra

beliau, KH. Abdul Wahid Hasyim. Tetapi perkembangan selanjutnya

Wahid Hasyim jadi ketua seutuhnya bukan sebagai badal ayahnya.

Melalui wadah MIAI inilah tokoh-tokoh Islam membangun hubungan baik

dengan kelompok-kelompok nasionalis yang tergabung dalam Gabungan

Aksi Politik Indonesia (GAPI). Ini terjadi pada tahun 1939, dan gerakan

GAPI mencapai puncaknya pada tahun 1940, dimana MIAI dan GAPI

mendirikan proyek politik yang bernama Kongres Rakyat Indonesia

(Korindo), dengan dua tuntutan utama terhadap pemerintah kolonial, yaitu

mempercepat Indonesia berparlamen dan menuntut perubahan

ketatanegaraan di Indonesia, menuju Indonesia mandiri (Surahno dalam

Laode Ida, 1996:15).

Setelah kedudukan Belanda berakhir MIAI dibubarkan oleh Jepang

dan diganti Masyumi (Majlis Syura Muslimin Indonesia) pada 24 oktober

1943. Yang menyatakan siap membantu kepentingan Jepang. Hanya

Nahdaltul Ulama dan Muhammadiyah yang diakui secara sah oleh

penjajah dan yang diperbolehkan menjadi anggota Masyumi. Pada bulan

agustus 1944, KH Hasyim Asya’ari diangkat sebagai ketua Shumubu,

kantor urusan agama Islam buatan Jepang, dan NU pun mulai masuk ke

dalam urusan pemerintah pertama kalinya. Akan tetapi, begitu dikukuhkan


29

KH. Hasyim Asya’ri kembali ke pesantren beliau di Jombang, sedangkan

tugas sehari-hari dilaksanakan KH. Abdul Wahid Hasyim. Tahun ini juga

KH. Abdul Wahid Hasyim, berhasil membujuk Jepang untuk memberikan

latihan militer khusus bagi para santri dan mengizinkan mereka

membentuk barisan pertahanan rakyat sendiri yaitu Hizbullah dan

Sabilillah (Andree Feillard,2008:26). Dan setelah Indonesia Merdeka

Masyumi ini berubah menjadi partai politik. Langkah ini dilakukan

mengikuti anjuran pemerintah republik Indonesia (Greg Fealy,2007:53).

Karir KH. Abdul Wahid Hasyim dalam pentas politik nasional terus

melejit. Dalam usianya yang masih muda, beberapa jabatan ia sandang.

Diantaranya ketika Jepang membentuk badan yang bertugas menyelidiki

usaha-usaha persiapan kemerdekaan Indonesia atau dikenal dengan

BPUPKI, KH. Abdul Wahid Hasyim merupakan salah satu anggota yang

termuda, ketika itu baru berumur 31 tahun (Delier Noer, 1987:31). Badan

ini dideklarasikan pada tanggal 1 maret 1945 yang menghasilkan

terbentuknya suatu panitia untuk menyelidiki dan apa yang harus

dikerjakan untuk mempersiapan kemerdekaan. Panitia ini diresmikan di

Jakarta tanggal 29 April 1945, anggotanya berjumlah 62 orang, sehingga

panitia ini dapat disebut panitia 62. Orang-orang Jepang mengangkat Dr.

Radjiman Wedjodiningrat untuk memimpin rapat-rapat (B.J Boland,1985-

19).

Pada sidang pertama badan ini membicarakan dasar-dasar Negara

Indonesia. Dalam rapat ini, KH. Abdul Wahid Hasyim menghendaki agar

Negara yang dibentuk berdasarkan Islam mengingat Islam adalah agama


30

mayoritas di Nusantara. Sementara itu, sebagaian peserta yang lain

menghendaki agar Negara dibentuk tidak berdasarkan agama tertentu

karena selain umat Islam masih terdapat penganut agama lain. Rapat ini

berakhir dengan dibentuknya Panitia Sembilan, KH. Abdul Wahid Hasyim

menjadi salah satu anggotanya. Panitia kecil ini akhirnya berhasil

merumuskan pembukaan UUD yang kemudian dikenal dengan Piagam

Jakarta. Dalam Piagam Jakarta ini tercantum satu kalimat yang kemudian

menimbulkan kontroversi, yaitu sila pertama“ Ketuhanan dengan

kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya”. Bagi

panitia Sembilan, rumusan ini sebagai jalan tengah yang paling maksimal

dari kedua aspirasi tersebut (Saiful Umam, 1998)

Pada tanggal 10 Juli, Piagam Jakarta dipertanyakan oleh tokoh

nasionalis sekuler dan Kristen, Latuharhary, yang secara tegas

mengutarakan kekawatirannya nantinya syariat Islam akan menimbulkan

masalah bagi agama lain dan adat istiadat. Agus Salim menjawab bahwa

persoalan hukum adat dan hukum Islam sudah merupakan masalah lama,

dan pada umumnya sudah terselesaikan. Wongsonegoro dan Hoesein

Djajadiningrat juga merasa keberatan dengan kata-kata tersebut sebab

akan menimbulkan fanatisme, kelihatannya kaum Muslimin akan dipaksa

mematuhi syari’at Islam. KH. Abdul Wahid Hasyim membantah dengan

merujuk adanya asas sila permusyawaratan akan menghalangi segala

bentuk paksaan (B.J Boland, 1985:19).

Pada sidang selanjutnya, debat masih berlanjut, KH. Abdul Wahid

Hasyim mengusulkan rumusan berikut: “Agama Negara adalah Islam,


31

dengan jaminan bagi pemeluk agama lain untuk dapat beribadah menurut

agama masing-masing”. KH. Abdul Wahid Hasyim juga mengusulkan

presiden dan wakilnya juga harus Islam, tetapi usul ini ditentang Agus

Salim dan mengajukan keberatan, karena hal ini akan merusak jalan

tengah yang telah tercapai antara kelompok Islam dan kelompok

nasionalis, dan jika presiden harus Islam, bagaimana nantinya dengan

wakil presiden dengan para duta besar dan sebagainya.

Dua hari setelah Jepang menyerah, yakni pada tanggal 14 agustus

1945, dan pada tanggal 17 Agustus hari Proklamasi Kemerdekaan

Indonesaia dikumandangkan oleh Soekarno dan Moh Hatta, Hatta

menerima kunjungan seorang perwira angkatan laut kekaisaran Jepang

yang menyampaikan keberatan-keberatan penduduk Indonesia bagian

timur, yang sebagaian besar tidak beragama Islam, mengenai dimuatnya

Piagam Jakarta pada mukaddimah undang-undang dasar. Bila tidak

dirubah, mereka lebih suka berdiri diluar Republik Indonesia. Keesokan

harinya pada tanggal 18 agustus, Moh. Hatta memanggil empat anggota

panitia persiapan kemerdekaan yang mewakili Islam: Ki Bagus

Hadikusumo, Kasman Singodimejo, Teuku Muhammad Hasan dan KH.

Abdul Wahid Hasyim.

Demi menjaga keutuhan bangsa pada saat genting ini, mereka setuju

untuk menghapus rujukan pada agama Islam dalam teks Mukaddimah

Undang-Undang Dasar, sebagai gantinya KH. Abdul Wahid Hasyim

mengusulkan agar Piagam Jakarta diganti dengan rumusan Ketuhanan

Yang Maha Esa, penambahan kata Esa menggarisbawahi keesaan Tuhan


32

(tauhid) yang tidak terdapat pada agama lain. Dengan demikian, Indonesia

tidak menjadi Negara Islam, namun menjadi Negara monoteis. Presiden

harus diangkat dari orang Indonesia asli, tanpa ketentuan jelas mengenai

agamanya (Andree Feillard, 2008,34:35).

Kasus di atas memperlihatkan bahwa KH. Abdul Wahid Hasyim

dalam kasus tertentu merupakan sosok yang sangat kental dengan nilai-

nilai ajaran Islam sehingga ia selalu mengusulkan agar Negara Indonesia

berideologi Islam. Akan tetapi bagi KH. Abdul Wahid Hasyim Islam

bukan harga mati, ia terbukti menerima setelah proklamasi kemerdekaan

Indonesia. Peran KH. Abdul Wahid Hasyim dalam hal ini cukup penting

untuk menyelamatkan bangsa Indonesia. Tidak dapat dibayangkan

seandainya KH. Abdul Wahid Hasyim menolak usul tersebut. Karena

menurut KH. Abdul Wahid Hasyim persatuan bangsa yang baru lebih

penting daripada pengakuan formal terhadap Islam.

Bukti pemahaman keIslaman KH. Abdul Wahid Hasyim yang

toleran, inklusif dan tidak radikal tercermin dalam penerapan kaidah fikih

yaitu “Dar’ul mafasid muqaddamun ‘ala jalbil mashalih (mencegah

kerusakan harus didahulukan daripada berniat kebaikan). Dan pemikiran

KH. Abdul Wahid Hasyim ini bisa menjawab gerakan radikal yang ada di

Indonesia sekarang ini sebagaimana yang diungkapkan oleh Ketua

Mahkamah Konstitusi Mahfudz MD (09/06/2011 07:11) menyakatan,

”Gagasan tentang bertemunya ke-Indonesiaan dan ke-Islamanan dengan

konsep Pancasila yang sekarang ini kita anut sebagai dasar negara

sekarang sudah final. Dan pemikiran KH Wahid Hasyim ini menurut saya
33

perlu direvitalisasi, dengan jalan mempertemukan secara kuat bahwa

konsep Indonesia dengan Islam dalam Pancasila sebagai dasar negara

sebagai konsep yang final bagi seluruh rakyat indonesia. ”Sehingga tidak

perlu lagi ada pertengkaran yang mempertentangkan perlunya negara

Islam, radikalisasi dan lain-lain, itu semua bisa dijawab dengan pemikiran

KH. Abdul Wahid Hasyim, (http://www.nu.or.id/.html)

Setelah Indonesia merdeka yang dilakukan Soekarno adalah

membentuk kabinet. Di dalam kabinet pertama yang dibentuk Presiden

Sukarno (September 1945), KH. Abdul Wahid Hasyim ditunjuk menjadi

Menteri Negara. Demikian juga dalam Kabinet Sjahrir tahun 1946. Ketika

KNIP dibentuk, KH. Abdul Wahid Hasyim menjadi salah seorang

anggotanya mewakili Masyumi dan meningkat menjadi anggota BPKNIP

tahun 1946. Setelah terjadi penyerahan kedaulatan RI dan berdirinya RIS,

dalam Kabinet Hatta tahun 1950 dia diangkat menjadi Menteri Agama.

Jabatan Menteri Agama terus dipercayakan kepadanya selama tiga kali

kabinet, yakni Kabinet Hatta, Natsir, dan Kabinet Sukiman. Dalam

pembentukan kabinet baru Sukiman (1 April 1952) ia tidak dipilih lagi

menjadi menteri agama. Kedudukannya digantikan oleh KH Fakih Usman

dari Muhammadiyah. Setelah meninggalkan jabatan menteri agama ia aktif

dalam NU (Mahmud Yunus, 1995:369).

Tanggal 19 April 1953 merupakan hari penuh duka-cita. Waktu itu

hari Sabtu tanggal 18 April, KH. Abdul Wahid Hasyim ditemani tiga

orang, yakni sopirnya dari harian pemandangan, rekannya Argo Sucipta,

dan putra sulungnya. Musibah ini berawal dari rencana pergi ke Sumedang
34

untuk menghadiri rapat NU. Berkendaraan mobil Chevrolet miliknya,

yang dihela seorang sopir dari harian pemandangan, Abdurrahman putra

pertamanya duduk di depan. KH. Abdul Wahid Hasyim duduk di jok

belakang bersama Argo Sutjipto, tata usaha majalah Gema Muslim.

Ketika sampai di sekitar Cimahi dan Bandung waktu itu diguyur hujan

dan jalan menjadi licin, lalu lintas di jalan Cimindi, sebuah daerah antara

Cimahi-Bandung, cukup ramai. Sekitar pukul 13.00, ketika memasuki

Cimindi, mobil yang ditumpangi KH. Abdul Wahid Hasyim selip dan

sopirnya tidak bisa menguasai kendaraan. Di belakang Chevrolet nahas itu

banyak iring-iringan mobil. Sedangkan dari arah depan sebuah truk yang

melaju kencang terpaksa berhenti begitu melihat ada mobil zig-zag karena

selip dari arah berlawanan. Karena mobil Chevrolet itu melaju cukup

kencang, bagian belakangnya membentur badan truk dengan keras. Saat

terjadi benturan, KH. A Wahid Hasyim dan Argo Sutjipto terlempar ke

bawah truk yang sudah berhenti itu. Keduanya luka parah. Sementara sang

sopir dan Abdurrahman tidak cidera sedikit pun. Mobilnya hanya rusak

bagian belakang dan masih bisa berjalan seperti semula (Aboe Bakar

2011:330).

Lokasi kejadian kecelakaan itu memang agak jauh dari kota. Karena

itu usaha pertolongan datang sangat terlambat. Baru pukul 16.00 datang

mobil ambulan untuk mengangkut korban ke Rumah Sakit Boromeus di

Bandung. Sejak mengalami kecelakaan, kedua korban terus tidak sadarkan

diri. Pada pukul 10.30 hari Ahad, 19 April 1953, KH. Abdul Wahid

Hasyim dipanggil ke hadirat Allah Swt dalam usia 39 tahun. Beberapa jam
35

kemudian, tepatnya pukul 18.00, Argo Sutjipto menyusul menghadap

Sang Khaliq. Kemudian jenazah KH. Abdul Wahid Hasyim dibawa ke

Jakarta, kemudian dengan pesawat terbang jenazah tersebut di angkut ke

Surabaya, untuk dimakamkan di Tebuireng.

6. Diangkat Sebagai Pahlawan Nasional

Atas jasa beliau terhadap Negara republik Indonesia, KH. Abdul

Wahid Hasyim mendapatkan gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional.

Berdasarkan Surat keputusan Presiden Republik Indonesia No. 206 tahun

1964 tertanggal 24 Agustus 1964, mengingat jasa-jasanya sebagai

pemimpin Indonesia yang semasa hidupnya terdorong oleh taqwa kepada

Tuhan Yang Maha Esa dan rasa cinta tanah air dan bangsa, telah

memimpin suatu kegiatan yang teratur guna mencapai kemerdekaan nusa

dan bangsa (Azis Masyhuri, 2008:48) demikianlah pemerintah menghargai

kiprah KH Wahid Hasyim dalam mengabdi kepada negara.

B. Latar Belakang Pendidikan KH. Abdul Wahid Hasyim

Karir pendidikan KH. Abdul Wahid Hasyim dimulai sejak umur lima

tahun, ia belajar membaca al-Qur’an dan dalam waktu dua tahun ia sudah

pandai membaca kitab suci tersebut. Ketika usianya menginjak tujuh tahun, ia

mulai belajar kitab kuning, di antaranya kitab Fathul Qorib, Minhajul Qawin,

dan kitab mutammimah pada ayahnya, dan pada usia ini pulalah beliau sudah

khatam membaca al-Qur’an dan mulai belajar di Madrasah Salafiyah di

pesantren Tebuireng (Rifa’i, 2010:23). Walaupun beliau anak seorang tokoh

agama terkemuka ia tidak pernah mengenyam pendidikan di sekolah


36

pemerintahan kolonial Belanda. Dia lebih banyak belajar sendiri secara

autodidak. Kalau di dalam ilmu pendidikan terdapat konsep pendidikan

otodidak, maka hal itu telah dialami oleh KH. Abdul Wahid Hasyim. Putra

Kyai besar, pendiri organisasi NU ini, hanya belajar di pesantren. Sebagai

anak seorang kiai belum afdhol kalau belum berkelana ke pondok lainnya.

1. Pergi ke Pondok

Pondok yang yang pertama disinggahi KH. Abdul Wahid Hasyim

adalah Pondok Siwalan, Panji, sebuah pesantren tua di Sidoarjo yang di

asuh oleh Kiai Khazin, yang tak lain juga guru KH. Hasyim Asya’ri (Rizal,

2009:45). Ternyata di sana ia hanya bertahan sebulan. Dari Siwalan ia

kemudian pindah ke Pondok Pesantren Lirboyo Kediri yang di asuh KH

Abdul Karim. Akan tetapi di pesantren ini Wahid Hasyim hanya mondok

dalam waktu yang sangat singkat, hanya beberapa hari saja. Dengan

berpindah-pindah pondok dan nyantri hanya dalam hitungan hari itu,

seolah-olah yang diperlukan KH. Abdul Wahid Hasyim hanyalah

keberkahan dari sang guru. Soal ilmu, mungkin ia berpikir, bisa dipelajari

di mana saja dan dengan cara apa saja. Tapi soal memperoleh berkah,

adalah masalah lain, harus berhubungan dengan kyai. Inilah yang

sepertinya menjadi pertimbangan utama dari KH. Abdul Wahid Hasyim

ketika itu.

Sepulang dari Lirboyo, KH. Abdul Wahid tidak meneruskan belajarnya

di pesantren lain, tetapi memilih tinggal di rumah. Oleh ayahnya pilihan

tinggal di rumah dibiarkan saja, apapun keadaannya KH. Abdul Wahid

Hasyim bisa menentukan sendiri bagaimana harus belajar, Selama berada di


37

rumah semangat belajarnya tidak pernah padam, terutama belajar secara

otodidak. Meskipun tidak sekolah di lembaga pendidikan umum milik

pemerintah Hindia Belanda, pada usia 15 tahun ia sudah mengenal huruf

latin dan menguasai bahasa Inggris dan Belanda. Kedua bahasa asing itu

dipelajari dengan membaca majalah yang diperoleh dari dalam negeri atau

kiriman dari luar negeri yang di pesan oleh ayahnya.

2. Pergi Naik Haji dan Belajar

Dalam rangka mendidik KH. Abdul Wahid Hasyim, KH Hasyim

Asy’ari tentu tidaklah ia lakukan secara sendiri, selain dikirim ke pesantren

Siwalan Panji untuk belajar tasawuf, fiqih, dan tafsir al-Qur’an. KH.

Hasyim Asyar’i juga mengirim Wahid Hasyim untuk melanjutkan

belajarnya ke Makah pada tahun 1932 selama tiga tahun untuk belajar dan

beribadah haji (Lathiful Khuluq, 2009:43). Meminjam istilahnya

Bruinessen (1995:43) orang Indonesia pergi ke Makkah selain menunaikan

syari’at kewajiban bagi yang mampu, ternyata ada fungsi sosiologis haji,

banyak orang-orang Indonesia mencari ilmu di Makah dan Madinah dan

setelah pulang ke tanah air mereka mengajar kepada masyarakat di

sekitarnya. Di tanah Arab, para haji Indonesia juga bertemu dengan saudara

seiman dari seluruh dunia Islam, yang belajar kepada guru-guru yang sama,

dan dengan demikian mereka mengetahui perkembangan dan gerakan di

Negara-negara Muslim lainnya.

Sepulang dari tanah suci, ia membantu ayahnya mengajar di pesantren.

Ia juga giat terjun ke tengah-tengah masyarakat. Pada usianya baru

menginjak 20-an tahun, KH. Abdul Wahid Hasyim sudah membantu


38

ayahnya menyusun kurikulum pesantren, menulis surat balasan dari para

ulama atas nama ayahnya dalam Bahasa Arab, mewakili sang ayah dalam

berbagai pertemuan dengan para tokoh.

C. Karya-Karya KH.Abdul Wahid Hasyim

1. Karya dan Jasa-Jasa Wahid Hasyim selama Menjadi Menteri Agama

a. Mengeluarkan peraturan tentang: susunan dan tugas kewajiban kantor

pusat Kementerian Agama dan lapangan pekerjaan, susunan serta tugas

kewajiban: jawatan urusan agama, jawatan pendidikan agama dan

jawatan penerangan agama (Peraturan Menteri Agama no.2 tahun 1951

tanggal 12 januari 1951).

b. Mengeluarkan peraturan bersama menteri PPK dan Menteri Agama

tentang: pendidikan agama disekolah-serkolah negeri dan partikelir (20

Januari 1951).

c. Menyusun top formasi pegawai kantor pendidiakan agama di propinsi-

propinsi dan kabupaten-kabupaten seluruh Indonesia (26 januari 1951).

d. Mendirikan kantor-kantor pendidikan agama di propinsi-propinsi dan

kabupatan-kabupaten seluruh Indonesia (30 Januari 1951).

e. Mendirikan SGHA Negeri di Kotaraja (Aceh) (13 Januari 1951).

f. Mendirikan SGHA Negeri di Bukittinggi (13 februari 1952).

g. Mendirikan PGA Negeri di Tanjung Pinang (13 mei 1951).

h. Mengusahakan keluarnya putusan menteri PPK dengan persetujuan

Menteri Agama tentang: penghargaan ijazah-ijazah Madrasah (17 juli

1951).

i. Mendirikan PGA Negeri di Kotaraja (14 Agustus 1951).


39

j. Mendirikan PGA Negeri di Padang (16 Agustus 1951).

k. Mendirikan PGA Negeri di Banjarmasin (16 Agustus 1951).

l. Mendirikan PGA Negeri di Jakarta (16 Agustus 1951).

m. Mendirikan PGA Negeri di Tanjung Karang (16 Agustus 1951).

n. Mendirikan PGA Negeri di Bandung (2 Agustus 1951).

o. Mendirikan PGA Negeri di Pamekasan (2 Agustus 1951).

p. Mendirikan SGHA Negeri di Bandung (2 Agustus 1951).

q. Menetapkan rencana pendidikan agama Islam di sekolah-sekolah

rakyat dari kelas IV-VI (6 Mei 1951).

r. Menetapkan rencana pendidikan agama Islam di sekolah-sekolah

Lanjutan tingkat pertama (31 Agustus 1951).

s. Mengeluarkan peraturan bersama menteri PPK dan Menteri Agama

tentang peraturan PTAIN di Yogyakarta (21 Oktober 1951) (Mahmud

Yunus, 1995:369).

2. Karya Tulis KH. Abdul Wahid Hasyim

KH.A.Wahid Hasyim adalah seorang tokoh produktif dalam

menyampaikan pemikirannya lewat tulisan-tulisan (karya ilmiah) yang

banyak diterbitkan oleh media, akan tetapi ide-idenya tersebut belum

sempat di buat dalam buku. Di antara karya-karyanya yaitu:

a. “Nabi Muhammad dan Persaudaran Manusia”. Karya ini merupakan

pidatonya saat acara pembukaan perayaan Maulid Nabi Muhammad

Saw. yang di adakan di Istana Negara, Jakarta, pada 2 Januari 1950,

dan merupakan perayaan pertama sesudah penyerahan kedaulatan

Republik Indonesia.
40

b. “Kebangkitan Dunia Islam”. Karya ini merupakan tulisan di media

Mimbar Agama edisi No. 3-4, maret-april 1951.

c. “Beragamalah Dengan Sungguh Dan Ingatlah Kebesaran Tuhan”.

Karya ini merupakan semacam pidato untuk perayaan Hari Raya Idul

Fitri yang pada saat itu, Indonesia masih berbentuk serikat.

d. “Hari Raya sebagai Ukuran Maju-Mundurnya Umat” dalam berita

Nahdlatul Ulama, No. 3, Th,ke 7, Desember, 1937, hal 2-5.

e. “Arti dan Isi Al-Fatihah” Berita Nahdlatul Ulama, No. 14, Th,ke VII,

15 Mei 1938, hal 1-3.

f. “Islam Agama Fitrah (dasar manusia)” Suara Muslimin Indonesia, No.

7, Th,ke II, April, 1944, hal 2-4.

g. “Latihan Lapar adalah Kebahagiaan Hidup Perdamaian Dunia”

penyiaran Kementerian Agama, No. 4, 1309, hlm. 3-4.

h. “Perkembangan Politik Masa Pendudukan Jepang” dari Nota Politik

(November 1945).

i. “Apakah Meninggalnya Stalin Membawa Pengaruh Pada Umat

Islam”juga pada umat Islam Indonesia?” dari Gema Muslimin Tahun 1

No. 2, 1 April 1953.

j. “ Di Belakang Perebutan Kekuasan Jendral Najib di Mesir”, Ceramah

(1952).

k. “Umat Islam Indonesia dalam Menghadapi Perimbangan Kekuatan

Politik Daripada Partai-partai dan Golongan-Golongan”. Catatan

(disiarkan dalam kalangan terbatas pada 1952).


41

l. “Menyosong Tahun Proklamasi Kemerdekaan yang ke Delapan”,

Jakarta 14 Agustus 1952.

m. “Suluh”, dalam Th,I, Berita Nahdlatul Ulama, No, Th,1, April, hlm,1-

12.

n. “Masyumi Lima Tahun”, Kutipan dari Suara Partai Masyumi, No, 11

tahun ke-5, Desember 1950.

o. “Mengapa Saya Memilih Nahdlatul Ulama” dalam Gema Muslimin

ke-1 November 1953.

p. “Analisa Kelemahan Penerangan Islam”, salah satu uraian untuk

konferensi, (1951).

q. “Fanitisme dan Fanatisme”, dalam Gempita No.1 tahun ke-1 (15 Maret

1955).

r. “Siapakah Yang Akan Menang Dalam Pemilihan Umum Yang Akan

Datang” dalam Gema Muslimin, tahun ke-1 Maret 1953.

s. “Akan Menangkah Umat Islam Dalam Pemilihan Umum Yang Akan

Datang?”

t. “Kedudukan Umat Islam Dalam Masyarakat Islam Indonesia”.

u. “Umat Islam Indonesia Menunggu Ajalanya, Tetapi Pemimpin-

Pemimpinya Tidak Tahu”. Tulisan ini ditulis dengan nama samaran

“makmum bingung” pada awal 22 Desember 1951.

v. “Abdullah Ubaid sebagai Pendidik” dalam suluh NU, Agustus 1941,

tahun ke-1 No, 5.

w. “Kemajuan Bahasa, Berarti Kemajuan Bangsa” dalam Suara Ansor,

Rajab 1360 Th,IV No.3, ditulis dengan nama Banu Asya’ri.


42

x. “Pendidiakn Ketuhanan” dalam Mimbar Agama Tahun 1 No,5-6, 17

Desember 1950.

y. “Perguruan Tinggi Islam”, pidato menyambut berdirinya Universitas

Islam Sumatra Utara di Medan 21 Juni 1952.

z. “Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri”, Pidato pada pembukaan dan

penyerahan PTAIN di Ypgyakarta 26 September 1951.

aa. “Pentingnya Terjemahan Hadis pada Masa Pembangunan”, termuat

sebagai kata sambutan dalam kitab Terjemahan Hadis Bukhari (1953)

diterbitkan Fa, Widjaja: Jakarta.

bb. “Tuntutan Berfikir”, kata pendahuluan agenda Kementerian Agama

1951-1952.

cc. “Islam: anatara Materialisme dan Mistik”, ceramah pada malam

purnama sidi kamis malam, 4 Desember 1952, di Jl. Pegangsaan Timur

No. 56, Jakarta. Diambil dengan tulisan cepat oleh Abd. Halim.

dd. “Sekitar Pembentukan Kementerian Agama RIS” dalam Mimbar

Agama Tahun 1 No.3-4, Maret-April 1951.

ee. “Kedudukan Islam di Indonesia”, nota tentang Peneranmgan Agama

(1959).

ff. “Tugas Pemerintah Terhadap Agama”, pidato yang diucapakan dalam

konferensi Kementerian Agama dalam pengurus-pengurus besar

organisasi Islam non-politik, Jakarta 4-6 November 1951.

gg. “Membangkitkan Kesadaran Beragama”, Pidato diucapkan dalam

sidang resepsi konferensi Kementerian agama di Bandung 21-22

Januari 1951.
43

hh. “Perbaikan Perjalanan Haji” dalam Mimbar Agama Tahun 1 No.2, 17

Agustus 1951.

ii. “Laporan Perjalanan ke Jepang”, dikemukakan kepada P.h.I.

Kementerian Agama dan Pemerintah 1952.

jj. “menyelapkan yang Kolot” dalam Majalah Suara Muslimin Indonesia,

1 Juni 1944.

kk. “ Kebangkitan Dunia Islam” dalam Suara Muslimin Indonesia, 15

Agustus 1944, Th.Ke-2,No. 16 (Abu Bakar, 2011:378-772 dan Rifa’I,

2010, 42-46).
44

BAB III

MENGENAL PONDOK PESANTREN

DAN PEMIKIRAN PEMBAHARUAN SISTEM PENDIDIKAN

PESANTREN MENURUT KH. ABDUL WAHID HASYIM

A. Sejarah Pondok Pesantren

Secara historis, pesantren sebagai lembaga pendidikan tempat pengajaran

tekstual baru muncul pada akhir abad ke-18. Pesantren sebagai institusi

pendidikan Islam yang dinilai paling tua, pesantren juga memiliki akar sejarah

yang jelas. Tokoh yang pertama kali mendirikan pesantren adalah Maulana

Malik Ibrahim, yang dikenal dengan Syaikh Magribi (Saifuddin Zuhri,

2010:134). Akan tetapi data-data historis tentang bentuk institusi, materi,

metode maupun secara umum sistem pendidikan pesantren yang dibangun

Syaikh Maghribi tersebut sulit ditemukan hingga sampai sekarang. Tidaklah

layak untuk segera menerima kebenaran informasi tersebut tanpa virifikasi

yang cermat. Namun secara esensial dapat diyakinkan bahwa wali yang berasal

dari Gujarat ini memang telah mendirikan pesantren di Jawa sebelum wali

lainnya. Pesantren dalam pengertian hakiki, sebagai tempat pengajaran para

santri meskipun bentuknya sangat sederhana telah dirintasnya, lebih dari itu

kegiatan mengajar santri menjadi bagian terpadu dari misi dakwahnya.

Kalau berbicara tentang perkembangan ajaran Islam dalam masyarakat

Indonesia, maka perlibatan pesantren menjadi suatu keniscayaan yang sama

sekali tidak dapat diabaikan, pesantren sejak awal kemunculannya memang

tidak dapat dilepaskan dari masyarakat. Lembaga ini tumbuh dan berkembang

44
45

dari dan untuk masyarakat. Ia hadir untuk mengabdikan dirinya

mengembangkan dakwah Islam dalam pengertian luas. Pesantren telah diakui

sebagai lembaga yang telah ikut serta mencerdaskankan bangsa.

Pesantren merupakan suatu komunitas tersendiri, dimana kiai, ustad, santri

dan pengurus pesantren hidup bersama dalam satu lingkungan pendidikan

berlandaskan nilai-nilai agama Islam lengkap dengan norma-norma dan

kebiasaannya (Malik, 2005:3) Pondok Pesantren walaupun dikategorikan

sebagai lembaga pendidikan tradisional mempunyai sistem pengajaran,

kurikulum tersendiri, dan itu menjadi ciri khas pondok pesantren

1. Metode Pengajaran di Pesantren

Ada beberapa metode pengajaran yang menjadi ciri utama pembelajaran

di pondok pesantren salafiyah.

a. Bandongan

Metode bandhongan dilakukan dengan cara kiai/guru membacakan

teks-teks kitab yang berbahasa Arab, menerjemahkan ke dalam bahasa

lokal, dan sekaligus menjelaskan maksud yang terkandung dalam kitab

tersebut. Sedangkan santri menyimak dan menulis arti kitab yang

dibacakan oleh kiai. Dalam metode bandongan ini, hampir tidak pernah

terjadi diskusi antara kiai dan santri (Pradjarta, 1999:149-150).

Metode Bandongan dilakukan oleh seorang kyai atau ustadz terhadap

sekelompok peserta didik atau santri, untuk mendengarkan dan

menyimak apa yang dibacanya dari sebuah kitab. Seorang kyai atau

ustadz dalam hal ini membaca, menerjemahkan, menerangkan dan

seringkali mengulas teks-teks kitab berbahasa Arab tanpa harakat


46

(gundul). Sementara itu santri dengan memegang kitab yang sama,

masing-masing melakukan pendhabithan harakat, pencatatan simbol-

simbol kedudukan kata, arti-arti kata langsung dibawah kata yang

dimaksud, dan keterangan-keterangan lain yang dianggap penting dan

dapat membantu memahami teks. Posisi para santri pada pembelajaran

dengan menggunakan metode ini adalah melingkari dan mengelilingi

kyai atau ustadz sehingga membentuk halaqah (lingkaran). Dalam

penterjemahannya kyai atau ustadz dapat menggunakan berbagai bahasa

yang menjadi bahasa utama para santrinya, misalnya: bahasa Jawa,

Sunda, atau bahasa Indonesia.

b. Sorogan

Sorogan, berasal dari kata sorog (bahasa Jawa), yang berarti

menyodorkan, yang dimaksudnya disini menyodorkan kitab di hadapan

kiai. Sorogan adalah semacam metode CBSA (cara belajar siswa aktif)

yang santri aktif memilih kitab, biasanya kitab kuning, yang akan

dibaca, kemudian membaca dan menerjemahkannya dihadapan kiai,

sementara itu kiai mendengarkan bacaan santrinya dan mengoreksi

bacaan atau terjemahannya jika diperlukan (Pradjarta, 1999:149-150).

Sistem sorogan ini termasuk belajar secara individual, dimana

seorang santri maju satu per satu untuk membaca dan menguraikan isi

kitab di hadapan guru atau Kiai. Metode pengajaran ini termasuk

metode pengajaran yang sangat bermakna karena santri akan merasakan

hubungan langsung dengan kiai. Santri tidak saja dibimbing dan


47

diarahkan cara membacanya tetapi dapat di evaluasi perkembangan

kemampuan membaca kitab.

Sistem sorogan ini terbukti sangat efektif sebagai taraf pertama

bagi seorang murid yang bercita-cita menjadi seorang alim. Sistem

ini memungkinkan seorang guru mengawasi, menilai dan membimbing

secara maksimal kemampuan seorang murid dalam menguasai bahasa

Arab. Dalam metode sorogan, santri membaca kitab kuning dan

memberi makna sementara guru mendengarkan sambil memberi catatan,

komentar, atau bimbingan bila diperlukan. Akan tetapi, dalam metode

ini, dialog antara guru dengan murid belum tentu atau tidak terjadi.

Metode sorogan, diduga sangat kuat merupakan tradisi pesantren,

mengingat sistem pengajaran di pesantren memang secara keseluruhan.

Hal ini lagi-lagi menunjukkan ciri khas pondok pesantren dengan

mempertahankan tradisi warisan masa lalu yang cukup jauh.

c. Metode Bahtsul Masa`il

Metode Bahtsul Masa`il merupakan pertemuan ilmiyah, yang

membahas masalah diniyah, seperti ibadah, aqidah dan masalah agama

pada umumnya. Metode ini sesungguhnya tidak jauh berbeda dengan

metode musyawarah. Hanya bedanya, pada metode Bahtsul Masa`il

pesertanya adalah para kyai atau para santri tingkat tinggi. Dalam forum

ini, para santri biasanya membahas dan mendiskusikan suatu kasus di

dalam masyarakat sehari-hari untuk kemudian dicari pemecahanannya

secara fiqih (yurisprudensi Islam). Pada dasarnya santri tidak hanya

belajar memetakan dan memecahkan suatu permasalahan hukum yang


48

perkembang dimasyarakat, namun dalam forum ini para santri juga

belajar berdemokrasi dengan menghargai pluralitas pendapat yang

muncul dalam forum (Dian Nafi’ dkk, 2007:69).

d. Metode Musyawaroh

Metode musyawaroh ini pertama kali di lakukan oleh Hadhratusy

Syaikh Hasyim Asy’ari. Dan metode musyawarah banyak dijumpai di

pondok pesantren salafiyah. Metode ini dilaksanakan dalam rangka

pendalaman atau pengayaan materi-materi yang sudah dipelajari santri

(kitab-kitab kuning). Yang menjadi ciri metode ini, santri dan guru

biasanya terlibat debat dalam sebuah forum perdebatan untuk

memecahkan masalah yang ada. Dalam musyawarah ini santri

diperkenankan berdebat secara babas asal tetap memiliki kerangka

acuan yakni kitab-kitab utama (Ali Yahya, 2007:16).

Kegiatan musyawarah adalah merupakan aspek dari proses belajar

dan mengajar di pesantren salafiyah yang telah menjadi tradisi

khususnya bagi santri-santri yang mengikuti sistem klasikal. Kegiatan

ini suatu keharusan bagi para santri, sama halnya seperti keharusan

mengikuti kegiatan belajar kitab-kitab dalam proses belajar mengajar.

Bagi santri yang tidak mengikuti atau mengindahkan peraturan kegiatan

musyawarah, akan dikenai sangsi, karena musyawarah sudah menjadi

ketetapan pesantren yang harus ditaati untuk dilaksanakan.

Beberapa metode diatas banyak diterapkan di pondok-pondok

pesantren, dan antara metode yang satu dengan yang lainnya saling

berkaitan erat dan mempunyai kelemahan serta kelebihan masing-masing,


49

sehingga pondok-pondok pesantren sampai sekarang masih

mempertahankan metode tersebut, dan itu menjadi lambang supremasi serta

ciri khas metode pengajaran di Pondok Pesantren. Metode-metode

pembelajaran tersebut tentunya belum mewakili keseluruhan dari metode-

metode pembelajaran yang ada di pondok pesantren, tetapi setidaknya paling

banyak diterapkan di lembaga pendidikan pesantren.

2. Kondisi Pesantren di Indonesia

a. Keadaan Pesantren sebelum kemerdekaan

Perkembangan Islam di Indonesia tidak akan luput dari peran

pesantren, dalam perkembangannya, sejarah pendidikan di Indonesia

mencatat bahwa pondok pesantren merupakan bentuk lembaga

pendidikan pribumi yang tertua di Indonesia. Pondok Pesantren yang

kita kenal sekarang ini pada mulanya merupakan pengambilalihan dari

sistem pondok pesantren yang di adakan orang-orang Hindu di

Nusantara. Hal ini didasarkan pada fakta bahwa jauh sebelum datangnya

Islam ke Nusantara, lembaga pendidikan pondok pesantren pada masa

ini, di gunakan sebagai tempat mengajarkan ajaran-ajaran agama Hindu.

Fakta lain yang menunjukkan bahwa pondok pesantren bukan berasal

dari tradisi Islam, buktinya tidak di temukan lembaga pondok pesantren

di Negara-negara Islam lainya.(Depag, 2003-8)

Menurut Nur Cholish Madjid (1997:3) Kalau kita mencari lembaga

pendidikan yang indigenous, asli Indonesia dan berakar kuat dalam

masyarakat tentu kita akan menempatkan pesantren di tangga teratas.

Sebab, dari segi historis pesantren tidak hanya identik dengan makna
50

keislaman, tetapi juga mengandung makna keaslian Indonesia

(indigenous). lembaga yang serupa pesantren ini sebenarnya sudah ada

sejak pada masa kekuasaan Hindu-Buddha. Sehingga Islam tinggal

meneruskan dan mengislamkan lembaga pendidikan yang sudah ada.

Tentunya ini tidak berarti mengecilkan peranan Islam dalam

memelopori pendidikan di Indonesia.

Pada tahun 1882 pemerintah Belanda mendirikan Priesterreden

(Pengadilan Agama) yang bertugas mengawasi kehidupan beragama dan

pendidikan pesantren. Tidak begitu lama setelah itu, dikeluarkan

Ordonansi tahun 1905 yang berisi peraturan bahwa guru-guru agama

yang akan mengajar harus mendapatkan izin dari pemerintah setempat.

Peraturan yang lebih ketat lagi dibuat pada tahun 1925 yang membatasi

siapa yang boleh memberikan pelajaran mengaji. Akhirnya, pada tahun

1932 peraturan dikeluarkan yang dapat memberantas dan menutup

Madrasah dan sekolah yang tidak ada izinnya atau yang memberikan

pelajaran yang tak disukai oleh pemerintah. (Dhofier 1984:41,dan

Zuhairini 2010:149)

Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang unik tidak saja

karena keberadaannya sudah mapan yang sudah sangat lama, tetapi juga

karena kultur, metode dan jaringan yang di terapkan oleh lembaga

agama tersebut. Pesantren berwatak tidak larut atau menentang budaya

di sekitarnya. Yang jelas pesantren selalu kritis sekaligus membangun

relasi harmonis dengan kehidupan di sekelilingnya.Pesantren hadir

meminjam istilah Abdurrahman Wahid (2007:88) sebagai subkultur,


51

budaya sandingan, yang selaras dengan budaya setempat sekaligus tegas

menyuarakan prinsip syari’at.

Pada zaman penjajahan, pesantren menjadi basis perjuangan kaum

nasionalis-pribumi. Banyak perlawanan terhadap kaum kolonial

Belanda yang berbasis pada dunia pesantren. Pesantren sebagai sebagai

lembaga pendidikan keagamaan memiliki basis sosial yang jelas, karena

keberadaannya menyatu dengan masyarakat. Ketika lembaga-lembaga

sosial yang lain belum berjalan secara fungsional, maka pesantren

menjadi pusat aktivitas sosial masyarakat, mulai orang belajar ilmu

agama sampai pada menyusun perlawanan terhadap kaum penjajah.

Dunia pesantren tidak lagi hanya mementingkan denyut aspirasi orang-

orang dalam lingkungan dindingnya, tetapi turut melangkah ke luar

melangkah keluar menyertai saudara-saudara yang senasib

sepenanggungan. Pesantren bukan hanya berfungsi semacam benteng

yang diam ditempat, akan tetapi juga berfungsi semacam “benteng

stelselnya” de Kock ketika menghadapi perang Diponegoro. Ia ikut

mengambil peranan sebagai benteng yang bergerak.(Saifuddin

Zuhri,2007:124-125), semua dilakukan di pesantren yang pimpin

seorang kiai. Figur kiai tidak hanya menjadi pemimpin agama tetapi

sekaligus juga pemimpin gerakan sosial politik masyarakat. Karena

pesantren memiliki akar yang kuat untuk menjadi basis perjuangan

rakyat. Di samping mempunyai jaringan sosial yang kuat dengan

masyarakat, pesantren juga memiliki jaringan yang kuat sesama

pesantren, karena sebagian besar pengasuh pesantren tidak saja terikat


52

kesamaan pola pikir, paham keagamaan, tetapi juga memilik hubungan

intelektual dan kekerabatan yang cukup erat.(Zamakhsari

Dhofir,1982:62).

Hal ini yang menyebabkan kohesifitas dunia pesantren menjadi

sangat kuat adalah adanya kesamaan ideologi. Hampir semua pesantren

di Indonesia mempunyai kesamaan referensi dengan metode pengajaran

dan pemahaman keagamaan yang sama pula. Kekuatan jaringan

pesantren ini banyak ditentukan oleh para kiai. Sejak abad ke-17

jaringan antara kiai di Jawa dengan ulama di dua kota suci, Makkah dan

Madinnah sangat kuat. Mata rantai keilmuan para kiai di Jawa dan

Nusantara dapat dilacak sampai kepada para ulama di Haramain.

Jaringan keilmuan yang kuat ini menempatan pesantren di Nusantara

sebagai lembaga yang diperhitungkan didunia Islam. Mata rantai

keilmuan ini menepis anggapan bahwa jaringan ulama di Nusantara dan

timur tengah bercorak politis ketimbang keagamaan. Menurut Azra

setidaknya sejak abad ke-17 hubungan di antara kedua wilayah Muslim

ini umumnya bersifat keagamaan dan keilmuan, mesti juga terdapat

hubungan politik antara beberpa kerajaan Muslim nusantara.(Azyumardi

Azra, 1995:16-17). Azra juga menjelaskan bahwa ajaran Islam yang

berkembang di Nusantara, termasuk pesantren-pesantren, memiliki

kekhasan lokal dalam pembelajaran dan pemasyarakatan, sekaligus

keilmuan dan keagamaan, yang diakui di dunia Muslim lainnya.

Jaringan ini juga memberikan manfaat tersedianya guru di pesantren-


53

pesantren nusantara. Pesantren kemudian memiliki jumlah guru yang

sebagian besar dari lulusan timur tengah.

Meski pesantren menjadi basis perjuangan terhadap kaum penjajah,

namun dia tidak menanamkan ideologi fundamentalis yang

mengesahkan tindakan kekerasan. Hal ini dibuktikan dengan kitab-kitab

yang dipelajari, dan sistem nilai yang diterapkan oleh dunia pesantren.

Dunia pesantren pada umumnya hanya menerapkan kajian pada ilmu-

ilmu terapan seperti fiqih, tassawuf dan ilmu alat: terutama gramernya

Bahasa Arab (nahwu-sharaf) karena tata bahasa Arab diuraikan dengan

cara yang tidak begitu mudah, lamanya belajar untuk ilmu nahwu

sharaf ini bisa berbeda yaitu dari enam bulan sampai dengan enam tahun

lebih, kadang tergantung kiai dan bakat santri (Karel A.Streenbrink,

1991:23). Pesantren tidak mengajarkan pemahaman keislaman yang

radikal tetapi Islam yang kultural, hal inilah yang menyebabkan

pesantren bisa diterima oleh masyarakat karena dianggap menampilkan

Islam yang lebih toleran dan fleksibel, mengerti perasaan dan jiwa

masyarakat.

Bukti pemahaman keislaman dunia pesantren yang toleran, inklusif

dan tidak radikal tercermin dalam penerapan kaidah fiqih produk ulama

abad pertengahan, seperti almukhafadzatu ‘ala qadiimisshalih wal

akhdzu bi jadiidil ashlah (menjaga nilai yang lama yang baik dan

mengambil nilai yang baru yang lebih baik). Kaidah ini mencerminkan

adanya toleransi kalangan pesantren terhadap nilai-nilai dan tradisi yang

ada. Di lain sisi pesantren tidak mudah terjebak dalam sikap puritan dan
54

simbolik. Pesantren juga menggunakan kaidah dar’ul mafasid

muqaddamun ‘ala jalbil mashalih (mencegah kerusakan harus di

dahulukan daripada berniat kebaikan). Inilah beberapa kaidah yang di

anut oleh kalangan pesantren dalam mensosialisasikan pemahaman

keagamaan yang rahmatalilalamin.

Dengan paham ini, pesantren terbukti dapat menjadi sumber

kekuatan dalam melawan penjajah. Perlawanan terhadap kaum penjajah

dilakukan dengan cara-cara kultural yakni membangun budaya

tandingan (counter culture) yang efektif, menanamkan kesadaran

keislaman yang nasionalistik. Perjuangan dengan cara kekerasan

dilakukan sebagai alternatif yang terakhir dengan pertimbangan yang

matang, sebagaiman terjadi di Surabaya pada tanggal 10 november 1945

dengan seruan Resolusi Jihad yang dikeluarakan oleh KH. Hasyim

Asyari.

b. Keadaan Pesantren Pasca kemerdekaan

Dalam perkembangan pasca kemerdekaan pesantren berhadapan

dengan arus modernisme. Akibatnya terjadi perubahan format, bentuk,

orientasi dan metode pengajajaran dalam dunia pesantren. Namun

demikian perubahan tersebut tidak sampai berubah visi, misi, dan

orientasi pesantren. Dapat dikatakan, perubahan tersebut hanya pada sisi

luarnya saja, sementara itu pada sisi dalam, yaitu ruh, semangat,

pemahaman keagamaan, nila-nilai tradisi dan ideologi pesantren masih

tetap dipertahankan. Zaman sudah demikian maju, dunia terus


55

berkembang, teknologi dan modernisasi terus berjalan merasuk ke

segala lini, termasuk pesantren didalamnya.

Pada masa ini, Mujamil Qomar (2011:13) mengatakan pesantren

merasakan nuansa kebebasan. Kemerdekaan merupakan momentum

bagi seluruh sistem pendidikan untuk berkembang lebih bebas, terbuka,

dan demokratis. Dunia pesantren menyambut munculnya pendidikan

baru yang belum dirasakan sebelumnya akibat tekakanan-tekanan

politik penjajah. Mereka bersemangat mendorong anak-anak usia

sekolah agar menempuh pendidikan. Akan tetapi pemeritahan yang baru

merdeka, masyarakat dan pemerintah lebih mengutamakan sekolah-

sekolah dan pendidikan tinggi modern. Akibatnya pesantren mengalami

stagnasi. Baru awal tahun 2001 pemerintah menyadari pentingnya

potensi yang dimiliki pesantren untuk menyantuni kebutuhan

pendididikan bagi generasi muda pendesaan dan pinggiran kota

(Zamakhsari Dhofier, 2009:65).

Eksistensi pesantren di masyarakat tidak dianggap biasa. Pesantren

reputasi yang cukup baik dalam memberi kontribusi bagi

pengembangan pendidikan bangsa. Namun, kini reputasi pesantren

tampaknya dipertanyakan oleh sebagian masyarakat Muslim Indonesia.

Mayoritas pesantren sekarang ini berada jauh dari realitas sosial.

Terkadang lulusan pesantren kalah bersaing atau tidak siap berkompetisi

dengan lulusan pendidikan lainnya dalam urusan profesionalisme di

dunia kerja. Dunia pesantren dihadapkan kepada masalah-masalah

globalisasi dan kasus yang paling terakhir tentang terorisme. Dunia


56

pesantren mengalami titik mengkhawatirkan dari kasus paling mutakhir

ini adalah identifikasi pesantren sebagai basis doktrin terorisme dan

sarang teroris.

Menghadapi situasi yang demikian, diperlukan kearifan dan

kekritisan dan mensikapi sebuah realitas. Pesantren tidak perlu menepis

isu keterkaitan teroris dengan dunia pesantren, dengan cara menutup diri

terhadap segala upaya penyelidikan dan tindakan hukum. Yang perlu

dilakukan adalah melakukan klarifikasi secara intensif terhadap

masyarakat bahwa pesantren mereka tidak memiliki keterkaitan dengan

ideologi kekerasan, kemudian aktif bertindak melawan segala bentuk

kekerasan. Dengan demikian masyarakat akan tahu pesantren mana

yang memiliki ideologi Islam radikal dan Islam toleran, inklusif.

Dalam sejarah Indonesia pesantren telah berhasil menjadi bagian

penting dalam pembentukan idelogi Negara dan karakter bangsa yang

dapat membangun harmoni, baik dalam intra-agama maupun antar-

agama. Melalui sosok KH. Abdul Wahid Hasyim dalam konstituante,

kalangan pesantren menjadi kelompok yang dapat menerima pancasila

sebagai jalan tengah di tengah pertentangan ideologi Negara. Alasannya

prinsip-prinsip Pancasila tidak bertentangan dengan dasar agama Islam,

lebih dari itu pancasila dapat mempersatukan semua eleman bangsa

(Zuhairi Misrawi, 2011:7). Lebih lanjut Misrawi mengatakan

menjadikan pesantren sebagai kaderisasi teroris merupakan

penyimpangan dari nilai-nilai kepesantrenan yang mengajarkan

toleransi dan kemuliaan.


57

B. Pemikiran KH. Abdul Wahid Hasyim di Bidang Pembaharuan Sistem

Pendidikan Pesantren

Sebagai seorang pendidik KH. Abdul Wahid Hasyim termasuk seorang

pembaharu dalam lingkungan Madrasah dan pesantren. Bagi KH. Abdul Wahid

Hasyim, metode sekolah dapat diterapkan dalam pembaharuan pesantren tanpa

menghilangkan kepribadian yang menjadi ciri khas Madrasah dan pesantren.

Pembaharuannya dilakukan secara bijaksana dengan menanamkan pengertian

serta kesadaran tentang arti penting pengorganisian (manajemen) yang baik.

Pesanten sebagai dunia santri berbeda dengan perguruan tinggi atau sekolahan.

Pesantren juga bukan sekedar asrama pelajar. Pesantren adalah sebuah sistem

pendidikan yang telah mempunyai tradisi tersendiri. Pesantren inilah yang

menimbulkan salah satu inspirasi bagi Ki Hajar Dewantara tatkala

mencetuskan idenya membangun Perguruan Taman Siswa (Haidar, 2009:74).

Salah satu ciri tradisi pesantren yang masih kuat dipertahankan di sebagian

besar pesantren adalah pengajian kitab salaf. Kitab salaf yang lebih dikenal di

kalangan luar pesantren dengan sebutan kitab kuning, merupakan kitab-kitab

yang disusun para sarjana Islam abad pertengahan. Kitab-kitab tersebut dalam

konteks penyusunan dan awal penyebarluasannya merupakan karya intelektual

yang tidak ternilai harganya dan hanya mungkin disusun oleh ulama jenius

dalam tradisi keilmuan dan kebudayaan yang tinggi pada jamannya. Isi yang

disajikan kitab kuning hampir selalu terdiri dari dua komponen; pertama matan

dan kedua syarah. Matan adalah isi inti yang akan dikupas oleh syarah. Dalam

lay out-nya, matan diletakkan di luar garis segi empat yang mengelilingi
58

syarah. Lembaran-lembarannya dapat dipisah-pisahkan sehingga lebih

memudahkan pembaca untuk menelaahnya.

Pikiran-pikiran beliau berkarakter progresif dan berjangkauan luas ke

depan. Hal ini tampak dari perspektifnya mengenai ilmu pengetahuan dan juga

dari praktik mendidik putra-putrinya. Berbeda dari kebanyakan santri jebolan

pesantren lainnya, KH. Abdul Wahid Hasyim yang bahkan lahir dan tumbuh

dari keluarga pesantren, beliau melihat pentingnya ilmu umum dan

penguasaan bahasa asing selain Bahasa Arab yang diwajibkan bagi para

santri. Sejalan dengan pandangannya itu semua putra-putrinya dimasukkan ke

lembaga pendidikan modern, tanpa meninggalkan pengetahuan agama, yang

merupakan basis intelektual dan kultural yang ditekankannya. Berbekalkan

ketajaman nalar dan semangat berjuang untuk membela umat, KH Wahid

Hasyim melakukan langkah-langkah perubahan besar di tengah-tengah

masyarakat yang masih diwarnai oleh suasana tradisional. KH. Abdul Wahid

Hasyim adalah orang yang berani dan telah melakukan lompatan berpikir yang

amat jauh, keluar dari sarang tradisi masyarakatnya, lalu masuk ke dalam

dunia modern, bahkan terlampau fenomenal untuk ukuran pada saat itu.

Menelaah pemikiran KH. Abdul Wahid Hasyim terkait pembaharuan

sistem pendidikan pesantren adalah sangat sulit. Hal ini karena minimnya

leteratur yang ada. Namun terlepas dari itu, penulis mencoba dengan maksimal

untuk merumuskan pembaharuan yang di lakukan KH. Abdul Wahid Hasyim

dalam beberapa sub-tema, yaitu:


59

1. Aspek Metode

Sebagai langkah awal ia mengusulkan perubahan metode pengajaran

di pondok pesantren kepada ayahnya. Madrasah Nizamiah, yang dibentuk

pada tahun 1934, menjadi terobosan bagi KH. Abdul Wahid Hasyim untuk

melakukan perubahan secara radikal, yang mana belum dilakukan oleh

pondok lain. Ketika itu KH. Abdul Wahid Hasyim, baru berusia 19 tahun

saat ia kembali dari menempuh sekolah di Makkah (KPG Tempo,

2011:65) begitu pulang, ia mengusulkan kepada ayahnya untuk mengubah

sistem pendidikan pesantren. Seperti sudah kita ketahui bersama bahwa

ada dua metode pembelajaran yang diterapkan di pesantren yaitu sorogan

dan bandongan. Pada sistem sorogan ini, antara guru dan murid sama-

sama aktif. Guru harus mengawasi, menilai, dan membimbing secara

individual kemampuan seorang santri. Di sisi lain, santri juga dituntut

harus “mempresentasikan” kemampuannya dalam membaca kitab kuning

face to face dengan sang kyai, dalam hal lain seorang santri harus selalu

siap untuk menjawab pertanyaan yang diajukan kiai atau santri lain.

(Ridlwan Nasir, 2005:113).

Sistem sorogan merupakan bagian yang paling sulit dalam

keseluruhan sistem pendidikan di pesantren karena menuntut kesabaran,

kerajinan, ketaatan dan disiplin pribadi dari santri. Tetapi, sistem ini

dinilai juga efektif untuk menyiapkan santri yang mumpuni karena

mendapatkan bimbingan langsung dari para gurunya.

Metode ini juga menyimpan beberapa kelemahan, diantaranya adalah

ketika tidak terjadi dialog antara murid dan guru. Murid menjadi pasif.
60

Kegiatan belajar belajar mengajar terpusat pada guru. Akhirnya, daya

kreativitas dan aktivitas murid menjadi lemah. Dalam hal ini, guru tidak

segera memperoleh umpan balik tentang penguasaan materi yang

disampaikan. Maka, untuk hal yang terakhir ini, guru menyediakan se-

kurang-kurangnya waktu dan kesempatan kepada murid untuk bertanya.

Metode sorogan merupakan kegaiatan pembelajaran bagi para santri yang

lebih menitikberatkan pada pengembangan kemampuan perseorangan

(individu).

Sedangkan sistem yang kedua yaitu bandongan, seorang guru akan

membacakan, menerjemahkan, menerangkan, dan mengulas sebuah kitab

kuning di hadapan sekelompok santri (jumlahnya bisa tak terbatas, antara

5 sampai 500) yang mendengarkan dan menyimak penjelasan tersebut

sambil memberi catatan pada kitab miliknya sendiri (Depag, 2003:40).

Metode bandongan ini merupakan metode ceramah, dimana para santri

mengikuti pelajaran dengan duduk di sekeliling kyai yang menerangkan

pelajaran, santri menyimak kitab masing-masing dan membuat catatan.

Metode bandongan atau wetonan dapat bermanfaat ketika jumlah murid

cukup besar dan waktu yang tersedia relatif sedikit, sementara materi yang

harus disampaikan cukup banyak.

Metode Bandongan disebut juga dengan metode wetonan. Metode ini,

berbeda dengan metode sorogan. Metode Bandongan dilakukan oleh

seorang kyai atau ustadz terhadap sekelompok peserta didik, atau santri,

untuk mendengarkan dan menyimak apa yang dibacanya dari sebuah kitab.

Pada sistem bandongan atau wetonan, seorang santri tidak harus


61

menunjukkan bahwa dia mengerti pelajaran yang dihadapi. Para kyai

biasanya membaca dan menerjemahkan kalimat-kalimat secara cepat

sehingga terkadang sebuah kitab pendek dapat khatam dalam beberapa

minggu saja. Oleh karena itu, sistem ini hanya efektif bagi santri-santri

“senior” yang telah mengikuti sistem sorogan secara intensif.

Penggunaan metode bandongan ini digugat oleh KH. Abdul Wahid

Hasyim sebagai bagian dari ide pembaharuan yang digulirkannya untuk

merombak sistem pendidikan pesantren. Menurut KH. Abdul Wahid

Hasyim, sistem bandongan menutup rapat pintu kreativitas dan inisiatif

santri karena hanya berlangsung satu arah. Santri datang hanya

mendengar, menulis catatan, dan menghafal mata pelajaran yang telah

diberikan, tidak ada kesempatan untuk mengajukan pertanyaan atau

diskusi (Azis Masyhuri, 2008:23). Dialog antara kyai dan santri menjadi

sesuatu yang “tabu” dalam metode bandongan ini.

Sebagai pengganti metode bandongan ini, KH. Abdul Wahid Hasyim

menawarkan sebuah metode baru yaitu metode tutorial yang sistematis

dengan tujuan untuk mengembangkan inisiatif dan kepribadian santri.

KH.A Wahid Hasyim menjelaskan usul perubahan itu karena mayoritas

santri yang belajar di lembaga-lembaga pesantren tidak bertujuan untuk

menjadi ulama (Zamakhsari Dhofier, 1984:105, Azis Masyhuri, 2008:22).

Akan tetapi tidak ada penjelasan yang lebih jauh yang diberikan oleh KH.

Abdul Wahid Hasyim mengenai metode tutorial ini. Namun, kiranya bisa

disimpulkan bahwa metode tutorial dilakukan dengan cara memberikan


62

bimbingan khusus kepada para santri, terutama kepada para santri yang

mengalami kesulitan belajar.

Sedangkan Ridlwan (2005:112) mengatakan tutor adalah guru yang

mengajar di rumah, guru privat, atau guru yang mengajar sekelompok

murid diperguruan tinggi atau pondok. Metode ini tidak harus dilakukan

oleh guru/kyai secara langsung, tetapi juga bisa dilakukan oleh para santri

senior selaku pengganti dari guru/kyai. Dengan metode ini, para santri

dibiasakan untuk terlibat dalam diskusi intensif dengan para tutornya.

Selain itu, nampaknya dengan menerapkan sistem ini, KH. Abdul Wahid

Hasyim berharap dapat mengurangi hubungan patron-klien yang masih

sangat kuat di antara kyai/guru dan santri.

Perubahan metode pengajaran merupakan kemajuan yang luar biasa

yang terjadi pada pesanten ketika itu. Dengan hal tersebut Wahid Hasyim

mengharapkan terjadinya proses belajar mengajar yang dialogis, dimana

posisi guru ditempatkan bukan lagi sebagai satu-satunya sumber belajar,

pendapat guru bukanlah suatu kebenaran mutlak sehingga kendapatnya

dapat dipertanyakan bahkan dibantah oleh santri (murid) dan proses

belajar mengajar berorientasi pada murid sehingga potensi yang dimiliki

akan terwujud dan ia akan menjadi dirinya sendiri. Dalam proses

pembelajaran murid tidak hanya dijadikan objek pendidikan akan tetapi ia

dijadikan subjek pendidikan itu sendiri. Sedangkan Guru memposisikan

diri sebagai motivator, dan fasilitator dalam proses pembelajaran.


63

2. Mendirikan Madrasah Nizhamiyah

Meski tidak pernah mengenyam pendidikan modern, wawasan

berfikir KH. Abdul Wahid Hasyim dikenal cukup luas. Ia mewarisi

khazanah intelektual sang ayah dengan cara yang paling baik. Beliau

mampu mengembangkan diri jauh melebihi rekan-rekannya yang

mendapatkan pendidikan formal. Ia membangun pergaulan yang amat

luas, merintis dan memimpin organisasi sosial dan politik, terlibat dalam

gerakan kemerdekaan, hingga menjadi menteri agama yang pertama di

Republik ini. Hal ini dapat diduga sebagai hasil dari luasnya bacaan beliau,

sebagaimana telah kita ketahui, wawasan ini kemudian diaplikasikan

dalam kegiatan-kegiatan yang bersifat sosial dan pendidikan. Tidak semua

ide perubahan KH. Abdul Wahid Hasyim untuk mengubah sistem

pendidikan di pesantren ditolak oleh KH. Hasyim Asy’ari. Salah satu ide

pembaharuan yang didukung oleh ayahnya adalah pendirian Madrasah

Nidhomiyyah (Ali Yahya, 2007:13). Madrasah ini dirancang layaknya

“sekolah modern” dengan sistem klasikal dimana 70% muatan

kurikulumnya adalah pengetahuan umum sedangkan 30% sisanya adalah

ilmu-ilmu keagamaan. Ilmu-ilmu umum yang diajarkan di Madrasah

Nidhomiyah antara lain aritmatika, sejarah, geografi, dan ilmu alam.

Selain itu, seiring dengan pendirian Madrasah Nidhomiyah, KH. Abdul

Wahid Hasyim juga mulai memperkenalkan kursus-kursus pidato, bahasa

Indonesia, bahasa Belanda, bahasa Inggris, dan ketrampilan mengetik.

Meskipun terlihat sepele, pada masa itu keterampilan tersebut sangat

dibutuhkan agar setelah lulus dari pesantren para santri bisa berkarya di
64

segala bidang, tidak terbatas hanya pada bidang keagamaan saja.

Keberanian KH. Abdul Wahid Hasyim menawarkan ide pembaharuan

dalam sistem pendidikan di pesantren membuahkan hasil yang

memuaskan. Secara kuantitatif, pertumbuhan Madrasah yang pesat dengan

hasil yang membanggakan, jumlah santri Pesantren Tebuireng mengalami

peningkatan drastis, mulai dari 28 orang santri pada 1889, meningkat jadi

200 orang pada akhir 1910-an, dan 10 tahun berikutnya melonjak hampir

mencapai 2000 santri (Zamakhsari Dhofier, 1984:106).

Pada awalnya perhatian orang terhadap Madrasah ini tidak begitu

besar. Hanya ada satu kelas dengan jumlah muridnya 29 anak, termasuk

adiknya sendiri, A. Karim Hasyim. Ternyata manfaatnya makin lama

makin dirasakan masyarakat.

Ide pembaharuan yang digulirkan KH. Abdul Wahid Hasyim ini juga

membawa efek domino kepada pesantren-pesantren lain yang mulai

mengadopsi sistem yang digagas oleh KH. Abdul Wahid Hasyim tersebut.

Sejak saat itulah, Pesantren Tebuireng semakin dikenal sebagai pusat

pendidikan bagi kader-kader Nahdlatul Ulama.

3. Pembaharuan Institusi

Pada sebuah lembaga pendidikan, kurikulum merupakan salah satu

komponen utama yang digunakan sebagai acuan untuk menentukan isi

pengajaran, mengarahkan proses mekanisme pendidikan, tolak-ukur

keberhasilan dan kualitas hasil pendidikan. Kurikulum merupakan

program pendidikan sekolah yang disediakan untuk siswa. Kurikulum

pesantren dalam hal ini pesantren “salaf”, hanya mempelajari agama,


65

bersumber pada kitab-kitab klasik meliputi bidang-bidang studi: Tauhid,

Tafsir, Hadis, Fiqh, Ushul Fiqh, Tashawuf, Bahasa Arab (Nahwu, Sharaf,

Balagah, dan Tajwid), Mantiq, dan Akhlak, yang kesemuanya dapat

digolongkan ke dalam 3 golongan yaitu: 1) kitab dasar, 2) kitab menengah,

3) kitab besar. Kurikulum dalam jenis pendidikan pesantren berdasarkan

tingkat kemudahan dan kompleksitas ilmu atau masalah yang dibahas

dalam kitab, jadi ada tingkat awal, tingkat menengah, dan tingkat lanjut.

Setiap kitab bidang studi memiliki tingkat kemudahan dan kompleksitas

pembahasan masing-masing, sehubungan dengan itu, maka evaluasi

kemajuan belajar pada pesantren juga berbeda dengan evaluasi dengan

jenis pendidikan lainnya.

Saat itu, KH. Abdul Wahid Hasyim menerapkannya sistem klasikal di

Pondok Pesantren Tebuireng, yaitu dengan dikenalkannya sistem

Madrasah Nidzamiyah, karena itu ia dikenal sebagai perintis pendidikan

dan pendidikan modern di dunia pesantren (Masyhuri, 2008:16) mau tak

mau pengayaan metodologi tidak lagi sebatas yang sudah dikenal di

kalangan Pondok. Hal itu disebabkan karena terpengaruh oleh

perkembangan hidup modern yang bagi KH. Abdul Wahid Hasyim harus

menuntut orang maupun lembaga untuk menyesuaikan diri dengan

perkembangan tersebut. Karena itulah cara yang bisa ditempuh agar di

Pondok Pesantren tetap bisa digandrungi oleh masyarakat. Artinya dengan

memadukan pola pendidikan tradisional dengan pola pendidikan modern.

Selain mendirikan Madrasah KH. Abdul Wahid Hasyim juga

mengembangkan pendidikan di kalangan umat Islam, beliau Mendirikan


66

Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN) di Tanjungpinang, Banda-Aceh,

Padang, Jakarta, Banjarmasin, Tanjungkarang, Bandung, Pamekasan, dan

Salatiga. Jasa lainnya ialah pendirian Sekolah Tinggi Islam di Jakarta

(tahun 1944), yang pengasuhannya ditangani oleh KH. Kahar Muzakkir.

Lalu pada tahun 1950 memutuskan pendirian Perguruan Tinggi Agama

Islam Negeri (PTAIN) yang kini menjadi IAIN/UIN/STAIN

4. Mencetak Santri yang Ideal

Sebagai seorang pendidik agama, fokus utama pemikiran KH. Abdul

Wahid Hasyim adalah peningkatan kualitas sumberdaya umat Islam.

Upaya peningkatan kualitas tersebut menurut KH. Abdul Wahid Hasyim,

dilakukan melalui pendidikan khususnya pesantren. Dari sini dapat

dipahami, bahwa kualitas manusia Muslim sangat ditentukan oleh tinggi

rendahnya kualitas jasmani, rohani dan akal. Kesehatan jasmani dibuktikan

dengan tiadanya gangguan fisik ketika berkreatifitas. Sedangkan kesehatan

rohani dibuktikan dengan keimanan dan ketakwaan kepada Allah yang

kemudian diimplementasikan dalam kehidupan nyata. Disamping sehat

jasmani dan rohani, Manusia Muslim harus memiliki kualitas nalar (akal)

yang senantiasa diasah sedemikian rupa sehingga mampu memberikan

solusi yang tepat, adil dan sesuai dengan ajaran Islam.

Sebagai seseorang putra kiai besar, yang terlahir dalam lingkungan

pendidikan pondok pesantren, KH. Abdul Wahid Hasyim sangat

menyadari bahwa untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia

Islam haruslah melalui pendidikan. Bagi KH.A. Wahid Hasim, dunia

pesantren bukanlah hal asing. Dunia pesantren justru paling berkesan


67

dalam seluruh proses perjalanan hidupnya. Penjelajahannya di berbagai

pesantren menjadikan dirinya begitu paham karekter dan keunggulan

masing-masik pesantren yang satu dengan lain dengan spesifikasinya

masing-masing (Azis Mashyuri, 2008: 14-15).

Namun, KH. Abdul Wahid Hasyim juga menyadari bahwa pendidikan

agama saja tidaklah cukup. Harus pula diimbangi dengan penguasaan

terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal ini sejalan dengan “obsesi”

KH. Abdul Wahid Hasyim yang ingin mendudukkan kaum santri (pelajar

Islam) dalam posisi yang sejajar dengan yang lainnya. Dia tidak ingin

melihat santri dipandang sebagai “intelektual kelas dua” dan dianggap

hanya bisa jadi modin oleh masyarakat. Dalam pandangan KH. Abdul

Wahid Hasyim, tidak semua santri yang belajar di pesantren harus dan

akan menjadi ulama semua. Seorang santri juga harus menguasai ilmu-

ilmu umum sehingga mampu berkiprah di berbagai bidang dalam

kehidupannya. Oleh karenanya, tidak seluruh santri di pesantren harus

mempelajari bahasa Arab dan kitab-kitab kuning dengan terlalu intensif.

Menurut KH. Abdul Wahid Hasyim, hal tersebut dinilai memboroskan

waktu saja karena pada akhirnya mereka tidak akan menjadi ulama

semuanya. Pengajaran kitab-kitab kuning dalam bahasa Arab hendaknya

terbatas bagi sejumlah kecil santri yang memang akan dididik untuk

menjadi ulama (Ali Yahya, 2007:12-13).

Seorang santri, dalam perspektif KH. Abdul Wahid Hasyim, cukup

mengikuti latihan kehidupan beberapa bulan di pesantren dan mempelajari

Islam yang ditulis dalam kitab-kitab berbahasa Indonesia, kemudian


68

sebagian besar waktunya digunakan untuk belajar berbagai pengetahuan

dan keterampilan praktis. Konsep inilah yang pada saat ini dikenal dengan

istilah life skill education (pendidikan kecakapan hidup). Dan, KH. Abdul

Wahid Hasyim-lah yang memperkenalkannya terlebih dahulu kepada

dunia pendidikan Indonesia pada tahun 1930-an jauh sebelum istilah

tersebut ditemukan. KH. Abdul Wahid Hasyim berpendapat bahwa

pengajaran kitab-kitab asli Islam hendaknya terbatas bagi sejumlah santri

yang memang akan dididik untuk menjadi ulama (Bakar, 2011:820-824)

Meskipun ide ini pada akhirnya tidak disetujui oleh KH. Hasyim Asy’ari

karena perubahan radikal seperti itu akan menciptakan kekacauan di antara

sesama pemimpin pesantren, tetapi maksud dibalik usul KH. Abdul Wahid

Hasyim ini dapat dipahami oleh KH. Hasyim Asy’ari (Zamakhsari

Dhofier, 1984:106).

Bahwa, seorang santri yang belajar di pesantren selain demi mencari

ridho Allah, juga harus memiliki kemampuan untuk beradaptasi dan

berkiprah dalam kehidupannya di tengah masyarakat. Seorang santri, di

samping harus bisa menjawab masalah-masalah keagamaan, juga harus

bisa menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat seperti

kemiskinan dan kebodohan.

Dari sini, lalu beliau menyarankan agar para santri tidak harus

melulu menjadi ’ulama. Hal ini cukup beralasan dalam kenyataannya,

tidak semua santri menjadi ulama. Di samping itu telah terjadi

penyempitan makna ulama di pesantren, yang manganggap ulama hanya

orang-orang yang menggeluti ilmu agama saja dengan merendahkan ilmu


69

keduniaan (Rifa’i, 2009:54-55). Baginya religiusitas (ke-ulama-an) dapat

merasuk dalam semua aspek kehidupan ini. Membangun semua lini

dengan spirit spiritualitas menjadi tujuan utama atas pendidikan Islam.

Santri harus diarahkan dalam ruang ini.

5. Menjadikan Perpustakaan sebagai Elemen Penting di Pesantren.

KH. Abdul Wahid Hasyim sangat menganjurkan para santri untuk

belajar diluar jam pesantren. Pengetahuan sangat penting untuk alat

perjuangan. Beliau mendasarkan diri pada sejarah Nabi Muhammad SAW,

perintah pertama Nabi adalah ’membaca’. Kegiatan membaca harus

dibarengi dengan menulis. Itulah kunci santri menjadi intelektual yang

tangguh. (Rifa’i,2009:31)

Melihat ini, maka sangat penting membangun budaya membaca dan

menulis dikalangan umumnya untuk pemuda Indonesia, khususnya bagi

generasi Nahdlatul Ulama. Proses pembangunan ini juga harus diimbangi

dengan sarana prasarana penunjang, seperti, penerbitan, percetakan,

Institut, Kajian kebahasaan, sekolah atau lembaga pelatihan. KH. Abdul

Wahid Hasyim melihat dua kunci utama dalam pengembangan

intelektualitas, yakni membaca dan menulis, dan penulis sepakat dengan

hal ini.

Ketika KH. Abdul Wahid Hasyim mendirikan Madrasah

Nidhomiyyah setelah mendapatkan persetujuan dari KH. Hasyim Asy’ari

pada tahun 1934, dia juga mendirikan perpustakaan. Kehadiran

perpustakaan di sebuah pesantren memang belum banyak pada saat itu

tetapi KH. Abdul Wahid Hasyim berani mendobrak kondisi tersebut.


70

Perpustakaan dipandangnya menjadi salah satu pra syarat penting untuk

mewujudkan tujuannya yaitu meningkatkan kualitas sumber daya manusia

Islam. Kegemarannya membaca dan menulis nampaknya juga menjadi

latar belakang idenya untuk mendirikan perpustakaan di Pondok pesantren

Tebuireng.

Perpustakaan yang didirikan oleh KH. Abdul Wahid Hasyim memiliki

koleksi sebanyak 1000 judul buku yang kebanyakan adalah buku-buku

agama Islam. Selain itu, perpustakaan itu juga berlangganan majalan dan

surat kabar, seperti Panji Islam, Dewan Islam, Islam Bergerak, Berita

Nahdlatul Ulama, Adil, Nurul Islam, Al Munawarah, Panji Pustaka,

Pustaka Timur, Pujangga Baru, dan Penyebar Semangat. Dari kesebelas

jurnal/majalah tersebut, hanya Berita Nahdlatul Ulama saja, yang secara

konsisten mewakili pandangan kaum tradisionalis. Selebihnya merupakan

jurnal/majalah yang diterbitkan oleh kalangan Islam modernis dan

nasionalis (Azis Masyhuri, 2008:23).

Para santri dianjurkan membaca buku, majalah, dan surat kabar

sebanyak mungkin. Surat kabar yang baru dipasang di papan di halaman

depan masjid sehingga memudahkan para santri untuk beramai-ramai

membacanya. Dengan demikian, para santri memperoleh pengetahuan

yang memadai dalam berbagai bidang seperti sosial, ekonomi, dan politik.

Kesediaan KH. Abdul Wahid Hasyim untuk berlangganan majalah dan

surat kabar milik kalangan Islam modernis dan nasionalis merupakan

gambaran pribadinya yang progresif dan sikapnya yang toleran dalam

persoalan-persoalan ideologi, sosial, dan politik.


71

BAB IV

ANALISIS RELAVANSI PEMBAHARUAN SISTEM PENDIDIKAN

PESANTREN MENURUT KH. ABDUL WAHID HASYIM TERHADAP

PENDIDIKAN PESANTREN DI INDONESIA MASA SEKARANG

A. Tinjauan Tentang Sistem Pendidikan Pesantren

Pesantren merupakan bagian dari sistem pendidikan tertua khas Indonesia.

Ia merupakan sumber inspirasi yang tidak pernah kering bagi para pencita ilmu

dan peneliti yang berupaya mengurai anatominya dari berbagai demensi. Dari

awahnya, sebagai obyek studi telah lahir doktor-doktor dari berbagai disiplin

ilmu, mulai dari antropologi, sosiologi, pendidikan, politik, agama dan lain

sebagainya. Sehingga kita melihat pesantren sebagai sistem pendidikan Islam

di negeri ini yang kontribusinya tidak kecil bagi pembangunan manusia

seutuhnya. Pesantren sebagai pranata pendidikan ulama (intelektual) pada

umumnya terus menyelenggarakan misinya agar umat menjadi tafaqquh fiddin

dan memotivasi kader ulama dalam misi dan fungsinya sebagai warasat al

anbiya (Syatibi,2006:19).

Hal tersebut terus dipertahankan agar pesantren tidak tercerabut dari akar

utamanya yang telah melembaga selama ratusan tahun. Bahwa kemudian

muncul tuntutan modernisasi pesantren, sebagai dampak dari modernisasi

pendidikan pada umumnya, tentu hal itu merupakan suatu yang wajar

sepanjang menyangkut aspek teknis operasional penyelenggaraan pendidikan.

Jadi, modernisasi tidak kemudian membuat pesantren terbawa arus sekularisasi

karena ternyata pendidikan sekuler yang sekarang ini menjadi tren, dengan

71
72

bingkai pendidikan modern, tidak mampu menciptakan generasi mandiri.

Sebaliknya, pesantren yang dikenal dengan tradisionalnya justru dapat

mencetak lulusan yang berkepribadian dan mempunyai kemandirian. Pondok

pesantren yang tersebar di pelosok-pelosok kepulauan nusantara, turut pula

menyumbangkan darma bakti dalam usaha mulia “character building” bangsa

Indonesia.

Perjalanan panjang sejarah pesantren di Indonesia di tengah kebijakan

Pendidikan Nasional sejak masa penjajahan hingga era awal pemerintahan orde

baru membawa pesantren pada posisi termarjinalkan. Sehingga jika dikatakan,

seandainya Indonesia tidak pernah dijajah, pondok pesantren-pondok pesantren

tidaklah begitu jauh terperosok ke daerah-daerah pedesaan yang terpencil

seperti sekarang, melainkan akan berada di kota-kota atau pusat kekuasaan dan

ekonomi, sebagaimana terlihat pada awal perkembangan pesantren yang

merupakan lembaga pendidikan agama yang amat kosmopolit dan tentunya

pertumbuhan sistem pendidikan di Indonesia akan mengikuti jalur-jalur yang

ditempuh oleh pondok pesantren. Sehingga perguruan tinggi di Indonesia

meminjam istilahnya Norcholish Madjid (1997:1) mungkin akan terwujud dari

universitas Tremas, Krapyak, Al-Muayyad, Tebuireng, Lasem dan sebagainya.

Sistem pendidikan Islam berkembang di Indonesia sudah berkembang

sejak Walisanga datang ke Indonesia. Akan tetapi dalam perkembangan

dipengaruhi oleh aliran atau faham perkembangan sistem pendidikan barat.

Pengaruhnya terhadap pendidikan Islam terbukti mengakibatkan sistem

pendidikan Islam terbukti mengakibatkan sistem pendidikan Islam tidak lagi

berorientasi sepenuhnya pada tujuan islam, yaitu untuk membentuk manusia


73

yang taqwa yang melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-

Nya

Keberadaan pesantren sebagai lembaga pendidikan yang didirikan atas

peran serta masyarakat, telah mendapatkan legitimasi dalam Undang-undang

Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Ketentuan

mengenai Hak dan Kewajiban Masyarakat pada Pasal 8 menegaskan bahwa

Masyarakat berhak berperan serta dalam perencanaan, pelaksanaan,

pengawasan, dan evaluasi program pendidikan. Sedangkan dalam Pasal 9

dijelaskan bahwa Masyarakat berkewajiban memberikan dukungan sumber

daya dalam penyelenggaraan pendidikan. Ketentuan ini berarti menjamin

eksistendi dan keberadaan pesantren sebagai lembaga pendidikan yang

diselenggarakan masyarakat dan diakomodir dalam sistem pendidikan nasional.

Hal ini dipertegas lagi oleh Pasal 15 tentang jenis pendidikan yang menyatakan

bahwa Jenis pendidikan mencakup pendidikan umum, kejuruan, akademik,

profesi, vokasi, keagamaan, dan khusus. Pesantren adalah salah satu jenis

pendidikan yang concern di bidang keagamaan.

Secara khusus, ketentuan tentang pendidikan keagamaan ini dijelaskan

dalam Pasal 30 Undang-Undang Sisdiknas yang menegaskan:

1. Pendidikan keagamaan diselenggarakan oleh Pemerintah dan/atau

kelompok masyarakat dari pemeluk agama, sesuai dengan peraturan

perundang-undangan.

2. Pendidikan keagamaan berfungsi mempersiapkan peserta didik menjadi

anggota masyarakat yang memahami dan mengamalkan nilai-nilai ajaran

agamanya dan/atau menjadi ahli ilmu agama.


74

3. Pendidikan keagamaan dapat diselenggarakan pada jalur pendidikan

formal, nonformal, dan informal.

4. Pendidikan keagamaan berbentuk pendidikan diniyah, pesantren, dan

bentuk lain yang sejenis.

Saat ini pesantren tidak hanya berfungsi sebagai sarana pendidikan

keagamaan semata. Namun, dalam perkembangannya ternyata banyak juga

pesantren yang berfungsi sebagai sarana pendidikan non-formal, dimana para

santrinya dibimbing dan dididik untuk memiliki skill dan keterampilan atau

kecakapan hidup sesuai dengan bakat para santrinya.

Ketentuan mengenai lembaga pendidikan non-formal ini termuat dalam

Pasal 26 yang menegaskan:

1. Pendidikan non-formal diselenggarakan bagi warga masyarakat yang

memerlukan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti,

penambah, dan/atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka

mendukung pendidikan sepanjang hayat.

2. Pendidikan non-formal berfungsi mengembangkan potensi peserta didik

dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan

fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional.

3. Pendidikan non-formal meliputi pendidikan kecakapan hidup, pendidikan

anak usia dini, pendidikan kepemudaan, pendidikan pemberdayaan

perempuan, pendidikan keaksaraan, pendidikan keterampilan dan pelatihan

kerja, pendidikan kesetaraan, serta pendidikan lain yang ditujukan untuk

mengembangkan kemampuan peserta didik.


75

4. Satuan pendidikan non-formal terdiri atas lembaga kursus, lembaga

pelatihan, kelompok belajar, pusat kegiatan belajar masyarakat, dan majelis

taklim, serta satuan pendidikan yang sejenis.

5. Kursus dan pelatihan diselenggarakan bagi masyarakat yang memerlukan

bekal pengetahuan, keterampilan, kecakapan hidup, dan sikap untuk

mengembangkan diri, mengembangkan profesi, bekerja, usaha mandiri,

dan/atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

6. Hasil pendidikan non-formal dapat dihargai setara dengan hasil program

pendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh

lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau pemerintah daerah dengan

mengacu pada standar nasional pendidikan

Model pengelolaan pendidikan pesantren di era reformasi menuntut

otonomisasi, demokrasi dan keterbukaan, tentu saja hal seperti ini akan sis-sia

tanpa adanya kemampuan akademik yang tinggi pula lengkap dengan sistem,

dana, dan sarana pra-sarana yang memadai dan relavan dengan masalah serta

tanggungjawab yang dihadapinya. Oleh karena itu tidak diperlukan kurikulum

yang seragam yang berlaku di semua pondok pesantren di pelosok Nusantara,

sebab sejak berdiri pondok pesantren menggunakan sistem atau metode

menurut mereka sendiri. Masing-masing pesantren di daerah atau komunitas

pendidikan dapat menyusun kurikulumnya sendiri sesuai visi, misi dan tujuan

yang hendak dicapai untuk tumbuh kembangnya kepribadian yang

bertanggungjawab kepada maju tidaknya bangsa Indonesia dalam tata

kehidupan modern.
76

Di lain sisi, adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sangat

pesat menuntut dunia pesantren lebih menyesuaikan diri dengan keadaan

tersebut agar alumnusnya tidak ketinggalan dalam mengembangkan misi

keagamaanya. Demikian halnya dengan sistem pendidikan yang terus

berkembang dan dunia pesantren harus dapat menyusuaikan dengan sistem

tersebut agar pesantren tidak tertinggal dan dapat menyatarakan dengan sistem

yang ada. Dilema ini harus dihadapi oleh dunia pesantren baik yang terkait

dengan perkembangan sistem pendidikan yang ada atau dengan kemauan

sebagaian masyarakat pesantren. Dengan tidak meninggalkan ciri khas lokal,

pesantren juga mesti merespon perkembangan zaman dengan cara-cara yang

kreatif, inovatif, dan transformatif. Alhasil, persoalan tantangan zaman modern

yang secara realitas seakan menciptakan segala produk yang menyebabkan

tirai-tirai batas ruang dan waktu seperti dalam gejala global media informasi

dapat dijawab secara akurat, tuntas dan tepat.

Mungkin karena inilah sebagian besar pesantren di nusantara mencoba

mengakomodir dua keinginan tersebut dengan mewujudkan pesantren yang

berMadrasah dan kitab kuning, model seperti ini yang pertama kali di kenalkan

oleh KH. Abdul Wahid Hasyim dengan mendirikan Madrasah Nidzomiyah di

samping Madrasah salafiyah yang didirikan oleh ayahnya. Bagi penulis apa

yang dilakukan KH. Abdul Wahid Hasyim, dengan adanya sistem pendidikan

Madrasah yang kurikulum pelajaran umumnya 70% dan pelajaran agama 30%,

dimungkinkan dapat menampung perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi,

dan dengan sistem pengajian kitab-kitab kuning yang dilakukan disela-sela

sistem Madrasah.
77

Keberadaan pondok pesantren ternyata sampai hari ini, ditengah-tengah

deru modernisasi, dunia pesantren tetap bisa bertahan (survive) dengan

identitasnya sendiri. Bahkan akhir-akhir ini para pengamat dan praktisi

pendidikan dikejutkan dengan tumbuh dan berkembangnya lembaga-lembaga

pedidikan pondok pesantren di tanah air ini. Pertumbuhan pesantren yang

semula rural based institution menjadi juga lembaga pendidikan urban,

bermunculan juga di kota-kota besar. Di samping banyak juga pendidikan

umum yang mengadopsi aspek-aspek tertentu dari sistem pendidikan

pesantren. Zamakhsari Dhofier (2009:67) memperkiran pada tahun 2020

mendatang jumlah lembaga pesantren kemungkinan akan mencapai 35.000.

Jumlah lembaga pesantren ini kemungkinan masih terus bertambah.

Pergulatan pesantren di era modernitas pada saat ini tetap signifikan.

Pesantren yang secara historis mampu memerankan dirinya sebagai benteng

pertahanan dari penjajahan, kini seharusnya dapat memerankan diri sebagai

benteng pertahanan dari imperialisme budaya yang begitu kuat menghegemoni

kehidupan masyarakat, khususnya di perkotaan. Pesantren tetap menjadi

pelabuhan bagi generasi muda agar tidak terseret dalam arus modernisme yang

menjebaknya dalam kehampaan spiritual. Keberadaan pesantren sampai saat

ini membuktikan keberhasilannya menjawab tantangan zaman. Namun

akselerasi modernitas yang begitu cepat menuntut pesantren untuk tanggap

secara cepat pula, sehingga eksistensinya tetap relevan dan signifikan. Masa

depan pesantren ditentukan oleh sejauhmana pesantren menformulasikan

dirinya menjadi pesantren yang mampu menjawab tuntutan masa depan tanpa

kehilangan jati dirinya.


78

Dan penulis yakin pesantren akan menjadi satu-satunya institusi ke-

Islaman yang akan tetap eksis sampai akhir zaman, karena bangsa Indonesia

ada karenanya dan tanpanya Indonesia seakan tak bertaring. Karena pesantren

adalah penyelamat pendidikan di Indonesia. Lompatan modernitas pesantren

dapat berlangsung lebih pesat mulai tahun 2009. Sekitar 3.000 santri dari

berbagai pesantren sedang menyelesaikan studi sarjana Strata 1 dan Strata 2 di

UI, UGM, UNAIR, ITB, ITS, dan IPB. Mereka adalah santri yang berprestasi

dari berbagi pesantren yang terpilih dan memperoleh beasiswa dari

kementerian agama. Beasiswa ini mereka terima dengan perjanjian bahwa

setelah lulus sarjana akan kembali ke pesantren masing-masing untuk

mengembangkan ilmunya di pesantren asalnya (Dhofier, 2009:158).

Dengan adanya kerjasama ini, kini dunia pesantren menempatkan

sebanyak mungkin “agen perubahan” dan motor penggerak di masyarakat yang

tidak saja paham pengetahuan Islam melainkan juga ilmu pengetahuan dan

teknologi. Agen perubahan ini adalah para santri dari pondok pesantren yang

bertebaran di seluruh Indonesia. Selain bekerja sama dengan institusi

pendidikan yang “unggul” pesantren juga membenahi diri dengan

mengembangkan Ma’had Aliy. Dalam Ma’had Aliy para santri berlatar

belakang pendidikan agama yang kuat kemudian digembleng metodologi (Binti

Maunah, 2009:9). Ma’had Aliy sebagai lembaga pendidikan diniyah

diharapkan mampu merespon berbagai pemikiran dan pandangan dari

masyarakat luas terutama dalam hal kajian keilmuan kontemporer. Dengan

demikian Ma’had Aliy berfungsi sebagai tempat penggemblengan para santri

senior yang berkualitas.


79

Satu hal lagi yang perlu kita catat bahwa tidak sedikit pemimpin-

pemimpin bangsa ini, baik pemimpin yang duduk dalam pemerintahan maupun

yang bukan, formal atau informal, besar maupun kecil, dilahirkan oleh pondok

pesantren. Kalau demikian adanya, tidak berlebihan jika kita mengakui

bahwasannya pendidikan pesantren mampu menciptakan generasi yang

berinteregitas tinggi, bertanggung jawab atas ilmu yang diperolehnya-

meminjam istilah pesantrennya “berilmu amaliyah dan beramal ilmiyah”,

sadar akan penciptaannya sebagai kholifah di bumi. Maksudnya manusia

dijadikan kholifah di bumi dan bertugas memakmurkan atau membangun bumi

ini sesuai dengan konsep yang ditetapkan oleh yang menugaskan, yaitu Allah.

Sehingga akan tetap berada dalam koridor pengabdian kepada Allah sejalan

dengan tujuan penciptaan manusia maksudnya agar manusia dan jin

menjadikan tujuan akhir atau hasil segala aktifitasnya sebagai pengabdian

kepada Allah, Sang Kholiq.


80

B. Relavansi Pembaharuan Sistem Pendidikan Pesantren Menurut KH.

Abdul Wahid Hasyim Terhadap Pendidikan Pesantren di Indonesia Masa

Sekarang

Dapat penulis kemukakan bahwa konsep pembaharuan sistem pendidikan

pesantren yang digagas oleh KH. Abdul Wahid Hasyim ada kesesuaiannya

dengan sistem pendidikan pesantren di Indonesia zaman sekarang. Pola

relevansi konsep pembaharuan pendidikan KH. Abdul Wahid Hasyim dalam

pembaharuan pendidikan pesantren di Indonesia dapat diuraikan dalam tiga

hal: (1) Relevansi tujuan pendidikan pesantren, (2) Relavansi pembaharuan

metode pesantren, dan (3) Relevansi pembaharuan institusi.

1. Relevansi Tujuan Pendidikan Pesantren

Tujuan ialah suatu yang diharapkan tercapai setelah usaha atau

kegiatan selesai dilaksanakan. Sedangkan pendidikan merupakan usaha

untuk membantu atau menolong pengembangan manusia sebagai makhluk

individu, makhluk sosial, serta makhluk keagamaan. Tujuan pendidikan

bukanlah suatu benda yang bersifat tetap dan statis, tetapi merupakan suatu

keseluruhan dari kepribadian seseorang yang berhubungan dengan seluruh

aspek kehidupan. Bagi KH. Abdul Wahid Hasyim tujuan pendidikan tidak

lain adalah meningkatkan sumber daya manusia. Sebagaimana kita ketahui

bersama, peningkatkan sumber daya manusia sangat ditentukan oleh tinggi

rendahnya kualitas dan kesehatan jasmani, ruhani dan akal seseorang

(Rifa’i, 2010:52). Dalam pendidikan Islam, sesuatu yang diharapkan

terwujud setelah orang mengalami pendidikan secara keseluruhan, yaitu

terwujudnya kepribadian seseorang yang membuatnya menjadi “insan


81

kamil” dengan pola taqwa. Insan kamil disini maksudnya adalah menjadi

manusia yang utuh jasmani dan rohani dapat hidup berkembang secara

wajar dan normal karena taqwa kepada Allah.

Perumusan tujuan ini menjadi penting artinya bagi proses pendidikan,

karena dengan adannya tujuan yang jelas dan tepat, maka arah proses

pendidikan ini akan jelas dan tepat pula. Tujuan pendidikan Islam dengan

jelas mengarah kepada terbentuknya insan kamil yang berkepribadian

Muslim, merupakan perwujudan manusia seutuhnya, taqwa, cerdas, baik

budi pekertinya (beraklaq mulia) terampil, kuat kepribadiannya, berguna

bagi agama, diri sendiri, sesama dan negara. Oleh karena itu, pendidikan

Islam mestinya dapat mengarahkan semua potensi yang ada dalam diri

manusia dalam segala aspek kehidupan

Penelusuran proses pembaharuan tujuan bagi lembaga pendidikan

tradisional, seperti pesantren, tidaklah mudah. Kebanyakan pesantren tidak

mencantumkan secara tertulis tujuan pesantren ketika didirikan. Bahkan

sering dijumpai bahwa tujuan itu juga tidak dirumuskan secara tertulis

sampai sekarang. Mungkin disebabkan pesantren tidak cenderung

mendiskusikan tentang sistem pendidikan, dimana tujuan menjadi

komponen penting, tetapi lebih menekankan kepada keikhlasan niat yang

mendatangkan “barokah”, pengalaman dan penghayatan penuh terhadap

terhadap khususnya ajaran Islam, do’a dan kepasrahan total untuk

menyebarkan agama Allah.

Pada lain sisi penulis berkeyakinan kiai tidak mengerti apa itu sistem,

metode, atau bahkan tidak memperdulikan itu semua. Oleh karena itu,
82

tujuan pendidikan pesantren pada dekade ini awal bisa ditelusuri melalui

sejarah pendiriannya. Sebagaimana pendirian pondok pesantren Tebuireng,

bahwa pendirian pesantren ini dilatarbelakangi keadaan desa Tebuireng

yang waktu sebagian penduduknya bermoral rendah. Lokasi pondok

pesantren yang berdekatan dengan pabrik gula. Ketika itu, gula merupakan

komoditi ekspor pemerintah kolonial Belanda dan menjadi simbol apa yang

disebut dengan kemajuan teknologi barat. Pada mulanya, pabrik ini

menyebabkan kebobrokan budaya masyarakat desa yang bekerja di pabrik

tersebut. Para pekerja yang dulunya tidak terbiasa digaji, mengalami

keterkejutan budaya, sehingga dilaporkan menghabiskan uang gaji mereka

untuk hal-hal seperti minuman keras dan judi. Oleh karena itu, kejahatan

meningkat dengan cepat di desa itu. Kondisi seperti ini, malah menarik KH

Hasyim Asy’ari untuk mendirikan pesantren di lokasi tersebut (Lathiful

Khuluq, 2009:37).

Berangkat dari konsisi di atas, bahwa tujuan pertama dari pendirian

pertama adalah amar ma’ruf dan nahi mungkar. Tujuan pertama ini terus

disempurnakan sesuai dengan tuntutan keadaan zaman. Ketika santri mulai

berdatangan dan jumlahnya semakin bertambah, maka tujuan pesantren

bisa berubah. Sebagaimana yang dilakukan KH. Abdul Wahid Hasyim, ia

tidak ingin melihat para santri lebih rendah kedudukannya dalam

masyarakat dibanding dengan kaum terpelajar barat, dari sinilah KH.

Abdul Wahid Hasyim mulai bereksperimen dengan mengadakan

perubahan terhadap sistem pendidikan pesantren, ia membuat perencanaan


83

yang matang. Ia tidak ingin gerakan ini gagal di tengah jalan. Untuk itu, ia

mengadakan langkah-langkah sebagai berikut:

a. Menggambarkan tujuan dengan sejelas-jelasnya.

b. Menggambarkan cara mencapai tujuan itu.

c. Memberikan keyakinan dan cara, bahwa dengan sungguh-sungguh

tujuan dapat dicapai

Pada awalnya, tujuan pendidikan Islam khususnya di lingkungan

pesantren lebih berkosentrasi pada urusan ukhrawiyah (akhirat), nyaris

terlepas dari urusan duniawiyah (dunia). Dengan seperti itu, warna sistem

pendidikan pesantren sangat didominasi oleh mata ajaran yang berkaitan

dengan fiqh, tasawuf, ritual-ritual sakral dan sebagainya (Masyhuri,

2008:18). Meski tidak pernah mengenyam pedidikan modern, wawasan

berfikir KH. Abdul Wahid Hasyim dikenal cukup luas. Wawasan ini

kemudian diaplikasikan dalam kegiatan-kegiatan yang bersifat sosial dan

pendidikan. Berkembangnya pendidikan Madrasah di Indonesia di awal

abad ke-20, merupakan wujud dari upaya yang dilakukan oleh

cendikiawan Muslim, termasuk Wahid Hasyim, yang melihat bahwa

lembaga pendidikan Islam (pesantren) dalam beberapa hal tidak lagi sesuai

dengan tuntutan dan perkembangan zaman.

Di era krisis multi dimensi seperti yang sedang melanda bangsa

Indonesia sekarang. Banyak pihak berasumsi bahwa krisis moral yang

melanda disebabkan kegagalan dunia pendidikan baik pendidikan umum

dan pendidikan yang berbasis keagamaan untuk memproduk siswa atau


84

santri yang mampu menyelaraskan antara ilmu dengan amal. KH. Abdul

Wahid Hasyim telah menerapkan konsep pendidikan yang dinilai mampu

menciptakan peserta didik yang ideal, yaitu santri yang tidak hanya

mampu menguasai konsep secara sempurna tapi mampu

mengimplementasikan dalam kehidupan nyata

2. Relavansi Pembaharuan Metode Pesantren

Istilah metode sering kali disamakan dengan istilah pendekatan,

strategi, dan teknik sehingga dalam penggunaannya juga sering saling

bergantian yang pada intinya adalah suatu cara untuk mencapai tujuan

pendidikan yang diterapkan atau cara yang tepat dan cepat untuk meraih

tujuan pendidikan sesuai dengan kebutuhan peserta didik (Roqib,

2009:90). Metode juga dapat didifinisikan sebagai cara kerja yang

bersistem untuk mempermudah pelaksanaan suatu kegiatan untuk

mencapai tujuan yang yang ditentukan.

Dalam dunia pesantren setidaknya ada tiga metode pembelajaran yang

digunakan di lingkungan pesantren, yaitu metode sorogan, bandongan, dan

musyawarah. Pesantren sebagai lembaga pendidikan secara selektif

bertujuan menjadikan para santri sebagai manusia yang mandiri yang

harapkan dapat menjadi pemimpin umat. Oleh karena itu, pesantren

bertugas mencetak manusia yang benar-benar ahli dalam bidang agama

dan ilmu pengetahuan kemasyarakatan yang berakhlak mulia, untuk

mewujudkan itu semua diperlukan metode yang tepat. Sebab di pihak lain,

sistem pendidikan pesantren seolah berjalan alamiah tanpa ada orientasi

dan target-target yang direncanakan.


85

Metode pembelajaran di pesantren ada yang bersifat tradisional, sering

kita ketahui, bahwa sistem atau metode pembelajaran di pesantren

menggunakan sistem sorogan dan bandongan. Murid posisinya hanya

sebagai pendengar, menghafal dan menulis sehingga murid atau santri

tidak bisa mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya seperti

mengajukan pertanyaan atau bahkan lebih kritis lagi yaitu dengan

mengadakan diskusi, metode pembelajaran yang diselenggarakan menurut

kebiasaan-kebiasaan yang telah lama dipergunakan dalam institusi

pesantren atau merupakan metode pembelajaran asli pesantren. Ada pula

metode pembelajaran baru , yaitu metode pembelajaran hasil pembaharuan

kalangan pesantren dengan mengintrodusir metode-metode yang

berkembang di masyarakat modern. Penerapan metode baru juga diikuti

dengan penerapan sistem baru, yaitu sistem sekolah atau klasikal. Seperti

yang dilakukan KH. Abdul Wahid Hasyim melontarkan ide untuk

mengganti metode bandongan dengan metode tutorial sepertinya didasari

pada kesadaran bahwa santri adalah manusia merdeka yang memiliki

kreativitas dan inisiatif pribadi. Mematikan kreativitas santri sama halnya

dengan membunuh potensi mereka, bahkan sebelum potensi itu tumbuh

dan berkembang.

Metode tutorial memberi ruang antara kyai dan santri untuk terlibat

dalam dialog yang seakan ditabukan dalam metode bandongan. Suasana

dialogis sangat penting dikembangkan dalam pembelajaran karena melatih

daya kritis dan logika. Metode tutorial sama sekali tidak akan menurunkan

kewibawaan dan pamor kyai di mata santri karena hubungan yang


86

dibangun dalam metode tutorial adalah kesetaraan. Ketika seseorang

diperlakukan sejajar maka akan tumbuh rasa saling menghormati. Metode

tutorial juga dipandang lebih efektif untuk memantau perkembangan

kemampuan individual masing-masing santri. Metode tutorial juga akan

mempererat hubungan antara kyai dan santri. Dengan hal tersebut KH.

Abdul Wahid Hasyim mengharapkan terjadinya proses belajar mengajar

yang dialogis, dimana posisi guru ditempatkan bukan lagi sebagai satu-

satunya sumber belajar. Dengan konsep ini diharapakan menghasilkan atau

memproduk siswa atau santri yang bisa memenuhi kebutuhan masyarakat.

3. Relavansi Pembaharuan Institusi

Model pembaharuan institusi maksudnya yaitu pembaharuan atau

perubahan lembaga pendidikan Islam, baik melalui transformasi diri

lembaga yang sudah ada maupun mendirikan lembaga pendidikan Islam

yang baru. Dalam konteks ini, KH. Abdul Wahid Hasyim mentransformasi

lembaga yang sudah ada yaitu pesantren Tebuireng kemudian dimodifikasi

dengan mendirikan Madrasah Nidzmiyah mengambil nama institusi

pendidikan yang di bangun Bani Saljuk, Nizham al-Mulk di Bagdad.

Institusi ini menggunakan sistem klasikal dengan kurikulum 70%

pelajaran umum dan 30% pelajaran agama, yang mana Madrasah ini juga

dilengkapi dengan perpustakaan sebagai tempat belajar santri diluar

pesantren dan Madrasah. Artinya selain pesantren mengajarkan ilmu

agama pesantren juga mengajarkan ilmu umum kepada santrinya.

Dalam menapaki dinamika perubahan dunia pesantren yang ada

memang ada banyak hal yang perlu dibenahi dalam sistem pendidikannya.
87

Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah institusi pesantren. Pesantren

mempunyai kekayaan khazanah yang hampir seluruh berbahasa Arab atau

bahasa Jawa Pegon merupakan aset yang luar biasa. Sayangnya, khazanah

tersebut, belum, atau bahkan belum difungsikan secara maksimal. Selama

ini banyak literatur yang dimiliki kalangan pesantren hanya dijadikan

kebanggaan yang sama sekali belum membisakan nilai-nilai tersebut

dalam menuntaskan persoalan umat.

KH. Abdul Wahid Hasyim mengubah wajah pesantren Tebuireng

menjadi lebih modern dan terbuka. Modernitas dan perhargaan terhadap

nilai tradisi tradisional masih menyatu dalam diri KH. Abdul Wahid

Hasyim. Di kalangan Nahdlatul Ulama, KH. Abdul Wahid Hasyim

merupakan orang pertama yang memelopori masuknya pendidikan umum

ke dalam kurikulum pesantren. Walau ketika itu orang yang mencontoh

model sekolah yang dilaksanakan pemerintah Kolonial Belanda dianggap

kafir. Alasan normatif yang sering digunakan adalah hadis:

‫ـﻪ ﺍﷲ ﺻ ﻠ ﻲ ﺍﷲ ﺭﺳﻮﻝ ﻋﻤﺮﻗﺎﻝ ﺍ ﺑ ﻦ ﻋﻦ‬


‫ﻭﺳﻠﻢ ﻋﻠﻴـ‬: ‫ـﻮﻡ ﺗﺸــﺒﻪ ﻣﻦ‬
‫ﺍ ﺑ ﻮ ﺭﻭﺍﻩ( ﻣﻨﻬﻢ ﻓ ﻬ ﻮ ﺑﻘـ‬
‫)ﺩﺍﻭﺩ‬
“barang siapa meniru apa yang dilakukan suatu kaum maka dia akan
menjadi bagian kaum itu”(Ahmad Hambal:50).

Implikasi dari hadis ini tidak diperkenankan mamakai apa saja yang

biasa dilakukan Belanda, seperti baju dan dasi. Tetapi tampaknya,

pemahaman ini tidak hanya diperlakukan untuk pakaian tetapi juga sistem

pendidikan. Inilah sikap antipati kaum pesantren terhadap penjajahan

belanda Meski KH. Wahid Hasyim termasuk pentolan pesantren ia

kandang berbusana sarung tapi bagian atasnya mengenakan jas dan dasi

yang necis.
88

Dari kita bisa melihat wawasan, gagasan, dan pemikiran KH. Abdul

Wahid Hasyim dalam konteks perjuangan pendidikan untuk memajukan

dunia pesantren sangatlah fenomenal, apalagi usia masih sangat muda.

Memasukan pengetahuan umum, yang merupakan tradisi metode

pembelajaran barat ke dalam tradisi pendidikan pesantren. Ini merupakan

sebuah keberanian yang cukup luar biasa. Apalagi, konteks saat itu masih

dalam cengkeraman penjajah. Perjuangan KH. Abdul Wahid Hasyim tidak

berhenti disini saja, tetapi ia juga melebarkan pembaharuannya di

kementerian agama dengan banyak mendirikan perguruan tinggi yang

berbasis agama Islam. Seperti Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN)

dan Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) yang kini menjadi

IAIN/UIN/STAIN.

Bertolak dari rumusan diatas, maka KH. Abdul Wahid Wahid

mencoba menerapkan sistem pendidikan yang berorientasi pada persoalan

dunia dan akhirat sekaligus. Meskipun dalam prakteknya cukup banyak

lembaga-lembaga Islam pada waktu itu yang cenderung mementingkan

dimensi keakhiratan semata, daripada keduaniawian. Ini terjadi karena

kehidupan akhirat dipandang sebagai kehidupan yang sesungguhnya dan

terakhir, sedangkan kehidupan duniawi bersifat sementara, bukan yang

terakhir. Namun demikian, pada dasarnya pendidikan Islam

memperhatikan keseimbangan dua kehidupan tersebut. Kita tidak bisa

mengabaikan begitu saja. Aspek keduniawian juga penting, karena sebagai

manusia yang mengemban tugas kekholifahan di muka bumi ini harus pula
89

membekali dengan ilmu-ilmu keduniawian dan perkembangannya

sehinggga dapat memenuhi tugas itu secara maksimal..

Harus diakui menulis tokoh sering kali bukan pekerjaan mudah. Terutama

bila sang tokoh pemikir atau pemimpin panutan yang melintasi zaman.

Diperlukan kecermatan dan menampilkan sang tokoh apa adanya, sesuai apa

dilakukannya. Adapun KH. Abdul Wahid Hasyim adalah bintang yang bersinar

dari kalangan pesantren. Walaupun ia tanpa mengenyam pindidikan modern.

KH. Abdul Wahid Hasyim mampu menguasai bahasa asing selain bahasa Arab.

Berawal dari kemampuan kecerdasan, ketajaman nalar membaca kemauan

orang tua, pemahamannya terhadap idealisme ajaran Islam yang sedemikian

tinggi, dan setelah melihat keadaan lingkungan masyarakat yang serba

terbelakang, maka lahirlah semangat untuk melakukan perubahan yang luar

biasa. KH. Abdul Wahid Hasyim melakukan langkah-langkah perubahan besar

di tengah-tengah masyarakat yang masih diwarnai oleh suasana tradisional.

Menurut hemat saya, Ia adalah seorang yang berani, nekat dan telah melakukan

lompatan berpikir yang sangat jauh, keluar dari sarang tradisi yang

membelenggu masyarakat pesantren, kemudian ia masuk ke dalam dunia

modern, bahkan terlampau fenomenal untuk ukuran pada saat itu. Lompatan

yang dilakukan oleh KH Abdul Wahid Hasyim tersebut adalah luar biasa untuk

ukuran saat itu.

Membaca pikiran KH Wahid Hasyim di atas tidaklah sederhana.

Keterlibatannya di organisasi sosial-keagamaan, politik, dan pergaulannya

yang sedemikian luas, juga membentuk dan mewarnai cara berpikir yang

cemerlang tentang pendidikan. Ia membaca bahwa pendidikan Islam hingga


90

melahirkan ulama tetap dianggap penting, akan tetapi para ulama juga harus

memahami ilmu modern. Itulah barangkali jargon yang tepat untuk

menggambarkan tipe ideal pendidikan, yakni lembaga yang mampu

melahirkan ulama yang intelek dan atau intelek yang ulama.

Dari keseluruhan relavansi pembaharuan sistem pendidikan pesantren

yang dilakukan KH. Abdul Wahid Hasyim di atas bila dikaitkan dengan

kebutuhan pembaharuan sistem pendidikan pesantren di Indonesia pada masa

sekarang adalah membentuk institusi pesantren yang lebih modern dan

membentuk kepribadian santri dengan memiliki kecapakan dalam hal yang

bersifat duniawi tetapi tidak melupakan akhirat, dengan kata lain terbentuknya

pribadi yang seimbang dan utuh. Membaca pikiran beliau, bahwa pendidikan

agama harus dijadikan sebagai dasar untuk membangun pribadi bagi semua

orang. Pendidikan agama adalah mutlak untuk membangun karakter atau

akhlak. Tetapi, pendidikan agama semacam itu tidak akan mencukupi untuk

menghadapi tantangan masa depan yang lebih terbuka secara luas. Akan tetapi,

pendidikan semacam itu harus disempurnakan dengan pengetahuan umum

yang cukup. Umat Islam harus menempati posisi penting dalam segala lini

kehidupan.

Sebagai konsekuensi pembaharuan sistem pendididikan pesantren, lulusan

pesantren mengalami distorsi ilmu keagamaan, dimana para santri kurang

mengusai literatur keagamaan. Akan tetapi disisi lain, para santri mengusai

ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebab saat ini lulusan pesantren diharapkan

tidak hanya menguasai pendidikan agama yang dikonotasikan hanya untuk

kehidupan akhir zaman, tetapi dapat memperoleh keahlian atau ketrampilan


91

untuk meraih kehidupan di dunia. Penguasaan bidang keahlian atau

ketrampilan yang jelas dapat mengantarkannya untuk mengusai lapangan

kehidupan tertentu. Dalam era modern santri tidak cukup hanya berbekal

dengan moral yang baik saja, tetapi juga perlu dilengkapi dengan keahlian atau

ketrampilan yang relevan dengan kebutuhan zaman sekarang. Dalam kaitan ini

ajaran-ajaran agama yang diberikan kepada setiap pribadi di pesantren harus

merupakan jawaban yang komprehensif atas persoalan kehidupan dengan cara

membekali pengetahuan secukupnya.

Setiap manusia di dunia ini mempunyai kesempurnaan khusus dan

perilaku yang spesifik baginya tidak ada makhluk lain yang bisa menyerupai

perilaku manusia itu. Maka manusia di antara segala makhluk yang ada

mempunyai perilaku khusus yaitu segala perilaku yang lahir dari pertimbangan

nalar akal fikirannya. Karena itu siapa yang pertimbangannya paling jernih

penalarannya paling benar, keputusan yang paling tepat, adalah manusia yang

paling sempurna martabatnya. Manusia yang paling utama adalah orang yang

paling mampu menunjukkan perilaku yang yang khas dan yang paling

berpegang teguh kepada syarat-syarat daya fikir yang membedakan dia dengan

makhluk lainnya. Oleh karena itu tugas pendidikan adalah mendudukan

manusia sesuai dengan kodratnya sebagai makhluk yang paling mulia di antara

makhluk lainnya. Hal itu ditandai dengan perilaku dan perbuatan yang khas

bagi manusia dan tak mungkin dilakukan makhluk lainnya.

Penulis memandang bahwa, pendidikan yang ideal bagi KH. Abdul

Wahid Hasyim adalah pendidikan yang mampu melahirkan kemampuan

mengusai pengetahuan umum dan pengetahuan agama. Oleh karena itu, tatkala
92

pada saat ini sedang ramai dibicarakan tentang pendidikan karakter, maka

pemikiran KH. Abdul Wahid Hasyim ini bisa dijadikan jawabannya. Dengan

meninggalnya KH. Abdul Wahid Hasyim mengakibatkan dunia pesantren

kehilangan seorang yang menjadi jembatan pengetahuan tradisi pesantren

dengan modernitas pendidikan. Miminjam istilahnya Zamakhsari Dhofier

(2009:159) kemampuannya memadu tradisi pesantren dengan visi moderintas

kehidupan bangsa sulit ditandingi oleh tokoh-tokoh nasional seangkatan beliau.

Kemampuannya yang ia sumbangkan kepada bangsa dan negara sangat

pendek, tetapi kekuatan dan kekayaan warisan yang ia tinggalkan dalam bentuk

paduan tradisi pesantren dengan modernitas keIndonesiaan terus berfungsi

hingga sampai sekarang.


93

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan telah terselesainya penelitian tentang pembaharuan sistem

pendidikan pesantren (Studi atas Pemikiran KH Abdul Wahid Hasyim) ini,

maka penulis menyimpulkan menjadi beberapa bagian, yaitu:

1. KH. Abdul Wahid Hasyim merupakan salah satu pemikir pendidikan Islam

sekaligus praktisi pendidikan Islam utamanya dalam bidang pondok

pesantren. Ia menjadi pengasuh pondok pesantren Tebuireng selama 13

tahun (1947-1950). Semasa hidupnya beliau juga banyak berjasa terhadap

dunia pendidikan Islam Indonesia, ia mendirikan Pendidikan Guru Agama

Negeri (PGAN). Jasa lainnya ialah pendirian Sekolah Tinggi Islam di

Jakarta (tahun 1944), lalu pada tahun 1950 memutuskan pendirian

Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) yang kini menjadi

IAIN/UIN/STAIN.

Selain aktif di dunia pendidikan pesantren KH. Abdul Wahid Hasyim

juga aktif di organisasi kemasyarakatan dan partai politik. Pada masa

kemerdekaan ia termasuk salah satu founding father bangsa Indonesia. Ia

juga pernah menjabat sebagai Menteri Negara (1945), dan Menteri Agama

pada tahun 1950-1952. KH. Abdul Wahid Hasyim merupakan satu-satunya

Menteri di Indonesia yang tidak pernah mengenyam pendidikan secara

formal.
94

2. Pembaharuan pendidikan yang dilakukan KH. Abdul Wahid Hasyim

meliputi:

a. Pembaharuan metode pembelajaran, dari Bandongan ke tutorial

b. Mendirikan instistusi Madrasah Nidzomiyah yang menggunakan

sistem pendidikan modern dengan menerapkan sistem klasikal

dilingkungan pesantren.

c. Mencetak santri yang tidak hanya religius tetapi juga berwawasan

kebangsaan.

d. Mendirikan perpustakaan di lingkungan pesantren.

3. Relevansi pemikiran pembaharuan pendidikan pesantren KH. Abdul

Wahid Hasyim dengan pendidikan pesantren KH. Abdul Wahid Hasyim

dengan pendidikan pesantren di Indonesia masa sekarang adalah sangat

relevan. Hal ini disebabkan karena KH. Abdul Wahid Hasyim meletakkan

dasar penting bagi pendidikan sistem klasikal di lingkungan pesantren,

mendirikan perpustakaan yang tidak hanya berisikan buku-buku agama

namun juga pengetahuan umum serta pencetus awal pendirian madrasah

formal di lingkungan pesantren yakni Madrasah Nidhomiyah.

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan dari penelitian ini, dapat dikemukakan beberapa

saran untuk pengelola pesantren dan yang terkait dalam penelitian ini, saran

yang dimaksud adalah:

1. Bagi pengelola dunia pesantren tidak bisa hanya mempertahankan tradisi

yang lama belaka, sebab, tradisi yang lama tak mesti relavan untuk zaman
95

sekarang ini. Hal yang tidak kalah penting untuk direnungkan dalam rangka

“mengambil hal yang terbaru yang lebih baik” adalah mengungkap secara

cerdas permasalahan kekinian dengan pendekatan-pendekatan

kontemporer. Tak bisa disangkal bahwa modernitas telah “menawarkan”

banyak hal untuk difikirkan dan direnungkan, terutama bagi insan-insan

pesantren. Untuk itu, tidak layak kiranya jika para pengelola pesantren

mengabaikan arus modernitas sebagai penghasil nilai-nilai baru yang baik,

meskipun ada sebagian yang buruk, kalau pesantren ingin maju untuk

mengimbangi perubahan zaman

2. Pembaharuan disarankan tidak hanya dilakukan dalam ranah proses

pembelajaran yang memungkinkan out put pesantren siap kerkompetensi

dalam persaingan lokal maupun global, tetapi pembaharuan dalam

menejemen lembaga pesantren perlu dilakukan agar lebih efektif dan

efesien.
96

DAFTAR PUSTAKA

Abd A’la. Pembaharuan Pesantren. Yogyakarta. Pustaka Pesantren.2006

Aboe, Bakar. Sejarah Hidup KH.A Wahid Hasyim .Jakarta: Mizan, 2011

Amin. Persepsi Santri Tentang Kharisma Kiai ( Studi Kasus di Pondok


Pesantren al-Huda Doglo, Candigatak, Cepogo, Boyolali Tahun
2010). Salatiga, Skripsi tidak di terbitkan. Salatiga, 2010
Anshoriy, Nasruddin, Pendidikan Berwawasan Kebangsaan Kesadaran
Ilmiah Berbasis Multikulturalisme.Yogyakarta.Lkis. 2008
A.Steenbrink, Karel, Pesantren Madrasah Sekolah. Jakarta: LP3ES.1991

Azra, Azyumardi. Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan


Nusantara Abab XVII dan XVIII. Bandung : Mizan, 1994
Barton, Greg, Biografi Gus Dur The Authorized Biography of
Abdurrahman Wahid. Yogyakarta: Lkis, 2010
B.J. Boland, Pergumulan Islam di Indonesia, Jakarta: PT Grafiti Pers,1985

Departemen Agama RI. Pondok Pesantren dan Madrasah Diniyah


Pertumbuhan dan Perkembangannya. Jakarta: Direktorat Jenderal
Kelembagaan Agama Islam, 2003
Dian Nafi’, Abd A’la, Hindun Anisah, Abdul Aziz, Abdul Muhaimin.
Praksis Pembelajaran Pesantren. Yokyakarta: Lkis, 2007
Dhofier, Zamakhsari, Tradisi Pesantren (Studi Tentang Pandangan Hidup
Kyai). Jakarta: LP3ES.1983
. Tradisi Pesantren Memadu Modernitas untuk Kemajuan Bangsa
Jilid 1.Yogyakarta: Pesantren Nawesea Press, 2009
Dirdjosanjoto,Pradjarta. Memelihara Umat: Kiai Pesantren-Kiai Langgar
Di Jawa, Yogyakarta: Lkis, 1999
Feillard, Andree. NU Vis-à-vis Negara Pencarian Isi, Bentuk dan Makna.
Yogyakarta: Lkis, 2008
Fealy, Greg. Ijtihad Politik Ulama Sejarah NU 1952-1967. Yogyakarta:
Lkis, 2007
Hambal, Ahmad. Musnad al-Imam Ahmad bin Hambal, t.tp. Dar al-Fikr,t.t

Ida, Laode. Anatomi Konflik NU, Elit Islam dan Negara. Jakarta: Pustaka
Sinar Harapan, 1996
97

Imam Suprayogo, Tobroni, Metodologi Penelitian Sosial Agama,


Bandung. PT Remaja Rosda Karya.2003
J.Moleong Lexy, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, 2008
Khuluq, Khuluq. Fajar Kebangunan Ulama Biografi K.H Hasyim Asya’i.
Yogyakarta: Lkis,2009
Ma’shum Zaein Muhammad, Landasan Amaliyah NU, Jombang:
PC.LTNU Jombang.2008
Madjid, Norcholish, Bilik-bilik Pesantren sebuah Potret
Perjalanan.Jakarta, Paramadina.1997
Mahfudz Md. Pemikiran KH Wahid Hasyim Jawab Radikalisasi
Islam,Online.(http://www.nu.or.id/.html 09/06/2011 07:11)
Malik, Jamaluddin (ed), Pemberdayaan Pesantren Menuju Kemandirian
dan Profesionalisme Santri dengan Metode Daurah Kebudayaan.
Yogyakarta: Lkis 2005
Mattew B, Miles dan Huberman, A. Michael. Analisis Data Kualitatif,
Jakarta: UI Press, 1992
Maunah, Binti. Tradisi Intelektual Santri dalam Tantangan dan Hambatan
Pendidikan Masa Depan. Yogyakarta: Teras, 2009
Misrawi, Zuhairi. Deradikalisasi Pesantren. Jakarta. Kompas, hal. 7 Tggl
18, Bulan 7. 2011
Mughits, Abdul. Kritik Nalar Fikih Pesantren. Jakarta: Kencana Prenada
Media Group, 2008
Mumazziq, Rizal. Cermin Bening dari Pesantren Potret Keteladanan Para
Kiai, Surabaya: Khalista,2009
Noer, Delier. Partai Islam di Pentas Nasional 1945-1965. Jakarta: Grafiti
Press, 1987
Nurrahmat, Binhad, Dari Kampung ke NU Miring, Yogyakarta:Arruz
Media.2010
Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia Edisi Ketiga, Jakarta:
Balai Pustaka, 2006
Putra, Haidar, Daulany, Sejarah Pertumbuhan dan pembaharuan
Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: Kencana Prenada Media
Group, 2009
Qomar, Mujamil, Pesantren dari Transformasi Metodologi Menuju
Demokratisasi Institusi, Jakarta, Erlangga.2010
98

Retno, Yanto. Sejarah Tokoh Bangsa. Yogyakarta. Pustaka Tokoh Bangsa.


2009
Rifa’i, Muhammad. Biografi Singkat Wahid Hasyim.Yogyakarta:Arruz
Media.2009
Roqib. Ilmu Pendidikan Islam Pengembangan Pendidikan Integratif di
Sekolah, Keluarga, dan Masyarakat, Yogyakarta: Lkis, 2009
Seri Buku Tempo, Wahid Hasyim untuk Republik dari Tebuireng. Jakarta,
KPG.2011
Sugiono, Metode Penelitian Pendidikan pendekatan kuantitatif, kualitatif,
dan D&D,Bandung. Alfabeta2008
Syatibi Dkk, Pergeseran Literatur Pondok Pesantren Salafiyah di
Indonesia. Jakarta. Puslitbang Lektur Keagamaan Badan Litbang
dan Diklat Departemen Agama RI
Umar, Mashudi. KH Wahid Hasyim Merengkuh Dunia.Jakarta: Risalah ,
hal.77.1430 H
Undang-undang Republik Indonesia Nomer 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional. Jakarta. 2004
Van Bruinessen, Martin.NU, Tradisi, Relasi-Relasai Kuasa, Pencarian
Wacana Baru. Yokyakarta.Lkis.2004
. Kitab Kuning Pesantren dan Tarekat Tradisi-Tradisi Islam
di Indonesia. Bandung: Mizan,1996
Wahid, Abdurrahaman. Menggerakan Tradisi, Yogyakarta: Lkis, 2010

, Islam Kosmopolitan Nilai-Nilai Indonesia & Transformasi


Kebudayaan. Jakarta. The Wahid Institute.2007
Yahya, Ali. Sama Tapi Beda Potret Keluarga Besar KH.A Wahid Hasyim.
Jombang: Yayasan KH. A.Wahid Hasyim, 2007
Yunus, Mahmud. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: Mutiara
Sumber Widya, 1995
Zuhri, Saifuddin. Guruku Orang-Orang Pesantren,Yogyakarta. Pustaka
Sastra. 2007
. Mbah Wahab Hasbullah Kiai Nasionalisme Pendiri NU.
Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2010
Zuhairini Dkk, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta; Bumi Aksara, 2010

(http://majelis-alumni,ipnu.article&id=78:masjid-istiqlal.

jakarta&catid=7:wisata-religi&Itemid=14 09/07/2011 )
99

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Bahwa yang bertanda tangan dibawah ini:

Nama : Nurhuda

Jenis Kelamin : Laki-laki

Tempat/Tanggal Lahir: Tuban, 05 Maret 1987

Agama : Islam

Bangsa : Indonesia

Alamat : Desa Maindu Kec Montong Kab Tuban Jawa Timur

No Hp : 085 641 670 715

Pendidikan : MI Maindu lulus tahun 2001

Mts Manbail Futuh Beji Jenu Tuban lulus tahun 2004

MA Salafiyah Kajen-Pati 2007

STAIN SALATIGA 2011

Demikian daftar riwayat hidup ini, saya buat dengan sebenar-benarnya.