Anda di halaman 1dari 32

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Setiap orang selalu berusaha mengenang, mempelajari dan

menganalisa berbagai fenomena yang terjadi dalam hidupnya sebagai

suatu pengetahuan dasar dan pengalaman hidup yang dimilikinya

sehingga bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Penyusunan dan

pengorganisasian berbagai fakta, fenomena, keyakinan dan

pengalaman secara sistematis ke dalam suatu konsep pengetahuan

umum biasanya disusun dalam bentuk falsafah, konsep, teori dan

proses.

Falsafah biasanya diartikan sebagai suatu pandangan dan

pengetahuan yang mendasar, yang selanjutnya digunakan untuk

mengembangkan dan membangun suatu persepsi atau asumsi tertentu

tentang kehidupan. Falsafah memberikan suatu gambaran atau

pandangan terhadap suatu system nilai dan keyakinan. Bagi setiap

individu, falsafah berperan dalam membantu seseorang memahami

makna dari pengalaman hidup yang dijalaninya serta berfungsi sebagai

penuntun dalam bersikap dan berperilaku. Falsafah hidup seseorang

berkembang melalui hasil belajar, hubungan interpersonal, pendidikan

formal yang menekankan pada penguasaan ilmu pengetahuan dan

informal yang lebih menekankan pada peningkatan kemampuan secara

1
teknis berdasarkan teori, agama dan dipengaruhi oleh latar belakang

budaya serta lingkungan.

Falsafah paramedis ataukebidanan meliputi falsafah pendidikan

dan pelayanan kebidanan serta falsafah pada institusi pelayanan

kesehatan yang berperan sebagai pedoman utama dalam pemberian

asuhan kebidanan. Implementasi peran bidan sebagai pelaksana

asuhan kebidanan, pendidik, pengelola atau peneliti, pada hakekatnya

mencerminkan falsafah paramedis atau kebidanan melalui pemahaman

tentang nilai dan konsep paramedis ataukebidanan seperti konsep

sehat-sakit, kesehatan, penyakit, akuntabilitas dan pemahaman

terhadap etika paramediskebidanan.

Peran pelaksana yang dikenal dengan istilah care giver. Dimana

peran paramedis ataubidan dalam memberikan asuhan kebidanan

secara langsung atau tidak langsung kepada pasien atau klien sebagai

individu, keluarga dan masyarakat. Dalam melaksanakan peran ini

bidan atau paramedis bertindak sebagai comforter, protector dan

advocate, communicator serta rehabilitator. Sebagai pendidik atau

health educator, bidan atau paramedis berperan mendidik individu,

keluarga dan masyarakat serta tenaga keperawatan atau tenaga

kesehatan atau paramedis yang berada di bawah tanggung jawabnya.

Peran sebagai pengelola, dalam hal ini bidan mempunyai peran dan

tanggungjawab dalam mengelola pelayanan maupun pendidikan.

paramedis yang berada di bawah tanggungjawabnya sesuai dengan

2
konsep manajemen kesehatan dalam kerangka paradigma kedokteran

Sebagai pengelola kesehatan berperan dalam memantau dan menjamin

kualitas asuhan/pelayanan serta kesembuhan klien, serta

mengorganisasi dan mengendalikan system pelayanan kesehatan.

Falsafah paramedis itu sendiri adalah Memandang pasien sebagai

manusia yang utuh, Pelayanan diberikan secara langsung dan

manusiawi, Setiap orang berhak mendapat perawatan pelayanan

kesehatan tanpa memandang suku, kepercayaan, status social, dan

status ekonomi, kebidanan merupakan bagian integral dari system

pelayanan kesehatan. Pasien merupakan mitra yang aktif dalam

pelayanan kesehatan, bukan penerima jasa yang pasif.

Berdasarkan observasi awal calon peneliti pada puskesmas

kamonji kecamatan palu barat bahwa masih terdapat kekurangan dalam

pelaksanaan kegiatan dalam pemberian layanan kesehatan pada

masyrakat atau pasien dikarenakan pelayanan pada puskesmas

kamonji tentu sedikit berbeda dengan pemberian pelayanan pada

organisasi pemerintah lainya,pelayanan kesehatan agak sedikit berbeda

dikarenakan sangat sensitif berkaitan dengan kesehatan manusia atau

dapat dikatakan menyangkut kelangsungan hidup manusia,

Pelayanan kesehatan yang baik yang harus dilakukan oleh aparat

dalam hal ini paramedis atau bidan sangatlah vital disebabkan mereka

harus menggambarkan ,menjelaskan,mengontrol hasil asupan pasien

tersebut.

3
Melalui uraian dan penjelasan diatas calon peneliti tertarik

mengangkat judul yakni “Etika Pelayanan Paramedis Terhdap

Kepuasan Pasien pada Puskesmas Kamonji Kecamatan Palu Barat “

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan pada uraian pada latar belakang masalah sebagaimana

dikemukakan diatas maka dapat dirumuskan permasalahan penelitian

sebagai berikut :

1. Bagaimana Etika Pelayanan Paramedis Terhdap Kepuasan Pasien

pada Puskesmas Kamonji Kecamatan Palu Barat

2. Faktor yang menjadi penghambat dan penunjang serta alternatif

pemecahannya.

C. Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui Etika Pelayanan Paramedis Terhdap Kepuasan

Pasien pada Puskesmas Kamonji Kecamatan Palu Barat

2. Untuk mengetahui faktor yang menjadi penghambat dan penunjang

serta alternatif pemecahannya.

D. Kegunaan Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat baik secara teoritis

maupun secara praktis :

1. Segi keilmuan, hasil penelitian dapat bermanfaat bagi pengembangan

pengetahuan khususnya mengenai Etika Pelayanan Paramedis

4
Terhdap Kepuasan Pasien pada Puskesmas Kamonji Kecamatan Palu

Barat.

2. Segi terapan, diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi

Puskesmas Kamonji agar dapat memberikan pelayanan lebih baik lagi

kepada pasien atau masyarakat yang membutuhkan jasa-jasa

paramedis dibidang kesehatan tersebut.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Etika

Etika (juga dikenal sebagai filsafat moral) adalah cabang filsafat

yang berusaha untuk menjawab pertanyaan tentang moralitas yaitu,

5
tentang konsep-konsep seperti baik dan buruk,benar dan

salah,keadilan,kebajikan, dan lain-lain. Cabang utama etika termasuk

meta-etika, tentang makna dan acuan teoretis moral proposisi dan

bagaimana nilai-nilai kebenaran mereka dapat ditentukan; normatif etika,

tentang cara praktis untuk menentukan tindakan moral; diterapkan etika,

tentang bagaimana hasil moral dapat dicapai dalam situasi tertentu;

moral, psikologi, tentang bagaimana kapasitas moral atau moral

mengembangkan apa alam dan etika deskriptif, tentang nilai-nilai moral

apa orang benar-benar mematuhi. Ada beberapa ahli mengemukakan

pendapatnya salah satunya adalah :

John Rawls (1971) menerbitkan A Theory of Justice, patut dicatat dalam


mengejar argumen moral dan menjauhkan diri dari meta-etika. Publikasi
ini menetapkan tren untuk minat baru etika normatif.

Dalam masing-masing cabang ini banyak sekolah yang berbeda

pemikiran dan masih lebih jauh sub-bidang studi.Etika relasional yang

berkaitan dengan etika kebidanan. Mereka digunakan dalam penelitian

kualitatif, khususnya etnografi dan authoethnography.

(Ellis, 2007 : 4) menjelaskan etika dalam mempekerjakan relasional


adalah nilai etika dan menghormati hubungan antara diri mereka dan
orang-orang yang mereka pelajari, dan "antara peneliti dan masyarakat di
mana mereka hidup dan bekerja".

Kemajuan ilmu pengetahuan dan Tehnologi dalam segala bidang

terhadap meningkatnya kritis masyarakat terhadap mutu pelayanan

kesehatan terutama pelayanan kebidanan. Menjadi tantangan bagi

6
profesi bidan untuk mengembangkan Kompetensi dan profesionalisme

dalam menjalankan praktek kebidanan serta dalam memberikan

pelayanan berkualitas.

Etik merupakan suatu pertimbangan yang sistematis tentang

perilaku benar atau salah,kebijakan atau kejahatan yang berhubungan

dengan perilaku. Etika berfokus pada prinsip dan konsep yang

membimbing manusia berfikir dan bertindak dalam kehidupanya dilandasi

nilai-nilai yang dianutnya. Ada tiga fase dalam klarifikasi nilai-nilai yang

perlu dipahami oleh bidan yakni :

1. Kebebasan memilih kepercayaan serta menghargai keunikan setiap

individu

2. Perbedaan dalam kenyataan hidup selalu ada, asuhan yang diberikan

bukan hanya karena martabat seseorang tetapi hendaknya perlakuan

yang diberikan mempertimbangkan sebagaimana kita ingin

diperlakuan

3. Keyakinan bahwa penghormatan terhadap martabat seseorang akan

merupakan konsekuensi terbaik bagi semua masyarakat.

Relational etika juga membantu para peneliti sulit memahami

masalah-masalah seperti melakukan riset tentang intim orang lain yang

telah meninggal dan mengembangkan persahabatan dengan peserta.

Etika Descriptivism menyatakan bahwa bahasa (termasuk etika perintah

7
dan tugas) adalah sebuah sub-divisi dari bahasa deskriptif dan memiliki

makna dalam kebajikan dari jenis yang sama sifat sebagai proposisi

deskriptif. Non-descriptivism berpendapat bahwa proposisi etika yang

dapat diminimalkan dalam arti bahwa makna mereka tidak dapat

dijelaskan secara memadai dalam hal kebenaran-kondisi deskriptif.

Sejalan dengan itu, yang epistemologi etika terbagi menjadi

cognitivism dan non-cognitivism; suatu pembedaan yang sering dianggap

sebagai setara dengan yang antara descriptivists dan non-descriptivists.

Non-cognitivism dapat dipahami sebagai klaim bahwa klaim etis

menjangkau di luar cakupan kognisi manusia atau sebagai (lemah)

menyatakan bahwa etika berkaitan dengan tindakan bukan dengan

pengetahuan. Cognitivism kemudian dapat dilihat sebagai klaim bahwa

etika pada hakikatnya berkenaan dengan penilaian dari jenis yang sama

sebagai pengetahuan penilaian; yaitu tentang masalah fakta.

a. Perilaku Etis Profesional

Bidan harus memiliki Komitmen Yang Tinggi Untuk memberikan

asuhan kebidanan yang berkualitas berdasarkan standar perilaku yang

etis dalam praktik asuhan kebidanan. Pengetahuan tentang perilaku etis

dimulai dari pendidikan bidan dan berlanjut pada forum atau kegiatan

ilmiah baik formal atau non formal dengan teman,sejawat,profesi lain

maupun Masyarakat.

b. Hak dan kewajiban pasien dan bidan

8
Pasien berhak memilih dokter dan kelas perawatan sesuai dengan

keinginanya dan sesuai dengan peraturan yang berlaku di rumah sakit.

Pasien dan keluarganya berkewajiban untuk mentaati segala peraturan

dan tata tertib rumah sakit atau institusi pelayanan kesehatan Pasien

berkewajiban mematuhi segala instruksi dokter,bidan,perawat yang

merawatnya. Pasien dan atau penanggungnya berkewajiban untuk

melunasi semua imbalan atau jasa pelayanan rumah sakit atau institusi

pelayanan kesehatan, dokter bidan dan perawat.Bidan berhak mendapat

perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas sesuai dengan

profesinya. Bidan berhak atas privasi / kedirian dan menuntut apabila

nama baiknya dicemarkan baik oleh pasien, keluarga maupun profesi

lain. Bidan berhak atas kesempatan untuk meningkatkan diri baik melalui

pendidikan maupun pelatihan. Bidan wajib merahasiakan segala

sesuatu yang diketahuinya tentang seorang pasien.

c. Etika pelayanan kebidanan

Pelayanan kebidanan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari

pelayanan kesehatan. Pelayanan kebidanan tergantung bagaimana

struktur sosial budaya masyarakat dan termasuk kondisi sosial ekonomi,

sosial demografi.

Bidan sebagai tenaga pemberi jasa pelayanan harus menyiapkan

diri untuk mengantisipasi perubahan kebutuhan masyarakat atau

pelayanan kebidanan. Keadilan dalam pelayanan dimulai dari :

9
pemenuhan kebutuhan klien sesuai, sumberdaya pelayanan kebidanan

selalu siap melayani, adanya riset kebidanan untuk meningkatkan

pelayanan kebidanan, dan keterjangkauan tempat pelayanan. Tingkat

ketersedian ini merupakan syarat utama untuk terlaksananya pelayanan

kebidanan. Sikap bidan harus tanggap terhadap klien, sesuai kebutuhan

klien, tidak membedakan pelayanan kepada siapapun.

Pelayanan kebidanan meliputi aspek biopsikososial spiritrual dan

kurtural. Pasien memerlukan bidan yang mempunyai karekter sebagai

berikut : semangat melayani, simpati, empati, ihklas, memberi kepuasan.

Bidan sebagai provider juga harus memperhatikan suasana aman,

nyaman, privacy, alami dan tepat.

Bidan dalam memberikan pelayanan kebidanan mengunakan

metodologi menejemen kebidanan. Metoda pelayanan kebidanan

merupakan satu langkah yang sistimatis, terarah, terukur dalam

pengambilan keputusan. Manajemen kebidanan menggunakan langkah :

Pengkajian data, interpretasi data, mengidentifikasi masalah potensial

dan antisipasi tindakan segera yang bersifat mandiri, kolaburasi atau

rujukan, menentukan rencana tindakan, tindakan atau pelaksanaan dan

evaluasi.

d. Pelaksanaan Etika dalam Pelayanan Kebidanan

Dalam merencanakan jumlah anak, seorang ibu telah merundingkan

dengan suami dan telah menetapkan metode kontrasepsi yang akan

digunakan. Sehingga keputusan untuk memilih kontrasepsi, merupakan

10
hak klien dan berada diluar kompetensi bidan. Jika klien belum

mempunyai keputusan karena disebabkan ketidaktahuan klien tentang

kontrasepsi, maka menjadi kewajiban bidan untuk memberikan informasi

tentang kontrasepsi. Yang dapat dipergunakan klien, dengan

memberikan informasi yang lengkap mengenai alat kontasepsidan

beberapa alternatif sehingga klien dapat memilih sesuai dengan

pengetahuan dan keyakinannya.

e. Syarat Penelitian Kebidanan

- Sukarela

Penelitian harus bersifat sukarela, tidak ada unsur paksaan atau

yekanan secara langsung maupun tidak langsung atau adanya unsur

ingin menyenangkan atau adanya ketergantungan. Untuk menjamin

sukarelawan pasien sebagai objek penelitian, maka diperlukan

informed consent.

- informed consent penelitian

Setiap profesi perlu mengatur anggotanya, bahwa dalam

mengadakan penelitian, penelitian wajib menjelaskan sejelas-jelasnya

kepada objek penelitian. Selain itu peneliti perlu diyakinkan bahwa

informasi yang diberikan sudah kuat, juga perlu adanya pemahaman

yang kuat dari objek peelitian.

- Kerahasiaan

Dalam penelitian tidak boleh membuka identitas objek penelitian baik

individu, kelompok maupun institusi. Hal ini untuk kepentingan privacy

11
atau kerahasian, nama baik dan aspek hukum dan psikologis, secara

langsung atau tidak langsung atau efeknya dikemudian hari. Adanya

jaminan kerahasian dari responden dapat memberikan rasa aman dan

akan meningkatkan keabsahan data yang diberikan.

- Privacy

Penelitian seharusnya tidak mengganggu keleluasan diri atau privacy

dalam hal rasa hormat dan harga diri, aspek sosial budayay dan tidak

mengganggu ketenangan hidup dan keleluasaan diri atau gerak. Hal

ini juga berkaitan dengan kerahasiaan dan masalah pribadi.

- Kelompok rawan

Kelompok rawan meliputi wanita hamil, bayi, anak balita, usia lanjut,

orang sakit berat, orang sakit mental, orang cacat yang tidak

kompoten dalam mengambil keputusan, termasuk juga kelompok

minoritas dalam suatu. Untuk penelitian pada kelompok tersebut

masalah etika perlu benar-benar diperhatikan agar tidak melanggar

hak objek penelitian atau terjadi eksploitasi dan eksperimen yang

melanggar kode etik penelitian.

f. Hal-hal yang perlu diperhatikan pada Penelitian Kebidanan

1. Masalah Sensitif artinya informasi yang dicari peneliti bisa sangat

sensitif dan pribadi, ini dapat menyangkut perilaku yang

menyimpang dari norma masyarakat atau hukum, dan ingin

dirahasiakan oleh yang bersangkutan.

12
2. Keahlian Peneliti hanya menyangkut manusia tidak boleh bersifat

trial (coba-coba), tetapi harus didasari keilmuan yang kuat dan

dilakukan oleh orang yang kompeten ilmunya dan diakui secara

akademiknya dan didukung oleh prinsip ilmiah dan kepustakaan

ilmiah yang cukup.

3. Pemakaian atau Prosedur Perjanjian

Untuk melakukan penelitian harus ijin secara tertulis, setelah

melalui studi pendahuluan dan melalui pengkajian proposal

penelitian (Heni Puji Wahyuningsih, 2008).

B. Paramedis

Teori ini adalah hubungan beberapa konsep atau suatu kerangka

konsep, atau definisi yang memberikan suatu pandangan sistematis

terhadap gejala-gejala atau fenomena-fenomena dengan menentukan

hubungan spesifik antara konsep-konsep tersebut dengan maksud untuk

menguraikan, menerangkan, meramalkan dan atau mengendalikan suatu

fenomena. Teori dapat diuji, diubah atau digunakan sebagai suatu

pedoman dalam penelitian.

Kebidanan atau paramedis didefinisikan oleh Steven (1984), sebagai


usaha untuk menguraikan dan menjelaskan berbagai fenomena dalam
kebidanan/paramedis. Teori kebidanan/paramedis berperan dalam
membedakan kebidanan/paramedis dengan disiplin ilmu lain dan
bertujuan untuk menggambarkan,menjelaskan, memperkirakan dan
mengontrol hasil asuhan atau pelayanan kebidanan/paramedis yang
dilakukan.

13
Menurut Newman (1979), ada tiga cara pendekatan dalam
pengembangan dan pembentukan teori kebidanan/paramedis yaitu
meminjam teori-teori dari disiplin ilmu lain yang relevan dengan tujuan
untuk mengintegrasikan teori-teori ini kedalam ilmu kebidanan/paramedis.

Menganalisa situasi praktik kebidanan dalam rangka mencari

konsep yang berkaitan dengan praktik kebidanan serta menciptakan

suatu kerangka konsep yang memungkinkan pengembangan teori

keperawatan. Tujuan pengembangan teori kebidanan/paramedis adalah

menumbuh kembangkan pengetahuan yang di harapkan dapat membantu

dan mengembangkan praktek kebidanan dan pendidikan

kebidanan/paramedis.

Florence merupakan salah satu pendiri yang meletakkan dasar-

dasar teori kebidanan/paramedis yang melalui filosofi kebidanan yaitu

dengan mengidentifikasi peran bidan dalam menemukan kebutuhan dasar

manusia pada klien serta pentingnya pengaruh lingkungan di dalam

perawatan orang yang sakit yang dikenal teori lingkungannya. Selain itu,

Florence juga membuat standar pada pendidikan kebidanan dan standar

pelaksanaan asuhan kebidanan/paramedis yang efisien serta

membedakan praktek kebidanan dengan kedokteran dan perawatan pada

orang sakit dengan orang sehat.

Pengembangan ilmu kebidanan/paramedis ditandai dengan

adanya pengelompokan ilmu kebidanan dasar menjadi ilmu kebidanan

klinik dan ilmu kebidanan/paramedis komunitas yang merupakan cabang

14
ilmu kebidanan yang terus berkembang dan tidak menutup kemungkinan

pada tahun-tahun yang akan datang akan selalu ada cabang ilmu

kebidanan yang khusus atau subspesialisasi yang diakui sebagai bagian

ilmu kebidanan sehingga teori-teori kebidanan dapat dikembangkan

sasuai dengan kebutuhan atau lingkup bidang ilmu

kebidanan/paramedis.

C. Pelayanan

Dalam Pelaksanaan Perundang-Undangan, Peraturan Pemerintah,

Peraturan Daerah Peraturan Presiden, Peraturan Menteri, Keputusan

Presiden dan keputusan Menteri sulit terlaksana tanpa ada dukungan

serta Pelayanan dari pimpinan Organisasi, Lembaga Instansi serta badan

yang menerapkannya. Apabila prinsip-prinsip Pelayanan di atas dengan

kebijakan Dinas Penataan Ruang dan Perumahan Kota Palu mengenai

Izin Mendirikan Bangunan mempunyai relefansi dalam tujuannya.

Pelayanan yang di buat oleh pimpinan pada prinsipnya tidak

bertentangan dengan peraturan perundang-undangan serta ketentuan

lainnya. Kebijakan yang diambil oleh seorang pimpinan adalah salah satu

cara untuk mempermudah dalam pelaksanaan suatu kegiatan yang

dilaksankan oleh organisasi. Tujuan dari suatu kebijakan adalah untuk

mendukung dan mempermudah dalam pelaksanaan tugas dan fungsi

pada suatu organisasi tertentu. Oleh karena itu kebijakan setiap

15
organisasi berbeda-beda dengan organisasi lainnya, tergantung dari jenis

tugas dan fungsi serta jenis pekerjaan yang akan dilaksanakan.

Pelayanan publik yang profesional adalah pelayanan publik yang

dicirikan oleh adanya akuntabilitas dan responsibilitas daripemberi

layanan, yaitu aparatur pemerintah (Widodo, 2001). Ciri-cirinya adalah :

(1) efektif, lebih mengutamakan pada pencapaian apa yang menjadi tujuan

dan sasaran;

(2) sederhana, mengandung arti prosedur/tata cara pelayanan

diselenggarakan secara mudah, cepat, tepat, tidak berbelit-belit,

mudah dipahami dan mudah dilaksanakan oleh masyarakat yang

meminta pelayanan;

(3) kejelasan dan kepastian (transparan), mengandung arti adanya

kejelasan dan kepastian mengenai :

(a) prosedur dan tata cara pelayanan;

(b) persyaratan pelayanan, baik teknis maupun administratif;

(c) unit kerja dan atau pejabat yang berwenang dan bertanggung

jawab dalam memberikan pelayanan;

(d) rincian biaya/tarif pelayanan dan tata cara pembayarannya; dan

(e) jadwal waktu penyelesaian pelayanan;

(4) keterbukaan, mengandung arti prosedur/tata cara, persyaratan, satuan

kerja/pejabat penanggung jawab pemberi pelayanan, waktu

penyelesaian, rincian biaya serta hal-hal lain yang berkaitan dengan

16
proses pelayanan wajib diinformasikan secara terbuka agar mudah

diketahui dan dipahami oleh masyarakat, baik diminta maupun tidak;

(5) efisiensi, mengandung arti :

(a) persyaratan pelayanan hanya dibatasi pada hal-hal yang berkaitan

langsung dengan pencapaian sasaran pelayanan dengan tetap

memperhatikan keterpaduan antara persyaratan dengan produk

layanan yang berkaitan;

(b) dicegah adanya pengulangan pemenuhan persyratan dari satuan

kerja/instansi pemerintah lain yang terkait;

(6) ketepatan waktu, kriteria ini mengandung arti bahwa pelaksanaan

pelayanan masyarakat dapat diselesaikan dalam kurun waktu yang

telah ditentukan;

(7) responsif, lebih mengarah pada daya tanggap dan cepat menanggapi

apa yang menjadi masalah, kebutuhan dalam aspirasi masyarakat

yang dilayani; dan

(8) adaptif, adalah cepat menyesuaikan terhadap apa yang menjadi

tuntutan, keinginan dan aspirasi masyarakat yang dilayani yang

senantiasa mengalami perkembangan.

Pelayanan kebidanan yang bermutu adalah pelayanan kebidanan

yang dapat memuaskan setiap pemakai jasa pelayanan kebidanan serta

penyelenggaraannya sesuai kode etik dan standar pelayanan profesi

yang telah ditetapkan. Kode etik serta standar profesi pada dasar

17
merupakan kesepakatan antara anggota profesi sendiri, sehingga bersifat

wajib menjadi pedoman didalam pelaksanaan setiap kegiatan profesi

meliputi 2 (Dua) hal :

1. Kepuasan mengacu penerapan kode etik dan standar pelayanan

profesi. Kepuasan ini mencakup penilaian :

a. Hubungan bidan dengan pasien yang baik memungkinkan

bidan memberi penjelasan semua informasi yang diperlukan

pasien.

b. Kenyamanan pelayanan

c. Kebebasan melakukan pilihan

d. Pengetahuan dan kompetensi bidan (pengetahuan,

ketrampilan dan sikap)

e. Efektivitas pelayanan

2. Kepuasan yang mengacu pada penerapan semua persyaratan

pelayanan kebidanan. Pelayanan yang bermutu artinya semua

persyaratan pelayanan kebidanan dapat memuaskan pasien.

D. Puskesmas

Puskesmas adalah pusat pengembangan pembinaan, dan

pelayanan sekaligus merupakan pos pelayanan terdepan dalam

pelayanan pembangunan kesehatan masyarakat yang menyelenggarakan

kegiatannya secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan pada

18
masyarakat yang bertempat tinggal dalam wilayah tertentu (Depkes RI,

2001).

- Kedudukan dan fungsi Puskesmas

1). Kedudukan

a. Kedudukan dalam bidang administrasi, Puskesmas merupakan

perangkat Pemda/Kota dan tanggung jawab langsung baik secara

teknis medis maupun secara administratif kepada dinas

kesehatan kota.

b. Dalam hirarki pelayanan kesehatan, sesuai SKN maka

Puskesmas berkedudukan pada tingkat fasilitas kesehatan

pertama.

2). Fungsi

a. Sebagai pusat pengembangan kesehatan masyarakat di wilayah

kerjanya.

b. Membina peran serta masyarakat di wilayah kerjanya dalam rangka

meningkatkan kemampuan untuk hidup sehat.

c. Memberikan pelayanan kesehatan secara menyeluruh kepada

msayarakat di wilayah kerjanya.

Untuk melakukan fungsi tersebut Puskesmas melakukan kegiatan:

a. Perencanaan program kesehatan di wilahnya.

b. Pergerakan pelaksanaan kegiatan.

c. Pengawasan, pengendalian dan penelitian kegiatan.

19
3). Upaya pelayanan kesehatan Puskesmas

Dalam SKN disebutkan bahwa upaya pelayanan kesehatan

dilaksanakan dan dikembangkan berdasarkan suatu bentuk atau pola

upaya pelayanan kesehatan Puskesmas, peran serta masyarakat dan

rujukan upaya kesehatan. Pelayanan kesehatan melalui Puskesmas

di kecamatan merupakan upaya menyeluruh dan terpadu, yang paling

dekat dengan masyarakat, pengembangan pemulihan. Pembinaan,

pengembangan dengan pelayanan Puskesmas diselenggarakan

melalui 18 kegiatan kelompok.

Adapun program kesehatan dasar adalah minimal yang harus

dilaksanakan setiap Puskesmas yang berkemas dalam Basic six

yaitu:

a. Promosi Kesehatan (Promkes)

b. Kesehatan lingkungan (Kesling)

c. Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) termasuk KB

d. Perbaikan Gizi

e. Pemberantasan penyakit menular (P2M)

f. Pengobatan

Stratifikasi Puskesmas adalah upaya untuk melaksanakan penilaian

prestasi kerja Puskesmas, dalam rangka perkembangan

fungsiPuskesmas, sehingga pembinaan dalam rangka perkembangan

fungsi Puskesmas dapat dilaksanakan lebih terarah. Hal ini dapat

20
menimbulkan gairah kerja, rasa tanggung jawab dan kreatifitas kerja yang

dinamis melalui perkembangan falsafah mawas diri.Ruang lingkup

stratifikasi Puskesmas dikelompokkan dalam empat aspek yaitu: Hasil

kegiatan Puskesmas dalam bentuk cakupan masing-masing kegiatan

Hasil dan cara pelaksanaan manajemen kesehatan Sumber daya yang

tersedia di Puskesmas Keadaan lingkungan yang mempengaruhi

pencapaian hasil kegiatan Puskesmas.

E. Kerangka Pikir

Sesuai landasan teori yang telah dijelaskan oleh calon peneliti,

maka calon peneliti mengutip beberapa indikator sebelumnya, maka untuk

memudahkan pembahasan mengenai variabel Etika Paramedis dapat

didukung oleh teori Steven (1984). Kemudian untuk variabel

pelayanancalon peneliti menyajikan teori dari Widodo (2001). Untuk lebih

jelasnya, penulis menggambar kerangka pikir sebagai berikut :

menggambarkan,menjelaskan, memperkirakan dan mengontrol

hasil asuhan

Etika Paramedis :

- Menggambarkan
- 21
Menjelaskan
- Memperkirakan
- Mengontrol hasil asuhan

Steven (1984)
PUSKESMAS KAMONJI Pelayanan :

- Sederhana
- Ketepatan waktu
- Transparan

Widodo (2001)

1. Faktor Penghambat
2. Faktor Pendukung

Feed Back

Gambar 1. Kerangka Pikir

BAB III

METODE PENELITIAN

22
A. Desain Penelitian

1. Dasar Penelitian

Dasar penelitian ini adalah survey Karlinger dalam Sugioyono

(2001 ; 3), mengatakan bahwa survey adalah :

“Penelitian yang dilakukan pada populasi yang berjumlah besar

atau kecil, namun data yang dipelajari adalah data dari sampel

yang diambil dari populasi tersebut, sehingga dibutuhkan

kejadian relatif, distributif dan hubungan-hubungan antar

variabel, sosiologis, maupun psikologis”.

2. Tipe penelitian

Tipe pelelitian yang penulis gunakan adalah Deskriptif Kualitatif,

yaitu metode pemecahan masalah yang diteliti dengan

memberikan gambaran secara sistematis, faktual dan akurat

mengenai keadaan obyek penelitian terhadap gejala-gejala yang

terjadi pada obyek yang diteliti.

Mengacu pada pendapat Atherton dan Klemmack dalam Irawan

Suhartono (2004:53) mengatakan penelitian Deskriptif meliputi :

a. Penelitian yang menggambarkan karekteristik suatu masyarakat

atau suatu kelompok orang tertentu.

23
b. Penelitian yang menggambarkan penggunaan fasilitas

masyarakat.

c. Penelitian yang memperkirakan porsi orang yang mempunyai

pendapat, sikap atau tingkahlaku tertentu.

d. Penelitian yang berusaha untuk melakukan usaha semacam

ramalan, apabila sebelum melaksanakan suatu program kita

ingin mengetahui beberapa persen atau beberapa orang yang

mendukung dan menentang dalam suatu penelitian atas sampel

yang diambil masyarakat tersebut, maka penelitian semacam ini

masih termasuk dalam penelitian Deskriptif.

e. Pengertian Deskriptif lainya adalah penelitian yang mencari

hubungan antara dua variable.

Metode Kualitatif digunakan untuk mendapatkan data yang

mendalam, suatu data yang mengandung makna, maka makna adalah

data yang sebenarnya, data yang pasti yang merupakan suatu nilai

dibalik data yang tampak, oleh karena itu dalam penelitian kualitatif

tidak menekankan pada generalisasi, tetapi lebih menekankan

makna.Generalisasi dalam kualitatif dinamakan Transferbality, artinya

hasil penelitian tersebut dapat digunakan ditempat lain. Sugiyono

(2005:3).

B. Lokasi dan Waktu Penelitian

1. Lokasi Penelitian

24
Lokasi penelitian ini, penulis tetapkan di Puskesmas Kamonji.

Dengan alasan bahwa lokasi tersebut dapat terjangkau dengan

tenaga, waktu dan biaya cukup murah.

2. Waktu Penelitian

Waktu yang digunakan dalam penelitian berlangsung kurang

lebih selama 3 Bulan.

C. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Masri Singarimbun (1978;152), menyatakan bahwa : “Populasi

atau Universe ialah jumlah keseluruhan dari unit analisa yang cirri-

cirinya akan diduga”.

Defenisi tersebut di atas mengandung pengertian bahwa

populasi itu adalah merupakan keseluruhan, kesatuan individu,

kesatuan obyek yang memiliki karakteristik yang akan diteliti.

Yang menjadi Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh yang

ada pada Puskesmas Kamonji 101 orang

2. Sampel

Menurut Sugiyono (2003:91) sampel adalah bagian dari jumlah

dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi, karena populasi yang

relatif besar maka penentuan jumlah sampel menggunakan metode

Porpusive Samplingyaitu dengan cermat memilih dan menentukan

25
orang-orang yang lebih mengetahui masalah yang diteliti dan dapat

mewakili populasi untuk memberikan data yang aktual dan akurat,

maka jumlah sampel sebanyak 37 orang sebagai berikut :

1. Sekertaris : 1Orang

2. Pegawai Puskesmas Kamonji : 15 Orang

3. Masyarakat : 21 Orang

Jumlah Total : 37 Orang

Selain jumlah responden tersebut penulis menetapkan Kepala

Kantor Puskesmas Kamonji sebagai Informasi Kunci (Key Informan).

D. Teknik Pengumpulan Data

Dalam pengumpulan data, maka calon peneliti menggunakan

teknik-teknik sebagai berikut :

1. Observation (Pengamatan)

Observasi, merupakan pengamatan langsung dan

pencatatan secara sistematis terhadap fenomena-fenomena

yang diselidiki. Metode ini dilakukan dengan cara

mengamati dan mencatat secara langsung atas gejala-

gejala yang ada kaitannya dengan obyek penelitian.

26
2. Wawancara (interview)

Wawancara, yaitu proses memperoleh keterangan untuk

tujuan penelitian dengan cara Tanya jawab secara lisan

antara dua orang atau lebih dengan para pejabat atau pihak-

pihak yang berkompeten dengan permasalahan penelitian.

Wawancara yang dilakukan tentunya tetap berpedoman

pada pertanyaan-pertanyaan yang telah disiapkan

sebelumnya.

3. Questionnaire (kuesioner)

Teknik ini, peneliti menyebarkan daftar pertanyaan

kepada responden untuk diisi, dijawab sendiri oleh

responden kemudian dikembalikan kepada peneliti setelah

diisi.

4. Dokumentasi

Dokumentasi yaitu merupakan teknik pengumpulan

data dengan cara studi kepustakaan, meneliti dokumen-

dokumen, catatan-catatan, arsip-arsip serta laporan

penelitian yang sudah ada sehingga menunjang

pelaksanaan penelitian ini dari sumber-sumber resmi yang

dipertanggung jawabkan.

27
E. Teknik Ananlisis Data

Sehubungan dengan uraian kerangka pikir yang telah

dikemukakan sebelumnya, maka model analisis yang digunakan

adalah penelitian ini bersifat Deskriptif Kualitatif yaitu penelitian yang

dilakukan dengan menggunakan data yang telah dikumpulkan

dianalisis secara Deskriptif dengan menggunakan tabel frekuensi dan

presentase untuk menggambarkan Kantor Puskesmas Kamonji.

F. Defenisi Oprerasional Variabel

Operasional variabel merupakan petunjuk pelaksanaan

bagaimana cara mengukur suatu variabel mempengaruhi di dalam

penelitian ini, terdapat dua variabel yang mempengaruhi dan variabel

yang dipengaruhi yang diukur dari :

a. Variabel independen etika paramedisadalah suatu kegiatan yang

dilakukan guna memenuhi kebutuhan dalam melayani pasien atau

masyarakat yang membutuhkan pengobatan. Sebagai landasan

indikatornya adalah : menggambarkan, menjelaskan,

memperkirakan dan mengontrol hasil asuhan

- menggambarkan

- menjelaskan

- memperkirakan

- mengontrol hasil asuhan

28
a. Variabel dependen atau variabel yang mempengaruhi dalam

Pelayanan adalah tentang indikator antara lain : Sederhana,

Ketepatan Waktudan Transparan, Menurut Widodo ( 2001).

Variabel inidiukur dari :

- Sederhana

- Ketepatan Waktu

- Transparan

29
DAFTAR PUSTAKA

A. Buku

Blak, A. James and J. Champion Dean, 2001. Penelitian Sosial (Metode


dan Masalah). Jakarta, Rineka Aditama.

Byars Lioyd and Lislie W. Rue, 1994. Human Resource and Personal
Management. Richard D. Irwin Homevood Lilionis.

Elis, 2007, The New. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta

Handayaningrat, Soewarno, 1985. Pengantar Studi Ilmu Administrasi dan


Manajemen. Jakarta, Gunung Agung.

Heny Puji Wahyuningsih, 2008. Etika Profesi Kebidanan. Jogjakarta,


Fitramaya

John, Rawls, 1971. Filsafat ilmu. Jogya. Kanisius

Newman, Nasir Abdul. 1979. Komunikasi dalam kepemimpinan teori dan


aplikasi. Salemba Madika. Jakarta

Nawawi , Hadari. 2001. Metode Penelitian Bidang Sosial. Yogyakarta,


University Press.

Nazir, M. 2005. Metode Penelitian. Jakarta, Ghalia Indonesia.

Pasolong, Harbani, 2008. Teori Administrasi Publik. Bandung, Alfabeta.

Steven, 1984. Hubungan Tenaga Paramedis. Bandung

Sugiyono, 2001 Statistika untuk Penelitian Alfabeta, Bandung.

, 2005Metode Penelitian Administrasi, Alfabeta, Bandung

Syafiie, H. Inu Kencana, 2004. Birokrasi pemerintah Indonesia. Bandung

30
Singarimbun, Masri. 1978, Metode Penelitian Survai. Jakarta, LP3ES.

. 1997. Meteode Penelitian Survai. Jakarta, LP3ES.

Sugiyono, 2001. Metode Penelitian Administrasi . Bandung, Alfabeta.

, 2003. Metode Penelitian Adminitrasi. Bandung, Alfabeta.

, 2005. Metode Penelitian Administrasi. Bandung, Alfabeta.

Suhady, Idup. 2000. Kebijakan Pendayagunaan Aparatur Negara,


Jakarta, LAN RI.

Supranto , J. 2004. Proposal Penelitian dengan Contoh. Jakarta,


Universitas Indonesia (UI Press).

Tjokroamidjojo, Bintoro, 2001, Reformasi Administrasi Publik, MIA


UNKRIS. Jakarta.

Wayong dan Ahmad Ihsan, 1989. Fungsi Administrasi Negara, Jambatan,


Jakarta

Widodo, MS Joko, 2001, Pengaruh Sruktur Organisasi, Gramedia,


Jakarta.

Widodo, Joko, 2001, Good Governance : Telaah dari Dimensi


Akuntabilitas dan Kontrol Birokrasi Pada Era Desentralisasi dan
Otonomi Daerah, Insan Cendekia, Surabaya.

B. Dokumen

Undang-Undang Dasar 1945

DEPKES RI tahun 2001 tentang Puskesmas

31
Lampiran A.

Jadwal Penelitian (Perincian Jenis Kegiatan dan Waktu)

Bulan I Bulan II Bulan III


No Jenis Kegiatan Ket
I II III IV I II III IV I II III IV
.
1 Mengurus izin
2 Mempersiapkan Bahan/Instrumen
Penelitian
3 MengadakanPenelitian/Mengumpulkan
Data
4 Identifikasi Klasifikasi (Edit Data)
5 Mengenalisi Data
6 Menulis Laporan Hasil Penelitian

Keterangan :

1. Minggu pertama bulan pertama mengurus surat izin penelitian


2. Minggu Kedua dan ketiga bulan pertama menyusun instrumen penelitian (daftar
kegiatan, daftar pertanyaan dan lain-lain).
3. Minggu keempat bulan pertama sampai minggu ketiga bulan kedua mengadakan
penelitian lapangan
4. Minggu keempat bulan kedua mengedit data
5. Minggu pertama sampai dengan minggu kedua bulan ketiga menganalisa data
6. Minggu ketiga sampai dengan minggu keempat bulan ketiga menulis laporan hasil
penelitian

32